<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>medsos Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/medsos/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/medsos/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 May 2023 14:28:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>medsos Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/medsos/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rebahan + Main HP = Kombo Maut</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 May 2023 14:27:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[main HP]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rebahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6530</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: Rebahan + Main HP. Aktivitas ini seolah memiliki black hole yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur. Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika berusaha menerapkan kehidupan yang produktif, Penulis menemukan ada satu &#8220;musuh&#8221; yang cukup tangguh dan sulit dilawan: <strong>Rebahan + Main HP</strong>. Aktivitas ini seolah memiliki <em>black hole </em>yang membuat kita sulit untuk bangkit dari kasur.</p>



<p>Tentu ada kalanya kita ingin bersantai setelah menjalani rutinitas harian yang padat. Kasur menjadi destinasi favorit kita karena gratis dan mudah dijangkau. Ditambah dengan adanya ponsel, makin nyamanlah kita dibuatnya.</p>



<p>Namun, Penulis kerap merasa begitu kita melakukan aktivitas ini, waktu yang terbuang terasa begitu banyak. Apalagi, dengan media sosial (medsos) yang hampir semuanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">fitur video pendek tak terbatas</a>, kita jadi semakin sulit untuk berhenti melakukannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Rebahan + Main HP Itu Kombo Maut?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6532" width="755" height="503" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 755px) 100vw, 755px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi-Aplikasi Candu (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@magnus-mueller-1398178/">Magnus Mueller</a>)</figcaption></figure>



<p>Media sosial dipenuhi dengan konten menarik yang memang dibuat agar kita sebagai pengguna mau menggunakannya selama mungkin. Dengan adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma candu</a>, konten yang muncul pun sesuai dengan apa yang sering kita lihat.</p>



<p>Maka dari itu, tak heran jika media sosial kerap menjadi pelarian ketika kita sedang gabut. Menunggu orang, cek medsos. Di toilet, cek medsos. Kumpul dengan teman, cek medsos. Seolah otak kita tidak boleh berhenti menerima asupan konten-konten tersebut.</p>



<p>Nah, rebahan di atas kasur adalah termasuk salah satu aktivitas yang membosankan. Otak yang kecanduan konten pun akan secara otomatis membuat kita meraih ponsel dan mulai membuka aplikasi medsos.</p>



<p>Apalagi, dengan adanya konten-konten video pendek <em>random </em>yang muncul tanpa henti, kita tanpa sadar akan terus <em>scroll-scroll </em>karena berharap akan menemukan konten yang menyenangkan, lagi dan lagi, untuk terus memberikan perasaan senang kepada diri. </p>



<p>Terkadang muncul kesadaran diri untuk berhenti cek medsos dengan berkata 5 menit lagi. Setelah 5 menit, menemukan konten yang sangat menarik, sehingga memutuskan untuk lanjut sebentar lagi. Namun, seringnya aktivitas ini tidak pernah berlangsung sebentar.</p>



<p>Apa akibatnya? Selain waktu yang terbuang untuk melihat konten yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat untuk kita, bisa jadi akan muncul perasaan bersalah karena telah membuang-buang waktu. Sekali lagi, hari ini menjadi hari yang tidak produktif. </p>



<p>Apakah hanya cek medsos yang bisa dilakukan sambil rebahan? Tentu tidak. Membaca web novel, komik daring, hingga bermain <em>game</em> juga bisa sama adiktifnya dengan cek medsos. Ada begitu godaan yang membuat kita betah rebahan seharian selama ada ponsel di tangan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Agar Bisa Mengurangi Rebahan + Main HP</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Waktu untuk Rebahan + Main HP Bisa Digunakan untuk Aktivitas Lain (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@thirdman/">Thirdman</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kerap merasa dirinya terjebak dalam kombo maut rebahan + main HP ini. Apalagi kalau sudah melihat Instagram Reels atau YouTube Shorts, rasanya sangat susah untuk berhenti, terutama ketika memang tidak ada hal <em>urgent </em>yang harus diselesaikan.</p>



<p>Kalau sedang hari libur atau tidak ada pekerjaan, hal tersebut masih oke untuk dilakukan. Masalahnya, tak jarang di hari kerja pun Penulis melakukan kombo ini. Produktivitas harian yang dikejar pun menjadi tidak terlaksana.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mencari cara agar bisa melepaskan diri dari jeratan ini. Tentu saja boleh rebahan sambil main HP, apalagi setelah lelah bekerja. Namun, jelas tidak boleh dilakukan secara berlebihan.</p>



<p>Di hari kerja, Penulis sedang mendisiplinkan diri langsung membereskan tempat tidur begitu bangun di pagi hari. Dengan adanya kasur yang rapi, kecil kemungkinan Penulis akan rebahan di sana selama jam kerja, kecuali jika benar-benar mengantuk.</p>



<p>Lalu, Penulis juga membatasi penggunaan media sosial dan aplikasi adiktif lainnya. Untungnya, ponsel sekarang memiliki fitur yang akan langsung memblokir jika kita sudah melewati batas penggunaan.</p>



<p>Tidak cukup di situ, Penulis juga akan memblokir media sosial dan <em>game</em> selama jam kerja menggunakan aplikasi AppBlock, salah satu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/aplikasi-produktivitas-yang-saya-gunakan/">aplikasi produktivitas andalan Penulis</a>. Ini hanyalah aplikasi yang membantu, karena pada dasarnya semua kembali pada niat kita.</p>



<p>Melalui buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habit </em>karya James Clear</a>, salah satu tahap untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan mempersulitnya. Cara-cara yang Penulis lakukan di atas bertujuan untuk mempersulit kombo rebahan + main HP dilakukan, terutama di hari kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jadikan Rebahan + Main HP Sebagai Reward</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/rebahan-main-hp-kombo-maut-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadikan Reward, Bukan Sarana Refreshing (<a href="https://www.pexels.com/id-id/@rdne/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis bukan anti-rebahan atau anti-main HP. Penulis hanya menyadari dirinya kerap membuang waktu karena aktivitas tersebut, sehingga banyak pekerjaan yang harusnya diselesaikan jadi terabaikan atau minimal terlambat.</p>



<p>Apalagi, Penulis sampai sekarang masih <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Work from Home</a></em>, sehingga harus bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik. Karena tidak ada yang mengawasi langsung seperti jika bekerja di kantor, Penulis harus bisa menjadi pengawas untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Ada pembelaan kalau HP menjadi sarana <em>refreshing </em>agar tidak merasa penat ketika bekerja. Itu ada benarnya, tapi Penulis merasa tidak cocok karena kerap terbuai HP. Maka dari itu, selama jam kerja, Penulis sering menjauhkan HP dari jangkauannya.</p>



<p>Lantas, apa yang biasanya Penulis lakukan untuk <em>refreshing </em>di jam kerja? Biasanya Penulis akan memilih aktivitas seperti membaca buku/komik atau sekadar bermain dengan kucing. Penulis berusaha mencari aktivitas yang jauh dari benda elektronik.</p>



<p>Harus diakui kalau rebahan sambil main HP, apapun aktivitasnya, memang menyenangkan. Aktivitas santai yang menghibur tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Namun, jika menjadi berlebihan tentu akibatnya tidak baik untuk diri kita, apalagi dilakukan di jam kerja.</p>



<p>Karena menyenangkan, jadikanlah kombo maut ini sebagai &#8220;hadiah&#8221; apabila kita berhasil menyelesaikan hari dengan baik dan produktif. Setelah semua pekerjaan atau <em>to-do-list </em>terselesaikan, diri kita berhak untuk menikmati enaknya rebahan sambil main HP.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Mei 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadinya yang kerap sulit meninggalkan kombo rebahan + main HP</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@olly/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">Rebahan + Main HP = Kombo Maut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 13:23:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya. Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat sharing berbagai momen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat <em>sharing </em>berbagai momen dan kejadian, dan mungkin termasuk juga perasaan.</p>
<p>Lantas, mengapa kita curhat di medsos? Karena pernah melakukannya, penulis menjadi tahu jawabannya: <strong>Mencari Perhatian</strong>. Ada yang blak-blakan, ada pula yang melakukannya secara tersirat,</p>
<p>Ketika kita sedang dimabuk asmara, kita ingin agar doi mengetahui apa saja kegiatan kita sehingga ia memiliki &#8220;bahan&#8221; untuk <em>chat</em>. Ada yang tidak ditujukan hanya kepada satu orang, berharap ada yang mau merespon dirinya siapapun dia. Semua tidak masalah selama masih dibatas kewajaran.</p>
<p>Tetapi, ada satu bentuk ekspresi yang dalam pendapat penulis kurang layak untuk dijadikan konsumsi publik. Emosi, kemarahan, yang ujung-ujungnya adalah membicarakan kejelekan orang.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><em>&#8220;Dasar orang, wujudnya aja manusia tapi kelakuan kayak setan!&#8221;</em></p>
<p>Sungguh tidak enak dipandang bukan? Lagipula, siapa sih yang tertarik untuk membaca kemarahan orang lain? Rasanya kok tidak ada.</p>
<p>Pembuat status semacam itu tentu berharap statusnya dibaca yang bersangkutan, atau hanya sekedar menumpahkan kekesalan? Jika hanya sebagai tempat pelampiasan, apa tujuannya dilempar kepada khalayak umum? Mungkin berharap akan ada sosok yang menyabarkan dirinya, atau setuju dengan argumennya.</p>
<p>Jika sedang ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih bijak jika kita mengatakannya langsung kepadanya? Katakan apa yang membuatmu gusar secara terus terang, bagaimana responnya urusan belakang. Itu lebih berfaedah dibandingkan dengan menulis status penuh dengan caci maki.</p>
<p>Kemampuan untuk menahan emosi ini menjadi salah satu parameter kedewasaan seseorang. Orang-orang yang telah matang pola pikirnya akan memikirkan apa akibat dari status yang akan ditulisnya. Banyak bukan orang yang membuat status dengan menggebu-gebu, kemudian menghapus statusnya setelah kepalanya dingin.</p>
<p>Media sosial itu sama seperti taman, ia merupakan ruang publik yang dinikmati oleh orang banyak. Tentu kita akan sebal bukan jika di taman kita bertemu dengan orang yang marah-marah sendiri?</p>
<p>Oleh karena itu, lebih bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Gunakan ia untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar tempat pelampiasan emosi agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah selesai menyelesaikan training pertama Asian Games</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/">https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batasan Kebebasan Berekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2018 13:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[batasan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=448</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia: &#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221; Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221;</em></p>
<p>Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, <em>liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu</em>.</p>
<p>Sebagai bangsa yang pernah mengalami pengekangan dalam menyampaikan pendapat, tentu kebebasan berpikir menjadi hal yang menarik. Namun, penulis tidak sepakat dengan kalimat selanjutnya:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Paham liberalisme <strong>menolak adanya pembatasan</strong>, khususnya dari <strong>pemerintah</strong> dan <strong>agama</strong>.&#8221;</em></p>
<p>Penulis bukannya ingin mengkritik paham liberal, karena memang bukan termasuk ranah yang dikuasai. Penulis hanya ingin menyampaikan opini terhadap bentuk kebebasan dalam berekspresi, terutama oleh kawula muda pada medsos.</p>
<p><strong>Peran Media Sosial untuk Berekspresi</strong></p>
<p>Semenjak menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia, media sosial (medsos) berperan sebagai tempat mencurahkan perasaan penggunanya. Apa yang sedang dirasakan seringkali ditumpahkan di medsos, mungkin berharap ada yang merespon keresahan hatinya.</p>
<p>Apapun yang terjadi harus diketahui orang lain, meskipun penulis percaya masih ada pengguna yang tetap menjaga privasinya, tahu mana yang untuk konsumsi publik mana yang bukan.</p>
<p>Selain untuk hal tersebut, medsos juga seringkali digunakan untuk mengekspresikan diri, yang terkadang terlalu bebas. Belum lama rasanya ketika ada selebgram yang kontroversial karena mengumbar kehidupannya ke publik, disertai banyak adegan yang tak pantas dilihat oleh kalangan remaja.</p>
<p>Selebgram yang bermasalah ini, anehnya, justru menjadi idola. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya <em>follower</em> yang mengikutinya. Adegan ciuman dengan pacarnya dianggap sebagai <em>relantionship goal</em>. Belum lagi ketika ia membuat video klip lagu terbarunya di YouTube dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kita.</p>
<p>Penulis mengetahui salah satu mengapa alasan orang-orang seperti ini menjadi patron bagi banyak orang, yang penulis ketahui dari acaranya Deddy Corbuzier:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Kakak hebat ya, berani berekspresi menjadi diri sendiri, enggak munafik.</em>&#8220;</p>
<p>Ini bahaya, sungguh sangat berbahaya.</p>
<p><strong>Topeng &#8220;Enggak Munafik&#8221;</strong></p>
<p>Berani menjadi diri sendiri itu baik, malah harus. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berekspresi melampaui batas dan menganggapnya sebagai jati diri kita. Penulis yakin, kita sebagai bangsa timur, tidak memiliki kepribadian yang terkesan liar seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, mereka yang menganut pemikiran ini sering kali menggunakan topeng &#8220;asal enggak munafik&#8221; untuk menutupi kekurangan mereka. Mereka merasa benar dengan melakukan hal-hal yang salah daripada harus berpura-pura menjadi orang baik.</p>
<p>Terkait hal ini, penulis ingin mengutip kata mutiara dari karakter favorit penulis di Harry Potter, Sirius Black:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>We&#8217;ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.&#8221;</em></p>
<p>Jika diterjemahkan, kita semua memiliki sisi baik dan gelap dalam diri kita. Kitalah yang menentukan sisi mana yang kita pilih. Jadi, jika ada orang yang merasa segala bentuk ekspresi negatif adalah jati dirinya, kemungkinan mereka lebih memilih sisi gelap mereka.</p>
<p><strong>Memaknai Kebebasan</strong></p>
<p>Jika dikaitkan dengan paham liberal yang di paragraf awal, maka orang-orang yang kebablasan dalam berekspresi jelas terlihat tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk pemerintah dan agama. Mereka ingin kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa batasan apapun.</p>
<p>Ini artinya, mereka ini belum dapat memaknai kebebasan itu sendiri.</p>
<p>Seandainya manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya, apa bedanya dengan binatang? Bahkan setidaknya hewan memiliki hukum rimba di mana yang kuat (terkadang ditambah yang tercerdik) yang menang.</p>
<p>Seandainya manusia tidak dibatasi oleh aturan, apa yang sekiranya akan terjadi? Kekacauan masal<em> </em>akan terjadi di mana-mana, tidak lagi dibutuhkan <em>agent of chaos </em>seperti Joker di film Batman.</p>
<p>Seandainya manusia tidak ingin diatur oleh norma sosial, apa akibatnya? Akibatnya manusia tidak akan lagi peduli dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita.</p>
<p>Kebebasan itu memang harus dibatasi, karena itu yang membuat kita menjadi manusia.</p>
<p><em>Jika terbatas, bukankah bukan kebebasan namanya?</em></p>
<p>Dalam bahasa penulis, lebih tepat disebut sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kita berhak untuk memiliki kebebasan di banyak hal, mulai dari memilih kepercayaan, berpendapat, berkeluarga, termasuk berekspresi di medsos.</p>
<p>Akan tetapi, kita sebagai manusia juga harus memperhatikan koridor-koridor yang ada. Berekspresilah di medsos, selama tidak menabrak aturan dan norma yang ada di masyarakat kita. Pilahlah mana yang patut untuk dikonsumsi publik, mana yang harusnya menjadi rahasia pribadi.</p>
<p>Aturan dan batasan ada bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan sebagai panduan untuk kebebasan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Februari 2018, setelah makan bakso bakar.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html">http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
