<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menulis Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/menulis/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Sep 2025 09:08:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>menulis Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/menulis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2025 23:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melalui tulisan &#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut. Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melalui tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">&#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;</a>, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.</p>



<p>Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kontemplasi</a> demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.</p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban</h2>



<div class="wp-block-cover"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8260" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-retouching-photo-on-laptop-at-convenient-workplace-7014337/">George Milton</a>)</p>
</div></div>



<p>Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: <strong>sedang ada banyak masalah</strong>, <strong>rasa malas</strong>, hingga <strong>merasa jenuh</strong>. Mari kita berangkat dari sana. </p>



<p>Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.</p>



<p>Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.</p>



<p>Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.</p>



<p>Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki <em>niche </em>yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi <em>angle</em> yang digunakan jelas berbeda. </p>



<p>Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala <em>overthinking</em>.</p>



<p>Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.</p>



<p>Alasan pertama, <strong>Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Di Notion Penulis</a>, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.</p>



<p>Idealnya, sesuai <em>tagline </em>blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. <em>Mood </em>untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.</p>



<p>Alasan kedua, <strong>Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih</strong>. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.</p>



<p>Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.</p>



<p>Alasan ketiga, <strong>pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis</strong>. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.</p>



<p>Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat <em>caption</em>. Penulis tidak membuat video ataupun <em>long carousel</em>. Mungkin memang pada dasarnya malas saja. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya</h2>



<div class="wp-block-cover"><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8261" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mencoba Lebih Spontan (<a href="https://www.pexels.com/@olly/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p>Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang <em>refreshing </em>dan menyenangkan.</p>



<p>Pertama, <strong>menghilangkan penjadwalan artikel</strong>. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (<em>uhuy!</em>) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu <em>blank </em>tidak tahu ingin menulis apa.</p>



<p>Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang <em>streak </em>yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.</p>



<p>Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel <em>review</em> buku dan <em>board game </em>yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.</p>



<p>Kedua, <strong>segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran</strong>. Penulis harus membuang konsep &#8220;First In First Out&#8221; di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.</p>



<p>Ketiga, <strong>menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang</strong>. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.</p>



<p>Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.</p>



<p>Keempat, <strong>melakukan reset</strong>. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya &#8220;mau nulis apa hari ini?&#8221; setiap membuka laptopnya.</p>



<p>Kelima, <strong>memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan</strong>. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.</p>



<p>Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a>. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">menghilangkan insomnianya.</a></p>



<p>Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.</p>



<p>Keenam, <strong>membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya</strong>. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan <em>task </em>tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.</p>



<p>Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani. </p>



<p>Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan&#8230;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/bored-woman-looking-at-a-laptop-4240504/">Ivan Samkov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2020 03:47:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4021</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam mengelola blog Whathefan ini, Penulis menargetkan diri untuk membuat enam tulisan dalam satu minggu. Jumlah tersebut demi feed Instagram yang rapi dan lebih menarik. Hanya saja, dalam beberapa waktu terakhir Penulis terlihat jarang menulis blog. Tulisan terakhir yang dibuat adalah Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230; yang tayang pada tanggal 26 Juli 2020. Itupun tulisan pendek [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/">Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam mengelola blog Whathefan ini, Penulis menargetkan diri untuk membuat <strong>enam tulisan dalam satu minggu</strong>. Jumlah tersebut demi <em><a href="https://www.instagram.com/whathefan_/?hl=id">feed </a></em><a href="https://www.instagram.com/whathefan_/?hl=id">Instagram</a> yang rapi dan lebih menarik. Hanya saja, dalam beberapa waktu terakhir Penulis terlihat jarang menulis blog.</p>
<p>Tulisan terakhir yang dibuat adalah <em><a href="https://whathefan.com/wp-admin/post.php?post=4015&amp;action=edit">Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230;</a></em><em> </em>yang tayang pada tanggal 26 Juli 2020. Itupun tulisan pendek yang hanya terdiri dari 185 kata.</p>
<p>Lebih lanjut, selama bulan Juli Penulis hanya memproduksi <strong>7 tulisan</strong> dari yang seharusnya 27 tulisan. Bandingkan dengan bulan Juni dengan 16 tulisan walau angka tersebut juga masih di bawah target bulanan.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu?</p>
<h3>Tanggung Jawab Baru</h3>
<p>Salah satu alasan utama mengapa intensitas tulisan Penulis berkurang adalah karena adanya tanggung jawab baru di kantor Penulis. Sekarang, Penulis menjadi <em>lead </em>untuk media sosial sekaligus Apps dan tidak menulis lagi.</p>
<p>Oleh karena itu, waktu dan tenaga Penulis banyak tersita untuk hal tersebut. Ada banyak sekali hal baru yang harus Penulis pahami dan kuasai. Tak jarang akhir pekan Penulis tetap gunakan untuk bekerja.</p>
<p>Meningkatnya tekanan juga membuat Penulis mengalami stres. Apalagi, Penulis menerima tanggung jawab baru ini di kala pandemi yang sungguh menyiksa mental.</p>
<h3>Kehilangan Gairah Menulis</h3>
<p>Stres yang berkepanjangan membuat Penulis sempat merasa kehilangan melakukan hobi-hobinya, termasuk menulis blog dan membaca buku. Padahal, dua aktivitas itulah yang menemani Penulis di kala sunyi menghampiri.</p>
<p>Sekalipun Penulis memiliki waktu luang, sama sekali tidak ada semangat untuk membuat laptopnya dan mulai membuat tulisan. Buku-buku yang baru dibeli pun tertumpuk begitu saja di rak.</p>
<p>Ada sumber yang mengatakan kalau kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu yang disukai merupakan salah satu ciri orang depresi. Bisa jadi benar, namun Penulis tidak berani menganggap dirinya depresi.</p>
<p>Yang jelas, kombinasi antara stresnya pekerjaan dan tidak bisa pulang karena adanya pandemi menjadi penyebab utama Penulis tidak lagi bersemangat untuk menulis dan membaca.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Pada suatu sore, Penulis memberanikan diri telepon atasan untuk meminta izin bekerja dari Malang selama satu bulan. Penulis memaparkan alasan sebeneranya kalau Penulis sedang stres dan butuh pulang.</p>
<p>Untunglah, atasan Penulis memberikan izin dengan mudah sekali. Apalagi, pekerjaan Penulis sangat memungkinkan untuk dilakukan dari mana saja.</p>
<p>Maka dari itu sejak 1 Agustus 2020, Penulis sudah berada di rumah dan akan terus di sini hingga 30 Agustus nanti. Selama di sini, Penulis merasa energinya yang berkurang banyak telah terisi secara perlahan.</p>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga merasa bisa bekerja lebih produktif lagi. Sesekali muncul rasa malas karena merasa sedang liburan, namun tidak sampai menganggu <em>work flow</em>.</p>
<p>Walaupun begitu, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu untuk bisa mulai menulis blog lagi, diawali dengan <em>curhatan </em>ini. Semoga selama beberapa hari ke depan, Penulis bisa mulai rutin menulis lagi di sela-sela kesibukannya.</p>
<p>Lawang, 16 Agustus 2020, terinspirasi setelah lama tidak menulis blog</p>
<p>Foto: <a href="https://myvalleyschools.org/the-fight-on-stress/">Valley Schools</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/">Kok Udah Lama Enggak Ngeblog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kok-udah-lama-enggak-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Seorang Penulis</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Feb 2020 04:11:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3487</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar. Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika blog ini lahir. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar.</p>
<p>Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/">blog ini lahir</a>. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris yang juga suka menulis.</p>
<p>Semenjak itu, menulis menjadi salah satu <em>passion </em>Penulis. Bahkan pada akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Penulis bisa bekerja sebagai </a><em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Content Writer</a> </em>di salah satu website teknologi terbesar di Indonesia.</p>
<h3><em>Passion</em> Menulis Cerita Sejak Kecil</h3>
<p>Jika dirunut ke belakang, Penulis sudah menyukai kegiatan menulis sejak SD. Penulis ingat betul membuat beberapa judul cerita yang sayangnya sudah raib entah ke mana. Sempat juga membuat beberapa komik.</p>
<p>Bahkan konsep novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> sudah Penulis susun sejak kelas 9 dan hingga kini belum tamat-tamat. Alasannya, ada banyak sekali perubahan materi. Maklum, anak SMP suka membuat imajinasi yang kurang realistis.</p>
<p>Kalau boleh <em>sharing sedikit, </em>awalnya novel tersebut akan terdiri dari tujuh buku. Waktu itu, nama karakter Leon masih bernama Black karena terinspirasi dari anime <em>Blackjack</em>.</p>
<p>Ceritanya masih seputar anak yang membenci kehidupannya dan masuk ke dalam kelas akselerasi dan bertemu dengan Kenji (kalau Kenji dari dulu namanya seperti itu, diambil dari nama tengah Mike Shinoda) yang pada akhirnya mengubah kehidupannya.</p>
<p>Nah, yang menjadi masalah adalah cerita lanjutannya. Kala itu Penulis membayangkan Leon dan teman-teman kelasnya harus melawan sebuah organisasi kejahatan dunia. Benar-benar <em>lebay</em>, bukan?</p>
<p>Bahkan Penulis sudah membuat adegan akhirnya yang mirip dengan adegan film <em>I&#8217;m Legend</em> yang dibintangi oleh Will Smith. Sekali lagi mohon dimaklumi, Penulis belum menyadari apa artinya orisinalitas waktu itu.</p>
<p>Penulis sempat berhenti cukup lama, sebelum mulai lagi menulis novel pada akhir tahun 2017 di sela-sela persiapan tes IELTS di Kampung Inggris.</p>
<p>Tentu saja imajinasi dan kemampuan menulis yang dimiliki telah berkembang setelah sekian tahun berlalu, sehingga bisa menyusun cerita yang lebih rasional.</p>
<p>Setelah mengalami beberapa revisi, akhirnya Penulis memutuskan untuk membuat novel tersebut terbagi menjadi dua buku saja, tidak terlalu ambisius hingga menjadi tujuh buku seperti Harry Potter.</p>
<p>Konflik utamanya juga bukan seperti Detective Conan yang melawan organisasi misterius. Kali ini, konfliknya memiliki keterkaitan dengan Orde Baru. Maka dari itu, Penulis sedang membaca banyak referensi seputar zaman itu.</p>
<p>Di sela-sela menyusun novel ini, Penulis juga membuat novel lainnya yang berjudul <em><a href="https://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>. </em>Inspirasinya datang dari Ayu. Kalau sering membaca artikel di Whathefan, pasti tahu siapa Ayu.</p>
<h3>Artikel-Artikel di Whathefan</h3>
<p>Selain membuat cerita, Penulis juga mulai mendorong dirinya untuk menulis apapun, mulai dari opini, renungan, artikel <em>feature</em>, dan lain sebagainya. Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, sayang jika pikiran tersebut dibiarkan menguap tanpa jejak.</p>
<p>Ketika membuat Whathefan, Penulis bertekad untuk menulis lima artikel dalam satu minggu. Jumlah tersebut bertambah menjadi enam demi tampilan <em>feed </em>Instagram yang lebih rapi dan tertata.</p>
<p>Tahun 2018, tahun pertama Whathefan, Penulis berhasil menulis blog tanpa bolong. Maklum, waktu itu Penulis masih memiliki banyak waktu luang untuk menulis.</p>
<p>Pada tahun 2019, untuk pertama kalinya Penulis bekerja formal selama satu tahun penuh. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan <del>dan rasa malas yang sering menghampiri</del> membuat tahun kemarin banyak sekali hari-hari yang bolong.</p>
<p>Dari 52 minggu yang tersedia, 19 minggu harus bolong. Itu sama dengan 114 artikel (19&#215;6). Penulis sempat menganggapnya sebagai hutang. Karena jumlahnya yang sudah mencapai ratusan, Penulis memutuskan untuk mengikhlaskannya.</p>
<p>Nah, di tahun 2020 ini, Penulis berusaha untuk meminimalisir bolong-bolong yang seperti itu. Alhamdulillah, sampai hari ini masih belum ada yang bolong meskipun akhir pekan selalu digunakan untuk mengerjakan artikel yang seharusnya dikerjakan ketika <em>weekday</em>.</p>
<p>Ah, mungkin ada yang penasaran kenapa Penulis menggunakan kata &#8220;Penulis&#8221;, bukannya aku atau saya. Jawabannya sederhana, agar berbeda dan mengurangi kesan personal.</p>
<h3>Kebahagiaan Seorang Penulis</h3>
<p>Karena <em>passion</em>, menulis akan membuat Penulis merasa bahagia. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat seorang penulis merasa lebih bahagia: <strong>ketika tulisannya dibaca oleh orang lain</strong>.</p>
<p>Sebagai contoh, Penulis mengunggah novel-novelnya di Wattpad. Hingga kini, Penulis memiliki <strong>satu </strong>pembaca setia (dulu ada dua, yang satu mungkin merasa bosan) yang membuat Penulis bersemangat untuk segera menyelesaikan novelnya.</p>
<p>Begitu pula dengan artikel-artikel yang ada di Whathefan. Terlepas dari keakuratan <em>counter </em>yang Penulis pasang, senang melihat angka-angka yang berada di belakang kata <em>views</em>.</p>
<p>Hingga saat ini, artikel dengan jumlah <em>views </em>tertinggi adalah <em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</a></em> dengan jumlah lebih dari 10 ribu. Mungkin banyak netizen yang berkeinginan kerja di sana.</p>
<p>Sebenarnya ada artikel lain yang <em>views-</em>nya mencapai angka 30 ribu, tapi itu terjadi karena adanya serangan D-DOS yang sempat membuat blog Penulis <em>down.</em></p>
<p>Kok 10 ribu, dibaca sekali saja sudah membuat Penulis senang. Ditelepon ibu dan cerita sudah baca artikel Penulis juga bikin senang. Tidak dibaca namun memberi komentar di media sosial juga sudah membuat Penulis merasa senang. Sesederhana itu.</p>
<h3>Mau Sampai Kapan Nulis Blog?</h3>
<p>Jika ada pertanyaan <em>mau sampai kapan nulis blog</em>, mungkin Penulis menjawab sampai akhir hayat. Sebisa mungkin Penulis akan mempertahankan blog ini dan tetap konsisten dalam menulis, entah yang berbobot ataupun yang ringan-ringan saja.</p>
<p>Whathefan ini sudah menjadi bagian hidup Penulis yang cukup penting. Penulis merasa seperti memiliki koneksi spesial dengannya, seperti hubungan partner (salah satu kebiasaan Penulis adalah mempersonifikasi benda mati).</p>
<p>Harapan Penulis, selain sebagai penyalur hobi dan <em>passion</em>, Whathefan bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi yang membaca. Salah satu amal yang tak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat, bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Februari 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu yang ringan-ringan saja</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nordwood?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">NordWood Themes</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/typing?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Blog?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2018 06:05:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[vlog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=586</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era di mana video blog (vlog) lebih populer (bahkan presiden Republik Indonesia pun memiliki hobi nge-vlog), mengapa penulis lebih memilih blog yang sejatinya sudah &#8220;kuno&#8221;? Karena penulis gemar menulis dan tidak suka tayang di depan kamera. Udah, itu aja. &#160; &#160; Lawang, 3 April 2018, setelah membaca berita politik Sumber Foto: http://www.youthincmag.com/writing-blogs</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">Mengapa Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era di mana video blog (vlog) lebih populer (bahkan presiden Republik Indonesia pun memiliki hobi nge-vlog), mengapa penulis lebih memilih blog yang sejatinya sudah &#8220;kuno&#8221;?</p>
<p>Karena penulis gemar menulis dan tidak suka tayang di depan kamera.</p>
<p>Udah, itu aja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 April 2018, setelah membaca berita politik</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.youthincmag.com/writing-blogs">http://www.youthincmag.com/writing-blogs</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">Mengapa Blog?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
