<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dewasa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/dewasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/dewasa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Jul 2022 14:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>dewasa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/dewasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Logika Sesat Bintang Satu</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 14:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bintang satu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5796</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif. Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber gaming terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif.</p>



<p>Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber <em>gaming </em>terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta untuk permainan capit yang bisa mendapatkan berbagai hadiah.</p>



<p>Di video tersebut, sang YouTuber memang terlihat kesal karena tidak pernah berhasil meskipun sudah mengeluarkan uang banyak. Alhasil, tempat bermain tersebut langsung diserbu penggemar sang YouTuber dan menghujaninya dengan bintang satu di Google.</p>





<p>Ketika Penulis mencoba untuk membaca <em>review-</em>nya di Google, terlihat jika mereka ikut melampiaskan emosi mereka walaupun mereka tidak mengalami kerugian apapun. Ada yang menulis tempat tersebut <em>scam</em>, ada yang cuma ikut-ikutan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Melihat respons negatif yang sedemikian besar, sang YouTuber pun langsung memutuskan melakukan <em>takedown </em>video tersebut. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, banjir bintang satu sudah membuat rating dari tempat tersebut benar-benar anjlok.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Pertama Kalinya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5799" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sungai Aare (<a href="https://www.bern.com/en/aare-river">Bern</a>)</figcaption></figure>



<p>Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Ketika almarhum Eril (anak dari Ridwan Kamil) meninggal di Sungai Aare, banyak netizen yang juga memberikan bintang satu kepada sungai tersebut.</p>



<p><em>Iya, sebuah sungai diberi bintang satu oleh netizen kita</em>.</p>



<p>Padahal, sungai tersebut tidak salah apa-apa. Kematian Eril merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Memberi bintang satu hanya akan memalukan nama Indonesia di mata internasional karena aksi yang norak tersebut.</p>



<p>Pernah juga kejadian ada sebuah aplikasi di Polandia yang harus menerima <em>review </em>buruk hanya karena namanya sama dengan aplikasi/layanan di Indonesia. Ini seolah menjadi bukti kalau literasi kita masih sangat rendah.</p>



<p>Di dunia <em>esports </em>(tempat Penulis sering berkecimpung sekarang), mungkin tidak ada &#8220;fitur&#8221; untuk memberi bintang satu. Sebagai gantinya, jurus <em>report </em>akun lawan pun dilakukan jika tim kesayangannya kalah.</p>



<p>Contoh-contoh kasus di atas patut kita evaluasi bersama, bagaimana kita belum bisa dewasa dalam menggunakan internet secara global.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedewasaan dalam Menggunakan Internet</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Internet Penuh dengan Orang Toxic (<a href="https://bdtechtalks.com/toxic-centralized-internet/">Tech Talks</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang, kita boleh mengekspresikan diri di internet. Apa yang dilakukan oleh para netizen dengan memberikan bintang satu adalah wujud kekecewaan mereka. Kebetulan, bintang satu seolah bisa memberikan <em>impact </em>yang lebih besar daripada sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">marah-marah membuat status di media sosial</a>.</p>



<p>Namun, apa yang dilakukan tersebut jelas merugikan pihak lain. Tempat bermain yang baru saja dihujani bintang satu sebelumnya sering mendapatkan <em>review </em>yang positif dari pengunjung yang benar-benar pernah ke sana.</p>



<p>Opini <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em> yang mereka berikan jelas sangat bersifat subyektif hanya demi &#8220;melindungi&#8221; atau &#8220;membela&#8221; idola mereka. Apalagi, mereka sendiri belum pernah ke lokasi tersebut sehingga rasanya memang benar-benar aneh.</p>



<p>Fitur memberi rating kepada suatu tempat di Google sebenarnya berfungsi untuk membantu pengguna lain yang belum pernah ke sana. Jika mereka ingin pergi ke tempat tersebut, beberapa ingin tahu bagaimana ulasan tentang tempat tersebut, apakah banyak yang puas atau justru banyak yang kecewa.</p>



<p>Dengan adanya serangan bintang satu tersebut, tentu rating dari tempat tersebut menjadi turun sehingga membuat orang lain merasa ragu-ragu ingin pergi ke sana. Logika sesat ini pada akhirnya akan merugikan tempat yang bersangkutan.</p>



