<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>filsafat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/filsafat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Dec 2024 16:35:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>filsafat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/filsafat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton How to Train Your Dragon: The Hidden World" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-how-to-train-your-dragon-the-hidden-world/">Setelah Menonton How to Train Your Dragon: The Hidden World</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Seneca]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani Kuno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah Stoik: Apa dan Bagaimana dan Filosofi Teras. Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah <em><a href="Stoik: Apa dan Bagaimana">Stoik: Apa dan Bagaimana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>.</p>



<p>Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin kita tahu, semakin sadar kalau yang tidak kita diketahui selalu lebih banyak.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>yang merupakan karya Seneca, salah satu toko Stoik yang dari Yunani. Berikut adalah ulasan Penulis setelah menyelesaikan buku yang satu ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/maxresdefault-3-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/maxresdefault-3-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/maxresdefault-3-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/maxresdefault-3-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/maxresdefault-3.jpg 1280w " alt="Ke Huy Quan dan Kisah Luar Biasa yang Dimilikinya" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ke-huy-quan-dan-kisah-luar-biasa-yang-dimilikinya/">Ke Huy Quan dan Kisah Luar Biasa yang Dimilikinya</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan</em></li>



<li>Penulis: Seneca</li>



<li>Penerbit: Noura Books</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 308 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232423831</li>



<li>Harga: Rp84.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p><em>Kebahagiaan—paling sering dibicarakan, sekaligus paling sukar dipahami. Dalam keadaan buta dan tergesa-gesa, semua orang mengejar kebahagiaan tanpa arah, yang akhirnya hanya mendapatkan lelah. </em></p>



<p><em>A Happy Life, yang dirangkum dari kumpulan catatan dan surat-surat Lucius Annaeus Seneca, mengajak kita merenungi “apa tujuan kita”, kemudian “mana jalan terbaik untuk mencapainya”. Salah satu pemikir Romawi yang disebut sebagai paling cerdas di antara semua filsuf Stoa ini, mencoba menjawab dua pertanyaan tentang apa itu bahagia dan apa saja yang mendasarinya.</em></p>



<p><em>Pembaca era modern saat ini akan merasakan, betapa buah pikir Seneca tak pernah usang dan tetap relevan meski sudah dua milenium berselang sejak dituliskan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Sebagai salah satu tokoh stoik yang paling terkenal, Seneca membagikan pemikirannya melalui tulisan-tulisan, yang lantas terangkum dalam buku ini. Sesuai dengan judulnya, tema yang diusung adalah mengenai &#8220;kebahagiaan.&#8221;</p>



<p>Bagi manusia, tema kebahagiaan adalah salah satu topik yang paling sering didiskusikan. Apa itu bahagia? Mengapa kita sulit untuk bahagia? Mengapa manusia mengejar kebahagiaan? Mengapa rasa bahagia hanya bertahan sebentar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.</p>



<p>Buku ini tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang. Sesuai dengan sub-judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk merenungkan sendiri tentang kebahagiaan, lantas menemukan jawabannya sendiri.</p>



<p>Dalam membahas mengenai kebahagiaan, buku ini dibagi dengan beberapa bab yang cukup pendek, hanya sekitar 10 halaman saja. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok menjadi teman perjalanan atau mengisi waktu luang yang sedikit.</p>



<p>Total ada 25 bab pada buku ini, mulai dari &#8220;Tentang Hidup Bahagia dan Apakah Kebahagiaan Itu&#8221; hingga &#8220;Kemiskinan adalah Keberkahan dan Bukan Kemalangan.&#8221; Dalam penyusunannya, buku ini dibuat sesuai dengan sub-topiknya.</p>



<p>Misalnya, bab I hingga VIII berusaha menjelaskan mengenai definisi kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Bab IX hingga XIV menjelaskan tentang penyebab ketidakbahagiaan. Bab sisanya lebih ke praktik untuk bagaimana cara agar kita bisa bahagia.</p>



<p>Ketika membaca buku ini, tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Baca saja setiap babnya secara perlahan, lalu renungkan isinya. Dengan begitu, isi buku ini pun bisa lebih masuk ke dalam diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Penulis memiliki &#8220;ketakutan&#8221; akan karya-karya klasik karena merasa tidak percaya diri bisa memahami tata bahasanya, yang kadang bisa terasa sangat sulit untuk dicerna. Untungnya, buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>ini tidak seperti itu.</p>



<p>Entah karena skrip aslinya memang menggunakan bahasa yang mudah atau kemampuan penerjemahnya, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai literatur klasik yang dibuat di awal-awal tahun masehi. Isinya sederhana, tapi bermakna.</p>



<p>Dalam menulis, di sini Seneca menggunakan gaya bahasa seolah sedang berdialog dengan kita pembacanya. Jangan heran kalau Pembaca akan menemukan banyak kata &#8220;Aku&#8221; dalam buku ini, karena memang gaya penulisannya seperti itu.</p>



<p>Jadi, ketika kita membaca buku ini, rasanya kita sedang mengikuti kuliah di zaman Yunani kuno. Tentu ini pengalaman membaca yang menyenangkan bagi sebagian orang yang memiliki obsesi terhadap kebudayaan Yunani kuno.</p>



<p>Selain itu, Seneca juga menyelipkan beberapa tokoh Yunani kuno di dalam tulisannya agar kita sebagai Pembaca bisa lebih membayangkan apa yang ia sampaikan. Jadi, meskipun ini buku filsafat/pengembangan diri, kita bisa sedikit-sedikit belajar sejarah Yunani kuno juga.</p>



<p>Namun, beberapa bagian mungkin akan terasa cukup membingungkan dan agak terlalu bertele-tele. Meskipun di awal Penulis bilang buku ini relatif mudah dipahami, tetap saja ada bagian yang &#8220;khas&#8221; karya klasik.</p>



<p>Penulis akan menyarankan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan filsafat stoik, tapi sudah pernah membaca buku-buku lain sebelumnya. Bisa dibilang, buku ini lebih bersifat komplementer untuk yang tertarik dengan stoik, bukannya elementer.</p>



<p>Namun, jika memutuskan untuk membaca buku ini sebagai perkenalan stoik, ya sebenarnya sah-sah saja. Bahasanya tidak terlalu <em>njelimet </em>sehingga bisa dipahami dengan mudah. Akan ada banyak bagian yang akan membuat kita merenungkan tentang kebahagiaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca <em>A Happy Life:</em> <em>Sebuah Perenungan </em>karya Seneca</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2023 15:19:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Massimo Pigliucci]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoikisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6959</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak. Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi antidote untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.</p>



<p>Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi <em>antidote</em> untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, Penulis jadi lebih banyak membaca buku-buku seputar filosofi tersebut.</p>



<p>Suatu hari ketika sedang jalan-jalan di toko buku, Penulis menemukan sebuah buku berjudul <em><strong>Stoik: Apa dan Bagaimana</strong></em> karya <strong>Massimo Pigliucci</strong>. Merasa buku ini akan menjabarkan stoik lebih dalam dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>, Penulis pun memutuskan untuk membelinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner-768x385.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner-1024x513.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/bill-gates-dan-sumpah-pemuda-banner.jpg 1280w " alt="Bill Gates dan Sumpah Pemuda" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates dan Sumpah Pemuda</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em></li>



<li>Penulis: Massimo Pigiucci</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2023</li>



<li>Tebal: 277 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-06-5868-1</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p><em>Bagaimana</em> <em>ajaran kuno Stoik bisa membantu kita bertumbuh pada masa modern?</em> </p>



<p><em>Setiap kali merasa khawatir tentang apa yang akan kita makan, bagaimana kita bisa mencintai seseorang, atau bagaimana cara mencapai kebahagiaan, sebenarnya kita sedang memikirkan cara menjalani hidup yang baik. </em></p>



<p><em>Stoikisme bisa jadi adalah jawabannya, karena membuat kita memusatkan perhatian pada apa yang mungkin dan memberikan perspektif tentang apa yang tidak penting. </em></p>



<p><em>Dengan memahami Stoikisme, kita bisa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Perlukah kita tetap mempertahankan hubungan atau berpisah? Bagaimana sebaiknya kita mengelola uang di dunia yang nyaris hancur karena krisis keuangan? Bagaimana kita bisa bertahan setelah mengalami tragedi pribadi? </em></p>



<p><em>Stoikisme mengajari kita pentingnya karakter, integritas, dan belas kasih dalam diri seseorang. Buku ini, yang merupakan panduan penting untuk memahaminya, dilengkapi dengan tips praktis dan latihan serta meditasi dan kesadaran akan saat ini dan di sini, memberi gambaran tentang betapa relevannya Stoikisme dalam setiap segi kehidupan kita saat ini.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>diawali dengan dua bagian pembukaan yang menjabarkan secara umum mengenai apa itu stoik. Setelah itu, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>&#8220;Disiplin dalam Hal Hasrat: Apa yang Patut Diinginkan atau Tidak Patut Diinginkan&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Tindakan: Bagaimana Berperilaku di Dunia&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Niat: Bagaimana Menanggapi Situasi&#8221;</li>
</ol>



<p>Sebagai informasi, ketiga bagian tersebut merupakan prinsip &#8220;Tiga Disiplin Stoa&#8221;, mengenai <em><strong>desire </strong></em>(<em>keinginan</em>), <em><strong>action </strong></em>(tindakan), dan <em><strong>assent </strong></em>(persetujuan). Masing-masing bagian tersebut akan dipecah lagi menjadi beberapa bab. </p>



<p>Buku ini juga mengeksplorasi &#8220;Empat Kebajikan Stoa&#8221;, yakni <strong><em>wisdom</em> </strong>(kebijaksanaan), <strong><em>courage</em> </strong>(keberanian),<em> <strong>justice </strong></em>(keadilan), <em><strong>temperance </strong></em>(toleransi). Di setiap pembahasannya, sang penulis buku ini menarasikannya dengan gaya dialog dengan salah satu toko stoik, Epictetus.</p>



<p>Sebagai buku yang mengangkat tema stoik, tentu saja banyak penjelasan yang menekankan tentang <strong>dikotomi kendali</strong>, alias mengetahui mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. </p>



<p>Seperti yang dijelaskan di buku stoik lain, pada akhirnya yang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">benar-benar bisa kita kendalikan</a> adalah diri kita sendiri. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil</a> ataupun <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita</a>, yang bisa kita kendalikan adalah respons atas hal tersebut.</p>



<p>Di bagian akhir buku, penulis buku memberikan Latihan-Latihan Praktis Spiritual untuk membantu kita menerapkan filsafat stoik dalam kehidupan sehari-hari. Total ada 12 poin, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Memeriksa kesan yang dirasakan</li>



<li>Mengingatkan diri bahwa sesuatu tidak permanen</li>



<li>Klausul cadangan</li>



<li>Bagaimana saya dapat menggunakan kebajikan di sini dan saat ini?</li>



<li>Berhenti sejenak untuk menarik napas dalam</li>



<li>Membayangkan berada di posisi orang lain</li>



<li>Bicara sedikit tapi bagus</li>



<li>Memilih teman Anda dengan baik</li>



<li>Menanggapi penghinaan dengan humor</li>



<li>Jangan bicara terlalu banyak tentang diri sendiri</li>



<li>Bicara tanpa menghakimi</li>



<li>Merenungkan pengalaman Anda hari ini</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Meskipun dari luar terlihat berat untuk dicerna, sebenarnya buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>relatif mudah untuk dicerna bahkan oleh orang yang belum pernah bersentuhan dengan filsafat stoik sekalipun.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini merupakan <em>a great overview </em>untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat stoik. Memang tidak semua bagian yang bisa dipahami dengan sekali baca, tapi mayoritas isinya mudah dipahami.</p>



<p>Di sisi lain, buku ini juga tetap menarik bagi yang sudah pernah membaca buku stoik seperti <em>Filsafat Teras</em>. Tetap ada <em>insight-insight </em>baru yang akan menambah wawasan mengenai filsafat stoik.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat buku ini mudah dipahami adalah karena Pigliucci sebagai penulis menyisipkan banyak kisah pribadinya atau pihak lain agar mudah kita bayangkan. Ini membuat apa yang ia tuturkan di dalam buku cukup aplikatif.</p>



<p>Sisi negatifnya, hal tersebut membuat buku ini agak terasa sebagai perjalanan Pigliucci sebelum dan sesudah mengenal filsafat stoik. Oleh karena itu, buku ini mungkin akan terasa dangkal dan kurang dalam untuk Pembaca yang sudah mengetahui tentang dunia filsafat. </p>



<p>Selain itu, kekurangan lain dari buku ini adalah narasi dialog dengan Epictetus yang terkadang terkesan kurang natural dan agak dipaksakan. Penulis bahkan sempat merasa bingung kenapa tiba-tiba ada adegan dialog dengan Epictetus.</p>



<p>Terlepas dari kekurangannya, buku ini layak untuk dibaca bagi yang sedang mencari kedamaian hidup. Stoik mungkin bukan cabang filsafat yang terbaik, tapi Penulis merasa kalau stoik sangat cocok untuk diterapkan ke kehidupan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 November 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em> karya Massimo Pigliucci</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Aug 2023 15:53:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jostein Gaarder]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6818</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut Rocky Gerung, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku. Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/">[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah <em><strong>Dunia Sophie</strong> </em>karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a>, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku.</p>



<p>Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, melalui akun Instagram Penerbit Mizan, Penulis jadi mengetahui kalau novel tersebut akan dibukukan dalam bentuk novel grafis alias komik.</p>



<p>Setelah itu, Penulis pun menantikan buku tersebut rilis dan pada akhirnya Penulis langsung membelinya setelah mengetahui sudah ada di rak buku. Lantas, apakah buku ini berhasil mengingatkan Penulis apa isi buku <em>Dunia Sophie</em>?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</em></li>



<li>Penulis: Jostein Gaarder; Vincent Zabus</li>



<li>Art: Nicoby</li>



<li>Penerbit: Penerbit Mizan</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-441-310-1</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah versi komik dari novel <em>Dunia Sophie </em>yang menceritakan petualangan &#8220;aneh&#8221; seorang remaja bernama <strong>Sophie Amundsend</strong> untuk mempelajari filsafat dari awal. </p>



<p>Untuk buku pertamanya ini, kita akan diajak membahas filsafat mulai dari zaman Socrates hingga Galileo Galilei. Untuk buku keduanya (sekaligus terakhir) nanti, yang akan dibahas adalah filsafat dari zaman Rene Descartes hingga Sigmund Freud.</p>



<p>Ada 11 bab yang dimiliki oleh buku ini, mulai dari bab pertama yang bertajuk &#8220;Siapa Aku?&#8221; hingga bab sebelas yang bertajuk &#8220;Zaman Barok&#8221;. Sophie mempelajari satu per satu ilmu filsafat tersebut dengan bimbingan seseorang, yang lantas akan diketahui bernama Albedo.</p>



<p>Ada bab yang berisi tentang filsafat dari beberapa tokoh sekaligus, tapi ada juga bab yang memang fokus hanya membahas satu tokoh. Ada tiga tokoh yang menjadi bab tersendiri, yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles. </p>



<p>Dalam petualangannya, Sophie seolah-olah bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh filsafat yang sedang diterangkan oleh Albedo. Sebagai seorang gadis remaja, pelajaran filsafat tersebut berhasil membuatnya merenungkan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan.</p>



<p>Ada beberapa penyesuaian yang seingat Penulis tidak dibahas di novelnya, seperti <em>concern </em>Sophie terhadap isu lingkungan hingga kesalnya Sophie terhadap Aristoteles yang migonistik alias merendahkan kaum perempuan. Mohon koreksinya jika itu ternyata ada di novelnya.</p>



<p>Menjelang akhir buku, Sophie menyadari kalau dirinya hanyalah tokoh komik, atau bahasa filmnya adalah <em>breaking the 4th wall</em>. Bahkan Albedo yang menjadi &#8220;gurunya&#8221; pun tidak menyadari hal tersebut. Ini sangat akurat dengan versi novel.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</h2>



<p>Sesuai dengan tujuan awalnya membeli buku ini, Penulis berhasil teringat apa isi novel <em>Dunia Sophie </em>meskipun baru setengah awalnya saja. Mengingat novel <em>Dunia Sophie </em>cukup tebal, tentu isi buku grafis ini adalah versi pendeknya saja.</p>



<p>Sebagaimana <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">novel-novel yang ditulis oleh Jostein Gaarder</a>, kesan dongeng dan fantasi pun cukup kental di novel <em>Dunia Sophie</em>. Nah, adanya versi komik seperti ini semakin membuat unsur dongen dan fantasinya semakin terasa.</p>



<p>Dengan ilustrasi yang enak untuk dipandang, Penulis begitu menikmati membaca buku ini hingga bisa tandas dalam waktu yang cepat. Mungkin itu juga karena Penulis terbiasa membaca komik Barat seperti <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-tintin/">Tintin</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-lucky-luke/">Lucky Luke</a></em>.</p>



<p>Adanya ilustrasi membuat Penulis bisa memahami dengan lebih mudah filsafat-filsafat yang sedang dijelaskan. Penulis juga jadi bisa membayangkan bagaimana rupa para filsuf lintas zaman, meksipun di novel aslinya juga ada ilustrasi filsuf yang sedang dibahas.</p>



<p>Karena sedang mendalami stoik, ada satu <em>quote </em>yang sangat Penulis sukai dari buku ini (Penulis lupa apakah <em>quote </em>tersebut ada di novel aslinya), yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah yang bisa diubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Sebagai komik, tentu ada unsur <em>joke </em>yang disisipkan sebagai bumbu cerita agar tidak monoton dan kaku. Yang jelas, komik filsafat ini lebih mudah dipahami dibandingkan set novel filsafat yang pernah Penulis dulu dan hingga sekarang tidak pernah ditamatkan.</p>



<p>Jika ada remaja yang tertarik untuk masuk ke dunia filsafat, rasanya <em>Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat </em>bisa menjadi pengantar yang lebih baik dibandingkan novel aslinya yang sangat tebal. Penjelasannya mudah dipahami dan diilustrasikan dengan menarik.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 29 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dunia</em> <em>Sophie: Novel Grafis Filsafat </em>karya Jostein Gaarder</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/">[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2021 10:08:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jules Evans]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis tidak pernah belajar filsafat secara formal. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya. (Fyi, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI) Paling banter, Penulis hanya membaca novel Dunia Sophie dan buku-buku karya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis <strong>tidak pernah belajar filsafat secara formal</strong>. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya.</p>
<p>(<em>Fyi</em>, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI)</p>
<p>Paling banter, Penulis hanya membaca novel <strong><em>Dunia Sophie </em></strong>dan <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">buku-buku karya Jostein Gaardner</a> lainnya. Itupun banyak tidak pahamnya.</p>
<p>Semakin beranjak dewasa, Penulis mencoba untuk membaca buku-buku filsafat ringan seperti <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><strong><em>Filosofi Teras </em></strong>karya Henry Manampiring</a> yang menjadi salah satu buku favorit Penulis.</p>
<p>Di sana Penulis belajar tentang <em>stoisme </em>dan tertarik untuk mendalaminya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em><strong>Filosofi untuk Hidup</strong></em> karya <strong>Jules Evans</strong>.</p>
<p>Sebenarnya buku ini berjudul<strong> <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya</em></strong>. Hanya karena terlalu panjang, Penulis memutuskan untuk menyingkatnya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebagai orang yang kerap berkonflik dengan dirinya sendiri, buku-buku bertemakan <em>self-help </em>kerap Penulis baca agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Buku ini Penulis beli untuk alasan tersebut. Ketika membaca sinopsisnya di bagian belakang, tertulis bahwa buku ini mencakup <strong>12 pemikir terbesar di dunia</strong>.</p>
<p>Pemikiran mereka disinyalir dapat membuat kita mampu menangani masalah dalam hidup, seperti meminimalisir emosi berlebihan, mengatur ekspetasi agar tak mudah kecewa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Keduabelas orang tersebut dan tema filsafat yang dibawa adalah:</p>
<ol>
<li>Socrates dan Seni Filsafat Jalanan</li>
<li>Epictetus dan Seni Menjaga Kendali</li>
<li>Musonius Rufus dan Seni Kerja Lapangan</li>
<li>Seneca dan Seni Mengelola Ekspetasi</li>
<li>Epicurus dan Seni Menikmati Saat Ini</li>
<li>Heraclitus dan Seni Kontemplasi Kosmis</li>
<li>Phytagoras dan Seni Mengingat Mantra</li>
<li>Kaum Skeptis dan Seni Memupuk Keraguan</li>
<li>Diogenes dan Seni Anarki</li>
<li>Plato dan Seni Keadilan</li>
<li>Plutarch dan Seni Heroisme</li>
<li>Aristoteles dan Seni Pertumbuhan</li>
</ol>
<p>Di antara bab-bab tersebut, Penulis paling menyukai <strong>bab 2 tentang menjaga kendali</strong> dan <strong>bab 4 tentang mengelola ekspetasi</strong>. Kedua hal ini dibahas di buku <em>Filosofi Teras</em>.</p>
<p>Penulis merupakan tipe orang yang <a href="https://whathefan.com/karakter/terlalu-suka-mengendalikan/">berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu</a> yang ada di sekelilingnya. Bab ini mengingatkan Penulis kalau yang bisa kita kendalikan sepenuhnya hanya diri kita.</p>
<p>Penulis juga masih (sangat) sering berekpetasi kepada orang lain meskipun <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">sudah sering dikecewakan</a>. Bab ini berkaitan dengan bab 2, di mana kita berusaha mengendalikan respon orang lain yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.</p>
<p>Selain dua bab ini, pembahasan yang ditulis cukup menarik meskipun ada beberapa bab yang tidak terlalu Penulis pahami karena keterbatasan otak yang dimiliki.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Filosofi untuk Hidup</em></h3>
<p>Sebagai buku filsafat, sang penulis buku ini berusaha menuliskannya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh pembaca awam seperti Penulis.</p>
<p>Evans menulis buku ini dengan membuat kita berimajinasi sedang mengikuti kelas filsafat, lengkap dengan sesi pagi, sesi siang, hingga ada istirahat makan siangnya.</p>
<p>Dengan menggunakan banyak contoh dari kejadian nyata, kita dibuat lebih mudah untuk memahami dan membayangkan materi di tiap babnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tetap saja ada bagian yang susah untuk dimengerti. Kalau Penulis pribadi merasa kesulitan untuk memahami bab 9 yang membahas tentang seni anarki.</p>
<p>Meskipun keliatan kecil, buku ini terasa sangat padat dan berisi. Penulis menyarankan untuk membacanya tidak lebih dari satu bab sehari agar bisa memahaminya lebih baik lagi.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Nilai: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Filosofi untuk Hidup </em>karya Jules Evans</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filsafat Ala Attack on Titan</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2020 01:26:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[AoT]]></category>
		<category><![CDATA[Attack on Titan]]></category>
		<category><![CDATA[determinisme]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hype]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4188</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime Attack on Titan (AoT) atau Shingeki no Kyojin. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai. Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, hype dari season ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">Filsafat Ala Attack on Titan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime <em><strong>Attack on Titan</strong></em> (AoT) atau <strong><em>Shingeki no Kyojin</em></strong>. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai.</p>
<p>Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, <em>hype </em>dari <em>season </em>ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menjadi fans karbitan. Untuk mengejar ketertinggalan, Penulis memutuskan untuk mengambil jalan pintas: menonton video rekapnya di YouTube.</p>
<p>(Cara seperti ini juga Penulis lakukan ketika <em>season </em>terakhir dari serial <em>Game of Throne </em>akan rilis pada tahun 2019 kemarin, walaupun Penulis memang membaca novelnya sampai buku ketiga)</p>
<p>Melalui video rekap yang ada di YouTube tersebut, Penulis jadi mengerti mengapa banyak sekali orang yang menjadi penggemar anime ini. Jalan cerita dan animasinya patut diacungi jempol.</p>
<p>Karena penasaran dengan lanjutan ceritanya, Penulis juga memutuskan untuk membaca manganya secara daring. Sekitar 5 jam Penulis butuhkan untuk membaca <em>chapter</em> yang akan menjadi awal <em>season 4 </em>hingga <em>chapter </em>terakhir yang telah dirilis.</p>
<p>Sebagai fans karbitan, Penulis menemukan beberapa hal yang menarik dari anime ini. <strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>
<h3>Hitam Putih Baik Buruk</h3>
<p><div id="attachment_4190" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4190" class="size-large wp-image-4190" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4190" class="wp-caption-text">Eren, Baik atau Buruk? (<a href="https://www.superherohype.com/tv/482112-official-attack-on-titan-final-season-trailer-teases-a-big-war-coming">Superhero Hype</a>)</p></div></p>
<p>Satu poin yang menjadi kekuatan utama dari AoT adalah susahnya untuk <strong>mengetahui mana yang merupakan pihak baik mana yang merupakan pihak buruk</strong>.</p>
<p>Hal ini tidak akan kita temukan dari anime <em>shonen </em>lain seperti <a href="https://whathefan.com/animekomik/dinasti-politik-ala-naruto/">Naruto</a>, Dragon Ball, One Piece, My Hero Academia, dan lain sebagainya.</p>
<p>Karakter utamanya dipastikan selalu menjadi pihak yang akan membela kebenaran. Naruto, Goku, Luffy, Midoriya, semuanya berjuang untuk memberantas kejahatan di muka bumi.</p>
<p>Sedangkan di anime AoT, ada begitu banyak <em>plot twist </em>yang akan membuat kita kebingungan. Bahkan karakter utama di anime ini, <strong>Eren Yeager</strong>, telah berubah menjadi tokoh antagonis utama yang ingin menghabisi semua umat manusia yang ada di luar pulau Paradis.</p>
<p>Penulis membayangkan banyak penggemar AoT yang terkejut ketika mengetahui hal ini.  Karakter yang selama ini begitu diidolakan karena ingin balas dendam ke titan yang memakan ibunya menjadi seperti itu.</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ, <em>plot twist </em>yang ada juga bisa dibolak-balik berkali-kali. Awalnya kelihatan baik, ternyata jahat, eh ternyata baik, eh ternyata beneran jahat. Pola seperti itu akan sering kita temui.</p>
<p>Contohnya ada pada karakter ayah Eren, <strong>Grisha Yeager</strong>. Coba para pembaca yang menonton AoT, apakah Grisha merupakan karakter yang baik atau jahat? Kakak tiri Eren, Zeke, apakah dia karakter yang baik atau jahat? Silakan putuskan sendiri jawabannya.</p>
<p>Pengkhianatan? Jangan ditanya, ada banyak! Yang A mengkhianati B demi C, eh ternyata C mengkhianati A demi tujuannya sendiri. Banyak <em>top anime betrayal </em>pada AoT.</p>
<p>Bahkan karakter Eren sendiri pun belum bisa ditentukan apakah ia baik atau jahat. Toh, Eren punya alasan kuat demi mengejar tujuan terbesarnya: <strong>Kebebasan</strong>.</p>
<h3>Filsafat Determinisme dan <em>Free of Will</em></h3>
<p><div id="attachment_4191" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4191" class="size-large wp-image-4191" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4191" class="wp-caption-text">Mengejar Kebebasan (<a href="https://www.denofgeek.com/tv/attack-on-titan-season-3-episode-22-review-beyond-the-walls/">Den of Geek</a>)</p></div></p>
<p>Ada yang pernah mendengar tentang <strong>filosofi determinisme</strong>? Berdasarkan video dari Satu Persen di YouTube, filosofi determinisme adalah:</p>
<blockquote><p>Semua peristiwa terjadi karena ada sebab atau bersifat kasualitas.</p></blockquote>
<p>Berubahnya Eren dari karakter protagonis menjadi antagonis tentu tidak terjadi begitu saja. Perubahan terjadi karena ia begitu terobsesi dengan yang namanya kebebasan.</p>
<p>Hal ini dapat dimaklumi karena sejak kecil ia harus tinggal di balik tembok yang tinggi demi melindungi manusia dari serangan titan. Ia mengharapkan kebebasan yang diharapkan ada di balik tembok.</p>
<p>Setelah berhasil keluar dari tembok, ia menyadari bahwa kebebasan yang dikejar ternyata tidak berhasil didapatkan. Malah, ia menemukan fakta yang akan membuat kehidupannya berubah 180 derajat.</p>
<p>Keputusannya untuk melenyapkan seluruh umat manusia yang ada di luar pulau Paradis dengan menggunakan ribuan titan juga dilakukan demi mengejar kebebasan yang ia dambakan.</p>
<p>Di sini kita pun jadi bertanya-tanya, <strong>apakah kita sebagai manusia benar-benar memiliki kebebasan (<em>free of will</em>)?</strong></p>
<p>Rasanya tidak ada yang namana kebebasan yang benar-benar bebas. Ada banyak aturan yang mengelilingi kita, mulai agama hingga hukum negara. Moral juga turut membatasi gerak-gerik kita yang negatif.</p>
<p>Seandainya kita benar-benar memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya, dunia ini nampaknya akan menjadi kacau balau tak beraturan. <em>Lha mong </em>orang bebas mau melakukan apa aja.</p>
<p>Penulis kurang memahami kebebasan apa yang diharapkan Eren. Membuat penduduk pulau Paradis menjadi bebas karena orang-orang yang selama ini membuat mereka menderita lenyap? Apa yang menjamin konflik akan berakhir dengan keputusan tersebut?</p>
<p>Menarik untuk disimak bagaimana anime AoT akan berakhir nanti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dua alasan di atas, kebaikan versus kejahatan yang tidak hitam putih dan adanya filsafat determinisme, menjadi beberapa alasan mengapa anime AoT sangat menarik untuk ditonton.</p>
<p>Masih banyak hal lain yang bisa kita temukan, mulai dari banyaknya karakter favorit yang mati, tidak ada <em>fan service</em>, sampai kekuatan karakternya yang <em>overpowered</em>.</p>
<p>Yang jelas, anime ini menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang <em>related </em>dengan kehidupan kita yang sebenarnya. Tanpa titan tentunya, dan <em>gear </em>yang membuat kita terbang, dan tanpa tembok yang terbuat dari titan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 16 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton video rekap <i>Attack on Titan </i>dan membaca manganya</p>
<p>Foto: <a href="https://www.cbr.com/attack-on-titan-season-4-fandom-anime/">CBR</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<ul>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=7peFlaib5Zg">SELURUH ALUR CERITA ATTACK ON TITAN LENGKAP SEASON 1,2,3 || 78 MENIT || PERJUANGAN MERAIH KEBEBASAN</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Lw3QgwHQfzA">Attack on Titan Recap: Everything Up to the Final Season &#8211; YouTube</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ytpynd4-WpA">Attack On Titan Relationship of Ackerman &#8211; Reiss/Fritz &#8211; Yeager PART 1 || Titan World &#8211; YouTube</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=mJlLldLFMWQ">Filsafat Dari Attack On Titan &#8211; #FilsafatMenjawab</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=RRrPO8QZTwI">Filosofi Attack On Titan (Apakah Manusia Punya Free Will?)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">Filsafat Ala Attack on Titan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya! Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul Drupadi dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul Kitab Omong Kosong. Maka dari itu, Penulis mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya!</p>
<p>Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul <em>Drupadi </em>dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul <strong><em>Kitab Omong Kosong</em></strong>.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis mulai mencari buku tersebut. Sayang, setelah mencari di puluhan toko buku, Penulis tidak pernah menemukannya karena buku tersebut memang termasuk buku lama dan tidak ada tanda-tanda akan dicetak ulang.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk membelinya secara online. Sayang, karena kurang cermat ternyata buku yang penulis beli adalah buku bekas yang sudah berjamur di mana-mana. Kecewa, Penulis meletakkan buku ini begitu saja di rak dan tidak pernah membacanya.</p>
<p>Di saat WFH ini, entah mengapa Penulis merasa terdorong untuk membacanya. Penulis berusaha keras untuk mengabaikan fakta kecatatan fisik yang dimilikinya.</p>
<p>Hasilnya, novel tebal ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu singkat!</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dulu sewaktu masih aktif di organisasi Pers Mahasiswa, ada rekan Penulis yang membawa novel ini ke ruang sekret. Waktu Penulis bertanya apa isinya, kalau tidak salah jawabannya adalah <em>sindiran Ramayana</em>.</p>
<p>Waktu itu, Penulis hanya pernah membaca cerita <em>Mahabarata</em>. Bahkan hingga sekarang, Penulis belum pernah membaca buku <em>Ramayana </em>secara utuh. Hanya sepotong-sepotong dari berbagai buku dan sumber.</p>
<p>Oleh karena itu Penulis sempat khawatir tidak bisa memahami buku ini. Untunglah kekhawatiran tersebut tidak terjadi dan Penulis sangat menikmati novel ini.</p>
<p>Inti dari kisah yang dihadirkan Seno melalui buku ini adalah kisah Satya dan Maneka yang menjadi korban akibat serbuan balatentara Sri Rama yang menghadirkan bencana di mana-mana.</p>
<p>Penyerbuan tersebut dipicu oleh Persembahan Kuda yang dilaksanakan oleh Kerajaan Ayodya yang dipimpin Sri Rama. Daerah manapun yang dilewati oleh seekor kuda putih yang dikeramatkan harus ditakhlukan.</p>
<p>Di sisi lain, Maneka merupakan seorang pelacur yang memiliki tato kuda putih tersebut sejak lahir. Karena itu, ia sering dianggap sebagai pembawa bencana.</p>
<p>Berbagai kejadian buruk yang menimpa Maneka membuatnya ingin bertemu dengan Walmiki sang penulis <em>Ramayana</em>. Ia ingin menuntut mengapa kehidupannya begitu memilukan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Satya yang juga merupakan korban dari pasukan Sri Rama. Mereka pun melakukan petualangan untuk bertemu Walmiki.</p>
<p>Mereka juga mendapatkan tugas maha berat untuk mengumpulkan kelima bagian dari <em>Kitab Omong Kosong</em>. Judul dari kelima bagian tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Dunia Seperti Adanya Dunia</li>
<li>Dunia Seperti Dipandang Manusia</li>
<li>Dunia yang Tidak Ada</li>
<li>Mengadakan Dunia</li>
<li>Kitab Keheningan</li>
</ul>
<p>Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana Hanuman pada akhirnya <em>seda </em>setelah mengalami berbagai kejadian selama hidupnya yang panjang.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Kitab Omong Kosong</em></h3>
<p>Membaca novel ini terasa seperti sedang belajar buku filsafat. <em>Kitab Omong Kosong </em>yang dikumpulkan oleh Satya dan Maneka berisikan berbagai pandangan manusia terhadap dunia.</p>
<p>Penulis bisa menikmati buku ini karena tema wayang yang diangkat, namun merasa kesulitan jika diharuskan untuk menceritakan ulang. Kemampuan otak Penulis belum sampai di tahap tersebut.</p>
<p>Selain itu, Seno menyelipkan banyak kisah <em>Ramayana </em>di tiap-tiap babnya, sehingga Penulis bisa mengetahui secara garis besar apa saja yang terjadi dalam <em>Ramayana</em>, terutama kejadian-kejadian pentingnya.</p>
<p>Gaya penulisannya juga Seno banget, namun tidak terlalu rumit seperti <em>Negeri Senja </em>atau novelnya yang lain. Banyaknya dialog yang ada di dalamnya memudahkan kita untuk memahami buku ini.</p>
<p>Penulis akan dengan senang merekomendasikan buku ini kepada para Pembaca yang menyukai cerita wayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Kitab Omong Kosong </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jan 2020 03:37:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Adolf Adler]]></category>
		<category><![CDATA[Berani Tidak Disukai]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3274</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hidup dengan ekspetasi orang lain itu tidak menyenangkan. Kita akan merasa tidak bisa melangkahkan kaki sesuai dengan keinginan kita sendiri. Salah satu contoh kita terkekang dengan keinginan orang lain adalah berusaha menyenangkan semua orang, baik dari pihak keluarga, lingkaran pertemanan, hingga kolega kantor. Hal ini sering Penulis lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika direnungi, rasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/">Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup dengan ekspetasi orang lain itu tidak menyenangkan. Kita akan merasa tidak bisa melangkahkan kaki sesuai dengan keinginan kita sendiri.</p>
<p>Salah satu contoh kita terkekang dengan keinginan orang lain adalah berusaha menyenangkan semua orang, baik dari pihak keluarga, lingkaran pertemanan, hingga kolega kantor.</p>
<p>Hal ini sering Penulis lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika direnungi, rasanya hampir mustahil untuk bisa memuaskan semua pihak.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku berjudul <strong><em>Berani Tidak Disukai </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Ichiro Kishimi </strong>dan<strong> Fumitake Koga</strong>. Buku ini juga menjadi bagian dari buku-buku bertemakan <em>self-caring </em>yang sedang Penulis dalami.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini ditulis berdasarkan pemikiran salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-19 bernama <strong>Alfred Adler</strong>, terutama yang berkaitan dengan kebahagiaan dan pola pikir yang mendukungnya.</p>
<p>Berbeda dengan Freud, Adler mengatakan bahwa kita cenderung hidup dan bertindak oleh harapan-harapan di masa depan dibandingkan pengaruh pengalaman masa lalu, termasuk yang menimbulkan trauma.</p>
<p>Pemikiran tersebut dikemas dalam bentuk dialog antara seorang pemuda yang merasa tak puas dengan hidupnya dengan seorang filsuf tua yang hidup soliter di sebuah tempat terpencil.</p>
<p>Pertemuan tersebut dibagi menjadi lima malam, di mana tiap malam terbagi menjadi beberapa subbab yang saling terhubung satu sama lain. Artinya, kita harus membaca secara runtut untuk bisa memahami buku ini.</p>
<p>Karena bukunya sudah berada di Malang, Penulis hanya bisa menjabarkan isinya berdasarkan ingatan semata.</p>
<h4>Malam Pertama</h4>
<p>Yang jelas, pada malam pertama kita akan diajak untuk menyangkal yang namanya trauma. Menurut Adler, sebenarnya tidak ada yang namanya trauma.</p>
<p>Kita sering kali menggunakan alasan trauma untuk tetap berada di zona di mana kita berada sekarang. Mungkin ini cukup kontroversial, bahkan sang pemuda di dalam buku ini juga menyangkal habis-habisan,</p>
<p>Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah kita memiliki pilihan antara terjebak ke dalam trauma atau justru menjadikannya sebagai batu loncatan menuju masa depan.</p>
<h3>Malam Kedua</h3>
<p>Kalau tidak salah, malam kedua akan berusaha menjelaskan bahwa hidup ini bukan sekadar kompetisi. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, kita akan mudah merasa inferior (termasuk Penulis).</p>
<p>Sama seperti trauma, inferior juga bisa dijadikan pembenaran bagi sebagian orang. Contohnya:</p>
<p><em>&#8220;Ah, mana bisa aku seperti dia, aku kan hitam dan jelek.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Dia mah enak anak orang kaya, bisa dapat apa aja enggak kayak aku yang miskin.&#8221;</em></p>
<p>Kalau kata mantan atasan Penulis di Surabaya, pemikiran-pemikiran seperti ini akan memunculkan <em>mental block </em>yang hanya akan menjadi penghambat kita.</p>
<p>Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, kenapa kita tidak membandingkan kita dengan diri sendiri? Apakah diri kita hari ini telah lebih baik dari diri kita kemarin?</p>
<h4>Malam Ketiga</h4>
<p>Pernah berusaha mencampuri urusan orang lain? Penulis merasa sering melakukannya. Isi dari diskusi dari malam ketiga adalah mengenai pembagian tugas.</p>
<p>Intinya, sebagian besar orang tidak akan suka jika &#8220;tugasnya&#8221; harus dicampuri oleh orang lain. Contohnya adalah masalah sekolah. Mungkin ada orangtua yang terlalu memaksa anaknya untuk bisa jadi juara satu.</p>
<p>Padahal, belajar bukanlah tugas orangtua, melainkan sang anak. Dorongan yang terlalu keras seperti itu justru akan membuat sang anak akan merasa kalau &#8220;tugasnya&#8221; diambil alih oleh orang lain.</p>
<p>Penulis tidak terlalu ingat malam keempat ataupun kelima. Intinya, kalau tidak salah, adalah mengajak kita untuk bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu berusaha disukai oleh semua orang.</p>
<p>Tidak apa-apa menjadi orang biasa, kita tidak harus selalu menjadi yang nomor satu. Poin-poin inilah yang menjadi inti dari buku yang satu ini.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Berani Tidak Disukai</em></h3>
<p>Awalnya, Penulis akan mengira buku ini akan terasa berat dan membosankan. Ternyata, buku ini cukup menarik, mampu memberikan sudut pandang yang berbeda, dan terasa sangat dinamis meskipun penuh istilah teknis dan terkesan filosofis.</p>
<p>Buku ini akan mengajak kita untuk menyederhanakan kehidupan kita. Jika terlihat rumit dan memusingkan, mungkin kitalah yang membuatnya seperti itu. Terdengar utopis memang.</p>
<p>Banyak kalimat-kalimat dari sang filsuf yang akan membuat kita ingin mengajukan protes, namun hal tersebut langsung diwakili oleh sang pemuda yang digambarkan sangat keras kepala. Jadi, kita tidak perlu capek-capek mengirim email ke penulis buku ini.</p>
<p>Buku ini Penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sedang mencari makna kehidupan ataupun kebahagiaan. Penulis menyarankan untuk membacanya secara perlahan dan meresapi maknanya.</p>
<p><strong>Nilainya: 4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Berani Tidak Disukai </em>karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-berani-tidak-disukai/">Setelah Membaca Berani Tidak Disukai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Aku Benar-Benar Ada?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2019 15:36:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[eksistensi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2956</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masalah eksistensi manusia sering dibahas sebagai salah satu topik filsafat. Penulis tidak banyak tahu karena memang bukan anak filsafat. Pengetahuan penulis hanya terbatas pada quote terkenal dari Rene Descartes: cogito ergo sum Entah bagaimana penafsiran yang benar, tapi penulis menganggapnya seperti ini: Selama kita mampu berpikir menggunakan otak, itu menandakan kehadiran kita di dunia yang fana ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/">Apakah Aku Benar-Benar Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah eksistensi manusia sering dibahas sebagai salah satu topik filsafat. Penulis tidak banyak tahu karena memang bukan anak filsafat. Pengetahuan penulis hanya terbatas pada <em>quote </em>terkenal dari Rene Descartes:</p>
<blockquote><p>cogito ergo sum</p></blockquote>
<p>Entah bagaimana penafsiran yang benar, tapi penulis menganggapnya seperti ini: Selama kita mampu berpikir menggunakan otak, itu menandakan kehadiran kita di dunia yang fana ini.</p>
<p><em>Tapi apakah itu cukup?</em></p>
<p>Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut cukup. Lebih banyak orang tidak memedulikannya dan memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Bagaimana jika kita termasuk yang membutuhkan orang lain untuk menyadari eksistensinya?</p>
<h3>Pengakuan dari Orang Lain</h3>
<p><div id="attachment_2960" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2960" class="size-large wp-image-2960" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2960" class="wp-caption-text">Naruto dan Rasa Kesepian (<a href="https://wallpapercave.com/w/wp2612085">Wallpaper Cave</a>)</p></div></p>
<p>Ketika kecil, <strong>Naruto</strong> dijauhi oleh orang-orang di desanya karena ia dianggap sebagai representasi siluman rubah ekor sembilan yang pernah menyerang.</p>
<p>Karena merasa kesepian dan ingin mendapatkan pengakuan, Naruto pun sering berbuat onar dan jahil. Dengan berbuat seperti itu, Naruto merasa dirinya mendapatkan perhatian dari orang lain, meskipun berkonotasi negatif.</p>
<p>Penulis, terkadang, juga berbuat konyol yang akan memancing tawa dan perhatian orang lain. Terbesit rasa senang ketika melakukan hal tersebut. Satu, karena membuat orang lain tertawa. Kedua, merasa keberadaannya dianggap oleh orang lain.</p>
<p>Apakah itu hal yang buruk? Bisa jadi iya, karena itu menandakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">penulis memiliki ketergantungan dengan orang lain</a> untuk merasakan dirinya ada.</p>
<p>Tak jarang penulis merasa hampa ketika dirinya sedang sendirian, terutama jika sedang ada pikiran. Kalaupun tidak sedang ada yang dipikirkan, ada saja celah yang dimanfaatkan oleh otak penulis untuk menemukan topik untuk dipikirkan.</p>
<p>Tentu saja ini adalah salah satu contoh sifat <strong>penulis yang kerap berpikir berlebihan</strong>. Padahal, kita ini ya jelas-jelas ada di dunia ini. Enggak perlu mikir yang terlalu rumit dan hanya membuat <em>mumet </em>kepala.</p>
<h3>Berpikir Berlebihan</h3>
<p><div id="attachment_2961" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2961" class="size-large wp-image-2961" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2961" class="wp-caption-text">Berpikir Berlebihan (<a href="https://unsplash.com/@earbiscuits">Juan Rumimpunu</a>)</p></div></p>
<p>Memiliki otak yang senang berkeliaran kerap membuat lelah diri sendiri. Ujung-ujungnya, kecemasan pun timbul dan membuat penulis hampir insomnia setiap malam.</p>
<p>Sejak kecil, penulis adalah orang yang pemikir. Penulis sudah memikirkan bagaimana kehidupan di surga dan neraka ketika masih duduk di bangku SD, dan biasanya menjadi ketakutan sendiri apabila ternyata dosa penulis lebih banyak.</p>
<p>Penulis juga terbiasa membaca buku-buku berbau ilmu pengetahuan. Bukan ensiklopedia yang tebal-tebal, namun buku-buku ringan yang menambah cakrawala pengetahuan penulis. Ini menjadi bahan bakar sifat pemikir yang dimiliki.</p>
<p>Akibatnya, wajah penulis pun terbilang boros waktu sekolah jika dibandingkan teman-teman lain yang hidupnya lebih <em>santuy</em>. Hal ini ditambah dengan kebiasaan buruk memasang wajah murung.</p>
<p>Meskipun sudah mengurangi kebiasaan buruk tersebut, tetap saja penulis sering <em>overthinking</em>. Tak jarang, satu peristiwa kecil bisa penulis pikirkan hingga 15 langkah ke depan. <em>Lebay</em>? Banget.</p>
<p>Padahal, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran yang kita pikirkan tidak akan pernah terjadi</a>. Masalah pun lebih sering hanya bergumul di otak tanpa pernah benar-benar terjadi. Kalaupun ternyata benar-benar terjadi, biasanya kita akan bisa menyelesaikannya dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Ada?</h3>
<p>Kita jelas-jelas ada dan hadir di dunia ini. Kita lahir ke dunia melalui rahim ibu sesuai dengan takdir yang telah tertuliskan.</p>
<p>Poin lain yang tak kalah penting adalah tujuan dari eksistensi kita. Sebagai manusia, kenapa kita harus ada di dunia ini? Apa tujuan Tuhan menciptakan kita? Kenapa kita tidak menjadi seekor kucing yang kerjaannya hanya makan dan tidur?</p>
<p>Penulis yakin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang menjawab untuk menakhlukan dunia, menjadi seseorang yang menginspirasi, bermanfaat untuk orang lain, berbuat baik sebanyak mungkin, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bagaimana dengan penulis? Jujur, penulis sendiri pun masih mencari jawabannya. Akan tetapi, lebih baik penulis mencarinya sembari menjalani hidup hari ini dengan sebaik mungkin.</p>
<p>Dengan lebih menikmati hidup, mungkin penulis bisa mengurangi sedikit sifatnya yang kerap berpikir secara terlalu berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 30 Oktober 2019, terinspirasi oleh film Joker mungkin?</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@pro321?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">prottoy hassan</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/">Apakah Aku Benar-Benar Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
