<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>detektif Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/detektif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/detektif/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Aug 2026 15:56:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>detektif Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/detektif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 15:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Conan]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8793</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora. Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/">Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik <em><strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball Super</a></strong></em> dan <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/"><em><strong>Naruto Bind Up Edition</strong></em></a>, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain <em>Dragon Ball </em>dan <em>Naruto</em>, Penulis juga besar dengan komik <strong><em>Detektif Conan</em></strong>. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1.jpg 1280w " alt="Tentang Novel Leon dan Kenji Buku 1" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">Tentang Novel Leon dan Kenji Buku 1</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8797" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Komik Detektif Conan Premium Vol. 21 (<a href="https://www.gramedia.com/products/detektif-conan-premium-21">Gramedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sama seperti <em>Naruto</em>, Penulis juga &#8220;lompat&#8221; dalam membaca cerita-cerita<em> Detektif Conan</em>. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah <strong>Volume 41</strong>, di mana <em>case </em>pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk <strong>Volume 42</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik <em>Detektif Conan Premium</em>, Penulis pun memutuskan untuk membeli<strong> Volume 21</strong> karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi <em>Detektif Conan Premium </em>telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik <em>Detektif Conan</em> <em>Premium</em>, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik <em>Conan</em> edisi <em>Selection</em>. Kebetulan, waktu itu <strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/ai-haibara-adalah-karakter-favorit-saya-di-detective-conan/">Ai Haibara</a></strong> sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul <em>Selection </em>lain yang Penulis miliki.</p>



<ol class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, meskipun sudah membeli seri <em>Selection</em>, dorongan untuk membeli <em>Detektif Conan Premium </em>masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8796" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Vermouth (<a href="https://detectiveconan96.fandom.com/wiki/Vermouth">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu <em>memorable </em>bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, <strong>Jodie Starling</strong>, dan <strong>Vermouth</strong>, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat <em>arc </em>ini menjadi favorit Penulis hingga kini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, <em>Detektif Conan </em>telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal</li>



<li>Motif pembunuhan yang &#8220;gitu doang?&#8221;</li>



<li><em>Timeline </em>yang tidak jelas seolah tidak maju-maju</li>



<li>Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai <em>smartphone </em>(dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)</li>



<li>Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai <em>Detektif Conan</em>, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya &#8220;maju dan mundur&#8221; secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai &#8220;perburuan&#8221; harta karun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni <em><strong>Naruto</strong></em>, <em><strong>Detektif Conan</strong></em>, <em><strong>Spy x Family</strong></em>, <em><strong>Dragon Ball Super</strong></em>, dan <em><strong>Dragon Ball Ultimate Edition</strong></em>. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik <em>Detektif Conan</em>-nya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/">Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 15:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh. Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">Teka-Teki Rumah Aneh</a></em>, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru <strong>Uketsu</strong>. Kali ini, judulnya adalah <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>memang lebih gila dari <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SPOILER ALERT!!!</mark></strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/poorgirlbullied-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/poorgirlbullied-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/poorgirlbullied-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/poorgirlbullied-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/poorgirlbullied-banner.jpg 1280w " alt="Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teka-Teki Gambar Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2026 </li>



<li>Tebal: 312 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020687209</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai &#8220;gambar&#8221; juga, tapi ini <em>literally </em>gambar berbagai macam hal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melansir dari sinopsis resminya, ada <strong>gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet</strong>, <strong>gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu</strong>, dan<strong> gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin</li>



<li>Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion</li>



<li>Gambar Terakhir Guru Seni Rupa</li>



<li>Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi <em>spoiler</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter <strong>Sasaki</strong> dan <strong>Kurihara</strong> (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok <em>occult</em>. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama <strong>&#8220;Catatan Hati Nanashino Ren&#8221;</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di <a href="https://nanashinoren.blog.jp/"><strong>https://nanashinoren.blog.jp/</strong></a></mark></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu di cerita kedua, <em>angle</em>-nya bergeser ke seorang anak bernama <strong>Yuta</strong> yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama <strong>Miura</strong>. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini.<strong> <em>Plot twist </em>yang dimiliki benar-benar mengejutkan </strong>dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki <em>twist-</em>nya sendiri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya <strong>berpusat pada satu karakter</strong>, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya <em>tip of the iceberg</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Pace </em>cerita di sini pun cukup cepat</strong>, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bersyukur bahwa <strong>konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme</strong>, seperti yang Penulis temukan di <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang <em>mindblowing</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan <em>plot hole </em>atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, justru <strong>motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis</strong>. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus <em>overprotective</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>9/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 14:24:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Hercule Poirot]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sherlock Holmes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8693</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini. Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/">Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama</a>, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, belakangan ini, Penulis melakukan <em>re-read </em>cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel <em>The Big Four</em> (<em>Empat Besar</em>), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner.jpg 1280w " alt="Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8696" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Hercule Poirot dalam Sebuah Adaptasi The Big Four (<a href="https://greatoldmovies.blogspot.com/2014/07/the-big-four.html">GREAT OLD MOVIES</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, <em><strong>The Big Four </strong></em>adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di novel ini, <strong>Hercule Poirot </strong>adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, <strong>Arthur Hastings</strong> (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus &#8220;mini&#8221; di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti &#8220;menyindir&#8221; metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Manusia berlagak seperti anjing pemburu</li>



