Connect with us

Buku

Setelah Membaca Kim Ji-yeong

Published

on

Penulis selalu mengakui bahwa dirinya tidak terlalu memahami apa itu feminisme. Apa yang diminta? Kesetaraan dalam hal apa? Hanya ingin mendobrak patriarki?

Atas dasar itulah penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul Kim Ji-yeong: Lahir Tahun 1982 yang satu ini. Penulis mengetahui buku karya Cho Nam-joo yang satu ini karena sedang diangkat menjadi sebuah film dan hype-nya cukup tinggi.

Keputusan untuk membeli novel ini ternyata tepat, karena penulis jadi sedikit memahami apa yang diinginkan oleh kaum feminisme.

SPOILER ALERT!

Apa Isi Buku Ini?

Cerita dibuka pada musim gugur tahun 2015. Kim Ji-yeong telah menikah dengan Jeong Dae-hyeon dan memiliki seorang putri. Sang suami mulai menemukan keanehan pada istri yang terlihat (atau terdengar) seperti orang lain.

Puncaknya adalah ketika mereka sekeluarga sedang berkunjung ke orangtua Dae-hyeon. Ji-yeong terdengar seperti orangtuanya dan bertengkar dengan mertuanya.

Karena kejadian tersebut, Dae-hyeon pun memutuskan untuk membawa istrinya ke psikiater untuk mengetahui apakah istrinya sedang mengalami depresi.

Setelah itu, kita akan melihat kilas balik kehidupan Ji-yeong, mulai ketika dilahirkan hingga menjadi seorang istri, Ji-yeong lahir di sebuah keluarga sederhana dengan sepasang ayah ibu, satu kakak perempuan, satu adik laki-laki, dan seorang nenek.

Sama seperti kebanyakan keluarga Korea pada masa itu (atau hingga sekarang?), punya seorang anak-laki-laki jauh lebih membanggakan dibandingkan dengan memiliki seorang anak perempuan.

Yang mengejutkan, banyak pasangan di Korea yang memilih untuk mengaborsi anaknya jika ternyata perempuan. Jika pun pada akhirnya anak tersebut lahir, keluarga akan menganakemaskan anak laki-lakinya.

Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Ji-yeong. Neneknya begitu membanggakan dan memanjakan adik laki-lakinya. Ia dan kakak perempuannya seolah tidak dianggap. Hal ini berlangsung hingga sang nenek meninggal dunia.

Selanjutnya, kita akan melihat perjalanan hidup Ji-yeong ketika di sekolah, masuk universitas, hingga mendapatkan pekerjaan. Kita akan melihat bagaimana ketidakadilan masyarakat Korea dalam memandang gender secara terus-menerus.

Kisah ditutup dari sudut pandang psikiater yang memeriksa Ji-yeong. Dari sana, kita akan melihat contoh langsung bagaimana kesetaraan gender memang menjadi salah satu masalah besar di Korea.

Setelah Membaca Kim Ji-yeong

Banyak penggemar Korea yang bercita-cita untuk tinggal di Korea. Penulis yakin, mereka belum pernah membaca atau menonton Kim Ji-yeong.

Selain perlakuan rasis yang kental, Korea juga terkenal sebagai negara yang ultranasionalis dan tidak ramah kepada pendatang. Tinggal di Korea jelas tidak seindah yang terlihat di dramanya.

Berbicara tentang buku ini, ada banyak sekali poin yang ingin penulis ulas. Penulis akan memulai dari gaya berceritanya terlebih dahulu.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga yang berfokus pada karakter Kim Ji-yeong. Novelnya tipis, penulis bisa menghabiskannya dalam waktu kurang lebih dua jam.

Kisah hidup Ji-yeong dituturkan secara runtut dari masa kecil hingga dewasa agar kita mengetahui bagaimana ia bisa mengalami kondisi kejiwaan tertentu ketika berusia 34 tahun.

Nam-joo selaku penulis novel ini juga menyisipkan banyak data yang berkaitan tentang ketidaksamarataan gender di Korea. Tak jarang ia menunjukkan sumber-sumber literasi yang mendukung fakta novelnya.

Akibatnya, novel ini terlihat seperti sebuah laporan tentang gender yang dikemas dalam bentuk cerita. Langkah tersebut penulis anggap cemerlang, karena orang akan menjadi lebih tertarik untuk membacanya.

Kemungkinan besar, itulah tujuan Nam-joo menerbitkan novel ini: ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana praktik patrarki masih sangat kental di Korea Selatan di saat desakan kesetaraan gender making menggema.

Jika disuruh menyebutkan kekurangan novel ini, mungkin karena nama orang Korea yang mirip-mirip membuat penulis sedikit bingung. Selain itu, tidak ada masalah berarti.

Novel ini lumayan berhasil menguras emosi penulis, seolah bisa merasakan beban yang ditanggung tokoh utama. Penulis tak pernah menyangka menjadi seorang laki-laki bisa memberikan privilege sedemikian besar.

Novel Kim Ji-yeong ini sangat penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, terutama yang ingin lebih mendalami masalah feminisme. Banyak sekali wawasan-wawasan baru yang akan didapatkan dari novel ini.

 

Nilainya: 4.3/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah membaca buku Kim Ji-yeong karya Cho Nam-joo

Buku

Setelah Membaca Hello, Habits

Published

on

By

Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Akan tetapi, yang namanya membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk rasa malas yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan yang dibentuk pun buyar di tengah jalan.

Oleh karena itu, Penulis banyak membaca buku tentang membangun kebiasaan. Salah satunya adalah Hello, Habits karangan Fumio Sasaki yang juga menulis buku Goodbye, Things. Seperti apa ulasan Penulis terhadap buku ini?

Apa Isi Buku Ini?

Jika dibandingkan dengan buku Atomic Habits yang menjelaskan langkah demi langkap, bisa dibilang Hello, Habits ini lebih ke arah buku yang berisi serangkaian tips untuk bisa membangun kebiasaan.

Mengingat yang menulis buku ini adalah Fumio Sasaki yang terkenal karena gaya hidup minimalisnya, tips-tips membangun kebiasaan di buku ini pun banyak terkait dengan gaya hidup minimalis yang ia terapkan.

Buku ini dibagi menjadi empat bab utama, yakni:

  1. Keteguhan Hati
  2. Apakah yang Dimaksud dengan Kebiasaan?
  3. 50 Langkah Untuk Membentuk Kebiasaan
  4. Kita Dibentuk oleh Kebiasaan

Inti dari buku ini adalah Bab 3, di mana Sasaki menuliskan 50 tips yang bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua bab utama bisa dibilang sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam intinya.

Bab pertama menjelaskan mengenai korelasi antara membangun kebiasaan baik dengan keteguhan hati yang kita miliki. Sasaki menjelaskan kalau jika kita gagal melakukan kebiasaan baik, itu bukan karena semata-mata karena keteguhan hati kita kurang.

Salah satu faktor utama kita gagal merutinkan kebiasaan adalah karena kita cenderung memilih “imbalan” yang ada di depan mata dibandingkan dengan yang ada di masa depan. “Imbalan” kebiasaan baik biasanya membutuhkan waktu yang lama.

Lalu Sasaki melanjutkan dengan menyebutkan kalau kebiasaan adalah “tindakan yang kita lakukan tanpa berpikir panjang”. Contoh mudahnya adalah urutan yang kita lakukan ketika kita mandi, apa yang kita lakukan ketika bangun tidur, dan lain sebagainya.

Membuat hal baik bisa kita lakukan untuk bisa menjadi sebuah tindakan yang tak butuh dipikirkan jelas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, Sasaki memberikan 50 tips untuk membangun kebiasaan di buku ini.

Tiap tips yang ada di dalam buku ini cukup pendek, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Tips yang dicantumkan bervariasi, kadang memiliki keterkaitan dengan tips sebelumnya, kadang berdiri sendiri.

Setelah Membaca Hello, Habits

Kalau menikmati buku Goodbye, Things, kemungkinan buku ini pun akan Pembaca nikmati. Dengan gaya bahasa motivasi yang tidak judgemental, buku ini terasa dekat dan aplikatif di kehidupan kita sehari-hari.

Salah satu poin penting dari buku ini adalah Sasaki banyak menggunakan percobaan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan bagaimana kerja otak kita ketika membangun dan melakukan kebiasaan.

Satu percobaan yang kerap dibahas oleh Sasaki adalah uji marshmallow untuk membuktikan kalau manusia cenderung akan mengambil “imbalan” yang ada di depan mata dan mudah dilakukan.

Hanya saja, 50 tips yang dibuat berurutan tanpa ada subbab cukup membingungkan. Rasanya mustahil kita bisa mengingat semuanya. Jika ada subbab, setidaknya kita bisa mengingat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini.

Selain itu, isinya juga terasa kurang padat. Mungkin karena Penulis sudah membaca buku tentang kebiasaan yang lebih detail seperti Atomic Habits. Walaupun begitu, tetap ada beberapa hal baru yang bisa Penulis petik dari buku ini.

Untuk yang ingin mendalami seputar kebiasaan, buku ini Penulis rekomendasikan sebagai awal. Jika ingin buku tentang kebiasaan yang lebih dalam, Pembaca bisa membaca Atomic Habits atau The Power of Habit karya Charles Duhigg.

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 21 November 2021, terinspirasi setelah membaca Hello, Habits karya Fumio Sasaki

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Lagom

Published

on

By

Penulis sedang berusaha menerapkan kehidupan minimalisme, baik dari hal materiel hingga menyederhanakan apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, Penulis sedang banyak membaca buku yang terkait hal tersebut.

Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang menarik berjudul Lagom karangan Lola A. Åkerström. Salah satu yang membuat Penulis tertarik adalah hard cover yang dimiliki buku ini, sehingga terkesan mewah.

Buku ini memiliki tagline “Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia”. Selain itu, Lagom dalam bahasa Swedia memiliki makna not too little not too much. Secukupnya, sepasnya. Tentu hal ini bisa sangat fleksibel tergantung apa konteksnya.

Apa Isi Buku Ini?

Selama ini, yang Penulis ketahui tentang Swedia adalah Zlatan Ibrahimovic. Penulis juga sempat terbesit pikiran untuk mendaftar beasiswa ke sana. Selain itu, tidak banyak yang Penulis ketahui tentang salah satu negara Skandinavia ini.

Buku ini berusaha menjelaskan kepada masyarakat dunia tentang konsep Lagom yang sudah mengakar di Swedia. Jumlah yang pas itulah yang terbaik. Kekurangan maupun kelebihan lebih baik dihindari saja dari hidup ini.

Di awal buku, kita akan mendapatkan semacam Peta Buku yang memudahkan kita untuk memahami apa itu Lagom. Setelah itu, ada sedikit catatan dari Lola dan beberapa halaman pendahuluan sebelum membedah Lagom dari berbagai aspek.

Lola mengajak dan memberikan contoh bagaimana menerapkan Lagom dalam berbagai hal, seperti:

  • Kultur + Emosi
  • Makanan + Perayaan
  • Kesehatan + Kesejahteraan
  • Kecantikan + Mode
  • Dekorasi + Desain
  • Kehidupan Sosial + Bermain
  • Pekerjaan + Bisnis
  • Uang + Keuangan
  • Alam + Kesinambungan

Ada banyak contoh bagaimana masyarakat Swedia bisa maju dengan menerapkan Lagom di berbagai segi kehidupan ini. Melalui buku ini, kita bisa mengintip sedikit tentang kondisi sosial di sana.

Selain itu, buku ini juga menyisipkan beberapa foto dari berbagai sudut negara Swedia, yang sayangnya dalam hitam putih sehingga tidak terlalu jelas. Meskipun terlihat tebal, buku ini hanya memiliki sekitar 230-an halaman.

Setelah Membaca Lagom

Topik yang hendak disampaikan oleh Lola sebenarnya sangat menarik. Konsep hidup dari sebuah negara yang sangat jauh dari Indonesia selalu menarik karena memiliki perbedaan culture yang sangat berbeda.

Sayangnya, Penulis kerap merasa gaya penyampaian di dalam buku ini terasa kurang nyaman untuk dibaca. Penulis tidak tahu apakah ini dikarenakan terjemahan yang kurang bagus atau memang dari sananya seperti ini.

Bahasanya terkadang terlalu bertele-tele sehingga kita kebingungan untuk mencari apa inti yang hendak disampaikan. Kadang ada beberapa bagian yang terasa repetitif. Untungnya, di setiap bab ada semacam rangkuman untuk memudahkan kita memahami apa yang baru saja kita baca.

Adanya berbagai contoh bagaimana gaya hidup masyarakat sana membantu kita untuk mendapatkan gambaran tentang Lagom. Sayangnya, terkadang Lola seolah menggambarkan masyarakat Swedia sebagai masyarakat yang sempurna atau nyaris sempurna karena menerapkan Lagom.

Hanya saja, buku ini terasa “dangkal” dan seolah tidak memberikan banyak hal untuk kita sebagai pembacanya. Walaupun tebalnya 200 halaman lebih, membaca buku ini akan terasa lebih cepat dari seharusnya karena banyaknya gambar dan halaman pembagi bab di buku ini.

Entahlah, Penulis merasa tidak terlalu merekomendasikan buku ini karena tidak terlalu menikmatinya, kecuali jika Pembaca tertarik dengan kehidupan masyarakat Swedia atau memiliki rencana untuk tinggal di sana.

Peringkat: 3 dari 5.

Lawang, 26 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca Lagom

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Stop Membaca Berita

Published

on

By

Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang judulnya membuat penasaran: Stop Membaca Berita. Alasannya, apakah mungkin di era keterbukaan informasi seperti sekarang bisa dilalui tanpa membaca berita?

Ditulis oleh Rolf Dobelli yang merupakan praktisi media, buku ini mengatakan kalau berhenti membaca berita adalah, “Manifesto untuk hidup yang lebih bahagia, tenang dan bijaksana”. Di belakang, buku ini tertulis sebagai genre Pengembangan Diri.

Lantas, apakah buku ini mampu meyakinkan kita untuk berhenti membaca berita? Simak dulu ulasan Penulis berikut ini!

Apa Isi Buku Ini?

Buku ini berisikan 35 alasan mengapa kita harus berhenti membaca berita yang ditulis dalam bentuk esai singkat. Setiap babnya hanya terdiri dari sekitar tiga sampai halaman saja sehingga tidak ada yang terasa terlalu bertele-tele.

Rolf kerap menggunakan metafora untuk memudahkan kita membayangkan betapa berbahayanya berita. Contohnya, ia menyamakan berita sebagai gula untuk tubuh, di mana konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.

Ia juga menekankan kalau berita-berita yang kita baca sebenarnya kerap tidak relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada peristiwa penembakan di sekolah di Amerika Serikat atau bencana alam di suatu daerah yang jauh sama sekali tidak memengaruhi kehidupan kita.

Rolf juga membeberkan secara panjang lebar apa saja dampak negatif yang diakibatkan oleh berita, hingga seolah-olah berita sama sekali tidak memiliki dampak positif bagi pembacanya.

Beberapa hal negatif yang menurut Rolf diakibatkan oleh berita adalah:

  • Berita menghambat pemikiran
  • Berita merombak otak kita
  • Berita menghasilkan ketenaran palsu
  • Berita membuat kita pasif
  • Berita bersifat manipulatif
  • Berita mematikan kretivitas
  • Berita mendukung terorisme
  • Dan masih banyak lagi lainnya

Berita yang dimaksudkan Rolf di buku ini adalah berita secara fisik maupun daring. Berita daring lebih bahaya, karena akan menampilkan rekomendasi berita yang sesuai dengan kesukaan kita secara terus-menerus.

Sebagai ganti berita, Rolf mengajak pembaca bukunya untuk lebih memilih media buku saja. Rolf adalah mantan pecandu berita, sehingga mungkin ia ingin orang lain tidak sampai mengalami apa yang pernah ia alami.

Setelah Membaca Stop Membaca Berita

Buku Stop Membaca Berita termasuk tipis, tidak sampai 150 halaman. Selain itu, isi tiap babnya juga relatif pendek sehingga cocok untuk dibaca di saat ketika kita sedang menunggu sesuatu ataupun bacaan singkat sebelum tidur.

Bisa dibilang, buku ini terasa ekstrem seolah-olah kita bisa hidup tanpa membaca berita sama sekali. Argumen-argumen yang tergantung di dalamnya terasa subyektit, walau hal tersebut dapat dimaklumi mengingat penulis buku ini memang praktisi di bidang media.

Entah mengapa Penulis merasa buku ini sedikit sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Susah untuk membayangkan kita hidup di era keterbukaan tanpa mengetahui apa yang tengah terjadi.

Walaupun begitu, Penulis sependapat dengan beberapa pendapat yang diutarakan di buku ini. Contohnya adalah banyak kejadian yang kita lihat sama sekali tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Selain itu, kita juga kerap berdebat kusir tentang isu-isu yang ada tanpa pernah menemukan solusi sesungguhnya. Entah berapa lama waktu yang terbuang untuk menyikapi sebuah permasalahan yang tak ada hubungannya dengan kita.

Sayangnya, buku ini seolah mengajak kita untuk hidup apatis tanpa memedulikan apa yang tengah terjadi di sekitar kita. Meskipun Penulis berusaha menerapkan hidup minimalis, rasanya metode berhenti membaca berita secara total tidak sesuai dengan Penulis.

Mungkin ini hanya perasaan Penulis saja, tapi rasanya tulisan Rolf di buku ini kerap terasa berapi-api dengan nada marah. Hal tersebut, sayangnya, membuat Penulis merasa sedikit terintimidasi ketika membaca dan membuat tidak nyaman.

Sebagai orang yang bekerja di bidang media, Penulis menganggap berita memiliki berbagai manfaat. Selain sebagai penyampai informasi kepada orang yang membutuhkan, berita juga menjadi sarana hiburan yang cukup efektif.

Berita memang memiliki sisi negatif. Membacanya secara berlebihan akan memberikan dampak buruk kepada kita. Hanya saja, mengesampingkan sisi positifnya juga rasanya kurang bijaksana.

Peringkat: 3 dari 5.

Lawang, 16 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca buku Stop Membaca Berita

Foto: Gramedia Digital

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan