<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>interopeksi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/interopeksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/interopeksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jun 2024 15:45:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>interopeksi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/interopeksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menepi Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2021 09:28:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berpisah]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menepi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4501</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. Terasa dekat dan saling mengisi. Saling berbagi cerita dan melempar canda. Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after. Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti. Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. <strong>Terasa dekat dan saling mengisi</strong>. Saling berbagi cerita dan melempar canda.</p>
<p>Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan <em>happily ever after</em>.</p>
<p>Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, <strong>kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti</strong>.</p>
<p>Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang serius, lebih sering hanya karena kesalahpahaman.</p>
<p>Percikan pertengkaran mewarnai hidup kita dan kadang <strong>membuat kita berpikir untuk pergi</strong>. Berpisah.</p>
<p>Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, kita sama-sama merasa bukan itu yang benar-benar kita inginkan.</p>
<p>Kita hanya bertikai untuk satu waktu. Kenapa itu harus membuat kita <strong>melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama?</strong></p>
<p><strong>Kita hanya butuh jeda</strong>, butuh waktu untuk sendiri. Memilih untuk menepi sejenak dan menenangkan diri.</p>
<p>Nikmati waktu kesendirian, merenungkan bagaimana kita bisa memulai pertengkaran.</p>
<p>Tak perlu mencari siapa yang salah, coba kita lihat ke dalam diri sendiri. <strong>Melakukan interopeksi diri</strong>.</p>
<p>Saat kita berpisah untuk sementara, coba rasakan betapa bedanya kehidupan yang kita lalui.</p>
<p>Jika dirasa cukup, kita akan kembali menjalani hari bersama seperti sedia kala.</p>
<p>Karena pada dasarnya, <strong>kita tidak ingin kehilangan satu sama lain</strong>.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya, pasti ada momen di mana kita bertikai dan membuat hubungan merenggang.</p>
<p>Bagi Penulis, hal ini sangat wajar. <strong>Semakin dekat dan erat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar potensi munculnya konflik.</strong></p>
<p>Yang penting adalah bagaimana kita berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Terkadang, kita butuh untuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-sejenak/"><strong> menepi sejenak</strong></a> agar bisa berpikir lebih jernih.</p>
<p>Ketika menepi, dalam artian menjaga jarak dengan orang tersebut untuk jangka waktu tertentu, sebaiknya kita melakukan interopeksi diri</p>
<p>Tanyakan pada diri <strong>kenapa pertikaian tersebut bisa terjadi</strong>. Jangan fokus pada siapa yang salah, tapi pada<strong> bagaimana hal tersebut jangan sampai terulang</strong>.</p>
<p>Jika perasaan sudah kembali tenang, coba bicarakan hal tersebut baik-baik dengannya. Curahkan isi hati agar tidak ada yang mengganjal dan menjadi benalu diri.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/pada-akhirnya-kita-semua-akan-dipisahkan-oleh-waktu/"><strong>Perpisahan memang menjadi hal yang tak terelakkan</strong></a> dalam sebuah hubungan. <em>Inevitable</em> kalau kata Thanos.</p>
<p>Ada yang karena perbedaan visi, ada yang karena sakit hati, ada yang karena kematian, banyak penyebab hubungan harus berakhir.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis tidak ingin hubungan dengan orang-orang terdekatnya putus karena hal yang kurang baik.</p>
<p>Jika memang harus berpisah, terlepas apapun alasannya, setidaknya kita bisa <strong>berpisah secara baik-baik</strong>.</p>
<p>Memang menyedihkan, kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada harus berpisah secara buruk dengan perasaan saling membenci.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Jika memungkinkan, Penulis ingin terus menjalin hubungan baik dengan semua orang yang dikenalnya dalam hidup.</p>
<p>Entah keluarga, teman mulai kecil, teman kuliah, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">teman kantor di Jakarta</a>, <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">anak-anak Karang Taruna</a>, semuanya.</p>
<p>Sayangnya, Penulis hidup di dunia nyata yang tidak semulus jalan cerita drama Korea. Pasti ada banyak lika-liku yang akan membuat Penulis memutuskan untuk menepi sejenak.</p>
<p>Ketika menepi, <strong>pikiran Penulis akan terasa begitu riuh dengan pemikirannya sendiri</strong>. Penulis bukan tipe orang yang bisa masa bodo dengan kejadian yang sedang dialami.</p>
<p>Memang jika waktunya telah tiba, Penulis akan berpisah satu per satu dengan mereka semua. Kesedihan, merasa kehilangan, semua perasaan itu akan Penulis rasakan.</p>
<p>Hanya saja, sampai waktunya tiba, Penulis ingin <strong>menikmati momen-momen bersama mereka</strong> selama mungkin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Maret 2021, terinspirasi dari pertikaian kecil yang baru terjadi dengan seseorang</p>
<p>Foto: <a href="https://redwoodfamilytherapy.com/services/sad-boy-alone-in-a-bare-room/">Redwood Family Therapy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2019 08:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[peka]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, baper. Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, <em>baper</em>.</p>
<p>Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata suka <em>ceplas-ceplos </em>kalau bicara.</p>
<p>Padahal, mereka sama sekali tidak bermaksud menyakiti kita. Ya mungkin ada yang berniat seperti itu, tapi lebih banyak yang diniatkan untuk bercanda.</p>
<p>Apalagi setelah tinggal dan bekerja di Jakarta sejak akhir tahun kemarin, penulis semakin yakin bahwa kita tidak boleh mudah <em>baper</em> ketika berada di Jakarta.</p>
<p>Bahkan, penulis pernah berkata kepada teman-teman kantor bahwa kalau mau bertahan hidup di Jakarta enggak boleh mudah <em>baper</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi <em>Baper</em>?</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara penulis bisa, setidaknya, mengurangi sifat <em>baper </em>yang dimiliki? Setidaknya ada beberapa cara yang selama ini berusaha penulis terapkan di kehidupan sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>Berusaha Berpikir Positif, Tapi Ada Batasannya</strong></li>
</ol>
<p><div id="attachment_2296" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2296" class="wp-image-2296 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2296" class="wp-caption-text">Berpikir Positif (<a href="http://www.huffingtonpost.com">Huffington Post</a>)</p></div></p>
<div class="mceTemp"></div>
<p>Mungkin yang satu ini terdengar sangat <em>mainstream</em> karena hampir semua motivator selalu mengajak kita berpikir positif. Akan tetapi, penulis benar-benar merasakan manfaat positifnya.</p>
<p>Misal ada seorang teman yang ngomongnya sedikit nyelekit, segera pikirkan hal-hal positif seperti &#8220;dia cuma bercanda, dia cuma bercanda&#8221;.</p>
<p>Masalahnya, tidak semua bisa kita buat positif. Terkadang ada orang-orang yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">bercandanya kelewatan</a> sehingga kita tidak bisa tinggal diam begitu saja.</p>
<p>Jika memang terjadi seperti itu, <a href="https://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">katakan secara langsung</a> bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan gaya bercandanya. Abaikan jika orang tersebut malah nyeletuk &#8220;gitu aja <em>baper</em>&#8220;.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Tahan Diri</strong></li>
</ol>
<p>Jika ada sebuah ujaran membuatmu tersinggung, segeralah menahan diri dari emosi. Jika di kepercayaan yang penulis anut, penulis akan ber-<em>istighfar</em> sambil mengelus dada.</p>
<p>Penulis kerap melakukan yang namanya <em>self-hypnosis </em>dengan berbicara ke diri sendiri keras-keras. Karena tersugesti perkataan sendiri, penulis pun bisa mengontrol emosi lebih baik lagi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Jadikan Perkataan Orang Sebagai Bahan Intropeksi</strong></li>
</ol>
<p><div id="attachment_2297" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2297" class="wp-image-2297 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg" alt="" width="900" height="581" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-300x194.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-768x496.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2297" class="wp-caption-text">Jadi Bahan Interopeksi (<a href="http://www.thespiritscience.net">The Spirit Science</a>)</p></div></p>
<p>Mungkin perkataan orang yang menyakitkan ada benarnya. Bisa jadi orang tersebut hanya berusaha untuk mengingatkan kita. Daripada hanya sekadar sakit hati, kenapa tidak dijadikan bahan interopeksi diri?</p>
<p>Contoh, kita dibilang kampungan oleh teman. Alih-alih marah, coba tengok ke diri sendiri apa benar kita kampungan. Mungkin ada kelakuan kita yang membuat orang lain gusar sehingga melontarkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Jika memang merasa ada yang salah dengan diri kita, maka coba ubahlah sikapmu tersebut. Jika merasa tidak ada, bisa kita tanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, kenapa kita disebut secara demikian.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Bijaksana dengan Berpikiran Dewasa</strong></li>
</ol>
<p>Umur itu pasti, dewasa itu pilihan. Semakin bertambahnya usia tidak membuat kedewasaan kita bertambah pula. Kitalah yang menentukan tingkat kedewasaan yang dimiliki.</p>
<p>Kedewasaan seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu. Misal, ketika ada teman yang berulangtahun, kita tidak diajak untuk patungan kado.</p>
<p>Jika kita tidak dewasa, pasti kita akan langsung emosi dan menganggap mereka bajingan yang ingin menjadi musuh kita. Pikiran semacam ini tentu sangat kekanak-kanakan.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita sudah cukup dewasa, pasti kita cukup bijak untuk berusaha memahami situasi. Kita akan berusaha melihat alasan positif mengapa kita tidak diajak. Bisa saja, mereka membeli kado secara dadakan sehingga tak sempat mengajak kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin masih ada cara-cara lain yang belum sebutkan, tapi penulis rasa keempat hal tersebut sudah cukup untuk mengatasi sifat <em>baper</em> yang kita miliki.</p>
<p>Penulis sampai sekarang terkadang masih mudah <em>baper</em>, hanya saja sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dulu.</p>
<p>Yang namanya perasaan manusia itu bermacam-macam, ada yang halus ada yang tahan banting. Oleh karena itu, tentu bentuk perlakuannya pun harus berbeda-beda pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama. 13 April 2019, pernah dimuat di oyibanget.com dengan judul <em>Sering Diejek Baper? Berikut Cara Mengatasinya</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Anthony Tran</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2019 16:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[10yearchallenge]]></category>
		<category><![CDATA[challenge]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2078</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, media sosial riuh dengan sebuah tantangan baru berjudul #10yearchallenge. Inti dari tantangan tersebut adalah kita harus mengunggah foto kita 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan foto kita di masa kini. Penulis tidak ikut mengunggah foto demi tantangan tersebut. Bukan karena ingin dibilang tidak latah, hanya saja penulis terlalu malas untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/">Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, media sosial riuh dengan sebuah tantangan baru berjudul <strong>#10yearchallenge</strong>. Inti dari tantangan tersebut adalah kita harus mengunggah foto kita 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan foto kita di masa kini.</p>
<p>Penulis tidak ikut mengunggah foto demi tantangan tersebut. Bukan karena ingin dibilang tidak latah, hanya saja penulis terlalu malas untuk mencari foto-foto lawas. Apalagi, penulis bukan tipe orang yang suka difoto.</p>
<h3>Manfaat 10-Year Challenge</h3>
<p>Walaupun tidak ikut berpartisipasi, penulis tetap mengamati hal ini. Penulis pernah menulis panjang lebar tentang kurang bermanfaatnya <em>challenge-challenge </em>tersebut pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">Untuk Apa Viral</a>.</p>
<p><div id="attachment_2081" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2081" class="size-large wp-image-2081" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-1024x700.jpg" alt="" width="800" height="547" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-1024x700.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-130x90.jpg 130w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2081" class="wp-caption-text">#10yearchallenge (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.wired.com/story/facebook-10-year-meme-challenge/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiWzO3Mnf_fAhWKrI8KHTcFBDsQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wired</span></a>)</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis bisa melihat sisi positif dari tantangan yang satu ini, tidak seperti tantangan jatuh dari mobil yang hingga kini tidak bisa penulis temukan manfaatnya, selain pamer mobil mewah yang dimiliki oleh peserta tantangan.</p>
<p>Dengan melihat foto lama kita dan menyebarkannya di media sosial, mau tidak mau kita akan menjadi teringat masa-masa lalu itu. Nostalgia sejenak mungkin akan membantu kita melepaskan ketegangan dari penatnya rutinitas.</p>
<p>Akan tetapi, manfaat terbesar dari tantangan ini, jika kita sadar, adalah membuat kita merenungi apa saja yang telah kita lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini. Lebih banyak hal bermanfaatnya atau malah lebih banyak <em>mudharat-</em>nya<em>.</em></p>
<h3>Penulis, 10 Tahun yang Lalu</h3>
<p>10 tahun yang lalu, penulis masih duduk di bangku SMP yang akan masuk ke SMA. Selain menjalani kegiatan sekolah seperti siswa pada umumnya, penulis juga ikut beberapa organisasi seperti OSIS <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">meskipun tidak terlalu aktif</a>.</p>
<p>Setelah lulus SMA, penulis melanjutkan kuliah jurusan Informatika di Universitas Brawijaya. Sama seperti ketika sekolah, penulis juga mengikuti beberapa organisasi mulai dari Pers Kampus hingga Kelompok Riset Mahasiswa.</p>
<p>Lantas, penulis menjalani kehidupan yang sebenarnya, seperti yang sudah penulis ceritakan pada tulisan <a href="http://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja Di Mana</a>. Dan pada akhirnya, di sinilah penulis berdiri sekarang.</p>
<h3>Hasil Menengok ke Belakang</h3>
<p>Satu hal yang paling penulis sesali dari 10 tahun tersebut adalah ketika teringat betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Penulis kerap menonton acara <em>Runningman </em>ataupun bermain game PES 2013 selama berjam-jam.</p>
<p>Hal tersebut sangatlah tidak produktif. Penulis kerap berandai-andai, seandainya saja waktu itu penulis bisa memanfaatkan waktu lebih baik, mungkin saja kehidupan penulis sekarang bisa lebih baik. Bisa jadi penulis sudah berada di Reading untuk melanjutkan studi.</p>
<p><div id="attachment_2080" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2080" class="size-large wp-image-2080" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-1024x501.jpg" alt="" width="800" height="391" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-1024x501.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-300x147.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-768x375.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2080" class="wp-caption-text">Penyesalan (<a href="https://unsplash.com/@verneho">Verne Ho</a>)</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis juga sadar, tidak ada gunanya merutuk masa lalu. Yang bisa kita ubah adalah masa depan, dan masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini.</p>
<p>Memang terkadang masa lalu bisa ikut campur bahkan merusak apa yang tengah kita lakukan. Akan tetapi penulis selalu meyakini bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha yang sudah kita keluarkan.</p>
<p>Kalaupun <em>output </em>yang kita harapkan tidak terjadi, percayalah bahwa itu pertanda akan ada keberhasilan dalam bentuk lain yang seringkali tidak kita sangka. Yang lebih tahu mengenai apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan, maka berbaiksangkalah kepada-Nya.</p>
<p>Penulis menyadari kesalahan membuang-buang waktu di masa lalu, maka penulis harus bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki sekarang sebaik mungkin. Mengulang kesalahan yang sama akan membuat penulis termasuk orang yang merugi.</p>
<p>Dengan menengok ke belakang, kita bisa melakukan interopeksi diri. Kita bisa belajar dari pengalaman di masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. <em>Every cloud has a silver lining</em>. Semua selalu ada hikmahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Januari 2019, terinspirasi dari #10yearchallenge</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/P6tBU2aqdW8?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Hannah Busing</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/">Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Jangan) Memendam Permasalahan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2018 03:51:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[koreksi]]></category>
		<category><![CDATA[memendam]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=914</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah jengkel terhadap orang lain? Rasanya jika manusia normal tentu pernah mengalaminya. Kadang perbuatan maupun perkataan orang lain dapat melukai hati kita, walau belum tentu orang tersebut memang berniat untuk melakukannya. Memendam Permasalahan Beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam hati permasalahan yang tengah mereka hadapi. Dalam bahasanya Jawa mungkin disebut nggerundel. Biasanya, orang-orang yang memilih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/">(Jangan) Memendam Permasalahan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah jengkel terhadap orang lain? Rasanya jika manusia normal tentu pernah mengalaminya. Kadang perbuatan maupun perkataan orang lain dapat melukai hati kita, walau belum tentu orang tersebut memang berniat untuk melakukannya.</p>
<p><strong>Memendam Permasalahan</strong></p>
<p>Beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam hati permasalahan yang tengah mereka hadapi. Dalam bahasanya Jawa mungkin disebut <em>nggerundel</em>. Biasanya, orang-orang yang memilih jalur ini berusaha untuk menghindari konflik.</p>
<p>Alasan lainnya adalah karena mereka ingin berusaha menjaga perasaan orang yang melukai mereka. Mereka takut apa yang akan mereka katakan akan balik menyakiti perasaan orang tersebut. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak ingin balas dendam.</p>
<p><div id="attachment_916" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-916" class="size-full wp-image-916" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1.jpg" alt="" width="1000" height="667" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-916" class="wp-caption-text">Jangan DIpendam (http://www.jff.org.za/jjf-activism/girl-crying-2/)</p></div></p>
<p>Nah, yang buruk adalah jika kita memutuskan untuk memendam permasalahan yang terjadi, namun berpikiran buruk di belakang yang bersangkutan. Contohnya, membuat status yang digunakan untuk menyindir pihak-pihak tertentu.</p>
<p>Bisa juga, mereka menghasut yang lain dengan menceritakan keburukan-keburukan yang terjadi. Tentu ini dapat memperluas lingkup konflik yang tengah terjadi. Ini sama sekali bukan tindakan yang solutif.</p>
<p><strong>Mengutarakan Permasalahan</strong></p>
<p>Alangkah baiknya jika sedang menghadapi permasalahan, kita hadapi secara terbuka. Langsung temui orang-orang yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, lalu saling membuka diri. Abaikan resiko mereka akan menjadi tersakiti karena keterbukaan kita.</p>
<p>Sama seperti benda organik (selain tanaman yang memang harus ditanam) yang dipendam di dalam tanah, lama kelamaan benda tersebut akan membusuk. Permasalahan yang dipendam hanya akan memperbesar masalah tersebut. Jika bukan hari ini, esok masalah tersebut akan terkuak dengan sendirinya.</p>
<p>Jika kita merasa tidak suka dengan perbuatan orang lain, utarakan secara terus terang apa yang membuat kita tidak suka. Sampaikan dengan santun agar orang tersebut tidak tersinggung dengan ucapan kita. Bagaimana orang lain akan berubah jika kita tidak membantu mereka untuk koreksi diri?</p>
<p>Sebaliknya pun begitu, kita harus terbuka dengan kritikan orang lain. Apabila ada orang lain yang mengatakan ketidaksukaannya terhadap kita, jadikan hal tersebut sebagai bahan interopeksi. Jika perlu, diskusikan kepada orang tersebut, bagaimana caranya dapat mengubah sikap-sikap kita yang membuat orang lain kurang berkenan.</p>
<p><div id="attachment_917" style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-917" class="size-full wp-image-917" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking.jpg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><p id="caption-attachment-917" class="wp-caption-text">Saling Membuka Diri (http://www.au-pair.blog/5-aspects-you-and-your-au-pair-should-discuss/two-people-talking/)</p></div></p>
<p>Apakah semua permasalahan harus diselesaikan secara terbuka? Sejauh ini, penulis cenderung mempercayai hal tersebut dari berbagai pengalaman yang telah penulis alami. Menyimpan permasalahan sendirian hanya akan membuat kita stres. Menyelesaikan permasalahan secepatnya dengan keterbukaan akan mengurangi beban-beban yang kita pikul.</p>
<p>Walau, penulis akui, terkadang terdapat permasalahan yang menurut kita membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Juni 2018, terinspirasi dari sebuah permasalahan yang diselesaikan oleh Ketua Katar yang baru secara cepat dan terbuka</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.flexjobs.com/blog/post/flexibility-help-employees-with-mental-illness/">https://www.flexjobs.com/blog/post/flexibility-help-employees-with-mental-illness/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/">(Jangan) Memendam Permasalahan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
