<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kriminal Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kriminal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kriminal/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Sep 2025 12:19:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kriminal Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kriminal/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Koleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-30-deception-murder-in-hong-kong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-30-deception-murder-in-hong-kong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2025 12:19:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[deduksi]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8385</guid>

					<description><![CDATA[<p>Werewolf bisa dibilang tetap menjadi salah satu board game favorit yang paling sering dimainkan, apalagi waktu dulu anak-anak Karang Taruna atau teman-teman kuliah masih sering kumpul. Penulis lebih sering menjadi moderator daripada ikut bermain, karena bagi Penulis memang lebih enak menjadi orang yang &#8220;mengendalikan&#8221; permainan. Namun, apa jadinya jika kita bermain Werewolf tanpa moderator? Itulah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-30-deception-murder-in-hong-kong/">Koleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-1/">Werewolf</a> bisa dibilang tetap menjadi salah satu <em>board game </em>favorit yang paling sering dimainkan, apalagi <a href="https://whathefan.com/permainan/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">waktu dulu anak-anak Karang Taruna</a> atau teman-teman kuliah masih sering kumpul.</p>



<p>Penulis lebih sering menjadi moderator daripada ikut bermain, karena bagi Penulis memang lebih enak menjadi orang yang &#8220;mengendalikan&#8221; permainan. Namun, apa jadinya jika kita bermain Werewolf tanpa moderator?</p>



<p>Itulah yang akan kita temukan dalam <strong>Deception: Murder in Hong Kong</strong>. Semua bisa ikut bermain dan kebagian peran masing-masing tanpa perlu ada moderator yang mengarahkan permainan. Kok bisa?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game Deception: Murder in Hong Kong</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Deception: Murder in Hong Kong</li>



<li>Desainer: Tobey Ho</li>



<li>Publisher: Jolly Thinkers</li>



<li>Tahun Rilis: 2014</li>



<li>Jumlah Pemain: 4-12 pemain</li>



<li>Waktu Bermain: 20 menit</li>



<li>Rating BGG: 7,4</li>



<li>Tingkat Kesulitan: 1,58/5</li>



<li>Harga: Rp700.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Deception: Murder in Hong Kong</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="How to Play Deception: Murder in Hong Kong" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/AuBmikjCgjI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ada satu perbedaan besar antara <a href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Werewolf</a> dan Deception: Murder in Hong Kong, yaitu tidak adanya pemain yang tewas di tengah jalan. Jadi, orang yang tewas di permainan ini bersifat fiktif, dan semua pemain berkesempatan untuk menangkap pelakunya.</p>



<p>Sama seperti Werewolf, hal pertama yang dilakukan dalam permainan ini adalah membagikan <em>role </em>untuk masing-masing pemain. Nantinya, pemain yang kebagian <strong>Forensic Scientist</strong> akan membuka identitas dirinya, karena selanjutnya ia akan menjadi kunci untuk menemukan siapa Murderer-nya.</p>



<p>Nah, akurasi petunjuk dari Forensic Scientist menjadi kunci permainan ini. Jika sampai tiga babak para Investigator gagal menemukan siapa Murderer-nya, maka Murderer akan memenangkan permainan.</p>



<p>Selain Forensic Scientist yang <em>role</em>-nya langsung terungkap di awal permainan, <em>role </em>yang dimiliki oleh <em>board game </em>ini ada: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Murderer </strong>(x1): Tersangka utama yang harus ditemukan agar Investigator menang.</li>



<li><strong>Investigator </strong>(x8): Detektif yang harus bisa menemukan siapa Murderer di antara para pemain berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.</li>



<li><strong>Accomplice </strong>(x1): Rekan pembunuh Murderer, harus bisa membantu melindungi Murderer secara diam-diam tanpa ketahuan.</li>



<li><strong>Witness </strong>(x1): Saksi pembunuhan yang tahu siapa Murderer-nya, tapi harus hati-hati karena ia tidak boleh berhasil ditebak oleh Murderer. Jika Murderer siapa Witness, maka dia tetap menang. </li>
</ul>



<p>Setelah masing-masing peman mendapatkan <em>role</em>-nya, maka mereka akan mendapatkan empat<strong> Clue Card </strong>(berwarna merah) dan <strong>Means Card</strong> (berwarna biru). Clue Card merupakan petunjuk yang tertinggal di TKP, sedangkan Means Card adalah cara membunuh korban.</p>



