<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gender Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/gender/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/gender/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:04:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>gender Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/gender/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Malam Terakhir</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2020 13:28:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan Nadira, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya. Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: Pulang dan Laut Bercerita. Hanya satu buku, Malam Terakhir, yang lumayan susah untuk ditemukan. Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang Islamic Book Fair pada tanggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/"><em>Nadira</em></a>, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/"><em>Pulang</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/"><em>Laut Bercerita</em></a>. Hanya satu buku, <strong><em>Malam Terakhir</em></strong>, yang lumayan susah untuk ditemukan.</p>
<p>Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang <strong>Islamic Book Fair</strong> pada tanggal 1 Maret 2020 di JCC Senayan. Buku ini tergeletak begitu saja di antara buku-buku lainnya dan hanya tersisa satu eksemplar.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p><em>Malam Terakhir</em> merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari sembilan judul dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Konsepnya berbeda dengan buku <em>Nadira</em>.</p>
<p>Sebenarnya ini merupakan cerita-cerita lama yang ditulis pada akhir 80-an dan awal 90-an dengan beberapa penyesuaian. Anehnya, Penulis merasa kalau cerita-ceritanya masih relevan dengan kondisi saat ini.</p>
<p>Sembilan judul yang ada di dalam buku ini adalah:</p>
<ol>
<li>Paris, Juni 1988</li>
<li>Adila</li>
<li>Air Suci Sita</li>
<li>Sehelai Pakaian Hitam</li>
<li>Untuk Bapak</li>
<li>Keats</li>
<li>Ilona</li>
<li>Sepasang Mata Menatap Rain</li>
<li>Malam Terakhir</li>
</ol>
<p>Penulis paling menyukai cerita <em>Adila </em>dan <em>Air Suci Sita</em>. Yang pertama bercerita tentang seorang anak bernama Adila yang hidup bersama ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.</p>
<p>Adila kerap terbawa ke dalam fantasinya sendiri yang ia dapatkan dari buku-buku pemberian ayahnya, mempertanyakan kehidupan yang ia jalani sekarang.</p>
<p>Pada akhirnya Adila mengakhiri nyawanya sendiri dengan menenggak obat nyamuk. Di saat ibunya menemukannya, ia justru menangisi benda-benda mahal yang digunakan Adila sebelum tewas.</p>
<p>Cerita kedua adalah tentang kesetiaan seorang wanita yang harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Ia hampir saja khilaf dan mengencani orang lain, namun masih sanggup menahan diri.</p>
<p>Sayangnya, kesetiaan tersebut tidak dilakukan oleh pasangannya. Hal tersebut membuat munculnya analogi pada cerita Ramayana. Ketika Rama meragukan kesucian Sinta, mengapa Sinta tidak menanyakan hal yang senada kepada Rama?</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Malam Terakhir</h3>
<p>Membaca buku <em>Malam Terakhir </em>bisa dianggap sebagai pelepas dahaga akan karya sastra yang berkualitas karena Penulis tidak tahu kapan Leila akan menelurkan novel terbarunya.</p>
<p>Dengan teknik bercerita yang menarik, kita akan diajak untuk melihat berbagai problematika kehidupan. Di sini, Leila sering mengangkat tema seputar kesetaraan gender.</p>
<p>Perlu diingat kalau pada saat karya ini dibuat, gaung kesetaraan gender belum sekeras sekarang, sehingga tidak berlebihan jika cerita-cerita di dalam buku ini cukup revolusioner pada eranya.</p>
<p>Ada beberapa cerita yang tidak Penulis pahami, namun secara keseluruhan Penulis merasa puas setelah menyelesaikannya. Kumpulan cerpen ini Penulis rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membaca cerita-cerita pendek yang berbobot.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 April 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Malam Terakhir </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kim Ji-yeong</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kim-ji-yeong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Dec 2019 16:28:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Ji-yeong]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3161</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis selalu mengakui bahwa dirinya tidak terlalu memahami apa itu feminisme. Apa yang diminta? Kesetaraan dalam hal apa? Hanya ingin mendobrak patriarki? Atas dasar itulah penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul Kim Ji-yeong: Lahir Tahun 1982 yang satu ini. Penulis mengetahui buku karya Cho Nam-joo yang satu ini karena sedang diangkat menjadi sebuah film dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kim-ji-yeong/">Setelah Membaca Kim Ji-yeong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis selalu mengakui bahwa dirinya tidak terlalu memahami apa itu feminisme. Apa yang diminta? Kesetaraan dalam hal apa? Hanya ingin mendobrak patriarki?</p>
<p>Atas dasar itulah penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul <strong><em>Kim Ji-yeong: Lahir Tahun 1982 </em></strong>yang satu ini. Penulis mengetahui buku karya Cho Nam-joo yang satu ini karena sedang diangkat menjadi sebuah film dan <em>hype-</em>nya cukup tinggi.</p>
<p>Keputusan untuk membeli novel ini ternyata tepat, karena penulis jadi sedikit memahami apa yang diinginkan oleh kaum feminisme.</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Cerita dibuka pada musim gugur tahun 2015. <strong>Kim Ji-yeong</strong> telah menikah dengan <strong>Jeong Dae-hyeon</strong> dan memiliki seorang putri. Sang suami mulai menemukan keanehan pada istri yang terlihat (atau terdengar) seperti orang lain.</p>
<p>Puncaknya adalah ketika mereka sekeluarga sedang berkunjung ke orangtua Dae-hyeon. Ji-yeong terdengar seperti orangtuanya dan bertengkar dengan mertuanya.</p>
<p>Karena kejadian tersebut, Dae-hyeon pun memutuskan untuk membawa istrinya ke psikiater untuk mengetahui apakah istrinya sedang mengalami depresi.</p>
<p>Setelah itu, kita akan melihat kilas balik kehidupan Ji-yeong, mulai ketika dilahirkan hingga menjadi seorang istri, Ji-yeong lahir di sebuah keluarga sederhana dengan sepasang ayah ibu, satu kakak perempuan, satu adik laki-laki, dan seorang nenek.</p>
<p>Sama seperti kebanyakan keluarga Korea pada masa itu (atau hingga sekarang?), punya seorang anak-laki-laki jauh lebih membanggakan dibandingkan dengan memiliki seorang anak perempuan.</p>
<p>Yang mengejutkan, banyak pasangan di Korea yang memilih untuk mengaborsi anaknya jika ternyata perempuan. Jika pun pada akhirnya anak tersebut lahir, keluarga akan menganakemaskan anak laki-lakinya.</p>
<p>Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Ji-yeong. Neneknya begitu membanggakan dan memanjakan adik laki-lakinya. Ia dan kakak perempuannya seolah tidak dianggap. Hal ini berlangsung hingga sang nenek meninggal dunia.</p>
<p>Selanjutnya, kita akan melihat perjalanan hidup Ji-yeong ketika di sekolah, masuk universitas, hingga mendapatkan pekerjaan. Kita akan melihat bagaimana ketidakadilan masyarakat Korea dalam memandang gender secara terus-menerus.</p>
<p>Kisah ditutup dari sudut pandang psikiater yang memeriksa Ji-yeong. Dari sana, kita akan melihat contoh langsung bagaimana kesetaraan gender memang menjadi salah satu masalah besar di Korea.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Kim Ji-yeong</em></h3>
<p>Banyak penggemar Korea yang bercita-cita untuk tinggal di Korea. Penulis yakin, mereka belum pernah membaca atau menonton Kim Ji-yeong.</p>
<p>Selain perlakuan rasis yang kental, Korea juga terkenal sebagai negara yang ultranasionalis dan tidak ramah kepada pendatang. Tinggal di Korea jelas tidak seindah yang terlihat di dramanya.</p>
<p>Berbicara tentang buku ini, ada banyak sekali poin yang ingin penulis ulas. Penulis akan memulai dari gaya berceritanya terlebih dahulu.</p>
<p>Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga yang berfokus pada karakter Kim Ji-yeong. Novelnya tipis, penulis bisa menghabiskannya dalam waktu kurang lebih dua jam.</p>
<p>Kisah hidup Ji-yeong dituturkan secara runtut dari masa kecil hingga dewasa agar kita mengetahui bagaimana ia bisa mengalami kondisi kejiwaan tertentu ketika berusia 34 tahun.</p>
<p>Nam-joo selaku penulis novel ini juga menyisipkan banyak data yang berkaitan tentang ketidaksamarataan gender di Korea. Tak jarang ia menunjukkan sumber-sumber literasi yang mendukung fakta novelnya.</p>
<p>Akibatnya, novel ini terlihat seperti sebuah laporan tentang gender yang dikemas dalam bentuk cerita. Langkah tersebut penulis anggap cemerlang, karena orang akan menjadi lebih tertarik untuk membacanya.</p>
<p>Kemungkinan besar, itulah tujuan Nam-joo menerbitkan novel ini: ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana praktik patrarki masih sangat kental di Korea Selatan di saat desakan kesetaraan gender making menggema.</p>
<p>Jika disuruh menyebutkan kekurangan novel ini, mungkin karena nama orang Korea yang mirip-mirip membuat penulis sedikit bingung. Selain itu, tidak ada masalah berarti.</p>
<p>Novel ini lumayan berhasil menguras emosi penulis, seolah bisa merasakan beban yang ditanggung tokoh utama. Penulis tak pernah menyangka menjadi seorang laki-laki bisa memberikan <em>privilege </em>sedemikian besar.</p>
<p>Novel Kim Ji-yeong ini sangat penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, terutama yang ingin lebih mendalami masalah feminisme. Banyak sekali wawasan-wawasan baru yang akan didapatkan dari novel ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.3/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah membaca buku <strong><em>Kim Ji-yeong</em></strong> karya Cho Nam-joo</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kim-ji-yeong/">Setelah Membaca Kim Ji-yeong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbiasa dengan Standar Ganda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Nov 2019 14:58:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[standar ganda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3058</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah standar ganda. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek. Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan? Standar Ganda Dalam Politik Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah <strong>standar ganda</strong>. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan?</p>
<h3>Standar Ganda Dalam Politik</h3>
<p>Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap terjadi di ranah politik. Kita menjadi <a href="https://whathefan.com/politik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">condong untuk melihat siapanya, bukan apanya</a>. Subyeknya, bukan obyeknya.</p>
<p>Contohnya, politisi A yang baru membangun sebuah jembatan dianggap sebagai pencitraan semata. Di sisi lain ketika ada politisi B melakukan hal yang sama, ia dipuja-puja dan dianggap sebagai bapak pembangunan.</p>
<p>Sama seperti ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/politik/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a></em>, penulis melihat banyak dari kita hanya melihat yang ingin dilihat.</p>
<p>Ketika ada sesuatu yang tidak ingin dilihat, maka mereka akan pura-pura tidak melihat. Inilah yang semakin memperkuat bahwa standar ganda mengaburkan perspektif kita dalam menilai sesuatu secara obyektif</p>
<p>Tidak hanya di dunia politik, dalam kehidupan sehari-hari pun bisa seperti itu, terutama dalam konsep laki-laki dan perempuan. Pertanyaannya, kenapa bisa seperti itu?</p>
<h3>Terbiasa dengan Standar Ganda</h3>
<p>Penulis termasuk orang yang tidak begitu paham dengan konsep feminisme. Penulis tidak memahami kesetaraan seperti apa yang didambakan oleh para kaum feminis. Kesetaraan secara total? Kesetaraan dipandang dalam lingkup sosial?</p>
<p>Mungkin terdengar kolot dan kuno, tapi penulis selalu melihat laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berbeda dengan kualitas dan kelebihan masing-masing. Lantas, mengapa harus dibuat sama?</p>
<p>Nah, konsep laki-laki dan perempuan inilah yang sering dijadikan contoh sebagai standar ganda. Contoh paling sederhana adalah menangis. Perempuan dianggap biasa jika meneteskan air mata, tapi laki-laki akan diejek cengeng jika melakukannya.</p>
<p>Contoh lain adalah karakter kepemimpinan. Dari beberapa literatur yang penulis baca, laki-laki yang memiliki jiwa kepemimpinan dianggap sebagai orang yang hebat dan bisa menjadi teladan.</p>
<p>Sedihnya, kalau perempuan yang memilikinya sering dianggap sebagai sifat <em>bossy </em>dan agresif. Mungkin jenis kesetaraan seperti inilah yang dituntut oleh mereka.</p>
<p>Di Indonesia, hal-hal seperti contoh di atas sering terjadi. Mungkin, karena masyarakat kita masih banyak terpatok dengan norma-norma tradisional yang sudah lama melekat hingga mendarah daging.</p>
<p>Inilah yang menurut menjadi salah satu penyebab mengapa kita terlihat terbiasa dengan standar ganda, bahkan hingga melebar ke aspek-aspek lain dalam kehidupan.</p>
<h3>Bisakah Lepas dari Standar Ganda?</h3>
<p>Penulis meyakini bahwa masyarakat Barat pun belum tentu bisa lepas dari standar ganda secara utuh. Memandang sesuatu secara subyektif bagi penulis adalah hal yang sangat manusiawi.</p>
<p>Dua hal yang paling susah dilepaskan dari standar ganda menurut penulis adalah dua hal di atas, yakni di dunia politik dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Banyak masyarakat kita (mungkin termasuk penulis) yang memiliki <a href="https://whathefan.com/politik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme membabi buta</a> kepada suatu tokoh politik. Akibatnya, kita susah untuk bersikap obyektif atas apa yang mereka kerjakan.</p>
<p>Untuk masalah kesetaraan gender lebih pelik lagi. Kita besar di lingkungan dengan berbagai standar tentang laki-laki dan perempuan, sehingga makin susah untuk melepaskan standar ganda yang sudah terpatri.</p>
<p>Akan tetapi bagi penulis sendiri, adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan justru menjadi bukti nyata bahwa kita harus saling melengkapi. Mungkin ada stigma yang harus dihilangkan, tapi tidak semuanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya tak perlu contoh yang terlalu berat untuk menunjukkan kita hidup di lingkungan yang penuh dengan standar ganda. Banyak hal remeh yang bisa menjadi bukti nyata.</p>
<p>Laki-laki yang gemar menonton drama Korea dianggap cengeng. Perempuan yang suka mendengarkan musik rock dianggap aneh. Padahal, kita semua memiliki hak untuk bisa memilih apa yang kita sukai. Jadi, untuk apa kita menjustifikasi orang lain?</p>
<p>Tulisan ini bukan penulis gunakan untuk mendeklarasikan bahwa dirinya terlepas dari yang namanya standar ganda. Penulis pun masih sering melakukannya sampai sekarang.</p>
<p>Memang sulit untuk selalu obyektif, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir kesubyekan kita ketika memandang sesuatu. Mungkin sampai kapan pun, standar ganda akan tetap dan selalu terjadi di sekitar kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 November 2019, terinspirasi dengan banyaknya temuan terkait standar ganda di sekitar penulis</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@magda-ehlers-pexels">Magda Ehlers</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
