Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya

“Sewaktu Sica pingsan, aku langsung mengarahkan penglihatanku ke Sarah untuk melihat bagaimana responnya, toh ada kalian yang pasti akan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Sica. Terlihat sekali, kejadian ini sama sekali tidak diprediksi olehnya. Ia untuk pertama kalinya menunjukkan wajah aslinya, bukan dengan segala topeng kesombongannya itu.” Kenji membuka ceritanya.

“Topeng?” tanyaku karena kurang mengerti maksud dari perkataan Kenji.

“Iya Le, aku tahu predikat angkuh yang selama ini melekat pada Sarah hanyalah topeng yang digunakan untuk menutupi sesuatu. Aku merasa, ada suatu keadaan yang membuatnya harus memakai topeng tersebut.”

“Lalu bagaimana setelah itu?”

“Ketika kalian mulai berlarian ke arah Sica, meskipun kamu hanya mematung melihat Sica, aku juga tetap diam di tempatku, menunggu reaksi Sarah. Setelah melepas topengnya itu, ia segera balik badan, berusaha untuk lari dari kenyataan. Aku pun membuntutinya tanpa suara. Ia langsung keluar sekolah, menelepon seseorang, dan menanti dengan di gerbang dengan penuh kewaspadaan. Entah karena keberuntungan atau apa, waktu itu tidak ada penjaga sekolah yang stand by di gerbang.

“Sekitar 15 menit kemudian, setelah aku melihat Sica sudah digotong menuju UKS oleh kalian, ada seseorang dengan motor balap yang terlihat mahal. Tanpa banyak cakap, mereka langsung pergi meninggalkan area sekolah. Tidak ingin kehilangan momen, aku memanggil ojek yang mangkal di dekat sekolah, dan menyuruhnya untuk mengejar Sarah. Tak apalah aku pakai sedikit uang tabunganku untuk menyelesaikan permasalahan ini.”

“Kau membawa uang tabunganmu ke  sekolah?” tanyaku keheranan.

“Lebih tepatnya aku selalu membawa uang berlebih, untuk jaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi.”

“Silahkan lanjutkan ceritamu.”

“Maka dengan gaya seperti Valentino Rossi, tukang ojekku berhasil membuntuti mereka tanpa ketahuan hingga sampai di kawasan sebuah rumah mewah yang lumayan jauh dari sekolah. Sempat dihentikan oleh penjaga, aku berhasil lolos dengan mengatakan bahwa aku adalah teman satu kelompok dengan Sarah dan kami ada kerja kelompok dirumahnya. Maka sampailah aku di rumah Sarah, sebuah bangunan minimalis tingkat dua yang pasti harganya mencapai miliaran. Setelah membayar biaya ojek yang lumayan, aku ketuk pagar rumahnya yang tinggi menjulang itu.

“Ketukanku disambut seorang asisten rumah tangga. Aku bilang kepadanya, aku adalah teman Sarah, dan kami ada kerja kelompok. Ia meminta aku untuk menunggu sebentar. Selang lima menit, ia mengatakan nona Sarah sedang tidak bisa diganggu. Aku sudah terlanjur melangkah sejauh ini, tentu pantang untuk menyerah. Akhirnya aku menggunakan teknik pemaksaan untuk masuk ke dalam rumah Sarah. Toh pagarnya tidak terkunci, sehingga aku hanya perlu menggeser pagar tersebut.

“Asisten itu berusaha untuk menahan-nahan diriku, dan aku pun segera memerankan orang yang suka mencari keributan. Aku berharap dengan keributan, Sarah akan keluar dari rumahnya. Benar saja, mendengar ramainya suasana di luar, Sarah keluar diiringi pacarnya yang tinggi tegap itu.

“ ‘Mau ngapain loe? Mau gue hajar loe?’ Sarah berusaha memasang kembali topengnya, namun sayang, topeng itu sudah terlanjur rusak untuk dikenakan kembali.

“ ‘Sarah, berdamailah dengan Sica, kamu lihat sendiri ia sudah melaksanakan hukumannya hingga jatuh pingsan.’pintaku dengan sedikit mengiba, berharap dia akan terpengaruh.

“ ‘Apaan? Gue gak peduli sama cewek kampung itu! Mau dia pingsan mau dia mati juga bukan urusan gue. Gue gak sudi lagi sekolah di tempat jelek kayak gitu. Gue mau pindah!’ jerit Sarah yang sejujurnya memekakkan telingaku.

“ ‘Ayolah Sarah, kamu sudah menjalani masa MOS yang menyusahkan, kamu sudah hampir satu semester belajar di kelas ini, apa kamu tidak sayang membuang semua usahamu selama ini?’

“ ‘Gue bisa masuk mana aja, terserah gue, duit gue banyak! Bahkan kalau perlu sekolah ini yang gue beli biar kalian semua di DO!’

“ ‘Ayolah Sarah, pikirkanlah . . .’pembicaraan kami terhenti ketika pacarnya itu mendaratkan bogem mentah ke wajahku tanpa aba-aba sedikitpun. Mungkin ia kesal denganku yang telah membuat pacarnya sedikit histeris.

“ ‘Banyak cincong ya kamu, dasar cebol sipit. Pacarku ini gak akan minta maaf sama kalian. Kalian aja yang enggak level sama dia.’ ia berkata dengan lantangnya, hingga ludahnya menyembur ke wajahku. Aku tidak merespon karena masih menahan sakit atas pukulan yang telah ia daratkan ke pipiku.

“ ‘Ay, pukulin dia, dia udah nyakitin gue, please hajar dia.’ katanya sembari menunjuk-nunjuk diriku.

“ ‘Mau dihajar sampai gimana ay? Sampai mampus?’

Sarah memandangku sesaat, aku dapat melihat walau hanya sekilas sebenarnya Sarah merasa kasihan kepadaku. Aku memikirkan teman-teman satu kelas, kita tidak akan pernah bisa tenang jika Sarah tetap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Sarah sadar akan kesalahannya. Jadi kuberanikan diri lalu berkata, ‘Sarah, jika dengan menghajarku sampai puas bisa membuatmu berdamai kami, aku rela.’

“Tanpa menunggu persetujuan Sarah, pacarnya mengangkat kerahku dan memberiku kepalan tinju ke arah wajahku. Aku jatuh tersungkur, kurasakan pahit di mulutku. Baru dua pukulan dan aku sudah merasa pusing, bagaimana jika ia meneruskan pukulannya? Tapi aku berasumsi, dengan melihat aku terluka, aku akan dapat meluluhkan hati Sarah, dan aku akan bisa mengajaknya berbicara secara baik-baik. Memang ini seperti berjudi dengan jumlah taruhan yang besar, namun aku yakin dengan prediksiku.

“Maka aku beranikan diri untuk bangkit dan memasang kuda-kuda untuk berkelahi, meskipun aku belum pernah berkelahi. Hasilnya, tanpa banyak basa basi ia layangkan lagi kepalan tangannya yang hampir dua kali ukuran tanganku, kali ini ke arah perut. Kembali aku terjatuh, dan aku sudah mulai merasa kehilangan kesadaran, mataku berkunang-kunang. Belum selesai, ia menambahkan tendangan ke arah perutku. Akhirnya aku menjarit kesakitan, karena tak tahan sakitnya. Aku memegangi perutku, penglihatanku mulai kabur, tapi masih bisa kulihat dia berusaha menerjang aku seakan dirinya adalah badak bercula satu. Dia mendaratkan banyak pukulan ke tubuhku hingga aku tak bisa merasakan sakitnya lagi. Aku merasa hari ini adalah hari kematianku, sampai aku mendengar suara Sarah.

“ ‘Udah ay, hentikan!’

“ ‘Lho gimana sih ay, katanya disuruh mukulin sampai dia mampus?’ dia berhenti memukulku dan beralih pandangan ke Sarah.

“ ‘Kalau gue bilang berhenti ya berhenti! Udah loe pulang sana, gue mau tidur!’

“ ‘Terus dia?’kata laki-laki itu dengan meletakkan kakinya di kepalaku.

“‘Gue yang urus, sekarang loe pulang!’ Sarah mendorong pacarnya untuk menyingkir dariku.

“Sang pacar sebenarnya enggan untuk berhenti memukuli diriku. Tapi melihat Sarah yang bersikeras seperti itu, akhirnya ia mengalah dan menuruti perkataan Sarah. Aku sempat melihat ia mengenakan helm dan menaiki motornya. Setelah itu aku tak sadarkan diri.”

Kenji berhenti sejenak, lalu menghirup teh manis yag ia buat tadi. Bahkan aku yang hanya mendengarkan ceritanya ikut merasakan dahaganya, sehingga aku juga mengambil teh manis bagianku.

“Ah, aku terlalu lama bercerita, hingga teh ini menjadi tidak begitu panas. Seandainya masih panas, pasti sudah menyegarkan pikiranku.” gumamnya terkekeh sendiri.

“Jika kau lelah, kau bisa beristirahat dulu. Aku akan menunggumu atau jika kau ingin melanjutkannya besok, aku akan pulang.”

“Tidak Le, tidak perlu. Aku akan menyelesaikannya hari ini juga.”

“Silahkan lanjutkan kalau begitu.”

“Begitu aku tersadar, aku sudah terbaring di ranjang. Aku lihat sekelilingku, ternyata aku sudah berada di rumah sakit, dan aku berada di kamar yang disediakan hanya untuk satu pasien. Aku mencoba bangun sekuatku untuk menengok jam dinding, ternyata sudah jam dua belas malam lebih. Terlihat olehku Sarah sedang tertidur di sofa. Ingin aku bangkit dari tempatku berbaring, namun tenagaku ternyata belum terkumpul. Ingin berteriak, tenggorokanku pun terlalu lemah untuk mengeluarkan suara. Merasa tak berdaya, aku memutuskan untuk kembali tergeletak di atas ranjangku. Ternyata gerakan-gerakanku membangunkan Sarah. Dia mengucek kedua matanya dan menghampiriku.

” ‘Kamu sudah sadar Kenji?’ katanya ramah, berbeda seperti biasanya. Aku pun sempat terkejut sewaktu mendengar Sarah menggunakan kamu, bukan loe seperti biasanya.

“ ‘Ya, kenapa aku bisa di rumah sakit?’

“ ‘Pacarku tadi agak keterlaluan menghajarmu, jadi aku takut kamu kenapa-napa.’

“ ‘Bukannya kamu yang menyuruhnya untuk mukulin aku ya?’ aku tetap tersenyum seperti biasanya waktu mengatakan ini.

“ ‘Iya memang, tapi itu karena aku sedang emosi, aku . . aku . . .’dia tak bisa melanjutkan kata-katanya, tapi aku tahu apa yang ingin dikatakannya.

“ ‘Aku minta maaf Sarah.’ aku mendahului Sarah agar dia lebih relaks untuk meminta maaf.

“ ‘Ha . . harusnya aku yang minta maaf Kenji. Aku sudah membuat Sica…’ ia tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya. Sudah terlihat air mata hendak tumpah, pasrah ditarik gravitasi.

“ ‘Sica pasti baik-baik saja kok. Mungkin sekarang sudah di rawat di rumah sakit, setelah penanganan dokter, ia akan kembali sehat seperti semula.’

“Ia terdiam sesaat mendengar aku berusaha menghiburnya. Dengan tarikan nafas panjang, ia berkata padaku.

“ ‘Kenapa kamu sampai rela seperti itu demi teman-temanmu? Mengapa kamu sangat peduli terhadapku disaat yang lain begitu acuh terhadapku?’

“ ‘Karena tinggal mereka yang kupunya. Aku tidak memiliki keluarga, jadi semua teman satu kelas aku anggap sebagai saudara. Termasuk kamu Sarah.’ “

Mendengar Kenji berkata seperti itu, tubuhku bergetar. Pasti Sarah juga merasakan hal ini. Sungguh baik anak ini, belum pernah aku bertemu anak sebaik dan setulus dia seumur hidupku.

“Kamu kenapa Le? Apa sudah bosan mendengar ceritaku?” tanya Kenji yang membuatku berhenti bergetar.

