Sejarah Singkat Rasisme di Amerika Serikat

Beberapa hari terakhir ini, media dan publik heboh dengan kasus yang menimpa George Floyd, warga Amerika Serikat berkulit hitam yang kehilangan nyawa akibat perbuatan sewenang-wenang dari aparat kepolisian.

Floyd mendapatkan tuduhan menggunakan uang palsu sehingga dibekap oleh petugas. Hanya saja, caranya keterlaluan hingga yang bersangkutan tidak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Akibatnya, gelombang protes membara di seluruh Amerika Serikat. Kerusuhan terjadi di mana-mana hingga tak terasa kita sedang menghadapi virus Corona.

Tapi jika menengok sejarah ke belakang, kasus rasisme kepada orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ada banyak sekali kejadian yang akan melukai nilai-nilai kemanusiaan.

Masa Perbudakan

Perang Saudara (WBEZ Interactive)

Seperti yang kita ketahui dari banyak referensi sejarah, orang-orang Afro-Americans dibawa ke Amerika sebagai budak. Benua yang baru itu butuh banyak pekerja kasar agar bisa berkembang.

Hal ini telah berlangsung sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lantas, muncul wacana penghapusan perbudakan di era Abraham Lincoln yang memicu perang saudara.

Pihak Utara adalah yang pro penghapusan perbudakan, sedangkan Selatan ingin mempertahankannya. Setelah perang, pihak Selatan kalah dan perbudakan pun dihapuskan. Lincoln sendiri harus kehilangan nyawa karenanya.

Meski perbudakan telah dihapuskan, kasus rasisme di Amerika tidak hilang sepenuhnya.

Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks

Rosa Parks dan Martin Luther King Jr. (Twitter)

Tingginya kasus rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam memunculkan banyak nama tenar yang membela hak -hak sipil mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr.

Pidatonya yang paling terkenal I Have a Dream yang ia bacakan pada tahun 1963. Sayang, pada akhirnya peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut harus mengakhiri hidupnya karena ditembak.

Selain King, salah satu yang paling berbekas di benak Penulis adalah Rosa Parks. Penulis mengetahui kisahnya dari salah satu buku yang Penulis baca, yang sayangnya lupa buku yang mana.

Pada tahun 1955, ia menolak untuk pindah dari kursi busnya yang diklaim sebagai milik orang berkulit putih. Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh Parks menjadi simbol penting dalam pergerakan dalam melawan rasisme.

Sayangnya, bertahun-tahun setelah kematian King dan tindakan heroik Parks, terjadi kasus rasisme yang kurang lebih sama dengan kasus yang menimpa Floyd.

Kerusuhan Los Angeles, 1992

Los Angeles Riots (Britannica)

Rodney King merupakan seorang pria Afrika-Amerika yang sedang menjalani masa percobaan hukuman karena beberapa kasus. Suatu ketika, ia dikejar pihak kepolisian karena melanggar batas kecepatan di jalan tol.

Oleh empat orang dari kepolisian yang menangkapnya, King diserang dengan pistol TASER (semacam senjata stun) dan dipukuli dengan begitu kejamnya.

Kejadian tersebut sempat direkam dan disiarkan ke seluruh dunia. Alhasil, kejadian tersebu memicu kemarahan orang-orang African American yang telah lama mengutuk tindakan rasial yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka menuntut para polisi yang melakukan penganiayaan diadili.

Kasusnya pun dibawa ke pengadilan. Hasilnya? Tidak ada satupun petugas kepolisian yang didakwa bersalah. Hal ini memicu kerusuhan empat hari di Los Angeles. Sebanyak 55 orang tewas, 2.300 terluka, dan lebih dari 1.000 bangunan terbakar. Total kerusakan diprediksi mencapai $1 miliar.

Tahun berikutnya, pengadilan kembali dilakukan di pengadilan federal dan diputuskan dua dari empat petugas yang terlibat dinyatakan bersalah. Sayang, hampir tiga dekade kemudian, kejadian serupa kembali terjadi lagi.

Penutup

Bahkan setelah kematian Floyd, masih banyak tindakan berbau rasial yang dilakukan oleh kepolisian Amerika Serikat. Di Twitter, banyak sekali rekaman video yang menunjukkan hal tersebut. Tidak hanya ke kaum kulit hitam, kekejaman juga dilakukan ke pendemo berkulit lainnya.

Penulis benar-benar tidak menyangka ada manusia yang bisa sesadis dan sekejam itu. Memang tidak semua polisi di sana melakukan tindakan brutal ke para aksi demo. Ada yang bisa menjalankan tugasnya dengan benar dan berhasil mengayomi masyarakat.

Kasus-kasus di Amerika Serikat membuat kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita tidak seperti mereka? Apakah kita sudah berlaku adil dengan, misalnya, saudara-saudara kita di Papua? Apakah saudara-saudara kita di sana sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya?

Rasanya belum. Kasus terbaru adalah mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang dituntut sepuluh tahun penjara dengan tuduhan makar. Mereka dianggap sebagai provokator dalam aksi demo yang berujung ricuh pada tahun kemarin.

Penulis berharap, kita semua bisa memetik pelajaran dari semua kejadian yang memilukan ini.

 

Sumber Artikel: History, Tempo

 

 

Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari kerusuhan di Amerika Serikat akibat kematian George Floyd

Foto: The New Yorker

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.