Connect with us

Tokoh & Sejarah

Sejarah Singkat Rasisme di Amerika Serikat

Published

on

Beberapa hari terakhir ini, media dan publik heboh dengan kasus yang menimpa George Floyd, warga Amerika Serikat berkulit hitam yang kehilangan nyawa akibat perbuatan sewenang-wenang dari aparat kepolisian.

Floyd mendapatkan tuduhan menggunakan uang palsu sehingga dibekap oleh petugas. Hanya saja, caranya keterlaluan hingga yang bersangkutan tidak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Akibatnya, gelombang protes membara di seluruh Amerika Serikat. Kerusuhan terjadi di mana-mana hingga tak terasa kita sedang menghadapi virus Corona.

Tapi jika menengok sejarah ke belakang, kasus rasisme kepada orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ada banyak sekali kejadian yang akan melukai nilai-nilai kemanusiaan.

Masa Perbudakan

Perang Saudara (WBEZ Interactive)

Seperti yang kita ketahui dari banyak referensi sejarah, orang-orang Afro-Americans dibawa ke Amerika sebagai budak. Benua yang baru itu butuh banyak pekerja kasar agar bisa berkembang.

Hal ini telah berlangsung sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lantas, muncul wacana penghapusan perbudakan di era Abraham Lincoln yang memicu perang saudara.

Pihak Utara adalah yang pro penghapusan perbudakan, sedangkan Selatan ingin mempertahankannya. Setelah perang, pihak Selatan kalah dan perbudakan pun dihapuskan. Lincoln sendiri harus kehilangan nyawa karenanya.

Meski perbudakan telah dihapuskan, kasus rasisme di Amerika tidak hilang sepenuhnya.

Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks

Rosa Parks dan Martin Luther King Jr. (Twitter)

Tingginya kasus rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam memunculkan banyak nama tenar yang membela hak -hak sipil mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr.

Pidatonya yang paling terkenal I Have a Dream yang ia bacakan pada tahun 1963. Sayang, pada akhirnya peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut harus mengakhiri hidupnya karena ditembak.

Selain King, salah satu yang paling berbekas di benak Penulis adalah Rosa Parks. Penulis mengetahui kisahnya dari salah satu buku yang Penulis baca, yang sayangnya lupa buku yang mana.

Pada tahun 1955, ia menolak untuk pindah dari kursi busnya yang diklaim sebagai milik orang berkulit putih. Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh Parks menjadi simbol penting dalam pergerakan dalam melawan rasisme.

Sayangnya, bertahun-tahun setelah kematian King dan tindakan heroik Parks, terjadi kasus rasisme yang kurang lebih sama dengan kasus yang menimpa Floyd.

Kerusuhan Los Angeles, 1992

Los Angeles Riots (Britannica)

Rodney King merupakan seorang pria Afrika-Amerika yang sedang menjalani masa percobaan hukuman karena beberapa kasus. Suatu ketika, ia dikejar pihak kepolisian karena melanggar batas kecepatan di jalan tol.

Oleh empat orang dari kepolisian yang menangkapnya, King diserang dengan pistol TASER (semacam senjata stun) dan dipukuli dengan begitu kejamnya.

Kejadian tersebut sempat direkam dan disiarkan ke seluruh dunia. Alhasil, kejadian tersebu memicu kemarahan orang-orang African American yang telah lama mengutuk tindakan rasial yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka menuntut para polisi yang melakukan penganiayaan diadili.

Kasusnya pun dibawa ke pengadilan. Hasilnya? Tidak ada satupun petugas kepolisian yang didakwa bersalah. Hal ini memicu kerusuhan empat hari di Los Angeles. Sebanyak 55 orang tewas, 2.300 terluka, dan lebih dari 1.000 bangunan terbakar. Total kerusakan diprediksi mencapai $1 miliar.

Tahun berikutnya, pengadilan kembali dilakukan di pengadilan federal dan diputuskan dua dari empat petugas yang terlibat dinyatakan bersalah. Sayang, hampir tiga dekade kemudian, kejadian serupa kembali terjadi lagi.

Penutup

Bahkan setelah kematian Floyd, masih banyak tindakan berbau rasial yang dilakukan oleh kepolisian Amerika Serikat. Di Twitter, banyak sekali rekaman video yang menunjukkan hal tersebut. Tidak hanya ke kaum kulit hitam, kekejaman juga dilakukan ke pendemo berkulit lainnya.

Penulis benar-benar tidak menyangka ada manusia yang bisa sesadis dan sekejam itu. Memang tidak semua polisi di sana melakukan tindakan brutal ke para aksi demo. Ada yang bisa menjalankan tugasnya dengan benar dan berhasil mengayomi masyarakat.

