<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>referensi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/referensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/referensi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>referensi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/referensi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 May 2019 10:23:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[referensi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ushi & Soto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2403</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa sejak sering dipanggil wibu di kantor, penulis makin suka dengan hal yang berbau Jepang. Padahal, dulu penulis tidak seperti ini. Bahkan, penulis lebih terobsesi dengan Inggris. Ketika berjalan-jalan di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis menuliskan buku berjudul Ushi &#38; Soto. Subjudulnya sendiri berbunyi Budaya Jepang, dari Keluarga ke Korporasi. Tentu menarik untuk mengenal Jepang lebih dekat dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/">Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mengapa sejak sering dipanggil <strong>wibu </strong>di kantor, penulis makin suka dengan hal yang berbau Jepang. Padahal, dulu penulis tidak seperti ini. Bahkan, penulis lebih <a href="https://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">terobsesi dengan Inggris</a>.</p>
<p>Ketika berjalan-jalan di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis menuliskan buku berjudul <strong>Ushi &amp; Soto</strong>. Subjudulnya sendiri berbunyi <em>Budaya Jepang, dari Keluarga ke Korporasi</em>.</p>
<p>Tentu menarik untuk mengenal Jepang lebih dekat dari kacamata orang Indonesia. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk membeli buku ini walaupun harganya terbilang cukup mahal jika dibandingkan dengan ketebalannya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini benar-benar mengelupas tentang Jepang, terutama kebudayaan dan kultur yang dimiliki oleh masyarakatnya.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Tentang Jepang</strong>, berisi tentang perkenalan negara Jepang itu sendiri, mulai dari sejarah, musim, hingga nama masyarakatnya</li>
<li><strong>Perayaan</strong>, berisi tentang perayaan apa saja yang diperingati oleh masyarakat Jepang</li>
<li><strong>Prinsip Budaya Jepang</strong>, berisi tentang sikap-sikap yang melekat pada masyarakat Jepang</li>
<li><strong>Ekspresi Budaya Melalui Bahasa</strong>, berisi tentang wawasan singkat seputar bahasa Jepang, baik Hiragana, Katakana, maupun Kanji</li>
<li><strong>Budaya Kerja</strong>, berisi tentang bagaimana budaya masyarakat Jepang dalam bekerja</li>
<li><strong>Budaya Bisnis</strong>, berisi tentang bagaimana masyarakat Jepang berbisnis dan menjalin relasi dengan orang lain</li>
</ul>
<p>Lantas, apa maksud dari <strong>Ushi &amp; Soto </strong>yang dijadikan sebagai judul? Ternyata, itu merupakan sebuah konsep bagi orang Jepang untuk membagi antara orang dalam (Ushi) dan orang luar (Soto).</p>
<p>Mungkin kita sudah tahu bahwa masyarakat Jepang terkenal karena cenderung tertutup dengan orang asing. Ternyata, ini terpengaruh dari konsep tersebut.</p>
<p>Masyarakat Jepang terbiasa membagi orang seperti itu. Hal ini bisa bahkan bisa dilihat dari bahasa yang digunakan. Berbicara kepada Ushi bisa menggunakan bahasa yang berbeda dengan berbicara kepada Soto.</p>
<p>Setelah membaca buku ini, penulis menjadi maklum mengapa begitu susah untuk mendapatkan teman pena orang Jepang dengan menggunakan berbagai macam aplikasi.</p>
<h3><strong>Kesimpulan</strong></h3>
<p>Jika pembaca sedang mencari referensi singkat dan ringan seputar Jepang (terutama masyarakatnya), buku ini akan cocok untuk dijadikan sebagai pegangan.</p>
<p>Kita bisa belajar banyak mengapa negara bisa semaju sekarang. Budaya-budaya yang mereka terapkan sehari-hari seharusnya bisa kita teladani dan implementasikan dalam hidup kita.</p>
<p>Mungkin akan ada yang skeptis dengan berkata percuma jika kita yang berubah tapi orang lain tetap melakukan kebiasaan buruk. Biarlah, yang penting kita sudah memulai perubahan itu dari diri sendiri.</p>
<p>Atau mungkin pembaca sedang mencari klien bisnis dari Jepang? Buku ini akan memberikan tips bagaimana cara agar kita bisa diterima oleh mereka.</p>
<p>Buku ini ditulis dengan bahasa yang lumayan kaku dan terlihat akademis. Hampir tidak ada selipan humor dan candaan di tiap-tiap bagiannya. Bisa jadi, buku ini akan terasa membosankan bagi beberapa orang.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini mampu menyuguhkan informasi yang menarik. Terbukti, penulis bisa menghabiskan buku ini dalam waktu yang relatif singkat.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 Mei 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku Ushi &amp; Soto karya Hasanudin Abdurakhman</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/">Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Udah Tua Kok Masih Nonton Anime?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 09:14:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[referensi]]></category>
		<category><![CDATA[stereotip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2211</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yang nonton anime itu pasti wibu bau bawang! Suka kok sama cewek 2D! Udah brewokan kok nontonnya kartun, malu sama umur! Masa setua ini masih baca komik? Anime tuh untuk anak kecil! Sebenarnya pertanyaan yang satu ini sudah pernah terjawab di beberapa tulisan, hanya saja kali ini penulis ingin menjelaskannya lebih lengkap. Bukan karena memang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">Udah Tua Kok Masih Nonton Anime?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Yang nonton anime itu pasti wibu bau bawang! Suka kok sama <a href="https://whathefan.com/animekomik/daya-tarik-wanita-pemalu/">cewek 2D</a>! Udah brewokan kok nontonnya kartun, malu sama umur! Masa setua ini masih baca komik? Anime tuh untuk anak kecil!</p>
<p>Sebenarnya pertanyaan yang satu ini sudah pernah terjawab di beberapa tulisan, hanya saja kali ini penulis ingin menjelaskannya lebih lengkap. Bukan karena memang ada yang bertanya seperti itu, hanya lagi ingin aja.</p>
<h3>Awal Mula Nonton Anime dan Alasannya</h3>
<p>Oh iya, sebagai informasi, penulis baru suka menonton anime setelah lulus kuliah. Latar belakangnya, ketika pulang kerja di Surabaya penulis sering merasa bingung mau ngapain ketika bosan membaca buku.</p>
<p>Karena tidak suka menonton film. penulis mencoba untuk menonton anime dengan <em>genre </em>komedi. Eh, ternyata keterusan sampai sekarang, bahkan mulai merambah ke genre <em>romance comedy</em>.</p>
<div id="attachment_2212" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2212" class="size-large wp-image-2212" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-1-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2212" class="wp-caption-text">Contoh Anime Romance Comedy (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.youtube.com/watch?v=mdOrwq4knKo" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiBi-P36YjhAhVt6XMBHbTKADcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">YouTube</span></a>)</p></div>
<p>Kalau penulis sendiri, ada beberapa alasan yang mendasari kenapa jadi suka nonton anime. Pertama, ya itu tadi, berawal dari coba-coba untuk mencari hiburan. Penulis merasa terhibur karena yang penulis cari adalah genre komedi yang mengocok perut.</p>
<p>Lantas setelah berkenalan dengan beberapa anime, penulis merasa bisa <a href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">mendapatkan inspirasi-inspirasi</a> untuk novel penulis, terutama referensi adegan romantis yang sebenarnya tidak terlalu penulis sukai.</p>
<p>Kenapa enggak menggunakan sinetron atau film untuk referensi? Mungkin karena sejak dulu penulis tidak pernah menyukai yang namanya sinetron yang penuh dengan adegan percintaan, sehingga penulis enggan melihat kisah romantis yang diperankan manusia sungguhan.</p>
<p>Bahkan, novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> yang penulis buat hingga memasuki <em>chapter 50 </em>ini terinspirasi dari anime berjudul <strong>Blackjack </strong>sewaktu penulis duduk di bangku SMP.</p>
<div id="attachment_2214" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2214" class="wp-image-2214 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-2-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/udah-tua-nonton-anime-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2214" class="wp-caption-text">Black Jack (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://platypus.thetvdb.com/series/black_jack" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiekr2u6ojhAhWFX3wKHQL1C9UQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">TheTVDB.com</span></a>)</p></div>
<p>Katanya nonton animenya baru setelah lulus kuliah? Hehehe, dulu penulis berlangganan TV kabel Astro, di mana salah satu salurannya ada <strong>Animax </strong>yang isinya anime-anime.</p>
<p>Akan tetapi, setelah Astro tiada pada tahun 2008, penulis sudah tidak pernah menonton anime lagi, hingga lulus kuliah. Paling penulis hanya membaca komik yang memang sudah menjadi hobi penulis sejak kecil hingga sekarang.</p>
<p>Alasan terakhir kenapa penulis masih menonton anime adalah kesukaan penulis terhadap hal-hal yang berbau Jepang, sama seperti kesukaan penulis terhadap <a href="https://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">sesuatu yang berbau Inggris</a>.</p>
<p>Berarti penulis enggak nasionalis, dong? Penulis menyukai wayang, penulis juga suka membaca <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">buku-buku sastra</a> karangan penulis Indonesia. Suka terhadap hal berbau asing tidak selalu berbanding lurus dengan hilangnya nasionalisme.</p>
<h3>Stereotip Masyarakat</h3>
<p>Sewaktu kuliah, penulis sering heran kepada teman-teman penulis yang hobi nonton anime. Kalimat yang ada di awal tulisan ini mungkin ada di pikiran penulis waktu itu. Setelah coba menonton, eh ternyata jadi ikut suka.</p>
<p>Penggemar anime sering diteriaki sebagai <strong>Wibu</strong>, yang pada definisi sebenarnya memiliki makna <em>kesukaan berlebih terhadap sesuatu yang berbau Jepang</em>.</p>
<p>Menurut penulis, hobi menonton anime memiliki strata yang sama dengan menonton drama Korea ataupun India. Sama seperti serial TV, anime juga memiliki ambang batas umur penontonnya sendiri.</p>
<p>Hanya karena berbentuk dua dimensi, tidak lantas kita menganggap anime hanya untuk anak-anak. Penulis mengetahui sebagian <a href="https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/">proses pembuatan anim</a>e yang rumit, membuat penulis menghargai setiap anime yang penulis tonton.</p>
<p>Seperti yang pernah penulis tulis pada tulisan <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</a>, kita bisa belajar saling menghargai dari hal yang terkecil seperti pilihan tontonan.</p>
<p>Penulis suka menonton anime dan membaca komik sampai sekarang. Selain karena alasan-alasan yang sudah penulis jelaskan di atas, penulis memang menyukai kedua aktivitas ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, tidak terinspirasi dari apa-apa, lagi ingin nulis ini aja</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@jgruent">Joseph Gruenthal</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">Udah Tua Kok Masih Nonton Anime?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
