Connect with us

Tokoh & Sejarah

Kekepoan yang Hakiki Ala Thomas Alva Edison

Published

on

Dalam pengamatan penulis, kata KEPO seringkali berkonotasi negatif. Banyak yang menganggap kepo adalah sebuah keingintahuan yang melebih batas. Bahkan, bertanya hal sederhana pun akan disahuti dengan akta kepo.

Penulis tidak mengetahui apakah kata kepo ini sudah masuk secara resmi ke dalam KBBI. Ada yang bilang kepo merupakan akronim dari Knowing Every Particular Object, ada yang menyebut  serapan bahasa Cina kay-poh yang berarti ingin tahu, dan lain sebagainya.

Pada tulisan ini, penulis akan menganggap kepo memiliki arti keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu. Jika berlandaskan definisi tersebut, maka sesungguhnya sebuah kekepoan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi kita.

Penulis akan mengambil contoh salah satu inovator terhebat yang pernah ada selama sejarah manusia berlangsung: Thomas Alva Edison.

Edison dan Kekepoan yang Dimilikinya

Pertama kali penulis mengetahui biografinya adalah ketika membaca komik biografinya sewaktu penulis berada di bangku sekolah dasar. Kisah hidupnya pada komik tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi penulis, hingga sekarang.

Semenjak kecil, Edison sudah memiliki kekepoan yang begitu tinggi. Apa saja yang terlintas di benaknya akan ia tanyakan kepada orang lain, termasuk pertanyaan yang bagi orang lain dianggap sepele.

Hal inilah yang membuat Edison hanya mengenyam pendidikan resmi selama tiga bulan seumur hidupnya. Alasannya, ia dikeluarkan dari sekolah karena terus-menerus melontarkan pertanyaan di luar konteks pelajaran hingga dicap idiot.

(Inilah yang menjadi inspirasi karakter Gisel pada novel penulis)

Nancy (sdntigakuwayuhan.blogspot.com)

Lantas bagaimana dirinya bisa mendapatkan pendidikan? Untunglah sang ibu, Nancy, adalah mantan seorang guru dan begitu memahami anaknya, sehingga Edison bisa tetap mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Selain itu, Edison sangat gemar membaca, termasuk buku-buku berat milik kakaknya. Terkadang, ia juga membuat eksperimen di ruang bawah tanah dan mencoba membuat berbagai macam hal.

Kekepoan yang dimiliki oleh Edison sejak kecillah yang menuntun ia menjadi salah satu inovator terbesar sepanjang sejarah. Ada lebih seribu lebih penemuan yang ia temukan, termasuk bola lampu yang fenomenal.

Jika kepo bisa membuat seseorang bisa mengubah dunia, lantas mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Mengapa Kita Harus Kepo?

Kepo adalah hal yang baik jika dimanfaatkan dengan cara yang benar. Kekepoan akan buruk jika kita gunakan untuk mencari tahu masalah pribadi seseorang. Sebaliknya, jika digunakan untuk mencari ilmu, kepo akan menjadi motor penggerak utama.

Coba seandainya para inovator tidak memiliki kekepoan, bisa-bisa kita masih hidup di era batu. Rasa penasaran mereka demi menemukan solusi yang lebih baik untuk hidup telah berdampak luas hingga kini kita bisa hidup dengan nyaman.

Edison adalah contoh terbaik yang bisa penulis berikan. Rasa keingintahuannnya yang tinggi telah menginspirasi penulis untuk terus mencari tahu ilmu-ilmu yang belum penulis ketahui.

Apalagi, yang namanya ilmu, semakin dipelajari, semakin banyak yang tidak kita ketahui. Itulah mengapa muncul istilah belajar adalah proses seumur hidup.

Kekepoan yang hakiki adalah rasa ingin tahu yang ditujukan untuk meraih ilmu sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh Edison dan penemu lain.

 

 

Kebayoran Lama, 29 November 2018, terinspirasi setelah membaca sedikit biografi tentang Thomas Alva Edison

Foto: wikipedia.com

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tokoh & Sejarah

Kimi Raikkonen: The Iceman yang akan Dirindukan

Published

on

By

Pada tulisan Idola Bernama Michael Schumacher, Penulis sudah menyinggung tentang dirinya yang lebih menyukai Formula 1 ketimbang MotoGP. Apalagi sewaktu kecil, Penulis menyukai ajang balapan ini karena sosok Schumacher.

Walaupun begitu, ada beberapa pembalap lain yang Penulis ikuti sepak terjangnya. Salah satunya adalah The Iceman, Kimi Raikkonen. Apalagi, ia adalah sosok yang menggantikan Schumacher ketika pensiun di akhir musim 2006.

Beberapa waktu lalu, Raikkonen telah mengumumkan akan pensiun di akhir musim ini. Ia mengumumkan hal tersebut melalui akun Instagram-nya sebagai berikut:

Sebuah perjalanan panjang yang cukup untuk menjadi alasan Penulis menuliskan rangkuman kisahnya melalui artikel ini berdasarkan ingatan Penulis (dan tentu bantuan dari sumber-sumber lainnya).

Awal Karir Raikkonen di F1

Raikkonen di Sauber (Motor1)

Penulis ingat betul, pertama kali mengetahui Raikkonen adalah melalui majalah F1 di mana ia menggunakan pakaian tim Sauber. Kalau tidak salah, waktu itu ia masih menjadi seorang rookie. Ketika Penulis tonton perjalanannya, Penulis mengetahui kalau karirnya lumayan “lompat”.

Walaupun begitu, ia berhasil menunjukkan kalau dirinya merupakan pembalap yang menjanjikan. Menjalani debut di tahun 2001, Raikkonen berhasil mengumpulkan 9 poin dan membantu Sauber untuk bertengger di posisi 4 klasemen konstruktor.

Penampilan impresif tersebut membuat pembalap legendaris Mclaren Mercedes, Mika Hakkinen, membujuk petinggi tim untuk merekrut Raikkonen untuk menggantikan dirinya yang akan pensiun dan meninggalkan tim. (Kekuatan orang dalam)

Raikkonen di Mclaren Mercedes (Crash)

Meskipun terkesan nepotisme karena sama-sama orang Finlandia, akhirnya Mclaren merekrut Raikkonen untuk musim 2002. Sayangnya, mobil Mclaren pada tahun tersebut (dan tahun-tahun berikutnya) kerap memiliki performa buruk yang memengaruhi hasil balapan.

Kemenangan perdana Raikkonen di F1 baru diraih di musim 2003 di sirkuit Sepang, Malaysia. Pada musim tersebut juga ia berhasil menjadi runner-up klasemen pembalap, dua poin di belakang Michael Schumacher.

Masalah reabilitas mobil menghantui Mclaren selama bermusim-musim. Mungkin karena merasa sulit berkembang dan meraih prestasi, Raikkonen memutuskan untuk hengkang ke Ferrari pada musim 2007.

Pengganti Schumacher

Juara Dunia Bersama Ferrari (Twitter)

Setelah dominasinya dipatahkan oleh Fernando Alonso selama 2 musim, secara mengejutkan Michael Schumacher memutuskan pensiun pada tahun 2006. Hal ini membuat Ferrari harus mencari penggantinya, dan pilihan itu jatuh ke tangan Raikkonen.

Kepindahan ini langsung berbuah manis, Raikkonen berhasil menjadi juara dunia dengan selisih hanya satu poin dari Lewis Hamilton dan Fernando Alonso. Itu merupakan satu-satunya gelar juara dunia yang pernah ia raih dalam karirnya.

Sayangnya, tahun-tahun berikutnya merupakan tahun yang suram untuk Raikkonen. Mobilnya kerap bermasalah dan tampaknya hubungannya dengan tim juga kurang harmonis. Puncaknya, kontraknya harus diputus di tahun 2009 karena Ferrari akan merekrut Fernando Alonso.

Akibatnya, Raikkonen pun memutuskan untuk keluar dari F1 sementara waktu. Ia mencoba ajang balapan lain seperti WRC dan bergabung dengan tim Citroen. Ia juga pernah mencoba ajang NASCAR.

