<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rasa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/rasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/rasa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Jun 2024 16:08:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>rasa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/rasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 15:18:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221; Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan</a>. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya:<strong> &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221;</strong></p>



<p>Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.</p>



<p>Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki <em>point of view </em>(POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadi Patokan dalam Menentukan Standar Pasangan (<a href="https://www.searchenginejournal.com/why-is-tiktok-so-popular/424603/">Search Engine Journal</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.</p>



<p>Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang <em>typing</em> atau mengetik di <em>chat</em>. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan <strong>ciri-ciri <em>typing</em> ganteng</strong>. Masalah <em>typing</em> saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi <em>red flag</em> kalau tidak cocok!</p>



<p>Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/idolaku-adalah-milikku-bukan-milikmu/">fisik seperit <em>idol </em>K-Po</a>p. Mungkin lho, ya.</p>



<p>Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.</p>



<p>Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.</p>



<p>Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri:<strong> apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7344" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Terlalu Banyak Menuntut Ini Itu (<a href="https://create.vista.com/unlimited/stock-photos/230188504/stock-photo-selective-focus-angry-girlfriend-screaming-boyfriend-while-man-putting-hands/">Vista Create</a>)</figcaption></figure>



<p>Terkadang kita ini terlalu <em>demanding </em>dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri <strong>kita sendiri juga butuh terus meningkatkan <em>value </em>diri</strong> agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.</p>



<p>Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga. </p>



<p>Buat apa punya paras yang menarik, kalau <em>value </em>yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang <em>value</em>-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan <em>value </em>diri.</p>



<p>Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan &#8220;kosmetik.&#8221; Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.</p>



<p>Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7342" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat <em>quote </em>terkenal dari Chris Rock:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.&#8221;</p>



<p>“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”</p>
</blockquote>



<p>Berdasarkan pengalaman pribadi dan <em>sharing </em>yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.</p>



<p>Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan <em>nganggur </em>pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. <a href="https://whathefan.com/animekomik/mokondo-ala-rent-a-girlfriend/">Pria <em>mokondo</em></a><em> </em>yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221; memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.</p>



<p>Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan <em>effort </em>lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu &#8220;risiko&#8221; menjadi seorang pria.</p>



<p>Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi <em>red flag </em>untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan <em>value </em>diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.</p>



<p>Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.</p>



<p>Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.wired.com/story/how-to-download-your-tiktok-videos/">WIRED</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Aug 2023 14:26:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[PDKT]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6762</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga. Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga.</p>



<p>Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan hatinya untuk kita, meskipun sudah banyak hal yang kita lakukan untuk meluluhkan hatinya.</p>



<p>Tentu rasanya menyedihkan sekaligus menyakitkan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya tidak ada manusia yang ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, inilah hidup. Inilah kenyataan yang harus kita terima dan hadapi.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Padahal Sudah Banyak Berkorban</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="800" height="450" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg" alt="" class="wp-image-6764" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-768x432.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Meme Norman Osborn yang Menggambarkan Poin Ini (<a href="https://knowyourmeme.com/memes/you-know-how-much-i-sacrificed">Know Your Meme</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika kita sedang mendekati seseorang, tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mungkin uang untuk mentraktir makan atau membelikan hadiah, tenaga untuk mengantarnya ke mana-mana, pikiran untuk membantu mengerjakan pekerjaannya, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika pikiran kita transaksional, tentu kita berharap imbalan dari semua yang sudah dilakukan tersebut. Tentu saja yang diharapkan adalah dia mau menerima perasaan kita. Sayangnya, masalah cinta sangat berbeda dengan matematika.</p>



<p>Meskipun kita sudah melakukan banyak hal untuknya, sebenarnya sama sekali <strong>tidak ada kewajiban untuk membalas</strong> baginya, dalam bentuk apapun. Jika dia memutuskan untuk tidak membalas, ya itu keputusan mereka yang tidak bisa diganggu gugat.</p>



<p>Mungkin kadang kita akan merasa tidak terima, bahkan menganggap dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan hanya memanfaatkan kebaikan kita. Lho, ya salah sendiri, kan keputusan untuk melakukan banyak hal untuknya kan keputusan kita sendiri.</p>



<p>Apa yang kita lakukan untuknya dilakukan dengan kesadaran diri, walau kadang memang &#8220;dibodohi&#8221; oleh perasaan cinta. Cinta memang bisa membuat orang tolol luar biasa, sehingga tak heran kita jadi punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.</p>



<p>Seperti kata alm. Meggy Z melalui lagu &#8220;Takut Sengsara&#8221;, <strong>percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara</strong>. Kalau takut cinta kita tidak berbalas meskipun sudah banyak berkorban, ya jangan jatuh cinta dulu. </p>



<p>Apalagi, kalau kita memang sayang ke orang lain, seharusnya <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">kita tidak merasa berkorban seperti kata Sujiwo Tejo</a>. Ketika kita sudah merasa berkorban, mungkin itu artinya kita tidak benar-benar sayang ke orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6766" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Harus Menyadari Perasaan Orang Lain Tidak Bisa Kita Kendalikan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-looking-at-the-stressed-man-6670211/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebenarnya sangat manusiawi jika kita ingin perasaan kita berbalas. Bahkan, rasanya tidak ada orang yang melakukan PDKT tanpa berharap upayanya berhasil. Namun, perlu diingat kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/"><strong>hasilnya nanti memang ada di luar kendali kita</strong></a>.</p>



<p>Hasil dari PDKT tentu saja bergantung kepada perasaan orang lain, yang tentu saja juga tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa melakukan apapun untuk berusaha mengubah perasaan tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap di luar kendali kita.</p>



<p>Dengan memahami hal ini, kita pun bisa <strong>meminimalisir perasaan kecewa</strong> ketika perasaan tidak berbalas. Kita jadi menyadari kalau terlepas dari semua hal yang sudah kita lakukan, orang lain berhak untuk menentukan ingin menaruh perasaannya ke siapapun.</p>



<p>Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri, menentukan ingin sampai sejauh apa melakukan sesuatu untuk orang lain yang disayang. Hanya diri kita sendiri yang mampu menentukan sampai sejauh apa batasan ketika sedang memperjuangkan orang lain. </p>



<p>Jika masih mau berjuang mati-matian meskipun sudah mendapatkan respons yang negatif, ya silakan saja. Penulis tidak punya hak untuk melarang siapapun. Hanya saja, melalui tulisan ini Penulis ingin mengingatkan kalau perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Agustus 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau perasaan orang lain itu memang ada di luar kendali kita</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-on-floor-3767426/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2022 16:07:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[dorongan]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan]]></category>
		<category><![CDATA[lebih baik]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6081</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri. Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: Berusaha memperbaiki kekurangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri.</p>



<p>Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: <strong>Berusaha memperbaiki kekurangan diri secara mandiri demi orang lain yang disayangi</strong>.</p>



<p>Apa maksud dari kalimat tersebut? Pada tulisan kali ini, mumpung sudah lama tidak menulis rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, Penulis akan mencoba menuliskan sesuatu yang baru dirinya temukan sebagai pelajaran hidup yang berharga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Petuah dari Kawan-Kawan</h2>



<p>Dalam konteks pasangan, Penulis pernah mendengarkan dua opini yang saling bertolak belakang, sebagaiamana pilihan yang Penulis ajukan di awal tulisan ini. Intinya adalah bagaimana cara memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Kawan yang satu mengatakan kalau &#8220;pasangan itu saling melengkapi&#8221; adalah hal yang salah. Menurutnya, kekurangan diri sendiri yang cuma kita yang bisa memperbaiki dan percuma berharap itu bisa diperbaiki atau diisi orang lain.</p>



<p>Kawan yang satu lagi (dan sudah menikah) mengatakan kalau pasangan itu mau bagaimanapun memang harus saling melengkapi. Kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah bisa mengatasi kekurangan diri sendirian.</p>



<p>Mendengar dua hal tersebut, Penulis pun mengambil sebuah kesimpulan sendiri. Memang, kekurangan diri sendiri itu tanggung jawab kita sendiri. Jadi, jangan sampai itu dilimpahkan ke orang lain, bahkan ke pasangan sekalipun.</p>



<p>Namun, Penulis juga menyadari bahwa kita tidak akan pernah menjadi sosok sempurna yang tak punya kekurangan. Mau berusaha seperti apa, kita pasti punya kekurangan yang akan sulit untuk dihilangkan sama sekali. Lantas, harus seperti apa?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sebuah Dorongan untuk Menjadi Lebih Baik</h2>



<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari ketika kita sayang dengan seseorang, kita jadi memiliki semacam <strong>dorongan untuk berubah menjadi lebih baik</strong>. Salah satunya adalah dengan memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Terkadang, kita tidak menyadari kekurangan diri kita. Orang-orang terdekat kita bisa jadi akan menyadari hal tersebut duluan daripada diri kita sendiri. Untuk itu, kehadiran mereka jadi sangat mutlak dibutuhkan dalam hidup ini.</p>



<p>Dengan kata lain, kita tetap butuh bantuan dari orang lain untuk menyadari kekurangan diri. Hanya saja, pada akhirnya tetap diri kita sendiri yang harus berusaha untuk memperbaikinya, bukan berpangku tangan ke orang lain dan berharap mereka bisa melengkapi kekurangan tersebut.</p>



<p>Tentu, pada prakteknya akan ada hal yang bisa dilakukan oleh orang lain untuk memperbaiki kekurangan kita. Akan tetapi, anggap saja itu bonus dan tanggung jawabnya tetap ada di kita. Mau dibantu seperti apapun, kalau kitanya tidak mau berubah, ya percuma.</p>



<p>Saat Penulis menyadari kekurangan dirinya melalui orang lain, Penulis pasti merasa tertampar karena tidak menyadari hal tersebut. Pasti ada perasaan bersalah, tetapi jelas lebih penting untuk berusaha memperbaiki kekurangan tersebut demi diri sendiri dan orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Berarti Hidup untuk Memenuhi Ekspektasi Orang Lain</h2>



<p>Jika rela berubah menjadi lebih baik demi orang lain, apakah artinya kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Tentu tidak seperti itu, karena hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang jelas tidak menyenangkan.</p>



<p>Di sini, konteks yang Penulis maksud adalah berubah menjadi lebih baik demi orang lain, bukan <em>berubah menjadi orang lain</em>. Kalau konteks yang kedua, tentu Penulis tidak setuju karena kita tidak menjadi diri sendiri hanya demi orang lain.</p>



<p>Misalkan Penulis menyadari kalau egonya masih tinggi dan ternyata itu menyakiti orang lain. Kalau kita sayang dengan seseorang, tentu kita tidak ingin menyakitinya, bukan? Untuk itu, Penulis pun memutuskan untuk belajar mengurangi egonya.</p>



<p>Contoh lain, Penulis memiliki kekurangan tidak bisa masak sama sekali. Cara memperbaiki kekurangan tersebut bukan mencari pasangan yang jago masak, tapi belajar untuk memasak. Syukur-syukur kalau pasangannya bisa masak, Penulis jadi bisa belajar kepadanya.</p>



<p>Kalau misal kita diingatkan akan kekurangan diri oleh orang lain, jangan jadikan hal tersebut sebagai <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">ekspektasi mereka</a> ke kita. Justru,<strong> </strong>terimalah hal tersebut dengan lapang dada<strong> </strong>dan <strong>jadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki kekurangan diri tersebut.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun awalnya berubah demi orang lain, pada akhirnya diri kita sendiri lah yang menikmati perubahan tersebut. Menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayang, bagi Penulis menjadi salah satu motivasi terkuat.</p>



<p>Tentu hal ini tidak berlaku hanya untuk pasangan saja. Ini juga bisa diterapkan untuk orang tua, keluarga, teman, dan lainnya. Intinya, orang-orang terdekat kita akan mampu memberikan kita dorongan untuk membuat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p>Terlepas dari apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Penulis di atas, Penulis meyakini kalau memang sudah sewajarnya kita termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan memperbaiki kekurangan diri demi orang-orang yang disayangi.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 24 Oktober 2022, terinspirasi setelah dirinya menyadari kalau ada semacam kekuatan dan dorongan untuk menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayanginya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@beccatapert">Becca Tapert</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5899</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri.</p>



<p>Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk apapun kita, pasti akan menyempatkan waktu untuk mereka.</p>



<p>Masalahnya, bagaimana jika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">tidak menjadi prioritas</a> bagi orang yang kita prioritaskan? Nah, Penulis menemukan kalau hal ini cukup menyesakkan bagi sebagian orang, termasuk Penulis sendiri. Untuk itu, Penulis ingin sedikit membahasnya di tulisan kali ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kita Tidak Punya Hak untuk Diprioritaskan Orang Lain</h2>



<p>Terkadang, kita merasa berhak untuk diprioritaskan jika kita memprioritaskan orang tersebut. Jika kita menyempatkan waktu ketika mereka butuh kita, kita merasa kalau mereka juga harus menyempatkan waktu ketika kita butuh.</p>



<p>Penulis sempat (atau sampai sekarang?) memiliki pola pikir seperti ini, sehingga hubungan seolah terasa sebagai sesuatu yang bersifat transaksional. <em>I give you this, so I will ask you for that</em>.</p>



<p>Namun, ketika direnungkan lagi, sejatinya <strong>kita tidak memiliki hak untuk diprioritaskan orang lain</strong>. Kita memiliki hak untuk memilih siapa yang akan kita prioritaskan, begitu juga dengan orang lain.</p>



<p>Patut dicatat, hanya karena kita memprioritaskan mereka, hal tersebut tidak serta merta membuat mereka memiliki semacam kewajiban untuk memprioritaskan kita. Itu bukan berarti mereka tidak tahu balas budi, melainkan benar-benar hanya pilihan mereka.</p>



<p>Berharap atau bahkan menuntut <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">prioritas dari orang lain</a> hanya akan menimbulkan sakit hati, yang sejujurnya pernah (atau sering?) Penulis rasakan. Untuk itu, Penulis merasa harus melawannya dengan satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalau Sudah Tidak Jadi Prioritas, ya Harus Ikhlas</h2>



<p>Penulis yang sudah berusia 28 tahun mulai merasakan bagaimana orang-orang yang dulu dekat dengan dirinya mulai memiliki kesibukan dan dunianya masing-masing. Orang yang dulu <em>chat </em>setiap hari, sekarang muncul kalau butuh saja.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, sempat ada perasaan sakit hati karena Penulis merasa selalu memprioritaskan mereka. Ketika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas mereka, perasaan kecewa pun menyeruak dari dalam tubuh.</p>



<p>Biasanya, ketika mengalami gejolak perasaan seperti ini, Penulis akan memutuskan untuk berhenti sejenak dan merenung. Hasilnya, Penulis pun menyadari kalau <strong>siapa prioritas orang lain bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Ini membantu Penulis untuk bisa merasa ikhlas jika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas bagi orang lain, termasuk orang-orang yang Penulis anggap dekat dan berharga dalam hidupnya. Tidak apa-apa, Penulis berusaha menghargai pilihan tersebut.</p>



<p>Lantas, apakah kita juga perlu berhenti memprioritaskan orang tersebut? Itu Penulis kembalikan ke masing-masing individu. Kalau mau tetap memprioritaskan, boleh saja asal tidak berharap apa-apa. Kalau mau berhenti juga tidak masalah sama sekali.</p>



<p>Bagaimana kalau sejak awal sebenarnya kita tidak pernah diprioritaskan, dan perasaan merasa diprioritaskan itu hanya dari diri sendiri? Bagaimana jika mereka hanya seolah-olah memprioritaskan kita dan sebenarnya karena mereka lagi butuh saja?</p>



<p>Itulah pentingnya tahu diri dan tidak berekspektasi apa-apa ke orang lain. Penulis sekarang pun menyadari, berharap diprioritaskan orang lain hanya membuat capek saja. Cukup lakukan yang terbaik dalam hidup, tanpa perlu berharap ke manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ingin diprioritaskan oleh orang lain, terutama orang yang kita anggap spesial, adalah hal yang sangat manusiawi dan lumrah. Siapa yang tidak suka jika menjadi prioritas dan selalu ada setiap kita membutuhkan mereka?</p>



<p>Namun, perlu diingat kalau daftar <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">prioritas</a> orang lain tidak bisa kita kendalikan. Mengharapkan hal tersebut pada akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan sakit hati dan kecewa yang akan memicu perasaan-perasaan negatif lainnya.</p>



<p>Untuk itu, kita harus bisa belajar ikhlas jika memang sudah tidak menjadi prioritas orang lain. Memang terkesan menyedihkan, tetapi harus kita biasakan dalam hidup. Yang penting, tetap berusaha menjadi orang baik, meskipun ke orang yang sudah tidak memprioritaskan kita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2022, terinspirasi setelah seorang teman mengirim sebuah <em>quote </em>di grup yang menjadi topik utama dari tulisan ini</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/es/@noahsilliman?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Noah Silliman</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gejolak Nafsu Kawula Muda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2022 02:55:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kedok]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya. Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya.</p>



<p>Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada upaya-upaya untuk menormalisasinya, sesuatu yang menurut pendapat pribadi Penulis seharusnya tidak boleh dilakukan.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai <strong>gejolak nafsu kawula muda</strong> yang berbahaya jika tidak direm. Tentang bagaimana kita harus belajar mengendalikan diri agar tidak timbul rasa penyesalan di kemudian hari.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Disclaimer</h2>



<p>Dasar dari penulisan artikel ini adalah keresahan Penulis melihat pergaulan yang semakin bebas, terutama di kalangan generasi muda. Semakin banyak normalisasi dari perbuatan-perbuatan yang, menurut Penulis, tidak seharusnya dilakukan.</p>



<p>Dengan begitu, tulisan ini akan sangat personal dan subyektif dari sudut pandang pribadi Penulis. Tidak ada niatan untuk menyerang, <em>judgemental</em>, atau merendahkan pihak manapun yang melakukan hal-hal yang akan Penulis bahas di tulisan ini.</p>



<p>Kenapa Penulis cukup <em>concern </em>terhadap masalah ini? Alasan utamanya adalah karena Penulis memiliki dua adik kandung, ditambah beberapa <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Taruna</a> yang telah beranjak dewasa. Semoga saja, tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi mereka untuk menjaga diri.</p>



<p>Jika sampai di baris ini Pembaca sudah merasa tidak nyaman dengan isi artikel ini, Penulis menyarankan untuk tidak meneruskan membaca artikel ini. Kalau tetap lanjut membaca, Penulis minta maaf jika nantinya ada kata-kata yang terlalu kasar dan menyinggung perasaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dua Inspirasi Tulisan Ini</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5836" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Inspirasi Tulisan Ini (<a href="https://cianjur.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-054703686/trending-ahmad-dhani-layak-sombong-tak-ada-satupun-musisi-dunia-yang-seperti-dirinya">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari dua hal. Pertama, video <strong>Vindes ketika mengundang Ahmad Dhani</strong>. Kedua, tentang sebuah video sekumpulan perempuan yang sempet viral karena membahas mengenai <strong><em>friend with benefit </em>(FWB)</strong> dengan dalih <em>sex education</em>.</p>



<p>Penulis akan jelaskan alasan yang pertama. Di video tersebut, Desta bertanya kepada Ahmad Dhani bagaimana seandainya anak perempuannya, yang masih kecil, mengajak teman laki-laki ke rumahnya. Ahmad Dhani mengatakan kalau itu urusan ibunya, bukan urusannya.</p>



<p>Lantas, Desta kembali bertanya apakah ia tidak khawatir kalau laki-laki tersebut akan macam-macam dengan anak perempuannya, karena ia tahu bagaimana isi otaknya yang condong ke perbuatan-perbuatan yang mengumbar nafsu (karena dia sendiri dulu juga begitu, sepertinya).</p>



<p>Di sini, Penulis pun jadi memikirkan hal yang sama. Seandainya nanti punya anak, terutama perempuan, apa yang akan Penulis lakukan jika berhadapan dengan hal tersebut? Ini akan Penulis bahas lebih detail pada poin selanjutnya.</p>



<p>Lalu untuk video kedua, Penulis sedikit merasa heran karena mereka dengan mudahnya mengumbar &#8220;aib&#8221; mereka ke publik dengan bangga. Mereka menganggap FWB adalah perbuatan yang normal-normal saja.</p>