<p>Untuk itu, kita perlu belajar untuk lebih dewasa lagi dalam menggunakan internet. Salah satu caranya adalah dengan memahami apa fungsi sebuah fitur dan menggunakannya secara tepat. Selain itu, kita harus menghindari melakukan hal-hal yang bisa merugikan pihak lain.</p>



<p>Entah sampai kapan logika sesat dengan memberikan bintang satu secara subyektif bahkan iseng ini bisa berakhir. Semoga saja pada akhirnya, kita semua bisa lebih dewasa dalam menggunakan dan memanfaatkan internet.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2022, terinspirasi setelah adik bercerita tentang adanya sebuah tempat bermain yang diserbu dengan bintang satu setelah seorang YouTuber bermain di sana</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/s/photos/arcade">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Dewasa Itu&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2022 13:28:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5623</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Grow up, act according to your age, you are not a child anymore.&#8221; Anonymous Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;<em>Grow up, act according to your age, you are not a child anymore</em>.&#8221;</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<p>Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. </p>



<p>Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut akhirnya Penulis tuangkan dalam tulisan ini. Semoga saja, tulisan ini mampu menginspirasi Pembaca dan Penulis sendiri tentang menjadi seorang dewasa.</p>





<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau hidup ini ada di tangan kita. Kita punya tanggung jawab yang besar untuk diri sendiri. Jangan menjadi benalu bagi orang lain, bahkan kalau bisa kita yang meringankan beban mereka.</p>



<p><em><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Menjadi dewasa itu&#8230;</a></strong></em></p>



<p>Tidak boleh <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">terlalu banyak rebahan</a> dan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Harus terus mengembangkan diri, bahkan menghasilkan suatu karya sekecil apapun. Jadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitarnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tidak semua hal bisa kita kontrol</a>. Apa yang benar-benar bisa kendalikan adalah diri kita sendiri dan respon kita atas semua peristiwa yang terjadi. Jangan terlalu berharap dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Memiliki kontrol diri yang lebih baik lagi. Tak mudah untuk terpancing emosinya hanya karena masalah-masalah sepele. Mampu meredam amarah dan berpikir jernih meskipun ada peristiwa yang melukai batinnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti menyalahkan diri</a> sendiri atas sesuatu yang di luar kendali kita. Apapun yang terjadi, lebih baik curahkan energi untuk mencari solusi daripada hanya merutuk diri sendiri. Sekali lagi, memahami kalau ada banyak hal yang tidak bisa kita kontrol.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berani menghadapi masalah secara langsung dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/">tidak lari dari masalah</a>. Apalagi kalau masalah tersebut berasal dari kita, harus berani tanggung jawab. Mau seberat apapun masalah, kabur darinya tidak pernah menjadi pilihan.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa menerima kenyataan yang terjadi tanpa merengek-rengek betapa tidak adilnya dunia. Sepahit apapun yang terjadi dalam hidup, harus yakin kalau Tuhan punya skenario yang lebih baik untuk kita.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa jadi sosok yang tangguh dan kuat. Tidak boleh dengan mudah menunjukkan sisi lemah ke orang lain. Tidak boleh jadi pribadi yang cengeng dan mudah menyerah. Tidak boleh selalu menyalahkan orang lain tanpa melakukan interopeksi diri</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berusaha untuk selalu berbenah menjadi lebih baik lagi, sedikit demi sedikit. Tak pernah lelah untuk belajar demi diri sendiri. Mampu mencintai diri lebih hebat lagi dari sebelumnya. Terus berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Selalu bisa bangkit dari segala kejatuhan yang diderita. Sedih, marah, kecewa, hanya boleh dialami sesaat, tidak boleh berlarut-larut hingga mengganggu keseharian. Harus bisa tetap berdiri dalam keadaan sesulit apapun.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu</strong></em></p>



<p>Punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">kepedulian terhadap dirinya sendir</a>i tanpa berubah menjadi sosok yang egois. Mampu menolong dan mencintai dirinya sendiri sebagaimana ketika dilakukan untuk orang lain. Memahami betapa pentingnya <em>self-love </em>untuk diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Punya kekuatan untuk menolong orang lain tanpa berharap imbalan apapun. Mampu peduli dan punya empati untuk orang lain tanpa berharap akan mendapatkan hal yang sama dari mereka. <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Memiliki keikhlasan untuk peduli</a> tanpa syarat.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda 180 derajat sekalipun. Berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyamannya jika itu dirasa akan membuat dirinya menjadi lebih baik lagi. </p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mampu <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">menghargai orang yang <em>stay</em></a>, mampu menghargai orang yang memutuskan untuk pergi. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Berusaha mengerti dan memahami orang lain</a> tanpa menghakimi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dan tak mengulanginya di masa depan. Menjadikannya sebagai pembelajaran di masa depan agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">mengolah ekspektasi</a> dengan lebih baik lagi. Harus menyadari kalau semakin tinggi harapannya, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">semakin sakit jatuhnya</a>. Tidak terlalu berharap pada manusia, hanya menaruhnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memilah prioritasnya dengan baik, tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditinggal untuk sementara. Kita juga <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">harus bisa memahami prioritas orang lain</a> dan tidak boleh berharap akan diprioritaskan oleh orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menerima kritikan dan masukan dari orang lain dengan lapang dada. Tidak menganggap masukan sebagai sesuatu yang ofensif. Mengambil hikmah dan berusaha menerima kata orang dari sisi positifnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Tidak boleh banyak berharap kepada orang lain karena kita harus menjadi sosok yang mandiri dan tangguh. Kita harus belajar untuk mengandalkan diri sendiri. Diri ini harus didorong terus hingga melampaui batasannya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memaafkan bahkan untuk sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Mampu memberi maaf walau orang yang berbuat salah tidak memintanya. Mampu mengikhlaskan perbuatan buruk orang lain tanpa punya niat untuk membalasnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><strong>Menjadi dewasa itu berat</strong>. Kita bukan anak kecil lagi yang selalu dilindungi oleh orang tua. Fase transisi yang kita lalui pasti tidak mudah. Namun, kita pasti bisa melewatinya. Pada akhirnya, kita akan tumbuh dan harus bertindak sesuai usia kita.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Maret 2022, terinspirasi dari hasil kontemplasinya mengenai menjadi dewasa</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nathan_mcb">Nathan McBride</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2022 14:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu quote darinya yang Penulis ingat hingga sekarang: &#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221; Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu <em>quote </em>darinya yang Penulis ingat hingga sekarang:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221;</p></blockquote>



<p>Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya sebuah kutipan keren yang ia temukan dan mungkin ingin dibagikan ke orang lain.</p>



<p>Setelah Penulis berada di usia yang cukup untuk disebut dewasa, barulah Penulis menyadari kalau <em>quote </em>tersebut memiliki makna yang mendalam.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Umur</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5564" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Umur Itu Pasti (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika memasuki <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">babak pertama dalam kehidupan</a> (Baca: Lahir), kita mulai dari angka 0. Setelah itu, setiap tahun angka tersebut akan bertambah secara berurutan hingga ajal menjemput.</p>



<p>Umur hanyalah deretan angka-angka tersebut yang bersifat mutlak dan tidak bisa dihindari maupun dimanipulasi. Misal, kita ingin tahun depan usia kita justru berkurang biar awet muda, ya tidak bisa seperti itu. </p>



<p>Umur terikat oleh waktu, sehingga tak akan pernah punya kesempatan untuk diulang. Mau pakai kosmetik atau <em>make up </em>apapun untuk menyamarkan bentuk wajah atau fisik kita, umur kita akan tetap dan tidak akan bisa berubah.</p>



<p>Umur akan selalu melekat pada kita, tak peduli seberapa kita senang maupun takut dengannya. Ada yang tak sabar ingin segera berusia 17 tahun, karena katanya itu merupakan angka transisi dari remaja ke dewasa. Ada yang takut masuk ke usia ke-30, karena merasa dirinya masih ingin senang-senang.</p>



<p>Umur hanyalah sebuah angka, yang mungkin bisa menjadi parameter muda-tua. Akan tetapi, umur tidak bisa menjadi sebuah parameter lain, seperti tingkat kedewasaan seseorang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Dewasa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5565" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dewasa Itu Pilihan (<a href="https://unsplash.com/@jeshoots">JESHOOTS.COM</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa itu dewasa? Apa ciri-ciri orang bisa dianggap dewasa? Tentu ada banyak pendapat mengenai hal ini. Masing-masing memiliki argumennya sendiri. Bagi Penulis sendiri, dewasa tidak bisa terikat dengan satu makna karena ia sangat luas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti bisa menempatkan diri di segala situasi dengan baik. Dewasa mungkin bisa mengendalikan diri dan emosinya dengan baik. Dewasa mungkin ketika telah merasa dirinya telah memiliki tanggung jawab, setidaknya untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti menjadi bijaksana ketika sedang dirundung masalah. Dewasa mungkin bisa mengetahui mana yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri mana yang bisa dibagi ke orang lain. Dewasa mungkin ketika kita bisa memilah mana yang seharusnya menjadi prioritas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti mengemban amanah baik dari skala kecil seperti keluarga maupun skala yang lebih besar. Dewasa mungkin bisa mengerjakan banyak hal yang anak-anak maupun remaja tidak bisa melakukannya. Dewasa mungkin ketika kita mampu meredam ego pribadi.</p>



<p>Segala definisi di atas tersebut bisa dialami semua, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali oleh kita. Nah, beberapa ciri-ciri di atas bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang umurnya, karena kedewasaan sesungguhnya tidak terlalu berkorelasi dengan umur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keterkaitan Umur dan Kedewasaan</h2>



<p>Memang, umur kerap dikaitkan dengan dewasa. Patokannya berbeda-beda, tapi banyak yang menyebutkan kalau mulai usia 20-an lah manusia memasuki umur dewasanya. Hanya saja, setiap orang tentu berbeda.</p>



<p>Mungkin ada yang dewasa lebih cepat karena tekanan lingkungannya. Ada yang sudah mencapai kepala tiga, tetapi tidak dewasa sama sekali dan kerap bersikap kekanakan. Semua ini sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Orang yang hidupnya selalu enak dan serba terpenuhi mungkin akan lebih tidak dewasa dibandingkan orang yang hidupnya susah dan sangat <em>struggle</em>. Anak yang biasa dimanja orang tua mungkin akan lama dewasanya dibandingkan anak yang memiliki orang tua keras.</p>



<p><strong>Dewasa dan kedewasaan itu berbeda</strong>. Berada di usia dewasa tidak otomatis menjadikan kita memiliki sikap kedewasaan. Sebaliknya, di usia muda pun bukan tidak mungkin memiliki kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang lebih tua.</p>



<p>Semakin bertambahnya umur, semakin pelik pula masalah yang akan dihadapi. Mental kita akan benar-benar diasah dengan setiap konflik yang ditemui. Itulah mengapa orang yang sudah berumur kerap dituntut untuk dewasa karena memang sudah seharusnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apakah perlu memiliki kedewasaan? Bagi Penulis, tentu perlu karena itu akan menunjukkan tingkat kematangan kita dalam menjalani hidup. Kalau merasa belum dewasa ketika seharusnya sudah, ya belajar bagaimana caranya menjadi dewasa.</p>



<p>Bagaimana caranya? Penulis sendiri tidak tahu karena merasa dirinya juga tidak dewasa-dewasa amat. Hanya saja, kita bisa memulainya dengan menengok ke dalam diri sendiri dan mencari mana kekurangan diri yang perlu dibenahi. Mulai saja dulu dari sana.</p>



<p>Memang banyak faktor yang menentukan kedewasaan, tapi kita punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kontrol penuh</a> untuk memilih menjadi seorang dewasa. Sekarang, coba ambil jeda sejenak dan renungkan dalam diri, apakah kita sudah cukup dewasa untuk umur kita?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2022, terinspirasi setelah dirinya diingatkan oleh seseorang untuk bersikap sesuai umurnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@gzzhouming1">David Zhou</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2019 08:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[peka]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, baper. Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, <em>baper</em>.</p>
<p>Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata suka <em>ceplas-ceplos </em>kalau bicara.</p>
<p>Padahal, mereka sama sekali tidak bermaksud menyakiti kita. Ya mungkin ada yang berniat seperti itu, tapi lebih banyak yang diniatkan untuk bercanda.</p>
<p>Apalagi setelah tinggal dan bekerja di Jakarta sejak akhir tahun kemarin, penulis semakin yakin bahwa kita tidak boleh mudah <em>baper</em> ketika berada di Jakarta.</p>
<p>Bahkan, penulis pernah berkata kepada teman-teman kantor bahwa kalau mau bertahan hidup di Jakarta enggak boleh mudah <em>baper</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi <em>Baper</em>?</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara penulis bisa, setidaknya, mengurangi sifat <em>baper </em>yang dimiliki? Setidaknya ada beberapa cara yang selama ini berusaha penulis terapkan di kehidupan sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>Berusaha Berpikir Positif, Tapi Ada Batasannya</strong></li>
</ol>
<p><div id="attachment_2296" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2296" class="wp-image-2296 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2296" class="wp-caption-text">Berpikir Positif (<a href="http://www.huffingtonpost.com">Huffington Post</a>)</p></div></p>
<div class="mceTemp"></div>
<p>Mungkin yang satu ini terdengar sangat <em>mainstream</em> karena hampir semua motivator selalu mengajak kita berpikir positif. Akan tetapi, penulis benar-benar merasakan manfaat positifnya.</p>
<p>Misal ada seorang teman yang ngomongnya sedikit nyelekit, segera pikirkan hal-hal positif seperti &#8220;dia cuma bercanda, dia cuma bercanda&#8221;.</p>
<p>Masalahnya, tidak semua bisa kita buat positif. Terkadang ada orang-orang yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">bercandanya kelewatan</a> sehingga kita tidak bisa tinggal diam begitu saja.</p>
<p>Jika memang terjadi seperti itu, <a href="https://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">katakan secara langsung</a> bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan gaya bercandanya. Abaikan jika orang tersebut malah nyeletuk &#8220;gitu aja <em>baper</em>&#8220;.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Tahan Diri</strong></li>
</ol>
<p>Jika ada sebuah ujaran membuatmu tersinggung, segeralah menahan diri dari emosi. Jika di kepercayaan yang penulis anut, penulis akan ber-<em>istighfar</em> sambil mengelus dada.</p>
<p>Penulis kerap melakukan yang namanya <em>self-hypnosis </em>dengan berbicara ke diri sendiri keras-keras. Karena tersugesti perkataan sendiri, penulis pun bisa mengontrol emosi lebih baik lagi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Jadikan Perkataan Orang Sebagai Bahan Intropeksi</strong></li>
</ol>
<p><div id="attachment_2297" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2297" class="wp-image-2297 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg" alt="" width="900" height="581" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-300x194.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-768x496.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2297" class="wp-caption-text">Jadi Bahan Interopeksi (<a href="http://www.thespiritscience.net">The Spirit Science</a>)</p></div></p>
<p>Mungkin perkataan orang yang menyakitkan ada benarnya. Bisa jadi orang tersebut hanya berusaha untuk mengingatkan kita. Daripada hanya sekadar sakit hati, kenapa tidak dijadikan bahan interopeksi diri?</p>
<p>Contoh, kita dibilang kampungan oleh teman. Alih-alih marah, coba tengok ke diri sendiri apa benar kita kampungan. Mungkin ada kelakuan kita yang membuat orang lain gusar sehingga melontarkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Jika memang merasa ada yang salah dengan diri kita, maka coba ubahlah sikapmu tersebut. Jika merasa tidak ada, bisa kita tanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, kenapa kita disebut secara demikian.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Bijaksana dengan Berpikiran Dewasa</strong></li>
</ol>
<p>Umur itu pasti, dewasa itu pilihan. Semakin bertambahnya usia tidak membuat kedewasaan kita bertambah pula. Kitalah yang menentukan tingkat kedewasaan yang dimiliki.</p>
<p>Kedewasaan seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu. Misal, ketika ada teman yang berulangtahun, kita tidak diajak untuk patungan kado.</p>
<p>Jika kita tidak dewasa, pasti kita akan langsung emosi dan menganggap mereka bajingan yang ingin menjadi musuh kita. Pikiran semacam ini tentu sangat kekanak-kanakan.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita sudah cukup dewasa, pasti kita cukup bijak untuk berusaha memahami situasi. Kita akan berusaha melihat alasan positif mengapa kita tidak diajak. Bisa saja, mereka membeli kado secara dadakan sehingga tak sempat mengajak kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin masih ada cara-cara lain yang belum sebutkan, tapi penulis rasa keempat hal tersebut sudah cukup untuk mengatasi sifat <em>baper</em> yang kita miliki.</p>
<p>Penulis sampai sekarang terkadang masih mudah <em>baper</em>, hanya saja sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dulu.</p>
<p>Yang namanya perasaan manusia itu bermacam-macam, ada yang halus ada yang tahan banting. Oleh karena itu, tentu bentuk perlakuannya pun harus berbeda-beda pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama. 13 April 2019, pernah dimuat di oyibanget.com dengan judul <em>Sering Diejek Baper? Berikut Cara Mengatasinya</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Anthony Tran</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
