<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>buku 1 Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/buku-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/buku-1/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Nov 2018 11:05:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>buku 1 Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/buku-1/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2018 09:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1665</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka. Andrea Putri Sudarwono Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/">Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Sica, Sarah, dan Rika</a>. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.</p>
<p><strong>Andrea Putri Sudarwono</strong></p>
<p>Sama seperti Rika, Andrea atau <strong>Dea </strong>merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.</p>
<p>Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.</p>
<p>Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. <strong>Dea</strong> jago bermain basket dan memainkan drum.</p>
<p><strong>Aqilla Sagita Danastri</strong></p>
<p>Selanjutnya adalah <strong>Gita</strong>, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, <strong>Gita Gutawa</strong>. Akan tetapi, <strong>Gita </strong>yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.</p>
<p>Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter <strong>Gita </strong>yang bermain pada serial <strong>Cinta dan Rahasia </strong>yang diperankan oleh <strong>Taskya Namya</strong>, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.</p>
<div id="attachment_1668" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1668" class="size-full wp-image-1668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya.jpg" alt="" width="640" height="425" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya-300x199.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya-356x236.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-1668" class="wp-caption-text">Taskya Namya (media.iyaa.com)</p></div>
<p>Padahal, penulis menciptakan karakter <strong>Gita </strong>jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.</p>
<p><strong>Gita</strong> adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, <strong>Gita </strong>adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.</p>
<p>Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.</p>
<p><strong>Elvina Yurina Zefina</strong></p>
<p><strong>Yuri</strong>, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter <strong>Girls&#8217; Generation</strong> yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.</p>
<div id="attachment_1669" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1669" class="size-large wp-image-1669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-1024x701.jpg" alt="" width="1024" height="701" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-1024x701.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-768x526.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-356x244.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1669" class="wp-caption-text">Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)</p></div>
<p>Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang <em>single parent </em>yang memiliki usaha katering. <strong>Yuri </strong>kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.</p>
<p>Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.</p>
<p><strong>Maroon Malvinanita</strong></p>
<p>Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. <strong>Nita</strong>, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.</p>
<p>Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.</p>
<p>Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang <strong>Nita</strong>, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.</p>
<p><strong>Verena Nur Izora</strong></p>
<p>Nama <strong>Verena </strong>penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.</p>
<p>Verena, atau <strong>Rena</strong>, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.</p>
<p>Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. <strong>Rena </strong>juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/">chapter 40</a>.</p>
<p><strong>Virginia Vanya Valora</strong></p>
<p>Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, <strong>VVV Venlo</strong>, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.</p>
<div id="attachment_1667" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1667" class="size-large wp-image-1667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1667" class="wp-caption-text">VVV Venlo (youtube.com)</p></div>
<p><strong>Vanya </strong>atau kerap dipanggil <strong>Ve </strong>(penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.</p>
<p>Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kebayoran Lama</strong>, 10 November 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/">Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1625</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka. Andra Putra Sudarwono Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/">Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.</p>
<p><strong>Andra Putra Sudarwono</strong></p>
<p>Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, <strong>Andra</strong> dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.</p>
<p>Inspirasi karakter ini datang dari <strong>Fred</strong> dan <strong>George Weasley</strong> dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.</p>
<div id="attachment_1630" style="width: 795px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1630" class="size-full wp-image-1630" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small.jpg" alt="" width="785" height="442" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small.jpg 785w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 785px) 100vw, 785px" /><p id="caption-attachment-1630" class="wp-caption-text">via bookstr.com</p></div>
<p>Kurang lebih seperti itulah <strong>Andra</strong> (dan kini bersama Dea). <strong>Andra</strong> adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.</p>
<p>Nama <strong>Andra</strong> sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band <strong>Andra and the Backbone</strong>. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, <strong>Budi Sudarsono</strong>.</p>
<div id="attachment_1629" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1629" class="size-full wp-image-1629" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169.jpg" alt="" width="750" height="423" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169-356x201.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1629" class="wp-caption-text">via indosport.com</p></div>
<p><strong>Andra</strong> juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.</p>
<p>Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.</p>
<p>Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah <strong>Andra</strong>.</p>
<p><strong>Andra</strong> memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.</p>
<p><strong>Achmad Khrisna Subejo</strong></p>
<p>Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama <strong>Bejo </strong>bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.</p>
<p>Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter <strong>Tenya Iida</strong> pada anime <strong>Boku No Hero Academia</strong>, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.</p>
<div id="attachment_1628" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1628" class="size-large wp-image-1628" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1628" class="wp-caption-text">via http://bokunoheroacademia.wikia.com</p></div>
<p>Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).</p>
<p>Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.</p>
<p>Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang <em>gentle </em>dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.</p>
<p><strong>Arjuna Wahyunara</strong></p>
<p>Namanya terinspirasi dari <strong>chef Juna</strong>. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari <strong>Goo Ji-soo</strong>, salah satu peserta acara <em>reality show </em><strong>Girls&#8217; Generation and the Dangerous Boys.</strong></p>
<div id="attachment_1632" style="width: 580px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1632" class="size-full wp-image-1632" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10.jpg" alt="" width="570" height="380" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10.jpg 570w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><p id="caption-attachment-1632" class="wp-caption-text">via snsdkorean.com</p></div>
<p><strong>Juna</strong> adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.</p>
<p>Apalagi, <strong>Juna</strong> adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.</p>
<p>Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan <strong>Juna</strong>, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.</p>
<p><strong>Jean Xavier Pierre</strong></p>
<p>Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.</p>
<p><strong>Pierre </strong>penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, <strong>Pierre Bouvier</strong>, yang penulis ketahui dari video klip <strong>When I&#8217;m Gone</strong>. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">ide nama Sarah.</a></p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/msumWLbq1Dk?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.</p>
<p>Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 November 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/">Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Sica, Sarah, dan Rika</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2018 11:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1583</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kali ini penulis akan menjelaskan tentang tiga karakter perempuan di kelas akselerasi. Mereka adalah Sica, Sarah, dan Rika, di mana pada buku pertama mereka lumayan sering muncul dan mempengaruhi keseluruhan jalan cerita. Jessica Christiani Nama Jessica penulis ambil dari salah satu mantan personil Girls&#8217; Generation, Jessica Jung. Sedangkan nama belakangnya penulis ambil dari salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Tentang Sica, Sarah, dan Rika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini penulis akan menjelaskan tentang tiga karakter perempuan di kelas akselerasi. Mereka adalah <strong>Sica</strong>, <strong>Sarah</strong>, dan <strong>Rika</strong>, di mana pada buku pertama mereka lumayan sering muncul dan mempengaruhi keseluruhan jalan cerita.</p>