Kasus-kasus di Amerika Serikat membuat kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita tidak seperti mereka? Apakah kita sudah berlaku adil dengan, misalnya, saudara-saudara kita di Papua? Apakah saudara-saudara kita di sana sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya?

Rasanya belum. Kasus terbaru adalah mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang dituntut sepuluh tahun penjara dengan tuduhan makar. Mereka dianggap sebagai provokator dalam aksi demo yang berujung ricuh pada tahun kemarin.

Penulis berharap, kita semua bisa memetik pelajaran dari semua kejadian yang memilukan ini.

 

Sumber Artikel: History, Tempo

 

 

Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari kerusuhan di Amerika Serikat akibat kematian George Floyd

Foto: The New Yorker

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tokoh & Sejarah

Sejarah Singkat Konflik Palestina-Israel

Published

on

By

Beberapa minggu terakhir, konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas. Ada banyak penyebabnya, Penulis sendiri tidak begitu tahu mana yang jadi pemantik utamanya. Kemungkinan besar adalah adanya sabotease Israel terhadap masjid Al-Aqsa.

Hanya saja, Penulis jadi merasa penasaran atas konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini. Apa sebenarnya akar permasalahannya? Mengapa Israel menduduki tanah Palestina? Apa yang menjadi dasar Israel bisa menjadi sebuah negara dan diakui dunia?

Atas dasar itulah Penulis melakukan riset kecil-kecilan dengan menonton beberapa video di YouTube. Video-video tersebut menjadi sumber utama artikel kali ini, artikel tentang sejarah singkat konflik Palestina-Israel.

Theodor Herzl dan Zionisme

Theodor Herzl (My Jewish Learning)

Jika ditarik ke belakang, bangsa Yahudi memiliki sejarah yang begitu panjang hingga ke zaman para nabi. Singkat cerita, banyak orang Yahudi yang harus meninggalkan tanah Palestina dan tersebar ke berbagai penjuru dunia karena berbagai konflik yang terjadi.

Di akhir tahun 1800-an, tanah Palestina secara de jure berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Ottoman. Di wilayah tersebut, orang Muslim, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan secara relatif damai.

Lantas, seorang tokoh Austria-Hungarian bernama Theodor Herzl memperkenalkan ide Zionisme, sebuah konsep negara Yahudi di tanah leluhur mereka, Palestina.

Alasannya, menurut kitab kepercayaan mereka tanah tersebut adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. Nenek moyang mereka berasal dari sana dan pernah tinggal di sana.

Salah satu latar belakang ideologi ini adalah rasisme dan tingginya sikap antisemitisme masyarakat dunia terhadap orang-orang keturunan bangsa Yahudi. Mereka merasa harus memiliki negara sendiri agar merasa aman dan terlindungi.

Inilah cikal bakal dari berdirinya negara Israel dan mengapa mereka memilih wilayah Palestina di Timur Tengah.

Kejatuhan Kesultanan Ottoman

Wilayah Kekuasaan Ottoman (Quizizz)

Beberapa tahun berselang setelah Herzl mengungkapkan teorinya, Perang Dunia I. Kesultanan Ottoman ternyata bersatu dengan Jerman dan Austro-Hungaria sebagai Blok Sentral. Mereka melawan Blok Sekutu yang beranggotakan Inggris, Prancis, dan lainnya.

Setelah perang berkecamuk, Blok Sentral harus menderita kekalahan. Kesultanan Ottoman hancur hampir tak bersisa. Wilayahnya dicaplok pemenang perang, termasuk Palestina yang saat itu dikuasai oleh Inggris.

Orang-orang Yahudi pun bernegosiasi, meminta agar impian mereka mendirikan negara Yahudi di Palestina dapat terwujud dengan bantuan Inggris. Permintaan tersebut dikabulkan, sehingga setelah Perang Dunia I banyak orang-orang Yahudi yang bermigrasi ke Palestina.

Bangsa Palestina saat itu juga tengah berusaha mengusir Inggris dari tanah mereka. Sama seperti bangsa terjajah lainnya, mereka menginginkan kemerdekaan dan berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Sayangnya hingga Perang Dunia II berakhir, kemerdekaan itu tak kunjung mereka dapatkan. Justru, mereka harus rela ada bangsa lain yang “baru datang” langsung diakui sebagai negara.

Kelahiran Negara Israel

Wilayah Israel dan Palestina (VOI)

United Nations alias Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) lahir di tahun 1945 setelah organisasi sebelumnya, League of Nation (Liga Bangsa-Bangsa), dianggap gagal menjalankan salah satu fungsinya sebagai penjaga kedamaian dunia.

Nah, salah satu hal pertama yang dilakukan oleh PBB adalah menyelesaikan konflik di tanah Palestina antara bangsa Arab dan Yahudi sebagai pendatang.

Pada tahun 1947, mereka memutuskan untuk membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian, satu untuk orang-orang Yahudi dan satu untuk bangsa Arab. Satu tahun kemudian pada tahun 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan diakui oleh PBB.

Nah, proklamasi inilah yang memantik emosi bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya. Perang pun tak terhindarkan yang berhasil dimenangkan oleh Israel. Wilayah Palestina yang sudah dibagi oleh PBB seolah menjadi tak berlaku, Israel memperluas wilayahnya dengan memakan “jatah” bangsa Palestina.

Semenjak itu, perang seolah menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Negara-negara tetangga seperti Mesir dan Suriah sempat memerangi Israel (dikenal dengan nama Perang Enam Hari), tetapi lagi-lagi Israel berhasil memenangkan peperangan.

Perlawanan Palestina

Yasser Arafat (Getty Images)

Semenjak pemisahan wilayah yang dilakukan oleh PBB pada tahun 1947, bangsa Palestina terbagi menjadi ke dua wilayah: Jalur Gaza dan Tepi Barat (West Bank). Hanya saja, wilayah ini pun makin ke sini makin dicaplok oleh Israel yang ingin memperluas wilayahnya.

Bangsa Palestina jelas tidak diam saja melihat wilayahnya makin lama makin habis. Palestine Liberation Organization (PLO) berdiri pada tahun 1964. Salah satu tokohnya yang paling terkenal adalah Yasser Arafat, yang nantinya juga menjadi pemimpin PLO.

Organisasi ini mengupayakan kemerdekaan mutlak untuk bangsa Palestina, termasuk melakukan penyerangan terhadap Israel. Gelombang serangan masif yang pertama adalah Intifada pertama yang terjadi pada tahun 1987 sampai 1993. Intifada kedua terjadi pada tahun 2000 sampai 2005.

Selain kedua penyerangan tersebut, masih ada banyak perlawanan yang dilakukan oleh Palestina demi mendapatkan hak mereka yang direbut secara paksa. Hanya saja, sampai saat ini Israel masih berdiri kukuh di atas tanah mereka.

Ada upaya damai yang berusaha dilakukan, seperti Perjanjian Camp David pada tahun 1978 dan Perjanjian Oslo yang dilakukan pada tahun 1993. Hanya saja, efek damai yang diharapkan tidak pernah muncul.

Israel beberapa kali menawarkan “kemerdekaan” untuk Palestina, namun selalu ditolak karena mereka ingin kedaulatan penuh di seluruh wilayah mereka. Bangsa Palestina tidak pernah setuju dengan konsep dua negara yang ditawarkan oleh Israel.

Kesimpulan

Sejarah singkat yang Penulis rangkum di atas jelas tidak cukup untuk menjelaskan semua akar permasalahan konflik Palestina-Israel. Oleh karena itu, Penulis menyantumkan video-video yang dapat menjelaskan konflik ini secara lebih rinci.

Jika mau diringkas lagi, awal masalahnya adalah ketika Inggris menguasai wilayah Palestina setelah kejatuhan Kesultanan Ottoman. Mereka mengizinkan bangsa Yahudi untuk masuk ke wilayah tersebut, upaya pertama agar Zionisme bisa terlaksana.

Orang-orang Palestina yang sudah ada di sana sejak lama jelas tidak ingin wilayahnya diambil alih secara paksa, apalagi sampai dijadikan sebagai satu-satunya negara Yahudi di dunia. Akhirnya, konflik berdarah pun terus berlangsung hingga saat ini.

Lantas, bagaimana pendapat Penulis atas konflik ini? Apakah ada solusi untuk mengatasi pertikaian ini? Bagaimana pandangan generasi muda terhadap permasalahan ini? Semua akan Penulis jelaskan pada tulisan selanjutnya.


Lawang, 19 Mei 2021, terinspirasi setelah mempelajari banyak sejarah seputar konflik Palestina-Israel

Foto: | EU Neighbours

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Privilege Ala Kartini

Published

on

By

Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: hari Kartini. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia.

Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. Menurut Penulis, Kartini bisa menjadi sedemikian ikonik berkat privilege yang ia miliki sejak lahir. Kok bisa?

Privilege Sejak Lahir

Privilege telah dimiliki oleh Kartini sejak lahir karena ia terlahir dari kalangan priyayi alias bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang setelah putrinya lahir diangkat mejnadi bupati Jepara.

Jejak darah biru bisa ditelusuri hingga Hamengkubuwana VI. Keluarga ibunya sendiri bukan keluarga bangsawan, sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan wanita bangsawan sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi seorang bupati.

Sebagai anak seorang bangsawan, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) walau hanya boleh sampai berusia 12 tahun. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan kebanyakan wanita pribumi saat itu.

Berhenti dari sekolah tidak membuat Kartini berhenti belajar. Secara otodidak ia belajar sendiri di rumah dan kerap menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia juga bisa mendapatkan buku-buku, koran, dan majalah Eropa (another big privilege).

Nah, dari sanalah Kartini mendapatkan pandangan betapa majunya cara berpikir wanita Eropa jika dibandingkan dengan wanita pribumi yang kerapdipandang rendah. Muncullah keinginan Kartini untuk memajukan harkat wanita pribumi.

Wawasannya yang luas membuatnya mulai menulis dan dimuat dalam berbagai macam surat kabar seperti De Hollandsche Lelie. Kartini sering menulis seputar permasalahan emansipasi wanita, walau terkadang ia membahasi isu sosial lainnya.

Bahkan setelah menikah, ia tetap melakukan perjuangannya. Sang suami yang seorang bupati Rembang memberikan kebebasan dan mendukung Kartini yang ingin mendirikan sekolah wanita di dekat kantor bupati.

Sayangnya, Kartini tidak berumur panjang. Hanya beberapa hari setelah melahirkan anaknya yang pertama, ia harus menghembuskan napas terakhir ketika berusia relatif muda, 25 tahun.

Meskipun begitu, peninggalannya meninggalkan jejak yang luar biasa. Ide-ide yang tertuang di suratnya begitu revolusioner dan dianggap melampaui zamannya.

Surat-surat Kartini diterbitkan di Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Memanfaatkan Privilege dengan Benar

Memang benar jika Kartini bisa berpikiran seperti ini karena memilki privilege. Hanya saja, Kartini bisa menggunakan privilege yang dimiliki dengan benar dan tepat. Ia tidak memanfaatkan privilege untuk dirinya semata, melainkan untuk kesejahteraan semua wanita pribumi di Indonesia.

Di era ketika Kartini hidup, ada berapa banyak wanita yang lahir dari keluarga bangsawan? Penulis tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi Penulis yakin jika jumlahnya cukup banyak. Apalagi, para bangsawan kerap memiliki istri lebih dari satu (Kartini sendiri merupakan istri ketiga).

Dari banyaknya wanita yang memiliki privilege tersebut, mengapa hanya Kartini yang terlihat berusaha memperjuangkan untuk mengangkat harkat martabat wanita pribumi? Mungkin ada, tapi tidak sebesar Kartini atau memang tidak terdokumentasi dalam sejarah.

Kartini sendiri bukan satu-satunya wanita hebat di masa perjuangan kemerdekaan. Ada nama seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Ada beberapa pihak yang protes, kenapa hanya Kartini saja yang diistimewakan.

Hanya saja, Kartini memang populer atas pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi wanita yang kerap diabaikan pada masa itu. Tidak banyak wanita dapat memanfaatkan privilege yang dimiliki seperti yang dilakukan oleh Kartini.

Lawang, 21 April 2021, terinspirasi karena hari ini hari Kartini

Foto: Tribun Jatim – Tribunnews.com

Sumber Artikel: Kartini – Wikipedia bahasa Indonesia, Tidak Banyak Orang yang Mampu Memanfaatkan Hak Istimewanya Sehebat Kartini (voi.id)

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Revolusi karena Pajak

Published

on

By

Jika mendengar kata pajak, apa yang akan terbesit pertama kali di pikiran kita? Jawabannya bisa yang standar seperti kewajiban hingga yang anti mainstream seperti dikorupsi.

Sebagai orang awam, kita diberi tahu kalau pajak merupakan salah satu pemasukan negara agar memiliki anggaran.

Pajak juga banyak sekali macamnya, setidaknya di negara kita. Pajak penghasilan, pajak makan, pajak mendirikan bangunan, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, pemerintah kerap disorot karena terlihat memungut pajak hampir di segala sektor yang dulunya tidak tersentuh pajak.

Pemerintah pasti punya pertimbangannya sendiri. Hanya saja, jika dilakukan berlebihan juga akan membuat masyarakat merasa gerah.