<li>Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat</li>



<li>Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;<em>Teratur, bermetode, ditambah dengan &#8216;sel-sel kecil kelabu&#8217;. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,</em>&#8221; ungkap Poirot di novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, <em>The Big Four </em>adalah novel Hercule Poirot yang paling &#8220;Sherlock Holmes&#8221; menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan &#8220;kurang gerak&#8221;, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8697" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Novel The Tokyo Zodiac Murders (<a href="https://www.gramedia.com/products/pembunuhan-zodiak-tokyo-the-tokyo-zodiac-murders">Gramedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Serangan&#8221; Poirot kepada Holmes di novel <em>The Big Four </em>masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata <strong>Kazumi Ishioma</strong>, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, <strong>Kiyoshi Mitarai</strong>, seorang astrolog sekaligus detektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah &#8220;pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus &#8220;Lilitan Bintik-Bintik&#8221; dari buku <em>The Adventure of Sherlock Holmes</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis. </p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat <em>memorable</em> dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">cerita-cerita detektif dari penulis Jepang</a> (termasuk <em>The Tokyo Zodiac Murders</em>), Sherlock akan selalu di hati.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama &#8220;mengolok-olok&#8221; metode Sherlock Holmes</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/">Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kemenangan-perdana-awkward-bagi-oscar-piastri-di-f1-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kemenangan-perdana-awkward-bagi-oscar-piastri-di-f1-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kemenangan-perdana-awkward-bagi-oscar-piastri-di-f1-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kemenangan-perdana-awkward-bagi-oscar-piastri-di-f1-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/kemenangan-perdana-awkward-bagi-oscar-piastri-di-f1-banner.jpg 1200w " alt="Kemenangan Perdana yang Awkward Bagi Oscar Piastri di Formula 1" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kemenangan-perdana-yang-awkward-bagi-oscar-piastri-di-formula-1/">Kemenangan Perdana yang Awkward Bagi Oscar Piastri di Formula 1</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 14:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;. Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya sudah sejak lama novel <em><strong>Teka-Teki Rumah Aneh</strong></em> karya <strong>Uketsu</strong> mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">novel-novel detektif Keigo Higashino</a> yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/icwsa4gvnlunxoyqkg3d-300x169.png" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/icwsa4gvnlunxoyqkg3d-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/icwsa4gvnlunxoyqkg3d-768x433.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/icwsa4gvnlunxoyqkg3d-356x201.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/icwsa4gvnlunxoyqkg3d.png 800w " alt="Sering Dibully Karena Jomblo? Tangkis Dengan Jurus Berikut" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/sering-dibully-karena-jomblo-tangkis-dengan-jurus-berikut/">Sering Dibully Karena Jomblo? Tangkis Dengan Jurus Berikut</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Teka-Teki Rumah Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020669960</li>



<li>Harga: Rp79.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama<strong> seorang penulis</strong> (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis <em>occult </em>alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep &#8220;rumah aneh&#8221; langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama <strong>Kurihara-san</strong>, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga  membuat <em>pace </em>novel ini terasa cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau <strong>denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak <em>spoiler</em> yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi,<strong> <em>spoiler alert</em>!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">novel-novel Keigo</a>, Penulis sudah membaca semua novel <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Agatha Christie</a> dan Sherlock Holmes. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, &#8220;rumah anehnya&#8221; bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau<strong> ini adalah sebuah pola tertentu</strong>, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah <strong>bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya</strong>. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa <em>pace </em>cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan &#8220;horor&#8221; hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang <strong>memiliki hubungan dengan okultisme</strong>. Keluarga pembunuh yang terjebak &#8220;ritual&#8221; memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata &#8220;orang pintar&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena <strong>misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang</strong>, bukan karena disusun secara cerdik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih <strong>memberikan <em>open ending </em>kepada Pembaca </strong>terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!</p>



<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>7/10</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada &#8220;sekuel&#8221; novel ini dengan judul <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong></em>. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2025 16:59:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8372</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya. Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan The Devotion [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">The Devotion of Mr. X</a> </em>karya <strong>Keigo Higashino</strong>, wajar jika Penulis membeli novelnya yang lain. Pilihan Penulis jatuh ke buku <em><strong>A Midsummer&#8217;s Equation </strong></em>atau <em><strong>Rumus Kebenaran Musim Panas</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan Penulis membeli novel ini adalah karena masih termasuk ke dalam Seri Detektif Galileo. Selain itu, adanya tema kelestarian alam juga menjadi alasan lainnya. Sayangnya, Penulis tidak mendapatkan kepuasan seperti dua novel Keigo sebelumnya.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner.jpg 1200w " alt="Dua Drama di Dua Pertandingan Euro 2024 yang Membosankan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/dua-drama-di-dua-pertandingan-euro-2024-yang-membosankan/">Dua Drama di Dua Pertandingan Euro 2024 yang Membosankan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>A Midsummer&#8217;s Equation (Rumus Kebenaran Musim Panas</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2023</li>



<li>Tebal: 440 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020674858</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dalam kunjungannya ke Harigaura untuk menghadiri diskusi rencana proyek penggalian sumber daya bawah laut, Profesor Yukawa Manabu menyaksikan panasnya perdebatan di antara warga lokal. Sementara sebagian pihak mendukung rencana itu demi menghidupkan kembali perekonomian, pihak lain mati-matian menentang karena ingin menjaga kelestarian alam. </em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Namun, bukan hanya proyek tersebut yang meresahkan kota itu. Keesokan paginya, salah satu tamu penginapan yang ditempati Yukawa ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Saat diketahui sang korban merupakan mantan polisi Tokyo dan tewas keracunan karbon monoksida, timbul kecurigaan bahwa ia dibunuh. </em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apa yang dilakukan mantan polisi itu di Harigaura? Apakah ada yang ingin membungkamnya? Kenapa? Sekali lagi, Yukawa mendapati dirinya berada di tengah misteri yang harus dipecahkan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kita kembali mengikuti perjalanan Profesor Yukawa Manabu, yang kali ini pergi ke Harigaura karena di sana sedang ada konflik yang dipicu oleh proyek penggalian sumber daya bawah laut. Mirip dengan situasi di negara kita sendiri, walau di cerita ini tidak ada kekerasan dari aparat (<em>oops</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kita memulai kisah novel ini dari sudut pandang Esaki Kyohei, seorang anak kelas 5 SD yang sedang menuju Harigaura untuk menginap di penginapan milik om dan tantenya. Secara kebetulan, ia satu kereta dengan Yukawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara kebetulan lagi, Yukawa ternyata juga menginap di penginapan milik keluarga Kyohei. Penginapan tersebut terkesan mau bangkrut, karena pariwisata di Harigaura juga mengalami penurunan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya ada satu orang lain yang menginap di sana selain Yukawa, yakni Tsukahara Masatsugu, seorang mantan polisi. Naas, ia ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Namun, hasil otopsi mengatakan ia juga keracunan karbon monoksida, sehingga ada kemungkinan ia dibunuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pihak kepolisian pun berusaha memecahkan kasus tersebut, sedangkan Yukawa justru menjalin hubungan yang unik dengan Kyohei sembari tetap mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Belum lagi masalah penambangan yang jadi alasan Yukawa pergi ke Harigaura.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, siapa ternyata yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut? Tentu tidak akan Penulis ungkap di sini karena di sanalah letak keseruan novel detektif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation<br></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada ulasan novel <em>The Devotion of Suspect X</em>, Penulis sudah mengeluhkan betapa bertele-telenya jalan cerita karena proses penyelidikan kepolisian yang kelewat lengkap dan panjang sekali. Rasanya seperti semua orang yang muncu di benak polisi harus dimintai keterangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, <strong>&#8220;formula&#8221; tersebut diulang lagi di novel ini dengan lebih panjang lagi</strong>. Hal tersebut sempat membuat Penulis berhenti membaca novel ini cukup lama, padahal dua novel sebelumnya bisa Penulis tandaskan dengan cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bahkan tak ingat siapa saja nama karakter yang ada di novel ini karena ada banyak banget, pakai nama Jepang pula.Dari pihak kepolisian saja (yang melibatkan banyak sekali instansi), mungkin ada sekitar 10 nama, belum nama-nama warga Harigaura. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, banyaknya karakter yang ada di novel ini <em>somehow </em>pada akhirnya memiliki benang merahnya masing-masing. Jadi, karakter A ternyata memiliki hubungan dengan karakter B, karena itulah karakter A melakukan hal tersebut. Kurang lebih begitu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, salah satu momen yang menyenangkan untuk dibaca adalah <strong><em>bromance </em>antara Yukawa dan Kyohei</strong>. Yukawa merupakan seorang dosen berotak cerdas, dan ia sering mengajak Kyohei melakukan eksperimen-eksperimen kecil yang menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu nama yang menonjol di sini adalah<strong> Kawahata Narumi</strong>, yang merupakan anak dari pemilik penginapan yang ditinggali oleh Yukawa. Jadi, Narumi masih terhitung saudara sepupu dari Kyohei. Perannya di novel ini cukup menonjol, jadi Penulis menyarankan untuk selalu memperhatikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tema eksploitasi alam yang dihadirkan sebagai premis cerita pun jadi terasa tidak memiliki dampak apa-apa. Awalnya, Penulis mengira kalau kasus pembunuhan yang terjadi memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut. Ternyata, motifnya benar-benar jauh dari sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <em>plot twist </em>yang dihadirkan di akhir cerita pun bukan yang benar-benar membuat tercengang. Memang masih mengejutkan, tapi efeknya tidak sedahsyat <em>The Devotion of Suspect X</em>. Kayak cuma &#8220;oh gitu&#8221; setelah mengetahui pelakunya, walau motifnya sendiri cukup mengejutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ending</em> yang seolah &#8220;melindungi&#8221; pelaku karena alasan tertentu juga sedikit mengganjal bagi Penulis. Mungkin Yukawa melakukannya karena merasa memiliki ikatan khusus dengannya, berbeda dengan Hercule Poirot yang pernah secara tidak langsung menyuruh pembunuhnya membunuh dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau terbilang lambat (bahkan sangat lambat) di paruh pertama novel, tentu saja semakin ke belakang ceritanya semakin membuat penasaran sebagaimana novel misteri pada umumnya. Karena itulah Penulis pada akhirnya bisa menamatkan novel ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah novel ini akan membuat Penulis kapok untuk membeli novel Keigo Higashino yang lain? Entahlah, yang jelas untuk sekarang Penulis memilih untuk membaca novel-novel yang telah dibeli, seperti <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>dari Uketsu misalnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 12 September 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>A Midsummer&#8217;s Equation </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 15:23:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menamatkan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan slice of life. Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan penggemar novel-novel detektif dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setelah menamatkan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan <em>slice of life</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">penggemar novel-novel detektif</a> dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Yang jadi pertanyaan adalah judul mana yang sebaiknya Penulis baca dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah melihat rating di Goodreads, Penulis memutuskan untuk memilih novel berjudul The <em><strong>Devotion of Suspect X </strong></em>atau <em><strong>Kesetiaan Mr. X </strong></em>yang mendapatkan rating 4.2/5. Alhasil, novel ini berhasil membuat Penulis membeli novel Keigo lainnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Timor_Leste-300x219.png" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Timor_Leste-300x219.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Timor_Leste-768x561.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Timor_Leste-349x255.png 349w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Timor_Leste.png 1000w " alt="Sejarah Kecil Timor Leste" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">Sejarah Kecil Timor Leste</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Devotion of Suspect X: Kesetiaan Mr. X</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama </li>



<li>Cetakan: Kedua Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2024</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020330525</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis The Devotion of Suspect X</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Devotion of Suspect X</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seringnya, novel detektif akan membawa kita ke sebuah misteri di mana sosok pelaku masih belum diketahui. Sepanjang cerita, kita akan mengikuti penyelidikan yang dilakukan oleh detektif hingga akhirnya bisa menyimpulkan siapa pelaku pada kasus tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, formula yang berbeda Penulis temukan pada novel ini. Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu siapa yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan dan bagaimana ia mendapatkan bantuan dari tetangganya agar tidak perlu sampai ditangkap oleh polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sana, alur yang dimiliki oleh novel ini sama seperti novel detektif kebanyakan, di mana pihak kepolisian yang buntuk akhirnya akan meminta bantuan orang di luar kepolisian. Di sini, sosok detektifnya adalah Dr. Manabu Yukawa yang merupakan seorang asisten dosen fisika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama seperti Hercule Poirot ataupun Sherlock Holmes, Yukawa juga memiliki metodenya sendiri untuk bisa memecahkan sebuah kasus. Apalagi, kali ini teman kuliahnya yang bernama Ishigami terlibat, sehingga ia memiliki cara pendekatannya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Duel antara Yukawa yang merupakan jenius fisika dan Ishigawa yang merupakan jenius matematika menjadi bagian yang cukup menarik. Pertarungan mereka seperti pertanyaan: mana yang lebih sulit, menulis jawaban sendiri atau mengoreksi jawaban orang lain? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kejeniusan Ishigawa berhasil membuat Yasuko Hanaoka dan putrinya, yang menjadi pelaku pembunuhan mantan suaminya, memiliki alibi sempurna. Semua skenario seolah sudah ia perhitungkan, dan selama Yasuko dan anaknya yang bernama Misato bisa melakukan apa yang perintah, harusnya semua aman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Ishigawa adalah keterlibatan Yukawa di kasus ini. Jika saja Yukawa tidak terlibat, kemungkinan besar semua rencana yang telah ia susun akan berhasil hingga akhir dan pihak kepolisian akan mengalami kebuntuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya <s>tidak akan ikut olimpiade </s>jatuh juga.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak akan terlalu banyak membocorkan cerita dari novel ini, karena nilai plusnya justru di bagian <em>plot twist</em>-nya. Yang jelas, Penulis yang sudah sering membaca novel detektif pun terkecoh hingga bagian akhir.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Belajar dari kesalahan tak bisa menghafal nama-nama Jepang di novel-novel Jepang, Penulis memutuskan untuk memberi otaknya waktu sejenak untuk menghafalkan ini siapa dan perannya apa. Hal tersebut cukup membantu Penulis membedakan karakter-karakter yang ada di novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya Penulis tidak ingin terlalu memberikan bocoran mengenai alur cerita novel ini. Hanya saja, ada beberapa poin yang ingin Penulis ulas yang mengharuskan Penulis sedikit memberikan bocoran. Oleh karena itu, Penulis akan memberikan <em><strong>spoiler alert </strong></em>di sini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Awalnya Kurang Mengesankan, Akhirnya Bikin Terkejut</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca bagian awal novel ini, Penulis merasa kalau alurnya cukup tertebak karena kedalaman ceritanya memang cukup dangkal jika dibandingkan dengan karya Agatha Christie. Apalagi, di pembatas buku tertulis Asianlit, sehingga Penulis merasa wajar jika cerita misterinya dibuat agak ringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Penulis sudah menebak kalau Ishigami pada akhirnya akan menyerahkan diri ke polisi apabila situasinya sudah semakin gawat. Dari awal hingga menjelang akhir, inilah aksi paling bucin dari Ishigami kepada Yasuko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk apa sampai berbuat segitunya demi orang yang tidak terlalu dekat? Bukankah membantu menutupi pembunuhan saja sudah tidak normal? Di bagian akhir nanti akan dijelaskan mengapa Ishigami sampai sebucin dan senekat itu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas jika tertebak, di mana letak <em>plot twist</em>-nya? Jawabannya ada di dua bab terakhir, di mana <em>plot twist-</em>nya adalah tentang sampai sejauh mana Ishigami rela berbuat demi melindungi Yasuko. Penulis benar-benar terkejut ketika membacanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membandingkan Yukawa dengan Poirot dan Holmes</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara tentang sosok Yukawa yang menjadi <em>main detective </em>di novel ini, kesan pertama yang Penulis dapatkan adalah kemampuan deduksi dan analisisnya masih di bawah Poirot dan Holmes. Cara-cara yang ia lakukan dalam menyelesaikan kasus ini bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yukawa memang bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya seperti yang dilakukan Poirot dengan sel-sel kelabu di otaknya, tetapi entah mengapa terasa cukup lamban. Kalau kemampuan deduksi, Holmes jelas masih di atasnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yukawa seolah digambarnya sebagai seorang akademisi yang kebetulan kelewat jenius saja, sehingga bisa melihat apa yang dilewatkan oleh pihak kepolisian. Namun, kemampuan detektifknya bisa dibilang tidak terlalu menonjol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Duelnya dengan Ishigawa sendiri bukan duel ala Holmes vs. Moriaty di mana mereka berusaha saling mengalahkan. Duel mereka &#8220;hanya&#8221; bagaimana Yukawa berusaha membongkar trik yang dilakukan oleh Ishigawa untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Yasuko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang terlalu dini untuk menilai Yukawa karena Penulis baru membaca satu serinya. Penulis jadi tidak sabar untuk membaca seri Detektif Galileo selanjutnya, mungkin penilaian Penulis terhadapnya akan berubah. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Sedikit Kekurangan</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh menuliskan kekurangan dari novel ini, mungkin bagian penyelidikan yang dilakukan oleh Detektif Kusanagi dan lainnya cukup berputar-putar di tempat tanpa ada progres yang berarti, sehingga di beberapa bagian alurnya akan terasa lambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Yasuko menjadi target utama kepolisian karena hubugannya sebagai mantan istri Togashi. Namun, alibi Yasuko dan Misato nyaris sempurna dan pihak kepolisian tidak bisa membuktikan alibi mereka palsu. Inilah yang membuat penyelidikan menjadi berputar-putar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, Yasuko dan Misato berhasil menjalankan semua perintah Ishigawa dengan sempurna, sehingga kepolisian pun jadi yakin atas kesaksian mereka. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, rencana Ishigawa bisa buyar.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, <em>The Devotion of Suspect X </em>merupakan sebuah novel detektif dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menebak-nebak siapa pelakunya, kita justru diberikan suguhan duel antara dua jenius: yang ingin menutupi kejahatan dan yang ingin membongkarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pendekatan yang <em>fresh </em>ini, Penulis jadi merasa membaca sebuah novel yang unik dan cukup berkesan. Konklusi kisahnya pun memuaskan, meskipun terasa getir. Mungkin Keigo memang doyang membuat kisah yang membuat hati pilu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Saat hampir menamatkan novel ini pada hari Kamis (6/6/24) kemarin, Penulis memutuskan untuk membeli novel Keigo lainnya yang berjudul <em>A Midsummer&#8217;s Equation</em>. Semoga saja keseruan ceritanya minimal setara dengan yang baru Penulis tamatkan ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 8 Juni 2024, teinspirasi setelah membaca buku <em>The Devotion of Suspect X </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Conan dan Kutukan yang Menimpanya</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 May 2018 06:38:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[conan]]></category>
		<category><![CDATA[Detective Conan]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[ran]]></category>
		<category><![CDATA[shinichi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Detective Conan bisa dibilang sebagai serial komik detektif terlaris yang pernah ada. Tetapi, penulis tidak akan membahas itu di tulisan ini, melainkan sisi lain dari Conan Edogawa a.k.a Shinichi Kudo yang mengecil karena APTX 4869. Coba sekarang bayangkan kita menjadi Conan. Ke mana pun ia pergi, mau ke hutan, ke gunung, ke pantai, ke Kyoto, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/">Conan dan Kutukan yang Menimpanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Detective Conan bisa dibilang sebagai serial komik detektif terlaris yang pernah ada. Tetapi, penulis tidak akan membahas itu di tulisan ini, melainkan sisi lain dari Conan Edogawa a.k.a Shinichi Kudo yang mengecil karena APTX 4869.</p>
<p>Coba sekarang bayangkan kita menjadi Conan. Ke mana pun ia pergi, mau ke hutan, ke gunung, ke pantai, ke Kyoto, ke Osaka, bahkan hanya ke kafe Poirot pun ia selalu menemukan kasus, mulai pembunuhan, penculikan, hingga hilangnya barang.</p>
<p>Mau pergi dengan siapapun juga pasti bertemu kasus, mulai dengan Kogoro Mouri, Sonoko, Profesor Agassa, Heiji Hatori hingga kelompok detektif kecil. Seharusnya, orang-orang jadi takut jika harus berpergian dengan Conan bukan?</p>
<p>Kasihan Conan, padahal tubuhnya sudah mengecil karena obat APTX 4869, masih harus menanggung kutukan <em>siapa yang ada di dekatku pasti kena kasus</em>. Tak terhitung berapa kali ia berniat untuk liburan, selalu ada saja kasus yang terjadi di sekitarnya dengan trik-trik sulit.</p>
<p>Nah, mengapa kasus yang terjadi di sekitar Conan selalu menggunakan trik yang anti <em>mainstream</em>? Mungkin karena kreativitas yang disalahgunakan, walaupun motifnya pasti karena tidak ingin ketahuan.</p>
<p>Selain itu, entah sudah berapa tahun serial Conan berjalan, ia tidak juga naik-naik kelas. Tetap saja kelas satu. Kasihan.</p>
<p><strong>Shinichi dan Ran</strong></p>
<p>Setidaknya Conan atawa Shinichi tidak perlu dikasihani karena satu hal: cinta. Ia menyukai teman sejak kecilnya, Ran Mouri. Kisah asmara mereka berdua merupakan salah satu bagian favorit penulis dari dulu karena banyak hal. Salah satunya adalah kecanggungan antara mereka berdua, yang penulis yakin membuat pembacanya merasa <em>geregetan</em>.</p>
<p>Kesetiaan Ran bisa diacungi jempol. Ketika Shinichi &#8220;menghilang&#8221; untuk menyelesaikan kasus yang sulit, ia sama sekali tidak berpaling ke lelaki lain. Ia tetap menanti Shinichi pulang, walaupun sebenarnya ia satu rumah bersamanya dalam wujud Conan Edogawa.</p>
<p>Pembaca yang sudah menunggu kapan mereka berdua jadian tentu sudah bisa bernafas lega. Shinichi telah mengutarakan perasaannya ke Ran di depan Big Ben, London. Tempat yang spesial bukan untuk menyatakan cinta?</p>
<p>Ran menjawabnya dengan sebuah ciuman di pipi ketika ada darmawisata sekolah ke Kyoto. Sebuah adegan yang cukup membuat penulis <em>baper</em>, mungkin juga para penggemar yang telah lama menantikan adegan ini.</p>
<p><div id="attachment_803" style="width: 778px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-803" class="size-full wp-image-803" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-04-25_152817.jpg" alt="" width="768" height="501" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-04-25_152817.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-04-25_152817-300x196.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-04-25_152817-356x232.jpg 356w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><p id="caption-attachment-803" class="wp-caption-text">Bikin Baper</p></div></p>
<p><strong>Tukang Bubur Naik Haji</strong></p>
<p>Satu hal yang tidak penulis suka dari Detective Conan adalah ceritanya yang makin ke sini makin melebar. Selalu ada saja tambahan karakter baru yang semakin menyamarkan akhir cerita. Mirip dengan serial Tukang Bubur Naik Haji yang semakin tambah episodenya semakin tambah pula tokoh-tokohnya.</p>
<p>Penulis kira masuknya Sera, Amuro dan Subaru (Akai yang menyamar) sudah cukup. Eh ternyata masih ada lagi, yang kepala polisi bermata satu, penjual sushi bermata satu sampai wali kelas baru. Semua bermata satu, agar pembaca menerka-nerka siapa anggota organisasi hitam yang memiliki <em>code name </em>RUM.</p>
<p><div id="attachment_804" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-804" class="size-large wp-image-804" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/maxresdefault-2.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-804" class="wp-caption-text">Sera Masumi (youtube.com)</p></div></p>
<p>Belum lagi karakter-karakter pendukung lainnya yang hanya muncul sesekali. Perlu daya ingat yang kuat untuk mengingat semua karakter tersebut.</p>
<p>Mungkin semua karakter tersebut dibutuhkan untuk memperbesar rasa penasaran pembaca terhadap akhir serial Detective Conan. Selain itu, masih banyak tokoh-tokoh misterius yang belum dibuka identitasnya. Aoyama Gosho selaku pembuat komik dikenal gemar menyebar petunjuk palsu untuk membuat bingung pembacanya. Dan menurut penulis, ia berhasil melakukannya dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 24 Mei 2018, terinsprasi setelah membaca komik Detective Conan vol. 90-91</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://dinocojv.deviantart.com/art/Detective-Conan-476694136">https://dinocojv.deviantart.com/art/Detective-Conan-476694136</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/">Conan dan Kutukan yang Menimpanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berteriak karena Buku</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2018 09:05:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Agatha Christie]]></category>
		<category><![CDATA[Detective Conan]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Hercule Poirot]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Miss Marple]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[serial]]></category>
		<category><![CDATA[Sherlock Holmes]]></category>
		<category><![CDATA[Sir Arthur Conan Doyle]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyukai serial detektif semenjak SMP, ketika almarhumah kakak penulis memberikan novel Sherlock Holmes yang tipis (hanya terdiri dari tiga cerita). Penulis sangat menikmati buku tersebut, sehingga dari sanalah penulis berminat untuk mengetahui novel detektif lainnya, karena buku karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut hanya berjumlah sembilan seri. Penulis memutuskan untuk mencoba novel karya Agatha [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Berteriak karena Buku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis menyukai serial detektif semenjak SMP, ketika almarhumah kakak penulis memberikan novel Sherlock Holmes yang tipis (hanya terdiri dari tiga cerita). Penulis sangat menikmati buku tersebut, sehingga dari sanalah penulis berminat untuk mengetahui novel detektif lainnya, karena buku karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut hanya berjumlah sembilan seri.</p>
<p>Penulis memutuskan untuk mencoba novel karya Agatha Christie, yang penulis ketahui dari komik Detective Conan, ketika Kogoro Mouri menemani Conan untuk menghadiri pertemuan sesama penggemar Sherlock Holmes. Ketika ditanya sesama peserta seri mana yang menjadi favorit, Mouri justru menjawab buku karya Agatha Christie (itu pun salah judul).</p>
<p><strong>Awal Pertemuan</strong></p>
<p>Sebelum membeli, penulis pinjam satu buku Agatha Christie dari teman saya sejak SD. Yang ia pinjamkan berjudul <em>The Pale House</em> (Misteri Penginapan Tua). Setelah membaca, penulis merasa bahwa judul ini kurang menarik. Plot ceritanya sedikit khayal, begitu pikir penulis saat itu. Secara singkat, penulis merasa kecewa dengan buku tersebut.</p>
<p><div id="attachment_616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-616" class="size-large wp-image-616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-22.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-616" class="wp-caption-text">Dua Novel Paling Awal</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis tidak berhenti sampai di situ. Ketika mampir di toko buku, penulis melihat novel Agatha Christie berjudul <em>Poirot&#8217;s Early Case</em> (Kasus-Kasus Perdana Poirot). Nama Poirot tidak asing bagi penulis karena di Detevtive Conan terdapat kafe yang bernama serupa. Maka, penulis mencoba untuk memberikan &#8220;kesempatan kedua&#8221;.</p>
<p><strong>Memburu Judul yang Hilang</strong></p>
<p>Keputusan tersebut terbukti tepat. Semenjak itu, penulis terus membeli novel-novel Agatha Christie, hingga rela untuk tidak makan di luar agar dapat membeli <em>bookset </em>Agatha Christie.</p>
<p>Pernah ada kejadian, ketika membeli <em>bookset </em>yang pertama (total ada 8 <em>bookset</em>, tiap <em>bookset </em>berisi sepuluh judul), penulis tidak cermat dalam memilih barang karena terdapat buku yang sama. Waktu itu penulis belum tahu jika buku yang telah dibeli dapat dikembalikan, sehingga judul yang sama tersebut penulis jual kepada teman kuliah.</p>
<p><div id="attachment_614" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-614" class="size-large wp-image-614" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-32.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-614" class="wp-caption-text">Judul yang Hilang</p></div></p>
<p>Sedangkan judul yang hilang, penulis berusaha mencarinya secara terpisah. Sayangnya, novel yang berjudul <em>Elephant Can Remember </em>(Gajah Selalu Ingat) sangat susah ditemukan, baik di Malang maupun Surabaya. Akhirnya, penulis melakukan barter dengan orang yang sama dengan yang meminjamkan <em>The Pale House </em>(judul ini pun akhirnya jadi milik penulis dengan barter).</p>
<p><strong>78/80</strong></p>
<p>Adanya bundel Agatha Christie sangat membantu penulis untuk mengoleksinya. Kalau tidak salah, setidaknya ada empat atau lima bundel yang penulis beli. Apabila dalam satu bundel terdapat banyak judul yang sudah dimiliki penulis, penulis akan melewatkannya dan memilih untuk melengkapinya satu per satu.</p>
<p>Seringkali, banyak judul yang tidak tersedia di toko buku. Solusinya, pembelian online. Ada yang bekas (namun telah diberi sampul plastik oleh pemilik sebelumnya) ada yang baru. Harganya pun lebih murah dari harga aslinya. Selain itu, dalam even-even obral buku, jika beruntung penulis akan menemukan novel Agatha Christie seharga Rp. 10.000 an.</p>
<p>Hingga kini, penulis berhasil mengumpulkan 78 dari 80 judul buku Agatha Christie. Dua judul yang belum penulis miliki tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>(1963) <em>The Clocks</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
<li>(1976) <em>Sleeping Murder</em> &#8211; Miss Marple</li>
</ul>
<p>Untunglah, pihak penerbit sedang mencetak ulang, sehingga tinggal masalah waktu hingga dua judul tersebut dicetak ulang,</p>
<p><strong>Cerita Terbaik</strong></p>
<p>Dari sekian banyak Agatha Christie yang penulis baca, ada beberapa buku yang membuat penulis berteriak &#8220;WHAT!&#8221; dengan begetar karena <em>twist </em>yang sama sekali tidak diduga. Buku-buku tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>(1926) <em>The Murder of Roger Ackroyd</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
<li>(1934) <em>Murder on The Orient Express</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
<li>(1936) <em>The ABC Murders</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
<li>(1938) <em>Hercule Poirot&#8217;s Christmas</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
<li>(1939) <em>And Then There Were None</em> &#8211; Sir Thomas Legge</li>
<li>(1949) <em>Crooked House</em> &#8211; Charles Hayward</li>
<li>(1967) <em>Endless Night</em> &#8211; Sergeant Keene</li>
<li>(1975) <em>Curtain, Poirot&#8217;s Last Case</em> &#8211; Hercule Poirot</li>
</ul>
<p><div id="attachment_615" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-615" class="size-large wp-image-615" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-28.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-615" class="wp-caption-text">Rekomendasi Penulis</p></div></p>
<p>Tentu penulis tidak akan memberitahu siapa pelakunya karena mengandung <em>spoiler</em>. Yang jelas, ada yang pelakunya adalah tokoh aku, ada yang korbannya dibunuh oleh tiga belas orang, ada yang pelakunya adalah polisinya, ada yang mati di pulau terpencil satu per satu, ada yang pelakunya anak kecil, bahkan ada yang pelakunya adalah sang detektif!</p>
<p>Maaf, penulis terlalu bersemangat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 April 2018, setelah berkali-kali gagal menang main game Rules of Survival bersama Aqsa dan Rael</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Berteriak karena Buku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengasah Rasa dengan Sastra</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jan 2018 12:18:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu genre buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi best seller, seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel Berjuta Rasanya karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu <em>genre</em> buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi <em>best seller, </em>seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel <em>Berjuta Rasanya</em> karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak ulang hingga Februari 2017. Artinya, novel ini dicetak sebanyak lima hingga enam kali tiap tahunnya.</p>
<p>Pada awalnya, saya bisa dibilang jarang membaca novel lokal, kecuali tetralogi <em>Laskar Pelangi-</em>nya Andrea Hirata dan trilogi <em>Negeri 5 Menara-</em>nya A. Fuadi. Saya lebih tertarik dengan novel detektif seperti <em>Sherlock Holmes</em> dan <em>Agatha Christie</em>. Semenjak hampir semua buku <em>Agatha Christie</em> saya koleksi (sekarang saya memiliki 78 dari 80 bukunya), saya mencoba untuk membaca novel Indonesia. Salah satu pilihan saya adalah dua penulis yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.</p>
<p>Ternyata, novel-novel tersebut memang layak menjadi <em>best seller </em>karena bahasanya yang mudah dipahami dan selalu ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Saya mengkategorikan novel-novel ini sebagai kategori novel ringan, karena untuk membacanya saya tidak perlu memutar otak untuk memahami tiap katanya. Setelah banyak menjelajah penulis-penulis novel ringan ini, saya ingin mencari tantangan baru. Sastra nampak sesuai untuk dijadikan lahan baru untuk dijelajahi. Saya beri kategori sendiri untuk membedakannya dengan novel-novel ringan Indonesia: Novel/Sastra.</p>
<p>Kalau tidak salah, buku pertama yang saya beli dengan kategori ini adalah <em>Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2015 </em>dengan judul <em>Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta</em> karya penulis senior Ahmad Tohari. Semenjak itu, saya mengoleksi antalogi cerpen Kompas. Selain itu, saya juga menikmati karya-karya penulis berikut:</p>
<ul>
<li>Seno Gumira Ajidarma (Dunia Sukab, Sepotong Senja untuk Pacarku, Drupadi, Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja)</li>
<li>Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, Suti)</li>
<li>Kuntowijoyo (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Mantra Penjinak Ular, Waspirin &amp; Satinah)</li>
<li>W.S. Rendra (Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu, Pacarku Seorang Seniman)</li>
<li>Eka Kurniawan (Lelaki Harimau, Dilarang Corat-Coret di Kamar Mandi)</li>
<li>Dan novel serta cerpen karya penulis lain seperti Budi Darma, Emha Ainun Najib, Bondan Prakoso dan Agus Noor</li>
</ul>
<p>Pengkategorian Novel/Sastra ini sebenarnya seenaknya saya sendiri saja. Ada beberapa faktor yang membuat saya memisahkan novel sastra dengan novel Indonesia lainnya. Yang paling menonjol adalah gaya bahasa. Bahasa yang digunakan Novel/Sastra jauh lebih berat jika dibandingkan novel ringan. Beberapa kata, kalimat, bahkan keseluruhan cerita tidak saya pahami sepenuhnya.</p>
<p>Jika tidak dapat memahaminya, lalu untuk apa saya membacanya?</p>
<p>Mungkin jawaban saya adalah karena saya menikmatinya, menikmati suatu harmoni bahasa yang saling mengalun indah untuk membentuk suatu makna yang tersirat. Rangkaian ini entah bagaimana caranya, menghaluskan perasaan saya dan menajamkan pikiran saya. Pemilihan diksi-diksi yang berat membuat saya mempunyai referensi yang baik dalam menulis.</p>
<p>Dengan membaca sastra, cakrawala saya yang sempit menjadi terbuka lebar. Dengan menghayati sastra, saya bisa belajar memahami orang lain. Dengan mempelajari sastra, kemampuan menulis saya yang masih mentah ini dapat meningkat sedikit demi sedikit.</p>
<p>Sastra, sudah membuat saya mengasah rasa yang saya miliki, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Januari 2018, setelah mencari <em>username </em>dan <em>password </em>yang hilang<em> </em>agar dapat mengakses halaman admin web Biz Square Apartment</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