Kembali ke F1

Raikkonen di Lotus (Boss Hunting)

Kurang lebih dua tahun nama Raikkonen menghilang dari dunia F1. Baru di tahun 2012 lah ia melakukan comeback bersama tim Lotus F1. Debutnya setelah pensiun tidak mengecewakan, ia berhasil duduk di peringkat tiga di musim tersebut.

Pada tahun 2014, ia kembali ke klub lamanya, Ferrari. Salah satu alasannya meninggalkan Lotus F1 adalah karena masalah penundaan gaji dan bonus. Maklum, klub tersebut menjanjikan sejumlah uang untuk setiap poin yang dihasilkan Raikkonen. Eh, ternyata poin yang berhasil dikumpulkan banyak.

Ditandemkan dengan Fernando Alonso, Kimi memulai musim baru bersama klub baru dengan buruk. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2002, ia mengakhiri musim tanpa pernah sekalipun naik ke podium.

Raikkonen bertahan di Ferrari hingga tahun 2018. Mulai musim 2019, ia kembali klub yang membantu melambungkan namanya, Sauber, yang kini telah berganti nama menjadi Alfa Romeo.

Setelah kurang lebih 20 tahun berkarir di F1, Raikkonen akhirnya memutuskan untuk menggantung stir di akhir musim 2021 ini.

Penutup

Meskipun hanya sekali berhasil menjadi juara dunia, nama Raikkonen jelas bisa dianggap sebagai legenda di F1 karena sikap dingin dan masa bodo yang dimiliki. Kompilasinya di radio tim menjadi salah satu favorit fan untuk ditonton berulang-ulang.

Tentu menyedihakan bagi penggemar F1 di seluruh dunia harus berpisah dengan pembalap yang begitu ikonik dan mewarnai ajang balap jet darat ini selama 20 tahun. Sepertinya akan susah untuk menemukan penggantinya di masa depan.

Kiitos paljon, Kimi, selamat menikmati masa pensiunmu!


Lawang, 10 November 2021, terinspirasi setelah menonton beberapa video tentang Raikkonen

Foto: F1

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Benarkah Apple Telah Berhenti Berinovasi?

Published

on

By

Beberapa tahun terakhir ini bukan tahun yang terlalu bagi Apple. Bukan karena penurunan profit (mereka masih jadi salah satu perusahaan terkaya di dunia), melainkan karena hujatan-hujatan yang dilemparkan oleh publik kepada mereka.

Alasan utamanya adalah minimnya inovasi yang mereka hasilkan sekarang jika dibandingkan dengan era mendiang Steve Jobs. Banyak yang mencibir Apple hanya menjual produk lama yang dikemas baru, terutama dari lini iPhone dan MacBook.

Seandainya Jobs masih hidup, apakah ia bisa membawa Apple untuk tetap inovatif seperti dulu? Atau benarkah Apple benar-benar sudah berhenti berinovasi dan akan bernasib sama seperti Nokia dan Blackberry?

Steve Jobs Pernah Selamatkan Apple

Steve Jobs (Neoluxor)

Pasti banyak yang sudah mendengar kalau Steve Jobs pernah ditendang dari perusahaan yang ia dirikan di pertengahan 80-an. Jika pernah, pasti tahu kalau akhirnya Steve Jobs melakukan comeback di tahun 1996 dan menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut tersebut.

Bagaimana cara Steve Jobs menyelamatkan Apple di akhir 90-an dan berhasil menjadikannya sebagai perusahaan paling bernilai di dunia? Hal pertama yang ia lakukan adalah menentukan fokus produk apa saja yang akan dijual.

Pada masa-masa ketika ditinggal Jobs, Apple mengeluarkan hampir segala macam produk, mulai dari printer hingga PDA ber-stylus bernama Newton yang sangat dibenci Jobs. Selain itu, komputer yang diproduksi Apple pun berseri-seri, mulai dari seri 1400 hingga 9600.

Begitu Jobs menjadi iCEO (interim CEO), ia hampir mencoret semua produk tersebut dan menentukan fokus Apple ke dalam 4 bidang yang ia tuliskan ke dalam tabel.

Dua kolom di atas diberi judul “Konsumen” dan “Pro”, lalu Dua baris di samping diberi judul “Desktop” dan “Portabel”. Empat produk itulah yang akan diproduksi Apple untuk menggantikan produk-produk di era sebelum Jobs.

Steve Jobs dan iPod (Extremetech)

Kebangkitan Apple dimulai ketika iPod dirilis pada tahun 2001. Meskipun bukan pemutar musik portable pertama di dunia, iPod berhasil merevolusi cara user mendengarkan musik secara mudah.

Puncak kesuksesan Apple diraih ketika iPhone rilis pada tahun 2007, di mana Jobs mengatakan bahwa, “Today Apple is going to reinvent the phone“. Smartphone yang ditawarkan oleh Apple benar-benar berbeda dari milik kompetitor.

Kehadiran iPhone dianggap benar-benar mengubah industri ponsel, bahkan membuat Nokia yang begitu dominan di awal 2000-an harus jatuh secara tragis. Brand lain pun kerap dianggap membuntuti kesuksesan Apple.

Begitulah cara Steve Jobs menyelamatkan Apple dari kebangkrutan. Sebenarnya masih banyak dobrakan yang dilakukan oleh Jobs, tetapi tiga contoh di atas sudah cukup. Pertanyaannya, dapatkah Jobs menyelamatkan Apple dari cap minim inovasi dari publik?

Benarkah Apple Sudah Berhenti Berinovasi?

Cook dan Apple Watch (Los Angeles Times)

Sebenarnya kurang fair jika Apple dianggap sudah berhenti berinovasi. Mereka masih terus (berusaha) memproduksi barang berkualitas dengan penggunaan yang mudah untuk dipelajari, serta mendukung ekosistem Apple yang sangat solid.

Di era Tim Cook, setidaknya Apple sudah merilis Apple Watch yang mengubah lini jam tangan dan AirPods yang membuat para kompetitor berama-ramai membuat produk serupa. Jika Jobs masih hidup, kemungkinan ia juga akan merilis kedua produk tersebut.

Inovasi di era Jobs lebih “mudah” dilakukan karena memang belum ada produk yang bagus. Pemutar musik masih banyak yang ampas, smartphone yang ada penggunaannya begitu kompleks dan menyusahkan.

Jobs dan Apple, meskipun bukan sebagai yang pertama melakukannya, berhasil membuat barang produksi mereka menjadi pendobrak pasar. Itulah alasan utama mengapa Apple di era Jobs dianggap inovatif jika dibandingkan dengan era Cook.

Kompetitor di era Cook jauh lebih sengit dibandingkan dengan era Jobs dulu. Samsung, Google, Microsoft, merek-merek China, semua berlomba-lomba menghadirkan produk terbaik untuk menarik perhatian konsumen, bahkan menemukan sebuah hal baru.

Bahkan, sebenarnya Cook sudah melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dilakukan oleh Jobs, seperti benar-benar memperhatikan masalah lingkungan, lebih aktif di bidang amal, hingga berusaha untuk dekat dengan media. Hanya saja, rasanya pengguna tidak terlalu memedulikan hal tersebut.

Lantas, Kenapa Apple Dicap Berhenti Berinovasi?

iPhone 13 (TechRadar)

Apple dicap tidak inovatif karena lini iPhone-nya seolah stuck sejak tahun 2017, ketika iPhone X pertama kali diperkenalkan. Selain kamera dan prosesor yang terus diperbarui, memang nampaknya tidak banyak hal yang berubah dari smartphone ini.

Parahnya lagi, Apple memutuskan untuk menghilangkan kepala charger dari kardus penjualan dengan alasan “lingkungan”. Hal ini seolah mengulang kontroversi ketika Apple memutuskan untuk menghilangkan lubang headphone jack di iPhone 7 demi mendongkrak penjualan AirPods.

Selain itu, MacBook Pro yang baru saja mereka rilis juga menuai cibiran dari publik. Bukan karena fiturnya (bahkan Apple mendengar masukan pengguna sehingga mengembalikan beberapa port), melainkan karena harganya yang selangit.

Memang, hampir tidak ada laptop yang mampu menyaingi MacBook dari segi performa dan efisiensi. Chip M1 mereka benar-benar menjadi sebuah terobosan yang rasanya akan sulit disaingi oleh para produsen laptop lainnya.

Akan tetapi, harga yang begitu mahal bisa membuat pengguna lebih memilih laptop atau komputer Windows karena merasa dengan anggaran yang sama, mereka bisa mendapatkan produk yang lebih baik lagi.

Akankah Apple akan Bernasib Sama dengan Nokia?

Pernah Menjadi Raja di Masanya (Engadget)

Jika Apple memang stuck dan seolah terjebak di zona nyamannya, akankah mereka akan bernasib sama dengan Nokia? Rasanya tidak, setidaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Berbeda dengan Nokia yang menggantungkan profitnya dari penjualan ponsel, Apple sekarang telah tumbuh besar dan memiliki banyak sekali produk yang dijual di pasaran. Mac, iPad, Apple Watch, AirPods, Apple Pencil, ada beragam produk untuk mendukung ekosistem Apple.

Brand Apple yang telah dibangun oleh Jobs memiliki fondasi yang begitu kuat, sehingga rasanya tidak akan mudah goyah. Meskipun sudah berkurang, filosofi perusahaan masih berusaha dipertahankan oleh Cook dan tim.

Selain itu, masyarakat juga sudah mengakui kalau Apple adalah brand dengan kasta tertinggi untuk kategori teknologi. Bagi mereka yang ingin merasa prestige, memiliki produk Apple adalah sebuah kewajiban meskipun fitur yang ditawarkan produk kompetitor lebih baik.

Memang, sering ada candaan kalau Apple seolah selalu “terlambat” dalam menghadirkan fitur di produk mereka. Hanya saja, kualitas yang dimiliki biasanya lebih baik dari kompetitor yang sudah merilis fitur tersebut terlebih dahulu.

Patut untuk dicatat, publik akan semakin cerdas dalam memilih perangkat yang ideal dan bisa mengakomodir kebutuhan mereka. Jika Apple tidak mampu menawarkan kelebihan dibandingkan kompetitornya, mereka bisa saja ditinggalkan oleh fan garis kerasnya.

Penutup

Seandainya Jobs masih hidup dan menerapkan strategi yang sama, rasanya cap tidak inovatif dari publik akan sedikit berkurang karena Jobs mampu meyakinkan orang dengan lihainya. Kharisma yang dimiliki seolah membuat kita percaya begitu saja apa katanya.

Selain itu, Penulis merasa ada beberapa keputusan yang diambil diera Cook akan ditentang oleh Jobs. Dari dulu, Jobs selalu menekankan kesederhanaan lini produknya. Apple sekarang terlihat terlalu memiliki banyak pilihan. iPhone saja sekarang ada 4 jenis setiap tahun.

Mungkin akan ada produk revolusioner baru yang akan diperkenalkan oleh Jobs, meskipun Penulis sendiri kesulitan untuk membayangkan produk teknologi apa yang akan mendobrak pasar. Rasanya, semua teknologi yang kita pegang saat ini sudah bagus-bagus semua.

Jadi jika ditanya apakah Apple telah berhenti berinovasi, jawabannya adalah iya dan tidak. Di satu sisi, Apple terus memperkuat ekosistemnya dengan membuat lebih banyak produk baru. Di sisi lain, Apple nampak kesulitan untuk menemukan hal baru untuk perangkat mereka.

Jika 1-2 tahun ke depan Apple tetap merilis iPhone baru tanpa pembaruan berarti, mungkin kita baru bisa berpendapat kalau Apple memang telah berhenti berinovasi, setidaknya dari lini smartphone yang berhasil membuat mereka menjadi perusahaan seperti sekarang.


