<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Corona Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/corona/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/corona/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Corona Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/corona/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2021 14:21:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[PPKM]]></category>
		<category><![CDATA[PSBB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5111</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah lama Penulis tidak menulis artikel yang berkaitan dengan politik dan negara. Terakhir menulis tentang Monopoli Kebenaran pada bulan Juni. Kemarin mau buat tulisan tentang Rektor UI yang mengubah aturan ketika melanggarnya (dan disetujui oleh pemerintah), eh keburu mundur dari jabatan komisarisnya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menulis tentang bagaimana pemerintah kita yang dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah lama Penulis tidak menulis artikel yang berkaitan dengan politik dan negara. Terakhir menulis tentang <em><a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> </em>pada bulan Juni.</p>



<p>Kemarin mau buat tulisan tentang Rektor UI yang mengubah aturan ketika melanggarnya (dan disetujui oleh pemerintah), eh keburu mundur dari jabatan komisarisnya.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menulis tentang bagaimana pemerintah kita yang dalam menangani pandemi yang seolah terlalu fokus dengan istilah hingga lupa dengan esensinya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Mulai PSBB Hingga PPKM Level</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5119" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>PSBB (<a href="https://www.antaranews.com/berita/1497296/tak-ada-penutupan-akses-masuk-ke-kota-malang-selama-psbb">Antara News</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika awal pandemi berlangsung, beberapa kalangan (terutama dari orang-orang mampu) mendorong pemerintah untuk memberlakukan <em>lockdown</em> seperti negara lain.</p>



<p>Sayangnya, pemerintah nampak ragu untuk menyetujui usulan ini. Mungkin, karena pemerintah merasa tidak mampu jika harus memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya yang jumlahnya lebih dari 250 juta orang.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura, <em>lockdown </em>jelas lebih mudah dilakukan karena jumlah penduduknya yang sedikit. Selain itu, jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan juga pasti tidak sebanyak di Indonesia.</p>



<p>Sebagai gantinya, pemerintah mengeluarkan istilah baru untuk menggantikan <em>lockdown</em>, yakni <strong>Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)</strong>. </p>



<p>Kebijakan ini berlangsung mulai bulan April 2020. Kalau tidak salah, setelah PSBB ada istilah <strong>PSBB Transisi </strong>yang menggambarkan kalau kita akan menujuk <em>new normal </em>secara perlahan.</p>



<p>Di awal tahun 2021, muncul istilah baru bernama <strong>Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)</strong>. Nah, istilah inilah yang memiliki varian yang sama banyaknya dengan varian Covid-19.</p>



<p>Beberapa di antara adalah <strong>PPKM Jawa-Bali</strong>, <strong>PPKM Mikro</strong>, <strong>PPKM Darurat</strong>, hingga yang terbaru <strong>PPKM Level 1-4</strong>. Jangan tanya Penulis apa bedanya karena dirinya juga tidak paham.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sekadar Istilah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5118" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>PPKM (<a href="https://cirebonraya.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1142230689/ppkm-darurat-diperpanjang-11-hari-berakhir-sampai-akhir-juli-2021">Cirebon Raya</a>)</figcaption></figure>



<p>Mau apapun istilahnya, intinya pemerintah berusaha <strong>membatasi pergerakan masyarakat demi mengurangi penyebaran virus Covid-19</strong> yang katanya bisa menyebar dengan sangat cepat.</p>



<p>Lantas, apa bedanya dengan <em>lockdown </em>seperti di negara lain? Kalau dari yang Penulis baca, negara hadir dalam menyediakan bantuan (terutama makanan) kepada rakyatnya.</p>



<p>Di Indonesia, ada bantuan sosial (bansos) yang diberikan kepada rakyat. Mirisnya, bansos ini justru dikorupsi, bahkan kadang ghoib hingga tidak sampai ke pihak yang membutuhkan. </p>



<p>Ketika PPKM ini, ada rencana memberikan bansos sebesar Rp300 ribu untuk satu bulan. Bisa dibayangkan, bagaimana caranya nominal tersebut cukup untuk satu keluarga dengan durasi selama itu?</p>



<p>Ada hal lain yang lebih lucu. Banyak komik layanan masyarakat yang menghimbau masyarakat untuk saling membantu. Lah, kenapa kesannya pemerintah cuma mengandalkan masyarakat saja untuk pekerjaan yang menjadi kewajibannya?</p>



<p>Kok, kesannya pemerintah seperti lepas tangan begitu saja dalam memberikan bantuan. Kok, pemerintah lebih sibuk menertibkan masyarakat dengan menangkap pelanggar dan menyekat jalan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sementara Itu Pemerintah&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5117" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menyumbangkan Gajinya (<a href="https://news.detik.com/berita/d-5649277/sekjen-pan-sumbangkan-gaji-dpr-atasi-covid-yang-lain-kapan">Detik News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sempat ada wacana, 50% gaji anggota dewan dari pusat hingga daerah akan dipotong untuk membantu penanganan Covid-19. Hanya saja, sampai sekarang sepertinya belum terlaksana walau mungkin ada beberapa anggota yang sudah melakukannya sendiri.</p>



<p>Selain itu, Penulis baru ingat kalau gaji anggota dewan tidak terlalu besar. Kebanyakan hanya satu digit karena yang besar kan tunjangannya. Seandainya yang dipotong tunjangannya, baru luar biasa. </p>



<p>Penulis tidak banyak berharap kalau anggota dewan yang terhormat itu rela berkorban demi bangsa. <em>Mong </em>mereka malah mengusulkan untuk mendapatkan perlakuan istimewa, seperti meminta rumah sakit khusus pejabat.</p>



<p>Menurut Penulis, pemerintah sekarang kesannya terlalu fokus dengan istilah dan lupa dengan hal yang esensial. Mengurus yang remeh temeh, tapi justru lupa dengan hal yang penting seperti kebutuhan makan masyarakat.</p>



<p>Entah sampai kapan keadaan akan terus terlihat kacau seperti ini. Yang kemarin bilang semua terkendali, akhir-akhir ini malah minta maaf sampai disindir oleh mantan menteri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masyarakat tidak butuh istilah panjang yang susah untuk dihafalkan. Masyarakat butuh tindakan nyata yang bisa membuat kehidupan mereka terjamin walaupun pergerakannya dibatasi.</p>



<p>Beberapa daerah seperti Madiun memiliki kebijakan yang memberdayakan Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk memberi makan kepada pasien yang harus menjalani isolasi mandiri (isoman).</p>



<p>Kebijakan yang seperti ini tentu lebih solutif dibandingkan hanya menutup jalan, apalagi menyuruh pelanggar membayar denda yang jumlahnya besar sehingga mereka memilih untuk mendekam di penjara.</p>



<p>Semoga saja kita bisa melewati ujian ini, terserah pemerintah jika ingin mengeluarkan istilah-istilah baru lagi.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Juli 2021, terinspirasi dari banyaknya istilah yang digunakan pemerintah untuk mengatasi masalah pandemi ini</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5656594/aturan-lengkap-perpanjangan-ppkm-level-3-4-di-jawa-dan-bali">Detik News</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumpang Tindih Regulasi Mudik</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 08:55:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui. Pemerintah tak kalah keras menghadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">penyebaran virus Covid-19</a>.</p>



<p>Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui.</p>



<p>Pemerintah tak kalah keras menghadapi perlawanan ini. Dikerahkan banyak petugas di berbagai titik, termasuk jalan tikus yang tidak diketahui banyak orang. Entah sudah berapa orang yang harus rela putar balik karena dicegat oleh petugas.</p>



<p>Masalahnya, di lapangan terjadi tumpang tindih regulasi yang membuat masyarakat bingung dan kesal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Petugas pun Bingung</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4959" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Arief Wismansyah (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210507132228-20-639928/wali-kota-tangerang-bingung-larangan-mudik-berubah-ubah">CNN Indonesia</a>)</figcaption></figure>



<p>Regulasi mudik ini membingungkan masyarakat. Awalnya, mudik lokal dibolehkan. Tidak lama diumumkan, ternyata dilarang juga. Ada juga istilah mudik di wilayah aglomerasi yang entah apa maksudnya, tarik ulur juga. Diizinkan, terus dilarang.</p>



<p>Kok masyarakat, <em>mong </em>pelaksananya aja juga ikut bingung. Ambil contoh pernyataan dari Wali Kota Tangerang, <strong>Arief Wismansyah</strong>. Ia menyatakan dalam rapat bersama Menteri Dalam Negeri, mudik di wilayah aglomerasi diperbolehkan. Eh, ternyata sekarang dilarang. </p>



<p>Orang-orang yang di lapangan pun menjadi bingung untuk menegakkan aturan. Apalagi, orang-orang di wilayah Jabodetabek sudah biasa berseliweran antara wilayah, entah sekadar cari makan ataupun berangkat kerja.</p>



<p>Tentu petugas di lapangan akan kesulitan mana yang pemudik dan mana yang bukan pemudik. Dari barang bawaan? Bisa jadi, tapi bisa saja ada pemudik yang sengaja tidak membawa barang agar tidak disuruh putar balik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mudik No, Wisata Yes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4958" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gibran Rakabuming (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://regional.kompas.com/read/2021/05/06/195936778/gibran-larang-pemudik-masuk-solo-tetapi-izinkan-wisatawan-dari-jakarta?page=all">Kompas Regional</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang membuat <em>gregetan</em>, tempat wisata dan belanja dibuka dengan alasan ekonomi. Padahal, tingkat kerumunan yang bisa ditimbulkan lebih besar jika dibandingkan kita yang pulang ke rumah orangtua.</p>



<p>Mungkin orang yang paling kena sorot masyarakat atas keputusan ini adalah walikota Solo, <strong>Gibran Rakabuming</strong>. Ia melarang orang-orang mudik ke Solo, tapi mengizinkan orang yang pergi dengan tujuan berwisata.</p>



<p>Memang ada berbagai persyaratan agar masyarakat bisa berwisata ke Solo. Tempat wisata juga cuma boleh menampung 50% kapasitas bla bla bla. Pembaca bisa membaca keterangan selengkapnya melalui tautan yang ada di bawah.</p>



<p>Lah, kalau begitu kenapa persyaratan yang sama tidak diberlakukan untuk masyarakat yang hendak mudik? Memangnya virus Corona alergi masuk ke tempat wisata sehingga yang pergi ke sana pasti tidak tertular dan menularkan?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Gelombang WNA di Bandara</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4957" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>WNA China (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011325429/153-warga-china-tiba-di-tanah-air-saat-larangan-wna-masuk-indonesia-masih-berlaku-pihak-imigrasi-buka-suara">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah-tengah kesedihan masyarakat yang tidak bisa mudik, eh muncul berita tentang masuknya warga negara asing (WNA). Awalnya ada <strong>153 WNA India</strong> yang masuk ke Indonesia. Hal ini jelas menggemparkan karena India tengah diterjang gelombang Tsunami Corona yang parah.</p>



<p>Terlepas dari apapun alasan mereka bisa masuk, jelas pemerintah lengah dan kurang antisipatif. Terbukti, ada <strong>49 WNA India yang positif Corona</strong>. Bukan tidak mungkin virus yang mereka bawa merupakan varian virus yang baru.</p>



<p>Masih belum reda berita itu, ada lagi berita kalau <strong>WNA China</strong> masuk ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai <strong>157 orang</strong>. Pemerintah pun mengeluarkan klarifikasi kalau mereka semua telah memiliki izin dan kedatangan mereka untuk bekerja dan bla bla bla.</p>



<p>Mau apapun alasannya, kedatangan WNA di tengah-tengah keprihatinan masyarakat yang dilarang mudik jelas terasa tidak adil dan menyakitkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">polarisasi masyarakat</a> yang percaya adanya Covid-19 atau tidak, pemerintah harusnya bisa lebih tegas dalam menangani masalah mudik tahun ini. Jika memang dilarang, terapkan aturan dengan tegas dan jangan <em>mencla-mencle</em>.</p>



<p>Kalau memang ada larangan orang masuk ke wilayah mereka, pukul rata untuk semua orang. Jangan yang mudik dilarang, tapi yang hendak berwisata dipersilakan. Jangan orang asing boleh masuk, tapi orang lokal dilarang.</p>



<p>Akibatnya, tumpang tindih regulasi mudik yang ada menyebabkan kebingungan tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi petugas di lapangan. Kalau sudah begini, yang susah kan jadi banyak pihak.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 9 Mei 2021, terinspirasi setelah melihat tumpang tindihnya aturan terkait mudik yang membuat masyarakat merasa bingung sekaligus jengkel</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://indonesia.go.id/kategori/kependudukan/1791/ketentuan-larangan-mudik-dan-pembatasan-transportasi">Portal Informasi Indonesia</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/08/06593351/larangan-mudik-lokal-jabodetabek-warga-dan-pemerintah-daerah-sama-sama?page=all">Larangan Mudik Lokal Jabodetabek: Warga dan Pemerintah Daerah Sama-sama Bingung Halaman all &#8211; Kompas.com</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20210506143553-4-243770/se-wali-kota-gibran-dilarang-mudik-ke-solo-liburan-boleh">SE Wali Kota Gibran: Dilarang Mudik ke Solo, Liburan Boleh (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://metro.tempo.co/read/1455859/heboh-153-wna-india-masuk-indonesia-pangdam-jaya-12-positif-covid-19/full&amp;view=ok">Heboh 153 WNA India Masuk Indonesia, Pangdam Jaya: 12 Positif Covid-19 &#8211; Metro Tempo.co</a></li><li><a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5558671/bertambah-dari-ratusan-wn-india-yang-masuk-ri-49-di-antaranya-positif-corona">Bertambah! Dari Ratusan WN India yang Masuk RI, 49 di Antaranya Positif Corona (detik.com)</a></li><li><a href="https://nasional.kompas.com/read/2021/05/09/12292571/157-wna-china-masuk-indonesia-begini-kata-kemenkumham">157 WNA China Masuk Indonesia, Begini Kata Kemenkumham (kompas.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jam Malam Corona</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2021 08:47:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[jam malam]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4316</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun sudah berganti, namun masalah yang kita hadapi justru semakin banyak. Selain banyaknya bencana di awal tahun, Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari muka bumi. Berbagai aturan dan protokol kesehatan sudah dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Bahkan, presiden dengan bangganya menyatakan Indonesia bisa mengatasi virus ini. Benarkah demikian? Entahlah, Penulis tidak berani memberikan penilaian. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/">Jam Malam Corona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun sudah berganti, namun masalah yang kita hadapi justru semakin banyak. Selain <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">banyaknya bencana di awal tahun</a>, <strong>Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi</strong> dari muka bumi.</p>
<p>Berbagai aturan dan protokol kesehatan sudah dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Bahkan, presiden dengan bangganya menyatakan Indonesia bisa mengatasi virus ini.</p>
<p><em>Benarkah demikian? </em>Entahlah, Penulis tidak berani memberikan penilaian.</p>
<p>Di antara semua aturan yang diterapkan demi menekan kenaikan pasien Covid-19, adanya<strong> jam malam</strong> lah yang paling tidak Penulis pahami.</p>
<h3>Nasib Para Penjaja Makanan di Malam Hari</h3>
<p><div id="attachment_4318" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4318" class="size-large wp-image-4318" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4318" class="wp-caption-text">Penjual Nasi Goreng (<a href="https://www.bisikanbisnis.com/2017/02/asumsi-biaya-dan-penghasilan-jualan.html"><span class="pM4Snf">BisikanBisnis.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika alasannya untuk menghindari kerumunan, kenapa <strong>tidak melakukan pembatasan</strong> saja seperti yang diterapkan pada siang hari?</p>
<p>Kalau Penulis sendiri mungkin tidak terlalu mendapatkan efeknya secara langsung. Paling hanya kebingungan jika sedang lapar dan tidak ada makanan di rumah.</p>
<p>Yang Penulis pikirkan adalah bagaimana dengan <strong>penjual makanan yang hanya berjualan di malam hari</strong> seperti penjual nasi goreng, sate, martabak, dan lain sebagainya.</p>
<p>Makanan-makanan tersebut umumnya hanya ditemukan pada malam hari. Jika mereka dilarang berjualan karena jam malam, lantas darimana penjualnya mendapatkan pemasukan?</p>
<p>Berjualan siang hari? Penulis yakin ada alasan-alasan mengapa mereka tidak bisa melakukan hal tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan <strong>anak kos yang tidak memiliki kemampuan memasak</strong>? Kalau malam sudah tiba, di mana mereka bisa mendapatkan makanan?</p>
<p>Jangankan tempat berjualan makan, minimarket pun sudah pada tutup semua. Kalau beli makanan dari sore, pasti malamnya sudah dingin.</p>
<p>Penulis pun membayangkan, pelarangan jam malam ini tentu bisa diterima jika ada solusi dari pemerintah. Mungkin dengan membeli dagangan para penjual tersebut untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.</p>
<p>Implementasinya memang sulit, tapi itu lebih baik daripada hanya melakukan pelarangan tanpa memberi solusi apapun. <strong>Rakyat butuh makan dan sudah seharusnya pemerintah hadir</strong>.</p>
<p>Atau setidaknya, biarlah usaha makan itu tetap buka karena penjual dan pembelinya sama-sama membutuhkan. Usaha lain yang tidak berkaitan dengan perut mungkin bisa ditutup.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dulu di tempat kerja Penulis, kantor menerapkan jam masuk dimajukan satu jam. Para karyawannya pun heran, apa Covid-19 mulai beraksi di atas jam sembilan pagi.</p>
<p>Hal yang sama pun berlaku untuk aturan jam malam ini. Yang namanya virus tidak mengenal waktu. Ia bisa menyerang siapa saja dan kapan saja.</p>
<p>Ketika mencoba mencari berbagai informasi, Penulis belum menemukan berita yang menyatakan kalau pemberlakukan jam malam berhasil meredam Covid-19.</p>
<p>Penulis hargai kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk menekan angka pasien Covid-19. Hanya saja, menurut pendapat pribadi Penulis hal ini <strong>kurang efektif</strong>.</p>
<p>Bagaimana jika masyarakat yang merasa stres karena tidak boleh keluar malam, akhirnya malah berkumpul di siang hari dan menimbulkan kerumunan yang padat? Kan sama saja jadinya.</p>
<p>Kalau mau total kan sebenarnya memang harus <em>lockdown</em> seperti negara lain. Hanya saja, negara kita rasanya belum mampu menghidupi ratusan juta rakyatnya sekaligus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2020, terinspirasi dari banyaknya penjual dan pembeli makanan yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.liputan6.com/global/read/4206023/foto-suasana-quezon-city-filipina-saat-penerapan-jam-malam-karena-corona?page=1">Liputan 6</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3643628/ini-fungsi-jam-malam-saat-pandemi-virus-corona">Ada Jam Malam, Bisakah Tekan Kasus Virus Corona? (klikdokter.com)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/">Jam Malam Corona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2021 11:02:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2021]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sumber daya]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4279</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang Kita semua nampaknya sepakat kalau tahun 2020 adalah tahun yang memprihatinkan. Selain banyaknya kejadian yang membuat kita mengelus dada, adanya pandemi Covid-19 makin memperparah keadaan. Jutaan orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita<br />
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa<br />
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita<br />
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang</p></blockquote>
<p>Kita semua nampaknya sepakat kalau tahun 2020 adalah tahun yang memprihatinkan. Selain banyaknya kejadian yang membuat kita mengelus dada, adanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/"><strong>pandemi Covid-19</strong></a> makin memperparah keadaan.</p>
<p>Jutaan orang terjangkit penyakit ini, pembatasan terjadi di mana-mana yang memukul telak berbagai industri. Orang-orang banyak yang kehilangan pekerjaan, perusahaan banyak yang pailit.</p>
<p>Keseriusan pemerintah menangani musibah ini dipertanyakan oleh rakyatnya. Di sisi lain, banyak orang yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">skeptis terhadap kebenaran virus ini</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak yang berharap di tahun 2021 ini akan menjadi tahun yang lebih bersahabat untuk kita semua. Kita begitu optimis menyongsong tahun baru.</p>
<p>Sayang, <strong>tahun ini diawali dengan berbagai kejadian buruk.</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Deretan Bencana di Awal Tahun</h3>
<p>Januari baru berlangsung 20 hari ketika tulisan ini disusun. Walaupun begitu, jumlah bencana yang terjadi di Indonesia sudah begitu banyak.</p>
<p>Kita dihebohkan dengan kejadian <strong>jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</strong> di dekat Kepulauan Seribu, Jakarta. Duka merundung negeri atas kejadian yang mengerikan tersebut.</p>
<p>Belum pulih dari kejadian tersebut, Indonesia diberondong berbagai bencana di berbagai daerah.<strong> Gempa bumi</strong> di Sulawesi Barat,<strong> banjir bandang</strong> di Kalimantan Selatan, <strong>erupsi gunung</strong> Sinabung dan Semeru.</p>
<p><strong>Banjir</strong> juga terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Aceh, Jember, Indramayu, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Tasikmalaya, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Jombang, Pulau Bawean, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sampang, Sidoarjo, dan Sulawesi Tenggara,</p>
<p>Itu belum semua. Masih ada <strong>longsor</strong> di Sumedang, Batam, Cianjur, Manado, Aceh. Ada <strong>gelombang tinggi</strong> di Manado dan Natuna. Sudah habis? Belum, masih ada daerah yang mengalami <strong>cuaca ekstrem</strong> seperti Cirebon, Natuna, Sumatera Utara, Aceh.</p>
<p><em>Astaghfirullah</em>&#8230;</p>
<h3>Melupakan Persahabatan dengan Alam</h3>
<p>Bencana alam yang bertubi-tubi menimpa Indonesia seolah menjadi pengingat, <strong>apakah selama ini kita sudah melupakan persahabatan dengan alam?</strong></p>
<p>Apakah bencana yang terjadi ini akibat kelalaian kita sebagai manusia yang tidak bisa menjaga kelestarian alam? Apakah ini hukuman dari Tuhan karena kita begitu serakah mengambil sumber daya alam?</p>
<p>Seandainya bencana merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, <strong>kenapa yang terkena dampaknya justru rakyat kecil yang tak memetik keuntungan dari pengerukan alam?</strong></p>
<p>Sumber daya terus diludeskan, pepohonan terus ditebangi. Rakyat kecil dapat apa dari itu semua? Mereka justru kehilangan harta benda, keluarga, tempat tinggal.</p>
<p>Sementara para pengusaha yang menikmati hasil perusakan alam mungkin sedang duduk di rumah mewahnya dengan segelas wine di tangan, sembari membaca laporan keuntungan yang terus meroket.</p>
<p>Jelas itu merupakan misteri Ilahi kenapa ketidakadilan bisa terjadi seperti itu. Kapasitas kita sebagai manusia tak akan mampu menjangkaunya.</p>
<p>Berbagai bencana yang melanda tanah air bisa kita jadikan pengingat, kalau alam bisa menjadi demikian mengerikan apabila kita merusaknya.</p>
<p>Jika alam sudah mengamuk, kita sebagai manusia seolah tak berdaya menghadapinya. Lantas, mengapa kita begitu angkuh hidup di dunia ini?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lirik lagu <em><strong>Berita Kepada Kawan</strong> </em>yang dinyanyikan oleh<strong> Ebiet G. Ade</strong> sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, terutama lirik yang terdapat pada awal tulisan.</p>
<p>Beberapa bencana memang murni terjadi karena kejadian alam, tapi sebagian lainnya <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">terjadi karena ulah manusia sendiri</a>.</p>
<p>Penulis berdoa agar semua korban bencana alam di tanah air bisa tabah melewati ujian ini. Jika ada korban jiwa, semoga mereka diampuni dosanya dan diterima di sisi-Nya.</p>
<p>Semoga sederet bencana di awal tahun ini bukan pertanda kalau tahun ini akan sama atau lebih kelabu dari tahun kemarin.</p>
<p>Semoga saja sederet bencana ini bisa menjadi pengingat kita yang masih diberi keselamatan untuk terus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.</p>
<p>Semoga saja sederet bencana ini juga bisa menjadi pengingat kita untuk terus bersahabat dengan alam dengan menjaga kelestariannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 Januari 2021, terinspirasi dari komik buatan Mice Cartoon</p>
<p>Foto: <a href="https://koran.tempo.co/read/nasional/461640/10-daerah-di-kalsel-dilanda-banjir?">Tempo</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<p><a href="https://www.instagram.com/p/CKLYpkWlelj/">@micecartoon.co.id • Instagram photos and videos</a></p>
<p><a href="https://tirto.id/daftar-bencana-alam-januari-2021-gempa-banjir-gunung-meletus-f9lW">Daftar Bencana Alam Januari 2021: Gempa, Banjir, Gunung Meletus &#8211; Tirto.ID</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Normal?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/new-normal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/new-normal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 02:21:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[gimmick]]></category>
		<category><![CDATA[herd immunity]]></category>
		<category><![CDATA[New Normal]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[seleksi alam]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3895</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak yang menduga (bahkan menuduh) kalau pemerintah sudah mulai angkat tangan dalam menghadapi pandemi Corona yang sedang kita hadapi. Bukti terbarunya adalah anjuran new normal yang sedang digalakkan secara masif, mulai dari inspeksi presiden ke mall, pengerahan TNI dan Polri sebagai pengawal, hingga bisingnya BuzzeRp. Penulis hanya sekilas membaca mengenai definisi new normal yang dimaksudkan oleh pemerintah. Yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/new-normal/">New Normal?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang menduga (bahkan menuduh) kalau pemerintah sudah mulai angkat tangan dalam menghadapi pandemi Corona yang sedang kita hadapi.</p>
<p>Bukti terbarunya adalah anjuran <em><strong>new normal </strong></em>yang sedang digalakkan secara masif, mulai dari inspeksi presiden ke mall, pengerahan TNI dan Polri sebagai pengawal, hingga bisingnya <em>BuzzeRp.</em></p>
<p>Penulis hanya sekilas membaca mengenai definisi <em>new normal </em>yang dimaksudkan oleh pemerintah. Yang jelas, ada beberapa tahapan yang akan dijalankan selama beberapa bulan ke depan.</p>
<p>Apakah ini akan kembali menjadi sekadar <em>gimmick</em>?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kehidupan yang sedang kita jalani sekarang ini bisa dianggap sebagai tidak normal alias <em>abnormal</em>. Kerja dari rumah, tidak bisa bebas berpergian, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">lebaran tidak pulang</a>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Artinya, kehidupan sebelum Corona datang adalah sesuatu yang dianggap normal. <em>New normal</em> artinya kehidupan yang sedang kita jalani ini akan segera dianggap sebagai sesuatu yang normal.</p>
<p>Jangan heran kalau setiap berangkat ke kantor menggunakan masker, menggunakan <em>hand sanitizer </em>ketika akan masuk ke dalam kantor, dan menjaga jarak dengan kolega.</p>
<p>Masalahnya, banyak masyarakat dari berbagai lapisan yang skeptis mengenai kebijakan ini karena angka penderita dan korban Corona masih terbilang tinggi.</p>
<p>Banyak yang khawatir kalau gelombang kedua akan muncul setelah penerapan <em>new normal </em>ini. Apalagi, lebaran kemarin masih banyak yang melakukan mudik meski sudah ada larangan.</p>
<p>Selain itu, rasanya ada banyak sekali persyaratan <em>new normal </em>yang kurang diperhatikan seperti ketersediaan tenaga medis, kurva yang telah melandai, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Salah satu dalih atau tujuan dari penerapan <em>new normal </em>adalah <em><strong>herd immunity</strong> </em>atau suatu kelompok populasi kebal yang terhadap infeksi virus. Yang kuat yang bertahan, seleksi alam ala Darwin.</p>
<p>Istilah ini juga disebutkan oleh salah satu stafsus milenial melalui Twitter. Katanya, seleksi alam yang dikendalikan. Responnya? Sudah bisa ditebak, banyak yang menyerangnya secara tajam.</p>
<p>Jika memang menggunakan sistem seleksi alam, siapa yang akan bertahan? <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Orang-orang yang berlimpah <em>privilege</em>?</a> Bagaimana dengan mereka yang berjarak dari segala fasilitas kesehatan?</p>
<p>Maka dari itu, jika ada berita pemain sepakbola atau artis yang terkena virus, Penulis tidak akan terlalu peduli. Bukan karena tidak ada empati, tapi karena yakin mereka punya uang untuk mendapatkan perawatan terbaik.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan masyarakat yang ada di lapisan bawah? Ketika Corona saja mereka terpaksa tetap beraktivitas agar bisa makan, gimana mau punya dana untuk berobat?</p>
<p>Menurut Penulis pribadi, menggunakan <em>herd immunity </em>kurang tepat. Kita tidak pernah tahu siapa yang imunnya kuat dan siapa yang kurang kuat (dan siapa yang punya dana lebih untuk berobat), sehingga unsur <em>gambling </em>sangat terasa di sini.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis bukan bagian dari stafsus milenial, sehingga tidak tahu persis apa tujuan pemerintah begitu semangat menyuarakan <em>new normal </em>ini.</p>
<p>Ingin membangkitkan ekonomi yang sedang lesu? Merasa optimis kita bisa hidup &#8220;berdampingan&#8221; dengan Corona? Sebagai pengalih karena ketidakmampuannya mengatasi pandemi?</p>
<p>Penulis serahkan jawabannya ke para pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Mei 2020, terinspirasi dari hebohnya berita seputar <em>New Normal</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/10/uneasy-calm-descends-on-empty-jakarta-as-capital-makes-it-through-first-day-of-social-restrictions.html">The Jakarta Post</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/new-normal/">New Normal?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/new-normal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebaran Tanpa Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 19:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[silahturami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan. Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis. Kondisi yang Penulis alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk <strong>pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga</strong>. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan.</p>
<p>Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis.</p>
<p>Kondisi yang Penulis alami setidaknya lebih ringan dibandingkan teman-teman Penulis yang lain. Ada yang sendirian di kos, ada yang harus lebaran di negara lain, ada yang sudah sering lebaran tidak pulang, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis berusaha mencari hikmah di balik lebaran yang <em>extraordinary </em>pada tahun ini. Tidak mungkin Tuhan membuat skenario kehidupan tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<p>Bulan puasa kemarin Penulis akui kalau kualitas ibadahnya sangat kurang karena beberapa alasan. Semoga setelah lebaran ini, Penulis bisa memperbaiki hal tersebut.</p>
<p>Penulis juga merasakan <strong>betapa berharganya waktu ketika berkumpul dengan keluarga</strong>. Memang kita masih bisa saling sapa melalui <em>video call</em>, namun sensasinya tentu sangat berbeda.</p>
<p>Kita juga tetap bisa menjalin silahturami dengan kerabat atau teman-teman menggunakan berbagai media komunikasi seperti WhatsApp dan lainnya. Saling memaafkan dan memulai semuanya dari nol lagi kalau bisa.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa begitu jengkel (dan mungkin iri) terhadap <a href="https://whathefan.com/politik/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">orang-orang yang bisa pulang hingga memenuhi bandara</a> atau cara-cara lainnya.</p>
<p>Padahal sudah dianjurkan untuk tidak mudik agar tidak menulari keluarga yang ada di kampung. Begini lah jadinya jika memiliki pemimpin yang tidak bisa tegas dalam mengatur rakyatnya.</p>
<p>Daripada terus mengeluh, Penulis memilih untuk berusaha menerimanya dengan ikhlas. Berat? Banget. Tapi pasti bisa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pada tulisan kali ini, Penulis juga ingin mengucapkan <strong><em>minal aidzin wal faizin</em>, mohon maaf lahir dan batin</strong>. Semoga kita semua bisa memetik hikmah di balik lebaran yang luar biasa tahun ini.</p>
<p>Penulis sendiri secara pribadi berharap bisa pulang ketika situasinya memungkinkan. Tidak dalam waktu dekat tidak apa-apa, yang penting bisa pulang.</p>
<p>Selain itu, dengan selesainya bulan puasa Ramadhan, Penulis berharap bisa mengatur ulang pola hidup dan tidurnya yang sangat berantakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Mei 2020, terinspirasi karena dirinya tidak bisa pulang lebaran untuk pertama kalinya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2020 23:42:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[frustasi]]></category>
		<category><![CDATA[kompak]]></category>
		<category><![CDATA[lockdown]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[PSBB]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3855</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan adanya virus Corona ini, hampir semua pemerintahan yang ada di dunia dibuat pusing. Penyebarannya yang teramat cepat membuatnya begitu diwaspadai. Cara mengatasinya pun bermacam-macam. Ada yang sangat ketat seperti Selandia Baru dan Hong Kong, ada yang woles seperti Italia dan Amerika Serikat. Hasilnya? Bisa dilihat dari presentase jumlah penderita di negara-negara tersebut. Bagaimana dengan negara kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan adanya virus Corona ini, hampir semua pemerintahan yang ada di dunia dibuat pusing. Penyebarannya yang teramat cepat membuatnya begitu diwaspadai.</p>
<p>Cara mengatasinya pun bermacam-macam. Ada yang sangat ketat seperti Selandia Baru dan Hong Kong, ada yang <em>woles </em>seperti Italia dan Amerika Serikat. Hasilnya? Bisa dilihat dari presentase jumlah penderita di negara-negara tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan negara kita tercinta? Penulis bisa mengatakan kalau <strong>pemerintah dan rakyatnya sangat kompak</strong>. Sayang, kekompakan yang dimiliki cenderung negatif.</p>
<h3>Kebijakan-Kebijakan Blunder Pemerintah</h3>
<p><div id="attachment_3856" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3856" class="size-large wp-image-3856" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3856" class="wp-caption-text">Blunder Pemerintah? (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=http%3A%2F%2Fpolitiktoday.com%2Fpan-mahfud-md-sedang-tunjukkan-loyalitas-ke-jokowi%2F&amp;psig=AOvVaw3DGPyEvgZLMMsRlybKopJr&amp;ust=1589758533071000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCOjStK7GuekCFQAAAAAdAAAAABAD" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOjStK7GuekCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Politik Today"><span class="pM4Snf">Politik Today</span></a>)</p></div></p>
<p>Pemerintah, terutama pusat, sedang disorot habis-habisan berkat <strong>kebijakan-kebijakan blunder</strong> yang dibuat demi mencegah penyebaran virus Corona ini.</p>
<p>Dari awal tahun, pemerintah selalu melakukan <em>denial </em>kalau virus Corona sudah masuk ke Indonesia. Muncul berbagai pernyataan yang ingin menunjukkan kalau rakyat kita kebal.</p>
<p>Pada akhirnya, kasus pertama pun muncul dan terus bertambah hingga hari ini. Kurangnya persiapan membuat pemerintah terlihat sedikit kelimpungan, baik pusat maupun daerah.</p>
<p>Banyak yang menyerukan untuk melakukan karantina wilayan alias <em>lockdown</em>. Nyatanya, pemerintah memilih untuk menerapkan <em>Pembatasan Sosial Berskala Besar </em>(PSBB) yang lebih longgar.</p>
<p>Beberapa pihak menuding kalau <strong>pemerintah lari dari tanggung jawab karena tidak mau menanggung biaya hidup rakyatnya</strong> sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang. Padahal, katanya kita punya banyak uang.</p>
<p>Selain itu, rakyat juga kerap dibuat bingung dengan perbedaan pernyataan yang dikeluarkan oleh elit politik. Ada yang bilang boleh mudik, ada yang enggak, ada yang bilang mudik dan pulang kampung beda, macam-macam.</p>
<p>Hal ini makin diperparah dengan <em>gimmick </em>tak penting yang kerap dibuat oleh beberapa orang di lingkar istana. Padahal, mereka bukan <em>host </em>acara Tonight Show.</p>
<p>Belum lagi kebijakan pemerintah yang makin membebani rakyat seperti kenaikan iuran BPJS. Sudah dalam kondisi susah, makin dibuat susah.</p>
<p>Yang jelas, banyak yang mempertanyakan kehadiran pemerintah di saat pandemi seperti ini. Menyediakan fasilitas, mendatangkan alat tes, itu semua merupakan kewajiban. Rakyat berharap pemerintah mampu berbuat lebih dari ini.</p>
<h3>Masyarakat Egois</h3>
<p><div id="attachment_3857" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3857" class="size-large wp-image-3857" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Satu Kata: TOLOL (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://antarkabarid.wordpress.com/2020/05/12/menyoal-kerumunan-massa-saat-penutupan-mcd-sarinah/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAQQjB1qFwoTCIjB6tnGuekCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Antarkabar - WordPress.com"><span class="pM4Snf">Antarkabar &#8211; WordPress.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Efeknya PSBB memang terasa di awal. Contohnya di Jakarta yang tiap harinya selalu padat bisa terlihat lengang. Polusi yang biasanya berasal dari gas pembuangan kendaraan bermotor <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">juga mulai berkurang</a>.</p>
<p>Hanya saja, makin ke sini makin banyak yang tidak mengindahkan peraturan tersebut. Angka yang diumumkan oleh pemerintah tiap harinya seolah <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">hanya tinggal statistik semata</a>.</p>
<p>Contoh paling tololnya adalah<strong> kerumunan orang yang berkumpul di depan McDonalds Sarinah</strong>. Hanya demi konten, mereka melanggar PSBB dan berkumpul dengan jumlah orang yang banyak.</p>
<p>Pertanyaannya, ke mana aparat yang seharusnya menertibkan keramaian seperti ini? Apakah karena PSBB mereka jadi ragu untuk mendekat ke kerumunan?</p>
<p>Penulis benar-benar tidak habis pikir bagaimana orang-orang yang berkumpul di sana bisa bertindak egois dengan berkumpul seperti itu. Orang yang meninggal aja ada prosedur pemakaman yang ketat, pihak keluarga tidak boleh terlalu dekat.</p>
<p>Masih belum habis kesalnya, beberapa hari yang lalu<strong> beredar foto ramainya Bandara Sukarno-Hatta!</strong> Penulis yang rela menjalani lebaran pertama tanpa berkumpul dengan keluarga pun merasa heran, kok bisa?</p>
<p>Orang-orang bisa pergi karena pemerintah memang melonggarkan aturan yang dibuat sendiri. Akhirnya, hal tersebut dilihat sebagai peluang untuk keluar dari Jakarta, tak peduli hal tersebut akan memperparah penyebaran virus Corona.</p>
<p>Bahkan ada orang yang melihat hal ini sebagai peluang bisnis dengan <strong>menjual surat pernyataan bebas Corona seharga Rp70.ooo!</strong> <strong>INI ORANG-ORANG PADA KENAPA DAH!!!</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Pemerintah dan rakyatnya sangat kompak dalam mengatasi dan mencegah virus Corona ini, kompak membuatnya langgeng dengan berbagai tindakan yang dilakukan.</p>
<p>Jujur, Penulis merasa frustasi melihat keadaan sekarang. Penulis merasa pengorbanan kecil Penulis untuk bertahan di kos dan tidak pulang menjadi sia-sia.</p>
<p>Kalau sampai seperti ini terus, rasanya <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Corona tak akan berakhir dalam waktu dekat</a> dan Penulis akan terus terjebak di Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Mei 2020, terinspirasi dari rasa frustasi yang muncul melihat situasi sekarang</p>
<p>Foto: <a href="https://voi.id/artikel/baca/5906/kekesalan-warganet-soal-membludaknya-bandara-soekarno-hatta-yang-langgar-psbb">Voi.id</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 05:46:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[isolasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[normal]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3811</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi. Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu. Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi.</p>
<p>Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu.</p>
<p>Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari muka bumi. Hanya Tuhan yang tahu. Para ahli hanya bisa membuat perkiraan-perkiraan berdasarkan bukti empiris.</p>
<p>Pertanyaannya, <strong><em>bagaimana seandainya semua ini tak akan berakhir?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apa yang mengerikan dari Corona ini adalah <strong>penyebarannya yang begitu mudah</strong>. Jika kita memiliki imunitas tubuh yang kuat, kemungkinan besar kita bisa sembuh sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai pemerintah dunia adalah <em><strong>lockdown</strong> </em>atau kalau di Indonesia disebut sebagai <strong>PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)</strong>.</p>
<p>Intinya, interaksi fiksi manusia harus benar-benar dibatasi. <strong><em>Social distancing</em></strong>. Kita harus jaga jarak satu sama lain untuk meminimalisir potensi menularkan dan ketularan virus.</p>
<p>Ketika angka Corona tiap hari makin bertambah secara signifikan, kesadaran untuk tinggal di rumah menjadi begitu tinggi. Setidaknya, itu yang terlihat di negara kita.</p>
<p>Hanya saja dari yang Penulis amati,<strong> makin ke sini angka-angka yang tiap sore diumumkan oleh pemerintah hanya tinggal statistik semata</strong>. Masyarakat sudah mulai berani beraktivitas seperti biasa, meskipun masih menggunakan masker dan lain sebagainya.</p>
<p>Fakta inilah yang membuat Penulis khawatir kalau Corona tidak akan berakhir, setidaknya dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dari beberapa berita yang Penulis baca, <strong>kurva penderita mulai melandai</strong>. Jumlah yang terinfeksi tiap harinya, setidaknya di Jakarta, mulai berkurang secara bertahap.</p>
<p>Di satu sisi, ini merupakan berita baik. Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi terbukti efektif. Kita bisa menekan penularan dengam pembatasan ketat.</p>
<p>Di sisi lain, ini juga bisa menjadi berita buruk. Kita bisa saja jadi meremehkan penyebaran Corona dan mulai pergi ke tempat yang ramai.</p>
<p>Penulis khawatir,<strong> kurva yang sudah landai ini akan kembali memuncak</strong> jika kita tidak bisa sabar dan menahan diri. Usaha yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi sia-sia.</p>
<p>Masalah ini semakin diperparah dengan<strong> berbagai kebijakan blunder dari pemerintah</strong> yang meresahkan masyarakat. Sudah tidak mendapatkan kepastian, dibuat bingung pula.</p>
<p>&#8220;Kekompakan&#8221; antara pemerintah dan masyarakatnya ini sangat berpotensi memperpanjang masa edar pandemi Corona di Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Penulis <strong>merasa bersyukur dengan keadaan yang sekarang</strong> meskipun tidak bisa pulang dan tidak tahu kapan bisa pulang.</p>
<p>Setidaknya, Penulis masih memiliki pekerjaan dengan gaji tetap tanpa pemotongan. Penulis masih ditemani adik sehingga stres bisa tereduksi. Penulis masih memiliki berbagai sarana hiburan untuk membunuh waktu.</p>
<p>Merasa lelah dan tertekan itu pasti. Manusiawi. Penulis biasa mengusirnya dengan <strong>mengingat orang lain yang keadaannya lebih susah</strong>, entah ini etis atau tidak.</p>
<p>Contohnya adalah teman Penulis yang sama-sama tidak bisa pulang, namun hanya sendirian di kos. Penulis juga mengingat banyaknya perusahaan yang harus merumahkan karyawannya sehingga banyak yang kehilangan sumber pendapatan.</p>
<p>Banyak orang yang ujiannya jauh lebih berat dari yang Penulis terima. jauh jauh lebih berat. Penulis tidak boleh terlalu banyak mengeluh.</p>
<p><strong>Memperbanyak rasa syukur</strong> dan berusaha <strong>sebisa mungkin untuk tidak stres</strong> wajib Penulis lakukan di masa-masa seperti ini. Terus menjalani kontak dengan orang melalui smartphone menjadi cara lainnya.</p>
<p>Hanya saja, <strong><em>mau sampai kapan seperti ini?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sudah melakukan <em>refund </em>tiket pesawat mudik karena yakin tidak akan bisa pulang ketika lebaran nanti. Untuk pertama kali, Penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga secara lengkap.</p>
<p>Penulis sejak beberapa minggu yang lalu sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal tersebut. Tidak apa-apa, pasti ada kesempatan lain untuk berkumpul kembali.</p>
<p><strong><em>Tapi kapan?</em></strong></p>
<p>Berdasarkan prediksi dan <em>feeling </em>Penulis, paling cepat bulan Agustus. Itupun kalau pemerintah dan masyarakat kita kompak mendisiplinkan diri agar Corona tidak semakin menyebar.</p>
<p>Jika tidak, bisa saja sampai akhir tahun Penulis harus bertahan di kos bersama adik. Belum dua bulan saja sudah begini rasanya, entah bagaimana jika harus hidup seperti ini hingga akhir tahun.</p>
<p>Kalau akhirnya Penulis bisa pulang, apakah Penulis bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman seperti biasa? Ataukah Penulis harus melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu?</p>
<p><strong>Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi selama beberapa bulan mendatang</strong>, menjadikannya tantangan tersendiri untuk kita semua.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>Bagaimana seandainya Corona tidak akan benar-benar lenyap untuk selamanya?</strong> Jelas tidak ada yang menginginkan hal tersebut. Kekacauan bisa terjadi di mana-mana.</p>
<p>Kehidupan tidak normal kita selama pandemi akan menjadi hal normal yang baru. Perputaran roda ekonomi akan mengalami pergeseran yang drastis dan masih banyak hal lain yang akan berubah.</p>
<p>Bisakah kita hidup berdampingan dengan Corona seperti kita hidup berdampingan dengan flu? Entahlah, Penulis bukan orang medis, tidak bisa berpendapat.</p>
<p>Penulis tidak bisa membayangkan lebih banyak lagi. Pertanyaan yang menjadi judul terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.</p>
<p>Semoga saja, kita semua bisa melewati badai ujian yang teramat besar ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 Mei 2020, terinspirasi dari pemikiran Penulis seperti biasanya, <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.theglobeandmail.com/life/article-how-to-survive-the-cocoon-of-self-isolation/">The Globe and Mail</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Kewarasan</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2020 23:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[waras]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisakah kita menjaga kewarasan? Di saat masa-masa sulit seperti ini Di saat kita tak bisa hidup dengan normal Di saat semuanya kacau balau Di saat pelan-pelan membusuk Di saat tekanan datang dari segala arah Bisakah kita menjaga kewarasan? Di saat kita terpisah jauh dari orang-orang tercinta Di saat merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/">Menjaga Kewarasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat masa-masa sulit seperti ini<br />
Di saat kita tak bisa hidup dengan normal<br />
Di saat semuanya kacau balau<br />
Di saat pelan-pelan membusuk<br />
Di saat tekanan datang dari segala arah</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat kita terpisah jauh dari orang-orang tercinta<br />
Di saat merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat apapun<br />
Di saat harus terkungkung seorang diri jauh dari mana pun<br />
Di saat hidup sendirian menjadi penderitaan paling menyiksa<br />
Di saat tak ada lagi yang peduli dengan keberadaan kita</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat ketidakpastian mengintai di mana-mana<br />
Di saat kepastian menjadi barang langka<br />
Di saat kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam waktu dekat<br />
Di saat semuanya serba kabur<br />
Di saat semuanya tertutup oleh pekatnya kabut</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat langkah begitu terbatas<br />
Di saat bergerak menjadi sebuah ketakutan<br />
Di saat kita mencurigai semua orang<br />
Di saat tak ada siapapun yang bisa dipercaya<br />
Di saat angka kematian hanya sekadar statistik</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat depresi datang mengintai<br />
Di saat kecemasan terus menghantui<br />
Di saat frustasi terus hinggap di pikiran<br />
Di saat tidur tak lagi bisa lelap<br />
Di saat bangun menjadi hal yang menakutkan</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat tertawa menjadi sesuatu yang sulit<br />
Di saat tangis tak lagi bisa mengalir<br />
Di saat jantung berdebar tak kauran<br />
Di saat teriak tak bisa didengar<br />
Di saat telinga menutup dirinya rapat-rapat</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat sepi menjadi satu-satunya pendamping<br />
Di saat bayangan paling setia pun pergi<br />
Di saat ketakutan mulai menguasai diri<br />
Di saat semua batas menjadi kabur<br />
Di saat kita tak lagi mengenal diri sendiri</p>
<p>Bisakah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 Mei 2020, terinspirasi dari musibah yang sedang menghampiri kita semua</p>
<p>Foto: <a href="https://www.greenscene.co.id/2019/05/02/the-killing-joke-cikal-bakal-kegilaan-joker-dalam-semesta-dc/">Greenscene</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/">Menjaga Kewarasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2020 22:21:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[donasi]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Militar]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sumbangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3788</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dampak dari Pandemi Corona ternyata sangat hebat. Selain jumlah korban yang selalu bertambah, ekonomi dunia pun terguncang dengan hebatnya. Indonesia menjadi salah satunya. Kita, yang awalnya terkesan meremehkan, ternyata jadi kelimpungan setengah mati. Semua kalangan terkena dampaknya, mulai dari pekerja harian hingga pengusaha. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa melakukan apapun sesuai dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/">Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dampak dari Pandemi Corona ternyata sangat hebat. Selain jumlah korban yang selalu bertambah, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">ekonomi dunia pun terguncang</a> dengan hebatnya. Indonesia menjadi salah satunya.</p>
<p>Kita, yang awalnya terkesan meremehkan, ternyata jadi kelimpungan setengah mati. Semua kalangan terkena dampaknya, mulai dari pekerja harian hingga pengusaha.</p>
<p>Lantas, apa yang bisa kita lakukan? <strong>Kita bisa melakukan apapun sesuai dengan kapasitas kita</strong>. Yang punya rezeki berlebih bisa menyumbang, yang bekerja di bidang medis menjadi garda terdepan, yang bisanya cuma rebahan ya enggak apa-apa walau agak keterlaluan.</p>
<p>Contohnya adalah <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna di tempat Penulis</a>. Mereka memiliki inisiatif untuk membentuk gerakan pengumpulan donasi yang nantinya disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan.</p>
<h3>Awal Mula Gerakan</h3>
<p>Ide ini datang dari salah satu anggota senior Karang Taruna. Usul ini disanggupi dan mereka sangat antusias untuk merealisasikannya. Maka, dibentuklah kepanitiaan kecil dengan seksi-seksinya yang dibutuhkan.</p>
<p>Penulis sendiri sekarang berposisi sebagai penasihat, sehingga hanya bisa memberikan masukan-masukan dari jauh. Yang jelas, Penulis merasa kalau niat baik ini harus didukung.</p>
<p>Omong-omong soal niat, gerakan ini tidak hanya sekadar mengumpulkan donasi dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan.</p>
<p>Gerakan ini juga memiliki tujuan <strong>menggerakkan milenial lain untuk melakukan sesuatu </strong>di tengah pandemi ini, bukan sekadar mengeluh bosan di rumah karena tidak bisa ke mana-mana.</p>
<p>Bukan berarti kami sok merasa paling hebat dan merendahkan milenial lain. Tidak seperti itu. Penulis yakin masih banyak milenial lain yang memiliki gerakan serupa, bahkan lebih hebat lagi.</p>
<p>Kami hanya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu sesama di tengah pandemi ini.</p>
<h3>Eksekusi</h3>
<p><div id="attachment_3792" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3792" class="wp-image-3792 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3792" class="wp-caption-text">Survei Langsung (<a href="https://www.instagram.com/phill_tc/">Phillip TC</a>)</p></div></p>
<p>Setelah kepanitiaan terbentuk, mulailah mereka membuat susunan acara agar bisa segera dilaksanakan. Rapat dilakukan secara virtual (menggunakan Google Meet karena isu negatif yang didapat Zoom) untuk mengurangi kontak fisik.</p>
<p>Nama gerakan atau kegiatannya sendiri adalah <strong>Milenial Peduli Sekitar </strong>atau disingkat <strong>MILITAR</strong>. Nama ini Penulis sarankan dan diterima oleh peserta rapat.</p>
<p>Pengumpulan donasi sendiri dimulai pada tanggal <strong>25 April hingga 2 Mei</strong>. Rencananya, donasi (berupa uang) akan dibelikan beras dan minyak dan diberikan pada tanggal <strong>3 Mei</strong>.</p>
<p>Untuk menyebarkan informasi seputar acara ini, mereka memanfaatkan media sosial dengan membuat poster. Selain itu, warga di perumahan juga diberi edaran.</p>
<p>Kepada siapa bantuan akan diberikan? Kepada <strong>golongan-golongan kurang mampu di sekitar lingkungan</strong> yang selama ini menggantungkan diri ke penghasilan harian.</p>
<p>Mereka juga mulai melakukan survei untuk mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan. Penulis merasa tersentuh dengan usaha yang sudah mereka lakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika menjadi ketua Karang Taruna, Penulis sempat mencanangkan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/laporan-pertanggungjawaban-karang-taruna/">program kerja Bakti Sosial</a>. Sampai masa jabatannya berakhir, program kerja tersebut tidak pernah terlaksana dengan berbagai alasan.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa sangat senang pada akhirnya program kerja ini bisa terlaksana. Momen Corona dimanfaatkan untuk mengetuk rasa kemanusiaan generasi milenial yang kerap dianggap apatis.</p>
<p>Semoga ke depannya makin banyak generasi milenial yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, bukan hanya kepada dirinya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Bagi pembaca yang ingin mengirimkan donasi, bisa melalui rekening BCA dengan nomor <strong>3160077793</strong> an <strong>Hersandi Hamdan</strong> atau menghubungi <em>contact person </em>di <strong>0819 1680 8916</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 April 2020, terinspirasi dari gerakan kemanusiaan yang sedang dilakukan oleh Karang Taruna</p>
<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/phill_tc/">Phillip TC</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/">Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
