<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>diri sendiri Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/diri-sendiri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/diri-sendiri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2022 01:24:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>diri sendiri Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/diri-sendiri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 01:21:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6125</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari Desi Anwar yang berjudul The Art of Solitude. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga. Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari <strong>Desi Anwar</strong> yang berjudul <em><strong>The Art of Solitude</strong></em>. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga.</p>



<p>Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul <em><strong>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</strong>.</em> Setelah ditimbang-timbang, Penulis pun memutuskan untuk membeli yang bahasa Indonesia saja.</p>



<p>Sama seperti buku-buku Desi Anwar yang lain seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, buku ini juga cukup tipis sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Bedanya, buku yang satu ini akan berisi pemikiran Desi selama masa pandemi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</em></li><li>Penulis: Desi Anwar</li><li>Penerbit: Penerbit Gramedia</li><li>Cetakan: Ketiga</li><li>Tanggal Terbit: September 2021</li><li>Tebal: 221 halaman</li><li>ISBN: 9786020648330</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam pendahuluannya, Desi telah menyebutkan kalau buku ini terinspirasi di masa-masa ketika kita harus menjalani <em>lockdown</em>, karantina mandiri, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">PPKM</a>, dan lain sebagainya. Interaksi antarmanusia benar-benar dibatasi karena adanya virus COVID-19.</p>



<p>Dengan begitu, banyak pemikirannya di buku ini yang mengambil sudut pandang ketika kita dipaksa sendirian oleh keadaan. Apa yang ada di pikiran kita di masa-masa ini? Apa yang bisa dipelajari dengan situasi yang ada?</p>



<p>Dari banyaknya tulisan yang ada di buku ini, kebanyakan akan berfokus pada bagaimana pandemi kemarin akan membuat kita memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Selama ini, mungkin saja kita sering mengabaikannya karena berbagai kesibukan kita.</p>



<p>Pandemi kemarin juga mengajak kita untuk lebih mengenal diri sendiri, entah itu dari melamun, merenung, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">menikmati kebosanan</a>, dan lain sebagainya. Jika mau lihat &#8220;<em>silver lining</em>&#8221; dari pandemi kemarin, mungkin itu adalah salah satunya.</p>



<p>Seperti buku-buku Desi lainnya, setiap bab di buku ini juga hanya terdiri dari 4-5 halaman saja. Ada sekitar 40 topik yang bisa dibaca. Sayangnya, karena Penulis sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, Penulis lupa mana yang jadi favoritnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</h2>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert </em>dan suka menyendiri, buku ini cukup <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Memang tidak semua topiknya seperti itu, tetapi buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca di kala senggang. </p>



<p>Penulis juga mengalami sendiri bagaimana masa pandemi kemarin membawa Penulis untuk mengenal dirinya sendiri. Karena tidak bisa ke mana-mana (walau pada dasarnya Penulis jarang keluar), Penulis jadi lebih sering merenung saat tidak ada aktivitas.</p>



<p>Topik yang dibawakan oleh Desi Anwar di buku ini juga cukup luas. Tidak hanya ajakan untuk memanfaatkan kesendirian di saat pandemi untuk lebih mengenal diri sendiri, ada juga topik yang serius seperti kematian dan masa depan manusia.</p>



<p>Beberapa topik juga terkesan bertele-tele dan terlalu diulur-ulur seolah itu dilakukan demi menambah jumlah halaman agar buku ini tidak terlalu tipis. Itu membuat buku ini terasa agak membosankan. Penulis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menamatkannya.</p>



<p>Namun, <em>overall</em>, buku ini masih oke untuk dibaca, terutama untuk orang-orang yang ingin lebih mengenal diri sendiri. Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, cobalah cari waktu untuk diri sendiri agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 November 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2021 13:19:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5086</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!” Sujiwo Tejo Penulis hampir membaca semua buku karya Sujiwo Tejo. Bisa dibilang, quote yang berasal dari buku Talijiwo di atas merupakan favorit Penulis. Ketika kita cinta atau sayang seseorang, secara umum kita akan berharap kalau yang dicintai bisa selalu bahagia. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-pullquote"><blockquote><p><em>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”</em></p><cite>Sujiwo Tejo</cite></blockquote></figure>



<p>Penulis hampir membaca semua buku karya Sujiwo Tejo. Bisa dibilang, <em>quote </em>yang berasal dari buku <em>Talijiwo </em>di atas merupakan favorit Penulis.</p>



<p>Ketika kita cinta atau sayang seseorang, secara umum kita akan berharap kalau yang dicintai bisa selalu bahagia. Kalau bisa, kita yang menjadi sumber kebahagiaannya.</p>



<p>Kalau kita sudah menyayangi seseorang, seolah kita mau dan bersedia untuk melakukan apa yang ia minta. Tak jarang kita membelikan sesuatu untuk menyenangkan hatinya.</p>



<p>Pertanyaannya, jika ia meminta <strong>kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebahagiaannya</strong>, apakah kita rela untuk melakukannya?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Diminta Mengorbankan Kebahagiaan Sendiri</h2>



<p>Logikanya, jika orang tersebut benar-benar menyayangi kita, apakah mereka akan meminta kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebagiannya sendiri? Jawabannya mungkin tidak.</p>



<p>Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat ia &#8220;terpaksa&#8221; meminta hal tersebut demi berbagai alasan. Salah satunya adalah demi kebaikan bersama.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 1: Berpisah karena Sering Bertengkar</h3>



<p>Anggap saja ada situasi seperti ini. Kita baru saja bertengkar hebat dengan pasangan karena permasalahan yang sebenarnya sudah sering terjadi, tapi terus berulang. </p>



<p>Menurutnya, perpisahan adalah pilihan terbaik karena seringnya pertengkaran yang terjadi menunjukkan kalau kita tidak cocok untuk menjalin hubungan.</p>



<p>Mau kita berargumentasi seperti apapun, ia tetap bersikukuh dengan keputusannya. Mau tidak mau, kita pun mengorbankan perasaan kita yang sebenarnya masih memiliki rasa kepadanya.</p>



<p>Dalam kondisi seperti ini, kemungkinannya adalah masing-masing harus saling mengorbankan kebahagiannya. Sebenarnya masih ingin bersama, tetapi rasanya perpisahan menjadi jalan keluar satu-satunya demi kebaikan masing-masing.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 2: Dia Sudah Tidak Kuat dengan Keburukan Kita</h3>



<p>Contoh lain, pasangan kita merasa sudah capek dengan sikap buruk kita. Mau kita berjanji seperti apapun, ia tidak memberikan kesempatan kedua untuk membuktikkan kalau kita bisa berubah.</p>



<p>Bisa juga ia sudah memberikan beberapa kesempatan agar kita mengubah sikap. Sayangnya, kita tetap saja melakukan kesalahan yang sama hingga membuat ia muak dan risih.</p>



<p>Padahal, kita merasa bahagia karena memiliki hubungan dengannya. Sayangnya, ia merasa tidak bahagia jika kita ada di dekatnya. Ia baru bisa merasa bahagia jika kita menjauh darinya karena menurutnya kita memiliki sifat-sifat yang buruk. </p>



<p>Dalam kasus seperti ini, kita jauh lebih dituntut untuk mengorbankan kebahagiaan kita sendiri dibandingkan contoh kasus yang pertama.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 3: Pasangan <em>Toxic </em>yang Semaunya Sendiri</h3>



<p>Ada lagi yang lebih buruk. Misal kita sudah begitu <em>bucin </em>kepada seseorang yang begitu <em>demanding</em>, bisa dipastikan kita akan selalu diminta untuk mengorbankan banyak hal.</p>



<p>Ia sering meminta dibelikan sesuatu, melarang kita kumpul bersama teman, menuntut kita menjadi ini itu. Ia ingin diperlakukan sebagai orang yang paling istimewa dalam hidup kita.</p>



<p>Kalau sudah demikian, itu sudah bukan hubungan yang sehat, melainkan <em>toxic </em>sehingga sebaiknya diakhiri saja. Pengorbanan kita tidak sebanding dengan yang kita dapatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masih ada banyak contoh lain tentang pengorbanan kebahagiaan kita demi kebahagiaan orang yang kita sayang. Hanya saja, tiga contoh di atas rasanya sudah cukup.</p>



<p>Idealnya jika ada dua orang saling menyayangi, mereka tidak akan meminta orang yang disayangi untuk mengorbankan kebahagiannya. Pasti kita ingin saling membahagiakan.</p>



<p>Sayangnya, terkadang ada keadaan atau kondisi yang membuat hal tersebut harus terjadi. Konflik yang terjadi mungkin sudah terlalu pelik sehingga harus ada yang berkorban atau pedihnya saling berkorban demi kebaikan bersama.</p>



<p>Bisakah kita berkorban tanpa perlu merasa berkorban? Mungkin bisa, tapi rasanya begitu berat untuk bisa seperti itu. Manusia pada dasarnya memiliki ego yang cukup besar, sehingga perasaan berkorban pasti ada jika dipaksa melakukan sesuatu.</p>



<p>Cinta memang tidak membutuhkan perasaan berkorban. Jika datang masanya ketika kita mulai merasa berkorban, mungkin perasaan cinta tersebut sudah mulai pudar seperti kata Sujiwo Tejo.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi dari kamu</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jeremybishop">Jeremy Bishop</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lelah dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2021 13:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[capek]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5047</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks. Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya. Salah satu lelah yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.</p>



<p>Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang <em>toxic</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah <strong>lelah dengan diri sendiri</strong>.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri <strong>memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi</strong>.</p>



<p>Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.</p>



<p>Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.</p>



<p>Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat <em>overthinking </em>yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun <em>overthinking </em>terhadap <em>overthinking</em>-nya.</p>



<p>Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.</p>



<p>Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film <em>Thor: The Dark World</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>&#8220;Always so perceptive about everyone but yourself.&#8221;</em></p><cite>Frigga , Queen of Asgard</cite></blockquote>



<p>Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.</p>



<p>Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, <em>insecure </em>dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah<strong> kondisi mental yang butuh diobati</strong>. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.</p>



<p>Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">menepi sejenak</a> agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.</p>



<p>Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain. </p>



<p>Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.</p>



<p>Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@anniespratt">Annie Spratt</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br>&#8211; <a href="https://www.sehatq.com/forum/lelah-dengan-sifat-pada-diri-sendiri-q10914">Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.idntimes.com/life/career/astrimeita185atgmailcom/5-tanda-kalau-dirimu-mulai-lelah-c1c2/1">5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.popmama.com/life/health/jemima/tanda-lelah-hati-yang-berdampak-pada-kesehatan-mental/5">5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikit-Dikit Insecure</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2020 06:07:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4121</guid>

					<description><![CDATA[<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya insecure. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya. Ada temen yang pintar, insecure. Ada artis yang pamer mobil baru, insecure. Ada orang yang jago banyak bahasa, insecure. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, insecure. Hal ini semakin diperparah dengan adanya media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya <strong><em>insecure</em></strong>. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya.</p>



<p>Ada temen yang pintar, <em>insecure</em>. Ada artis yang pamer mobil baru, <em>insecure</em>. Ada orang yang jago banyak bahasa, <em>insecure</em>. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, <em>insecure</em>.</p>



<p>Hal ini semakin diperparah dengan adanya media sosial. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pengguna hanya memperlihatkan sisi senangnya saja di berbagai platform.</p>



<p>Merasa <em>insecure</em> itu wajar. Tapi jika berlebihan, akan merugikan diri kita sendiri.</p>
<h3>Mengabaikan Rasa Syukur</h3>
<p><em>Insecure</em> dalam Oxford Dictionary memiliki makna:</p>
<blockquote>
<p><em>not confident about yourself or your relationships with other people</em></p>
</blockquote>
<p>Perasaan tidak nyaman atau percaya diri sendiri ini kerap terjadi ketika kita <strong>membandingkan diri kita dengan orang lain</strong> yang dianggap lebih berhasil atau sukses.</p>
<p>Kita jadi berpikir, <em>kok aku enggak bisa kayak dia ya. </em>Padahal, masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Rasanya hampir mustahil ada orang yang isinya hanya kekurangan saja.</p>
<p>Perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan juga akan membuat kita <strong>mengabaikan rasa syukur</strong>. Kita terlalu berfokus dengan apa yang tidak kita punyai dan melupakan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Dari buku-buku seputar <em>self-care</em> yang telah dibaca, Penulis menemukan banyak sekali kisah orang-orang yang hidupnya jauh lebih sengsara.</p>
<p>Hal ini semakin diperkuat ketika Penulis membaca sejarah-sejarah dunia yang kisahnya kerap memilukan hati.</p>
<p>Penulis harusnya bersyukur tidak perlu menjadi tawanan perang, tidak tahu siapa orangtua kandungnya, mengalami trauma yang begitu berat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Itu saja sudah cukup untuk dijadikan bahan syukur kita agar tidak mudah merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Memanfaatkan Rasa <em>Insecure</em></h3>
<p>Seharusnya, rasa insecure bisa dijadikan bahan untuk <strong>memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi</strong>. <em>Insecure </em>akan menjadi percuma jika kita hanya mendiamkannya saja.</p>
<p>Melihat teman yang lebih pintar, kita jadi semangat belajar. Percuma merasa <em>insecure</em> tapi kitanya malah memilih rebahan sambil main HP.</p>
<p>Melihat rekan kerja membeli smartphone baru, kita jadi semangat untuk mengatur keuangan lebih baik lagi atau mencari penghasilan sampingan. Jangan cuma dijadikan sebagai bahan rasan-rasan.</p>
<p>Seperti yang pernah Penulis singgung di beberapa tulisan sebelumnya, <strong>semua kejadian yang ada di dunia ini adalah netral</strong>. Persepsi kita yang menentukan hal tersebut baik atau buruk.</p>
<p>Melihat kesuksesan atau kemampuan orang lain yang di atas kita bisa dilihat sebagai hal yang baik dengan menjadikannya motivasi. Menjadi buruk apabila membuat kita terpuruk.</p>
<h3>Menghilangkan (atau Minimal Mengurangi) <em>Insecure</em></h3>
<p>Jika perasaan <em>insecure</em> susah dihilangkan, coba untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/"><strong>puasa media sosial</strong></a> semampunya. Selama itu, coba untuk lebih banyak melihat ke diri sendiri.</p>
<p>Latih <em>self-awareness</em> melalui berbagai sumber. Ada banyak video di YouTube ataupun aplikasi yang akan membantu kita mengenali diri sendiri.</p>
<p><strong>Perbanyak rasa syukur</strong> juga sangat membantu. Coba ingat apa saja yang selama ini kita lupakan untuk disyukuri, entah itu anggota tubuh yang lengkap, masih diberi hidup, memiliki keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lingkungan juga sangat memengaruhi. <em>Circle</em> yang selalu menjatuhkan kita akan membuat kita menjadi susah untuk percaya bahwa diri ini bisa lebih baik lagi.</p>
<p>Kalau lingkungan teman yang seperti itu, kita bisa meninggalkannya. Bagaimana dengan lingkungan keluarga? Cobalah untuk mencari orang-orang yang akan selalu mendukungmu dan memberimu kekuatan. Pasti ada orang seperti itu, Penulis yakin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sekali lagi, merasa <em>insecure</em> itu sangat manusiawi. Penulis pun sampai sekarang masih sering merasakannya. Akan tetapi, kita bisa menggunakan perasaan tersebut untuk tumbuh atau justru menjatuhkan kita.</p>
<p>Pilihan ada di tangan kita sepenuhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 November 2020, terinspirasi dari mudahnya generasi sekarang untuk merasa <em>insecure</em></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_nessman">Nate Neelson</a></p>


<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 10:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya. Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya.</p>
<p>Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. Contoh paling mudah adalah aktif di berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mulai dari berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti hingga <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">merintis Karang Taruna</a>.</p>
<p>Memberikan perhatian kepada orang lain juga merupakan bentuk kepedulian. Menanyakan bagaimana kabar, memberi semangat ketika orang lain <em>down</em>, merupakan contoh kecil lainnya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai kita terlalu peduli dengan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri.</p>
<h3>Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Bagi sebagian besar orang, yang paling mampu peduli kepada dirinya adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada kepedulian orang-orang yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Artinya, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri, siapa yang akan peduli? Berharap orang lain akan peduli? Mungkin ada yang mendapatkan <em>privilege </em>seperti itu, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.</p>
<p>Penulis sudah merasakan sendiri bagaimana muncul rasa kecewa karena berharap kepada manusia. Berharap orang lain akan peduli menjadi salah satunya.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk memedulikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum memedulikan orang lain. Bagaimana caranya?</p>
<h3>Cara Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Ada banyak cara untuk bisa peduli kepada diri sendiri. Hidup sehat, makan-makanan bergizi, pola tidur teratur, olahraga rutin, menjadi contoh-contoh mudahnya walaupun Penulis sendiri belum bisa melakukannya.</p>
<p>Cara yang lebih detail adalah <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a>. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, kita wajib mencintai diri kita sendiri. Hal ini mungkin susah untuk orang yang sering merasa <em>insecure</em>, tapi bisa dilakukan.</p>
<p>Selain itu, buat kita bahagia sesering mungkin. Kalau kata Chelsea Islan, <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bahagia, tapi jangan sampai lupa kalau kita butuh kebahagiaan.</p>
<p>Bahagia juga sebaiknya harus bergantung kepada diri sendiri, bukan dari orang lain. Kita terkadang butuh faktor eksternal untuk bisa merasa bahagia (membeli barang, bertemu orang tersayang, dll), tapi sebaiknya kebahagiaan itu berawal dari diri sendiri.</p>
<p>Memanfaatkan waktu sebaik mungkin juga harus dilakukan. Jangan sampai waktu kita banyak dihabiskan dengan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">main game</a> hingga lupa waktu.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kepedulian kepada diri sendiri, akhir-akhir ini Penulis sering membaca buku dengan tema <em>self-care </em>ataupun buku-buku bertemakan kebahagiaan.</p>
<p>Seorang teman secara bercanda mengatakan bahwa Penulis melakukan itu karena tidak ada yang perhatian, sehingga harus diri sendiri yang melakukannya.</p>
<p>Intinya, ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Peduli dengan orang lain itu sama sekali tidak ada salahnya. Kalau bisa malah <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">peduli dengan ikhlas</a>, peduli tanpa mengharapkan timbal balik apapun. Memang berat, tapi bisa dilatih agar terbiasa.</p>
<p>Walaupun begitu, jangan sampai kita terlalu memedulikan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri. Jiwa dan raga kita membutuhkan perhatian dari tuannya karena kalau bukan dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi dari apa hayo?</p>
<p>Foto: <a href="https://analytichealer.com/your-needs-matter/">Analytic Healer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hebat dengan Cara Kita Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 09:54:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>
		<category><![CDATA[minder]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=829</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat.</p>
<p>Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi rendah diri alias minder, tidak percaya dengan diri sendiri.</p>
<p>Yang paling berbahaya tentu iri dengan harta orang lain. Kita iri dengan orang yang punya iPhone X, membawa <em>Lamborghini</em> hingga menggunakan jam tangan Rolex asli.</p>
<p>Iri terhadap barang benda yang sejatinya tidak dibawa mati ini tentu akan membuat kita terus merasa tidak puas. Kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki dan justru berfokus dengan apa yang kita tidak miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[15]">فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ</span><br id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[17]" /><em><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[18]">&#8220;Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?&#8221; (QS. Ar-Rahman [55] )</span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan untuk perbandingan yang kedua, yakni membandingkan sifat, masih bisa kita cari positifnya, asalkan tidak iri dengan sifat jelek orang lain. Seandainya kita melihat orang lain memiliki banyak sifat-sifat positif dan iri karenanya, kenapa kita tidak berusaha menjadi seperti mereka?</p>
<p><em>Karena saya ingin menjadi diri saya sendiri.</em></p>
<p>Lo bukan begitu pola pikirnya. Tidak ada yang menyuruh untuk menjadi orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri <em>yang terus berubah menjadi lebih baik setiap harinya</em>. Mengubah sifat buruk menjadi sifat baik tidak akan menghilangkan jati diri kita.</p>
<p>Selain itu, terkadang kita merasa kagum dengan kehebatan orang lain dan membatin, <em>kenapa aku tidak bisa sehebat dia</em>. Kata siapa? Kita hebat dengan cara kita sendiri, yang belum tentu orang lain memilikinya. Hanya saja, terkadang manusia melupakan kehebatan dirinya sendiri, dan justru iri dengan kehebatan orang lain.</p>
<p><em>Saya memang tidak pernah berbuat sesuatu yang menurut saya hebat</em>.</p>
<p>Baiklah, seandainya memang seperti itu, maka buatlah sesuatu yang hebat sekarang! Tidak ada gunanya meratapi masa lalu sambil memeluk lutut di sudut ruang. Jika kamu merasa seperti itu, bertindaklah, buat dirimu hebat!</p>
<p>Bagaimana caranya? Hanya kita yang tahu bagaimana caranya. Orang lain mungkin hanya bisa memberikan masukan-masukan, tapi kita lah yang menentukan jalan kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maksimalkan kelebihan kita sembari mereduksi kekurangan kita secara perlahan-lahan.</p>
<p>Percayalah, kita hebat dengan cara kita sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi setelah berdiskusi dengan salah satu anggota Karang Taruna</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116">https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
