Connect with us

Tentang Rasa

Menepi Sejenak

Published

on

Aku menyukai hubungan kita. Terasa dekat dan saling mengisi. Saling berbagi cerita dan melempar canda.

Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after.

Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti.

Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang serius, lebih sering hanya karena kesalahpahaman.

Percikan pertengkaran mewarnai hidup kita dan kadang membuat kita berpikir untuk pergi. Berpisah.

Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, kita sama-sama merasa bukan itu yang benar-benar kita inginkan.

Kita hanya bertikai untuk satu waktu. Kenapa itu harus membuat kita melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama?

Kita hanya butuh jeda, butuh waktu untuk sendiri. Memilih untuk menepi sejenak dan menenangkan diri.

Nikmati waktu kesendirian, merenungkan bagaimana kita bisa memulai pertengkaran.

Tak perlu mencari siapa yang salah, coba kita lihat ke dalam diri sendiri. Melakukan interopeksi diri.

Saat kita berpisah untuk sementara, coba rasakan betapa bedanya kehidupan yang kita lalui.

Jika dirasa cukup, kita akan kembali menjalani hari bersama seperti sedia kala.

Karena pada dasarnya, kita tidak ingin kehilangan satu sama lain.

***

Dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya, pasti ada momen di mana kita bertikai dan membuat hubungan merenggang.

Bagi Penulis, hal ini sangat wajar. Semakin dekat dan erat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar potensi munculnya konflik.

Yang penting adalah bagaimana kita berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Terkadang, kita butuh untuk menepi sejenak agar bisa berpikir lebih jernih.

Ketika menepi, dalam artian menjaga jarak dengan orang tersebut untuk jangka waktu tertentu, sebaiknya kita melakukan interopeksi diri

Tanyakan pada diri kenapa pertikaian tersebut bisa terjadi. Jangan fokus pada siapa yang salah, tapi pada bagaimana hal tersebut jangan sampai terulang.

Jika perasaan sudah kembali tenang, coba bicarakan hal tersebut baik-baik dengannya. Curahkan isi hati agar tidak ada yang mengganjal dan menjadi benalu diri.

***

Perpisahan memang menjadi hal yang tak terelakkan dalam sebuah hubungan. Inevitable kalau kata Thanos.

Ada yang karena perbedaan visi, ada yang karena sakit hati, ada yang karena kematian, banyak penyebab hubungan harus berakhir.

Walaupun begitu, Penulis tidak ingin hubungan dengan orang-orang terdekatnya putus karena hal yang kurang baik.

Jika memang harus berpisah, terlepas apapun alasannya, setidaknya kita bisa berpisah secara baik-baik.

Memang menyedihkan, kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada harus berpisah secara buruk dengan perasaan saling membenci.

***

Jika memungkinkan, Penulis ingin terus menjalin hubungan baik dengan semua orang yang dikenalnya dalam hidup.

Entah keluarga, teman mulai kecil, teman kuliah, teman kantor di Jakarta, anak-anak Karang Taruna, semuanya.

Sayangnya, Penulis hidup di dunia nyata yang tidak semulus jalan cerita drama Korea. Pasti ada banyak lika-liku yang akan membuat Penulis memutuskan untuk menepi sejenak.

Ketika menepi, pikiran Penulis akan terasa begitu riuh dengan pemikirannya sendiri. Penulis bukan tipe orang yang bisa masa bodo dengan kejadian yang sedang dialami.

Memang jika waktunya telah tiba, Penulis akan berpisah satu per satu dengan mereka semua. Kesedihan, merasa kehilangan, semua perasaan itu akan Penulis rasakan.

Hanya saja, sampai waktunya tiba, Penulis ingin menikmati momen-momen bersama mereka selama mungkin.

 

 

Lawang, 8 Maret 2021, terinspirasi dari pertikaian kecil yang baru terjadi dengan seseorang

Foto: Redwood Family Therapy

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tentang Rasa

Untuk Kamu yang Merasa Kesepian

Published

on

By

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Mau mengaku sebagai introver sekalipun, tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup sendirian tanpa orang lain.

