Kenapa Suka Tintin?

Penulis menyukai Tintin, karakter komik yang berasal dari sentuhan Herge. Bukan fans fanatik, tapi sangat menggemari komik-komiknya dan menikmati jalan ceritanya.

Karena pada tanggal 10 Januari kemarin Tintin berulang tahun, Penulis memutuskan untuk membuat tulisan mengenai hubungan Penulis dengannya.

Awal Mula Berjumpa

Dua Komik Tintin Pertama (Issuu)

Semua berawal dari komik lawas dengan penerbit Indira milik Pakde. Komik tersebut dihibahkan ke Penulis bersama dengan komik-komik Donal Bebek yang kala itu masih berharga Rp150.

Ada dua komik yang didapatkan Penulis: Penerbangan 714 dan Tintin di Danau Hiu. Seadainya komik Tintin pertama yang Penulis baca bukan kedua komik itu, rasanya Penulis tidak akan menjadi penggemar Tintin.

Kenapa begitu? Ada beberapa alasan. Pertama, kedua komik sama-sama memiliki komposisi “personel” yang lengkap. Pada tulisan ini, Penulis akan menggunakan nama mereka versi Inggrisnya karena pada versi lawas memang seperti itu.

Selain Tintin dan Snowy (Milo), ada Kapten Haddock dan Profesor Calculus (Profesor Lakmus). Untuk si kembar Thomson dan Thompson (Dupond & Dupont), Penulis menemukan mereka berdua di komik Tintin di Danau Hiu.

Hal lain yang sama dari kedua komik adalah musuh utama yang dimiliki: Rastapopoulos. Bisa dibilang ia adalah musuh bebuyutan Tintin yang seolah tak pernah bisa mati.

Nilai tambah lainnya adalah lokasi komik Penerbangan 714 yang berada di Indonesia. Untuk komik satunya, Penulis sangat terkesan dengan adegan akhirnya di mana alat pengganda yang dimiliki Rastapopulos mengembang hingga tak terkendalikan.

Sewaktu kuliah, Penulis juga menonton film The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat berkesan. Berawal dari film inilah Penulis memutuskan untuk mulai mengoleksi komik Tintin.

Koleksi Tintin Sekarang

Komik-Komik Tintin (fanpop)

Karena full color dan berukurang besar, harga komik Tintin cukup mahal. Oleh karena itu, sewaktu sekolah dan kuliah Penulis tidak bisa membelinya.

Untungnya, komik tersebut pada akhirnya diterbitkan versi kecil dengan harga yang lebih terjangkau. Apalagi, Penulis selalu beli buku di Togamas sehingga mendapatkan diskon hingga 15%.

Penulis ingat betul dulu dijual per bundel dengan masing-masing berisi enam judul. Waktu itu, Penulis belum punya uang sehingga tak sanggup untuk membelinya dan memilih untuk membeli satuan.

Ketika sekarang sudah (lumayan) punya uang, Tintin kembali diterbitkan versi lebar. Ketika berkunjung ke toko buku di mana pun, Penulis tak pernah lagi menemukan Tintin versi kecil.

Walaupun begitu, Penulis sudah memiliki beberapa judul Tintin di daftar koleksi Penulis. Beberapa di antaranya adalah Rahasia Unicorn, Harta Karun Rackham Merah, Petualangan di Bulan, hingga Permata Castafiore.

Beberapa judul juga sudah Penulis baca karena meminjam perpustakaan ataupun teman. Kebetulan, Penulis punya teman kantor yang juga penggemar Tintin.

Penulis mengutamakan komik yang ada Kapten Haddocknya, mengingat karakter tersebut favorit Penulis karena sumpah serapah randomnya.

Selain itu, Penulis juga menggemari dua detektif kembar, Thompson dan Thomson, karena kekocakan yang mereka miliki. Bagaimana mereka saling mengoreksi perkataan kembarannya menurut Penulis adalah sebuah ide cemerlang yang sangat menghibur.

Penutup

Apa yang membuat Penulis dapat menikmati komik Tintin adalah kombinasi dari jalan cerita yang seru, kuatnya karakter dari tokoh-tokohnya, unsur detektif, gaya gambarnya, hingga komedinya yang khas.

Anehnya, Penulis tidak mengidolakan sang karakter utama. Penulis justru lebih memilih Kapten Haddock ataupun si kembar Thompson dan Thomson. Mungkin, karena karakter Tintin terlalu serius dan jarang memancing tawa.

Jika disuruh menyebutkan judul mana yang menjadi favorit Penulis, jawabannya ada dua komik asli yang dibaca pertama kali. Berkat kedua komik itulah Penulis bisa mengenal Tintin dan menjadi penggemarnya.

 

 

Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi karena kemarin Tintin baru saja berulang tahun

Foto: Wallpaper Cave