<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Orde Baru Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/orde-baru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/orde-baru/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Orde Baru Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/orde-baru/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Laut Bercerita</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Dec 2019 12:20:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu lagi novel dari Leila S. Chudori berhasil penulis tamatkan. Kali ini, penulis membaca novel terbarunya yang berjudul Laut Bercerita. Sama seperti Pulang, novel ini juga berlatar belakang zaman orde baru yang penuh dengan kekerasan, pembungkaman opini, dan kesewenang-wenangan rezim. Topik tersebut memang sedang penulis gemari. Selain karena memang suka dengan sejarah, penulis sedang mencari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Setelah Membaca Laut Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi novel dari Leila S. Chudori berhasil penulis tamatkan. Kali ini, penulis membaca novel terbarunya yang berjudul <strong><em>Laut Bercerita.</em></strong></p>
<p>Sama seperti <em>Pulang</em>, novel ini juga berlatar belakang zaman orde baru yang penuh dengan kekerasan, pembungkaman opini, dan kesewenang-wenangan rezim.</p>
<p>Topik tersebut memang sedang penulis gemari. Selain karena memang suka dengan sejarah, penulis sedang mencari literatur untuk novel penulis sendiri, <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/"><em>Leon dan Kenji</em></a>.</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Mungkin baru kali inilah penulis membaca sebuah novel yang telah mati duluan di bagian awal novel! Tokoh utama, Laut, diceritakan sedang dibawa oleh sekelompok orang (militer) dan dijatuhkan ke dasar laut.</p>
<p>Setelah membaca bab prolog yang mengejutkan, kita akan lanjut ke bab selanjutnya yang berjudul <strong>Biru Laut</strong>, nama lengkap dari sang tokoh utama.</p>
<p>Seperti dua novel Leila yang sudah penulis baca sebelumnya, alur cerita dari novel ini juga maju mundur walau tidak terlalu dinamis.</p>
<p>Secara bergantian, kita akan melihat Laut ketika masih menjadi mahasiswa dan ketika ia berada di dalam genggaman militer karena dianggap terlalu vokal.</p>
<p>Kita akan melihat bagaimana ia memutuskan untuk menjadi seorang aktivis, bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan, dan melakukan berbagai aksi.</p>
<p>Di sisi lain, di tahun 1998, kita akan melihat bagaimana ia disiksa dengan berbagai cara agar ia mau buka suara tentang gerakannya, hingga akhirnya ia diputuskan untuk dibungkam selamanya.</p>
<p>Setelah bab Biru Laut berakhir, kita akan berpindah ke bab selanjutnya, <strong>Asmara Jati</strong>. Ia adalah adik kandung dari Laut yang sedang mencari kejelasan ke mana kakaknya yang telah lama menghilang.</p>
<p>Pada bab ini, kita akan melihat bagaimana perjuangannya bersama orang-orang yang juga kehilangan anggota keluarganya. Tidak ada keajaiban yang terjadi pada novel ini. Laut, dan beberapa temannya, menghilang selamanya.</p>
<h3>Leila dan Hubungan Seks Para Karakternya</h3>
<p>Ada satu poin yang ingin penulis tuliskan tentang keseluruhan novel Leila yang sudah penulis baca. Mengapa setiap karakternya (utama ataupun sampingan) yang jatuh cinta selalu digambarkan berhubungan seks di luar nikah?</p>
<p>Mungkin penulis terdengar kolot ataupun kuno, tapi menyaksikan itu secara terus-menerus di novel karya Leila membuat penulis bertanya-tanya apakah cinta memang harus selalu berhubungan dengan seks.</p>
<p>Bukannya ingin terlihat sok suci, tapi penulis tidak melihat urgensi adegan tersebut di novel-novelnya. Ingin menggambarkan keintiman antara dua karakter? Bisa jadi, tapi rasa tidak nyaman tetap menggantung di perasaan penulis.</p>
<p>Mungkin akan ada yang menganggap penulis munafik, tapi bagi penulis hubungan seks di luar nikah tetap hal yang terlarang. Seks memang kebutuhan biologis manusia, tapi bukan berarti kita bisa melakukannya hanya karena atas nama cinta.</p>
<p>Melihat banyaknya adegan seks pada novel ini (Biru dengan Anjani, Alex dengan Asmara) dan novel-novel Laila lainnya membuat penulis berpikir, apakah seks bebas sudah menjadi hal biasa dan lumrah sejak dulu?</p>
<h3>Setelah Membaca Novel Ini</h3>
<p>Jika dibandingkan dengan <em>Nadira </em>dan <em>Pulang</em>, novel ini terasa paling lama selesainya. Bukan karena ceritanya yang berat, tapi karena beberapa alasan lain.</p>
