Connect with us

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation

Published

on

Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya.

Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan The Devotion of Mr. X karya Keigo Higashino, wajar jika Penulis membeli novelnya yang lain. Pilihan Penulis jatuh ke buku A Midsummer’s Equation atau Rumus Kebenaran Musim Panas.

Salah satu alasan Penulis membeli novel ini adalah karena masih termasuk ke dalam Seri Detektif Galileo. Selain itu, adanya tema kelestarian alam juga menjadi alasan lainnya. Sayangnya, Penulis tidak mendapatkan kepuasan seperti dua novel Keigo sebelumnya.

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku A Midsummer’s Equation

  • Judul: A Midsummer’s Equation (Rumus Kebenaran Musim Panas
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-2
  • Tanggal Terbit: Januari 2023
  • Tebal: 440 halaman
  • ISBN: 9786020674858
  • Harga: Rp119.000

Sinopsis Buku A Midsummer’s Equation

Dalam kunjungannya ke Harigaura untuk menghadiri diskusi rencana proyek penggalian sumber daya bawah laut, Profesor Yukawa Manabu menyaksikan panasnya perdebatan di antara warga lokal. Sementara sebagian pihak mendukung rencana itu demi menghidupkan kembali perekonomian, pihak lain mati-matian menentang karena ingin menjaga kelestarian alam.

Namun, bukan hanya proyek tersebut yang meresahkan kota itu. Keesokan paginya, salah satu tamu penginapan yang ditempati Yukawa ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Saat diketahui sang korban merupakan mantan polisi Tokyo dan tewas keracunan karbon monoksida, timbul kecurigaan bahwa ia dibunuh.

Apa yang dilakukan mantan polisi itu di Harigaura? Apakah ada yang ingin membungkamnya? Kenapa? Sekali lagi, Yukawa mendapati dirinya berada di tengah misteri yang harus dipecahkan.

Isi Buku A Midsummer’s Equation

Kita kembali mengikuti perjalanan Profesor Yukawa Manabu, yang kali ini pergi ke Harigaura karena di sana sedang ada konflik yang dipicu oleh proyek penggalian sumber daya bawah laut. Mirip dengan situasi di negara kita sendiri, walau di cerita ini tidak ada kekerasan dari aparat (oops).

Namun, kita memulai kisah novel ini dari sudut pandang Esaki Kyohei, seorang anak kelas 5 SD yang sedang menuju Harigaura untuk menginap di penginapan milik om dan tantenya. Secara kebetulan, ia satu kereta dengan Yukawa.

Secara kebetulan lagi, Yukawa ternyata juga menginap di penginapan milik keluarga Kyohei. Penginapan tersebut terkesan mau bangkrut, karena pariwisata di Harigaura juga mengalami penurunan.

Hanya ada satu orang lain yang menginap di sana selain Yukawa, yakni Tsukahara Masatsugu, seorang mantan polisi. Naas, ia ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Namun, hasil otopsi mengatakan ia juga keracunan karbon monoksida, sehingga ada kemungkinan ia dibunuh.

Pihak kepolisian pun berusaha memecahkan kasus tersebut, sedangkan Yukawa justru menjalin hubungan yang unik dengan Kyohei sembari tetap mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Belum lagi masalah penambangan yang jadi alasan Yukawa pergi ke Harigaura.

Lantas, siapa ternyata yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut? Tentu tidak akan Penulis ungkap di sini karena di sanalah letak keseruan novel detektif.

Setelah Membaca A Midsummer’s Equation

Pada ulasan novel The Devotion of Suspect X, Penulis sudah mengeluhkan betapa bertele-telenya jalan cerita karena proses penyelidikan kepolisian yang kelewat lengkap dan panjang sekali. Rasanya seperti semua orang yang muncu di benak polisi harus dimintai keterangan.

Nah, “formula” tersebut diulang lagi di novel ini dengan lebih panjang lagi. Hal tersebut sempat membuat Penulis berhenti membaca novel ini cukup lama, padahal dua novel sebelumnya bisa Penulis tandaskan dengan cepat.

Penulis bahkan tak ingat siapa saja nama karakter yang ada di novel ini karena ada banyak banget, pakai nama Jepang pula.Dari pihak kepolisian saja (yang melibatkan banyak sekali instansi), mungkin ada sekitar 10 nama, belum nama-nama warga Harigaura.

Menariknya, banyaknya karakter yang ada di novel ini somehow pada akhirnya memiliki benang merahnya masing-masing. Jadi, karakter A ternyata memiliki hubungan dengan karakter B, karena itulah karakter A melakukan hal tersebut. Kurang lebih begitu.

Nah, salah satu momen yang menyenangkan untuk dibaca adalah bromance antara Yukawa dan Kyohei. Yukawa merupakan seorang dosen berotak cerdas, dan ia sering mengajak Kyohei melakukan eksperimen-eksperimen kecil yang menarik.

Satu nama yang menonjol di sini adalah Kawahata Narumi, yang merupakan anak dari pemilik penginapan yang ditinggali oleh Yukawa. Jadi, Narumi masih terhitung saudara sepupu dari Kyohei. Perannya di novel ini cukup menonjol, jadi Penulis menyarankan untuk selalu memperhatikannya.

Tema eksploitasi alam yang dihadirkan sebagai premis cerita pun jadi terasa tidak memiliki dampak apa-apa. Awalnya, Penulis mengira kalau kasus pembunuhan yang terjadi memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut. Ternyata, motifnya benar-benar jauh dari sana.

Selain itu, plot twist yang dihadirkan di akhir cerita pun bukan yang benar-benar membuat tercengang. Memang masih mengejutkan, tapi efeknya tidak sedahsyat The Devotion of Suspect X. Kayak cuma “oh gitu” setelah mengetahui pelakunya, walau motifnya sendiri cukup mengejutkan.

Ending yang seolah “melindungi” pelaku karena alasan tertentu juga sedikit mengganjal bagi Penulis. Mungkin Yukawa melakukannya karena merasa memiliki ikatan khusus dengannya, berbeda dengan Hercule Poirot yang pernah secara tidak langsung menyuruh pembunuhnya membunuh dirinya sendiri.

Walau terbilang lambat (bahkan sangat lambat) di paruh pertama novel, tentu saja semakin ke belakang ceritanya semakin membuat penasaran sebagaimana novel misteri pada umumnya. Karena itulah Penulis pada akhirnya bisa menamatkan novel ini.

Apakah novel ini akan membuat Penulis kapok untuk membeli novel Keigo Higashino yang lain? Entahlah, yang jelas untuk sekarang Penulis memilih untuk membaca novel-novel yang telah dibeli, seperti Teka-Teki Rumah Aneh dari Uketsu misalnya.

Skor: 6/10


Lawang, 12 September 2025, terinspirasi setelah membaca buku A Midsummer’s Equation karya Keigo Higashino

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Published

on

By

Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.

Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.

Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:

Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.

Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-100
  • Tanggal Terbit: April 2026 
  • Tebal: 216 halaman
  • ISBN: 9786020531328
  • Harga: Rp93.000

Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.

Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.

Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!

Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.

Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.

Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.

Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.

Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.

Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.

Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.

Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.

Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:

Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.

Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.

Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.

Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.

“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.

Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.

Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.

Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.

Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Skor: 6/10


Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Published

on

By

Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.

Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.

Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh

  • Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-2
  • Tanggal Terbit: Februari 2026
  • Tebal: 312 halaman
  • ISBN: 9786020687209
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?

Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.

Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.

Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:

  1. Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
  2. Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
  3. Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
  4. Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik

Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.

Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.

Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.

Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.

Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/

Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?

Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.

Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.

Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.

Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.

Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.

Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.

Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.

Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.

Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.

Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?

Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.

Skor: 9/10


Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018