Kekepoan yang Hakiki Ala Thomas Alva Edison

Dalam pengamatan penulis, kata KEPO seringkali berkonotasi negatif. Banyak yang menganggap kepo adalah sebuah keingintahuan yang melebih batas. Bahkan, bertanya hal sederhana pun akan disahuti dengan akta kepo.

Penulis tidak mengetahui apakah kata kepo ini sudah masuk secara resmi ke dalam KBBI. Ada yang bilang kepo merupakan akronim dari Knowing Every Particular Object, ada yang menyebut  serapan bahasa Cina kay-poh yang berarti ingin tahu, dan lain sebagainya.

Pada tulisan ini, penulis akan menganggap kepo memiliki arti keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu. Jika berlandaskan definisi tersebut, maka sesungguhnya sebuah kekepoan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi kita.

Penulis akan mengambil contoh salah satu inovator terhebat yang pernah ada selama sejarah manusia berlangsung: Thomas Alva Edison.

Edison dan Kekepoan yang Dimilikinya

Pertama kali penulis mengetahui biografinya adalah ketika membaca komik biografinya sewaktu penulis berada di bangku sekolah dasar. Kisah hidupnya pada komik tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi penulis, hingga sekarang.

Semenjak kecil, Edison sudah memiliki kekepoan yang begitu tinggi. Apa saja yang terlintas di benaknya akan ia tanyakan kepada orang lain, termasuk pertanyaan yang bagi orang lain dianggap sepele.

Hal inilah yang membuat Edison hanya mengenyam pendidikan resmi selama tiga bulan seumur hidupnya. Alasannya, ia dikeluarkan dari sekolah karena terus-menerus melontarkan pertanyaan di luar konteks pelajaran hingga dicap idiot.

(Inilah yang menjadi inspirasi karakter Gisel pada novel penulis)

Nancy (sdntigakuwayuhan.blogspot.com)

Lantas bagaimana dirinya bisa mendapatkan pendidikan? Untunglah sang ibu, Nancy, adalah mantan seorang guru dan begitu memahami anaknya, sehingga Edison bisa tetap mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Selain itu, Edison sangat gemar membaca, termasuk buku-buku berat milik kakaknya. Terkadang, ia juga membuat eksperimen di ruang bawah tanah dan mencoba membuat berbagai macam hal.

Kekepoan yang dimiliki oleh Edison sejak kecillah yang menuntun ia menjadi salah satu inovator terbesar sepanjang sejarah. Ada lebih seribu lebih penemuan yang ia temukan, termasuk bola lampu yang fenomenal.

Jika kepo bisa membuat seseorang bisa mengubah dunia, lantas mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Mengapa Kita Harus Kepo?

Kepo adalah hal yang baik jika dimanfaatkan dengan cara yang benar. Kekepoan akan buruk jika kita gunakan untuk mencari tahu masalah pribadi seseorang. Sebaliknya, jika digunakan untuk mencari ilmu, kepo akan menjadi motor penggerak utama.

Coba seandainya para inovator tidak memiliki kekepoan, bisa-bisa kita masih hidup di era batu. Rasa penasaran mereka demi menemukan solusi yang lebih baik untuk hidup telah berdampak luas hingga kini kita bisa hidup dengan nyaman.

Edison adalah contoh terbaik yang bisa penulis berikan. Rasa keingintahuannnya yang tinggi telah menginspirasi penulis untuk terus mencari tahu ilmu-ilmu yang belum penulis ketahui.

Apalagi, yang namanya ilmu, semakin dipelajari, semakin banyak yang tidak kita ketahui. Itulah mengapa muncul istilah belajar adalah proses seumur hidup.

Kekepoan yang hakiki adalah rasa ingin tahu yang ditujukan untuk meraih ilmu sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh Edison dan penemu lain.

 

 

Kebayoran Lama, 29 November 2018, terinspirasi setelah membaca sedikit biografi tentang Thomas Alva Edison

Foto: wikipedia.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.