<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>twitter Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/twitter/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/twitter/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Jul 2023 16:43:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>twitter Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/twitter/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Threads: The Right Thing at the Right Time</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jul 2023 16:43:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Zuckerberg]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Threads]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya Threads, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang text-oriented. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga user. Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya <strong>Threads</strong>, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang <em>text-oriented</em>. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga <em>user</em>.</p>



<p>Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika Musk sampai menuliskan surat untuk Mark Zuckerberg (bos Meta) dan mengancam akan menuntut Threads.</p>



<p>Jika dilihat secara sekilas, memang Threads sangat mirip dengan Twitter, bahkan banyak yang menganggap aplikasi ini mirip dengan Twitter di masa-masa awal. Apalagi, Threads memiliki tampilan yang minimalis dan belum akan ada iklan untuk sementara waktu.</p>





<p>Terlepas dari segala permasalahan yang ada, Penulis ingin membahas mengenai bagaimana Threads muncul sebagai hal yang tepat di waktu yang tepat, tentang bagaimana sebuah aplikasi muncul di saat aplikasi sejenis sedang mengalami berbagai problematika.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Threads Hadir di Kala Twitter Bermasalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="763" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg" alt="" class="wp-image-6673" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-300x224.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-768x572.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014.jpg 1240w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mark Zuckerberg (Kiri) dan Elon Musk (<a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, Twitter jadi banyak masalah (dan drama) semenjak <strong>Elon Musk</strong> mengakuisisi perusahaan pada bulan Oktober 2022. Contoh yang paling mudah adalah banyaknya karyawan yang ia pecat dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kebijakan yang ia buat untuk Twitter pun kerap menjadi polemik, seperti centang biru berbayar hingga adanya pembatasan pos yang bisa dilihat oleh <em>user </em>yang tidak membayar paket <em>subscription </em>tertentu.</p>



<p>Di tengah kekacauan yang membuat sebagian pengguna Twitter merasa jengah, <strong>Meta tiba-tiba muncul dengan Threads</strong>. Mereka menyediakan sebuah aplikasi alternatif untuk mereka yang merasa makin malas menggunakan Twitter.</p>



<p>Penulis sendiri akhir-akhir ini semakin malas membuka <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter karena isinya berantem mulu</a>. Meskipun tidak mengikuti akun-akun yang berpotensi menimbulkan kericuhan, ada teman-teman di Twitter yang melakukan <em>repost </em>atau muncul sebagai iklan.</p>



<p>Nah, kemunculan Threads menjadi alternatif yang tepat karena sebagai aplikasi baru, mayoritas isi <em>timeline </em>Penulis merupakan tulisan dari teman-temannya yang juga baru mencoba. Namun, bukan tidak mungkin ke depannya Threads akan ikut rusuh.</p>



<p>Selain itu, mungkin orang juga bisa menjadikan Threads sebagai <strong>jeda dari konten yang bersifat visual</strong> seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, Reels, hingga Shorts. Walau konsep <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity short videos</a> </em>menyenangkan bagi sebagian orang, lama-lama pasti juga akan merasa jenuh.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman menggunakan aplikasi ini selama dua hari, Penulis memang merasa kalau Threads digunakan oleh orang-orang untuk berceloteh apapun yang ada di pikiran mereka, mirip dengan konsep Twitter dulu yang seolah telah hilang saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Threads akan Menjadi Twitter Killer?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="640" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg" alt="" class="wp-image-6674" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-300x188.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-768x480.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tampilan Aplikasi Threads (<a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a>)</figcaption></figure>



<p>Begitu Threads muncul, Musk langsung <strong>mengancam akan menuntut Meta</strong>. Alasannya, aplikasi tersebut dianggap sebagai tiruan dari Twitter, terlebih banyak mantan karyawan Twitter direkrut oleh Meta, sehingga &#8220;kebocoran informasi internal&#8221; sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Melalui <em>tweet</em>-nya (tentu saja di Twitter, bukan di Threads), Musk mengatakan bahwa sebuah kompetisi untuk Twitter sah-saja saja. Namun, ia tidak bisa menolerir kecurangan. Nah, apa yang Meta lakukan dengan Threads ia anggap sebagai kecurangan.</p>



<p>Apakah Musk takut dengan kemunculan Threads? Bisa saja, mengingat konsep dari kedua platform memang benar-benar sama. Hingga saat ini, Penulis belum bisa menemukan perbedaan antara keduanya.</p>



<p>Threads memiliki keunggulan karena ia terintegrasi dengan Instagram. Begitu mendaftar, kita bisa <em>login </em>dengan akun Instagram kita untuk mendapatkan profil dan daftar teman atau akun yang ikuti di Instagram, bahkan jika mereka belum <em>join </em>ke Threads.</p>



<p>Dengan meledaknya jumlah pengguna hanya dalam waktu dua hari, wajar jika Musk ketar-ketir kalau pengguna Twitter akan berpindah haluan ke Threads. Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya <strong>kemunculan Threads bisa jadi karena ulahnya sendiri</strong>.</p>



<p>Sebagaimana yang telah diulas di atas, Musk banyak memecat karyawan Twitter, sehingga mereka bergabung dengan kompetitor. Selain itu, ia juga kerap membuat kebijakan yang membuat <em>user </em>tidak nyaman dengan Twitter, sehingga wajar mereka pindah ke Threads.</p>



<p>Jika Musk tidak berbenah dengan Twitter-nya (terlepas ia telah mengatakan telah menunjuk CEO pengganti dirinya), bukan tidak mungkin kalau Threads benar-benar akan menjadi <em>Twitter-killer</em> di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Meta di Dunia Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6675" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Berusaha Memonopoli Dunia Media Sosial? (<a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari sisi Meta, kita pun harus waspada karena mereka terlihat sedang ingin <strong>memonopoli <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">dunia media sosial</a></strong>. Ketika dunia ramai oleh TikTok, mereka membuat fitur Reels untuk Instagram. Kini, mereka seolah ingin mengambil alih pasar yang dimiliki oleh Twitter.</p>



<p>Sama seperti Microsoft yang sedang dikejar oleh Free Trade Commission (FTC) karena berusaha mengakuisisi Activision Blizzard, bisa jadi Meta juga akan diincar karena dianggap melanggar undang-undang antimonopoli.</p>



<p>Apalagi, sebelumnya sudah banyak media sosial lain yang tumbang karena tidak mampu bersaing dengan mereka. Sebut saja Google+, Path, Vine, hingga MySpace. Jika Twitter sampai bernasib seperti aplikasi-aplikasi tersebut, tentu itu akan mempertegas monopoli Meta.</p>



<p>Threads pun mendapatkan tantangan untuk membuktikan kalau mereka berbeda dari Twitter. Jika ternyata ini hanya fenomena sesaat dari orang-orang yang rindu akan Twitter lama, maka Threads pun berpotensi untuk kehilangan pengguna yang merasa bosan.</p>



<p>Saat ini, masih banyak fitur yang belum dimiliki oleh Threads, seperti <em>hashtag</em>, mengirim pesan ke pengguna lain, <em>trending topic</em>, dan sebagainya. Masalahnya, semua fitur tersebut sudah ada di Twitter, sehingga jika ada pun akan membuat Threads semakin mirip Twitter.</p>



<p>Kalau kasus Twitter vs Threads benar-benar dibawa ke persidangan dan terbukti kalau Threads hanya <em>copycat </em>dan sebuah upaya untuk memonopoli dunia media sosial, maka bisa jadi Threads tidak akan berumur panjang. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sejauh ini, Penulis menikmati penggunaan Threads yang terasa segar berkat banyaknya teman-teman Penulis yang menggunakannya untuk berbagi berbagai macam hal dan tampilannya yang minimalis. </p>



<p>Mungkin yang pusing adalah mereka yang kerjanya di bidang media sosial, karena pekerjaan mereka otomatis akan bertambah (yang kemungkinan tidak diiringi dengan bertambahnya gaji). Semangat untuk mereka semua!</p>



<p>Memang ada perasaan pesimis kalau Threads akan menjadi fenomena sesaat saja, terutama jika kalah sidang melawan Twitter. Belajar dari tutupnya Helo yang dimiliki Bytedance, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi terhadap Threads.</p>



<p>Namun, Meta sebagai perusahaan induk pasti telah menyiapkan berbagai strategi untuk membuat Threads bisa <em>survive</em>. Yang jelas, mereka sangat cerdik karena bisa memberikan hal yang tepat di waktu yang tepat, ketika Twitter dilanda banyak permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2023, terinspirasi dari kemunculan aplikasi Threads</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">Zuckerberg claims tens of millions of Threads signups within hours of launch</a> &#8211; <a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a></li>



<li><a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">What is Threads – and can it beat Twitter? &#8211; The Telegraph</a></li>



<li><a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Zuckerberg says Threads, Instagram&#8217;s new Twitter-like app, has 30 million users; Elon Musk responds</a> &#8211; <a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a></li>



<li><a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Elon Musk’s Twitter Threatens to Sue Meta Over Threads, Alleging Meta Hired ‘Dozens’ of Twitter Employees to Launch Copycat App; Meta Disputes Claim</a> &#8211; <a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Variety</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 May 2022 13:45:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisme]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[parasosial]]></category>
		<category><![CDATA[penggemar]]></category>
		<category><![CDATA[Safa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5714</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan hate speech kepada member boyband asal Korea, NCT. Kasus ini sempat membuatnya menjadi trending topic di internet. Bahkan, beberapa public figure sudah membuat semacam video reaction [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan <em>hate speech </em>kepada <em>member boyband </em>asal Korea, NCT.</p>



<p>Kasus ini sempat membuatnya menjadi <em>trending topic </em>di internet. Bahkan, beberapa <em>public figure </em>sudah membuat semacam video <em>reaction </em>yang menyoroti betapa &#8220;uniknya&#8221; kasus ini di mata mereka dan menunjukkan betapa <em>gregetan-</em>nya<em> </em>mereka.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mencoba menjabarkan akar permasalahan ini sekaligus mencoba untuk mencari hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari perisitiwa yang bagi sebagian orang dianggap konyol dan norak ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Rangkuman Kasus Safa di Twitter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5719" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Safa Space (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=t6axA96UujU">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Safa merupakan <em><strong>solostan</strong></em>, istilah untuk menyebutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">penggemar yang hanya mengidolakan salah satu <em>member </em>dari sebuah kelompok</a>. Nah, ia pun melancarkan <em>hate speech </em>ke <em>member </em>NCT lain yang tidak ia idolakan, bahkan menggunakan istilah-istilah yang sangat buruk.</p>



<p>Nah, para penggemar <em>member </em>yang dihina dan <em>fans </em>NCT secara umum merasa gerah dengan perbuatan Safa ini. Jika <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/">mengamati media sosial</a>, Safa sebenarnya sempat ditegur secara personal, tetapi tidak ada perubahan dan ia tetap mengeluarkan <em>hate speech</em>.</p>



<p>Alhasil, akhirnya dibentuklah Space tersebut dengan Safa sebagai &#8220;tertuduh&#8221; utama. Entah berapa orang yang ikut menyidang Safa pada momen tersebut. Sampai di titik ini, kita masih bisa melihat kewajaran mengapa Safa sampai terseret kasus ini.</p>



<p>Safa dituntut untuk membuat surat pernyataan minta maaf di atas materai dan ditandatangani orang tua, serta membuat semacam video klarifikasi. Hal ini ditolak Safa karena dianggap melanggar privasinya. Penolakan inilah yang menjadi <em>trigger</em> kemarahan orang-orang yang berada di dalam Space tersebut. </p>



<p>Bahkan, ada satu orang yang menggunakan semacam <em>power abuse </em>untuk mengintimidasi Safa dengan menyebutkan berbagai anggota keluarga dan kenalannya yang memiliki pengaruh, mulai kader Golkar sampai anggota tentara dan kepolisian.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga memberikan ancaman kalau dirinya bisa membuat ayah Safa, yang juga merupakan polisi, untuk dimutasi atau diturunkan pangkatnya. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya akan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan dasar UU ITE.</p>



<p><strong>Iya, Safa diancam akan dibawa ke kepolisian &#8220;hanya&#8221; karena menghina <em>idol </em>Korea yang bahkan tidak tahu kalau mereka eksis di dunia ini.</strong></p>



<p>Ancaman memidanakan Safa tidak hanya dilakukan oleh mbak-mbak berusia 29 tahun dan aktivis HAM ini, melainkan dilakukan oleh anggota Space yang lain juga. Bahkan, ada yang mengaku sebagai &#8220;emaknya&#8221; atau perwakilan dari anggota NCT.</p>



<p>Menghadapi serangan dari berbagai arah, Safa terlihat mampu mengendalikan diri dan tidak kalah begitu saja. Ia mengakui perbuatan salahnya, tetapi ia menganggap memperkarakan ini hanya akan ditertawakan oleh pihak yang berwajib.</p>



<p>Penulis kurang tahu pasti bagaimana <em>ending </em>dari Space tersebut. Penulis sempat membaca kalau Space tersebut ditutup ketika Safa bertanya apa kesimpulan dari diskusi tersebut karena ia harus mengerjakan tugasnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Fanatisme Idola</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5721" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Begitu Fanatik kepada Idola (via <a href="https://www.thestar.com.my/tech/tech-news/2021/08/10/indonesia-country-with-most-k-pop-fans-and-most-tweets-about-it">The Star</a>)</figcaption></figure>



<p>Kebanyakan netizen pun berpendapat bahwa apa yang dilakukan orang-orang di dalam Space tersebut sangat berlebihan. Sebegitu hebatnya mereka membela <em>idol </em>mereka hingga rasanya bagi kita mereka begitu aneh dan norak.</p>



<p>Melihat kasus tersebut, tentu banyak orang (termasuk Penulis) yang menganggapnya sebagai sebuah fanatisme. Apalagi, ini menyangkut tentang penggemar K-Pop yang sudah kadung dicap publik sebagai kalangan penggemar yang paling &#8220;keras&#8221; dan tidak bisa disenggol.</p>



<p>Sebenarnya, fanatisme terhadap seorang idola tidak hanya terlihat dari penggemar K-Pop. Fanatisme seseorang juga bisa terjadi kepada sosok politik, klub bola, karakter anime, aktor film, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Bahkan, terkadang fanatisme terhadap hal-hal tersebut telah memberikan dampak yang lebih parah daripada menyidang Safa di Twitter. Contoh, suami-istri yang cerai karena beda pilihan calon presiden atau kematian akibat perkelahian antarklub sepak bola.</p>



<p>Penulis merasa penasaran dengan adanya fenomena fantisme yang berlebihan ini, sehingga memutuskan untuk bertanya kepada seorang kawan (sebut saja Naufal) yang Penulis anggap cukup &#8220;ahli&#8221; dalam memberikan pendapat dalam kasus-kasus seperti ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hyperreality dan Hubungan Parasosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5720" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Istilah Halus untuk Menggambarkan Halu? (via <a href="https://www.verywellmind.com/parasocial-relationships-covid-5218827">Verywell Mind</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurutnya, kita sekarang tengah berada di tengah kondisi <em><strong>hyperreality</strong></em>, sebuah konsep yang diajukan oleh <strong>Jean Baudrillard</strong>, di mana <strong>manusia semakin kesulitan untuk membedakan mana realita mana yang bukan</strong>.</p>



<p>Di era <em>postmodern </em>seperti sekarang, kondisi ini semakin menjadi-jadi berkat &#8220;dukungan&#8221; dari media, teknologi, media sosial, dan lain-lain. Idola yang dulu rasanya jauh, kini terasa dekat seolah mereka benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita secara nyata.</p>



<p>Penggemar yang awalnya hanya mengagumi idola dan karyanya pun berevolusi: Mereka jadi ingin memiliki hubungan yang dekat dengan idola. Ini memunculkan sebuah fenomena lain yang disebut sebagai<strong> <em>parasocial relantionship</em></strong><em> </em>atau hubungan parasosial. </p>



<p>Tambah kawan Penulis, hubungan parasosial ini membuat para penggemar ingin di-<em>notice </em>oleh idolanya. Karena tahu akan sulit, mereka pun menggunakan berbagai cara, bahkan kadang dengan cara yang ekstrem seperti yang dilakukan oleh <em>sasaeng</em>.</p>



<p>Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space Safa sebenarnya &#8220;lumrah&#8221; dilakukan di era <em>hyperreality </em>seperti sekarang. Mungkin, karena dilakukan di media sosial-lah yang membuatnya jadi banyak disorot oleh publik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dari kasus Safa setidaknya kita bisa belajar dua hal: <strong>Jangan melakukan <em>hate speech</em></strong><em> </em>dan <strong>jangan menjadi penggemar yang fanatik</strong>. Apa yang dilakukan oleh Safa memang tidak bisa dibenarkan, tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space tersebut juga salah.</p>



<p>Di era di mana batas antara mana yang nyata dan tidak semakin tipis seperti sekarang, kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Jangan sampai kita kerap susah membedakan mana yang sungguh-sungguh terjadi mana yang tidak.</p>



<p>Peristiwa yang sebenarnya tak terlalu penting ini ternyata mampu memberi kita pelajaran yang begitu berarti, sekaligus menjadi sebuah peningkatan bahwa apapun yang berlebihan tak pernah berakhir dengan baik.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 29 Mei 2022, terinspirasi setelah membaca &#8220;drama&#8221; mengenai Safa di Twitter satu minggu yang lalu</p>



<p>Foto Banner: <a href="https://kpop.fandom.com/wiki/NCT">Kpop Wiki &#8211; Fandom</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Hyperreality#cite_note-12">Hyperreality &#8211; Wikipedia</a></li><li><a href="https://twitter.com/badutkenyal/status/1526984679504879616">Twitter: &#8220;Kumpulan space safa, karna perlu dikenang dalam sejarah: A thread🙏🏼&#8221; / Twitter</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/Cdx3On0Bhkp/">Satu Persen &#8211; Indonesian Life School (@satupersenofficial) • Instagram photos and videos</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 06:04:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[SJW]]></category>
		<category><![CDATA[Social Juctice Warrior]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya tweet Rocky Gerung yang bernada sarkas dan sedikit nakal. Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya <em>tweet </em><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a> yang bernada sarkas dan sedikit nakal.</p>
<p>Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain.</p>
<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika bermain Twitter. Entah mengapa banyak pengguna media sosial berlogo burung ini seolah menuntut kita untuk selalu sempurna, sehingga tak ada ruang sedikitpun untuk kesalahan.</p>
<h3><em>Social Justice Warrior</em></h3>
<p>Dulu, penulis mengira istilah <em>Social Justice Warrior </em>atau sering disingkat SJW adalah orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berusaha mengingatkan ke sebanyak mungkin orang lain tentang pentingnya menjaga lingkungan.</p>
<p>Ternyata, SJW bukan itu. Sesuai namanya, keadilan sosial adalah sesuatu yang mereka perjuangkan dan bela mati-matian melalui media sosial maupun aksi-aksi nyata.</p>
<p>Dari yang penulis perhatikan, banyak &#8220;SJW&#8221; yang bermain Twitter meskipun mereka tak pernah mendeklarasikan diri. Penulis menyimpulkan sendiri berdasarkan <em>tweet-tweet </em>yang mereka ketik sendiri. Jadi, bisa saja salah.</p>
<p>Biasanya, ketika ada sebuah <em>tweet </em>yang dianggap menyerang atau menyinggung orang atau kelompok tertentu (biasanya minoritas), <em>tweet </em>tersebut akan langsung dikeroyok para &#8220;SJW&#8221; dengan berbagai argumen.</p>
<h3>Masalah Sosial vs Masalah Agama</h3>
<p>Ketika ada orang-orang (terutama para <em>selebtweet </em>dengan jumlah pengikut yang tinggi) membuat ciutan yang menyangkut masalah sosial, mereka benar-benar tidak boleh membuat kesalahan.</p>
<p>Walaupun seandainya niat mereka baik, akan ada orang-orang yang melihat celah kesalahan pada cuitan tersebut. Tak jarang tudingan-tudingan seperti &#8220;tak peka&#8221;, &#8220;omdo doang&#8221;, atau &#8220;kamu tak tahu rasanya&#8221; akan muncul di kolom komentar.</p>
<p>Maka dari itu, jangan sampai menjadikan permasalahan sosial sebagai bahan bercanda. Netizen akan siap menghujat siapapun yang menjadikan <em>mental illness</em>, anak <em>broken home, </em>emansipasi wanita, dan lain sebagainya sebagai bahan <em>tweet </em>secara keliru.</p>
<p>Anehnya, setidaknya bagi penulis, ketika banyak yang menjadikan agama (semua jenis agama) sebagai bahan candaan di Twitter, mereka terlihat kalem-kalem saja dan malah ikut menertawakannya.</p>
<p>Penulis pun jadi bingung, ini penulis yang gagal paham atau memang ada sesuatu yang salah dengan kita. Apakah karena kita terbiasa dengan yang namanya standar ganda?</p>
<p>Menurut penulis, baik permasalahan sosial maupun agama tidak bisa dijadikan sebagai bahan bercanda. Karena itu, penulis tidak pernah suka dengan yang namanya <em>dark jokes.</em></p>
<h3>Tuntutan Untuk Sempurna</h3>
<p>Kemunculan orang-orang yang terlihat seperti &#8220;SJW&#8221; tersebut membuat kita merasa dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna. Beberapa baris kata yang kita ketik seolah menjadi bukti yang cukup untuk menghakimi kita.</p>
<p>Seorang pengguna Twitter bernama <a href="https://twitter.com/edwardsuhadi">Edward Suhadi</a> (kalau tidak salah, ia pernah menjadi cameo di film <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Kulari ke Pantai</a></em>) membuat <em>thread </em>yang mewakili perasaan penulis.</p>
<p>Menurutnya, sekarang ini menulis apapun di Twitter seolah selalu ketemu aja salahnya. Jika apes, sang pembuat <em>tweet </em>bisa dimaki-maki habisan oleh netizen.</p>
<p>Mencoba memberikan motivasi dianggap sebagai <em>toxic positivity</em>. Padahal, bisa jadi sang pembuat <em>tweet </em>sedang terlintas untuk membagikan semangat begitu saja. Mungkin, penggunaan kata atau kalimatnya saja yang kurang tepat.</p>
<p>Yang berbahaya, kita seolah bisa tahu dengan tepat apa maksud dari pembuat <em>tweet</em>. Kita bukan dukun, kita tak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka. Jadi, kenapa harus <em>sotil</em>?</p>
<p>Jika balasan komentar mengandung argumen yang membantah sih masih oke. Bagaimana dengan balasan yang hanya bersifat menyerang dan dibumbui dengan caci maki? Inilah yang lebih <em>toxic</em>.</p>
<p>Entah kenapa masyarakat sangat mudah <em>ngegas</em> dan tidak bisa hidup dengan lebih <em>santuy </em>di Twitter seperti dulu. Oh bisa ding, kalau yang dijadikan bahan candaan masalah agama. Kalau ada yang marah, berarti <em>close-minded </em>dan radikal. Kita ini memang lucu, kok.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ada yang bilang, Twitter menjadi seperti ini karena banyak pengguna Instagram yang pindah. Mereka tak paham &#8220;kultur&#8221; Twitter dan masih membawa &#8220;kultur&#8221; Instagram. Benarkah demikian? Entahlah, tak ada data yang mendukung.</p>
<p>Karena mulai jengah dengan Twitter, penulis jadi mulai beralih ke Pinterest atau benar-benar berhenti <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">bermain media sosial</a> untuk sementara waktu.</p>
<p>Biarlah penulis ketinggalan informasi, toh kita terkenal karena mudah melupakan suatu isu atau permasalahan. Kalaupun ada <em>thread </em>atau drama yang terjadi, paling dua minggu kemudian sudah lenyap ditelan waktu.</p>
<p>Penulis paham, para &#8220;SJW&#8221; ini pun mungkin berniat baik. Mereka ingin menjaga perasaan orang, terutama minoritas. Mereka ingin keadilan sosial yang merata untuk semua kalangan.</p>
<p>Hanya saja, rasanya kok semakin ke sini para &#8220;SJW&#8221; ini semakin berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Penulis jadi berpikiran kalau mereka lebih sentimen kepada siapa yang mengucapkannya, bukan apa yang diucapkannya.</p>