<p>Nah, Clue Card dan Means Card ini ada banyak sekali macamnya, mulai dari barang umum sampai absurd ada semua. Cara membunuhnya pun macam-macam, mulai dari yang sederhana sampai rumit kayak di Detective Conan ada semua..</p>



<p>Di awal permainan, Murderer akan memilih satu Clue Card dan satu Means Card, yang diketahui oleh Forensic Scientist. Berdasarkan kartu yang dipilih oleh Murderer, Forensic Scientist harus bisa memberikan petunjuk melalui <strong>Scene Tiles</strong> yang ada. </p>



<p>Setiap permainan, akan ada enam Scene Tiles yang akan membantu Investigator menebak siapa Murderer-nya. Scene Tiles ini macam-macam, mulai dari kondisi mayat, waktu pembunuhan, lokasi pembunuhan, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Total akan ada tiga ronde sampai permainan berhasil. Di setiap awal ronde, pemain bisa mengganti satu Scene Tiles yang dianggap paling tidak membantu. Masing-masing pemain selain Forensic Scientist punya satu kali kesempatan menebak siapa Murderer.</p>



<p>Nah, ini yang agak sulit. Untuk bisa menangkap Murderer, pemain harus bisa menebak dengan tepat apa Clue Card dan Means Card yang dipilih. Kalau hanya benar satu, Murderer tidak akan bisa ditangkap. </p>



<p>Kurang lebih seperti itu jalannya permainan Deception: Murder in Hong Kong. Pemain bisa melakukan beberapa variasi agar lebih menantang, seperti menambah jumlah Clue Card dan Means Card untuk masing-masing pemain.</p>



<p>Selain itu, ada juga <strong>Event Tiles</strong> yang akan memberikan keuntungan tambahan bagi pemain. Event Tiles ini sifatnya opsional, sehingga tidak wajib digunakan. Komponen lainnya di <em>board game </em>ini ada:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Badge Token (x11): Digunakan ketika pemain ingin menebak siapa Murderer beserta Clue Card dan Means Card-nya.</li>



<li>Wooden Bullet Marker (x6): Digunakan oleh Forensic Scientist untuk menandai petunjuk di Scene Tiles.</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Deception: Murder in Hong Kong</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Koleksi-Board-Game-30-Deception-Murder-in-Hong-Kong-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8387" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Koleksi-Board-Game-30-Deception-Murder-in-Hong-Kong-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Koleksi-Board-Game-30-Deception-Murder-in-Hong-Kong-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Koleksi-Board-Game-30-Deception-Murder-in-Hong-Kong-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Koleksi-Board-Game-30-Deception-Murder-in-Hong-Kong-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Deception: Murder in Hong Kong (<a href="https://www.boardgamequest.com/deception-murder-in-hong-kong-review/">Board Game Quest</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang menyukai Werewolf, tentu Deception: Murder in Hong Kong menjadi <em>board game </em>yang sangat menarik untuk dimainkan. Mengingat Penulis lebih sering moderator ketika bermain Werewolf, <em>board game </em>ini menjadi cara Penulis ikut bermain secara aktif.</p>



<p>Cara bermainnya yang sederhana juga membuat <em>board game </em>ini bisa dimainkan dengan siapa saja. Kita benar-benar dituntut untuk memiliki imajinasi ala detektif untuk bisa memecahkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.</p>



<p>Nah, Forensic Scientist adalah kunci permainan. Apabila ia pintar memberikan petunjuk, maka Murderer akan lebih mudah ditemukan. Kalau memberi petunjuknya <em>ngaco</em>, maka Murderer akan tertawa dalam hati karena merasa aman.</p>



<p>Banyaknya opsi Clue Card dan Means Card juga membuat <em>replaybility </em>permainan ini cukup tinggi. Tidak ada permainan yang benar-benar sama, apalagi <em>role </em>pemain juga akan terus berubah-ubah. Kalau tidak puas, bahkan masih ada kartu ekpansinya.</p>



<p>Mungkin kekurangan terbesar <em>board game </em>ini sama seperti Werewolf, yakni membutuhkan banyak pemain agar terasa lebih seru.  akan memiliki banyak celah untuk mengamankan dirinya dengan menggiring opini pemain. </p>



<p>Apalagi, <em>role </em>Accomplice dan Witness baru bisa digunakan kalau jumlah pemain lebih dari lima. Jika yang bermain hanya empat-lima orang, maka permainan cenerung akan terasa hambar. Makin banyak pemain, maka adu bacotnya pun akan semakin <em>chaos</em>. </p>



<p>Untuk komponen <em>board game</em>-nya sendiri bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Namun, perlu dicatat bahwa kotaknya sudah memiliki sekat-sekat sehingga kita bisa menyimpan semua komponennya dengan rapi.</p>



<p>Yang jelas, Deception: Murder in Hong Kong adalah sebuah <em>board game </em>yang sangat cocok untuk dimainkan ketika ada banyak orang. Sebagai <em>board game </em>yang membutuhkan adu bacot, Deception: Murder in Hong Kong jelas bisa menimbulkan kegaduhan!</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<p>Setelah membeli Deception: Murder in Hong Kong, Penulis membeli sebuah <em>board game </em>klasik di Toys Kingdom karena sedang diskon. <em>Board game </em>yang pernah Penulis mainkan waktu kecil ini membuat kita mempertanyakan seberapa banyak sebenarnya <em>vocabulary </em>yang kita miliki?</p>



<p>Yups, <em>board game </em>selanjutnya yang akan Penulis bahas tidak lain tidak bukan adalah <strong>Scrabble</strong>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 September 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutnkan seri board game ini</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-30-deception-murder-in-hong-kong/">Koleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-30-deception-murder-in-hong-kong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dosa Terbesar Seorang Penjahat</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2019 17:18:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[kejahatan]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[merasa lebih baik]]></category>
		<category><![CDATA[penjahat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2478</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya apa dosa terbesar seorang penjahat, apa jawaban kita? Tentu kita akan menjawab kesalahan terbesar mereka adalah melakukan kejahatan tersebut. Apabila mereka dipenjara karena korupsi, maka kesalahan terbesar mereka adalah karena telah mencuri uang rakyat yang bukan haknya, padahal mereka sendiri telah dilimpahi harta melimpah. Apabila mereka dipenjara karena memperkosa, maka kesalahan terbesar mereka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanya apa dosa terbesar seorang penjahat, apa jawaban kita? Tentu kita akan menjawab kesalahan terbesar mereka adalah melakukan kejahatan tersebut.</p>
<p>Apabila mereka dipenjara karena korupsi, maka kesalahan terbesar mereka adalah karena telah mencuri uang rakyat yang bukan haknya, padahal mereka sendiri telah dilimpahi harta melimpah.</p>
<p>Apabila mereka dipenjara karena memperkosa, maka kesalahan terbesar mereka adalah melecehkan wanita hingga pada taraf yang paling hina.</p>
<p>Apabila mereka dipenjara karena mengonsumsi obat-obatan terlarang, maka kesalahan terbesar mereka adalah tidak bisa menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan.</p>
<p>Kurang lebih, seperti itulah yang akan muncul di dalam benak kita. Akan tetapi bagaimana jika semua jawaban itu salah? Bagaimana jika kesalahan terbesar mereka adalah <strong>membuat kita merasa paling suci?</strong></p>
<h3>Ketika Melihat Orang Lain Salah&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_2481" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2481" class="size-large wp-image-2481" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2481" class="wp-caption-text">Seorang Koruptor DItangkap (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://mediaindonesia.com/read/detail/134053-konstruksi-realitas-setya-novanto" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi7vbj8yv3iAhUeS48KHdZQAksQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Media Indonesia</span></a>)</p></div></p>
<p>Ini bukan murni hasil pemikiran penulis. Penulis mendapatkan gagasan ini dari Sujiwo Tejo pada salah satu cuitannya di Twitter. Ketika merenungkannya, penulis merasa apa yang dikatakan oleh dalang edan tersebut ada benarnya.</p>
<p>Ketika melihat koruptor, bisa jadi kita merasa lebih baik dari mereka karena tidak melakukan hal yang sama. Benarkah itu? Benarkah kita tidak pernah melakukan korupsi?</p>
<p>Padahal, bisa saja kita korupsi dalam bentuk yang lain. Korupsi waktu, korupsi nilai sekolah dengan menyontek, korupsi uang kecil-kecilan dengan tidak mengembalikan sisa uang belanja dari ibu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas, mengapa kita harus merasa lebih baik dari koruptor? Apakah hak kita untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">menganggap diri ini lebih baik</a> hanya karena beberapa parameter yang punya peluang besar untuk salah?</p>
<p>Ada contoh yang lebih dekat. Masih ingat ketika ada dua orang wanita yang mengomel di media sosial karena tidak mendapatkan tiket <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a> dan menuduh ada &#8220;orang dalam&#8221;?</p>
<p>Kebanyakan netizen langsung menghujani mereka dengan cacian dan tidak sedikit makian. Bahkan kenal pun tidak, kenapa jari-jari kita ini tidak bisa menahan untuk berbuat yang tidak perlu seperti itu?</p>
<p>Mereka salah, iya. Tuduhan mereka tidak berdasar, padahal itu karena mereka yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Tapi, apa hak kita menilai mereka hanya dengan cuplikan video selama beberapa detik itu?</p>
<p>Penulis merasa pendapat Sujiwo Tejo ada benarnya, meskipun tidak tahu bagaimana dasar hukumnya dalam agama. Merasa lebih baik itu termasuk <em>ujub </em>dan sombong. Kedua sifat tersebut merupakan dosa.</p>
<p>Bayangkan saja ada seorang penjahat melakukan kejahatan, lantas membuat satu juta orang yang melihatnya merasa lebih baik dari sang penjahat.<em>..</em></p>
<h3>Daripada Menghakimi Seperti Itu&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_2482" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2482" class="size-large wp-image-2482" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/dosa-terbesar-seorang-penjahat-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2482" class="wp-caption-text">Hakim di Media Sosial (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjd3-CDzP3iAhVJs48KHY6PBwIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div></p>
<p>Netizen kini seolah telah merangkap peran sebagai seorang hakim sosial dari setiap permasalahan. Mereka menjustifikasi sesuatu berdasarkan apa yang mereka yakini benar.</p>
<p>Memang tidak ada salahnya <a href="https://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengutarakan pendapat</a>, karena itu merupakan hak kita. Akan tetapi, yang penulis sedihkan adalah cara penyampaiannya yang terkadang sama sekali tidak santun.</p>
<p>Daripada menghakimi orang lain seperti itu, kenapa kita tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan interopeksi diri?</p>
<p>Setiap melihat kesalahan orang lain, jadikanlah kesalahannya tersebut sebagai pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai kita hanya ikut berkomentar tanpa mendapatkan manfaatnya.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk berhenti merasa lebih baik dari penjahat yang tertangkap, berhenti menghakimi orang lain hanya dari media sosial.</p>
<p>Lebih baik kita fokus membangun diri yang lebih baik lagi dan belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Juni 2019, terinspirasi dari banyaknya netizen yang suka main hakim sendiri di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.videoblocks.com/video/prison-cells-in-jail---man-in-orange-jumpsuit---inmate-behind-bars-haormgrzinq5ytf5" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwivo97Ryv3iAhVNiHAKHf3SAqYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Video Blocks</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2019 16:47:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-Orang Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar karya-karya Andrea Hirata. Semua karyanya sudah penulis baca. Oleh karena itu, sewaktu tahu Andrea Hirata merilis novel baru berjudul Orang-Orang Biasa, penulis tanpa berpikir panjang langsung membelinya. Keputusan yang tepat, karena novel ini langsung menjadi salah satu novel favorit penulis. SPOILER ALERT! Apa Isi Buku Ini? Menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/">Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar karya-karya <strong>Andrea Hirata</strong>. Semua karyanya sudah penulis baca. Oleh karena itu, sewaktu tahu Andrea Hirata merilis novel baru berjudul <strong>Orang-Orang Biasa</strong>, penulis tanpa berpikir panjang langsung membelinya.</p>
<p>Keputusan yang tepat, karena novel ini langsung menjadi salah satu novel favorit penulis. <strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan gaya bahasa melayu khas Hirata, novel ini bercerita dari dua sisi. Ini menjadi salah satu poin mengapa penulis menyukai novel ini.</p>
<p>Pertama, dari sisi seorang <strong>Inspektur Abdul Rojali</strong> yang mengeluh tentang sedikitnya jenis kejahatan yang terjadi di kampungnya, <strong>Belantik</strong>. Ia ditemani oleh sersannya yang setia, <strong>Sersan P. Arbi</strong>.</p>
<p>Kedua, adalah sekelompok anak SD pecundang yang kerap dirundung dan tak pernah pandai di kelasnya. Mereka adalah <strong>Honorun</strong>, <strong>Salud</strong>, <strong>Junilah</strong>, <strong>Handai</strong>, <strong>Tohirin</strong>, <strong>Rusip</strong>, <strong>Nihe</strong>, <strong>Dinah</strong>, <strong>Sobri</strong>, dan <strong>Debut Awaludin</strong>.</p>
<p>Awalnya, penulis mengira bahwa kisah ini akan mirip dengan <em>Laskar Pelangi </em>yang menceritakan kehidupan orang-orang miskin tapi ingin giat bersekolah. Ternyata, penulis salah.</p>
<p>Mereka bersepuluh tidak ada yang sukses, paling mentok lulus SMA. Ada yang berjualan mainan, ada yang bukan usaha, ada yang jadi motivator dadakan, dan lain sebagainya. Mereka hanyalah <em>orang-orang biasa</em> yang tak penting.</p>
<p>Justru yang kerap merundung mereka lah yang lebih sukses, yakni <strong>Trio Bastardin </strong>dan<strong> Duo Boron</strong>. Trio Bastardin mengerjakan bisnis cuci uang yang disamarkan dengan berbagai bentuk usaha, sedangkan Duo Boron memiliki pabrik es.</p>
<p>Penuls tentu berusaha meraba-raba, kapan ke sepuluh orang ini akan bertemu dengan Inspektur Abdul Rojali. Ternyata, yang membuat mereka bertemu anak dari Dinah yang bernama <strong>Aini</strong>.</p>
<p>Bagaimana bisa? Jadi, Aini yang awalnya tidak pintar seperti ibunya, berubah menjadi pandai akibat usaha tekunnya belajar matematika. Hingga akhirnya, ia bisa diterima di salah satu fakultas kedokteran.</p>
<p>Masalahnya, tentu Dinah tidak bisa membayar biaya uang gedungnya yang mencapai 80 juta. Ketika membicarakan masalah ini, Debut mengusulkan sesuatu: <strong>Merampok bank</strong>.</p>
<p>Maka, sepuluh orang amatir tersebut berusaha menyusun <strong>rencana perampokan</strong> dengan menonton film-film aksi yang memiliki adegan perampokan. Selalu ada saja perbuatan konyol yang membuat penulis tertawa ringan.</p>
<p>Nah, penulis tidak ingin <em>spoiler </em>lebih jauh dari ini. Apakah sekumpulan amatir seperti mereka berhasil merampok bank? Apakah Inspektur Abdul Rojali berhasil mengendus modus kejahatan ini? Berhasilkan Aini meraih cita-citanya untuk kuliah di jurusan kedokteran?</p>
<p>Untuk menemukan jawabannya, baca bukunya ya!</p>
<h3>Mengangkat Tema Sosial</h3>
<p>Apa yang penulis suka dari Andrea Hirata? Salah satunya adalah kegemarannya mengangkat topik-topik sosial menjadi sebuah novel. Kali ini, topik yang ingin diangkat adalah masalah kriminal.</p>
<p>Membaca buku ini serasa membaca buku detektif, lengkap dengan <em>plot twist</em>-nya. Kalau boleh jujur, beberapa bagian sempat membuat penulis terkejut karena tak menyangka akan seperti itu ceritanya.</p>
<p>Penokohannya mungkin tidak sekuat Laskar Pelangi, namun cukup detail mengingat novel ini tidak terlalu tebal. Hingga akhir novel pun penulis terkadang masih susah membedakan orang-orangnya. Mungkin karena jumlahnya yang banyak.</p>
<p>Satu kekurangan dari novel ini adalah halamannya kurang banyak. Seandainya setebal novel <em>Ayah</em>, mungkin penulis akan merasa lebih puas. Apalagi, 1/8 buku ini hanya berisikan katalog karya Andrea Hirata.</p>
<p>Yang jelas, buku ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, mulai remaja hingga emak-emak. Apalagi jika pembaca gemar membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Sudah lama penulis tak merasa sepuas ini ketika menamatkan sebuah buku.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 April 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/">Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
