Setelah Membaca Larung

Setelah tertunda berbulan-bulan, akhirnya penulis bisa melanjutkan sekuel Saman karangan Ayu Utami yang berjudul Larung. Salah satu alasannya adalah karena Ayu menggambarkan latar belakang karakter Larung cukup panjang.

Padahal, penulis merasa penasaran dengan bagaimana kelanjutan Saman dan empat tokoh wanita di novel ini. Makanya setelah bagian latar belakang Larung selesai, penulis dengan cepat menandaskan novel ini.

Apa Isi Buku Ini?

Bagian awal dari novel ini menceritakan seorang laki-laki bernama Larung yang hendak membunuh neneknya, yang di masa mudanya menggunakan semacam susuk agar bisa awet cantik.

Sayang di masa tuanya susuk tersebut justru membuatnya susah mati, sehingga Larung harus melakukan perjalanan untuk memecahkan bagaimana cara membuat sang nenek bisa meninggal dengan tenang.

Setelah sekitar 40-an halaman membahas Larung, kita akan dibawa kembali lagi ke tempat empat sahabat: Cok, Shakuntala, Yasmin, dan Laila. Semua masih memiliki masalah yang telah dibahas di novel Saman.

Laila masih dengan peran pelakor-nya, Yasmin dengan segala gejolak cintanya kepada Saman, Cok yang suka gemas melihat tingkah teman-temannya, dan Shakuntala yang merasa dirinya memiliki banyak kepribadian.

Penulis sempat kebingungan dan bertanya-tanya, apa hubungan Larung dengan orang-orang ini? Ternyata, Cok mengenal Larung sebagai sesama aktivis.

Cerita inti dari novel ini adalah bagaimana Saman menolong Larung melarikan mahasiswa-mahasiswa beraliran kiri yang sedang diburu oleh rezim. Sayang, novel ini tidak berakhir dengan indah.

Setelah Membaca Larung

Novel ini tetap vulgar seperti Saman. Novel ini disajikan dengan bahasa yang enak untuk dibaca walau lumayan menguras otak untuk mencernanya dengan baik.

Sayang, penulis merasa susah untuk menikmatinya. Mungkin karena merasa banyak bagian-bagian yang sebenarnya tidak terlalu bepengaruh pada bagian inti cerita. Atau mungkin, penulis saja yang tidak bisa mencerna novel ini dengan baik.

Ending-nya juga sangat menggantung. Tidak diceritakan apa yang terjadi dengan Saman dan para mahasiswa buronan tersebut setelah Larung (spoiler!) ditembak mati.

Walaupun kurang bisa menikmati, nyatanya tulisan Ayu bisa membuat penulis terus membacanya hingga habis terutama setelah bagian Larung selesai. Penulis ingat sewaktu sakit, buku inilah yang menjadi teman berbaring.

Nampaknya gaya bercerita Ayu kurang cocok untuk penulis sehingga rasanya cukup dwilogi ini saja yang akan penulis koleksi. Penulis tidak berniat untuk membeli karya Ayu yang lain.

Jika disuruh memilih antara Saman atau Larung, penulis lebih memilih Saman karena kekejian rezim Orde Baru lebih nyata tergambarkan di sana.

Nilainya: 3.6/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 17 November 2019, terinspirasi setelah membaca buku Larung karya Ayu Utami.

Foto: