<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tulisan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tulisan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tulisan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tulisan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tulisan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kebahagiaan Seorang Penulis</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Feb 2020 04:11:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3487</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar. Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika blog ini lahir. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanya tentang hobi, biasanya Penulis akan menjawab Calistung alias Baca, Tulis, Hitung. Kalau baca, Penulis sudah lama menjadi kutu buku, kalau menghitung juga suka selama cuma aritmatika dasar.</p>
<p>Nah, untuk aktivitas menulis, sebenarnya baru Penulis lakukan secara intens sejak awal tahun 2018 ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/">blog ini lahir</a>. Inspirasinya datang dari teman-teman Penulis di Kampung Inggris yang juga suka menulis.</p>
<p>Semenjak itu, menulis menjadi salah satu <em>passion </em>Penulis. Bahkan pada akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Penulis bisa bekerja sebagai </a><em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Content Writer</a> </em>di salah satu website teknologi terbesar di Indonesia.</p>
<h3><em>Passion</em> Menulis Cerita Sejak Kecil</h3>
<p>Jika dirunut ke belakang, Penulis sudah menyukai kegiatan menulis sejak SD. Penulis ingat betul membuat beberapa judul cerita yang sayangnya sudah raib entah ke mana. Sempat juga membuat beberapa komik.</p>
<p>Bahkan konsep novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> sudah Penulis susun sejak kelas 9 dan hingga kini belum tamat-tamat. Alasannya, ada banyak sekali perubahan materi. Maklum, anak SMP suka membuat imajinasi yang kurang realistis.</p>
<p>Kalau boleh <em>sharing sedikit, </em>awalnya novel tersebut akan terdiri dari tujuh buku. Waktu itu, nama karakter Leon masih bernama Black karena terinspirasi dari anime <em>Blackjack</em>.</p>
<p>Ceritanya masih seputar anak yang membenci kehidupannya dan masuk ke dalam kelas akselerasi dan bertemu dengan Kenji (kalau Kenji dari dulu namanya seperti itu, diambil dari nama tengah Mike Shinoda) yang pada akhirnya mengubah kehidupannya.</p>
<p>Nah, yang menjadi masalah adalah cerita lanjutannya. Kala itu Penulis membayangkan Leon dan teman-teman kelasnya harus melawan sebuah organisasi kejahatan dunia. Benar-benar <em>lebay</em>, bukan?</p>
<p>Bahkan Penulis sudah membuat adegan akhirnya yang mirip dengan adegan film <em>I&#8217;m Legend</em> yang dibintangi oleh Will Smith. Sekali lagi mohon dimaklumi, Penulis belum menyadari apa artinya orisinalitas waktu itu.</p>
<p>Penulis sempat berhenti cukup lama, sebelum mulai lagi menulis novel pada akhir tahun 2017 di sela-sela persiapan tes IELTS di Kampung Inggris.</p>
<p>Tentu saja imajinasi dan kemampuan menulis yang dimiliki telah berkembang setelah sekian tahun berlalu, sehingga bisa menyusun cerita yang lebih rasional.</p>
<p>Setelah mengalami beberapa revisi, akhirnya Penulis memutuskan untuk membuat novel tersebut terbagi menjadi dua buku saja, tidak terlalu ambisius hingga menjadi tujuh buku seperti Harry Potter.</p>
<p>Konflik utamanya juga bukan seperti Detective Conan yang melawan organisasi misterius. Kali ini, konfliknya memiliki keterkaitan dengan Orde Baru. Maka dari itu, Penulis sedang membaca banyak referensi seputar zaman itu.</p>
<p>Di sela-sela menyusun novel ini, Penulis juga membuat novel lainnya yang berjudul <em><a href="https://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>. </em>Inspirasinya datang dari Ayu. Kalau sering membaca artikel di Whathefan, pasti tahu siapa Ayu.</p>
<h3>Artikel-Artikel di Whathefan</h3>
<p>Selain membuat cerita, Penulis juga mulai mendorong dirinya untuk menulis apapun, mulai dari opini, renungan, artikel <em>feature</em>, dan lain sebagainya. Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, sayang jika pikiran tersebut dibiarkan menguap tanpa jejak.</p>
<p>Ketika membuat Whathefan, Penulis bertekad untuk menulis lima artikel dalam satu minggu. Jumlah tersebut bertambah menjadi enam demi tampilan <em>feed </em>Instagram yang lebih rapi dan tertata.</p>
<p>Tahun 2018, tahun pertama Whathefan, Penulis berhasil menulis blog tanpa bolong. Maklum, waktu itu Penulis masih memiliki banyak waktu luang untuk menulis.</p>
<p>Pada tahun 2019, untuk pertama kalinya Penulis bekerja formal selama satu tahun penuh. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan <del>dan rasa malas yang sering menghampiri</del> membuat tahun kemarin banyak sekali hari-hari yang bolong.</p>
<p>Dari 52 minggu yang tersedia, 19 minggu harus bolong. Itu sama dengan 114 artikel (19&#215;6). Penulis sempat menganggapnya sebagai hutang. Karena jumlahnya yang sudah mencapai ratusan, Penulis memutuskan untuk mengikhlaskannya.</p>
<p>Nah, di tahun 2020 ini, Penulis berusaha untuk meminimalisir bolong-bolong yang seperti itu. Alhamdulillah, sampai hari ini masih belum ada yang bolong meskipun akhir pekan selalu digunakan untuk mengerjakan artikel yang seharusnya dikerjakan ketika <em>weekday</em>.</p>
<p>Ah, mungkin ada yang penasaran kenapa Penulis menggunakan kata &#8220;Penulis&#8221;, bukannya aku atau saya. Jawabannya sederhana, agar berbeda dan mengurangi kesan personal.</p>
<h3>Kebahagiaan Seorang Penulis</h3>
<p>Karena <em>passion</em>, menulis akan membuat Penulis merasa bahagia. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat seorang penulis merasa lebih bahagia: <strong>ketika tulisannya dibaca oleh orang lain</strong>.</p>
<p>Sebagai contoh, Penulis mengunggah novel-novelnya di Wattpad. Hingga kini, Penulis memiliki <strong>satu </strong>pembaca setia (dulu ada dua, yang satu mungkin merasa bosan) yang membuat Penulis bersemangat untuk segera menyelesaikan novelnya.</p>
<p>Begitu pula dengan artikel-artikel yang ada di Whathefan. Terlepas dari keakuratan <em>counter </em>yang Penulis pasang, senang melihat angka-angka yang berada di belakang kata <em>views</em>.</p>
<p>Hingga saat ini, artikel dengan jumlah <em>views </em>tertinggi adalah <em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</a></em> dengan jumlah lebih dari 10 ribu. Mungkin banyak netizen yang berkeinginan kerja di sana.</p>
<p>Sebenarnya ada artikel lain yang <em>views-</em>nya mencapai angka 30 ribu, tapi itu terjadi karena adanya serangan D-DOS yang sempat membuat blog Penulis <em>down.</em></p>
<p>Kok 10 ribu, dibaca sekali saja sudah membuat Penulis senang. Ditelepon ibu dan cerita sudah baca artikel Penulis juga bikin senang. Tidak dibaca namun memberi komentar di media sosial juga sudah membuat Penulis merasa senang. Sesederhana itu.</p>
<h3>Mau Sampai Kapan Nulis Blog?</h3>
<p>Jika ada pertanyaan <em>mau sampai kapan nulis blog</em>, mungkin Penulis menjawab sampai akhir hayat. Sebisa mungkin Penulis akan mempertahankan blog ini dan tetap konsisten dalam menulis, entah yang berbobot ataupun yang ringan-ringan saja.</p>
<p>Whathefan ini sudah menjadi bagian hidup Penulis yang cukup penting. Penulis merasa seperti memiliki koneksi spesial dengannya, seperti hubungan partner (salah satu kebiasaan Penulis adalah mempersonifikasi benda mati).</p>
<p>Harapan Penulis, selain sebagai penyalur hobi dan <em>passion</em>, Whathefan bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi yang membaca. Salah satu amal yang tak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat, bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Februari 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu yang ringan-ringan saja</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nordwood?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">NordWood Themes</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/typing?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kebahagiaan-seorang-penulis/">Kebahagiaan Seorang Penulis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jul 2019 17:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya. Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya Sujiwo Tejo yang terkenal sebagai dalang edan, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya. Penulis hampir memiliki semua buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya.</p>
<p>Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya <strong>Sujiwo Tejo </strong>yang terkenal sebagai <em>dalang edan</em>, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya.</p>
<p>Penulis hampir memiliki semua buku yang pernah ia terbitkan, kecuali beberapa buku lama yang sudah jarang terlihat di rak toko buku. Ada juga buku yang memang kurang penulis minati seperti <em>Republik #Jancukers </em>dan <em>Serat Tripama.</em></p>
<h3>Koleksi Buku Sujiwo Tejo</h3>
<p>Buku karya Sujiwo Tejo pertama yang penulis miliki adalah <em>Lupa Endonesa</em>. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di koran Jawa Pos (atau Kompas? Penulis sedikit lupa) yang menyoroti berbagai kejadian yang tengah hangat di ruang publik.</p>
<p>Karena suka dengan buku ini, penulis pun membeli lanjutannya yang terbit beberapa tahun kemudian, yakni <em>Lupa Endonesa Deui </em>dan <em>Lupa 3ndonesa</em>. Isinya kurang lebih sama, hanya topik yang diangkat tentu lebih baru.</p>
<p>Buku lain yang penulis miliki adalah <em>Rahvayana</em>. Buku ini memiliki dua seri, yakni <em>Rahvayana: Aku Lala Padamu </em>dan <em>Rahvayana: Ada yang Tiada</em>. Sebagai penikmat cerita wayang, penulis tentu jatuh cinta dengan kedua buku ini.</p>
<p>Mengapa begitu? Karena buku ini berusaha menggambar kisah <em>Ramayana </em>dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari mata Rahwana yang begitu mencintai dan mengagumi Sinta. Tentu, gaya penulisannya pun khas Sujiwo Tejo yang terkesan <em>sakarepe dewe</em>.</p>
<p>Lantas ada buku <em>Balada Gathak Gathuk </em>dan <em>Sabdo Cinta Angon Kasih </em>yang mengambil tema berbeda, meskipun secara konsep sedikit mirip dengan seri <em>Lupa Endonesa</em>. Hanya saja, pada dua buku tersebut terdapat satu alur cerita yang saling berkesinambungan.</p>
<p>Buku <em>Talijiwo </em>dan <em>Senandung Talijiwo </em>merupakan rubrik terbaru milik Sujiwo Tejo yang dibukukan. Ada kesan romantis yang dihasilkan oleh kedua buku ini, berbeda dengan buku lain yang lebih menonjolkan sisi budaya dan politik di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga memiliki buku <em>Tuhan Masa Asyik </em>yang jujur sangat berat untuk penulis cerna dan <em>Kelakar Madura Buat Gus Dur </em>yang condong bergenre humor.</p>
<h3>Kenapa Suka Membaca Buku Sujiwo Tejo?</h3>
<p>Jujur, jika ditanya apakah penulis memahami buku-buku tersebut, penulis akan bereaksi dengan tertawa canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.</p>
<p>Sujiwo Tejo sering kali memasukkan pesan implisit di dalam tulisannya, dan penulis tidak selalu menangkap apa yang ia maksudkan. Terkadang, ketika membaca bab demi bab, ada saja bagian yang membuat penulis mengerutkan dahi.</p>
<p>Jika memang seperti itu, mengapa tetap membaca buku-buku karyanya? Seperti yang sudah penulis singgung di paragraf awal, penulis banyak belajar bagaimana cara menulis dari beliau.</p>
<p>Selain itu, penulis juga sangat menyukai metode Sujiwo Tejo dalam menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung hari ini.</p>
<p>Menurut ayah penulis, itu adalah hal yang sangat susah dilakukan dan hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satu yang bisa (dan ahli), ya Sujiwo Tejo.</p>
<p>Bahasa yang digunakan pun sangat enak untuk dinikmati, tidak menggunakan bahasa berat yang di mana hanya akademisi yang bisa memahaminya. <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Nuansa sastra</a> sangat kental terasa di dalamnya.</p>
<p>Tapi ya kembali lagi, penulis tidak selalu berhasil menangkap pesan tersiratnya. Mungkin kapasitas otak penulis yang tidak <em>nyampai </em>ke sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apakah penulis merupakan pengagum karya-karya Sujiwo Tejo? Tanpa ragu penulis akan menjawab iya. Penulis sangat menikmati buku-buku karya beliau. Beliau juga merupakan salah satu panutan penulis dalam menulis.</p>
<p>Ilmu yang penulis miliki jelas masih kalah jauh dari beliau, tapi hal tersebut justru menjadi pemacu agar terus belajar sehingga bisa berkarya dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Yang jelas, penulis akan selalu menantikan buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh beliau, meskipun tak selalu memahami apa yang Sujiwo Tejo maksudkan dengan tulisannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Juli 2019, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya kolekso buku Sujiwo Tejo yang dimiliki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