Foto: Emarat Daily

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Sejarah Singkat Konflik Palestina-Israel

Published

on

By

Beberapa minggu terakhir, konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas. Ada banyak penyebabnya, Penulis sendiri tidak begitu tahu mana yang jadi pemantik utamanya. Kemungkinan besar adalah adanya sabotease Israel terhadap masjid Al-Aqsa.

Hanya saja, Penulis jadi merasa penasaran atas konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini. Apa sebenarnya akar permasalahannya? Mengapa Israel menduduki tanah Palestina? Apa yang menjadi dasar Israel bisa menjadi sebuah negara dan diakui dunia?

Atas dasar itulah Penulis melakukan riset kecil-kecilan dengan menonton beberapa video di YouTube. Video-video tersebut menjadi sumber utama artikel kali ini, artikel tentang sejarah singkat konflik Palestina-Israel.

Theodor Herzl dan Zionisme

Theodor Herzl (My Jewish Learning)

Jika ditarik ke belakang, bangsa Yahudi memiliki sejarah yang begitu panjang hingga ke zaman para nabi. Singkat cerita, banyak orang Yahudi yang harus meninggalkan tanah Palestina dan tersebar ke berbagai penjuru dunia karena berbagai konflik yang terjadi.

Di akhir tahun 1800-an, tanah Palestina secara de jure berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Ottoman. Di wilayah tersebut, orang Muslim, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan secara relatif damai.

Lantas, seorang tokoh Austria-Hungarian bernama Theodor Herzl memperkenalkan ide Zionisme, sebuah konsep negara Yahudi di tanah leluhur mereka, Palestina.

Alasannya, menurut kitab kepercayaan mereka tanah tersebut adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. Nenek moyang mereka berasal dari sana dan pernah tinggal di sana.

Salah satu latar belakang ideologi ini adalah rasisme dan tingginya sikap antisemitisme masyarakat dunia terhadap orang-orang keturunan bangsa Yahudi. Mereka merasa harus memiliki negara sendiri agar merasa aman dan terlindungi.

Inilah cikal bakal dari berdirinya negara Israel dan mengapa mereka memilih wilayah Palestina di Timur Tengah.

Kejatuhan Kesultanan Ottoman

Wilayah Kekuasaan Ottoman (Quizizz)

Beberapa tahun berselang setelah Herzl mengungkapkan teorinya, Perang Dunia I. Kesultanan Ottoman ternyata bersatu dengan Jerman dan Austro-Hungaria sebagai Blok Sentral. Mereka melawan Blok Sekutu yang beranggotakan Inggris, Prancis, dan lainnya.

Setelah perang berkecamuk, Blok Sentral harus menderita kekalahan. Kesultanan Ottoman hancur hampir tak bersisa. Wilayahnya dicaplok pemenang perang, termasuk Palestina yang saat itu dikuasai oleh Inggris.

Orang-orang Yahudi pun bernegosiasi, meminta agar impian mereka mendirikan negara Yahudi di Palestina dapat terwujud dengan bantuan Inggris. Permintaan tersebut dikabulkan, sehingga setelah Perang Dunia I banyak orang-orang Yahudi yang bermigrasi ke Palestina.

Bangsa Palestina saat itu juga tengah berusaha mengusir Inggris dari tanah mereka. Sama seperti bangsa terjajah lainnya, mereka menginginkan kemerdekaan dan berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Sayangnya hingga Perang Dunia II berakhir, kemerdekaan itu tak kunjung mereka dapatkan. Justru, mereka harus rela ada bangsa lain yang “baru datang” langsung diakui sebagai negara.

Kelahiran Negara Israel

Wilayah Israel dan Palestina (VOI)

United Nations alias Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) lahir di tahun 1945 setelah organisasi sebelumnya, League of Nation (Liga Bangsa-Bangsa), dianggap gagal menjalankan salah satu fungsinya sebagai penjaga kedamaian dunia.