Seorang introver sekalipun membutuhkan rasa hangat yang bisa muncul dari keluarga maupun lingkaran pertemanan. Memiliki orang-orang dekat adalah sebuah anugerah yang perlu kita syukuri.

Sayangnya, terkadang perasaan kesepian tetap datang meskipun kita bersama orang-orang di sekitar kita. Bahayanya, perasaan kesepian tersebut bisa menimbulkan dampak yang serius bagi kesehatan fisik dan mental kita.

Beberapa Ciri Kita Merasa Kesepian

Ketika sedang membuka Instagram, Penulis menemukan sebuah postingan dari akun @petualanganmenujusatu yang menunjukkan beberapa ciri orang yang merasa kesepian:

Jika dirangkum, setidaknya ada lima ciri merasa kesepian, yakni:

  1. “Bercerita terlalu banyak” ketika ada yang mau mendengarkan
  2. Merasa sendirian dan terisolasi meski dikelilingi orang banyak
  3. Merasa sebagai “orang yang paling tidak dibutuhkan” dalam lingkar pertemanan
  4. Merasa butuh untuk selalu menyenangkan orang lain
  5. Kesulitan untuk membangun pertemanan yang berarti

Mungkin ada beberapa ciri lain, seperti suka merasa sedih ketika sendirian, merasa hidupnya “hampa”, gaya hidup menjadi tidak sehat, merasa tidak diinginkan, mood yang berubah-ubah, dan lain sebagainya. Ciri ini bisa berbeda tergantung orangnya.

Dampak dari Merasa Kesepian

Kesepian adalah salah satu bentuk perasaan yang paling buruk. Dilansir dari HelloSehat, merasa kesepian dapat menimbulkan depresi bahkan menimbulkan keinginan untuk bunuh diri.

Merasa kesepian juga bisa memengaruhi kesehatan fisik karena dapat memicu stres dan gangguan tidur. Seperti yang telah kita ketahui karena adanya pandemi Covid-19, stres dapat menurunkan imun tubuh sehingga penyakit mudah masuk.

Memang perasaan kesepian terlihat sepele, tetapi dampak yang diakibatkan tidak bisa dianggap remeh. Tidak perlu mendengarkan kata orang kalau kita merasa kesepian hanya demi mendapatkan perhatian dari orang lain.

Merasa kesepian itu nyata. Merasa kesepian itu berdampak buruk untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Cara Mengatasi Rasa Kesepian

Ada banyak hal yang bisa kita coba untuk mengusir rasa kesepian. Yang paling “mudah” dilakukan adalah dengan melakukan interaksi dengan orang lain. Tidak usah pedulikan mereka akan berpikir apa, coba saja hubungi mereka dan jalin komunikasi.

Selain itu, kita bisa menyibukkan diri entah dengan pekerjaan maupun hobi. Cari aktivitas positif yang bisa menambah nilai diri. Ketika waktu kita padat, kita hampir tidak punya waktu untuk overthinking atas perasaan kesepian tersebut.

Banyak yang menasihatkan kalau perasaan sepi itu datang karena kita lupa akan keberadaan Tuhan yang sejatinya selalu ada untuk kita. Oleh karena itu, mendekatkan diri ke Tuhan bisa menjadi solusi yang baik.

Beberapa cara lain yang bisa dicoba adalah berjalan-jalan untuk ganti suasana, perbanyak bersykur, memelihara hewan peliharaan, hingga berkonsultasi ke ahli. Ada banyak cara untuk bisa membantu kita mengusir perasaan kesepian.

Namun perlu dicatat, merasa kesepian adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain.

Artinya, kita tidak boleh berharap akan ada orang yang hadir untuk bisa membantu kita mengusir rasa kesepian tersebut, sekalipun mereka adalah keluarga maupun sahabat terdekat kita.

Mereka memang bisa membantu kita untuk mengusir perasaan kesepian, tetapi jangan sampai kita menggantungkan diri ke mereka. Memang berat, sangat berat, tapi harus dan wajib dilakukan. Kita yang punya kendali terhadap diri ini, kita sendiri yang harus bisa mengendalikan pikiran dan perasaan kita.

Jika kita punya masalah dengan diri sendiri, cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri. Jangan menyalahkan diri sendiri atas perasaan kesepian yang kita alami, berusahalah untuk menerima kekurangan diri sembari berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Penutup

Memiliki perasaan kesepian memang benar-benar tidak enak. Sayangnya, kita hanya bisa bergantung kepada diri sendiri untuk bisa mengusir perasaan tersebut. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika kita bersungguh-sungguh.

Semoga kita semua bisa mengusir perasaan kesepian yang kerap menghantui diri kita.


Lawang, 23 Oktober 2021, terinspirasi setelah melihat postingan Instagram dari petualanganmenujusatu

Foto: Pixabay · Photography (pexels.com)

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tentang Rasa

Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati

Published

on

By

So they say that time
Takes away the pain
…but I’m still the same

Heartache (35XXXVV) – One OK Rock

Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain.

Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak berbalas, dikhianati dengan kejam, hubungan yang berakhir begitu saja, ditikung, ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil sebagai contoh.

Orang-orang sering bilang kalau sakit hati juga akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Time will heals. Benarkah begitu?

Berbagai Cara Obati Sakit Hati

Apa Obat Sakit Hati? (Diana Polekhina)

Sama seperti penyakit lain, sakit hati pun tentu ada obatnya. Setiap orang memiliki obatnya masing-masing sesuai dengan kepribadian, lingkungan, pengalaman, tingkat sakit hati, dan lain sebagainya. Penulis akan coba jabarkan beberapa di antaranya.

Secara logika, manusia akan berusaha membenci orang yang membuatnya merasa sakit hati. Bahkan, tak jarang orang yang memiliki sifat pendendam akan berusaha untuk membuat orang tersebut merasakan sakit yang lebih parah lagi.

Selain itu, kadang kita membutuhkan orang lain untuk bisa melupakan si penyebab sakit hati. Mencurahkan perhatian dan kasih sayang ke orang lain bisa menjadi obat yang cukup ampuh. Dengan kata lain, mencari orang lain sebagai “pelampiasan”.

Kadang tempat di mana kita berada bisa menjadi penyebab sakit hati. Oleh karena itu, “kabur” dan pindah ke tempat baru bisa membantu kita untuk melupakan sakit hati tersebut. Hanya saja, kondisi pandemi seperti sekarang membuat aktivitas ini cukup sulit dilakukan.

Ada juga yang memutuskan untuk fokus memperbaiki diri sendiri, menemukan versi dirinya yang lebih baik lagi. Kejadian kelam yang telah terjadi dijadikan titik balik dalam hidupnya. Ia berusaha melakukan interopeksi demi menemukan apa yang bisa diperbaiki dari dirinya.

Menyibukkan diri dengan banyak hal juga menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan sakit hati kita. Ada yang sibuk dengan berbagai aktivitas produktif, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kegiatan kurang bermanfaat dengan dalih “pelarian”.

Mana Pilihan Penulis?

Fokus Memperbaiki Diri Sendiri (Jonathan Borba)

Kalau Penulis harus sampai mengalami sakit hati yang menyakitkan, pilihan membenci orang dan mencari orang baru sebagai “pelampiasan” sepertinya akan dikesampingkan.

Mau sesakit apapun luka yang diberi oleh orang lain, Penulis akan berusaha untuk tidak membalas sakit tersebut. Memang susah, tapi bisa dilakukan jika kita bisa berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas dan mau memaafkannya.

Mencari orang lain sebagai “pelampiasan” juga bukan style Penulis. Jika harus membuka hati untuk orang baru, Penulis harus bisa mengobati sakit hatinya terlebih dahulu. Jangan sampai orang lain terkena getah dari sakit yang kita alami.

Penulis pernah “kabur” untuk jangka waktu yang cukup panjang dan cukup efektif. Hanya saja, sekali lagi kondisi pandemi seperti ini membuat mobilitas kita sangat terhambat.

Obat yang Penulis pilih secara pribadi adalah fokus memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, ini obat yang susahnya bukan main karena perasaan kita sendiri masih kacau.

Dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat demi mengalahkan rasa sakit yang ada di dalam hati. Terkadang kita harus memaksa diri untuk terus melangkah maju, walau perih kadang masih terasa begitu mengiris.

Hanya saja, meskipun terkadang sudah melakukan banyak hal, sakit hati masih saja terus terasa.

Berdampingan dengan Luka

Sabar, Kadang Sakit Hati Memang Susah Hilangnya (Bernard)

Kembali ke paragraf awal, di mana Penulis sempat menyebut time will heals. Selain mencoba berbagai obat yang tersedia, kita juga berpikir kalau waktu pada akhirnya akan pelan-pelan mengobati luka tersebut.

Sayangnya, bahkan waktu pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani sakit hati kita.

Ada yang masih merasakan sakit hati walau waktu telah berlalu selama satu bulan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, bahkan seumur hidupnya. Kita seolah tidak bisa berdamai dengan sakit hati ini.

Berbagai obat sudah dicoba dan tidak ada yang berhasil. Kegagalan ini yang kadang menyebabkan orang terjerumus ke jalan yang salah ketika sedang sakit hati. Mabuk, narkoba, seks bebas, dan lain-lain.

Jika memang kita kesulitan untuk mengobati sakit hati tersebut, cobalah untuk hidup berdampingan rasa sakit tersebut.

Ketika sakit tersebut teringat atau terasa secara tiba-tiba, coba disenyumi saja, yang sabar, sembari menyugesti diri untuk ikhlas. Memang masih akan terasa sakit, tapi setidaknya kita bisa mengendalikan respon kita terhadap rasa sakit tersebut.

Kalaupun waktu tidak bisa mengobati sakit kita, setidaknya kita bisa hidup dengan rasa sakit tersebut tanpa mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Memang terdengar utopis dan belum teruji, tapi tidak ada ruginya untuk dicoba.

Jadikan rasa sakit yang seolah tak ada habisnya tersebut untuk menyusun kehidupan menjadi lebih baik lagi. Jadikan pelajaran agar kesalahan yang membuat kita merasa sakit tidak terulang lagi di masa depan.

Penutup

Pada akhirnya, kita semua hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Kita memiliki tingkat daya tahan dalam menerima sakit yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih dengan cepat, ada yang kesulitan untuk bisa menerima rasa sakit tersebut.

Apa yang bisa kita lakukan adalah respon terhadap rasa sakit tersebut. Apakah rasa sakit itu akan menjadi turning table kita atau justru malah menjerumuskan kita, semua pilihan ada di tangan kita.

Jika Pembaca ingin mencari inspirasi yang terkait dengan masalah perasaan, silakan mampir ke rubrik Tentang Rasa, rubrik terbaru dari Whathefan.


Lawang, 23 September 2021, terinspirasi dari…

Foto: Aron Visuals on Unsplash

Continue Reading

Tentang Rasa

Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas

Published

on

By

People come and go atau people come, people go. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya.

Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, teman kerja, teman pengajian, dan lain sebagainya.

Dari banyaknya orang yang kita kenal, mungkin hanya beberapa yang tetap keep in touch dengan kita hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, circle kita semakin mengecil dan mengerucut.

Ada beberapa yang memilih untuk stay dengan kita, entah karena kecocokan, merasa satu frekuensi, asyik diajak nongkrong, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang ada yang memutuskan untuk leave dengan beragam alasan.

Memaksa Orang untuk Stay

Baik stay maupun leave, masing-masing memiliki alasannya masing-masing. Kadang kita bisa tahu alasannya, kadang kita dibuat penasaran setengah mati hingga jadi menebak-nebak alasannya.

Penulis sendiri tipikal orang yang berusaha menahan orang-orang yang penting baginya untuk stay selama mungkin di kehidupan Penulis. Kalau bisa terus disambung, kenapa harus diputus hubungannya?

Memang terkadang ada saja pertikaian atau perselisihan. Ada yang sepele, tapi tak jarang ada masalah besar hingga membuat hubungan renggang. Namun, hal tersebut bisa dibenahi bersama jika masing-masing punya kesadaran akan kesalahannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis menyadari bahwa menahan orang untuk stay di saat yang bersangkutan tidak ingin hanya akan membuat kita merasa sakit hati.

Terlepas dari apapun alasannya hingga mereka ingin pergi dari kehidupan kita, kita sebenarnya tidak punya hak untuk memengaruhi pilihannya tersebut. Berusaha membujuk boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai mengemis-ngemis.

Mulai sekarang, Penulis tidak akan memaksa orang lain untuk stay di kehidupan Penulis apapun alasannya. Kalau mau leave ya monggo saja, Penulis akan berusaha ikhlas menerima kenyataan tersebut. Kalaupun Penulis merasa sakit hati, ya sudah mau diapa juga.

Yang bisa Penulis lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga mereka yang leave dari kehidupan Penulis bisa menemukan kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka.

Menghargai Orang yang Stay

Daripada menghabiskan waktu dan tenaga demi menahan orang untuk stay, lebih baik kita mengalokasikannya kepada orang yang mau stay di kehidupan kita. Kita harus bisa lebih berusaha menghargai mereka.

Kita juga harus bersyukur kepada orang-orang yang sudah berkenan untuk stay di kehidupan kita. Apalagi Penulis merasa dirinya sebagai pribadi yang agak “sulit”, sehingga Penulis sangat menghargai orang-orang yang mau stay.

Daripada memusingkan dan menangisi orang-orang yang leave, lebih baik Penulis mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang stay.

Penulis merasa senang mereka mau stay, sehingga merasa kalau dirinya butuh melakukan sesuatu sebagai gantinya. Penulis akan berusaha untuk menjadi “orang yang baik” untuk mereka dan siap kapanpun dimintai bantuan.

Orang-orang yang mau stay di kehidupan Penulis sangat berarti untuk Penulis, sehingga Penulis akan berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Potensi konflik sebisa mungkin diminimalisir.

Seandainya orang-orang yang stay tersebut akhirnya memutuskan untuk leave, Penulis akan berterima kasih kepada mereka karena pernah hadir di kehidupan Penulis. Sedih pasti, tapi yang namanya pertemuan memang pasti memiliki perpisahan.

Penutup

Saat ini, Penulis tengah berusaha menerapkan prinsip hidup, “Kalau mau stay ya stay, kalau mau leave ya leave, bebas.”

Penulis menyadari bahwa meskipun kita kerap berjalan beriringan dengan orang lain, akan datang masanya kita akan berpisah jalan. Seperti yang sudah disinggung di atas, penyebabnya ada bermacam-macam.

Kita tidak bisa mengendalikan apakah orang akan stay atau leave dari kehidupan kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah respon kita terhadap keputusan mereka tersebut.

Daripada sakit hati karena merasa ditinggalkan, lebih baik kita berusaha untuk menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. Daripada menyumpahi hal buruk kepada mereka, lebih baik kita bersyukur dan berterima kasih atas semua kenangan yang telah diberikan.

Pada akhirnya, people come and go. Kita tidak bisa menahan orang lain untuk tetap stay bersama kita selamanya, sekalipun kita sangat menginginkannya.


Lawang, 16 September 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi

Foto: Dương Nhân · Photography (pexels.com)

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan