<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Desi Anwar Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/desi-anwar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/desi-anwar/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Nov 2024 11:45:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Desi Anwar Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/desi-anwar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2024 11:45:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan Desi Anwar, yakni Hidup Sederhana, Going Offline, dan Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna. Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan <strong>Desi Anwar</strong>, yakni <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a></em>. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna.</p>



<p>Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul <em><strong>The Book of Everyday Things</strong></em>.</p>



<p>Saat membaca sekilas isinya, Penulis merasa sedikit terkejut karena buku ini membahas <em>literally </em>hal-hal remeh yang sering kita abaikan begitu saja karena telah menjadi bagian dari hidup kita sejak lama. Ternyata, ada banyak sudut menarik dari benda-benda tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah-banner.jpg 1280w " alt="Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Book of Everyday Things</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Book of Everyday Things</em></li>



<li>Penulis: Desi Anwar</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 300 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020675923</li>



<li>Harga: Rp149.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>Buku, bantal, sepatu, bolpoin, jam tangan, mainan, uang, dan sikat gigi… Ini adalah berbagai benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya begitu biasa sehingga kita menerimanya begitu saja, seolah-olah semua benda itu sudah menjadi bagian hidup kita.</em> <em>Pada kenyataannya, kemampuan untuk membuat benda mungkin adalah cara kita mendefinisikan spesies kita dan membuat kita berbeda dari makhluk hidup lainnya. </em></p>



<p><em>Coba tengok keadaan di sekitar kita perhatikan jumlah benda yang ada di sekeliling yang terus bertimbun sepanjang hidup kita. Seorang manusia mungkin mengawali hidupnya hanya dengan tarikan napas pertama, kemudian tidak membawa apa-apa ke dalam kuburnya selain yang dihiaskan orang lain pada jasadnya yang sudah tak bernyawa.</em> <em>Padahal, selama hidupnya, dia bergantung pada berbagai benda, bukan hanya untuk memungkinkannya berfungsi, melainkan juga agar memiliki identitas dan tujuan: Berbagai benda dan barang yang diciptakan dan diproduksi oleh sesama manusia yang dapat digunakan untuk mengendalikan serta memanipulasi lingkungannya dan menentukan takdirnya. Berbagai barang yang mengisi tidak hanya ruang yang ditempatinya, tetapi juga yang pada akhirnya mengacaukan dan menyesakkan seluruh Bumi, yang sekaligus menyisakan semakin sedikit ruang bagi makhluk hidup lainnya untuk berkembang.</em></p>



<p><em>The Book of Everyday Things adalah pengingat bahwa terlepas dari kemampuan spesies kita untuk menaklukkan alam dan menciptakan aneka benda menakjubkan untuk membuat hidup kita lebih nyaman, obsesi kita untuk memproduksi dan mengonsumsi beragam benda mungkin justru membuat kita makin tidak memahami tujuan sebenarnya keberadaan kita. Bahwa mungkin kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada berbagai benda buatan manusia, tetapi juga menghargai apa yang diberikan alam kepada kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini dibagi menjadi beberapa bab dengan judul benda atau sesuatu yang menemani keseharian kita. Total, ada 30 bab yang awalnya bagi Penulis tak akan menarik untuk dibahas, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Buku</li>



<li>Bantal</li>



<li>Roti</li>



<li>Surat</li>



<li>Pernak-pernik</li>



<li>Teh</li>



<li>Uang</li>



<li>Kucing</li>



<li>Keluarga</li>



<li>Sepatu</li>



<li>Jam Tangan</li>



<li>Foto</li>



<li>Televisi</li>



<li>Sabun</li>



<li>Mainan</li>



<li>Alat Tulis</li>



<li>Mimpi</li>



<li>Sekolah</li>



<li>Ingatan</li>



<li>Seni</li>



<li>Bendera</li>



<li>Kematian</li>



<li>Topeng</li>



<li>Sikat Gigi</li>



<li>Rumah</li>



<li>Kekuatan Adikodrati</li>



<li>Gula</li>



<li>Cahaya</li>



<li>Informasi</li>



<li>Limbah</li>
</ol>



<p>Setiap babnya memiliki ketebalan yang bervariasi, tapi tidak ada yang terlalu memonopoli karena cukup seimbang. Dengan ketebalan hingga 300 halaman, setiap bab kurang lebih memiliki 10 halaman.</p>



<p>Mungkin banyak yang kebingungan, apa menariknya membahas bantal? Penulis juga sempat berpikir seperti itu. Namun, setelah membaca, ternyata ada banyak sekali hal menarik yang bisa dibahas dari sebuah bantal.</p>



<p>Di setiap babnya, Desi Anwar menggunakan dua pendekatan, yakni bagaimana pengalaman pribadinya terhadap benda tersebut dan menyisipkan sejarah penggunaan benda tersebut dalam peradaban manusia.</p>



<p>Mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">penggemar sejarah</a>, tentu mengetahui bagaimana sebuah benda yang kerap diabaikan begitu saja memiliki sejarah yang panjang menjadi hal yang sangat menarik. </p>



<p>Kita kadang meremehkan benda-benda ini karena sudah terlalu biasa dengan keberadaannya tanpa pernah bertanya bagaimana benda ini bisa hadir di dunia dan memudahkan kehidupan kita. Ujungnya, hal ini akan membantu kita merasa bersyukur dengan keberadaannya.</p>



<p>Tiga puluh benda (atau hal) yang ada di dalam buku ini tidak terkait satu sama lain, sehingga Pembaca bisa membacanya lompat-lompat tergantung benda mana yang paling membuat penasaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>The Book of Everyday Things </em>menjadi bukti bahwa ide itu bisa datang dari mana saja. Siapa yang bisa menyangka kalau bantal bisa menjadi sepuluh halaman tulisan? Jelas buku ini menjadi inspirasi Penulis dalam mengisi blognya, terutama ketika sedang buntu ide.</p>



<p>Untuk gaya kepenulisan, rasanya tak perlu meragukan kemampuan Desi Anwar. Dijamin, walau benda yang dibahas terkesan remeh, pembahasan yang disajikan tetap menarik dan tidak membuat bosan. Buktinya, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga dipenuhi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dengan nuansa oranye. Hal ini memang menambah daya tarik buku ini, tapi sekaligus membuat harganya menjadi lebih mahal, yakni Rp149.000.</p>



<p>Ada satu hal yang kurang sreg buat Penulis. Buku ini berjudul <em>The Book of Everyday Things</em>, di mana <em>things </em>diterjemahkan sebagai &#8220;benda.&#8221; Namun, beberapa bab di buku ini justru membahas hal yang tidak bisa dianggap sebagai benda.</p>



<p>Kucing dan keluarga jelas kurang cocok untuk dianggap sebagai benda, karena mereka makhluk hidup. Mimpi dan kematian lebih cocok dianggap sebagai peristiwa. Bahkan cahaya dan informasi pun bukan sesuatu yang <em>tangible</em>.</p>



<p>Mungkin Desi Anwar memiliki alasan dan penerjemahan sendiri mengapa memasukkan hal-hal tersebut ke dalam buku ini, sehingga Penulis juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, Penulis merasa masih ada benda-benda lain yang layak untuk dibahas olehnya.</p>



<p>Secara keseluruhan, Penulis merasa buku ini adalah bacaan santai yang membuat kita mendapatkan banyak <em>insight </em>menarik sekaligus mengajak kita merenungi keberadaan benda-benda yang ada di keseharian kita. </p>



<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang mudah merasa penasaran dengan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan orang lain. Buku ini akan sangat cocok untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 27 November 2024, terinspirasi setelah membaca <em>The Book of Everyday Things </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 01:21:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6125</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari Desi Anwar yang berjudul The Art of Solitude. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga. Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari <strong>Desi Anwar</strong> yang berjudul <em><strong>The Art of Solitude</strong></em>. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga.</p>



<p>Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul <em><strong>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</strong>.</em> Setelah ditimbang-timbang, Penulis pun memutuskan untuk membeli yang bahasa Indonesia saja.</p>



<p>Sama seperti buku-buku Desi Anwar yang lain seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, buku ini juga cukup tipis sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Bedanya, buku yang satu ini akan berisi pemikiran Desi selama masa pandemi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</em></li><li>Penulis: Desi Anwar</li><li>Penerbit: Penerbit Gramedia</li><li>Cetakan: Ketiga</li><li>Tanggal Terbit: September 2021</li><li>Tebal: 221 halaman</li><li>ISBN: 9786020648330</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam pendahuluannya, Desi telah menyebutkan kalau buku ini terinspirasi di masa-masa ketika kita harus menjalani <em>lockdown</em>, karantina mandiri, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">PPKM</a>, dan lain sebagainya. Interaksi antarmanusia benar-benar dibatasi karena adanya virus COVID-19.</p>



<p>Dengan begitu, banyak pemikirannya di buku ini yang mengambil sudut pandang ketika kita dipaksa sendirian oleh keadaan. Apa yang ada di pikiran kita di masa-masa ini? Apa yang bisa dipelajari dengan situasi yang ada?</p>



<p>Dari banyaknya tulisan yang ada di buku ini, kebanyakan akan berfokus pada bagaimana pandemi kemarin akan membuat kita memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Selama ini, mungkin saja kita sering mengabaikannya karena berbagai kesibukan kita.</p>



<p>Pandemi kemarin juga mengajak kita untuk lebih mengenal diri sendiri, entah itu dari melamun, merenung, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">menikmati kebosanan</a>, dan lain sebagainya. Jika mau lihat &#8220;<em>silver lining</em>&#8221; dari pandemi kemarin, mungkin itu adalah salah satunya.</p>



<p>Seperti buku-buku Desi lainnya, setiap bab di buku ini juga hanya terdiri dari 4-5 halaman saja. Ada sekitar 40 topik yang bisa dibaca. Sayangnya, karena Penulis sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, Penulis lupa mana yang jadi favoritnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</h2>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert </em>dan suka menyendiri, buku ini cukup <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Memang tidak semua topiknya seperti itu, tetapi buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca di kala senggang. </p>



<p>Penulis juga mengalami sendiri bagaimana masa pandemi kemarin membawa Penulis untuk mengenal dirinya sendiri. Karena tidak bisa ke mana-mana (walau pada dasarnya Penulis jarang keluar), Penulis jadi lebih sering merenung saat tidak ada aktivitas.</p>



<p>Topik yang dibawakan oleh Desi Anwar di buku ini juga cukup luas. Tidak hanya ajakan untuk memanfaatkan kesendirian di saat pandemi untuk lebih mengenal diri sendiri, ada juga topik yang serius seperti kematian dan masa depan manusia.</p>



<p>Beberapa topik juga terkesan bertele-tele dan terlalu diulur-ulur seolah itu dilakukan demi menambah jumlah halaman agar buku ini tidak terlalu tipis. Itu membuat buku ini terasa agak membosankan. Penulis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menamatkannya.</p>



<p>Namun, <em>overall</em>, buku ini masih oke untuk dibaca, terutama untuk orang-orang yang ingin lebih mengenal diri sendiri. Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, cobalah cari waktu untuk diri sendiri agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 November 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Going Offline</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Feb 2020 09:45:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Going Offline]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[offline]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak membaca tulisan Desi Anwar dalam buku Hidup Sederhana, Penulis jadi penasaran dengan buku-buku lainnya. Penulis merasa cocok dengan gaya penuturannya yang terasa gurih. Oleh karena itu sewaktu mengetahui ia akan menerbitkan buku berjudul Going Offline, Penulis segera memasukkannya ke dalam wishlist. Apalagi, subjudulnya yang berbunyi Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi begitu menggoda. Hasilnya, Penulis sangat menikmati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Setelah Membaca Going Offline</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak membaca tulisan Desi Anwar dalam buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/"><strong><em>Hidup Sederhana</em></strong></a>, Penulis jadi penasaran dengan buku-buku lainnya. Penulis merasa cocok dengan gaya penuturannya yang terasa gurih.</p>
<p>Oleh karena itu sewaktu mengetahui ia akan menerbitkan buku berjudul <strong><em>Going Offline</em></strong>, Penulis segera memasukkannya ke dalam <em>wishlist</em>. Apalagi, subjudulnya yang berbunyi <em>Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi </em>begitu menggoda.</p>
<p>Hasilnya, Penulis sangat menikmati buku yang satu ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini berusaha mengajak kita untuk menjadi <em>offline </em>alias jauh dari segala hingar-bingar teknologi. Jangan sampai kita menjadi kehilangan makna kehidupan hanya karena mendapatkan distraksi di dunia maya.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi dua bagian, yakni <em>Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan </em>serta <em>Seni Kehidupan</em>. Masing-masing bagian memiliki beberapa subbagian yang terdiri dari beberapa lembar halaman.</p>
<p>Jujur, Penulis sendiri tidak terlalu paham perbedaan isi dari kedua bagian tersebut karena bagi Penulis isinya kurang lebih sama. Tidak ada perbedaan yang mencolok. Mungkin Penulis saja yang kurang bisa menangkapnya.</p>
<p>Subbagian-subbagian yang ada di dalamnya kerap berkaitan dengan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><em>smartphone </em>yang ada di genggaman kita hampir sepanjang waktu</a>. Perlu diakui kalau barang tersebut memang menjadi salah satu sumber distraksi terbesar dalam kehidupan.</p>
<p>Memang benar kalau <em>smartphone</em> telah membuat kehidupan kita menjadi lebih mudah. Hanya saja, tak jarang hal tersebut membuat kita memiliki ketergantungan kepadanya hingga merasa tidak bisa lepas darinya.</p>
<p>Di sini, Desi mengajak kita untuk meletakkan <em>smartphone </em>sejenak dan mencoba untuk lebih menghayati kehidupan kita sendiri. Dengan mengurangi penggunaan, kita bisa meningkatkan kemampuan mendengarkan, mengapresiasi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ada beberapa bab yang tidak ada hubungannya dengan teknologi sehingga Penulis merasa lebih cocok jika dimasukkan ke dalam buku <em>Hidup Sederhana</em>. Terlepas dari itu, buku ini sangat enak untuk dinikmati.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Going Offline</em></h3>
<p>Diet digital dan berusaha memaksimalkan waktu untuk hal produktif sedang Penulis jalankan di kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya, Penulis masih sering <em>scrolling </em>media sosial terlalu lama ataupun menonton video YouTube yang kurang penting.</p>
<p>Membaca buku-buku seperti ini menjadi semacam pengingat untuk meletakkan <em>smartphone </em>sejenak dan melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">menulis blog</a> ataupun <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">membaca buku</a>.</p>
<p>Isinya sendiri akan banyak mengajak kita untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Topik yang diangkat relatif sederhana, namun kerap kita abaikan dalam keseharian.</p>
<p>Desi menuangkan beberapa tulisan pendek dengan gaya bahasa yang lugas dan kerap mengangkat pengalamannya sendiri. Walaupun ia besar di luar negeri, bukan berarti kita tidak bisa <em>related </em>dengan secuil kisah yang dialami olehnya.</p>
<p>Buku ini juga termasuk bacaan yang ringan dan akan cocok untuk menjadi teman perjalanan. Direkomendasikan untuk pembaca yang merasa kecanduan dengan <em>smartphone </em>dan memiliki itikad untuk mengurangi penggunaannya.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.3/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Going Offline </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Setelah Membaca Going Offline</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Hidup Sederhana</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2020 10:37:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[HIdup Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena ingin hidup lebih santuy tanpa memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan, Penulis memutuskan untuk membeli beberapa buku yang bertemakan self-caring pada tahun 2019 kemarin. Salah satunya adalah Hidup Sederhana yang ditulis oleh Desi Anwar. Isinya merupakan kumpulan dari pikiran atau renungan dari sang penulis buku ini yang berusaha mengajak pembacanya lebih menikmati hidup ini. Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Setelah Membaca Hidup Sederhana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena ingin hidup lebih <i>santuy </i>tanpa memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan, Penulis memutuskan untuk membeli beberapa buku yang bertemakan <em>self-caring </em>pada tahun 2019 kemarin.</p>
<p>Salah satunya adalah <em><strong>Hidup Sederhana</strong> </em>yang ditulis oleh Desi Anwar. Isinya merupakan kumpulan dari pikiran atau renungan dari sang penulis buku ini yang berusaha mengajak pembacanya lebih menikmati hidup ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Seandainya tulisan di blog <em>Whathefan</em> dijadikan sebuah buku, mungkin akan terlihat seperti buku ini. Seperti yang sudah disinggung di atas, buku ini terdiri dari tulisan-tulisan Desi yang setiap bagiannya hanya terdiri dari 3 hingga 4 halaman saja.</p>
<p>Oleh karena itu, buku ini cocok untuk dijadikan teman perjalanan. Apalagi, buku ini termasuk tipis sehingga mudah untuk dibawa ke mana-mana.</p>
<p>Isinya sendiri cukup bervariasi berdasarkan pengalaman, kenangan masa kecil, hingga pandangan hidup dari sang penulis. Banyak yang <em>related </em>dengan kehidupan kita.</p>
<p>Kebanyakan tulisan yang ada di buku ini akan membuat kita merenungi kehidupan ini secara lebih mendalam dan terdorong untuk hidup lebih produktif namun tidak secara berlebihan.</p>
<p>Kita akan diajak untuk lebih menikmati hal-hal kecil yang sering kali kita abaikan karena dianggap biasa. Contohnya adalah menikmati waktu ketika bisa <em>rebahan </em>di akhir pekan setelah berkecimpung dengan rutinitas.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Hidup Sederhana</em></h3>
<p>Kalau tidak salah, Desi Anwar merupakan seorang wartawan senior yang memiliki acara di televisi swasta. Tak heran jika tulisannya enak dan renyah untuk dibaca.</p>
<p>Aura positif benar-benar berusaha dipancarkan oleh buku ini, namun tidak berlebihan seperti kebanyakan motivator ataupun agen MLM yang kadang terlalu <em>ngotot</em>.</p>
<p>Untuk buku yang tebalnya tak seberapa, buku ini cukup mahal. Untungnya, Penulis mendapatkan diskon hingga 25% ketika membeli buku ini. Sebelumnya, buku ini sudah pernah rilis dengan edisi yang dilengkapi dengan foto sehingga harganya lebih mahal.</p>
<p>Beberapa bagian dari buku ini mungkin akan terasa cukup membosankan, kurang dalam, dan terlalu umum. Ibaratnya, tanpa membaca di buku ini pun kita sudah mengetahuinya.</p>
<p>Dari yang Penulis baca dari buku ini, nampaknya Desi lahir dari keluarga menengah ke atas. Oleh karena itu, mungkin ada beberapa bagian yang mungkin akan membuat para SJW berpendapat Desi adalah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">tipe orang yang tak sadar memiliki </a><em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">privilege</a>.</em></p>
<p>Walaupun begitu, buku ini berhasil membuat Penulis ingin berusaha untuk menikmati hari ini secara lebih layak daripada memikirkan masa depan atau teringat masa lalu secara berlebihan yang hanya menambah beban.</p>
<p>Buku ini termasuk ringan dan mudah dicerna, sehingga Penulis rekomendasikan untuk segala kalangan usia. Yang jelas, buku ini cocok untuk orang-orang yang mudah <em>overthinked </em>seperti Penulis.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hidup Sederhana </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Setelah Membaca Hidup Sederhana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