<p>Pertama, novel ini menggambarkan adegan penyiksaan secara cukup eksplisit. Penulis, yang termasuk orang tidak tegaan, sering merasa tidak nyaman ketika membaca adegan tersebut karena membayangkannya secara langsung.</p>
<p>Kedua, bagian pertama bab Biru Laut (Seyegan, 1991) terasa sedikit menjemukan karena Leila memperkenalkan karakter-karakternya yang cukup banyak. Tapi, setelah membaca lebih lanjut, penulis jadi memahami mengapa pengenalan karakter itu dilakukan.</p>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung di atas, dinamika maju mundurnya alur cerita pada novel ini terasa kurang. Padahal, bagi penulis itulah kekuatan utama novel-novel Leila.</p>
<p>Terlepas dari kekurangan-kekurangannya tersebut, penulis sangat menikmati novel yang luar biasa ini. Sekali lagi Leila berhasil menggambarkan kekejaman rezim orde baru dengan begitu nyata.</p>
<p>Akhir dari novel ini juga bagi penulis lebih bagus dari novel <em>Pulang</em>. Konklusi ceritanya terasa lebih dapat dan cukup memuasakan, mengingat kita tahu bagaimana karakter Laut sudah mati di awal cerita.</p>
<p>Novel ini penulis rekomendasikan untuk pembaca dewasa yang tertarik dengan sejarah orde baru. Gaya bahasa Leila sungguh sangat bisa dinikmati, hingga teman penulis menganggapnya sebagai salah satu penulis terbaik Indonesia. Penulis setuju dengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.35/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Laut Bercerita </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Setelah Membaca Laut Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Larung</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-larung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Nov 2019 04:39:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Saman]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3080</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah tertunda berbulan-bulan, akhirnya penulis bisa melanjutkan sekuel Saman karangan Ayu Utami yang berjudul Larung. Salah satu alasannya adalah karena Ayu menggambarkan latar belakang karakter Larung cukup panjang. Padahal, penulis merasa penasaran dengan bagaimana kelanjutan Saman dan empat tokoh wanita di novel ini. Makanya setelah bagian latar belakang Larung selesai, penulis dengan cepat menandaskan novel [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-larung/">Setelah Membaca Larung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah tertunda berbulan-bulan, akhirnya penulis bisa melanjutkan sekuel <em>Saman</em> karangan <strong>Ayu Utami</strong> yang berjudul <em><strong>Larung</strong></em>. Salah satu alasannya adalah karena Ayu menggambarkan latar belakang karakter Larung cukup panjang.</p>
<p>Padahal, penulis merasa penasaran dengan bagaimana kelanjutan Saman dan empat tokoh wanita di novel ini. Makanya setelah bagian latar belakang Larung selesai, penulis dengan cepat menandaskan novel ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Bagian awal dari novel ini menceritakan seorang laki-laki bernama Larung yang hendak membunuh neneknya, yang di masa mudanya menggunakan semacam susuk agar bisa awet cantik.</p>
<p>Sayang di masa tuanya susuk tersebut justru membuatnya susah mati, sehingga Larung harus melakukan perjalanan untuk memecahkan bagaimana cara membuat sang nenek bisa meninggal dengan tenang.</p>
<p>Setelah sekitar 40-an halaman membahas Larung, kita akan dibawa kembali lagi ke tempat empat sahabat: Cok, Shakuntala, Yasmin, dan Laila. Semua masih memiliki masalah yang telah dibahas di novel Saman.</p>
<p>Laila masih dengan peran <em>pelakor</em>-nya, Yasmin dengan segala gejolak cintanya kepada Saman, Cok yang suka gemas melihat tingkah teman-temannya, dan Shakuntala yang merasa dirinya memiliki banyak kepribadian.</p>
<p>Penulis sempat kebingungan dan bertanya-tanya, apa hubungan Larung dengan orang-orang ini? Ternyata, Cok mengenal Larung sebagai sesama aktivis.</p>
<p>Cerita inti dari novel ini adalah bagaimana Saman menolong Larung melarikan mahasiswa-mahasiswa beraliran kiri yang sedang diburu oleh rezim. Sayang, novel ini tidak berakhir dengan indah.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Larung</em></h3>
<p>Novel ini tetap vulgar seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Saman</a>.</em> Novel ini disajikan dengan bahasa yang enak untuk dibaca walau lumayan menguras otak untuk mencernanya dengan baik.</p>