<p>Jika masyarakat terus-menerus menjadi hakim sosial yang menuntut kita untuk menjadi sempurna setidaknya di dunia maya, tentu akan menghasilkan lingkungan yang tidak nyaman bagi banyak orang.</p>
<p>Bukan tidak mungkin, orang-orang akan jadi takut beropini karena takut dihakimi oleh para &#8220;SJW&#8221; ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 November 2019, terinspirasi dari kegelisahan penulis ketika melihat linimasa Twitter.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@freestocks">freestocks.org</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Menyebar Screenshot PUBG</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2019 13:55:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[chicken dinner]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menang]]></category>
		<category><![CDATA[pamer]]></category>
		<category><![CDATA[PUBG]]></category>
		<category><![CDATA[screenshot]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah tweet seorang netizen yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game Player&#8217;s Unknown Battle Ground (PUBG) membuat status tentang kemenangan alias chicken dinner yang mereka peroleh. Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>seorang <em>netizen</em> yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game <strong>Player&#8217;s Unknown Battle Ground</strong> <strong>(PUBG) </strong>membuat status tentang kemenangan alias <em>chicken dinner </em>yang mereka peroleh.</p>
<h3>Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik Ini</h3>
<p>Rasa penasaran penulis muncul seketika, dan memutuskan untuk mengirim <em>tweet </em>tersebut ke grup Karang Taruna karena banyak di antara mereka yang berbuat demikian. Penulis ingin tahu, apa motif mereka mengirim <em>screenshot </em>dari kemenangan yang mereka peroleh.</p>
<p><div id="attachment_2147" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2147" class="size-large wp-image-2147" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg" alt="" width="800" height="600" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2147" class="wp-caption-text">Bermain PUBG (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.imore.com/how-pubg-different-mobile-vs-console" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi-3Kec36TgAhVLsI8KHV6gAI4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">iMore</span></a>)</p></div></p>
<p>Di luar dugaan, jawaban yang muncul cukup bervariasi. Ada yang secara jujur berkata bahwa tujuannya adalah pamer kemenangan yang katanya susah diperoleh apabila pangkat PUBG kita sudah di atas <em>Gold I, </em>ada pula yang sekadar ikut-ikutan temannya.</p>
<p>Perjuangan tersebut ingin mereka dokumentasikan menjadi sebuah status. Istilah lainnya, penghargaan untuk diri sendiri yang sudah bersusah payah mengeluarkan kemampuan terbaiknya demi meraih kemenangan.</p>
<p>Penulis memahami betul hal ini karena pernah melakukan hal yang sama. Ketika berhasil menang sewaktu masih bermain <em>Rules of Survival </em>yang susahnya minta ampun, penulis berbuat hal yang sama, memamerkan kemenangan di <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">media sosial</a>.</p>
<p>Yang lain mengemukakan bahwa mereka ingin memberi semacam kode kepada teman-teman mereka untuk ikut bermain bersama. S<em>creenshot </em>tersebut juga diharapkan bisa dilihat oleh orang lain hingga diajak untuk bergabung ke klan ataupun sekadar ikut lomba.</p>
<p>Berdasarkan pengakuan mereka, hingga saat ini mereka belum pernah menemukan orang yang menyatakan keberatan. Yang ada, teman-teman mereka justru penasaran dan ikut mencoba bermain PUBG.</p>
<p>Ada juga komentar bernada sarkas. Katanya, orang yang membuat <em>tweet </em>tersebut mungkin tidak pernah berhasil menang, sehingga ia kesal melihat orang lain <em>chicken dinner</em>. Tentu saja teori ini belum tentu benar.</p>
<p>Toh, jika memang seandainya ada yang terganggu, mereka bisa mengaktifkan fitur <em>hide </em>yang tersedia di berbagai media sosial.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Apapun alasannya, tidak ada salahnya menyebar <em>screenchot </em>kemenangan kita di game PUBG. Sama halnya dengan <a href="http://whathefan.com/karakter/fenomena-bucin/">penggemar Korea</a> yang membuat <em>story </em>foto biasnya secara masif. Jika hanya sesekali dilakukan, hal tersebut sama sekali tidak masalah.</p>
<p>Mungkin benar apa yang dikatakan oleh netizen <em>Twitter </em>tersebut, tidak ada orang yang peduli dengan kemenangan kita. Akan tetapi, kita membuat <em>story </em>tersebut memang <strong>bukan agar dipedulikan oleh orang lain</strong> bukan? Kalau dipedulikan oleh sesama <em>gamer, </em>masih mungkin.</p>
<p>Bukankah para pengembang media sosial membuat fitur <em>story </em>maupun <em>feed </em>memang untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>? Jadi, tidak ada salahnya melakukan hal tersebut selama tidak berlebihan yang membuat orang jengkel dan akhirnya memutuskan untuk memblok akun kita.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga perlu mengingatkan kepada kita semua, jangan diniatkan untuk sombong, karena bagaimanapun <a href="http://whathefan.com/karakter/empat-jenis-kesombongan/">kesombongan</a> adalah sesuatu yang buruk. Ya, penulis tahu sih betapa susahnya hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>yang menceritakan kekesalannya melihat banyaknya orang yang pamer kemenangan mereka di PUBG</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fmetaco.gg%2Fpubg%2Fpanduan-dasar-pubg-mengenal-weapon-dan-jenisnya%2F&amp;psig=AOvVaw3vKfs0KgH1mtbqgBHmQ8lT&amp;ust=1549461007622444" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Metaco.gg</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Bibit Unggul</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bibit unggul]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya netizen yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari thread Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan. Apa Itu Bibit Unggul? Untuk yang belum tahu, thread tentang bibit unggul sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika negara api menyerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya <em>netizen </em>yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari <em>thread </em>Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan.</p>
<p><strong>Apa Itu Bibit Unggul?</strong></p>
<p>Untuk yang belum tahu, <em>thread </em>tentang <strong>bibit unggul </strong>sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika <s>negara api menyerang</s> seorang pengguna Twitter (mari kita sebut dengan <strong>A</strong>) memberikan sebuah komentar terhadap <em>tweet</em> seorang animator (mari kita sebut dengan <strong>B</strong>).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1347 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg" alt="" width="727" height="302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg 727w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-300x125.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-356x148.jpg 356w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /></p>
<p>Mungkin komentar tersebut bernada candaan, yang dibuktikan dengan adanya <em>emoticon &#8220;</em>:p&#8221; di sana. Lantas berkembanglah debat seputar <em>attitude </em><strong>A</strong> yang dianggap <strong>B </strong>kurang sopan, hingga mengatakan bahwa ia sudah sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong> (mungkin untuk menunjukkan bahwa <strong>B </strong>lebih senior dari <strong>A</strong>?).</p>
<p>Nah, inilah yang memicu munculnya <em>tweet </em>kontroversial tersebut.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1349 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg" alt="" width="717" height="243" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg 717w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-300x102.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-356x121.jpg 356w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p><em>Sombong banget sih!</em></p>
<p>Sabar sabar, kita urai satu persatu meskipun penulis bukan orang komunikasi. Penulis hanya mengamati dari kacamata awam tanpa bermaksud sok pandai menganalisa kalimat. Harapannya, tentu dengan tulisan ini kita mendapatkan pelajaran-pelajaran demi menjadi insan yang lebih baik lagi.</p>
<p><strong>Ikut Campur Netizen</strong></p>
<p>Kalimat tersebut muncul, mungkin sebagai bentuk pembelaan diri dari <strong>A</strong> yang seolah tak terima ditegur oleh <strong>B</strong>. Sedangkan <strong>B </strong>mungkin merasa jengkel karena <em>tweet</em> seriusnya ditanggapi dengan kurang baik, sesuatu yang kita sendiri pun sering dibuat gusar olehnya.</p>
<p>Karena sama-sama merasa benar inilah (walaupun <strong>A</strong> yang lebih dominan sikap merasa benarnya) perdebatan ini melebar ke mana-mana, apalagi setelah <em>netizen </em>mulai ikut campur dengan ikut berkomentar. Bahkan situasi tetap memanas meskipun mereka telah mengonfirmasi untuk saling memaafkan.</p>
<p>Ikut campur <em>netizen </em>pun bermacam-macam. Ada yang mengutuk tindakan sombong <strong>A<em>, </em></strong>ada yang kagum dengan ketangguhan <strong>A </strong>dalam menghadapi <em>nyinyiran, </em>ada yang sempat-sempatnya membuat meme, hingga ada yang membuat <em>tweet </em>agar orang-orang seperti <strong>A</strong> tidak diterima dalam perusahaan (hingga papanya tidak terima dan akan membawanya ke ranah hukum).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang patut diapresiasi, tidak ada di antara mereka berdua yang menghapus <em>tweet-tweet</em> yang membuat bumi gonjang-ganjing tersebut.</p>
</blockquote>
<p><strong>B </strong>mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai pelajaran untuk dirinya dan istrinya (yang sempat ikut <em>nimbrung</em> dalam perdebatan). Bagaimana dengan <strong>A</strong>?</p>
<p>Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, <strong>A </strong>terkesan bebal dengan mengutarakan kalimat-kalimat yang defensif (dan terkadang ditambah <em>counter attack </em>yang menyakitkan) ketika mendapatkan serangan-serangan dari <em>netizen</em>. Hal itulah yang semakin memancing emosi <em>netizen </em>untuk ikut berkomentar, walaupun banyak yang hanya membaca satu <em>tweet</em>, bukan secara keseluruhan.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>juga mengatakan bahwa si <strong>A </strong>memang sedikit &#8220;berbeda&#8221; , tidak memiliki banyak teman, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat <strong>A </strong>tersudut dan mungkin karena itulah ia semakin bulat untuk mempertahankan diri.</p>
<p><strong>A</strong> tidak sendirian. Banyak yang mendukungnya untuk melawan <em>selebtweet</em> yang mereka anggap sok berkuasa di Twitter. Hal ini bisa dimaklumi karena memang banyak <em>selebtweet </em>yang ikut berkomentar tentang permasalahan ini, dan mayoritas dari mereka mencela perbuatan dan sikap <strong>A</strong>.</p>
<p>Bahkan jika dilihat jumlah <em>follower </em>Twitternya yang meningkat secara drastis (terakhir hampir mencapai 5.000 dari jumlah awal yang ratusan), jelas <strong>A</strong> mendapatkan banyak simpati dari orang. Bisa jadi, mendapatkan simpati ini membuat <strong>A </strong>semakin yakin untuk bersikukuh dengan sikapnya.</p>
<p>Apakah <strong>A</strong> mempertahankan <em>tweet</em>-nya sebagai bahan pelajaran untuk dirinya atau sekedar menjaga harga dirinya? Penulis serahkan ke pembaca.</p>
<p><strong>Memetik Pelajaran dari Bibit Unggul</strong></p>
<p>Manusia berbuat salah itu wajar, karena kita memang tempatnya salah. Tapi lebih salah lagi jika kita merasa tidak berbuat salah ketika berbuat salah. Lebih salah lagi jika kesalahan kita dianggap sebagai sesuatu yang benar.</p>
<p>Bingung?</p>
<p>Dilihat dari bahasa-bahasa yang ia gunakan pada Twitternya, <strong>A </strong>memang orang yang pandai. Hanya saja, seperti kata <em>netizen</em>, kepandaian tanpa sikap yang baik akan menjadi hal yang percuma.</p>
<p>Kita semua tentu sepakat bahwa kesombongan merupakan salah satu sifat yang tidak baik, meskipun konteksnya untuk membela diri. Ingat ketika kita masih kecil, jika ada teman yang memamerkan sesuatu, maka kita akan memamerkan apa yang kita punya. Semua demi menjaga harga diri, walaupun kita belum mengenal itu sewaktu kecil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Harga diri jelas butuh kita jaga. Akan tetapi, terlalu menjaga harga diri sehingga berat untuk mengucapkan maaf tentu juga kurang elok. Terlalu menjaga harga diri sehingga kita berlaku sombong lebih tidak baik lagi.</p>
</blockquote>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>B </strong>mengatakan ia sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong>, lalu <strong>A </strong>meresponnya tanpa perlu menyebutkan prestasinya, mungkin kericuhan ini tidak perlu terjadi.</p>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>A </strong>berkomentar seperti itu disikapi dengan santai oleh <strong>B<em>, </em></strong>mungkin drama ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Seandainya <em>netizen </em>yang maha benar tidak terlalu ikut campur dengan berkomentar yang tidak perlu, nah ini yang agak susah diandaikan (kabuuuuuur).</p>
<p>Berlaku sombong itu salah, maka ada baiknya ketika ada yang mengingatkan kita berterimakasih. Kita patut bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan kita. Rasanya lebih menyakitkan bukan jika tidak ada orang yang peduli dengan kita?</p>
<p><em>Ngeyel </em>terus sambil menutup telinga itu salah, maka ada baiknya jika kita sedikit menurunkan ego agar tidak <em>ngeyel </em>terus.</p>
<p>Merasa diri selalu benar itu salah, karena kita tempatnya salah. Jaya Suprana mengatakan bahwa manusia bisa berkembang karena terus mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran, yang disebutnya dengan Kelirumologi.</p>
<p>Semoga dengan adanya peristiwa ini, kita bisa memetik pelajarannya agar bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 September 2018, terinspirasi setelah berjam-jam mempelajari <em>thread </em>bibit unggul di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/">https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Politisasi Terorisme</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 04:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[#kamitidaktakut]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[Ruhut Sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja. Berikut tweet dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi. Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja.</p>
<p>Berikut <em>tweet </em>dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi.</p>
<p><div id="attachment_753" style="width: 863px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-753" class="wp-image-753 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg" alt="" width="853" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg 853w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-250x300.jpg 250w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-768x922.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-213x255.jpg 213w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 853px) 100vw, 853px" /><p id="caption-attachment-753" class="wp-caption-text">Tweet Ruhut Sitompul (www.twitter.com)</p></div></p>
<p>Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak jika mati-matian ingin mendukung Jokowi 2 periode, tapi memanfaatkan bom Surabaya untuk meraup simpati jelas merugikan bapak sendiri. Masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilah mana yang baik mana yang buruk.</p>
<p>Dari pihak oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon pun memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang pemerintahan. Berikut tweet dari Fahri Hamzah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><div id="attachment_754" style="width: 793px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-754" class="size-full wp-image-754" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg" alt="" width="783" height="682" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg 783w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-300x261.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-768x669.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-293x255.jpg 293w" sizes="(max-width: 783px) 100vw, 783px" /><p id="caption-attachment-754" class="wp-caption-text">Tweet Fahri Hamzah (www.twitter.com)</p></div></p>
<p>Mungkin <em>tweet </em>tersebut merupakan kritikan bung Fahri terhadap pemerintah yang seringkali menyudutkan agama tertentu sehingga terciptalah iklim yang tidak kondusif antar umat beragama. Tetap saja, menyebutkan itu ketika suasana duka rasanya kurang bijak dan dapat menyakiti beberapa pihak.</p>
<p><strong>Saling Lempar Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Lucunya, berbagai elemen yang ada di Indonesia saling melempar tudingan terkait penyebab terjadinya aksi teror tersebut. Beberapa menuduh DPR lama sekali menyelesaikan revisi UU Terorisme, tidak seperti RUU MD3 yang kilat.</p>
<p>Pihak DPR mengelak, dengan mengatakan bahwa pemerintah lah yang sering mengulur penyelesaian RUU Terorisme. Yasonna Laoly sebagai Menhunkam mengelak fakta tersebut dan balik menyalahkan DPR. Presiden Jokowi menyatakan bahwa akan membuat Perppu apabila hingga bulan Juni RUU Terorisme belum rampung juga.</p>
<p>Menurut penulis, revisi UU Terorisme bukan solusi dari permasalahan teror ini. Bukankah selama ini pihak kepolisian telah menangkap banyak sekali pelaku terorisme, termasuk bom panci yang sempat ramai. Lalu, mengapa revisi undang-undang yang disalahkan, jika dengan undang-undang yang lama bisa digunakan untuk sementara waktu.</p>
<p>Ada juga yang menyalahkan pihak polisi dan intelijen, kenapa bisa bobol berkali-kali dalam rentang waktu yang dekat? Bukankah biasanya mereka dapat meringkus terduga teroris dengan sigap? Apa karena sang teroris kali ini terlalu lihai sehingga dapat melewati celah-celah keamanan? Jelas, para aparat keamanan negara mendapatkan tekanan yang cukup tinggi dari masyarakat.</p>
<p>Rocky Gerung mengungkapkan permasalahan ini pada <em>twitter</em>-nya.</p>
<p><div id="attachment_757" style="width: 796px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-757" class="size-full wp-image-757" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg" alt="" width="786" height="378" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg 786w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-300x144.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-768x369.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-356x171.jpg 356w" sizes="(max-width: 786px) 100vw, 786px" /><p id="caption-attachment-757" class="wp-caption-text">Tweet Rocky Gerung (www.twitter.com)</p></div></p>
<p><strong>#KAMITIDAKTAKUT</strong></p>
<p>Di luar mencari siapa yang salah, masyarakat menyatakan keberaniannya dengan menggunakan hashtag <strong>#kamitidaktakut</strong>. Tidak salah, namun apakah penggunaan hashtag di media sosial efektif menjadi solusi dari permasalahan yang ada? Bisa jadi, setidaknya hashtag tersebut digunakan untuk menguatkan satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, kita perlu mencari solusi yang lebih aplikatif di lapangan. Penulis sendiri belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini, mungkin hanya sekedar waspada dan segera melapor jika melihat orang yang mencurigakan.</p>
<p>Banyak yang berspekulasi bahwa rentetan kejadian ini memiliki sesuatu yang lebih besar daripada yang nampak di permukaan. Ada yang mengatakan pengalihan isu, ada yang mengatakan ingin mengadu domba, ada yang mengatakan penghancuran Islam dari dalam, macam-macam.</p>
<p>Semoga saja segala prasangka tersebut salah, meskipun kita harus tetap waspada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 16 Mei 2018, setelah membaca <em>tweet </em>dari beberapa pejabat publik.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html">http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2018 15:05:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bong]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ILC]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=664</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya. Siapa Rocky Gerung? Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya.</p>
<p><strong>Siapa Rocky Gerung?</strong></p>
<p>Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). Penulis mengingatnya karena keberaniannya berbicara lantang terhadap kinerja pemerintah.</p>
<p>Bahkan, netizen pun sampai khawatir bahwa RG akan bernasib sama dengan Hermansyah, ahli IT yang mengungkap fakta bahwa <em>screenshot </em>yang membuat Habib Rizieq Shihab terkena kasus chat mesum adalah rekayasa. Untunglah, sampai hari ini kekhawatiran itu tidak terjadi.</p>
<p>Setelah itu, RG kerap menjadi narasumber, hampir di setiap episode ILC. Tentu penulis menjadi penasaran, sebenarnya siapa beliau sehingga mampu mengeluarkan kosa kata yang berat-berat.</p>
<p><div id="attachment_668" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-668" class="size-full wp-image-668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-668" class="wp-caption-text">Narasumber ILC (http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/03/pks-dihina-usai-undang-dirinya-rocky-gerung-serendah-inikah-politik-hari-ini)</p></div></p>
<p>Ternyata, RG adalah (mantan) dosen filsafat di Universitas Indonesia. Artis cantik Dian Sastrowardoyo merupakan murid bimbingannya. Dari berbagai sumber yang penulis baca, RG tidak pernah melamar di UI, justru UI yang meminta RG mengajar, termasuk jenjang Magister dan Doktor. Padahal, RG sendiri hanya lulusan tingkat Sarjana.</p>
<p>Ajaib? Tanya ke UI, begitu kata beliau. Dari beberapa testimoni, mereka menyebutkan RG memang sosok yang cerdas cenderung arogan ketika berdiskusi. Itu memang <em>style-</em>nya.</p>
<p><strong>Dungu dan Bong200</strong></p>
<p>RG hanya aktif di Twitter, dan banyak cuit-cuitannya yang memantik kemarahan orang. Salah satunya ya penggunaan kata dungu yang sering ditujukan kepada orang lain.</p>
<p>Sebenarnya, kata dungu tersebut bukan ditujukan kepada orangnya, melainkan cara berpikir atau bernalar orang tersebut. Hanya saja, mungkin sebagian besar orang menganggap dungu itu sama kasarnya dengan bodoh, dan tidak ada orang yang senang dipanggil bodoh.</p>
<p><div id="attachment_669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-669" class="size-full wp-image-669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg" alt="" width="800" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-300x177.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-768x452.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-356x210.jpg 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-669" class="wp-caption-text">Contoh Tweet RG (twitter.com)</p></div></p>
<p>Selain itu, RG juga kerap kali menggunakan istilah bong. Sebenarnya penulis tahu siapa yang dimaksud dan penyebab panggilan tersebut. Hanya saja, rasanya kurang etis untuk dijadikan bahan tulisan. 200? <em>You know lah</em>, sudah banyak yang membahas ini di media sosial. Yang terbaru, kini ada istilah <strong>KALABONG</strong>, persilangan antara kalajengking dan katak. Yang ini jelas termasuk fiktif.</p>
<p>Banyak yang mengkritik kasarnya bahasa yang RG gunakan dalam <em>tweet-tweet </em>yang ia ketik, namun kembali lagi, itulah gayanya. Setidaknya, ia mengakui bahwa itu merupakan <em>tweet</em>-nya dalam salah satu acara stasiun televisi swasta, tidak seperti politikus partai baru yang berkelit-kelit ketika ditanya hal serupa.</p>
<p><strong>Profesor Tanpa Gelar</strong></p>
<p>Netizen yang kontra terhadap RG, sering menyerang label profesor yang sering disematkan kepada RG (biasa dilakukan oleh netizen yang tidak mampu membalas argumen RG). Jujur, penulis sebenarnya tertawa tipis saja ketika mengetahui hal tersebut.</p>
<p>Pertama, RG tidak pernah ingin dipanggil profesor. Penulis ingat sekali ketika di acara ILC yang agak lama, dengan lugas RG berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebenarnya saya bukan prof, bukan tidak bisa tapi tidak butuh</em>.&#8221;</p>
<p><div id="attachment_667" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-667" class="size-full wp-image-667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg" alt="" width="640" height="372" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-300x174.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-356x207.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-667" class="wp-caption-text">Profesor Tanpa Gelar (http://pepnews.com/2018/04/15/tentang-fiksi-nya-rocky-gerung-dan-perbatasan-kamus/)</p></div></p>
<p>Terkesan arogan? Iya memang, tapi lagi-lagi, itulah gaya seorang RG. Lantas mengapa ia bisa dipanggil seperti itu? Mungkin karena orang mengagumi kecerdasannya, mengagumi nalar berpikirnya yang (mungkin) mengalahkan profesor sungguhan. Intinya, profesor merupakan sebutan untuk menghormati RG.</p>
<p>Satu yang pasti, penulis merasa bertambah cerdas ketika mendengar RG berbicara maupun membaca <em>tweet</em>-nya yang menggelitik, walaupun tidak memahami seluruhnya apa yang disampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi ketika <em>stalking </em>twitter Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi">https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