Di dalam sejarah, setidaknya ada dua revolusi yang dimulai akibat adanya pajak yang menyengsarakan rakyat.

Revolusi Prancis, 1789-1799

Revolusi Prancis (Time Magazine)

Selama berabad-abad, Prancis telah dipimpin oleh Monarki absolut. Sesuatu yang berlangsung secara absolut biasanya akan runtuh, apalagi jika pemimpinnya tidak bisa mengatasi krisis yang sedang melanda negerinya.

Itulah yang terjadi pada Prancis ketika Louis XVI naik takhta. Dari komik biografi Napoleon Bonaparte yang pernah Penulis baca, ia adalah raja yang gemar menggelar pesta dan hidup bermewah-mewahan.

Istrinya, Ratu Marie Antoinette yang terkenal karena kecantikannya, juga merupakan tipe orang yang pemboros dan sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Perang melawan Inggris dan upaya membantu Amerika Serikat meraih kemerderkaan sangat merugikan Prancis dari sisi finansial. Apalagi, gaya hidup istana sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rakyatnya yang begitu sengsara.

Solusi apa yang ditawarkan? Menaikkan pajak masyarakat kelas bawah.

Padahal, penerapan pajak di Prancis sudah begitu timpang di mana tekanan terbesar justru diberikan kepada masyarakat miskin. Kaum bangsawan justru mendapatkan banyak keringanan.

Revolusi pun akhirnya dimulai, ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille. Rakyat yang sudah muak dengan monarki yang memimpin mereka mulai bertindak, termasuk memenggal kepala orang-orang istana. Louis XVI dan istrinya yang cantik pun berakhir di guillotine.

Tentu ada banyak penyebab lain yang membuat revolusi ini terjadi, tapi penerapan pajak ke masyarakat kelas bawah menjadi salah satu yang paling utama.

Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat, 1775-1783

Revolusi Amerika Serikat (History)

Tanah Amerika terlihat begitu menjanjikan semenjak Christopher Colombus mendaratkan kakinya di benua ini. Upaya untuk menemukan jalan ke Asia lewat Barat justru membuat bangsa Eropa menemukan dunia baru.

Sayangnya, dampaknya begitu destruktif terhadap penduduk asli Amerika. Perlahan tapi pasti, mereka mulai tergusur oleh bangsa kulit putih yang membawa persenjataan lengkap dan pasukan yang terlatih.

Benua Amerika yang begitu luas menjadi rebutan negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, hingga Spanyol. Mereka mengklaim berbagai wilayah sebagai milik mereka, merebut dari pemilik aslinya dengan berbagai macam cara.

Inggris adalah salah satu negara yang menguasai benua Amerika bagian utara. Mereka kerap berebutan dengan Prancis. Biaya ekspedisi dan perang membuat Inggris mengeluarkan banyak uang dan otomatis membuat mereka mengalami krisis keuangan.

Solusi apa yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris? Menarik pajak rakyat mereka sendiri yang hidup di daerah koloni. Orang Inggris yang berada di Amerika pun tidak menyukai keputusan ini dan mengganggapnya inkonstitusional.

Perlawanan dimulai dari peristiwa Boston Tea Party yang terjadi pada tahun 1773. Peristiwa ini dipicu adanya pajak terhadap teh Britania dan membuat orang-orang koloni membuang semua muatan teh pada kapal Inggris.

Ketegangan semakin berlanjut hingga akhirnya muncul deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1776. Setelah itu, perang pun ters berkecamuk hingga akhirnya Inggris mengakui kedaulatan Amerika Serikat.

Penutup

Penulis jelas tidak berharap kalau di Indonesia akan muncul semacam revolusi karena pemerintah menerapkan kebijakan pajak yang berlebihan. Sampai sekarang semua regulasi masih terlihat masuk akal dan dapat diterima.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua kalau kebijakan pajak yang kurang bijak bisa memicu pergolakan di masyarakat. Mungkin tidak seekstrem Revolusi Prancis dan Amerika Serikat, tapi bisa saja terjadi dalam skala yang lebih kecil.

Sejauh kita merdeka, upaya rakyat terbesar untuk menumbangkan rezim otoriter terjadi pada tahun 1998. Setelah itu, kita memasuki era demokrasi yang cenderung lebih aman dan tidak dipimpin oleh pemerintah yang sewenang-wenang.

Atau, benarkah seperti itu?

 

 

Lawang, 10 Maret 2021, terinspirasi dari berita-berita seputar pajak

Foto: Culture Trip

Sumber Artikel:

Revolusi Prancis – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Revolusi Amerika Serikat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan