Connect with us

Anime & Komik

Kenapa Suka Tintin?

Published

on

Penulis menyukai Tintin, karakter komik yang berasal dari sentuhan Herge. Bukan fans fanatik, tapi sangat menggemari komik-komiknya dan menikmati jalan ceritanya.

Karena pada tanggal 10 Januari kemarin Tintin berulang tahun, Penulis memutuskan untuk membuat tulisan mengenai hubungan Penulis dengannya.

Awal Mula Berjumpa

Dua Komik Tintin Pertama (Issuu)

Semua berawal dari komik lawas dengan penerbit Indira milik Pakde. Komik tersebut dihibahkan ke Penulis bersama dengan komik-komik Donal Bebek yang kala itu masih berharga Rp150.

Ada dua komik yang didapatkan Penulis: Penerbangan 714 dan Tintin di Danau Hiu. Seadainya komik Tintin pertama yang Penulis baca bukan kedua komik itu, rasanya Penulis tidak akan menjadi penggemar Tintin.

Kenapa begitu? Ada beberapa alasan. Pertama, kedua komik sama-sama memiliki komposisi “personel” yang lengkap. Pada tulisan ini, Penulis akan menggunakan nama mereka versi Inggrisnya karena pada versi lawas memang seperti itu.

Selain Tintin dan Snowy (Milo), ada Kapten Haddock dan Profesor Calculus (Profesor Lakmus). Untuk si kembar Thomson dan Thompson (Dupond & Dupont), Penulis menemukan mereka berdua di komik Tintin di Danau Hiu.

Hal lain yang sama dari kedua komik adalah musuh utama yang dimiliki: Rastapopoulos. Bisa dibilang ia adalah musuh bebuyutan Tintin yang seolah tak pernah bisa mati.

Nilai tambah lainnya adalah lokasi komik Penerbangan 714 yang berada di Indonesia. Untuk komik satunya, Penulis sangat terkesan dengan adegan akhirnya di mana alat pengganda yang dimiliki Rastapopulos mengembang hingga tak terkendalikan.

Sewaktu kuliah, Penulis juga menonton film The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat berkesan. Berawal dari film inilah Penulis memutuskan untuk mulai mengoleksi komik Tintin.

Koleksi Tintin Sekarang

Komik-Komik Tintin (fanpop)

Karena full color dan berukurang besar, harga komik Tintin cukup mahal. Oleh karena itu, sewaktu sekolah dan kuliah Penulis tidak bisa membelinya.

Untungnya, komik tersebut pada akhirnya diterbitkan versi kecil dengan harga yang lebih terjangkau. Apalagi, Penulis selalu beli buku di Togamas sehingga mendapatkan diskon hingga 15%.

Penulis ingat betul dulu dijual per bundel dengan masing-masing berisi enam judul. Waktu itu, Penulis belum punya uang sehingga tak sanggup untuk membelinya dan memilih untuk membeli satuan.

Ketika sekarang sudah (lumayan) punya uang, Tintin kembali diterbitkan versi lebar. Ketika berkunjung ke toko buku di mana pun, Penulis tak pernah lagi menemukan Tintin versi kecil.

Walaupun begitu, Penulis sudah memiliki beberapa judul Tintin di daftar koleksi Penulis. Beberapa di antaranya adalah Rahasia Unicorn, Harta Karun Rackham Merah, Petualangan di Bulan, hingga Permata Castafiore.

Beberapa judul juga sudah Penulis baca karena meminjam perpustakaan ataupun teman. Kebetulan, Penulis punya teman kantor yang juga penggemar Tintin.

Penulis mengutamakan komik yang ada Kapten Haddocknya, mengingat karakter tersebut favorit Penulis karena sumpah serapah randomnya.

Selain itu, Penulis juga menggemari dua detektif kembar, Thompson dan Thomson, karena kekocakan yang mereka miliki. Bagaimana mereka saling mengoreksi perkataan kembarannya menurut Penulis adalah sebuah ide cemerlang yang sangat menghibur.

Penutup

Apa yang membuat Penulis dapat menikmati komik Tintin adalah kombinasi dari jalan cerita yang seru, kuatnya karakter dari tokoh-tokohnya, unsur detektif, gaya gambarnya, hingga komedinya yang khas.

Anehnya, Penulis tidak mengidolakan sang karakter utama. Penulis justru lebih memilih Kapten Haddock ataupun si kembar Thompson dan Thomson. Mungkin, karena karakter Tintin terlalu serius dan jarang memancing tawa.

Jika disuruh menyebutkan judul mana yang menjadi favorit Penulis, jawabannya ada dua komik asli yang dibaca pertama kali. Berkat kedua komik itulah Penulis bisa mengenal Tintin dan menjadi penggemarnya.

 

 

Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi karena kemarin Tintin baru saja berulang tahun

Foto: Wallpaper Cave

Anime & Komik

Sekolah Superhero Ala My Hero Academia

Published

on

By

Sebagai anak laki-laki, wajar jika Penulis menyukai manga atau anime shounen yang identik dengan adegan action dan kekuatan-kekuatan super.

Buat yang belum tahu, shounen merupakan istilah untuk menggambarkan genre manga/anime yang ditujukan untuk pasar remaja laki-laki, walau pada kenyataannya orang dewasa pun masih banyak yang mengikutinya.

Dragon Ball menjadi anime shounen pertama yang disukai karena sewaktu kecil suka membaca komiknya dan menonton animenya di Indosiar dan Animax. Setelah itu, Penulis juga menyukai Naruto dan membaca manganya hingga tamat.

Keduanya sudah lama tamat. Lanjutannya (Dragon Ball Super dan Boruto) Penulis anggap tidak terlalu menarik sehingga hanya mengikuti ala kadarnya.

Untungnya, Penulis memiliki pilihan anime shounen yang tidak kalah menarik sekarang: My Hero Academia.

Awal Pertemuan dengan My Hero Academia

Midoriya dan All Might (Pinterest)

Pertemuan pertama Penulis dengan anime My Hero Academia (僕のヒーローアカデミア/Boku no Hero Academia) terjadi setelah saran dari mantan teman kantor di tempat lama.

Pada tahun 2017, Penulis baru memulai untuk menonton serial anime untuk mengisi waktu luang setelah pulang bekerja. Oleh karena itu, Penulis meminta beberapa rekomendasi. Salah satunya ya My Hero Academia (MHA) ini.

Setelah Penulis tonton, ternyata temanya sangat cocok dengan Penulis. Sebagai penggemar film-film superhero, MHA bagi Penulis mampu memberikan angle yang menarik di tengah gempuran Marvel dan DC Comics.

Apalagi sang tokoh utama, Izuku Midoriya, digambarkan sebagai tokoh yang sama sekali tidak memiliki kekuatan (quirk). Padahal, ia selalu memiliki cita-cita menjadi superhero seperti idolanya, All Might.

Untungnya, Midoriya dipilih oleh All Might untuk mewarisi kekuatannya yang bernama One for All. Ia pun berlatih untuk bisa mengendalikan kekuatan tersebut. Tema zero to hero ini Penulis sukai karena bisa memotivasi kita sebagai penonton.

Sekolah Superhero

U.A. High School (My Hero Academia – Fandom)

Goku hanya pernah melakukan latihan bersama guru-gurunya, mulai Master Roshi hingga Whis. Naruto masuk ke akademi ninja, namun tidak diceritakan bagaimana kehidupannya selama menempuh pendidikan di sana.

Baru kali inilah, setidaknya sepengetahuan Penulis, kita akan melihat bagaimana superhero dilatih dan ditempa di sebuah institusi khusus. Konsepnya terlihat mirip dengan X-Men dari Marvel.

Sang tokoh utama kita, Midoriya, bersekolah di U.A. High School. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah superhero terbaik di Jepang. All Might juga menjadi pengajar di sini.

Setiap tingkat, ada 11 kelas yang dibagi berdasarkan departemennya menjadi seperti berikut:

  • Kelas A-B: Department of Heroes
  • Kelas C-E: Department of General Education
  • Kelas F-H: Department of Support
  • Kelas I-K: Department of Management

Midoriya berhasil masuk ke kelas A, yang mungkin bisa dianggap sebagai kelas unggulan untuk para calon superhero. Ia pun bertemu dengan teman-teman kelasnya yang juga memiliki kemampuan unik (gambar banner adalah murid-murid kelas A).

Penulis hanya heran karena 1 hal. Ada beberapa murid kelas B yang lebih kuat dari murid kelas A dengan kekuatan yang lebih berguna di pertarungan. Penulis kurang tahu apa standar yang digunakan oleh U.A. dalam pembagian kelas.

Hitam Putih antara Supervillain dan Superhero

Tomura Shigaraki (CBR)

Dengan latar dunia di mana mayoritas manusianya memiliki quirk, wajar jika ada sekolah superhero untuk melatih anak-anak berbakat mengendalikan kemampuannya demi melawan kejahatan.

Tentu saja ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuatannya untuk berbuat jahat. Ada yang skala kecil, tapi ada juga tingkat kejahatan yang melampaui batas.

Seperti kebanyakan anime shounen, MHA pun terlihat memiliki klise di mana yang baik dan yang jahat digambarkan dengan begitu hitam putih. Sang tokoh utama pun digambarkan sebagai orang yang sangat bermoral, seperti Goku dan Naruto.

Musuh utama dari para pahlawan kita adalah League of Villains yang dipimpin oleh All for One, yang sekarang nampaknya dipimpin oleh Tomura Shigaraki.

Tentu di perjalanannya ada banyak musuh dari kubu lain, yang menurut Penulis menjadi salah satu kekurangan anime MHA yang terlihat sering mengulur waktu agar ceritanya semakin panjang.

Siapa Karakter Favorit Penulis?

Himiko Toga (Screen Rant)

Sebagai anime yang memiliki buanyak karakter karena tema sekolah superheronya, siapa yang menjadi favorit Penulis? Anehnya, Penulis lebih memilih Himiko Toga yang sepintas mengingatkan kita kepada karakter Harley Quinn dari Suicide Squad.

Tidak ada alasan spesifik, suka saja dengan karakternya. Padahal, ia adalah anggota dari League of Villain walau rasanya ia tidak benar-benar jahat.

Kalau dari sisi superhero-nya, mungkin Penulis akan lebih memilih Ochaco Uraraka. Gemas saja melihat karakternya yang imut dan suka salting ketika berhadapan dengan Midoriya.

Mirio Togata yang mirip Tintin juga karakter yang Penulis sukai. Dulu Penulis sempat memilih Fumikage Tokoyami dan Shoto Todoroki sebelum akhirnya memutuskan untuk berpindah haluan.

Penutup

My Hero Academia layak menjadi anime shounen favorit Penulis yang ketiga setelah Dragon Ball dan Naruto. Alur ceritanya, komedinya, adegan aksinya, semua benar-benar sesuai dengan selera Penulis.

Karena pada dasarnya lebih suka membaca manga, Penulis sudah tahu bagaimana cerita dari MHA ke depannya. Maklum, animenya masih season 5 dan cerita manganya sudah berjalan begitu jauh.

Salah satu kekhawatiran Penulis adalah animenya tidak akan tamat mengikuti serial manga. Bisa saja ending-nya diubah seperti The Promised Neverland sehingga menimbulkan kekecewaan.

Jika jumlah episode setiap season-nya sama seperti sekarang (sekitar 20-an), bisa jadi MHA akan tamat pada season yang jumlahnya puluhan. Sudahlah, nikmati saja anime yang bertema sekolah superhero ini!


Lawang, 30 Juli 2021, terinspirasi karena ingin menulis tentang My Hero Academia

Foto: DevianArt

Sumber Artikel: My Hero Academia Wiki | Fandom

Continue Reading

Anime & Komik

Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom

Published

on

By

Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara “lomba presentasi” di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.

Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.

Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.

Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang Assassination Classroom.

Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.

Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka

SMP Kunugigaoka (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di SMP Kunugigaoka. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.

Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah, Gakuho Asano, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari End tersebut.

Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.

Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.

Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.

Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.

Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.

Mengembangkan Bakat dan Minat Murid

Setiap Murid Berbeda (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.

Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil mengeluarkan potensi setiap murid yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.

Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.

Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka.

Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.

Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.

Guru yang Serba Bisa

Guru Idaman (WallpaperAccess)

Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat menyampaikan ilmunya dengan baik ke murid-muridnya.

Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan metode mana yang paling cocok untuk tiap murid sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.

Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.

Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi expert di mata pelajaran tersebut.

Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.

Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif.

Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.

Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.

Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.

Penutup

Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.

Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.


Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga Assassination Classroom

Foto: Netflix

Continue Reading

Anime & Komik

Setelah Menonton Detective Conan: The Scarlet Bullet

Published

on

By

Penulis mengikuti komik Detective Conan sejak kecil. Hanya saja, akhir-akhir ini kurang mengikuti karena merasa ceritanya makin lama makin mirip sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Ada saja karakter baru yang muncul untuk menambah kompleksitas cerita.

Walaupun begitu, Penulis sesekali masih melihat perkembangan ceritanya. Satu-satunya alasan adalah rasa penasaran siapa musuh utama di balik Organisasi Hitam. Meski sudah ada nama Renya Karasuma, sosoknya belum pernah terlihat dengan jelas.

Terlepas dari itu semua, tentu Penulis punya karakter favorit di serial ini. Penulis paling menyukai karakter Shuichi Akai, anggota FBI yang pernah menyusup ke dalam Organisasi Hitam. Bahkan, Penulis memiliki action figure-nya.

Oleh karena itu, Penulis yang jarang menonton Detective Conan the Movie memutuskan untuk menonton film terbarunya yang berjudul The Scarlet Bullet karena ada sosok Shuichi dan keluarganya.

SPOILER ALERT!!!

Sebelum ke Jalan Cerita

Selain karena kemunculan tokoh Shuichi, alasan lain Penulis tertarik menonton film ini adalah adanya kata Scarlet pada judul. Semua penggemar Sherlock Holmes pasti tahu, judul pertama kisah detektif tersebut berjudul A Study in Scarlet.

Nah, film ini rencananya akan tayang pada 16 April 2021 setelah kurang lebih satu tahun diundur karena adanya pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Penulis kaget ketika diberi tahu film Detective Conan: The Scarlet Alibi tayang di bioskop pada awal April.

Penulis pun menonton film tersebut. Eh, ternyata film tersebut berbeda dengan film yang ingin Penulis tonton. The Scarlet Alibi hanya berfungsi sebagai bridging dari film yang sesungguhnya.

Film ini menceritakan semua keluarga Shuichi. Selain dirinya, ada kedua adiknya: Shukichi Haneda dan Masumi Sera. Ada pula ibu mereka, Mary, yang mengecilkan tubuhnya sendiri dengan obat APTX 4869.

Karena sudah membaca komiknya, Penulis sudah mengetahui semua potongan adegan yang ada di dalam film ini. Tidak apa-apa, hitung-hitung sebagai penyegar ingatan tentang cerita tentang mereka semua.

Jalan Cerita Detective Conan: The Scarlet Bullet

Kurang lebih tiga minggu setelah menonton The Scarlet Alibi, akhirnya Penulis menonton film yang benar. Ekpetasi Penulis cukup tinggi terhadap film ini, setidaknya ada satu fakta baru tentang keluarga Shuichi yang akan terungkap.

Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi.

Film ini bercerita tentang persiapan Jepang yang akan menjadi tuan rumah World Sports Games (WSG), ajang olahraga terbesar di dunia. Acara akan dilangsungkan di kota Tokyo.

Bertepatan dengan upacara pembukaan WSG, Jepang juga akan meresmikan kereta peluru yang bernama The Hyperlinear. Kereta tersebut dapat melaju hingga kecepatan 1.000 km/jam dengan rute Stasiun Shin-Nagoya ke Stasiun Shibahama Tokyo.

Menjelang acara, beberapa pemimpin industri diculik secara berurutan. Orang pertama yang diculik adalah ayah Sonoko, pemimpin perusahaan keuangan Suzuki yang menjadi sponsor acara WSG.

Setelah berhasil ditemukan oleh grup Detektif Cilik, orang selanjutnya yang hilang adalah seorang pengusaha mobil yang juga menjadi sponsor. Bahkan, ia telah meminta bantuan Kogoro Mouri.

Peristiwa ini mirip dengan penculikan yang terjadi pada WSG 15 tahun lalu di Boston, Amerika Serikat. Waktu itu, kasus ditangani oleh FBI sehingga Conan banyak berhubungan dengan mereka dalam menangani kasus ini.

Conan pun menyadari bahwa ketua WSG sekaligus mantan kepala FBI, Alan McKenzie, akan menjadi korban selanjutnya. Conan bersama Shuichi (dan keluarganya) pun berusaha menyelidiki masalah ini, sebelum krisis yang lebih besar menimpa mereka.

Setelah Menonton Detective Conan: The Scarlet Bullet

Gimana, ya. Mungkin salah Penulis sendiri yang berekspetasi terlalu tinggi terhadap film ini. Memang screentime Shuichi cukup banyak, tapi rasanya tetap kurang. Apalagi, Shuichi seolah tidak sadar kalau ia sempat bertemu dan bertarung dengan Sera!

Selain itu, peran keluarga Shuichi di sini juga terasa hanya sebagai pelengkap. Peranan mereka hanya membantu Conan untuk menangkap pelaku yang ingin melakukan balas dendam terhadap orang-orang FBI, terutama McKenzie.

Penulis tidak akan menyebut siapa pelaku sebenarnya. Hanya saja, bisa dibilang plot twist-nya tidak terlalu mengejutkan. Dari awal Penulis sudah memiliki dugaan kalau orang-orang ini lah yang menjadi dalangnya. Klise khas Detective Conan, lah.

Hal lain yang membuat gregetan adalah begitu banyaknya “kebetulan” yang membuat niat pelaku bisa mirip dengan peristiwa 15 tahun lalu. “Kebetulan” lain yang bikin gemas adalah pertemuan Shuichi dengan keluarga-keluarganya. Klise lainnya dari Detective Conan.

Ketika menonton film ini, beberapa kali mata Penulis melirik ke arah jam tangan. Film ini berdurasi cukup panjang, tapi kurang meninggalkan kesan yang baik. Jika disuruh menceritakan dari awal, Penulis sudah banyak lupa dan akan merasa kesulitan.

Apesnya lagi, ternyata film ini memiliki dua adegan after credit yang Penulis lewatkan. Bisa saja ketidakpuasan Penulis terhadap film ini terobati dengan dua adegan tambahan tersebut!

Nilainya: 5.5/10.0


Lawang, 8 Mei 2021, terinspirasi setelah menonton Detective Conan: The Scarlet Bullet

Foto: Popculture.id

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan