<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anxiety Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/anxiety/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/anxiety/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Aug 2022 15:42:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>anxiety Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/anxiety/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2022 13:20:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5845</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar. Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar.</p>



<p>Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita kembali ke saat-saat di mana kecemasan yang kita rasakan belum seberat saat ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menengok Kecemasan di Masa Lalu</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5852" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masih Jarang Merasa Cemas (<a href="https://unsplash.com/@robbie36">Robert Collins</a>)</figcaption></figure>



<p>Coba ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Apa  yang sering kita cemaskan sebagai seorang siswa ketika duduk di bangku SD? Mungkin tidak mengerjakan tugas, takut dimarahi guru karena nakal, dan masalah anak-anak lainnya. </p>



<p>Beranjak ke SMP, masalah akan semakin bertambah. Harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, benih-benih cinta mulai muncul, tawuran antar sekolah, adalah beberapa masalah yang bisa saja menjadi sumber kecemasan.</p>



<p>Bagaimana ketika sudah duduk di bangku SMA? Di fase ini, biasanya kita sudah mulai merasa dewasa dan mulai menemukan jati diri. Seringnya, sumber kecemasan paling besar akan menjelang kelulusan.</p>



<p>Alasannya, setelah lulus kita akan langsung dihadapkan banyak pilihan: Mau lanjut kuliah atau kerja? Kalau kuliah, kuliah apa dan di mana? Kalau kerja, mau kerja apa? Keputusan di momen ini seolah akan menjadi penentu masa depan kita untuk sukses atau tidak.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="h3IIOK6ooa"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Dulu Kerja di Mana?&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/embed/#?secret=h3IIOK6ooa" data-secret="h3IIOK6ooa" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Di fase-fase usia 20-an, kecemasan yang timbul pun semakin bervariasi. Masalah di kerja, percintaan, bagaimana masyarakat yang cenderung kompetitif, adanya standar masyarakat yang seolah harus dipenuhi, dan masih banyak lagi.</p>



<p>Ketika sudah menikah, kecemasan yang muncul pun akan semakin bertambah. Mencemaskan masa-masa pensiun nanti, gaji yang terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kekhawatiran anaknya akan salah pergaulan, dan seabrek masalah lainnya.</p>



<p>Nah, saat memasuki usia senja, biasanya kita sudah mulai bijak dalam menyikapi kehidupan. Banyaknya pengalaman hidup yang telah dilalui membuat kita bisa menanggapi kecemasan dengan lebih baik lagi. Kecemasan masih ada, tapi kita bisa mengendalikannya lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semakin Bertambah Usia, Semakin Bertambah Kecemasan yang Dirasakan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5853" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Kecemasan yang Dimiliki Semakin Kompleks (<a href="https://unsplash.com/@elisa_ventur">Elisa Ventur</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan kalau <strong>semakin bertambah usia, semakin berat masalah yang akan kita hadapi</strong>. Sekarang bukan hanya memikirkan PR yang belum dikerjakan, melainkan bagaimana cara mencari uang untuk membayar tagihan bulanan.</p>



<p>Dulu kita tidak perlu pusing mencari uang untuk membeli cilok karena dikasih uang jajan oleh orang tua. Sekarang, kita sudah tidak bisa bergantung lagi ke orang tua. Tuntutan untuk punya <em>skill </em>dan relasi agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak menjadi sebuah kewajiban.</p>



<p>Kita juga bisa menyimpulkan, kalau<strong> </strong>kecemasan (atau <em>anxiety</em>) adalah hal yang sering kita alami dalam semua fase kehidupan kita. <strong>Semakin bertambah usia, semakin banyak pula kecemasan yang akan datang menghampiri kita</strong>.</p>



<p>Biasanya, hal ini akan dipicu oleh ketidakpastian yang membuat kita merasa tidak tahu apa yang akan terjadi. Penulis akan berusaha untuk memberikan contoh dari pengalaman pribadinya selama ini.</p>



<p>Ketika lulus dari bangku kuliah, Penulis belum ada bayangan akan kerja sebagai apa karena merasa <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">salah jurusan sampai lulus</a>. Butuh satu tahun lebih sampai Penulis mendapatkan pekerjaan formal, setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berkali-kali gagal mendapatkan beasiswa</a> S2 di luar negeri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="1gtRIY0yxt"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/embed/#?secret=1gtRIY0yxt" data-secret="1gtRIY0yxt" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis merasa<strong> tidak tahu harus berbuat apa</strong>. Entah berapa lama Penulis terjebak dalam ketidakpastian, takut dengan kenyataan dan masa depan yang harus dihadapi. Penulis merasa gagal dalam hidupnya dan hanya menjadi beban dalam keluarga.</p>



<p>Lantas, Penulis memutuskan harus berbuat sesuatu untuk menghalau kecemasan-kecemasan dan segala pikiran negatif tersebut. Setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">ditolak NET TV</a>, Penulis memutuskan untuk membantu di tempat kerja ayah. </p>



<p>Dari sana, ternyata ada titik-titik yang terhubung hingga membawa Penulis di titik yang sekarang. Seolah semuanya ternyata <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">memiliki benang merah</a>. Padahal, awalnya hal-hal yang Penulis alami rasanya tidak memiliki keterkaitan sama sekali.</p>



<p>Penulis pun sampai sekarang masih sering merasa cemas. Cemas akan prospek karir di masa depan, cemas karena belum bisa memberikan apa-apa ke orang tua, cemas ditinggal orang-orang yang disayangi, cemas akan hidup sendirian tanpa pasangan, dan lain-lainnya.</p>



<p>Apalagi, Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang mudah <em>overthinking</em></a>, terutama menjelang tidur. Ada saja pikiran-pikiran yang lewat dan menghalau kantuk datang. Ada saja hal-hal yang akan membuat Penulis merasa cemas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kecemasan Itu Bentuk Respons Alami dari Tubuh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5856" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Cemas Itu Wajar Kok (<a href="https://unsplash.com/@armedshutter">Ayo Ogunseinde</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah wajar jika kita merasa cemas? Sangat wajar, karena pada dasarnya <strong>kecemasan adalah bentuk respons alami dari tubuh</strong> <strong>yang berfungsi sebagai pengingat</strong>. Kalau kita tidak pernah merasa cemas, justru bahaya.</p>



<p>Mungkin ketika kita masih SD, kecemasan karena tidak mengerjakan tugas tidak begitu parah. &#8220;<em>Halah, paling nanti dimarahi sama guru.</em>&#8221; Ketika diputuskan oleh pacar, kita bisa mengatasi kecemasan dengan berkata, &#8220;<em>Halah, bisa cari pacar baru lagi</em>.&#8221;</p>



<p>Ketika beranjak dewasa, kecemasan sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Contoh, kita merasa cemas akan masa depan setelah lulus sekolah. Kalau kecemasan seperti ini diabaikan, yang ada kita akan jadi bermalas-malasan dan menganggap enteng semua masalah. </p>



<p>&#8220;<em>Buat apa kuliah/kerja, toh masih bisa hidup enak dari uang pemberian orang tua. Lebih baik hidup bebas dengan melakukan hal yang kita suka, seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">rebahan dan main </a></em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">game</a><em>. Cari duitnya nanti aja.</em>&#8220;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="rDHYlvPyC6"><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Menjadi Dewasa Itu&#8230;&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/embed/#?secret=rDHYlvPyC6" data-secret="rDHYlvPyC6" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Saat kita beranjak dewasa, kecemasan sudah harus ditindaklanjuti <strong>dengan melakukan sesuatu untuk mengatasi kecemasan tersebut</strong>. Dengan merasa cemas, kita pun memiliki semacam dorongan untuk berbuat sesuatu karena tubuh telah memberi sinyal: </p>



<p>&#8220;<em>Hei, <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">kamu itu sudah dewasa</a>, harus mulai hidup mandiri dan bisa cari uang sendiri. Makanya cari kerja sana, belajar </em>skill<em> baru, mau sampai kapan jadi beban orang tua!</em>&#8220;</p>



<p>Tanpa adanya kecemasan, mungkin kita tidak akan pernah bisa berkembang dan menjadi lebih baik. Untuk itu, memiliki kecemasan sebenarnya adalah hal yang positif karena ia hadir sebagai pengingat kita untuk berbuat sesuatu.</p>



<p>Kecemasan akan menjadi buruk kalau kita tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Merasa cemas, tapi <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>untuk melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan kecemasan tersebut. Kecemasan akan jadi hal buruk jika kita hanya larut terus dalam pemikiran kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis saat ini merasa cemas karena dirinya belakangan ini mudah sakit. Kecemasan ini akan sia-sia jika Penulis merasa tidak mengubah gaya hidupnya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membiasakan diri <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ritual-untuk-bangun-pagi/">bangun pagi</a> dan lebih rutin berolahraga.</p>



<p>Contoh yang lain, Penulis merasa cemas dengan prospek masa depan karirnya. Bagaimana nanti kalau begini-begini saja tanpa ada perkembangan? Rasa cemas tersebut mendorong Penulis untuk belajar <em>skill-skill </em>baru yang akan bermanfaat di dunia kerja.</p>



<p>Terakhir, Penulis cemas tidak akan menikah karena terlalu lama sendiri. Penulis cemas tidak akan ada yang mau dengan Penulis. Cara mengatasinya, ya berusaha memantaskan diri untuk dia yang akan datang di waktu yang tepat.</p>



<p>Dengan adanya kecemasan-kecemasan tersebut, Penulis terdorong untuk melakukan sesuatu yang akan berdampak baik bagi Penulis. Tanpa adanya kecemasan, mungkin hidup Penulis akan begitu-begitu saja tanpa ada perubahan yang signifikan.</p>



<p>Kita sudah semakin dewasa, dengan masalah yang semakin kompleks. Dunia ini memang keras dan tidak adil, sehingga kecemasan dari berbagai penjuru akan selalu datang menghampiri kita. </p>



<p>Pertanyaannya, mau kita apakan rasa cemas tersebut? Berbuat sesuatu untuk menghilangkan kecemasan tersebut, atau memilih untuk diam dan terus dihantui oleh kecemasan tersebut? Kita sendiri yang memutuskan.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 4 Agustus 2022, terinspirasi dari dirinya sendiri yang masih sering merasa cemas akan ketidakpastian</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@keaneyefoto">Hailey Kean</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2022 03:43:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[comedy-romance]]></category>
		<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[Komi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[romance]]></category>
		<category><![CDATA[school]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[slice of life]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah agak lama tidak menonton anime, Penulis memutuskan mencoba untuk menontonnya lagi untuk mengisi waktu luang. Genre yang Penulis pilih tetap seperti biasa, comedy-romance yang ceritanya santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu rekan kantor Penulis pernah memberikan saran sebuah anime yang berjudul Komi-san wa, Comyushou desu atau Komi Can&#8217;t Communicate. Dari premisnya, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">tidak menonton anime</a>, Penulis memutuskan mencoba untuk menontonnya lagi untuk mengisi waktu luang. Genre yang Penulis pilih tetap seperti biasa, <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-anime-bergenre-comedy-romance-school/">comedy-romance </a></em>yang ceritanya santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Salah satu rekan kantor Penulis pernah memberikan saran sebuah anime yang berjudul <em><strong>Komi-san wa, Comyushou desu</strong></em> atau <em><strong>Komi Can&#8217;t Communicate</strong></em>. Dari premisnya, Penulis mengetahui kalau ceritanya berpusat pada seseorang yang mengalami kecemasan sosial.</p>



<p>Karena topiknya beririsan dengan <em>mental health</em>, Penulis pun memutuskan untuk menonton serial anime yang satu ini. Setelah menonton, pendapat Penulis bisa dibilang cukup campur aduk.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kecemasan Sosial yang &#8230; Berlebihan?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5728" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Komi dan Tadano (<a href="https://www.sportskeeda.com/anime/10-likable-characters-komi-can-t-communicate-anime">Sportskeeda</a>)</figcaption></figure>



<p>Anime ini dibuka melalui sudut pandang <em>main character </em>yang terasa seperti <em>side character</em>, <strong>Hitohito Tadano</strong>. Ia adalah siswa SMA Itan yang terlihat rata-rata dan tidak menonjol sama sekali, bahkan sering terkesan kalau dia mudah sekali untuk diabaikan.</p>



<p>Sebaliknya, teman sebangkunya <strong>Shouko Komi</strong> adalah gadis remaja yang begitu populer dan terlihat sempurna. Ia cantik, anggun, dan pintar. Semua teman sekolah begitu kagum padanya, hingga ada yang menganggapnya sebagai dewi.</p>



<p>Namun di balik kesempurnaannya, Komi sebenarnya memiliki masalah kecemasan sosial yang parah hingga tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Sekadar menyapa &#8220;hai&#8221; saja tidak sanggup. Nah, hanya Tadano-lah yang menyadari hal ini.</p>



<p>Setelah itu, Tadano pun jadi memahami Komi sebenarnya ingin bisa memiliki 100 teman. Ia pun bertekad untuk membantu Komi meraih impiannya tersebut dan dimulailah &#8220;petualangan&#8221; mereka!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5730" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Extreme Social Anxiety (<a href="https://www.chapteria.com/2022/04/komi-san-kodok.html">Chapteria</a>)</figcaption></figure>



<p>Plot cerita di atas sebenarnya menarik dan unik karena Penulis belum pernah menemukan anime yang mengangkat masalah <em>anxiety </em>yang ekstrem seperti ini. Bahkan, Penulis belum pernah bertemu seseorang di dunia nyata yang memiliki kecemasan sosial separah itu.</p>



<p>Di animenya, selalu ada narator yang menyebutkan bahwa orang yang mengalami kecemasan sosial seperti Komi sebenarnya bukan tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain, melainkan karena memang tidak bisa.</p>



<p>Tidak hanya tidak mampu untuk bercakap, Komi pun kerap gugup dan gemetar ketika berhadapan dengan orang lain. Berkat bantuan Tadano, tabiat ini bisa dikurangi meskipun ia tetap membutuhkan media buku dan alat tulis untuk bisa berkomunikasi dengan temannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun kadang merasa kalau kecemasan sosial yang dialami Komi sedikit berlebihan. Apalagi, tidak ada (atau setidaknya belum ada) latar yang kuat mengapa Komi bisa seperti itu. Apakah karena trauma di masa lalu?</p>



<p>Apalagi, Komi adalah gadis yang cantik. Jika hidup di dunia nyata, mungkin ia akan mudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">viral di TikTok</a> atau diangkat menjadi <em>brand ambassador</em> tim <em>esports</em>. Itu mungkin akan membantunya untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Beberapa Teman yang Sudah Didapatkan Komi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-1024x683.jpg" alt="komi can't communicate" class="wp-image-5729" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Najimi Osana (<a href="https://www.cbr.com/komi-cant-communicate-najimi-true-friend-count/">CBR</a>)</figcaption></figure>



<p>Berkat bantuan Tadano, Komi pun perlahan bisa menjalin pertemanan dengan orang lain. Teman masa kecil Tadano yang supel, <strong>Najimi Osana</strong>, menjadi teman lain pertama Komi setelah Tadano. Sayangnya, Penulis merasa risih karena gendernya yang tidak jelas.</p>



<p>Selain itu, ada juga <strong>Ren Yamai</strong> yang memiliki obsesi berlebihan dan tidak sehat kepada Komi (satu lagi yang membuat Penulis merasa kurang nyaman). Karakter <em>yandere </em>yang dimilikinya terasa menyeramkan dan ia pun tak segan menyakiti orang yang dekat dengan Komi.</p>



<p>Nama-nama lain yang sering muncul dan telah menjadi teman Komi adalah <strong>Omoharu Nakanaka</strong> yang punya sindrom <em>chuunibyo</em>, <strong>Himiko Agari</strong> yang masokis, <strong>Makeru Yadano</strong> yang menganggap Komi sebagai rivalnya, dan masih banyak lagi karakter-karakter unik yang menjadi teman Komi.</p>



<p>Apakah anime ini akan tamat ketika Komi berhasil mendapatkan targetnya mendapatkan 100 teman? Bisa jadi. Pada akhirnya, mungkin Komi bisa mengatasi masalah berkomunikasinya dan akhirnya bisa melakukan percakapan kecil dengan teman-temannya tanpa bantuan alat tulis.</p>



<p>Selain itu, bumbu romansa antara Komi dan Tadano pun perlahan mulai terlihat. Tadano memiliki semacam <em>inferior complex </em>yang membuatnya tidak percaya diri dan merasa tidak pantas untuk memiliki hubungan romantis dengan perempuan secantik Komi. Sebaliknya, Komi sendiri belum yakin dengan perasaannya sendiri ke Tadano.</p>



<p>Apakah mereka akan berakhir menjadi sepasang kekasih? Jika melihat kebiasaan anime-anime yang pernah Penulis tonton dengan genre seperti ini, biasanya akan memiliki akhir yang menggantung dan diserahkan kepada penonton. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p><em>Komi Can&#8217;t Communicate </em>adalah anime yang memiliki premis menarik karena mampu mengemas masalah kecemasan sosial (yang mungkin banyak dialami oleh orang <em>introvert</em>) dengan tidak membosankan dan ringan. Bumbu komedi dan <em>romance </em>yang dimiliki tidak berlebihan dan terasa pas untuk dinikmati dengan santai.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa risih dengan beberapa karakter yang ada di dalamnya. Anime ini berpotensi untuk memiliki lebih banyak lagi karakter karena Komi memiliki target 100 teman, sehingga Penulis harap tidak ada lagi karakter yang bisa membuat risih.</p>



<p>Untuk penggemar genre <em>slice of life</em>, anime ini jelas layak untuk dicoba. <em>Season </em>keduanya sedang mengudara tahun ini, jadi mungkin waktu yang tepat untuk segera maraton dari <em>season </em>pertamanya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2022, terinspirasi setelah menonton anime <em>Komi Can&#8217;t Communicate</em></p>



<p>Foto Banner: <a href="https://gowapos.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-033870249/anime-komi-cant-communicate-umumkan-tanggal-tayang-perdana-untuk-season-keduanya-ada-karakter-baru">Gowapos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Kecemasan Sosial ala Komi Can&#8217;t Communicate</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
