<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>candu Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/candu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/candu/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Oct 2021 10:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>candu Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/candu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dilema (Media) Sosial Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2020 01:56:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[algoritma]]></category>
		<category><![CDATA[candu]]></category>
		<category><![CDATA[generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4073</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa adiktifnya media sosial sekarang. Semua platform seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan. Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan scrolling tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat. Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">adiktifnya media sosial</a></strong> sekarang. Semua <em>platform </em>seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan.</p>
<p>Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat.</p>
<p>Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media sosial juga membuat kita bisa terkoneksi dengan teman maupun keluarga kita.</p>
<p>Media sosial menjadi salah jika sudah berubah menjadi <strong>candu yang membuat kita tidak tahu harus melakukan apa</strong> ketika ponsel tidak sedang berada di jangkauan kita.</p>
<h3>Hipnotis Media Sosial</h3>
<div id="attachment_4078" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4078" class="size-large wp-image-4078" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4078" class="wp-caption-text">Seolah Menghipnotis (<a href="https://www.theverge.com/2018/5/8/17321006/push-notifications-whyd-you-push-that-button-episode">The Verge</a>)</p></div>
<p>Ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah</a>, </em>Penulis jadi memiliki pemikiran kalau salah satu alasan mengapa mayoritas generasi sekarang cenderung apatis dan kurang kritis adalah karena kurang banyak membaca sejarah.</p>
<p>Penulis pun mendiskusikannya dengan seorang kawan (sebut saja Pentol). Ia memiliki pendapat lain. Menurutnya, itu lebih dikarenakan <strong>dampak media sosial</strong>.</p>
<p>Jika kita perhatikan, sekarang ada banyak sekali hal sepele yang bisa menjadi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"><em>trending </em>dan viral dengan begitu cepatnya.</a> Kita seolah mudah untuk terbawa apa yang sedang ramai dibicarakan.</p>
<p>Menurutnya lagi, kita ini seolah sedang <strong>dihipnotis dan jadi mudah digiring oleh sesuatu</strong>. Apa yang dulu tidak kita sukai, bisa jadi kita sukai sekarang.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah aplikasi TikTok. Dulu aplikasi ini dihujat dan dianggap sebagai aplikasi <em>goblok</em>. Sekarang? Hampir semua orang mengunduhnya bahkan membuat konten di dalamnya.</p>
<p>Terdengar seperti teori konspirasi? Bisa jadi. Tapi fenomena ini ada dan kita patut waspada.</p>
<h3>Algoritma Candu</h3>
<div id="attachment_4079" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4079" class="size-large wp-image-4079" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4079" class="wp-caption-text">Algoritma Candu (<a href="https://evatronix.com/en/offer/product-design/product-development/algorithm-development-and-analysis"><span class="pM4Snf">Evatronix</span></a>)</p></div>
<p>Kenapa semua <em>platform </em>seolah tahu apa yang kita sukai berdasarkan apa yang kita <em>like</em>? Karena mereka memiliki <strong>algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama</strong> di depan layar.</p>
<p>Tidak hanya dari rekomendasi yang muncul dari beranda, algoritma ini bisa memunculkan <em>push notification </em>yang membuat kita akan tertarik untuk mengecek ponsel pintar kita.</p>
<p>Algoritma ini dapat mempelajari <em>behaviour </em>dan kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial untuk memberikan rekomendasi terbaik untuk kita. Hasilnya? Terdapat gudang data yang bisa saja disalahgunakan.</p>
<p>Tidak percaya? Tengok saja <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">skandal </a><em><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">Cambridge Analytica</a> </em>yang menyeret Facebook ke ranah hukum. Mereka dianggap terlibat penjualan data demi pemenangan Donald Trump di pemilihan presiden Amerika Serikat.</p>
<p>Teori kami berdua ini terbukti ketika Penulis menonton sebuah film dokumenter yang berjudul <em><strong>The Social Dilemma</strong>. </em>Di sana, ada banyak kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatan media sosial yang khawatir akan ciptaannya sendiri.</p>
<h3>Kita Ini Produk</h3>
<div id="attachment_4080" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4080" class="size-large wp-image-4080" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4080" class="wp-caption-text">Kita Ini Dijual! (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Priscilla Du Preez</a>)</p></div>
<p>Ketika menggunakan layanan-layanan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, ataupun YouTube, apakah kita mengeluarkan uang untuk menggunakannya? Tentu tidak.</p>
<p>Jika kita tidak mengeluarkan uang untuk suatu produk, artinya <strong>kitalah produknya!</strong></p>
<p>Kenyataan yang cukup mengerikan ini Penulis ketahui setelah menonton <em>The Social Dilemma</em>. Secara tidak sadar, kita telah dijadikan komoditas oleh layanan-layanan yang kita gunakan setiap hari.</p>
<p>Bagaimana caranya? Penulis telah menyinggung bahwa ada penjualan data kita ke pihak ketiga. Dijual ke siapa? Ke <strong>pihak pengiklan yang ingin memasarkan produknya</strong>.</p>
<p>Kenapa membutuhkan data kita? Yang namanya pengiklan tentu ingin <strong><em>audience </em>yang tepat sasaran</strong>. Melalui algoritma yang dimiliki, layanan-layanan tersebut bisa tahu siapa yang cocok untuk melihat iklan tertentu.</p>
<p>Apakah hal tersebut tidak melanggar privasi? Tidak, semua tercantum di <em>Terms &amp; Condition </em>yang biasanya kita abaikan begitu saja. Kita telah menyetujui kalau aktivitas kita akan direkam demi kebutuhan mereka.</p>
<p>Kita sudah masuk ke dalam bagian dari model bisnis raksasa ini. Semakin lama kita menggunakan media sosial, <strong>semakin banyak uang yang akan mengalir</strong> ke korporat-korporat besar tersebut.</p>
<p>Mungkin kita tidak terlalu peduli jika dijadikan sebagai produk karena merasa tidak dirugikan apa-apa. Hanya saja, ada permasalahan yang jauh lebih berbahaya, di mana generasi muda yang menjadi sasarannya.</p>
<h3>Generasi Rapuh</h3>
<div id="attachment_4081" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4081" class="size-large wp-image-4081" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4081" class="wp-caption-text">Generasi Rapuh (<a href="https://pngio.com/PNG/a130702-teenage-girl-crying-png.html"><span class="pM4Snf">PNGio.com</span></a>)</p></div>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation </em>karya Rhenald Khasali, generasi muda sekarang adalah <em>generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati</em>.</p>
<p>Di film <em>The Social Dilemma</em>, Generasi Z (lahir di atas tahun 1996) dianggap sebagai <em>generasi yang lebih mudah cemas, rapuh, dan tertekan</em>. Bisa dilihat ada persamaan pendapat, generasi sekarang adalah <strong>generasi yang rapuh</strong>.</p>
<p>Apa penyebabnya? Salah satunya adalah karena kehadiran media sosial. Penulis mungkin baru aktif menggunakan media sosial ketika kuliah. Mereka? Rata-rata mulai SMP, bahkan ada yang SD.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan sepulang sekolah? Istirahat sambil cek media sosial. Apa yang mereka lakukan sebelum tidur? Main media sosial. Apa yang mereka cek pertama kali ketika bangun? Media sosial.</p>
<p>Rutinitas ini membuat menjadi bukti kalau <strong>media sosial sudah menjadi candu </strong>untuk mereka. Algoritma yang dirancang oleh layanan-layanan tersebut ternyata berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.</p>
<p>Penulis melihat fenomena ini secara langsung karena dekat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Tarunanya</a>. Jika ditanya apa yang mereka akan lakukan tanpa ponsel pintarnya, mereka akan kebingungan menjawabnya.</p>
<p>Tak jarang media sosial membuat <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mereka menjadi </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>dan melalaikan aktivitas lainnya. Tak jarang yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyatanya.</p>
<p>Jika mau percaya teori konspirasi, ada sebuah <em>grand system </em>yang ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang apatis, egosentris, dan kurang kritis agar <strong>mereka mudah dikendalikan</strong> sesuai keinginan pihak tertentu.</p>
<p>Jika mereka telah mudah dikendalikan, maka bisa terjadi sesuatu yang tak kalah seram.</p>
<h3>Polarisasi Masyarakat</h3>
<div id="attachment_4082" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4082" class="size-large wp-image-4082" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4082" class="wp-caption-text">Berpotensi Konflik (<a href="https://apnews.com/d8a49c7c8eb345a7b39110a766798218">AP News</a>)</p></div>
<p>Penelitian menunjukkan semenjak media sosial menjamur dan diminati oleh hampir semua orang, <strong><a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> meningkat pesat</strong>. Contohnya adalah pemilihan presiden 2019 kemarin, bisa dilihat dua kubu saling adu mulut dan jari, bahkan secara kurang sehat.</p>
<p>Dengan menggunakan algortima candu yang dimiliki, kita akan terus melihat apa yang kita sukai. Jika kita menjadi pendukung Semar, maka berita maupun <em>feed </em>yang muncul akan terus berputar di sekitar Semar.</p>
<p>Tak jarang pula kita akan melihat <em>feed</em> yang mengolok-olok lawan dari Semar, sebut saja Togog. Akhirnya, kita akan menjadi fanatik ke Semar dan menjadi <em>haters</em>-nya Togog.</p>
<p>Contoh lain terkait Corona. Ada polarisasi di sini, antara yang percaya dan yang tidak. Mereka saling merasa paling benar dan menertawakan kubu lain.</p>
<p>Di dalam film <em>The Social Dilemma</em>, salah satu narasumber mengatakan bahwa kekhawatirannya terbesar dari adanya algoritma ini adalah <em>civil war</em>. <strong>Perang saudara</strong>.</p>
<p>Dramatisasi? Bisa jadi, tapi kemungkinan itu ada. Lihat saja bagaimana seringnya netizen yang beda kubu beradu argumen yang kurang bermanfaat. Bukan tidak mungkin pertikaian tersebut berujung kekerasan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukan ingin merasa sok suci seolah tak kecanduan media sosial. Penulis pun masih sering seperti itu. Sudah sering Penulis menceritakan bagaimana dirinya merasa kecanduan ponsel hingga akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">memutuskan untuk <em>detox</em> media sosial</a>.</p>
<p>Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan ini. Yang ekstrem, hapus aplikasi. Yang lebih ringan, batasi penggunaan, matikan notifikasi dan sistem rekomendasi, jauhkan ponsel pintar ketika hendak tidur maupun akan melakukan aktivitas lain.</p>
<p>Kalau enggak main media sosial, terus kita ngapain? Memang harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian kita, entah baca buku, kumpul dengan teman, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kita harus menyadari kalau media sosial hanyalah alat yang membantu kita untuk terhubung dengan orang lain, menampilkan karya kita, ataupun mendapatkan informasi.</p>
<p>Jangan sampai terbalik, <strong>kita yang digunakan oleh media sosial sebagai sapi perah di dalam sistem bisnis raksasa mereka</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 September 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dan menonton <em>The Social Dillema</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@coolmilo?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">camilo jimenez</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/social-media?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.netflix.com/title/81254224"><em>The Social Dilemma</em></a>, <a href="https://mojok.co/terminal/film-the-social-dilemma-nihil-solusi-dan-melahirkan-ketakutan-belaka/">Mojok 1</a>, <a href="https://mojok.co/terminal/balasan-untuk-artikel-film-the-social-dilemma-yang-katanya-nihil-solusi/">Mojok 2</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Feb 2020 04:34:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[candu]]></category>