<p>Penulis merasa hal-hal semacam ini tidak boleh dinormalisasi. Penulis yang beragama Islam dan berusaha menjunjung norma ketimuran, menganggap seharusnya hal tersebut tidak dilakukan oleh mereka yang belum sah untuk melakukannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semua Manusia Punya Kebutuhan Biologis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kita Semua Punya Kebutuhan Biologis (<a href="https://www.nbcnews.com/better/health/how-often-do-happiest-couples-have-sex-it-s-less-ncna828491">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis memahami bahwa semua manusia normal di dunia ini <strong>memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi</strong>, sama seperti kebutuhan-kebutuhan lainnya. Cara yang paling benar tentu saja dengan menikah dan melakukan hubungan intim dengan pasangan.</p>



<p>Cara yang menurut Penulis kurang tepat? Tentu <strong>melakukannya dengan orang yang belum sah menjadi suami/istri</strong>. Kok dengan FWB atau pekerja seks, dengan pacar saja salah. Melakukan masturbasi jika tidak punya partner sebenarnya juga salah.</p>



<p>Selain itu, ada juga fenomena di mana muda-mudi melakukan <em>staycation </em>berdua walaupun belum menikah. Alasannya ingin <em>quality time </em>dan <em>deep talk</em>, tapi ujung-ujungnya juga kemungkinan besar ke arah sana.</p>



<p>Berdasarkan pengakuan beberapa orang, ciuman dan berhubungan seks memang enak dan adiktif. Sekali kita pernah melakukannya, rasanya ingin lagi dan lagi. Kebutuhan biologis yang awalnya rendah, seolah-olah langsung meroket dan ingin terus dipenuhi.</p>



<p>Tak jarang mereka melakukan hal-hal tersebut dengan dalih cinta. Alasan khilaf pun sering jadi kambing hitam. Walaupun tidak ada niat, tiba-tiba ada saja naluri untuk melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<p>Memang menjadi tugas yang berat untuk bisa menahan kebutuhan biologis ini, apalagi ketika ada partner dan adanya situasi yang mendukung. Bisa jadi, Penulis belum pernah melakukannya juga hanya karena tidak pernah berada di situasi yang mendukung.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kok Malah Bangga?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5838" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lha Kok Bangga? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/proud-woman">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Penulis pernah membaca sebuah artikel di koran yang menyebutkan kalau berapa persen mahasiswi sudah tidak perawan lagi. Anehnya, <strong>mereka justru merasa bangga</strong> dengan hal tersebut.</p>



<p>Ketika itu, Penulis tidak percaya dengan isi artikel tersebut. Sekarang, Penulis benar-benar percaya. Video viral perempuan-perempuan yang membahas masalah FWB seolah menjadi bukti nyatanya.</p>



<p>Tak jarang mereka justru mengompor-ngompori orang-orang yang belum pernah melakukannya untuk melakukannya. Biasanya, dengan cara mengiming-imingi orang tersebut dengan mengatakan betapa nikmatnya melakukan hal tersebut.</p>



<p>Menurut Penulis, seharusnya perbuatan-perbuatan tersebut dianggap sebagai aib. Jika memang sudah pernah melakukannya, ya sudah tutup untuk diri kita sendiri, tidak perlu diumbar ke orang lain. Tuhan sudah berbaik hati menutupi aib kita, malah kita buka sendiri.</p>



<p>Menurut analisis dangkal Penulis, kebanggaan ini dikarenakan <strong>adanya upaya menormalisasi</strong> perbuatan tersebut. Dengan begitu, makin banyak orang yang melakukannya dan tidak merasa salah karena, toh, banyak orang lain yang juga melakukannya.</p>



<p>Ini menjadi alasan utama mengapa Penulis mencemaskan adanya normalisasi dari perbuatan-perbuatan di atas. Sesuatu yang salah, jika dilakukan oleh banyak orang, maka akan dianggap sebagai hal yang normal atau bahkan dianggap kebenaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bayangkan Jika Orang Tua Mereka Tahu&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5841" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Betapa Hancurnya Perasaan Mereka (<a href="https://www.parenthub.com.au/news/parenting-news/silence-around-stillbirth-major-issue-bereaved-parents/attachment/husband-comforting-sad-crying-wife-man-consoling-sobbing-young-lady/">ParentHub</a>)</figcaption></figure>



<p>Desta memiliki dua anak perempuan. Dari wawancaranya dengan Ahmad Dhani, kita bisa mengetahui kalau dirinya sebagai seorang ayah khawatir jika anak-anaknya tersebut jatuh ke pelukan laki-laki yang tidak benar dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak baik.</p>



<p>Perspektif dari orang tua ini sebenarnya bisa kita gunakan <strong>untuk mengerem diri</strong> ketika hendak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Kalau orang tua kita tahu kita berciuman atau melakukan seks dengan pacar/teman, apa mereka tidak marah dan kecewa?</p>



<p>Seandainya kita punya anak dan mereka berbuat hal tersebut, apa kita sebagai orang tua tidak sedih dan kecewa? Jika jawabannya iya, maka sudah seharusnya kita tidak melakukan hal tersebut.</p>



<p>Perbuatan yang dilarang memang kerap enak. Itu adalah ujian kita sebagai manusia, apakah kita bisa mengendalikan diri atau justru takhluk di hadapan hawa nafsu. Enaknya sesaat, tapi seringnya akan berujung dengan penyesalan hingga nanti.</p>



<p>Mau laki-laki ataupun perempuan, sudah seharusnya <strong>bisa menjaga dirinya dengan baik</strong>. Jangan mudah mengumbar bibir ataupun selangkangan ke orang lain yang belum tentu mau bertanggung jawab atas perbuatannya.</p>



<p>Jika kita sudah terlanjur melakukannya di masa lalu, tidak apa-apa. Semua manusia pernah berbuat salah dan khilaf. Yang lebih penting adalah berusaha untuk memperbaiki diri ke depannya dan tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>



<p>Jika ada rasa penyesalan hingga membuat diri ingin menangis, tidak apa-apa. Merasa bersalah artinya kita memiliki kesadaran bahwa kita pernah melakukan kesalahan. Hal itu jauh lebih baik daripada bangga dengan kesalahan yang telah diperbuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis bukannya bersih dan paling suci. Penulis juga kadang melampiaskan gejolak hawa nafsunya dengan cara yang salah, meskipun sampai detik ini Penulis belum pernah berciuman ataupun melakukan seks dengan lawan jenis.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa was-was dengan kondisi pergaulan saat ini. Penulis, yang <em>insyaAllah </em>nanti akan punya anak, khawatir tidak bisa menjaganya dengan baik dan berujung ke perbuatan-perbuatan di atas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa harus menulis artikel ini sebagai pengingat, terutama untuk dirinya sendiri. Semoga kita bisa mengendalikan hawa nafsu kita dengan cara yang benar dan anak-anak kita nanti selalu dilindungi dari godaan setan yang terkutuk.</p>



<p>Penulis sadar, setiap insan memiliki kesadarannya masing-masing untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Kalau dasarnya sama-sama mau dan suka, apa Penulis bisa menghentikan mereka? Tentu tidak. Hanya saja, Penulis merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan.</p>



<p>Mungkin Penulis terkesan kolot dan konservatif, tapi Penulis meyakini kalau ini adalah hal yang benar. Kita tidak bisa memasakan keyakinan kita ke orang lain, sehingga Penulis akan berusaha untuk menghargai jika ada yang berseberangan dengan Penulis.</p>



<p>Penulis sama sekali <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">tidak bermaksud menghakimi</a> kawula muda yang sudah pernah berciuman atau berhubungan intim. Penulis paham, gejolak nafsu memang sering susah ditahan. Hanya saja, kita harus sadar kalau hal-hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan sebelum menikah.</p>



<p>Yang sudah terjadi, terjadilah. Mari kita sama-sama belajar mengendalikan hawa nafsu dengan lebih baik lagi, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menuai akibat dari perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 Agustus 2022, terinspirasi setelah melihat semakin mengerikannya bagaimana para kawula muda melampiaskan gejolak nafsu mereka</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/man-and-woman-kissing-near-pendant-lamp-1321287/">Tan Danh</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2022 10:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna. Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perasaan ditinggalkan</a> pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.</p>



<p><em>People come and go</em>. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?</h2>



<p>Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?</p>



<p>Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">ada yang punya prioritas lain</a>, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-<em>counter </em>penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.</p>



<p>Hanya saja, perlu diingat kalau <strong>orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita</strong>. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.</p>



<p>Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli</h2>



<p>Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita</a>. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.</p>



<p>Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, <strong>fokus pada respon yang akan kita berikan</strong> terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.</p>



<p>Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.</p>



<p>Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.</p>



<p>Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki <em>inferior complex</em>, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.</p>



<p>Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin. </p>



<p>Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.</p>



<p>Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.</p>



<p>Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@entersge">Vladislav Muslakov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Kamu yang Merasa Kesepian</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/untuk-kamu-yang-merasa-kesepian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/untuk-kamu-yang-merasa-kesepian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2021 12:15:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sepi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5360</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Mau mengaku sebagai introver sekalipun, tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup sendirian tanpa orang lain. Seorang introver sekalipun membutuhkan rasa hangat yang bisa muncul dari keluarga maupun lingkaran pertemanan. Memiliki orang-orang dekat adalah sebuah anugerah yang perlu kita syukuri. Sayangnya, terkadang perasaan kesepian tetap datang meskipun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/untuk-kamu-yang-merasa-kesepian/">Untuk Kamu yang Merasa Kesepian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Mau mengaku sebagai introver sekalipun, tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup sendirian tanpa orang lain.</p>



<p>Seorang introver sekalipun membutuhkan rasa hangat yang bisa muncul dari keluarga maupun lingkaran pertemanan. Memiliki orang-orang dekat adalah sebuah anugerah yang perlu kita syukuri.</p>



<p>Sayangnya, terkadang perasaan kesepian tetap datang meskipun kita bersama orang-orang di sekitar kita. Bahayanya, perasaan kesepian tersebut bisa menimbulkan dampak yang serius bagi kesehatan fisik dan mental kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Beberapa Ciri Kita Merasa Kesepian</h2>



<p>Ketika sedang membuka Instagram, Penulis menemukan sebuah postingan dari akun <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a> yang menunjukkan beberapa ciri orang yang merasa kesepian:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CVSqxmNPrmP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CVSqxmNPrmP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CVSqxmNPrmP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by KOMIK KESEHATAN MENTAL🔎 (@petualanganmenujusesuatu)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Jika dirangkum, setidaknya ada lima ciri merasa kesepian, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>&#8220;Bercerita terlalu banyak&#8221; ketika ada yang mau mendengarkan</li><li>Merasa sendirian dan terisolasi meski dikelilingi orang banyak</li><li>Merasa sebagai &#8220;orang yang paling tidak dibutuhkan&#8221; dalam lingkar pertemanan</li><li>Merasa butuh untuk selalu menyenangkan orang lain</li><li>Kesulitan untuk membangun pertemanan yang berarti</li></ol>



<p>Mungkin ada beberapa ciri lain, seperti suka merasa sedih ketika sendirian, merasa hidupnya &#8220;hampa&#8221;, gaya hidup menjadi tidak sehat, merasa tidak diinginkan, <em>mood </em>yang berubah-ubah, dan lain sebagainya. Ciri ini bisa berbeda tergantung orangnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dampak dari Merasa Kesepian</h2>



<p>Kesepian adalah salah satu bentuk perasaan yang paling buruk. Dilansir dari <em>HelloSehat</em>, merasa kesepian dapat <strong>menimbulkan depresi</strong> bahkan <strong>menimbulkan <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">keinginan untuk bunuh diri</a></strong>.</p>



<p>Merasa kesepian juga bisa <strong>memengaruhi kesehatan fisik </strong>karena dapat memicu stres dan gangguan tidur. Seperti yang telah kita ketahui karena adanya pandemi Covid-19, stres dapat menurunkan imun tubuh sehingga penyakit mudah masuk.</p>



<p>Memang perasaan kesepian terlihat sepele, tetapi dampak yang diakibatkan tidak bisa dianggap remeh. Tidak perlu mendengarkan kata orang kalau kita merasa kesepian hanya demi mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>



<p>Merasa kesepian itu nyata. Merasa kesepian itu berdampak buruk untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengatasi Rasa Kesepian</h2>



<p>Ada banyak hal yang bisa kita coba untuk mengusir rasa kesepian. Yang paling &#8220;mudah&#8221; dilakukan adalah dengan <strong>melakukan interaksi dengan orang lain</strong>. Tidak usah pedulikan mereka akan berpikir apa, coba saja hubungi mereka dan jalin komunikasi.</p>



<p>Selain itu, kita bisa <strong>menyibukkan diri entah dengan pekerjaan maupun hobi</strong>. Cari aktivitas positif yang bisa menambah nilai diri. Ketika waktu kita padat, kita hampir tidak punya waktu untuk <em>overthinking </em>atas perasaan kesepian tersebut.</p>



<p>Banyak yang menasihatkan kalau perasaan sepi itu datang karena kita lupa akan keberadaan Tuhan yang sejatinya selalu ada untuk kita. Oleh karena itu, <strong>mendekatkan diri ke Tuhan</strong> bisa menjadi solusi yang baik.</p>



<p>Beberapa cara lain yang bisa dicoba adalah berjalan-jalan untuk ganti suasana, perbanyak bersykur, memelihara hewan peliharaan, hingga berkonsultasi ke ahli. Ada banyak cara untuk bisa membantu kita mengusir perasaan kesepian.</p>



<p>Namun perlu dicatat,<strong> merasa kesepian adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain</strong>. </p>



<p>Artinya, kita tidak boleh berharap akan ada orang yang hadir untuk bisa membantu kita mengusir rasa kesepian tersebut, sekalipun mereka adalah keluarga maupun sahabat terdekat kita.</p>



<p>Mereka memang bisa membantu kita untuk mengusir perasaan kesepian, tetapi jangan sampai kita menggantungkan diri ke mereka. Memang berat, sangat berat, tapi harus dan wajib dilakukan. Kita yang punya kendali terhadap diri ini, <strong>kita sendiri yang harus bisa mengendalikan pikiran dan perasaan kita</strong>.</p>



<p>Jika kita punya masalah dengan diri sendiri, <strong>cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri</strong>. Jangan menyalahkan diri sendiri atas perasaan kesepian yang kita alami, berusahalah untuk menerima kekurangan diri sembari berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memiliki perasaan kesepian memang benar-benar tidak enak. Sayangnya, kita hanya bisa bergantung kepada diri sendiri untuk bisa mengusir perasaan tersebut. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika kita bersungguh-sungguh.</p>



<p>Semoga kita semua bisa mengusir perasaan kesepian yang kerap menghantui diri kita. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 Oktober 2021, terinspirasi setelah melihat postingan Instagram dari petualanganmenujusatu</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@pixabay">Pixabay · Photography (pexels.com)</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/galau-dan-merasa-kesepian-berdampak-buruk-bagi-kesehatan/">Efek Kesepian dan Galau Bagi Kesehatan • Hello Sehat</a></li><li><a href="https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/merasa-kesepian-depresi/">Ini Bedanya Merasa Kesepian yang Wajar dan Akibat Depresi (hellosehat.com)</a></li><li><a href="https://www.alodokter.com/jangan-merasa-sendiri-terlalu-lama-usir-dengan-cara-ini">Jangan Merasa Sendiri Terlalu Lama, Usir Segera dengan Cara Ini &#8211; Alodokter</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/untuk-kamu-yang-merasa-kesepian/">Untuk Kamu yang Merasa Kesepian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/untuk-kamu-yang-merasa-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2021 14:16:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>
		<category><![CDATA[terluka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5284</guid>

					<description><![CDATA[<p>So they say that timeTakes away the pain&#8230;but I&#8217;m still the same Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain. Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote has-text-align-right is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>So they say that time<br>Takes away the pain<br>&#8230;but I&#8217;m still the same</p><cite>Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock</cite></blockquote>



<p></p>



<p>Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain.</p>



<p>Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak berbalas, dikhianati dengan kejam, hubungan yang berakhir begitu saja, ditikung, ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil sebagai contoh.</p>



<p>Orang-orang sering bilang kalau sakit hati juga akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. <em><strong>Time will heals</strong></em>. Benarkah begitu?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara Obati Sakit Hati</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5286" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Apa Obat Sakit Hati? (<a href="https://unsplash.com/@diana_pole">Diana Polekhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti penyakit lain, sakit hati pun tentu ada obatnya. Setiap orang memiliki obatnya masing-masing sesuai dengan kepribadian, lingkungan, pengalaman, tingkat sakit hati, dan lain sebagainya. Penulis akan coba jabarkan beberapa di antaranya. </p>



<p>Secara logika, manusia akan<strong> berusaha membenci orang yang membuatnya merasa saki</strong>t hati. Bahkan, tak jarang orang yang memiliki sifat pendendam akan berusaha untuk membuat orang tersebut merasakan sakit yang lebih parah lagi.</p>



<p>Selain itu, kadang kita membutuhkan orang lain untuk bisa melupakan si penyebab sakit hati. <strong>Mencurahkan perhatian dan kasih sayang ke orang lain</strong> bisa menjadi obat yang cukup ampuh. Dengan kata lain, mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221;.</p>



<p>Kadang tempat di mana kita berada bisa menjadi penyebab sakit hati. Oleh karena itu, &#8220;kabur&#8221; dan <strong>pindah ke tempat baru</strong> bisa membantu kita untuk melupakan sakit hati tersebut. Hanya saja, kondisi pandemi seperti sekarang membuat aktivitas ini cukup sulit dilakukan.</p>



<p>Ada juga yang memutuskan untuk <strong>fokus memperbaiki diri sendiri</strong>, menemukan versi dirinya yang lebih baik lagi. Kejadian kelam yang telah terjadi dijadikan titik balik dalam hidupnya. Ia berusaha melakukan interopeksi demi menemukan apa yang bisa diperbaiki dari dirinya.</p>



<p><strong>Menyibukkan diri</strong> dengan banyak hal juga menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan sakit hati kita. Ada yang sibuk dengan berbagai aktivitas produktif, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kegiatan kurang bermanfaat dengan dalih &#8220;pelarian&#8221;.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mana Pilihan Penulis?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5288" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Fokus Memperbaiki Diri Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau Penulis harus sampai mengalami sakit hati yang menyakitkan, pilihan membenci orang dan mencari orang baru sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; sepertinya akan dikesampingkan. </p>



<p>Mau sesakit apapun luka yang diberi oleh orang lain, Penulis akan <strong>berusaha untuk tidak membalas sakit tersebut</strong>. Memang susah, tapi bisa dilakukan jika kita bisa berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas dan mau memaafkannya.</p>



<p>Mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; juga bukan <em>style </em>Penulis. Jika harus membuka hati untuk orang baru, Penulis harus bisa mengobati sakit hatinya terlebih dahulu. <strong>Jangan sampai orang lain terkena getah dari sakit yang kita alami</strong>.</p>



<p>Penulis pernah &#8220;kabur&#8221; untuk jangka waktu yang cukup panjang dan cukup efektif. Hanya saja, sekali lagi kondisi pandemi seperti ini membuat mobilitas kita sangat terhambat.</p>



<p>Obat yang Penulis pilih secara pribadi adalah fokus memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, ini obat yang susahnya bukan main karena perasaan kita sendiri masih kacau.</p>



<p>Dibutuhkan<strong> tekad dan keinginan yang kuat </strong>demi mengalahkan rasa sakit yang ada di dalam hati. Terkadang kita harus memaksa diri untuk terus melangkah maju, walau perih kadang masih terasa begitu mengiris.</p>



<p>Hanya saja, meskipun terkadang sudah melakukan banyak hal, sakit hati masih saja terus terasa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berdampingan dengan Luka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5290" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sabar, Kadang Sakit Hati Memang Susah Hilangnya (<a href="https://unsplash.com/@bernard_">Bernard</a>)</figcaption></figure>



<p>Kembali ke paragraf awal, di mana Penulis sempat menyebut <em>time will heals</em>. Selain mencoba berbagai obat yang tersedia, kita juga berpikir kalau waktu pada akhirnya akan pelan-pelan mengobati luka tersebut.</p>



<p>Sayangnya, bahkan <strong>waktu pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani sakit hati kita</strong>.</p>



<p>Ada yang masih merasakan sakit hati walau waktu telah berlalu selama satu bulan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, bahkan seumur hidupnya. Kita seolah tidak bisa berdamai dengan sakit hati ini.</p>



<p>Berbagai obat sudah dicoba dan tidak ada yang berhasil. Kegagalan ini yang kadang menyebabkan orang terjerumus ke jalan yang salah ketika sedang sakit hati. Mabuk, narkoba, seks bebas, dan lain-lain.</p>



<p>Jika memang kita kesulitan untuk mengobati sakit hati tersebut, cobalah untuk <strong>hidup berdampingan rasa sakit</strong> tersebut. </p>



<p>Ketika sakit tersebut teringat atau terasa secara tiba-tiba, coba disenyumi saja, yang sabar, sembari menyugesti diri untuk ikhlas. Memang masih akan terasa sakit, tapi setidaknya kita bisa mengendalikan respon kita terhadap rasa sakit tersebut.</p>



<p>Kalaupun waktu tidak bisa mengobati sakit kita, setidaknya kita <strong>bisa hidup dengan rasa sakit</strong> tersebut tanpa mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Memang terdengar utopis dan belum teruji, tapi tidak ada ruginya untuk dicoba.</p>



<p>Jadikan rasa sakit yang seolah tak ada habisnya tersebut untuk menyusun kehidupan menjadi lebih baik lagi. Jadikan pelajaran agar kesalahan yang membuat kita merasa sakit tidak terulang lagi di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada akhirnya, kita semua hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Kita memiliki tingkat daya tahan dalam menerima sakit yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih dengan cepat, ada yang kesulitan untuk bisa menerima rasa sakit tersebut.</p>



<p>Apa yang bisa kita lakukan adalah respon terhadap rasa sakit tersebut. Apakah rasa sakit itu akan menjadi <em>turning table </em>kita atau justru malah menjerumuskan kita, semua pilihan ada di tangan kita.</p>



<p>Jika Pembaca ingin mencari inspirasi yang terkait dengan masalah perasaan, silakan mampir ke rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, rubrik terbaru dari <strong>Whathefan</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 September 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@bernard_"><a href="https://unsplash.com/@aronvisuals">Aron Visuals on <em>Unsplash</em></a></a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2021 13:29:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[leave]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[stay]]></category>
		<category><![CDATA[tinggal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5281</guid>

					<description><![CDATA[<p>People come and go atau people come, people go. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya. Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>People come and go</em> atau <em>people come, people go</em>. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya.</p>



<p>Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, teman kerja, teman pengajian, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dari banyaknya orang yang kita kenal, mungkin hanya beberapa yang tetap <em>keep in touch </em>dengan kita hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, <em>circle </em>kita semakin mengecil dan mengerucut.</p>



<p>Ada beberapa yang memilih untuk <em>stay </em>dengan kita, entah karena kecocokan, merasa satu frekuensi, asyik diajak nongkrong, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang ada yang memutuskan untuk <em>leave </em>dengan beragam alasan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Memaksa Orang untuk <em>Stay</em></h2>



<p>Baik <em>stay </em>maupun <em>leave</em>, masing-masing memiliki alasannya masing-masing. Kadang kita bisa tahu alasannya, kadang kita dibuat penasaran setengah mati hingga jadi menebak-nebak alasannya.</p>



<p>Penulis sendiri tipikal orang yang berusaha menahan orang-orang yang penting baginya untuk <em>stay </em>selama mungkin di kehidupan Penulis. Kalau bisa terus disambung, kenapa harus diputus hubungannya?</p>



<p>Memang terkadang ada saja pertikaian atau perselisihan. Ada yang sepele, tapi tak jarang ada masalah besar hingga membuat hubungan renggang. Namun, hal tersebut bisa dibenahi bersama jika masing-masing punya kesadaran akan kesalahannya.</p>



<p>Akan tetapi, sekarang Penulis menyadari bahwa <strong>menahan orang untuk <em>stay </em>di saat yang bersangkutan tidak ingin hanya akan membuat kita merasa sakit hati.</strong></p>



<p>Terlepas dari apapun alasannya hingga mereka ingin pergi dari kehidupan kita, kita sebenarnya tidak punya hak untuk memengaruhi pilihannya tersebut. Berusaha membujuk boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai mengemis-ngemis.</p>



<p>Mulai sekarang, Penulis tidak akan memaksa orang lain untuk <em>stay </em>di kehidupan Penulis apapun alasannya. Kalau mau <em>leave </em>ya <em>monggo </em>saja, Penulis akan berusaha ikhlas menerima kenyataan tersebut. Kalaupun Penulis merasa sakit hati, ya sudah mau diapa juga.</p>



<p>Yang bisa Penulis lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga mereka yang <em>leave </em>dari kehidupan Penulis bisa menemukan kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menghargai Orang yang <em>Stay</em></h2>



<p>Daripada menghabiskan waktu dan tenaga demi menahan orang untuk <em>stay</em>, lebih baik kita mengalokasikannya kepada orang yang mau <em>stay </em>di kehidupan kita. Kita harus bisa lebih berusaha menghargai mereka.</p>



<p>Kita juga harus bersyukur kepada orang-orang yang sudah berkenan untuk <em>stay </em>di kehidupan kita. Apalagi Penulis merasa dirinya sebagai pribadi yang agak &#8220;sulit&#8221;, sehingga Penulis sangat menghargai orang-orang yang mau <em>stay</em>.</p>



<p>Daripada memusingkan dan menangisi orang-orang yang <em>leave</em>, <strong>lebih baik Penulis mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang <em>stay</em></strong>. </p>



<p>Penulis merasa senang mereka mau <em>stay</em>, sehingga merasa kalau dirinya butuh melakukan sesuatu sebagai gantinya. Penulis akan berusaha untuk menjadi &#8220;orang yang baik&#8221; untuk mereka dan siap kapanpun dimintai bantuan.</p>



<p>Orang-orang yang mau <em>stay </em>di kehidupan Penulis sangat berarti untuk Penulis, sehingga Penulis akan berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Potensi konflik sebisa mungkin diminimalisir.</p>



<p>Seandainya orang-orang yang <em>stay </em>tersebut akhirnya memutuskan untuk <em>leave</em>, Penulis akan berterima kasih kepada mereka karena pernah hadir di kehidupan Penulis. Sedih pasti, tapi yang namanya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">pertemuan memang pasti memiliki perpisahan.</a></p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Saat ini, Penulis tengah berusaha menerapkan prinsip hidup, <strong>&#8220;Kalau mau <em>stay </em>ya <em>stay</em>, kalau mau <em>leave </em>ya <em>leave</em>, bebas.&#8221;</strong></p>



<p>Penulis menyadari bahwa meskipun kita kerap berjalan beriringan dengan orang lain, akan datang masanya kita akan berpisah jalan. Seperti yang sudah disinggung di atas, penyebabnya ada bermacam-macam.</p>



<p>Kita tidak bisa mengendalikan apakah orang akan <em>stay </em>atau <em>leave </em>dari kehidupan kita. Satu-satunya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">yang bisa kita kendalikan</a> adalah respon kita terhadap keputusan mereka tersebut.</p>



<p>Daripada sakit hati karena merasa ditinggalkan, lebih baik kita berusaha untuk menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. Daripada menyumpahi hal buruk kepada mereka, lebih baik kita bersyukur dan berterima kasih atas semua kenangan yang telah diberikan.</p>



<p>Pada akhirnya, <em>people come and go</em>. Kita tidak bisa menahan orang lain untuk tetap <em>stay </em>bersama kita selamanya, sekalipun kita sangat menginginkannya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 16 September 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@d-ng-nhan-324384">Dương Nhân · Photography (pexels.com)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2021 13:01:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[Di Belakangku]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kebohongan]]></category>
		<category><![CDATA[keterbukaan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5273</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang kau lakukan, di belakangkuMengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul Di Belakangku dari album Bintang di Surga. Karena liriknya cukup puitis, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Apa yang kau lakukan, di belakangku<br>Mengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku</p></blockquote>



<p>Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul <em><strong>Di Belakangku</strong></em> dari album <em>Bintang di Surga</em>.</p>



<p>Karena <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">liriknya cukup puitis</a>, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, lagu ini menceritakan tentang ketidakjujuran yang dilakukan kekasih kepada kita.</p>



<p>Untuk artikel <em>Tentang Rasa </em>kali ini, Penulis akan sedikit mengulik masalah ketidakjujuran dalam hubungan ini, sebuah sikap yang bisa merusak sebuah hubungan menjadi titik terendahnya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keterbukaan dalam Hubungan</h2>



<p>Penulis pernah membaca bahwa salah dua kunci sebuah hubungan berhasil adalah <strong>saling terbuka</strong> dan <strong>komunikasi yang baik</strong>. Kunci yang pertama jelas membutuhkan sebuah kejujuran dari kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak semata.</p>



<p>Dengan saling terbuka, kita bisa saling tahu kondisi satu sama lain tanpa perlu menerka-nerka. Dengan saling terbuka, meskipun terkadang bisa menyakitkan, seharusnya masalah-masalah kesalahpahaman bisa terhindarkan.</p>



<p>Yang jadi masalah adalah jika salah satu memutuskan untuk tertutup dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kalau pihak satunya tidak peka, maka <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>bisa saja terjalin dari sana.</p>



<p>Sesuatu yang dipendam begitu lama, bisa saja tiba-tiba meletus selayaknya gumpalan magma di perut gunung berapi. BOOM. Hubungan yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan segudang permasalahan hanya karena tidak adanya keterbukaan.</p>



<p>Ada hal lain yang lebih berbahaya dari bersikap tertutup. Sudah tertutup, ia menunjukkan sikap yang berbeda di depan dan di belakang kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</h2>



<p>Frasa yang digunakan pada <em>header </em>di atas bisa diidentikkan dengan banyak hal, seperti pengkhianatan yang dilakukan oleh teman atau perselingkuhan yang dilakukan oleh pacar.</p>



<p>Dalam tulisan ini, Penulis mengonotasikan sebagai <strong>perbedaan sikap yang dilakukan oleh seseorang kepada kita</strong>, apapun bentuk hubungannya. Di hadapan kita, ia terlihat begitu manis. Di belakang kita, ia menyemburkan kata-kata yang menyakitkan kita.</p>



<p>Di hadapan kita, ia berkata tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja. Di belakang kita, ia menceritakan semua kemarahan dan sumpah serapahnya tentang kita kepada orang lain.</p>



<p>Bisa saja ia beralasan melakukan hal tersebut karena (klisenya) tidak ingin menyakiti kita, tapi sudah tidak mampu untuk menahannya sendirian. Bisa saja ia beralasan kalau dirinya tidak terbiasa untuk terbuka ke orang lain.</p>



<p>Bersikap <em>fake </em>atau berpura-pura lekat dengan yang namanya kebohongan. Mau apapun alasannya, kebohongan jarang sekali menjadi pilihan yang benar. Apalagi dalam sebuah hubungan, kebohongan bisa menjadi duri yang menyakitkan.</p>



<p>Penulis selalu berprinsip sepahit-pahitnya kejujuran, lebih pahit lagi kebohongan. Alasannya, kita harus menerima dua hal buruk sekaligus: <strong>Pahitnya kebohongan</strong> dan <strong>pahitnya kenyataan yang ia sembunyikan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tak Kau Tunjukkan di Hadapanku?</h2>



<p>Memang, Penulis menyadari tidak semua orang bisa jujur apa adanya. Penulis menyadari bahwa terkadang <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/"><strong>ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan</strong></a> dan lebih baik disimpan untuk diri sendiri.</p>



<p>Minta solusi atau pendapat ke pihak ketiga memang sah-sah saja, dan kadang memang dibutuhkan. Mungkin, masalah yang dihadapi memang terlalu pelik sehingga dibutuhkan seorang mediator.</p>



<p>Hanya saja, sikap yang seperti itu bisa mencederai hubungan tersebut, apalagi kalau sampai menceritakan masalah ke pihak ketiga tanpa pernah berusaha menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu.  </p>



<p>Mungkin, ada yang ragu untuk terbuka karena pihak satunya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada mendengarkan keterbukaan kita. Ketika kita coba terbuka, dianya malah marah-marah dan tidak bisa mendengarkan omongan kita.</p>



<p>Namun, setidaknya berdasarkan pengalaman Penulis, kebohongan seperti itu sangat menyakitkan, seolah ada yang menusuk dari belakang. Sakitnya datang secara tiba-tiba tanpa pernah bisa kita antisipasi.</p>



<p>Yang jelas, ada banyak alasan mengapa yang disembunyikan di belakang tersebut tidak pernah ditunjukkan di hadapan kita. Seringnya, kita tidak akan pernah tahu alasan mana yang menjadi penyebabnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Merespon Ketidakterbukaan</h2>



<p>Seperti yang banyak diajarkan pada aliran filsafat stoikisme, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sifat orang tidak bisa kita kendalikan</a>. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah <strong>bagaimana kita merespon sikap ketidakterbukaan atau kebohongan orang lain tersebut</strong>.</p>



<p>Ada yang merasa kecewa, ada yang merasa dikhianati, ada yang merasa sedih, ada yang merasa marah. Ada yang langsung memutuskan hubungan, ada yang mengulik kesalahan-kesalahannya, ada yang ingin balas dendam atas sakit yang diterima.</p>



<p>Yang hebat jika bisa meresponnya dengan ikhlas dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Yang hebat jika bisa memaklumi dan menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa jujur dan terbuka apa adanya, lalu menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.</p>



<p>Apa yang kau lakukan di belakangku? Entahlah, mungkin kita tidak akan pernah tahu. Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku? Ada berjuta alasan dan mungkin kita tidak perlu tahu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 5 September 2021, terinspirasi dari lagu Peterpan yang berjudul <em>Di Belakangku</em></p>



<p>Foto: <a href="https://bugfox.net/fun/2016/01/25/erased-anime-early-impressions/">FunBlog</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