<p>Sayang, penulis merasa susah untuk menikmatinya. Mungkin karena merasa banyak bagian-bagian yang sebenarnya tidak terlalu bepengaruh pada bagian inti cerita. Atau mungkin, penulis saja yang tidak bisa mencerna novel ini dengan baik.</p>
<p><em>Ending</em>-nya juga sangat menggantung. Tidak diceritakan apa yang terjadi dengan Saman dan para mahasiswa buronan tersebut setelah Larung (<strong><em>spoiler!</em></strong>) ditembak mati.</p>
<p>Walaupun kurang bisa menikmati, nyatanya tulisan Ayu bisa membuat penulis terus membacanya hingga habis terutama setelah bagian Larung selesai. Penulis ingat sewaktu sakit, buku inilah yang menjadi teman berbaring.</p>
<p>Nampaknya gaya bercerita Ayu kurang cocok untuk penulis sehingga rasanya cukup dwilogi ini saja yang akan penulis koleksi. Penulis tidak berniat untuk membeli karya Ayu yang lain.</p>
<p>Jika disuruh memilih antara <em>Saman </em>atau <em>Larung</em>, penulis lebih memilih <em>Saman </em>karena kekejian rezim Orde Baru lebih nyata tergambarkan di sana.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.6/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 November 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Larung </em>karya Ayu Utami.</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-larung/">Setelah Membaca Larung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 18:18:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel Nadira, penulis memutuskan untuk membeli dua buku Leila S. Chudori yang lain: Pulang dan Laut Bercerita. Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca Pulang terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini. Apa Isi Buku Ini? Sama seperti novel Nadira, Leila [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel <strong><em>Nadira</em></strong>, penulis memutuskan untuk membeli dua buku <strong>Leila S. Chudori</strong> yang lain: <em><strong>Pulang</strong></em> dan <em><strong>Laut Bercerita</strong></em>.</p>
<p>Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca <em>Pulang </em>terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti novel <em>Nadira</em>, Leila menggunakan gaya bercerita yang maju mundur dan tidak terpusat pada satu karakter saja. Kita akan dibawa melintasi waktu dan tempat sesuai dengan kebutuhan bercerita.</p>
<p>Dari sinopsis yang ada di belakang buku ini, kita akan mengetahui bahwa mayoritas cerita akan berpusat antara tahun 1968 dan 1998. Akan tetapi, kita akan mengetahui apa saja yang terjadi pada rentang waktu tersebut walau dibuat secara tidak kronologis.</p>
<p>Tokoh utama dari novel ini adalah <strong>Dimas Suryo</strong> yang merupakan seorang eksil politik. Ia diburu oleh Orde Baru karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.</p>
<p>Ketika pemerintah tengah gencar-gencarnya memburu mereka, Dimas sedang berada di luar negeri. Ia dan teman-temannya tidak bisa pulang ke negaranya sendiri hingga harus hidup di negeri orang.</p>
<p>Pelabuhan terakhir mereka adalah Paris, Prancis. Di sana, Dimas bertemu dengan seorang wanita bernama <strong>Vivienne Deveraux</strong> yang kelak menjadi istrinya.</p>
<p>Demi bisa bertahan hidup, Dimas dan rekan-rekannya memutuskan untuk mendirikan restoran Indonesia di Paris. Di tengah kehidupan baru mereka, selalu ada dorongan untuk pulang ke Indonesia.</p>
<p>Tiga dekade kemudian, anak Dimas yang bernama <strong>Lintang Utara</strong> berencana untuk pergi ke Indonesia untuk melakukan penelitian tugas akhirnya.</p>
<p>Di Indonesia, Lintang tidak hanya mengetahui kehidupan masa lalu ayahnya. Ia akan menjadi saksi salah satu peristiwa yang paling berpengaruh di Indonesia.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Pulang</em></h3>
<p>Meskipun hanya cerita fiksi, membaca novel <em>Pulang </em>serasa membaca buku sejarah. Penulis merasa sedang membaca sebuah kesaksian tentang bagaimana Orde Baru sewenang-wenang terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh.</p>
<p>Dibandingkan dengan <em>Nadira </em>(yang sebenarnya memang kumpulan cerpen), dinamika perpindahan waktu di novel ini cukup tinggi tapi tidak membuat kita kebingungan.</p>
<p>Kita akan tetap diajak untuk merangkai Puzzle dari kepingan-kepingan cerita yang ada di tiap babnya. Bagi penulis, menyusun kepingan peristiwa inilah bagian yang paling menyenangkan dan membuat novel ini tidak terasa membosankan.</p>
<p>Selain sejarah, kita juga akan melihat bagaimana hubungan antar tokoh, baik antara Dimas dengan teman-temannya, dengan istrinya, dengan anak semata wayangnya, hingga dengan wanita dari masa lalunya yang bernama <strong>Surti Anandari</strong>.</p>
<p>Ceritanya pun mengalir begitu saja dan membuat penulis kesusahan untuk berhenti membacanya. Selalu ada konflik-konflik kecil yang saling berkaitan mulai awal hingga akhir cerita.</p>
<p>Kisah romantis yang dihadirkan pun memikat dan penuh dengan gairah. Cukup vulgar dan sensual, walau tidak sampai seperti Ayu Utami ataupun Eka Kurniawan.</p>
<p>Membaca buku ini seolah semakin membuktikan bahwa cerita sejarah yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah tidak semua benar. Ada rekayasa yang dilakukan untuk menutupi sesuatu yang busuk. Entah bagaimana dengan kurikulum yang sekarang.</p>
<p>Untuk gaya bahasa, entah bagaimana Leila bisa membawakan bahasa yang indah namun tidak terlalu berat. Bagi penulis, buku ini cukup ringan untuk dinikmati.</p>
<p>Kekurangan dari novel ini bagi penulis adalah akhirnya yang terasa anti klimaks. Lintang dan <strong>Segara Alam</strong>, anak dari Surti, hanya digambarkan berhasil keluar dari situasi mencekam di pusat pemerintahan dan menyaksikan tergulingnya Orde Baru.</p>
<p>Ketika membaca bagian akhir ini, penulis sampai berceletuk &#8220;loh, udah gini aja?&#8221; di dalam hati. Rasanya sayang saja pembawaan cerita yang runtut dan detail dari awal buku hanya berakhir seperti itu.</p>
<p>Memang, bagian epilog ketika Dimas akhirnya berhasil &#8220;pulang&#8221; walau dalam keadaan tak bernyawa cukup memuaskan. Tapi sekali lagi, ada bagian yang menggantung ketika tidak dijelaskan apakah Lintang memilih berpaling ke Alam atau kembali ke pelukan kekasihnya.</p>
<p>Tapi secara umum, penulis merasa puas dengan novel ini dan memasukkannya ke dalam salah satu buku favorit.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 November 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Pulang </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggoreng Isu</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Nov 2018 13:49:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[isu]]></category>
		<category><![CDATA[koki]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[menggoreng]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1735</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di dalam KBBI, isu memiliki makna masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya) atau kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya. Coba perhatikan kata-kata terakhir pada definisi terakhir. Tidak terjamin kebenarannya. Sayang, kini isu telah menjadi &#8220;makanan favorit&#8221; masyarakat yang mengunyahnya dari media. Yang namanya makanan, terserah kokinya bukan? Mau dibuat pedas, mau dibuat asin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/">Menggoreng Isu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam KBBI, isu memiliki makna <em>masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya) </em>atau <em>kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya</em>.</p>
<p>Coba perhatikan kata-kata terakhir pada definisi terakhir. <strong>Tidak terjamin kebenarannya</strong>. Sayang, kini isu telah menjadi &#8220;makanan favorit&#8221; masyarakat yang mengunyahnya dari media.</p>
<p>Yang namanya makanan, terserah kokinya bukan? Mau dibuat pedas, mau dibuat asin, mau dibuat pahit, koki memilki hak sepenuhnya dalam meracik makanannya.</p>
<p><strong>Kecuali, ada yang &#8220;memesan&#8221; makanan tersebut. </strong>Jika ada pemesan, koki membuat masakan sesuai pesanan. Mau seburuk apapun masakannya, sang koki tidak peduli karena ia sudah dibayar.</p>
<p>Selain itu, koki juga memiliki wewenang untuk mengurangi atau menambah bahan masakan tersebut. Jika ada seekor ayam, bisa saja yang ia ambil hanya bagian <em>brutu</em>-nya saja alias hanya bagian yang buruk.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah realita yang terjadi di tengah masyarakat kita, terlebih lagi para elit politik. Penulis sebagai pengamat awam, merasa kecewa dengan hal ini. Andai yang digoreng bukan isu, melainkan program kerja, tentu akan lebih sehat bagi kita.</p>
<p>Selain itu, para penggoreng isu juga seringkali berbuat nakal dengan hanya mengambil sebagian kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh. Penulis ambil contok ucapan kalimat <strong>Titiek Soeharto</strong> mengenai kembali ke era <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto</a>.</p>
<p>Jika dilihat secara utuh, yang dimaksud Titiek adalah bagaimana kita bisa swasembada pangan seperti di era Order Baru. Akan tetapi, oleh beberapa pihak hanya dipotong sebagai keinginan Titiek untuk mengulang masa-masa buruk pada era tanpa demokrasi tersebut.</p>
<p>Memang Faisal Basri mengatakan bahwa swasembada beras pada era tersebut hanya sebuah kesemuan yang menyengsarakan petani, tapi bukan di situ poinnya. Poinnya adalah tentang harapan bagaimana Indonesia bisa mandiri secara pangan.</p>
<p><strong>Wah, jadi penulis ini partisan Orba ya?</strong></p>
<p>Tentu tidak. Penulis masih balita sewaktu gelombang reformasi menyerbu Jakarta. Akan tetapi, penulis banyak membaca buku-buku tentang sejarah Orde Baru, sehingga paham bagaimana suramnya kehidupan pada saat itu, terutama karena dibungkamnya kebebasan berbicara.</p>
<p>Kembali ke topik penggorengan isu. Jika yang terjadi seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Mudah saja, jangan mau menerima makanan-makanan isu seperti itu. Toh jika makanan tersebut tidak laku, nantinya mereka akan berhenti menggoreng.</p>
<p>Sama seperti yang sudah penulis sebutkan pada tulisan sebelumnya, kita sebenarnya memiliki kontrol penuh atas apa yang beredar di media sosial. Tergantung diri kita sendiri, mau menelan isu tersebut atau mengabaikannya agar segera basi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 November 2018, terinspirasi dari banyaknya isu yang digoreng demi kepentingan politik semata</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/APDMfLHZiRA?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Kevin McCutcheon</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/cooking?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/">Menggoreng Isu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perpaduan Tragedi dan Romansa Pada Jazz, Parfum, dan Insiden</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2018 08:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Insiden]]></category>
		<category><![CDATA[Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Parfum]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1411</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel ini adalah buku tulisan Seno Gumira Ajidarma ke sembilan yang penulis miliki. Ketertarikan penulis membeli buku ini adalah karena sinopsisnya yang mengatakan bahwa ini merupakan karya sastra pertama yang berani mengangkat ketegangan yang terjadi di Timor Leste sewaktu era Orde Baru. Laporan Sejarah Timor Leste Dengan sudut pandang orang pertama, buku ini menyajikan laporan sejarah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/">Perpaduan Tragedi dan Romansa Pada Jazz, Parfum, dan Insiden</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Novel ini adalah buku tulisan Seno Gumira Ajidarma ke sembilan yang penulis miliki. Ketertarikan penulis membeli buku ini adalah karena sinopsisnya yang mengatakan bahwa ini merupakan karya sastra pertama yang berani mengangkat ketegangan yang terjadi di Timor Leste sewaktu era Orde Baru.</p>
<p><b>Laporan Sejarah Timor Leste</b></p>
<p>Dengan sudut pandang orang pertama, buku ini menyajikan laporan sejarah yang mengerikan tentang Timor Leste. Namun penulisnya sendiri tidak mengklain bahwa laporan sejarah tersebut fakta. Semua diserahkan kepada pembaca.</p>
<p>Tokoh aku bekerja sebagai seseorang wartawan, dan ia membaca banyak laporan insiden tentang kekerasan yang menimpa orang-orang Timor oleh militer. Laporan-laporan tersebut mengerikan, membuat kita akan sulit mempercayainya sebagai fakta.</p>
<p><strong>Apa yang Unik?</strong></p>
<p>Yang unik dari novel ini adalah adanya unsur jazz dan parfum yang kental. Seno memiliki pengetahuan yang luas dengan dunia jazz, sehingga ia bisa bercerita dengan detail. Apalagi, novel ini memiliki catatan kaki yang lumayan panjang di halaman belakang untuk memperjelas tokoh-tokoh maupun hal lain yang berkaitan dengan dunia jazz.</p>
<p>Tokoh aku juga diceritakan bertemu dengan banyak wanita dengan parfum yang berbeda. Dengan indera penciumannya, tokoh aku bisa membedakan parfum satu dengan parfum lainnya, di mana kebanyakan merupakan parfum merek terkenal. Kemampuan ini membuat penulis teringat dengan karakter Jati Wesinya Dee pada novel Aroma Karsa.</p>
<p><strong>Perpaduan Tragedi dan Romansa</strong></p>
<p>Memadukan suatu tragedi dengan hal-hal berbau romantis tentu bukan pekerjaan yang mudah. Akan tetapi, Seno mampu menyatukannya dengan begitu indah. Emosi pembaca akan diputar-putar karena adegan antara jazz, parfum, dan laporan insiden dibuat secara bergantian.</p>
<p>Beberapa laporan tertulis dalam bahasa Inggris. Banyak nama orang ataupun lokasi yang diberi &#8220;sensor oleh pengarang&#8221; membuat penulis kesulitan memahami secara utuh surat-surat yang berbahasa Inggris itu.</p>
<p>Ada bagian yang membuat penulis merasa geli ketika tokoh aku berbicara dengan orang-orang homoseksual (penulis tidak tahu apa maksud dari bagian tersebut). Namun yang jelas, tokoh aku masih memiliki orientasi seksual yang normal dari interaksinya dengan banyak wanita.</p>
<p><strong>Dunia Sukab dan Negeri Senja</strong></p>
<p>Klimaks dari novel ini adalah ketika adanya penggrebekan kantor tokoh aku yang dilakukan oleh aparat untuk mencari barang bukti adanya subversi. Ternyata, pemimpin penggrebekan tersebut merupakan kawan tokoh aku yang bernama Sukab.</p>
<p>Penggemar buku-buku Seno pasti tidak asing dengan Sukab. Ia adalah tokoh ciptaan Seno yang seringkali muncul di mana-mana dan bisa berperan sebagai apa saja. Coba baca <strong>Dunia Sukab</strong> untuk bisa memahami apa maksud penulis. Selain itu, ada beberapa cuplikan novel <strong>Negeri Senja </strong>karya Seno yang sudah pernah penulis baca pada buku ini.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dengan gaya penulisannya khas, Seno berhasil membawa fakta (?) sejarah yang mengerikan dan memadukannya dengan dunia jazz dan parfum. Novel ini akan dinikmati oleh pecinta sastra, akan tetapi mungkin pembaca awam akan merasa kesulitan membaca buku ini karena adanya perpindahan fokus cerita dari satu bagian ke bagian lain.</p>
<p>Nilainya <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 29 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Jazz, Parfum, dan Insiden tulisan Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/">Perpaduan Tragedi dan Romansa Pada Jazz, Parfum, dan Insiden</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2018 06:31:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto. Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto.</p>
<p>Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah mengapa, sejarah di masa orde baru sangat menarik minat penulis.</p>
<p>Ketika membuka sampul plastik yang menyelimuti buku ini, penulis tidak berharap adanya penulisan sejarah yang disusun secara kronologis. Buku yang seperti itu sudah penulis baca pada buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi (penulis sangat sering menyebut buku ini, sehingga rasanya perlu dibuat review sendiri nantinya).</p>
<p>Benar saja, banyak bagian dalam buku ini yang melengkapi keping sejarah yang telah ada di ingatan penulis. Sebut saja bagian yang membahas ibu Tien Soeharto, anak-anak dan beberapa cucu Soeharto.</p>
<p>Selain itu terdapat pula bagian yang membahas tentang <em>dunia lain</em> melalui guru-guru spiritual Soeharto. Penulis kurang menaruh minat pada hal-hal yang berbau mistis, sehingga penulis hanya membaca sekilas ketika mencapai topik ini.</p>
<p>Tentu yang ditonjolkan di sini adalah berbagai peristiwa sejarah yang terjadi ketika orde baru, dan kebanyakan adalah peristiwa berdarah. Selain G30S dan peristiwa Malari, buku ini juga mengulas peristiwa Tanjung Priok dan pembangunan Waduk Kedungombo yang sarat kontroversi.</p>
<p>Selain itu masih banyak lagi berbagai peristiwa mulai dari bagaimana ia berhasil menjadi orang nomer satu hingga berbagai pemberontakan mahasiswa yang menyebabkan lengsernya beliau. Dilengkapi dengan foto-foto ekslusif, kita seolah benar-benar berada di lokasi kejadian.</p>
<p>Penulis hanya membutuhkan beberapa jam untuk menandaskan buku ini, menandakan bahwa buku ini berkualitas dan dikemas dalam bahasa yang tidak terlalu berat. Tim redaksi Tempo memang penulis akui lihai dalam menuliskan sejarah sehingga mudah untuk dipahami oleh pembacanya.</p>
<p>Bagi pembaca yang memiliki rasa penasaran dengan tokoh yang kerap disebut <em>The Smilling General</em> ini, penulis sangat merekomendasikan buku ini.</p>
<p>Nilainya <strong>4.5/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi, 24 Agustus 2018, terinspirasi setelah menamatkan Seri Buku Tempo: Soeharto</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>
		<category><![CDATA[Benny Moerdani]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[ICMI]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221; Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon. Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun? Seperti yang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film <em>The Dark Knight </em>pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.</p>
<p>Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.</p>
<p><strong>Soeharto dan Habibie</strong></p>
<p>Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.</p>
<p>Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:</p>
<p>&#8220;Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?&#8221;</p>
<div id="attachment_821" style="width: 680px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-821" class="size-full wp-image-821" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg" alt="" width="670" height="335" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg 670w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><p id="caption-attachment-821" class="wp-caption-text">Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)</p></div>
<p>Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.</p>
<p>Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.</p>
<p><strong>Soeharto dan Militer</strong></p>
<p>Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.</p>
<p>Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.</p>
<p>Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.</p>
<div id="attachment_820" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-820" class="size-full wp-image-820" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/edsus_benny29.jpg" alt="" width="300" height="189" /><p id="caption-attachment-820" class="wp-caption-text">Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)</p></div>
<p>Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari <em>Centre for Strategic and International Study </em>(CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.</p>
<p>Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.</p>
<p><strong>Ketika Soeharto Ditinggalkan</strong></p>
<p>Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.</p>
<p>Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.</p>
<p>Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.</p>
<div id="attachment_819" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-819" class="size-full wp-image-819" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-819" class="wp-caption-text">Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)</p></div>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).</p>
<p>Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.</p>
<p>Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.</p>
<p>Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah <em>lengser keprabon</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana">https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beropini Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 08:27:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Masa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi. Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi.</p>
<p>Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan mereka. Siapa yang tidak mau menjadi corong, harus siap-siap dicabut izin penerbitannya oleh Kementerian Penerangan.</p>
<p>Semenjak reformasi, keran berpendapat mulai terbuka kembali. Media-media yang dulunya dibredel dipersilahkan untuk beroperasi kembali. Undang-undang mengenai kebebasan pers disahkan, kalau tidak salah di jaman presiden Habibie. Media pun bisa membuat berita tanpa harus menunggu petunjuk bapak presiden,</p>
<p>Kita, termasuk media, harus berterima kasih kepada mahasiswa dan para aktivis, yang dengan berbagai upaya, berhasil menggoyahkan kursi presiden Soeharto, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998 ketika beliau mengumumkan pengunduran dirinya.</p>
<p><strong>Media Sebagai Pengkritik Presiden</strong></p>
<p>Karena kebebasan pers dilakukan, maka banyak hal yang bisa dilakukan oleh media, termasuk mengkritik kebijakan presiden. Mungkin yang paling terasa adalah ketika lengsernya Gus Dur sebagai presiden. Media tidak akan segan mem-<em>blow up</em> berita-berita yang menyudutkan Gus Dur. Ini tidak akan mungkin terjadi ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya berkuasa.</p>
<p>Begitu pula presiden-presiden selanjutnya, tidak akan lepas dari pemberitaan negatif dari media. Sebagai pilar demokrasi keempat, memang sudah seharusnya media menjadi penyalur informasi antara pemerintah dengan rakyatnya, baik dan buruknya.</p>
<p>Oleh karena itu, akan menjadi pertanyaan besar apabila media hanya memberitakan kebaikan pemerintah saja, seolah mengulang dosa di masa Orde Baru, tanpa memberitakan kekurangan pemerintah yang sejatinya bisa dijadikan pondasi untuk menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Menjadi Viral Agar Di Dengar</strong></p>
<p>Sudah 20 tahun semenjak reformasi, tentu banyak hal yang berubah, termasuk media sebagai lahan untuk beropini. Di era teknologi seperti sekarang, mengeluarkan pendapat lebih sering dituangkan dalam media sosial ketimbang melalui media cetak. Menulis <em>tweet </em>tentu lebih cepat dan praktis jika dibandingkan mengirimkannya ke media cetak agar termuat di koran.</p>
<p>Menjadi viral di media sosial juga bisa sarana yang efektif untuk beropini agar di dengar oleh pemerintah. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa presiden BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi. Agar menjadi perhatian, baik pemerintah maupun rakyat, ia melakukan aksi yang tidak biasa.</p>
<p>Hal itu terbukti efektif. Beberapa <em>headline </em>memberitakan aksi tersebut dan menautkannya dengan berbagai topik yang terkait. Mungkin saja saya yang kurang membaca referensi, namun berita yang saya baca lebih banyak menyinggung sisi negatifnya, seperti ucapannya ketika di acara Mata Najwa tentang siapa yang memanfaatkan jalan tol, ataupun etikanya yang dianggap mencoreng muka Universitas Indonesia.</p>
<p>Hampir tidak saya temukan berita dengan <em>headline </em>seperti &#8220;kebangkitan mahasiswa dalam beropini&#8221; atau sebagainya. Saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa jaman sekarang kurang bersuara laiknya mahasiswa di penghujung 90an. Bukankah ini seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan peran mahasiswa sebagai <em>agent of change</em>?</p>
<p><strong>Kembali ke Masa Orba?</strong></p>
<p>Dengan adanya kebebasan berpendapat, sesuatu yang kita dapatkan setelah banyak darah tumpah demi menuntut rezim turun, tentu membuat ruang untuk diskusi terbuka lebar. Kita tidak perlu takut lagi diculik agar suara kita dibungkam.</p>
<p>Atau itukah yang sedang terjadi sekarang? Beberapa orang secara misterius terluka bahkan tewas di tangan orang-orang yang, bagi sebagian orang, hanya rekayasa kelompok tertentu. Mulai dari Novel Baswedan, ahli IT Hermansyah, hingga ustad yang dipukuli oleh &#8220;orang gila&#8221;.</p>
<p>Benarkah beropini di era sekarang lebih bebas dibandingkan dengan jaman Orde Baru? Atau secara terselubung, kebebasan kita mulai dibatasi kembali? Bahkan dalam penerbitan penelitian saja, berdasarkan kata Rocky Gerung, harus membutuhkan ijin dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut saya, ini seperti peran Kementerian Penerangan di jaman Orba yang lama dipegang oleh Harmoko.</p>
<p>Akankah kita kembali ke era Orde Baru? Ataukah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan?</p>
<p><strong>Menentukan Sikap Sebagai Seorang Rakyat</strong></p>
<p>Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, kita sebagai rakyat seharusnya bisa melihat kinerja pemerintah secara obyektif, seperti pada tulisan saya yang berjudul <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/"><em>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</em></a>. Beri apresiasi ketika meraih prestasi, kritik jika masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Hanya karena kita menjadi pendukung tokoh tersebut, bukan berarti kita harus menutup mata atas segala kesalahannya. Memberi kritik yang membangun merupakan bentuk dukungan yang sejati. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa kita, merupakan bentuk penyampaian opini yang <em>extraordinary</em> agar mereka di dengar.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan memberikan kritik, selama diutarakan secara santun dan beretika. Begitu pula yang dikritik, alangkah lebih baik jika kritik tersebut dijadikan bahan sebagai interopeksi diri dan membuka diri untuk perbaikan. Bukannya marah karena merasa dihina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Secara tidak sengaja, tulisan ini bersamaan dengan Hari Pers Nasional. Jadi, selamat Hari Pers Nasional!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2018, setelah mendesain ulang website kodingdong.com</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion">https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