		<category><![CDATA[HP]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan]]></category>
		<category><![CDATA[ketergantungan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang kita lakukan ketika akan tidur? Apa yang pertama kita lakukan ketika bangun tidur? Apa yang kita lakukan ketika sedang berjalan ke sebuah tempat? Apa yang kita lakukan ketika merasa bosan? Apa yang kita lakukan ketika sedang berkumpul dengan teman? Jawabannya mungkin akan sama: bermain smartphone. Entah mengencek pesan yang masuk, melihat linimasa media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kita lakukan ketika akan tidur? Apa yang pertama kita lakukan ketika bangun tidur? Apa yang kita lakukan ketika sedang berjalan ke sebuah tempat? Apa yang kita lakukan ketika merasa bosan? Apa yang kita lakukan ketika sedang berkumpul dengan teman?</p>
<p>Jawabannya mungkin akan sama: <strong>bermain smartphone</strong>. Entah mengencek pesan yang masuk, melihat linimasa media sosial terbaru, melihat video YouTube yang menarik, bermain game, dan masih banyak aktivitas lainnya.</p>
<p>Smartphone memang hadir dengan tujuan untuk memudahkan kita melakukan berbagai aktivitas. Berbagai aplikasi dan fitur yang ada di dalamnya sangat canggih dan mudah digunakan.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-1/">Konsep iPhone</a> adalah membawa PC mereka (Mac) ke dalam genggaman penggunanya, sehingga pekerjaan yang dulunya hanya bisa dilakukan di komputer bisa dilakukan melalui ponsel. Merek lain pun memiliki konsep serupa.</p>
<p>Efek sampingnya, kita menjadi memiliki semacam ketergantungan kepadanya. Rasanya kita akan takut terlewatkan sesuatu jika sejenak saja tidak memeriksa smartphone.</p>
<h3 style="text-align: left;">Melepaskan Cengkeraman Smartphone</h3>
<p>Penulis sudah menulis topik tentang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">istirahat dari media sosial</a> beberapa kali di blog ini. Alasannya bukan karena prihatin melihat orang lain kecanduan, melainkan karena dirinya sendiri termasuk orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk <em>scrolling </em>medsos tanpa batas.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis banyak mengunduh aplikasi yang membantu <em>detox </em>seperti <strong>Quality Time</strong> ataupun <strong>Forest</strong>. Kedua aplikasi tersebut sangat membantu Penulis mengurangi ketergantungan.</p>
<div id="attachment_3520" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3520" class="size-large wp-image-3520" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3520" class="wp-caption-text">Aplikasi Quality Time (<a href="https://www.qualitytimeapp.com/">QualityTime</a>)</p></div>
<p>Hanya saja, ternyata bukan media sosial saja yang membuat kita betah berlama-lama di depan layar smartphone. Ada saja yang menarik untuk dilirik, mulai dari aplikasi belanja online, <em>chat</em>, hingga <em>browser</em>.</p>
<p>Artinya, tidak cukup untuk sekadar mengurangi waktu bermain media sosial. Ada banyak aktivitas lain yang bisa mengganggu fokus kita dan tanpa disadari beberapa jam telah terlewati.</p>
<p>Kita harus benar-benar berusaha melepaskan diri dari cengkeraman smarpthone yang terlalu menjerat. Jadikan smartphone sebagai alat komplementer, bukan bagian vital dari kehidupan.</p>
<p>Sebenarnya wajar jika kita bermain smartphone sambil rebahan setelah pulang sekolah ataupun kerja. Badan yang lelah karena digunakan seharian tentu membutuhkan istirahat, dan smartphone terlihat sebagai teman yang cocok untuk itu.</p>
<p>Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan juga tidak baik untuk berbagai alasan. Alasan kesehatan, terutama mata, menjadi salah satunya. Bahkan pengaruhnya bisa sampai memengaruhi kemampuan otak, terutama daya fokus.</p>
<p>Belum lagi kalau kita menggunakannya untuk melihat media sosial, lantas membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan kita. Mau tidak mau, hal tersebut akan menumbuhkan perasaan <em>insecure</em>.</p>
<h3>Membiarkan Rasa Bosan Mengalir</h3>
<p>Salah satu alasan terkuat mengapa kita begitu doyan di depan layar smartphone adalah karena tidak memiliki aktivitas lain. Ada juga alasan karena takut merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa.</p>
<div id="attachment_3521" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3521" class="size-large wp-image-3521" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3521" class="wp-caption-text">Rasa Bosan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiDt7O-p-TnAhWQ6nMBHYVICtUQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F164944405090031459%2F&amp;psig=AOvVaw3p0qhcWU1xehFagvQ_aiVP&amp;ust=1582431670407494" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiDt7O-p-TnAhWQ6nMBHYVICtUQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pinterest</span></a>)</p></div>
<p>Jawaban dari alasan yang pertama mungkin jelas, mencari aktivitas lain. Contohnya, Penulis menghabiskan waktu untuk menulis blog, menyelesaikan novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a>, ataupun membaca buku.</p>
<p>Yang lain mungkin akan memilih untuk berolahraga, membersihkan rumah, menghadiri pengajian, belajar hal baru, dan lain sebagainya. Semua orang pasti memiliki caranya masing-masing.</p>
<p>Bagaimana dengan alasan yang kedua? Dari buku Desi Anwar berjudul <em><strong>Going Offline</strong> </em>yang sedang Penulis baca, apa yang harus dilakukan ketika tidak melakukan apa-apa adalah menikmati momen tersebut</p>
<p>Mungkin awalnya kita akan merasa bosan, namun perlahan otak akan menemukan sesuatu untuk kita pikirkan atau renungkan. Di dalam diam, otak akan mengembara untuk mencari topik yang mampu menghindarkan kita dari kebosanan.</p>
<p>Ketika sedang banyak pikiran, Penulis kadang akan berjalan kaki untuk menjernihkan pikiran tersebut. Penulis meninggalkan smartphone di kamar kos begitu saja agar tidak ada distraksi.</p>
<p>Dengan demikian, Penulis bisa fokus ke diri sendiri dan permasalahan yang sedang dihadapi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika kecil, Penulis membaca komik biografi Thomas Alva Edison. Pada salah satu adegan, ada yang bertanya mengapa ia hanya tidur sebentar (rata-rata 4 jam sehari). Jawaban Edison kurang lebih seperti ini:</p>
<blockquote><p>Hidup ini singkat, jadi harus diisi dengan sebanyak mungkin hal yang bermanfaat</p></blockquote>
<p>Kalimat ini mungkin menempel di alam bawah sadar, sehingga Penulis berusaha memiliki waktu produktif sebanyak mungkin (walaupun waktu tidur Penulis dalam sehari masih 8 jam bahkan lebih).</p>
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis berhasil mengurangi penggunaan smartphone di bawah lima jam setiap harinya. Hanya akhir pekan yang biasanya melebihi angka tersebut.</p>
<p>Untuk mencapai hal tersebut, Penulis sampai menghapus YouTube karena merasa aplikasi tersebut sudah menyita banyak sekali waktu Penulis. Beberapa game juga menyusul kemudian.</p>
<p>Nah, di tengah-tengah kebingungan mau ngapain ketika tidak memegang HP, Penulis pun melakukan aktivitas menulis ataupun membaca. Sebagai hadiahnya, akan muncul perasaan senang karena telah memanfaatkan waktu dengan baik.</p>
<p>Kalau sudah menemuan kenikmatan hidup tanpa smartphone, niscaya hidup kita akan menjadi lebih damai dan tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Februari 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri dan buku karya Desi Anwar yang berjudul <em>Going Offline</em></p>
<p>Foto: <a href="https://clickonenglish.blogspot.com/2017/10/addicted-to-mobile.html">English Grammar</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/">Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