“Ti . . tidak. Silahkan lanjutkan ceritamu yang sungguh menakjubkan.”

“Baiklah. Begitu aku berkata seperti itu, Sarah langsung berlutut di atas lantai, dan mulai menangis. Butuh beberapa kali aku melontarkan pertanyaan hingga ia jawab sambil terisak keras.

“ ‘Ha . . harusnya aku malu kepadamu Kenji, aku juga memiliki keluarga tapi sama saja dengan tidak punya. Mereka selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka sehingga lupa memberikan perhatian kepadaku. Mereka memberiku banyak uang, tapi untuk apa? Awalnya aku sangat senang, namun lama kelamaan aku merasa muak. Uang hanya memberikan kebahagiaan semu, yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan yang sesungguhnya.’

“ ‘Lalu kenapa kamu menjadi sombong?’

“ ‘Aku ingin mendapat perhatian, sesuatu yang tidak aku dapatkan dari orangtuaku. Aku berperan sebagai tokoh antagonis agar aku mendapatkannya, meskipun perhatian yang mereka berikan adalah perhatian karena membenciku, membenci sikap sombongku. Namun itu lebih baik daripada tidak diberi perhatian sama sekali.’ tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku sampai kewalahan menghadapinya.

“ ‘Kenapa kau memilih peran antagonis daripada protagonis?’

“ ‘Karena sebelumnya aku telah berusaha menjadi anak baik, namun tidak ada yang memperhatikan diriku. Tidak ada orang yang memperhatikan orang yang biasa-biasa saja. Akhirnya aku memilih menjadi anak sombong, anak yang suka bersuara keras agar mendapatkan perhatian.’

“ ‘Sarah, kamu sudah memilih jalan yang salah. Namun belum terlambat untuk berubah. Percaya padaku, kamu justru akan mendapatkan perhatian lebih banyak jika kau menjadi pribadi yang santun. Guru-guru akan mengingatmu sebagai murid yang sopan. Teman-temanmu akan mengingatmu sebagai kawan yang hangat. Aku sudah membuktikannya, dan berhasil. Bangunlah Sarah, aku janji aku akan membantumu untuk berubah. Kamu lihat kan aku berhasil mengubah Leon, jadi aku yakin aku bisa membantumu untuk berubah juga.’

“ ‘Sarah bangkit dari lantainya, dan memegang tanganku yang terbalut perban. Tangan satunya mengusap air matanya, dan berusaha agar terlihat tegar.

“ ‘Bantu aku ya Kenji, agar aku bisa dianggap saudara oleh teman satu kelas.’ ujarnya sambil tersenyum manis.

“Selama dua hari satu malam aku berada di rumah sakit tersebut. Sebenarnya aku ingin segera sekolah, namun Sarah mengatakan bahwa kondisiku belum baik.

“ ‘Kenapa kamu tidak masuk Sarah?’

“ ‘Aku tidak berani masuk tanpamu. Aku belum punya nyali untuk memasuki kelas setelah kejadian kemarin.’

“ ‘Aku mengerti Sarah, tapi besok masuk ya. Tidak enak kalau ketinggalan pelajaran di kelas.’

“Begitulah kejadian yang sebenarnya kawanku Leon. Jika ada yang masih tidak kamu percaya silahkan katakan.”gumam Kenji mengakhiri ceritanya.

“Tidak Kenji, aku percaya, aku dapat melihat kedua matamu berkata jujur sejujurnya.”

“Hei, yang berkata mulutku, bukan mataku.” ujar Kenji di akhiri dengan tawa yang keras.

“Ungkapan Kenji, hanya ungkapan. Bukankah kau sendiri suka menggunakan ungkapan untuk mengatakan sesuatu?” kataku kesal mendengar tawanya yang bernada mencela.

“Iya iya, aku tahu Le. Tetap pegang janjimu, jangan ceritakan hal ini kepada orang lain,” dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan pelan, “termasuk Sica.”

Aku hanya bisa mengangguk mendengar berakhirnya cerita yang susah untuk dipercaya ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.