Nah, salah satu hal pertama yang dilakukan oleh PBB adalah menyelesaikan konflik di tanah Palestina antara bangsa Arab dan Yahudi sebagai pendatang.

Pada tahun 1947, mereka memutuskan untuk membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian, satu untuk orang-orang Yahudi dan satu untuk bangsa Arab. Satu tahun kemudian pada tahun 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan diakui oleh PBB.

Nah, proklamasi inilah yang memantik emosi bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya. Perang pun tak terhindarkan yang berhasil dimenangkan oleh Israel. Wilayah Palestina yang sudah dibagi oleh PBB seolah menjadi tak berlaku, Israel memperluas wilayahnya dengan memakan “jatah” bangsa Palestina.

Semenjak itu, perang seolah menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Negara-negara tetangga seperti Mesir dan Suriah sempat memerangi Israel (dikenal dengan nama Perang Enam Hari), tetapi lagi-lagi Israel berhasil memenangkan peperangan.

Perlawanan Palestina

Yasser Arafat (Getty Images)

Semenjak pemisahan wilayah yang dilakukan oleh PBB pada tahun 1947, bangsa Palestina terbagi menjadi ke dua wilayah: Jalur Gaza dan Tepi Barat (West Bank). Hanya saja, wilayah ini pun makin ke sini makin dicaplok oleh Israel yang ingin memperluas wilayahnya.

Bangsa Palestina jelas tidak diam saja melihat wilayahnya makin lama makin habis. Palestine Liberation Organization (PLO) berdiri pada tahun 1964. Salah satu tokohnya yang paling terkenal adalah Yasser Arafat, yang nantinya juga menjadi pemimpin PLO.

Organisasi ini mengupayakan kemerdekaan mutlak untuk bangsa Palestina, termasuk melakukan penyerangan terhadap Israel. Gelombang serangan masif yang pertama adalah Intifada pertama yang terjadi pada tahun 1987 sampai 1993. Intifada kedua terjadi pada tahun 2000 sampai 2005.

Selain kedua penyerangan tersebut, masih ada banyak perlawanan yang dilakukan oleh Palestina demi mendapatkan hak mereka yang direbut secara paksa. Hanya saja, sampai saat ini Israel masih berdiri kukuh di atas tanah mereka.

Ada upaya damai yang berusaha dilakukan, seperti Perjanjian Camp David pada tahun 1978 dan Perjanjian Oslo yang dilakukan pada tahun 1993. Hanya saja, efek damai yang diharapkan tidak pernah muncul.

Israel beberapa kali menawarkan “kemerdekaan” untuk Palestina, namun selalu ditolak karena mereka ingin kedaulatan penuh di seluruh wilayah mereka. Bangsa Palestina tidak pernah setuju dengan konsep dua negara yang ditawarkan oleh Israel.

Kesimpulan

Sejarah singkat yang Penulis rangkum di atas jelas tidak cukup untuk menjelaskan semua akar permasalahan konflik Palestina-Israel. Oleh karena itu, Penulis menyantumkan video-video yang dapat menjelaskan konflik ini secara lebih rinci.

Jika mau diringkas lagi, awal masalahnya adalah ketika Inggris menguasai wilayah Palestina setelah kejatuhan Kesultanan Ottoman. Mereka mengizinkan bangsa Yahudi untuk masuk ke wilayah tersebut, upaya pertama agar Zionisme bisa terlaksana.

Orang-orang Palestina yang sudah ada di sana sejak lama jelas tidak ingin wilayahnya diambil alih secara paksa, apalagi sampai dijadikan sebagai satu-satunya negara Yahudi di dunia. Akhirnya, konflik berdarah pun terus berlangsung hingga saat ini.

Lantas, bagaimana pendapat Penulis atas konflik ini? Apakah ada solusi untuk mengatasi pertikaian ini? Bagaimana pandangan generasi muda terhadap permasalahan ini? Semua akan Penulis jelaskan pada tulisan selanjutnya.


Lawang, 19 Mei 2021, terinspirasi setelah mempelajari banyak sejarah seputar konflik Palestina-Israel

Foto: | EU Neighbours

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan