Kebahagiaan Seorang Penulis

Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar.

Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika blog ini lahir. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris yang juga suka menulis.

Semenjak itu, menulis menjadi salah satu passion Penulis. Bahkan pada akhirnya Penulis bisa bekerja sebagai Content Writer di salah satu website teknologi terbesar di Indonesia.

Passion Menulis Cerita Sejak Kecil

Jika dirunut ke belakang, Penulis sudah menyukai kegiatan menulis sejak SD. Penulis ingat betul membuat beberapa judul cerita yang sayangnya sudah raib entah ke mana. Sempat juga membuat beberapa komik.

Bahkan konsep novel Leon dan Kenji sudah Penulis susun sejak kelas 9 dan hingga kini belum tamat-tamat. Alasannya, ada banyak sekali perubahan materi. Maklum, anak SMP suka membuat imajinasi yang kurang realistis.

Kalau boleh sharing sedikit, awalnya novel tersebut akan terdiri dari tujuh buku. Waktu itu, nama karakter Leon masih bernama Black karena terinspirasi dari anime Blackjack.

Ceritanya masih seputar anak yang membenci kehidupannya dan masuk ke dalam kelas akselerasi dan bertemu dengan Kenji (kalau Kenji dari dulu namanya seperti itu, diambil dari nama tengah Mike Shinoda) yang pada akhirnya mengubah kehidupannya.

Nah, yang menjadi masalah adalah cerita lanjutannya. Kala itu Penulis membayangkan Leon dan teman-teman kelasnya harus melawan sebuah organisasi kejahatan dunia. Benar-benar lebay, bukan?

Bahkan Penulis sudah membuat adegan akhirnya yang mirip dengan adegan film I’m Legend yang dibintangi oleh Will Smith. Sekali lagi mohon dimaklumi, Penulis belum menyadari apa artinya orisinalitas waktu itu.

Penulis sempat berhenti cukup lama, sebelum mulai lagi menulis novel pada akhir tahun 2017 di sela-sela persiapan tes IELTS di Kampung Inggris.

Tentu saja imajinasi dan kemampuan menulis yang dimiliki telah berkembang setelah sekian tahun berlalu, sehingga bisa menyusun cerita yang lebih rasional.

Setelah mengalami beberapa revisi, akhirnya Penulis memutuskan untuk membuat novel tersebut terbagi menjadi dua buku saja, tidak terlalu ambisius hingga menjadi tujuh buku seperti Harry Potter.

Konflik utamanya juga bukan seperti Detective Conan yang melawan organisasi misterius. Kali ini, konfliknya memiliki keterkaitan dengan Orde Baru. Maka dari itu, Penulis sedang membaca banyak referensi seputar zaman itu.

Di sela-sela menyusun novel ini, Penulis juga membuat novel lainnya yang berjudul Distopia Bagi KiaInspirasinya datang dari Ayu. Kalau sering membaca artikel di Whathefan, pasti tahu siapa Ayu.

Artikel-Artikel di Whathefan

Selain membuat cerita, Penulis juga mulai mendorong dirinya untuk menulis apapun, mulai dari opini, renungan, artikel feature, dan lain sebagainya. Sebagai orang yang pemikir, sayang jika pikiran tersebut dibiarkan menguap tanpa jejak.

Ketika membuat Whathefan, Penulis bertekad untuk menulis lima artikel dalam satu minggu. Jumlah tersebut bertambah menjadi enam demi tampilan feed Instagram yang lebih rapi dan tertata.

Tahun 2018, tahun pertama Whathefan, Penulis berhasil menulis blog tanpa bolong. Maklum, waktu itu Penulis masih memiliki banyak waktu luang untuk menulis.

Pada tahun 2019, untuk pertama kalinya Penulis bekerja formal selama satu tahun penuh. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan rasa malas yang sering menghampiri membuat tahun kemarin banyak sekali hari-hari yang bolong.

Dari 52 minggu yang tersedia, 19 minggu harus bolong. Itu sama dengan 114 artikel (19×6). Penulis sempat menganggapnya sebagai hutang. Karena jumlahnya yang sudah mencapai ratusan, Penulis memutuskan untuk mengikhlaskannya.

Nah, di tahun 2020 ini, Penulis berusaha untuk meminimalisir bolong-bolong yang seperti itu. Alhamdulillah, sampai hari ini masih belum ada yang bolong meskipun akhir pekan selalu digunakan untuk mengerjakan artikel yang seharusnya dikerjakan ketika weekday.

Ah, mungkin ada yang penasaran kenapa Penulis menggunakan kata “Penulis”, bukannya aku atau saya. Jawabannya sederhana, agar berbeda dan mengurangi kesan personal.

Kebahagiaan Seorang Penulis

Karena passion, menulis akan membuat Penulis merasa bahagia. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat seorang penulis merasa lebih bahagia: ketika tulisannya dibaca oleh orang lain.

Sebagai contoh, Penulis mengunggah novel-novelnya di Wattpad. Hingga kini, Penulis memiliki satu pembaca setia (dulu ada dua, yang satu mungkin merasa bosan) yang membuat Penulis bersemangat untuk segera menyelesaikan novelnya.

Begitu pula dengan artikel-artikel yang ada di Whathefan. Terlepas dari keakuratan counter yang Penulis pasang, senang melihat angka-angka yang berada di belakang kata views.

Hingga saat ini, artikel dengan jumlah views tertinggi adalah Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama) dengan jumlah lebih dari 10 ribu. Mungkin banyak netizen yang berkeinginan kerja di sana.

Sebenarnya ada artikel lain yang views-nya mencapai angka 30 ribu, tapi itu terjadi karena adanya serangan D-DOS yang sempat membuat blog Penulis down.

Kok 10 ribu, dibaca sekali saja sudah membuat Penulis senang. Ditelepon ibu dan cerita sudah baca artikel Penulis juga bikin senang. Tidak dibaca namun memberi komentar di media sosial juga sudah membuat Penulis merasa senang. Sesederhana itu.

Mau Sampai Kapan Nulis Blog?

Jika ada pertanyaan mau sampai kapan nulis blog, mungkin Penulis menjawab sampai akhir hayat. Sebisa mungkin Penulis akan mempertahankan blog ini dan tetap konsisten dalam menulis, entah yang berbobot ataupun yang ringan-ringan saja.

Whathefan ini sudah menjadi bagian hidup Penulis yang cukup penting. Penulis merasa seperti memiliki koneksi spesial dengannya, seperti hubungan partner (salah satu kebiasaan Penulis adalah mempersonifikasi benda mati).

Harapan Penulis, selain sebagai penyalur hobi dan passion, Whathefan bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi yang membaca. Salah satu amal yang tak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat, bukan?

 

 

Kebayoran Lama, 16 Februari 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu yang ringan-ringan saja

Foto: NordWood Themes on Unsplash