<p><strong>Jessica Christiani</strong></p>
<p>Nama Jessica penulis ambil dari salah satu mantan personil Girls&#8217; Generation, <strong>Jessica Jung</strong>. Sedangkan nama belakangnya penulis ambil dari salah satu presenter wanita Indonesia, <strong>Yuanita Christiani</strong>, karena terdengar cocok disandingkan dengan nama Jessica.</p>
<p>Panggilan <strong>Sica </strong>penulis ambil sesuai dengan panggilan Jessica yang asli. Selain itu, panggilan &#8220;Sic&#8221; terdengar lebih enak dibandingkan dengan panggilan &#8220;Jes&#8221;.</p>
<p><strong>Sica </strong>adalah seorang perempuan cantik dengan suara merdu. Penampilan fisiknya kurang lebih penulis bayangkan seperti Jessica yang asli. Putih, berambut panjang dengan karakter wajah yang oriental.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1585" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-1024x640.jpg" alt="" width="1024" height="640" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-1024x640.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-768x480.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-356x223.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Ia memiliki sifat yang keras, berani, dan tidak takut membela apa yang ia anggap benar. <strong>Sica</strong> tidak segan untuk membentak Leon di hari pertama karena ia menganggap tingkah laku Leon yang tidak sopan ke Kenji sudah keterlaluan.</p>
<p>Namun di balik itu semua, ia memiliki hati yang lembut dan tidak suka menyimpan dendam. Ia tidak ragu untuk mengulurkan tangannya untuk membantu teman-temannya.</p>
<p>Hanya saja, ia sering dicap terlalu sempurna oleh teman-teman perempuan lainnya, sehingga mereka tidak berani menjangkau <strong>Sica</strong>. Hal ini membuat Sica tidak memiliki teman perempuan yang benar-benar dekat.</p>
<p>Hal tersebut membuat <strong>Sica </strong>menjadi dekat dengan Leon, karena ia melihat Leon merupakan teman yang apa adanya. Ia menganggap Leon memandang dirinya sama seperti Leon memandang teman lainnya.</p>
<div id="attachment_1586" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1586" class="size-large wp-image-1586" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1586" class="wp-caption-text">via seoulbeats.com</p></div>
<p>Dari sanalah ketertarikan dari keduanya tumbuh, yang baru terungkap ketika <strong>Sica</strong> terbaring sakit. Dialog antara <strong>Sica</strong> dan Leon pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-35-leon-dan-sica-babak-ketiga/">chapter 37</a> merupakan salah satu adegan favorit penulis.</p>
<p>Awalnya, penulis membuat mereka berpisah dengan cara yang <em>mainstream</em>, ketika salah satu harus pindah ke Australia. Karena dirasa norak, penulis mengubahnya menjadi perpisahan akibat kematian <strong>Sica</strong>.</p>
<p>Ide ini sendiri muncul ketika mendengar lagu <strong>Sum41 </strong>yang berjudul <strong>Jessica Kill</strong>. Perpisahan yang tragis akan membeli pelajaran hidup berharga bagi Leon, seorang remaja yang baru saja mencoba untuk merasakan cinta kembali setelah selama ini direnggut dari kehidupannya.</p>
<p><strong>Shannon Augustine Sarah</strong></p>
<p>Bukan terinspirasi oleh <a href="http://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-si-doel-the-movie/">serial TV Si Doel</a>, melainkan dari sebuah lagu <a href="http://whathefan.com/musikfilm/one-band-one-man-panic-disco/"><strong>Panic! At the Disco</strong> </a>yang berjudul <strong>Sarah Smiles </strong>dari album Vices &amp; Virtues. Bahkan, dulu terdapat <em>chapter</em> yang berjudul sama dengan lagu tersebut, namun akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya ke bahasa Indonesia, menjadi <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/">Senyum Sarah (chapter 36)</a>.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/nV97_YorkbU?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe><strong>Sarah</strong> merupakan murid pindahan dari Jakarta. Ia adalah sosok yang arogan dan senantiasa memandang rendah orang lain, meskipun itu ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>Orangtuanya merupakan pebisnis yang sukses, sehingga mereka sangat jarang bisa menemani <strong>Sarah</strong>. Ada beberapa alasan mengapa mereka memutuskan pindah ke Malang.</p>
<p>Pertama, orangtua <strong>Sarah</strong> sama-sama berasal dari Malang. Kedua, mereka khawatir dengan perkembangan <strong>Sarah</strong> yang menjadi sosok anak yang begitu sombong, sehingga mereka mencoba untuk menjauhkannya dari pergaulan sekolah di Jakarta.</p>
<p>Alasan terakhir, ibunda dari <strong>Sarah</strong> memiliki kawan dekat di SMA tempat Leon bersekolah, sehingga ia berharap guru tersebut bisa mengawasi <strong>Sarah</strong>. Hal ini belum ditunjukkan pada buku pertama, sehingga kemungkinan baru muncul di buku kedua.</p>
<blockquote><p>Kesombongan <strong>Sarah</strong> menemui perlawanan dari teman-teman yang lain, terutama Sica dan Leon. Ia sering bertengkar dengan Sica karena masalah-masalah sepele.</p></blockquote>
<p>Ia mulai sadar ketika Sica jatuh tersungkur saat harus lari keliling lapangan sebagai bentuk hukuman karena mendapatkan nilai ulangan lebih rendah dari <strong>Sarah</strong>. Ia begitu ketakutan menghadapi sebuah konsekuensi dari tindakannya, lantas memutuskan untuk kabur.</p>
<p>Kenji mengejarnya dan berusaha menolongnya dari rasa bersalah. Hanya Kenji yang menyadari bahwa alasan sikap <strong>Sarah</strong> adalah karena kurangnya perhatian dari keluarga, sehingga ia bisa mengetuk hati Sarah yang sudah lama tertutup.</p>
<p><strong>Sarah</strong> mudah berubah karena memang sifat sombongnya adalah buatan, bukan autentik. Sebenarnya, ia adalah perempuan dengan hati yang lembut karena tidak tega melihat sesuatu yang sadis, seperti melihat Kenji yang terluka karena dipukuli oleh pacarnya.</p>
<p>Sewaktu mendengar kematian Sica, <strong>Sarah</strong> ingin menghabisi nyawanya sendiri karena merasa bersalah. Namun hal tersebut tidak ia lakukan dengan cepat karena pada dasarnya ia adalah anak yang penakut dan tidak kuat melihat darah.</p>
<p>Setelah ditenangkan oleh teman-temannya, <strong>Sarah</strong> berhasil mengusir rasa bersalah yang menghantuinya dan berjanji dalam hati bahwa ia akan membalas perlakuan baik teman-temannya.</p>
<p><strong>Adriana Rika Kanaya</strong></p>
<p>Kalau yang satu ini, pernah penulis singgung sedikit pada tulisan <a href="http://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a>. <strong>Rikka Takanashi </strong>dari anime <strong>Chūnibyō Demo Koi ga Shitai! </strong>merupakan inspirasi karakter ini.</p>
<p>Pada animenya, Rikka merupakan seorang remaja dengan <strong>sindrom kelas 8 </strong>yang membuat seseorang percaya bahwa ia memiliki kekuatan khusus. Mereka dengan mudahnya memasukkan orang lain ke dalam fantasinya.</p>
<p>Di sisi lain, <strong>Rika </strong>(huruf K-nya penulis hilangkan satu agar lebih terdengar Indonesia) merupakan anak perempuan yang bertubuh mungil dengan wajah yang imut, lengkap dengan potongan rambut pendeknya.</p>
<div id="attachment_192" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-192" class="wp-image-192 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-1024x621.jpg" alt="" width="1024" height="621" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-1024x621.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-300x182.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-768x465.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-356x216.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai.jpg 1980w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-192" class="wp-caption-text">via anguerde.com</p></div>
<p>Penulis tidak membuatnya memiliki sindrom yang sama. Pada novel <strong>Leon dan Kenji</strong>, Rika adalah sesorang gadis yang sangat suka membuat cerita. Terkadang, agar lebih menghayati novel buatannya, <strong>Rika </strong>sering mengucapkan dialog-dialog yang ia buat sendiri ketika sedang berbicara dengan orang lain, termasuk teman-teman sekolahnya.</p>
<p>Hal ini membuat ia sering dicap aneh sehingga dijauhi. <strong>Rika </strong>bukanlah tipe orang yang akan memusingkan hal tersebut. Ia memilih untuk mengabaikannya dan memilih untuk menjadi dirinya sendiri.</p>
<p>Di kelas akselerasi, <strong>Rika </strong>merasa lebih diterima oleh teman-temannya, terutama oleh Leon dan Kenji. Bedanya, Kenji dengan baik hati mau masuk ke dalam alam fantasi yang <strong>Rika</strong> ciptakan, berbeda dengan Leon yang menolak untuk masuk namun tidak mengolok-olok <strong>Rika</strong>.</p>
<p>Leon sering mengajak bicara <strong>Rika</strong> karena ia merasa bisa bebas bicara dengannya tanpa harus mendapatkan justifikasi dari si pendengar. Sikap <strong>Rika</strong> yang tidak mau ikut campur urusan orang lain juga mempengaruhi hal ini.</p>
<p>Pada buku pertama, peran <strong>Rika</strong> lebih sering terlihat sebagai figuran yang tidak memiliki peran penting. Sedikit bocoran,  pada buku kedua nanti, bisa dipastikan <strong>Rika</strong> akan memiliki peran yang lebih besar dan sangat penting bagi keseluruhan cerita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 28 Oktober 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Tentang Sica, Sarah, dan Rika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2018 23:00:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[Gisel]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[Leon]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1516</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni Leon, Kenji, dan Gisel. Alexander Napoleon Caesar Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni <strong>Leon</strong>, <strong>Kenji</strong>, dan <strong>Gisel</strong>.</p>
<p><strong>Alexander Napoleon Caesar</strong></p>
<p>Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa <em>lebay</em>, penulis memutuskan untuk mengganti namanya walaupun penulis senang dengan panggilannya, Black, seperti karakter di Harry Potter.</p>
<p>Alexander Napoleon Caesar (mungkin sebenarnya terdengar lebih <em>lebay</em>) terinspirasi dari tiga nama kaisar di dunia. <strong>Alexander the Great</strong>, <strong>Napoleon Bonaparte</strong>, dan <strong>Julius Caesar</strong>.</p>
<p>Dengan panggilan <strong>Leon</strong> (seperti nama penjual tahu telur di dekat rumah), penulis menanggap namanya lebih normal daripada Black, walaupun untuk memanggilnya harus menjadi &#8220;Le&#8221; yang sama dengan panggilan anak laki-laki orang Jawa.</p>
<p>Latar belakangnya yang ambisius untuk mendidik anaknya menjadi orang hebat membuat ayah Leon memasukkan ketiga nama penguasa dunia tersebut. Ia tak peduli bahwa ketiga orang tersebut telah membantai banyak manusia tak bersalah demi ekspansi kekuasaannya.</p>
<div id="attachment_1519" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1519" class="size-full wp-image-1519" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1519" class="wp-caption-text">Napoleon Bonaparte (caminteresse.fr)</p></div>
<p><strong>Leon</strong> menjadi anak yang keras karena masa lalunya yang berat. Ditinggal bunuh diri oleh ibunya, ditelantarkan oleh ayahnya, dan dirundung oleh teman-teman sekolahnya.</p>
<p>Ia memutuskan untuk melawan balik, sehingga ia senantiasa memasang tatapan permusuhan agar tidak ada yang berani menganggu dia. Pertemuannya dengan Kenji membuat ia berubah secara bertahap, menjadi manusia yang lebih hangat.</p>
<p>Ia berusaha untuk berubah dan mulai membuka hubungan dengan orang lain, terutama dengan teman-teman kelasnya. Satu per satu mereka mulai menerima <strong>Leon</strong> sehingga ia merasa seperti hidup kembali.</p>
<p><strong>Leon</strong> memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selain karena tempaan ayahnya yang membuat ia terbiasa belajar dengan giat. Kemampuan otaknya yang luar biasa hanya bisa dikalahkan oleh Kenji.</p>
<p><strong>Muhammad Kenji Yasuda</strong></p>
<p>Nama<strong> Kenji</strong> penulis ambil dari nama tengah personil Linkin Park, <strong>Mike Shinoda</strong>. Bahkan, dulu penulis menggunakan nama Kenji Shinoda, sebelum menggantinya dengan Yasuda yang terdengar seperti <em>ya sudah</em>. Penulis bahkan tidak tahu apakah benar ada marga Yasuda di Jepang.</p>
<p>Seperti yang sudah dituliskan pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">tulisan sebelumnya</a>, <strong>Kenji</strong> terinspirasi oleh karakter Gera pada anime Blackjack yang selalu ceria dan berpikiran positif walaupun penakut.</p>
<p>Perbedaan karakter antara Leon dan <strong>Kenji</strong> justru memperat hubungan mereka berdua sebagai kawan, walaupun latar belakang hidup tanpa orangtua juga berperan penting untuk memperkuat hal tersebut.</p>
<div id="attachment_1521" style="width: 964px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1521" class="size-full wp-image-1521" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg" alt="" width="954" height="537" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg 954w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 954px) 100vw, 954px" /><p id="caption-attachment-1521" class="wp-caption-text">Mike Kenji Shinoda (revolvermag.com)</p></div>
<p>Ia selalu berusaha menyebar kebaikan di lingkungan sekitarnya, terkadang tidak peduli dirinya menjadi babak belur seperti ketika ia berusaha menyadarkan Sarah dan Leon.</p>
<p><strong>Kenji</strong> seringkali menjadi juru bicara kelas karena kemampuan menata bahasanya yang luar biasa, yang terjadi akibat kegemarannya membaca buku. Nada suaranya selalu tenang dan tak pernah marah sekalipun.</p>
<p>Mengajar merupakan <em>passion </em>yang dimiliki <strong>Kenji</strong> karena ia merasa bisa menyebar ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan inisiatifnya mengajar Gisel dan tambahan kelas sepulang sekolah.</p>
<p><strong>Kenji</strong> memiliki kemampuan analisa seperti Sherlock Holmes, karena penulis memang penggemar berat karakter fiksi buatan Sir Arthur Conan Doyle tersebut. Leon seringkali terperangah dan terlihat seperti Dr. Watson.</p>
<p><a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-9-gisella-margaret-spencer/"><strong>Gisella Margaret Spencer</strong></a></p>
<p>Tokoh <strong>Gisel</strong> penulis buat sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; karena tidak memiliki adik perempuan. Ia penulis buat sebagai anak kecil berkulit putih, terlihat ringkih dan berambut panjang.</p>
<p>Penulis memilih nama <strong>Gisel</strong> hanya karena suka saja dengan nama tersebut. Untuk Margaret, penulis ambil dari mantan perdana menteri Inggris, <strong>Margaret Thatcher</strong>, sedangkan Spencer penulis ambil dari nama keluarga putri <strong>Diana</strong>.</p>
<div id="attachment_1520" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1520" class="size-large wp-image-1520" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1520" class="wp-caption-text">Margaret Thatcher (biography.com)</p></div>
<p>Leon menjadikan <strong>Gisel</strong> sebagai kambing hitam atas segala kesusahan yang ia alami. Walaupun tubuhnya kurus, mental <strong>Gisel</strong> sangat tangguh untuk anak seusianya.</p>
<p><strong>Gisel</strong> selalu sabar menerima berbagai perlakuan buruk dari kakaknya. Untunglah semenjak bertemu dengan Kenji, <strong>Gisel</strong> diperlakukan sebagaimana adik oleh Leon.</p>
<p>Terkait sekolahnya, penulis terinspirasi oleh <strong>Thomas Alva Edison</strong> yang dikeluarkan dari sekolah karena selalu bertanya di luar konteks pelajaran. Pada akhirnya Edison diajari oleh ibunya, sedangkan <strong>Gisel</strong> diajari oleh Kenji dan kakaknya sambil menunggu ajaran tahun berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 21 Oktober 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya.</p>
<p>Kenji hadir sebagai perantara untuk memanduku keluar dari jurang kegelapan dalam diriku. Ia dengan sabar dan tulus menuntunku perlahan, selangkah demi selangkah. Teman-teman yang lain pun turut membantuku dengan semampunya, termasuk Jessica yang mengajarkan apa arti cinta sebenarnya.</p>
<p>Kisahku dengannya aku bagi menjadi tiga babak. Babak pertama, adalah babak di mana aku masih meraba-raba perasaanku sendiri. Di babak ini aku masih belum sepenuhnya paham apa yang aku rasakan. Babak kedua adalah babak di mana aku sudah mulai yakin dengan perasaanku terhadap Sica, meskipun aku belum yakin bagaimana perasaan Sica terhadapku. Di babak ketiga lah, sekaligus terakhir, kami sama-sama telah menyadari perasaan kami satu sama lain. Kami telah mengetahui bagaimana kami ingin ditempatkan di hati kami satu sama lain. Itulah babak terakhir, yang terpaksa berakhir karena takdir menjemput.</p>
<p>Setelah ujian kenaikan kelas, beberapa minggu setelahnya, rapot pun dibagikan beserta urutan rangking kelas. Aku melihat kertas tersebut untuk melihat apakah aku berhasil mengalahkan Kenji untuk menduduki peringkat satu. Tentu saja, aku kalah.</p>
<ol>
<li>Muhammad Kenji Yasuda</li>
<li>Alexander Napoleon Caesar</li>
<li>Arjuna Wahyunara</li>
<li>Virginia Vanya Valora</li>
<li>Shannon Augustine Sarah</li>
<li>Marron Malvinanita</li>
<li>Jean Xavier Pierre</li>
<li>Verena Nur Izora</li>
<li>Adriana Rika Kanaya</li>
<li>Aqilla Sagita Danastri</li>
<li>Ahmad Khrisna Subejo</li>
<li>Elvina Yurina Zefina</li>
<li>Andrea Putri Sudarwono</li>
<li>Andra Putra Sudarwono</li>
<li>Jessica Christiani (-)</li>
</ol>
<p>Sudarwono bersaudara harus turun ke kelas reguler karena kurangnya nilai mereka. Maka di hari pertama kelas sebelas ini, mereka berpamitan kepada kami.</p>
<p>“Teman-teman semua…”</p>
<p>“…kami minta maaf…”</p>
<p>“…jika selama ini…”</p>
<p>“…ada salah-salah…”</p>
<p>“…terima kasih…”</p>
<p>“…atas semua yang telah kalian berikan…”</p>
<p>“…kami tidak akan melupakan kalian!”</p>
<p>Terdengar isak haru melepas kepergian mereka. Mereka berdua adalah badut kelas, dalam artian positif. Setiap ucapan mereka selalu lucu, membuat yang lain tertawa, sedikit melupakan beban yang menggantung di pikiran mereka. Setelah kepergian Sudarwono bersaudara ini, entah siapa yang akan menjadi penghibur kelas. Kehilangan tiga teman di awal kelas sebelas ini tentu menjadi hal yang menyedihkan, bahkan bagiku.</p>
<p>***</p>
<p>“Mereka tetap bisa berprestasi di luar sana kok, tenang aja Le.” kata Kenji menyemangatiku sewaktu kami berada di rumahku untuk mengajar Gisel.</p>
<p>“Aku percaya itu Kenji.”</p>
<p>“Kamu, udah enggak sedih kalau kepikiran Sica?” tanyanya.</p>
<p>“Sudah tidak terlalu, aku baik-baik saja, terima kasih.”</p>
<p>“Ah iya, aku kepikiran waktu masuk tadi, pegangan pintumu agak kendor, apa di belakang ada kotak perkakas? Biar aku bantu memperbaikinya.”</p>
<p>“Harusnya ada di gudang belakang, biar aku yang memperbaiki. Kau mengajari Gisel.”</p>
<p>Kutinggalkan Kenji bersama adikku untuk menuju gudang. Sudah cukup lama aku tidak memperbaiki sesuatu, semoga aku masih ingat di mana aku meletakkan berbagai peralatan itu. Kubuka pintu gudang, dan sama seperti ruangan lain, gudang ini pun masih tertata rapi meskipun tidak sebersih bagian rumah yang lain. Mungkin hanya bagian ini yang jarang Gisel bersihkan.</p>
<p>Mataku mulai menjelajah ruangan ini, yang sekaligus sebagai tempat penyimpanan alat olahraga, mulai dari barbel hingga <em>jump rope</em>. Dengan alat-alat inilah aku berlatih berkelahi agar tidak lagi menjadi korban <em>bully </em>di sekolahku. Aku harus latihan lagi, karena aku merasa fisikku tak setangguh dulu.</p>
<p>Aku mengitari tempat seluas dua kali dua ini, berusaha menemukan kotak perkakas tersebut. Dengan teliti aku memeriksa tiap-tiap rak dan sudut ruang, masih belum kutemukan juga. Malah, aku hampir terjatuh karena tersandung sesuatu.</p>
<p>Aku melihat apa yang membuatku terjegal, sesuatu yang terletak di balik karpet. Kusibak karpet, terlihat olehku sebuah pintu kecil dengan pegangannya berupa lingkaran dari besi, seperti ruangan rahasia di lantai. Aku menariknya, dan terlihat olehku sebuah kotak di dalamnya. Ini merupakan kejutan bagiku, karena tak pernah menyangka ada ruang rahasia di gudang sempit ini. Aku segera mengambil kotak tersebut, dan meletakkannya di atas karpet. Cukup berat untuk ukuran kotak kecil, mungkin karena terbuat dari besi. Penuh dengan debu, entah telah tersimpan berapa tahun di sana. Kotak ini terkunci dengan sebuah gembok yang membutuhkan lima kombinasi angka. Aku mencoba beberapa variasi secara acak, hasilnya nihil.</p>
<p>Aku memeriksa kembali pintu rahasia tersebut, siapa tahu masih ada barang lagi, Benar saja, terdapat selembar amplop yang telah menguning di makan usia. Aku berharap isinya masih bisa dibaca. Kubuka amplop tersebut, dan isinya cukup untuk membuatku kebingungan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1415" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg" alt="" width="1024" height="202" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-300x59.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-768x151.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-356x70.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643.jpg 1664w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2018 08:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 39]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1374</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku pun menuruti permintaannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sarah. Aku masih diam entah berapa bahasa. Selain karena masih merasa malu dengan ucapanku tempo hari, mungkin juga karena Sica memintaku secara khusus untuk menemaninya barang sejenak. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menutupkan kedua matanya dan bernafas perlahan-lahan. Dengan sabar aku menantinya untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/">Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku pun menuruti permintaannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sarah. Aku masih diam entah berapa bahasa. Selain karena masih merasa malu dengan ucapanku tempo hari, mungkin juga karena Sica memintaku secara khusus untuk menemaninya barang sejenak. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menutupkan kedua matanya dan bernafas perlahan-lahan. Dengan sabar aku menantinya untuk mengutarakan apa yang akan diucapkan oleh Sica.</p>
<p>“Aku harus menjalani operasi pengangkatan paru-paru Le.”</p>
<p>Aku hampir saja berteriak jika tidak menahan mulutku dengan kedua tanganku. Kupandang Sica dengan tatapan tidak percaya, yang membuatku sama sekali tidak bisa bicara.</p>
<p>“Hasil lab baru keluar kemarin Le, dan ternyata selama ini terdapat kanker di paru-paruku. Yang lebih mengagetkan, kanker ini telah tersebar, tidak hanya di satu lobus. Kamu pasti tahu kan ya apa itu lobus.”</p>
<p>Tentu saja aku tahu, karena biologi adalah salah satu pelajaran favoritku. Lobus adalah bagian dari paru-paru yang berfungsi untuk membantu fungsi respirasi dan pertukaran gas. Paru-paru sebelah kanan memilki tiga lobus, sedangkan sebelah kiri hanya memilki dua lobus. Tentu saja jika terdapat kanker di paru-paru, apalagi di lobus, akan mengganggu fungsi pernafasan. Apa yang terjadi jika manusia tidak bisa bernafas? Aku tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan ini.</p>
<p>“Apakah tidak bisa disembuhkan dengan metode lain?” tanyaku kepada Sica, berharap ia menjawab iya ada metode lain.</p>
<p>“Jika saja belum menyebar, mungkin bisa Le. Sayang sekali yang terjadi adalah hal sebaliknya. Karena itulah semenjak masuk SMA aku sering merasa sesak, meskipun aku jarang menunjukkannya di hadapan kalian. Aku merasa itu adalah hal yang biasa, toh aku memang sering sesak sejak kecil. Ternyata…” Sica tak kuasa melanjutkan kalimatnya.</p>
<p>Aku tidak boleh terdiam terus seperti ini. Aku harus menguatkan Sica, aku harus bisa membangkitkan semangatnya lagi. Maka kugenggam tangan Sica, lalu mulai keluarlah kata-kata motivasiku.</p>
<p>“Dengar Sica, kesehatan itu berawal dari pikiran kita. Sesehat apapun kita, jika kita berpikir sakit, maka sakitlah kita. Sebaliknya jika kita sedang diserang penyakit, kita bisa sembuh jika kita berpikir sehat, meskipun tidak semua penyakit bisa dihilangkan dengan cara ini. Akan tetapi, aku percaya bahwa kita bisa menjadi sehat diawali dengan pikiran positif ini. Mau separah apapun penyakitnya, kita harus percaya bahwa kita akan sehat kembali. Keinginan diri untuk sehat yang kuat, akan mengalahkan penyakit sekuat apapun. Jika memang kau harus operasi, maka tanamkan dalam hatimu kau akan sehat setelah menjalani operasi ini. Kuatkan dirimu Sica, kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui, kau pasti bisa melalui badai ini.”</p>
<p>Sica mendengarkanku dengan sungguh-sungguh, ia balas menggenggam tangaku dengan erat, lalu ia mulai menangis. Ia tutup kedua matanya dengan tangan satunya, berusaha mengendalikan dirinya. Aku tahu apa yang ia rasakan. Takut. Ia takut menghadapi operasi besok.</p>
<p>“Aku tahu Sica, pasti ada perasaan takut di dalam dirimu. Itu wajar, siapa yang tidak takut dengan operasi? Tapi beranikan dirimu Sica, jangan awali operasi dengan ketakutan, awali operasi dengan keberanian, dengan keyakinan. Luapkan semua ketakutanmu sekarang, di sini, berikan semua ketakutanmu kepadaku, hingga tinggal keberanian saja yang tersisa dalam dirimu.”</p>
<p>Meskipun semakin lama nada suaraku semakin meninggi karena ingin memberikan semua semangatku ke Sica, ia tetap saja menangis. Genggamannya semakin kuat, meskipun sama sekali tidak membuatku kesakitan. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengusap-ngusap genggamannya, seolah ingin mentransfer kekuatan yang aku milki.</p>
<p>Akhirnya, setelah beberapa lama, tangisnya mulai reda. Aku mengambil tisu, dan membantu Sica untuk menyeka air matanya. Aku tidak pernah belajar bagaimana memperlakukan wanita dengan baik, tapi aku merasa ini adalah hal yang benar. Ayahku tidak pernah melakukan hal yang sama ketika ibuku menangis.</p>
<p>“Terima kasih Le, kamu teman yang baik. Kata-katamu telah menguatkan diriku.”</p>
<p>“Kapanpun Sica.”</p>
<p>“Kemarin kamu bilang ingin menjadi orang yang selalu ada di sisiku bukan?”</p>
<p>Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan ini.</p>
<p>“Aku juga ingin kamu selalu ada di sisiku Le.”</p>
<p>***</p>
<p>Aku masih melamunkan Sica ketika akan beranjak tidur malam ini. Aku baru saja kembali dari rumah sakit pukul tujuh malam, ketika orangtua Sica akhirnya datang. Ternyata mereka sedang mencari bantuan dana untuk operasi Sica, hingga akhirnya harus meninggalkan Sica seorang diri. Mereka berterima kasih kepadaku karena sudah menunggu Sica hingga selarut ini. Bagaimana bisa aku meninggalkan Sica, ketika ia memohon diriku untuk menemaninya hingga orangtuanya datang, beberapa menit setelah aku hanya terdiam mendengar pernyataannya.</p>
<p>Ketika aku sampai di rumah, aku melihat Kenji sedang menemani Gisel. Untunglah, karena aku sempat khawatir Gisel akan mencari diriku. Kenji memang selalu bisa diandalkan. Kenji juga menceritakan, ketika teman-teman heran mengapa aku tidak segera keluar dari ruangan, Kenji mengatakan bahwa ada suatu hal penting yang harus dibicarakan oleh kami berdua, sehingga Kenji berinisiatif untuk mengajak teman-teman pulang terlebih dahulu. Entah bagaimana ia bisa menebak dengan jitu.</p>
<p>Gisel sempat ngambek sesaat kepadaku, satu karena pulang malam, dua karena tidak diajak mengunjungi kakak cantiknya. Dengan berbagai metode yang aku dan Kenji gunakan, akhirnya Gisel mau berhenti dari protesnya. Kami makan malam bersama dengan membeli nasi goreng yang lewat depan rumah. Aku menceritakan kondisi Sica kepada Kenji, dan ia pun nampak terkejut mendengar kabar ini. Ia akan menyampaikan hal ini besok pagi-pagi kepada teman-teman lainnya untuk mendoakan yang terbaik untuk Sica. Aku singgung mengenai janji Sarah yang akan membayari seluruh biaya rumah sakit Sica, dan Kenji menjawab lebih baik menunggu ia menawarkan diri, jangan kita yang menagih. Setelah diskusi singkat, Kenji pamit untuk pulang ke rumahnya.</p>
<p>Dan kini, terbaringlah aku dalam kegelisahan. Pertama, karena khawatir akan kondisi Sica. Kedua, respon yang ia berikan terhadap pernyataanku sebelumya. Apakah artinya ia menyimpan rasa yang sama seperti yang kurasakan? Ataukah itu hanya sekedar sopan santun, hanya agar aku tidak tersinggung? Aku sama sekali bodoh jika berkaitan dengan cinta, dan aku tidak ingin cepat menyimpulkan sendiri. Aku tidak membutuhkan status pacaran seperti kebanyakan. Selama aku dan Sica merasa nyaman, itu sudah lebih dari cukup.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelum pelajaran dimulai, Kenji memberitahukan pengumuman mengenai apa yang aku sampaikan kemarin. Sontak satu kelas berteriak kaget tidak percaya, shock mendengar informasi ini. Pandanganku terfokus kepada Sarah, meskipun aku hanya bisa melihat tubuhnya dari belakang. Terlihat sekali, ia bergetar tak karuan, dan nampaknya mulai mengerluarkan tangis. Rena sebagai teman perempuan yang duduknya paling dekat dengan Sarah –Sarah duduk di belakang Bejo dan di depan Andra, sedangkan di sampingnya adalah Sica– berusaha untuk menenangkannya. Setelah tenang, Sarah berkata bahwa ia akan membayar semua biaya operasi Sica. Ia akan menelepon orangtuanya untuk mengurus masalah ini. Meskipun orangtuanya sibuk, nampaknya mereka tidak pernah menolak keinginan Sarah. Mungkin itu adalah bentuk konsekuensi dari ketidakhadiran mereka.</p>
<p>Ketika istirahat pertama, Sarah memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit.</p>
<p>“Kenapa kau tidak minta antar pacarmu saja?” jawabku sedikit sinis. Aku masih belum bisa menghilangkan kesinisanku ketika berbicara dengan Sarah.</p>
<p>“Aku sudah memutuskannya Le, dan ia pun tidak terlalu peduli karena ia merasa bisa menemukan penggantiku dengan cepat. Apa kamu bisa?”</p>
<p>“Kenapa aku?”</p>
<p>“Karena…” Sarah berhenti sejenak, “…aku merasa Sica paling dekat denganmu Le. Aku rasa aku butuh ditemani orang yang dekat dengan Sica.”</p>
<p>Aku yakin pasti pipiku memerah, namun aku segera mengiyakan permohonan Sarah untuk menutupi hal tersebut, sembari memintanya agar mengajak Kenji. Aku akan merasa lebih tenang jika ada Kenji, dan tentu aku tidak ingin menjadi laki-laki sendiri di antara kedua wanita ini. Ketika Kenji kembali ke kelas, Sarah menanyakan hal ini, dan Kenji menyanggupinya.</p>
<p>***</p>
<p>Kami bertiga langsung menemui mama Sica yang kebetulan sedang menemani Sica. Sarah langung mengutarakan niatnya tersebut. Mama Sica sempat menolak tawaran itu, tapi setelah mendengar penjelasan Sarah yang menyatakan ia ingin menebus kesalahannya karena membuat Sica seperti ini, mama Sica menyetujui bantuan ini dan segera menghubungi suaminya.</p>
<p>Ketika mama Sica keluar dari ruangan, Sica membuka pembicaraan.</p>
<p>“Kamu tidak perlu melakukan itu Sarah, kamu tidak perlu merasa bersalah.”</p>
<p>“Tidak Sica, aku sudah berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakitmu. Biarkan aku menebus dosaku dengan ini karena aku tidak punya cara lain.”</p>
<p>“Sudahlah Sica, Sarah memiliki itikad baik untuk membantumu sembuh. InsyaAllah dia ikhlas, jadi terimalah bantuannya.” Kenji membantu Sarah untuk meyakinkan Sica.</p>
<p>Sica memandang kepadaku seolah meminta pembelaan, namun aku sepakat dengan Kenji, sehingga aku hanya menganggukkan kepala. Sica pun melemparkan senyuman pasrah.</p>
<p>Lalu datanglah seorang dokter, mungkin ia yang akan menangani operasi Sica. Dari awal aku melihatnya, aku langsung memutuskan untuk tidak menyukainya. Ekspresinya, cara berjalannya, menunjukkan bahwa ia tipe orang yang merasa dirinya paling hebat. Apakah aku dulu terlihat sebegitu menjijikan itu?</p>
<p>“Halo adik-adik, kenalkan saya dokter Sardjono. Saya dokter spesialis paru-paru paling hebat disini, jadi kalian tidak perlu khawatir tentang kondisi teman kalian. Oh ini ya yang namanya Jessica, apa kabarnya cantik?”</p>
<p>Ia mengatakan itu sambil mengelus-ngelus tangan Sica. Kurang ajar, sudah sombong, genit pula. Jika bukan karena sedang berada di rumah sakit, sudah kuberi dia pukulan tanpa kasih sayang. Jadi aku memutuskan untuk berkata dengan halus.</p>
<p>“Lepaskan tanganmu dari Sica, kau kakek mesum.”</p>
<p>Ia nampak kaget mendengar aku mengatainya seperti itu. Ia melepaskan genggamannya dan berjalan ke arahku.</p>
<p>“Kenapa? Kamu cemburu nak? Oh saya tahu, kamu pacarnya ya? Ah maafkan saya kalau begitu karena sudah berbuat lancang.” katanya sambil menyeringai bagai Hyena.</p>
<p>Aku hanya menatap dingin ke arahnya. Mungkin ia sedikit terkejut karena intimidasinya tidak berpengaruh padaku. Jadi, ia hanya mendengus kesal, dan keluar kamar.</p>
<p>“Terima kasih Le, jika bukan karena kondisiku, pasti sudah kutampar dokter itu.” kata Sica kepadaku.</p>
<p>“Sama-sama Sica.”</p>
<p>Kami tidak lama di rumah sakit. Setelah urusan administrasi untuk operasi selesai, kami berpamitan kepada Sica dan mamanya. Aku memandang sejenak Sica sebelum beranjak dengan tatapan ‘apakah kamu butuh ditemani’? Namun ia hanya balas memandang ‘aku baik-baik saja, tinggalkan aku, terima kasih untuk semuanya’. Maka aku pun meninggalkannya dengan berat hati, bahkan langkahku pun menjadi berat, seolah mengisyaratkan agar aku tetap disini. Akhirnya aku pun kembali ke ranjang Sica untuk mengeluarkan unek-unek di kepalaku.</p>
<p>“Aku ingin di sini Sica, aku ingin menemanimu, aku ingin duduk di sisimu.”</p>
<p>“Aku pun ingin kamu temani Le, namun kamu harus menemani Gisel. Datanglah setiap hari, tapi jangan sampai kamu melupakan Gisel. Toh sekarang ada mamaku yang menjagaku.”</p>
<p>Maka akupun melangkah keluar, lalu terdengar Sica berbisik lirik, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.</p>
<p>“Terima kasih, Alexander Napoleon Caesar.”</p>
<p>***</p>
<p>Satu minggu setelah operasi, Jessica Christiani, wanita yang aku cintai, meninggal dunia di ruang sakura itu.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/">Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 38 Semua Sudah Tahu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2018 08:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 38]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1333</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku hanya bisa memberi tatapan kosong ketika Kenji memintaku untuk menemaninya menjenguk Sica. Ia kebingungan melihat responku, namun kurang dari semenit ia memberi tatapan “ah, aku mengerti apa yang telah terjadi”. Karena itu ia menambahkan, kemungkinan semua teman sekelas akan ikut menjenguk, jadi tidak usah takut suasananya menjadi awkward. Aku hanya mengangguk-angguk dengan tatapan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/">Chapter 38 Semua Sudah Tahu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Aku hanya bisa memberi tatapan kosong ketika Kenji memintaku untuk menemaninya menjenguk Sica. Ia kebingungan melihat responku, namun kurang dari semenit ia memberi tatapan “ah, aku mengerti apa yang telah terjadi”. Karena itu ia menambahkan, kemungkinan semua teman sekelas akan ikut menjenguk, jadi tidak usah takut suasananya menjadi <em>awkward</em>. Aku hanya mengangguk-angguk dengan tatapan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Di jam istirahat pertama, Kenji dan Bejo mengumumkan bahwa sepulang sekolah nanti, kami semua akan menjenguk Sica yang sudah sadar kembali. Sebenarnya kami bisa mengunjunginya kemarin, hanya saja kami terlalu heboh dengan kembalinya Kenji dan Sarah. Omong-omong soal Sarah, ia masih terlihat takut-takut dengan kami, sehingga membuatnya diam tak bersuara sepanjang hari ini. Untunglah, beberapa teman seperti Rena dan Ve berusaha untuk membuat Sarah nyaman dengan mengajaknya bicara.</p>
<p style="text-align: left;">Aku jadi teringat tentang pertanyaanku kemarin ke Sica, mengapa ia tidak memiliki teman perempuan dekat di kelas. Untuk menghilangkan rasa penasaran tersebut, aku menanyakannya kepada Gita.</p>
<p style="text-align: left;">“Kenapa kamu bertanya itu Le?” tanya Gita balik, mungkin merasa pertanyaanku itu tidak perlu ditanyakan olehku.</p>
<p style="text-align: left;">“Hanya penasaran Gita, kenapa anak sebaik Sica justru tidak memilki teman dekat.” aku berusaha menjelaskan inti dari pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: left;">Gita memandangku dengan tatapan memelas. Aku tidak paham apa yang perlu dikasihani dengan pertanyaanku? Atau justru tatapannya itu ditujukan kepada Sica?</p>
<p style="text-align: left;">“Kamu tahu Le, bagi kami kaum wanita, Sica itu terlihat terlalu sempurna. Ia pintar, cantik, baik hati, supel, hingga seolah-olah ia adalah makhluk yang sempurna. Mungkin itulah Le alasannya, ia terlalu tinggi untuk digapai oleh kami yang biasa-biasa saja.”</p>
<p style="text-align: left;">Aku sedikit terlonjak mendengar jawaban Gita. Terlalu sempurna? Benarkah kesempurnaan membuat kita menjadi susah memiliki kawan? Jika dipikir-pikir, mungkin ada benarnya. Dulu aku merasa begitu sempurna, sehingga tidak memiliki kawan satu pun. Akan tetapi tentu hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan Sica, karena kesempurnaan milikku adalah bentuk keangkuhan, sedangkan Sica adalah murni miliknya, walaupun aku percaya tidak ada manusia yang sempurna.</p>
<p style="text-align: left;">“Kamu beneran suka sama Sica ya Le?” tanya Gita menarikku kembali dari alam pikirku.</p>
<p style="text-align: left;">“Eh…itu&#8230;enggak kok. Aku hanya penasaran.” jawabku tergagap karena tidak menduga Gita akan bertanya sefrontal ini.</p>
<p style="text-align: left;">Gita hanya tersenyum masam, lalu membalikkan tubuhnya. Apakah aku salah karena menanyakan pertanyaan ini, pertanyaan yang jawabannya mungkin dirasakan oleh teman perempuan satu kelas? Belum kutemukan jawabannya, bel tanda masuk sudah berdering.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Jam istirahat kedua, teman-teman melakukan berbagai aktivitas. Sudarwono bersaudara selalu menjadi yang pertama keluar kelas. Kenji biasanya menghampiri aku untuk mengajak ke kantin, namun lebih sering aku tolak karena memang aku tidak suka membelanjakan uangku untuk membeli makanan. Toh aku sangat jarang merasa lapar, walaupun otak digunakan seharian untuk berpikir.</p>
<p style="text-align: left;">Karena sudah menemukan metode untuk berbicara dengan Juna, maka aku mencoba untuk mengajaknya berbicara.</p>
<p style="text-align: left;">“Juna, aku mengganggu?”</p>
<p style="text-align: left;">Ia menoleh dan melihat kelima jariku, terkekeh dengan geli.</p>
<p style="text-align: left;">“Tentu tidak Le, terima kasih sudah memberitahukan metode tersebut kepada teman-teman yang lain.”</p>
<p style="text-align: left;">“Mengapa kau bisa begitu berbeda di antara jeda dua detik?”</p>
<p style="text-align: left;">“Entahlah, sejak kecil aku begitu lambat dalam memberikan respon. Butuh lima detik agar otakku dapat memprosesi informasi yang masuk.”</p>
<p style="text-align: left;">“Lalu, mengapa biasanya kau respon dalam tiga detik?”</p>
<p style="text-align: left;">“Itu karena aku sering dimarahi oleh orang-orang yang mengajakku berbicara, sehingga aku menjawabnya lebih cepat dengan mengulang pertanyaannya, memberikan jeda untuk otakku menyerap informasi.”</p>
<p style="text-align: left;">“Tapi kau termasuk pintar Juna, bahkan di kelas ini, bagaimana bisa?”</p>
<p style="text-align: left;">“Otakku memang lambat menerima informasi yang berupa audio, akan tetapi di sisi lain sangat cepat menyerap informasi visual. Berikan aku buku telepon, beri beberapa menit, maka aku akan hafal halaman pertamanya.”</p>
<p style="text-align: left;">“Benarkah? Susah dipercaya.”</p>
<p style="text-align: left;">“Mau bukti? Coba tuliskan sesuatu secara acak rangkaian angka, huruf maupun simbol. Beri aku waktu beberapa detik untuk membacanya.”</p>
<p style="text-align: left;">Kulakukan apa yang ia minta, mencoba membuatnya sesulit mungkin. Begitu selesai, kuberikan kepadanya. Ia membaca kertas tersebut, membaca sepintas, lalu mengembalikannya kepadaku. Lantas, ia sebutkan semua yang tertera di kertas tersebut, lengkap dengan kesalahan-kesalahan penulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">“Wah, luar biasa, tak kusangka kau memiliki kemampuan seperti itu.”</p>
<p style="text-align: left;">“Anggap saja ditukar dengan kemampuan otakku yang lambat menangkap informasi berupa audio. Kamu tahu mengapa aku sering sibuk menulis sewaktu istirahat?”</p>
<p style="text-align: left;">Aku menggelengkan kepala.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku mencatat semua informasi yang aku dapatkan, baik pelajaran maupun tindak tanduk kalian. Aku bukan tipe orang yang mudah bergaul karena keterbatasanku ini, tetapi aku ingin bisa membaur dengan kalian. Oleh karena itu aku banyak mencatat tentang hal tersebut, sehingga ketika kalian mengajakku berbicara, aku bisa nyambung.”</p>
<p style="text-align: left;">“Aku paham.”</p>
<p style="text-align: left;">Aku berpikir sejenak, lalu bertanya kepada Juna.</p>
<p style="text-align: left;">“Kau juga mencatat pertanyaan Gita sewaktu istirahat pertama?”</p>
<p style="text-align: left;">“Tentu saja, banyak catatanku yang berisi perasaanmu kepada Sica, baik yang berasal darimu maupun orang lain. Aku rasa semua teman-teman satu kelas sudah tahu Le.” katanya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: left;">Aku segera membalikkan badanku, mengakhiri percakapan.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Setelah berkutat dengan kimia, akhirnya kami bisa bernafas lega karena waktu untuk pulang telah tiba. Masuk ke kelas akselerasi berarti kami harus siap belajar satu setengah kali lebih cepat dibandingkan kelas regular. Di saat kelas lain masih bersantai, kami sudah akan naik tingkat ke kelas sebelas. Ketika kelas regular naik kelas, kami sudah separuh jalan menuju kelas dua belas. Inilah resikonya menjadi anak akselerasi, namun aku sama sekali tidak menyesali kondisi ini. Aku adalah penyuka tantangan, apalagi jika terkait dengan pelajaran. Aku akan berusaha mengalahkan semua teman-temanku di sini, termasuk Kenji.</p>
<p style="text-align: left;">Sesuai kesepakatan, kami semua akan mengunjungi Sica sepulang sekolah. Setelah mampir ke toko kelontong untuk membeli roti dan susu (lagi), kami berempatbelas mencegat angkot bersama-sama. Aku sengaja tidak pulang terlebih dahulu untuk mengajak Gisel, karena takut bocah itu akan membuka semua apa yang terjadi kemarin lusa. Mau ditaruh mana muka ini jika teman-teman sampai tahu.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika kami sudah sampai di rumah sakit dan hendak masuk ke dalam ruangan, aku melihat keraguan dalam wajah Sarah. Kenji berusaha untuk menyemangatinya, namun ia tetap ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa sudah masuk ke dalam kamar inap, tidak menyadari ketakutan Sarah untuk bertemu dengan Sica. Karena Kenji terlihat susah untuk meyakinkan Sarah, aku maju untuk membantunya.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku sudah bertemu Sica kemarin, dan ia khawatir kau akan merasa bersalah karena telah membuatnya masuk rumah sakit. Meskipun aku tidak setuju dengan pendapatnya, kau perlu tahu bahwa Sica tidak marah kepadamu. Ia sama sekali tidak menyalahkanmu.”</p>
<p style="text-align: left;">Sarah hanya terdiam mendengar perkataanku, namun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan. Untunglah, nampaknya hari ini tidak ada pasien lain yang berada di kamar lain, sehingga kedatangan kami yang beramai-ramai ini tidak terlalu mengganggu.</p>
<p style="text-align: left;">Teman-teman yang lain langsung menyingkir ketika melihat Sarah berjalan perlahan memasuki ruangan. Mereka nampaknya tahu, ada sesuatu yang ingin diutarakan oleh Sarah. Aku dan Kenji mengikutinya dari belakang. Untunglah fokus teman-teman ada di Sarah, bukan ke diriku yang sedang meredam getaran-getaran yang entah darimana datangnya.</p>
<p style="text-align: left;">Sunyi sesaat ketika Sarah dan Sica saling bertatap muka. Mungkin itu bukan istilah yang tepat, karena Sarah tidak berani menatap wajah Sica secara langsung, walaupun Sica memasang wajah yang bersahabat. Betapa hebat wanita yang satu ini, sama sekali tidak mengukir dendam di hatinya.</p>
<p style="text-align: left;">Karena mereka hanya saling berdiam diri dalam waktu yang cukup lama, Sica memutuskan untuk mengambil inisiatif.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku minta maaf ya Sarah.”</p>
<p style="text-align: left;">Satu kalimat, dan tumpahlah air mata Sarah. Ia menutupi mukanya, berusaha menahan suara agar tidak terlalu keras isaknya terdengar. Teman-teman perempuan yang lain berusaha untuk menenangkan Sarah, dan menggiringnya agar duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjang Sica. Rupanya mama Sica sedang tidak ada di tempat.</p>
<p style="text-align: left;">Selang beberapa saat, ketika sudah berhasil menguasai emosinya, Sarah mulai mengeluarkan permohonan maafnya yang tulus. Sica pun hanya bisa menjawab bahwa ia sudah memaafkan Sarah, dan berharap setelah ini mereka bisa menjadi teman yang baik. Beberapa teman nampak terharu melihat adegan. Aku? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa melelehkan hatiku yang terbuat dari besi?</p>
<p style="text-align: left;">Sekitar 45 menit kami berada di rumah sakit. Mereka semua silih berganti mengajak bicara Sica, menanyakan ini dan itu. Nampaknya belum ada yang menyadari bahwa telah terjadi sesuatu kemarin lusa antara aku dan Sica. Terang saja, karena aku belum sekalipun mengeluarkan suara semenjak memasuki ruangan ini. Aku hanya menyimak baik-baik percakapan mereka, perbincangan antar teman kelas. Setelah itu, kami pun satu per satu berpamitan dengan Sica, dimulai dengan Sarah hingga aku yang terakhir.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika aku hendak berpamitan dengan Sica, teman-teman sudah keluar dari ruangan, menyisakan kami berdua. Berat rasanya untuk berpamitan dengan dirinya karena aku masih merasa canggung, apalagi jika teringat kalimat terakhir yang keluar dari bibirku.</p>
<p style="text-align: left;">Hingga akhirnya, Sica lah yang berbicara terlebih dahulu dengan diiringi senyumannya.</p>
<p style="text-align: left;">“Le, tolong temani aku sebentar di sini.”</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/">Chapter 38 Semua Sudah Tahu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2018 08:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 37]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1274</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Sewaktu Sica pingsan, aku langsung mengarahkan penglihatanku ke Sarah untuk melihat bagaimana responnya, toh ada kalian yang pasti akan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Sica. Terlihat sekali, kejadian ini sama sekali tidak diprediksi olehnya. Ia untuk pertama kalinya menunjukkan wajah aslinya, bukan dengan segala topeng kesombongannya itu.” Kenji membuka ceritanya. “Topeng?” tanyaku karena kurang mengerti maksud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/">Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Sewaktu Sica pingsan, aku langsung mengarahkan penglihatanku ke Sarah untuk melihat bagaimana responnya, toh ada kalian yang pasti akan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Sica. Terlihat sekali, kejadian ini sama sekali tidak diprediksi olehnya. Ia untuk pertama kalinya menunjukkan wajah aslinya, bukan dengan segala topeng kesombongannya itu.” Kenji membuka ceritanya.</p>
<p>“Topeng?” tanyaku karena kurang mengerti maksud dari perkataan Kenji.</p>
<p>“Iya Le, aku tahu predikat angkuh yang selama ini melekat pada Sarah hanyalah topeng yang digunakan untuk menutupi sesuatu. Aku merasa, ada suatu keadaan yang membuatnya harus memakai topeng tersebut.”</p>
<p>“Lalu bagaimana setelah itu?”</p>
<p>“Ketika kalian mulai berlarian ke arah Sica, meskipun kamu hanya mematung melihat Sica, aku juga tetap diam di tempatku, menunggu reaksi Sarah. Setelah melepas topengnya itu, ia segera balik badan, berusaha untuk lari dari kenyataan. Aku pun membuntutinya tanpa suara. Ia langsung keluar sekolah, menelepon seseorang, dan menanti dengan di gerbang dengan penuh kewaspadaan. Entah karena keberuntungan atau apa, waktu itu tidak ada penjaga sekolah yang <em>stand by</em> di gerbang.</p>
<p>“Sekitar 15 menit kemudian, setelah aku melihat Sica sudah digotong menuju UKS oleh kalian, ada seseorang dengan motor balap yang terlihat mahal. Tanpa banyak cakap, mereka langsung pergi meninggalkan area sekolah. Tidak ingin kehilangan momen, aku memanggil ojek yang mangkal di dekat sekolah, dan menyuruhnya untuk mengejar Sarah. Tak apalah aku pakai sedikit uang tabunganku untuk menyelesaikan permasalahan ini.”</p>
<p>“Kau membawa uang tabunganmu ke  sekolah?” tanyaku keheranan.</p>
<p>“Lebih tepatnya aku selalu membawa uang berlebih, untuk jaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi.”</p>
<p>“Silahkan lanjutkan ceritamu.”</p>
<p>“Maka dengan gaya seperti Valentino Rossi, tukang ojekku berhasil membuntuti mereka tanpa ketahuan hingga sampai di kawasan sebuah rumah mewah yang lumayan jauh dari sekolah. Sempat dihentikan oleh penjaga, aku berhasil lolos dengan mengatakan bahwa aku adalah teman satu kelompok dengan Sarah dan kami ada kerja kelompok dirumahnya. Maka sampailah aku di rumah Sarah, sebuah bangunan minimalis tingkat dua yang pasti harganya mencapai miliaran. Setelah membayar biaya ojek yang lumayan, aku ketuk pagar rumahnya yang tinggi menjulang itu.</p>
<p>“Ketukanku disambut seorang asisten rumah tangga. Aku bilang kepadanya, aku adalah teman Sarah, dan kami ada kerja kelompok. Ia meminta aku untuk menunggu sebentar. Selang lima menit, ia mengatakan nona Sarah sedang tidak bisa diganggu. Aku sudah terlanjur melangkah sejauh ini, tentu pantang untuk menyerah. Akhirnya aku menggunakan teknik pemaksaan untuk masuk ke dalam rumah Sarah. Toh pagarnya tidak terkunci, sehingga aku hanya perlu menggeser pagar tersebut.</p>
<p>“Asisten itu berusaha untuk menahan-nahan diriku, dan aku pun segera memerankan orang yang suka mencari keributan. Aku berharap dengan keributan, Sarah akan keluar dari rumahnya. Benar saja, mendengar ramainya suasana di luar, Sarah keluar diiringi pacarnya yang tinggi tegap itu.</p>
<p>“ ‘Mau ngapain loe? Mau gue hajar loe?’ Sarah berusaha memasang kembali topengnya, namun sayang, topeng itu sudah terlanjur rusak untuk dikenakan kembali.</p>
<p>“ ‘Sarah, berdamailah dengan Sica, kamu lihat sendiri ia sudah melaksanakan hukumannya hingga jatuh pingsan.’pintaku dengan sedikit mengiba, berharap dia akan terpengaruh.</p>
<p>“ ‘Apaan? Gue gak peduli sama cewek kampung itu! Mau dia pingsan mau dia mati juga bukan urusan gue. Gue gak sudi lagi sekolah di tempat jelek kayak gitu. Gue mau pindah!’ jerit Sarah yang sejujurnya memekakkan telingaku.</p>
<p>“ ‘Ayolah Sarah, kamu sudah menjalani masa MOS yang menyusahkan, kamu sudah hampir satu semester belajar di kelas ini, apa kamu tidak sayang membuang semua usahamu selama ini?’</p>
<p>“ ‘Gue bisa masuk mana aja, terserah gue, duit gue banyak! Bahkan kalau perlu sekolah ini yang gue beli biar kalian semua di DO!’</p>
<p>“ ‘Ayolah Sarah, pikirkanlah . . .’pembicaraan kami terhenti ketika pacarnya itu mendaratkan bogem mentah ke wajahku tanpa aba-aba sedikitpun. Mungkin ia kesal denganku yang telah membuat pacarnya sedikit histeris.</p>
<p>“ ‘Banyak cincong ya kamu, dasar cebol sipit. Pacarku ini gak akan minta maaf sama kalian. Kalian aja yang enggak level sama dia.’ ia berkata dengan lantangnya, hingga ludahnya menyembur ke wajahku. Aku tidak merespon karena masih menahan sakit atas pukulan yang telah ia daratkan ke pipiku.</p>
<p>“ ‘Ay, pukulin dia, dia udah nyakitin gue, please hajar dia.’ katanya sembari menunjuk-nunjuk diriku.</p>
<p>“ ‘Mau dihajar sampai gimana ay? Sampai mampus?’</p>
<p>Sarah memandangku sesaat, aku dapat melihat walau hanya sekilas sebenarnya Sarah merasa kasihan kepadaku. Aku memikirkan teman-teman satu kelas, kita tidak akan pernah bisa tenang jika Sarah tetap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Sarah sadar akan kesalahannya. Jadi kuberanikan diri lalu berkata, ‘Sarah, jika dengan menghajarku sampai puas bisa membuatmu berdamai kami, aku rela.’</p>
<p>“Tanpa menunggu persetujuan Sarah, pacarnya mengangkat kerahku dan memberiku kepalan tinju ke arah wajahku. Aku jatuh tersungkur, kurasakan pahit di mulutku. Baru dua pukulan dan aku sudah merasa pusing, bagaimana jika ia meneruskan pukulannya? Tapi aku berasumsi, dengan melihat aku terluka, aku akan dapat meluluhkan hati Sarah, dan aku akan bisa mengajaknya berbicara secara baik-baik. Memang ini seperti berjudi dengan jumlah taruhan yang besar, namun aku yakin dengan prediksiku.</p>
<p>“Maka aku beranikan diri untuk bangkit dan memasang kuda-kuda untuk berkelahi, meskipun aku belum pernah berkelahi. Hasilnya, tanpa banyak basa basi ia layangkan lagi kepalan tangannya yang hampir dua kali ukuran tanganku, kali ini ke arah perut. Kembali aku terjatuh, dan aku sudah mulai merasa kehilangan kesadaran, mataku berkunang-kunang. Belum selesai, ia menambahkan tendangan ke arah perutku. Akhirnya aku menjarit kesakitan, karena tak tahan sakitnya. Aku memegangi perutku, penglihatanku mulai kabur, tapi masih bisa kulihat dia berusaha menerjang aku seakan dirinya adalah badak bercula satu. Dia mendaratkan banyak pukulan ke tubuhku hingga aku tak bisa merasakan sakitnya lagi. Aku merasa hari ini adalah hari kematianku, sampai aku mendengar suara Sarah.</p>
<p>“ ‘Udah ay, hentikan!’</p>
<p>“ ‘Lho gimana sih ay, katanya disuruh mukulin sampai dia mampus?’ dia berhenti memukulku dan beralih pandangan ke Sarah.</p>
<p>“ ‘Kalau gue bilang berhenti ya berhenti! Udah loe pulang sana, gue mau tidur!’</p>
<p>“ ‘Terus dia?’kata laki-laki itu dengan meletakkan kakinya di kepalaku.</p>
<p>“‘Gue yang urus, sekarang loe pulang!’ Sarah mendorong pacarnya untuk menyingkir dariku.</p>
<p>“Sang pacar sebenarnya enggan untuk berhenti memukuli diriku. Tapi melihat Sarah yang bersikeras seperti itu, akhirnya ia mengalah dan menuruti perkataan Sarah. Aku sempat melihat ia mengenakan helm dan menaiki motornya. Setelah itu aku tak sadarkan diri.”</p>
<p>Kenji berhenti sejenak, lalu menghirup teh manis yag ia buat tadi. Bahkan aku yang hanya mendengarkan ceritanya ikut merasakan dahaganya, sehingga aku juga mengambil teh manis bagianku.</p>
<p>“Ah, aku terlalu lama bercerita, hingga teh ini menjadi tidak begitu panas. Seandainya masih panas, pasti sudah menyegarkan pikiranku.” gumamnya terkekeh sendiri.</p>
<p>“Jika kau lelah, kau bisa beristirahat dulu. Aku akan menunggumu atau jika kau ingin melanjutkannya besok, aku akan pulang.”</p>
<p>“Tidak Le, tidak perlu. Aku akan menyelesaikannya hari ini juga.”</p>
<p>“Silahkan lanjutkan kalau begitu.”</p>
<p>“Begitu aku tersadar, aku sudah terbaring di ranjang. Aku lihat sekelilingku, ternyata aku sudah berada di rumah sakit, dan aku berada di kamar yang disediakan hanya untuk satu pasien. Aku mencoba bangun sekuatku untuk menengok jam dinding, ternyata sudah jam dua belas malam lebih. Terlihat olehku Sarah sedang tertidur di sofa. Ingin aku bangkit dari tempatku berbaring, namun tenagaku ternyata belum terkumpul. Ingin berteriak, tenggorokanku pun terlalu lemah untuk mengeluarkan suara. Merasa tak berdaya, aku memutuskan untuk kembali tergeletak di atas ranjangku. Ternyata gerakan-gerakanku membangunkan Sarah. Dia mengucek kedua matanya dan menghampiriku.</p>
<p>” ‘Kamu sudah sadar Kenji?’ katanya ramah, berbeda seperti biasanya. Aku pun sempat terkejut sewaktu mendengar Sarah menggunakan kamu, bukan loe seperti biasanya.</p>
<p>“ ‘Ya, kenapa aku bisa di rumah sakit?’</p>
<p>“ ‘Pacarku tadi agak keterlaluan menghajarmu, jadi aku takut kamu kenapa-napa.’</p>
<p>“ ‘Bukannya kamu yang menyuruhnya untuk mukulin aku ya?’ aku tetap tersenyum seperti biasanya waktu mengatakan ini.</p>
<p>“ ‘Iya memang, tapi itu karena aku sedang emosi, aku . . aku . . .’dia tak bisa melanjutkan kata-katanya, tapi aku tahu apa yang ingin dikatakannya.</p>
<p>“ ‘Aku minta maaf Sarah.’ aku mendahului Sarah agar dia lebih relaks untuk meminta maaf.</p>
<p>“ ‘Ha . . harusnya aku yang minta maaf Kenji. Aku sudah membuat Sica…’ ia tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya. Sudah terlihat air mata hendak tumpah, pasrah ditarik gravitasi.</p>
<p>“ ‘Sica pasti baik-baik saja kok. Mungkin sekarang sudah di rawat di rumah sakit, setelah penanganan dokter, ia akan kembali sehat seperti semula.’</p>
<p>“Ia terdiam sesaat mendengar aku berusaha menghiburnya. Dengan tarikan nafas panjang, ia berkata padaku.</p>
<p>“ ‘Kenapa kamu sampai rela seperti itu demi teman-temanmu? Mengapa kamu sangat peduli terhadapku disaat yang lain begitu acuh terhadapku?’</p>
<p>“ ‘Karena tinggal mereka yang kupunya. Aku tidak memiliki keluarga, jadi semua teman satu kelas aku anggap sebagai saudara. Termasuk kamu Sarah.’ “</p>
<p>Mendengar Kenji berkata seperti itu, tubuhku bergetar. Pasti Sarah juga merasakan hal ini. Sungguh baik anak ini, belum pernah aku bertemu anak sebaik dan setulus dia seumur hidupku.</p>
<p>“Kamu kenapa Le? Apa sudah bosan mendengar ceritaku?” tanya Kenji yang membuatku berhenti bergetar.</p>
<p>“Ti . . tidak. Silahkan lanjutkan ceritamu yang sungguh menakjubkan.”</p>
<p>“Baiklah. Begitu aku berkata seperti itu, Sarah langsung berlutut di atas lantai, dan mulai menangis. Butuh beberapa kali aku melontarkan pertanyaan hingga ia jawab sambil terisak keras.</p>
<p>“ ‘Ha . . harusnya aku malu kepadamu Kenji, aku juga memiliki keluarga tapi sama saja dengan tidak punya. Mereka selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka sehingga lupa memberikan perhatian kepadaku. Mereka memberiku banyak uang, tapi untuk apa? Awalnya aku sangat senang, namun lama kelamaan aku merasa muak. Uang hanya memberikan kebahagiaan semu, yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan yang sesungguhnya.’</p>
<p>“ ‘Lalu kenapa kamu menjadi sombong?’</p>
<p>“ ‘Aku ingin mendapat perhatian, sesuatu yang tidak aku dapatkan dari orangtuaku. Aku berperan sebagai tokoh antagonis agar aku mendapatkannya, meskipun perhatian yang mereka berikan adalah perhatian karena membenciku, membenci sikap sombongku. Namun itu lebih baik daripada tidak diberi perhatian sama sekali.’ tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku sampai kewalahan menghadapinya.</p>
<p>“ ‘Kenapa kau memilih peran antagonis daripada protagonis?’</p>
<p>“ ‘Karena sebelumnya aku telah berusaha menjadi anak baik, namun tidak ada yang memperhatikan diriku. Tidak ada orang yang memperhatikan orang yang biasa-biasa saja. Akhirnya aku memilih menjadi anak sombong, anak yang suka bersuara keras agar mendapatkan perhatian.’</p>
<p>“ ‘Sarah, kamu sudah memilih jalan yang salah. Namun belum terlambat untuk berubah. Percaya padaku, kamu justru akan mendapatkan perhatian lebih banyak jika kau menjadi pribadi yang santun. Guru-guru akan mengingatmu sebagai murid yang sopan. Teman-temanmu akan mengingatmu sebagai kawan yang hangat. Aku sudah membuktikannya, dan berhasil. Bangunlah Sarah, aku janji aku akan membantumu untuk berubah. Kamu lihat kan aku berhasil mengubah Leon, jadi aku yakin aku bisa membantumu untuk berubah juga.’</p>
<p>“ ‘Sarah bangkit dari lantainya, dan memegang tanganku yang terbalut perban. Tangan satunya mengusap air matanya, dan berusaha agar terlihat tegar.</p>
<p>“ ‘Bantu aku ya Kenji, agar aku bisa dianggap saudara oleh teman satu kelas.’ ujarnya sambil tersenyum manis.</p>
<p>“Selama dua hari satu malam aku berada di rumah sakit tersebut. Sebenarnya aku ingin segera sekolah, namun Sarah mengatakan bahwa kondisiku belum baik.</p>
<p>“ ‘Kenapa kamu tidak masuk Sarah?’</p>
<p>“ ‘Aku tidak berani masuk tanpamu. Aku belum punya nyali untuk memasuki kelas setelah kejadian kemarin.’</p>
<p>“ ‘Aku mengerti Sarah, tapi besok masuk ya. Tidak enak kalau ketinggalan pelajaran di kelas.’</p>
<p>“Begitulah kejadian yang sebenarnya kawanku Leon. Jika ada yang masih tidak kamu percaya silahkan katakan.”gumam Kenji mengakhiri ceritanya.</p>
<p>“Tidak Kenji, aku percaya, aku dapat melihat kedua matamu berkata jujur sejujurnya.”</p>
<p>“Hei, yang berkata mulutku, bukan mataku.” ujar Kenji di akhiri dengan tawa yang keras.</p>
<p>“Ungkapan Kenji, hanya ungkapan. Bukankah kau sendiri suka menggunakan ungkapan untuk mengatakan sesuatu?” kataku kesal mendengar tawanya yang bernada mencela.</p>
<p>“Iya iya, aku tahu Le. Tetap pegang janjimu, jangan ceritakan hal ini kepada orang lain,” dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan pelan, “termasuk Sica.”</p>
<p>Aku hanya bisa mengangguk mendengar berakhirnya cerita yang susah untuk dipercaya ini.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/">Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 36 Senyum Sarah</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 16:56:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 36]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1229</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku hampir saja memutuskan untuk membolos hari ini jika teringat dengan kejadian kemarin. Betapa bisanya aku mengatakan hal tersebut dengan tenangnya. Sica pun hanya bisa diam membeku, seolah ada yang menembakkan pistol pembeku. Untung saja mama Sica sudah selesai dengan teleponnya dan kembali ke dalam ruangan, menyelematkan mukaku dari tatapan Sica. Dengan alasan Gisel ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/">Chapter 36 Senyum Sarah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hampir saja memutuskan untuk membolos hari ini jika teringat dengan kejadian kemarin. Betapa bisanya aku mengatakan hal tersebut dengan tenangnya. Sica pun hanya bisa diam membeku, seolah ada yang menembakkan pistol pembeku. Untung saja mama Sica sudah selesai dengan teleponnya dan kembali ke dalam ruangan, menyelematkan mukaku dari tatapan Sica. Dengan alasan Gisel ada jadwal les, aku berpamitan dengan mama Sica, dan agak canggung mengucapkan selamat tinggal ke Sica. Sica masih berada dalam posisi membeku, hanya bisa mengangguk-angguk pelan. Dengan memegang tangan Gisel, aku melangkah keluar rumah sakit.</p>
<p>Selama perjalanan hingga masuk ke dalam rumah, Gisel menghujaniku dengan pertanyaan “kakak suka kakak cantik ya?” hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk kamarku dan menguncinya dari dalam. Tidak kuhiraukan ketukan Gisel, bahkan untuk menawarkan makan malam. Aku memutuskan untuk tidur, melupakan apa yang telah terjadi, dan gagal total, karena aku tetap terpikirkan perkataanku kemarin.</p>
<p>Lalu aku ingat, tidak ada satupun di kelas yang tahu kejadian kemarin. Tentu tidak mungkin Sica sudah kembali masuk ke sekolah, mengingat kemarin kondisinya masih payah. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, aku melihat ada makanan kemarin malam. Karena kemarin aku tidak makan seharian, aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.</p>
<p>***</p>
<p>Begitu aku memasuki kelas, terlihat semua temanku memancarkan aura sendu karena bangku Kenji masih terlihat kosong. Padahal, biasanya Kenji selalu menjadi yang pertama datang. Kenji memang berharga buat kami. Bagi kami dia adalah dinamo kelas kami, penggerak mesin berpikir kelas kami. Kata-katanya selalu menyihir kami agar terus dan terus berjuang meraih nilai dan prestasi tertinggi. Karena itu tidaklah salah jika kami mengalami kehilangan yang sangat besar.</p>
<p>“Hai Le, sudah kamu temukan petunjuk tentang Kenji?” kata Pierre tiba-tiba. Padahal selama ini dia terkenal tidak mempedulikan hal lain selain gawainya. Ternyata dia bisa juga peduli dengan kawannya.</p>
<p>“Belum Pierre, aku sudah berusaha mencari informasi ke agen koran tempat Kenji bekerja. Mereka juga tidak tahu dimana ia sekarang.”</p>
<p>“Padahal baru satu hari tak berjumpa, namun rasanya seperti satu tahun.”gumam Andra dan Andrea bersamaan. Seperti biasa, mereka selalu berkata dengan menggunakan majas hiperbola.</p>
<p>Kuperhatikan wajah seluruh kelas, semua memasang raut muka yang sama, raut muka kebingungan, raut muka kehilangan. Aku memutuskan untuk duduk di tempatku agar tidak dapat melihat pemandangan tersebut.</p>
<p>“Bung, berarti aku harus ke rumah Sarah siang nanti.” Andra memohon restu ke kepala suku.</p>
<p>“Silahkan Andra, kita sudah membuat kesepakatan.”</p>
<p>Lalu hening kembali datang kembali.</p>
<p>“Wah wah, baru sehari aku tidak masuk, kenapa satu kelas menjadi begitu murung?” terdengar sebuah suara dari arah pintu. Suara yang sangat kukenal, tak salah lagi, ini suara Kenji! Secara spontan kami langsung menghampiri Kenji dan berebutan untuk memeluknya (maksudku hanya anak laki-laki, perempuan hanya berani melihat, tak berani memeluk). Dia terlihat senang sekali menerima perlakuan seperti itu dari teman-temannya. Namun ia segera meminta untuk dilepaskan dari pelukan-pelukan itu.</p>
<p>“Maaf maaf, bukannya aku menolak untuk di peluk kalian, tapi lihatlah, badanku penuh dengan luka.” Kata Kenji memohon.</p>
<p>Aku baru menyadari hal tersebut, begitu pula dengan teman-teman lain. Mukanya memar, bekas terkena pukulan. Di tangan kanannya terdapat perban yang mengelilinginya. Raut ceria kami berangsur-angsur menjadi kecemasan. Semua terdiam karena telat menyadari hal ini. Melihat semua terdiam, Kenji mulai membuka mulut.</p>
<p>“Waktu kejadian Sica pingsan, aku keluar sekolah sebentar untuk mencari bantuan, namun sayang aku ditabrak sepeda motor dari arah belakang. Begitu menabrak diriku, pengemudinya langsung kabur dan memacu kendaraannya cepat sekali, meninggalkan aku begitu saja dengan luka-luka ini. Untung waktu itu ada Sarah, dan dia langsung membawaku ke rumah sakit.”</p>
<p>“SARAH??!!”teriak kami semua tak percaya akan omongan Kenji barusan. Mungkin kami salah dengar.</p>
<p>“Iya, Sarah teman kita. Itu anaknya.” kata Kenji sambil menunjuk ke arah pintu. Dengan wajah dinaungi ketakutan, ia memberanikan diri untuk memasuki kelas.</p>
<p>“Aaa . . assalamualaikum.”gumamnya tergagap. Tak ada satupun dari kami yang menjawab salamnya, entah karena masih merasa kesal akan sikapnya atau karena kaget melihat dia mengucap salam kepada kami semua. Hanya Kenji yang bisa menjawab salamnya. Lalu dengan cepat Kenji merespon keheranan kami dengan berkata, “Hei kalian ini kenapa semua? Ada orang memberi salam kok tidak dijawab, cepat dijawab.”</p>
<p>“Wa . . wa`alaikum salam.”jawab kami tak kalah gagap dari Sarah.</p>
<p>***</p>
<p>Suasana kelas hari ini begitu aneh, kaku dan dingin. <em>Awkward. </em>Meskipun Kenji berusaha mencairkan suasana kelas, namun tetap saja kami semua tetap merasa ada yang aneh di kelas ini. Apa lagi kalau bukan karena Sarah. Kelakuannya tadi pagi dibandingkan kemarin berbeda lima ratus delapan puluh derajat, karena jauh jauh jauh berbeda. Mulai dari ucapannya, meskipun hanya satu kata, kemudian sikapnya yang tiba-tiba menjadi santun, sampai acara berdiam diri di kelas. Padahal biasanya dia sering bersuara keras untuk mendapatkan perhatian. Tipe orang seperti ini adalah tipe orang yang paling kubenci. Itulah salah satu alasanku, bahkan kami, tidak menyukainya.</p>
<p>Kejutan Sarah belum berakhir. Setelah Pak Atmaji, guru kesenian keluar kelas, dengan segera ia berdiri di depan kelas dan mulai mengatakan sesuatu.</p>
<p>“Maaf teman-teman, saya minta waktunya sebentar.” telingaku berdiri mendengarkan Sarah mengatakan ‘saya’ bukan ‘gue’.</p>
<p>“Ada apa?” tanya Andra dan Andrea bersamaan dengan nada agak tinggi.</p>
<p>“Sa . . saya mau meminta maaf untuk perilaku saya selama ini. Saya sadar kalau saya salah, dan saya berjanji akan mengubah sikap saya ini. Sekali lagi saya minta maaf.” Sarah mengakhiri diplomasinya dengan menundukkan badannya hingga sembilan peluh derajat.</p>
<p>Semua anak terperangah melihat kejadian yang langka ini. Tidak ada satu pun anak yang menanggapi permintaan maafnya, apalagi Sica masih dirawat dirumah sakit. Sarah masih belum bangkit dari posisi menduduknya, tapi entah mengapa hati kami tidak tergerak sama sekali. Melihat situasi seperti ini, Kenji mengambil inisiatif untuk berdiri dan menemani Sarah.</p>
<p>“Teman-teman, aku percaya bahwa semua agama mengajarkan untuk saling memaafkan apabila kita melakukan kesalahan. Sarah telah menyadari apa yang dilakukannya selama ini salah, dan ia berjanji akan berubah. Aku mohon teman-teman bisa memaafkan Sarah.”</p>
<p>Kami tetap terdiam, walaupun Kenji yang bersuara. Mungkin beberapa dari kami mulai merasa kasihan melihat Sarah yang menunduk terus menerus. Aku yang begitu benci dengan perempuan satu ini pun merasa iba, karena aku bisa merasakan aura bersalah yang sangat besar dari dirinya. Tetap saja, aku belum bisa memaafkannya secepat ini.</p>
<p>“Sarah juga akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dengan Sica. Ia berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakit. Karena itu, aku mohon maafkan lah Sarah.”</p>
<p>Kali ini Kenji turut menundukkan tubuhnya. Beberapa terlihat sudah akan bersuara, namun tidak ada satupun yang mulai mengeluarkan suara. Biasanya Sica lah yang mengusai keadaan seperti ini, namun karena ia tidak ada di kelas, tidak ada yang berinisiatif untuk bersuara terlebih dahulu.</p>
<p>“Kalau kalian tidak memaafkan aku tidak apa-apa,” Sarah melanjutkan permintaan maafnya, ”tapi aku mohon biarkan aku tetap berada di kelas ini, biarkan aku membayar semua kesalahanku selama ini. Aku tidak mempersalahkan kalian tidak menganggap aku ada, tapi aku mohon diberi kesempatan.”</p>
<p>Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sarah terduduk di lantai dan menangis dengan terisak. Akhirnya, Ve yang duduknya di belakang Kenji, berdiri dan menghampiri Sarah, lalu memeluknya. Satu per satu, teman-teman perempuan ikut maju menghampiri Sarah. Semua saling berpelukan dalam suasana haru. Sekilas aku bisa melihat untuk pertama kali Sarah tersenyum.</p>
<p>Sayangnya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang ganjil. Aku merasa cerita Kenji tadi terlalu dibuat-buat, seperti ada yang ditutup-tutupi. Aku melirik kearahnya, aneh, ia tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan apa yang telah diraihnya? Tampaknya aku harus menginterogasi Kenji untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.</p>
<p>***</p>
<p>“Sudah kubilang tadi pagi kan Le? Aku habis kecelakaan, dan Sarah monolongku. Apa ada yang kurang jelas?” jawab Kenji begitu aku menginterogasinya di rumahnya sendiri.</p>
<p>“Aku merasa ada yang aneh Kenji, tak bisa kupercaya sepenuhnya omonganmu. Pasti kau dianiaya Sarah, iya kan?” kataku terus menginterogasi Kenji.</p>
<p>“Astaga, kamu ini memang luar biasa keras kepala. Beri aku satu bukti bahwa aku telah mendapat siksaan dari Kenji.” jawabnya tenang.</p>
<p>Aku memang tidak memiliki bukti apa-apa tentang pendapatku ini. Hanya perasaan, dan perasaan itu dengan keras menolak jawaban Kenji. Aku berusaha berpikir keras untuk mendapatkan bukti. Kupejamkan mata, dan mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang ada sangkut pautnya dengan ini. Sayangnya, tidak ketemukan satupun kejadian yang bisa membuktikan Kenji berbohong.</p>
<p>“Aku tidak bohong Le.” kini justru matanya berputar-putar. Dari reaksinya sudah jelas, dia telah berbohong. Aku kecewa berat, dan segera berdiri dari tempat dudukku.</p>
<p>“Sudahlah jika kau memang tak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku paling benci dengan seorang pembohong. Selamat sore.” aku segera berjalan mendekati pintu, namun tangan Kenji menahan tanganku agar aku tak pergi.</p>
<p>“Baiklah Le, aku akan bercerita yang sebenarnya. Aku memang tak pandai berbohong, jadi wajar kamu menyadari kebohonganku. Duduklah dan aku akan ceritakan semua dengan sejujur-jujurnya, asalkan kamu tidak menceritakannya kepada yang lain.”</p>
<p>“Aku janji.”</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/">Chapter 36 Senyum Sarah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
