<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>harapan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/harapan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/harapan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:03:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>harapan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/harapan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 10:15:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bung Karno pernah membuat quote yang berbunyi, &#8220;bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.&#8221; Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa. Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bung Karno pernah membuat <em>quote </em>yang berbunyi, &#8220;<em>bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang</em>.&#8221;</p>



<p>Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, <strong>rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa</strong>.</p>



<p>Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah itu masa depan, cita-cita, karir, percintaan, dan lain sebagainya. Semua hal yang bisa membuat kita berharap dapat membuat kita merasa sakit juga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bersiap untuk Merasa Kecewa</h2>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari salah satu video dari Jerome Polin ketika ia membuat video ulang tahunnya. Pembaca bisa menonton videonya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="(10C3-110Ln(e)+13) TAHUN! AWALNYA MAU NGEPRANK, EH MALAH..." width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/MFAO1o5Dp8g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ada satu <em>quote </em>darinya yang sangat cocok untuk tema tulisan kali ini, yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Gak ada salahnya berekspetasi, tapi juga harus mempersiapkan hati untuk menerima fakta yang tidak menyenangkan.&#8221;</p><cite>Jerome Polin</cite></blockquote>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berharap, toh itu salah satu sifat dasar manusia. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan hati apabila yang diharapkan tidak terjadi.</p>



<p>Contohnya adalah kisah Jerome yang berharap akan diberikan kejutan oleh teman-temannya ketika jam 12 tepat. Ternyata tidak ada yang datang, walau akhirnya jam 1 lewat sedikit ada beberapa orang yang memberi kejutan.</p>



<p>Ketika kita berharap pada sesuatu, maka kita harus mempersiapkan diri apabila <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">harapan tersebut tidak terjadi</a>. Jangan hanya membayangkan senangnya saja, kecewanya pun harus dipersiapkan.</p>



<p>Penulis akan mengambil contoh harapan tentang hubungan kita dengan seseorang. Anggaplah kita menyayangi seseorang dan berharap bisa menjadi pasangannya. Sayangnya, harapan kita tidak terkabul karena cinta kita bertepuk sebelah tangan.</p>



<p>Salah seorang <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">&#8220;adik&#8221; Penulis</a> pernah berkata bahwa ketika ia sudah memutuskan untuk menyayangi seseorang, ia telah sadar perasaan tersebut sudah sepaket dengan perasaan kecewa.</p>



<p>Dalam contoh ini, berharap orang memberikan rasa sayang yang sebesar kita berikan bisa menimbulkan kekecewaan jika tidak terealisasi. Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menyayangi seseorang, kita harus bersiap menelan pil terpahitnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Agar Jatuhnya Tidak Sakit</h2>



<p>Secara garis besar, ada dua cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak terlalu merasa sakit ketika terjatuh: <strong>ekspetasinya yang diturunkan</strong> atau <strong>kitanya yang harus menguatkan diri</strong>.</p>



<p>Cara pertama, kita harus bisa mengukur seberapa ekspetasi yang dikeluarkan. Jangan sampai ekspetasi tersebut tidak realistis sehingga kemungkinan tidak jatuhnya kecil.</p>



<p>Mengelola harapan jelas bukan perkara mudah. Untuk masalah ini, kita harus menyadari bahwa ada kalanya kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan dan percaya akan mendapatkan ganti yang lebih baik.</p>



<p>Cara kedua, ibaratnya seperti lagu <em>Terlatih Patah Hati </em>karya The Rain feat Endank Soekamti. Kita harus menempa diri hingga menjadi sosok yang tangguh dan seringnya hal ini bisa terjadi karena telah terbiasa.</p>



<p>Kalau kitanya bisa bertahan dari rasa sakit dan kecewa apapun, mau jatuh setinggi apapun kita akan tetap merasa kuat dan hanya merasa sedikit terluka. Dengan kepala tegak kita bisa kembali melanjutkan hidup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Mengulang perkataan Jerome, tidak ada yang salah dari berekspetasi. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan diri jika hal yang diinginkan tidak terjadi.</p>



<p>Semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula jatuhnya jika tidak kesampaian. Oleh karena itu, kita yang harus pintar-pintar mengelola harapan atau melatih diri menjadi sosok yang bisa menahan sakitnya terjatuh.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi setelah menonton video dari Jerome Polin</p>



<p>Foto: <a href="https://novocom.top/view/2e361f-anime-girl-falling-from-the-sky-base/">Anime Girl Falling From The Sky Base &#8211; Novocom.top</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikecewakan Ekspektasi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2020 16:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ekspektasi bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji. Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya. Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ekspektasi </strong>bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji.</p>
<p>Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada akhirnya kita <strong>dikecewakan oleh ekspektasi yang dibuat sendiri</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apakah Penulis pernah dikecewakan oleh ekpektasinya sendiri? Tentu pernah, sering malah. Apalagi, Penulis termasuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/"> orang yang mudah <em>baper</em></a>.</p>
<p>Ekspektasi tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materiil. Ada banyak <strong>kejadian sepele</strong> dalam kehidupan sehari-hari yang akan <strong>membuat kita berekspektasi</strong>.</p>
<p>Contoh, ketika kita berusaha memberikan kejutan kepada pacar. Kita berekspektasi pacar kita terkejut dan senang mendapatkan kejutan dari kita.</p>
<p>Ketika ternyata sang pacar mukanya flat aja dan memaksakan diri tersenyum hanya untuk menghargai upaya kita, perasaan kecewa akan muncul karena kenyataan berbeda dengan ekspektasi kita.</p>
<p>Contoh lain, ketika kita menawarkan bantuan kepada teman. Bukannya disambut, ia malah marah-marah karena merasa diremehkan. Kita akan kecewa karena kita berkekspektasi mendapatkan terima kasih, bukannya cemoohan.</p>
<p>Ada banyak sekali contoh dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bukti kalau kita bisa mudah dikecewakan oleh ekspektasikan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dalam tulisan <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/"><em>Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</em></a>, Penulis menyebutkan kalau berbuat baik tanpa mengharapkan apapun itu berat. Penulis sendiri kadang masih merasa pamrih walau hanya berekspektasi mendapatkan respon yang diinginkan.</p>
<p>Demi menghindari munculnya rasa kecewa, kita harus bisa <strong>menekan ekspektasi</strong> tersebut. Mungkin tidak bisa dihilangkan total, tapi setidaknya kadarnya dikurangi.</p>
<p>Kalau misal ingin membuat kejutan untuk pacar, ya sudah buat aja kejutannya tanpa berharap yang muluk-muluk. Setidaknya, niat untuk membuatnya bahagia telah terlaksana.</p>
<p>Kalau misal ingin menawarkan bantuan untuk teman, ya sudah tawarkan saja tanpa mengharapkan akan mendapatkan respon yang positif. Mungkin dianya memang bukan tipe orang yang suka dibantu.</p>
<p>Secara teori hal ini mudah dilakukan. Secara praktik? Susahnya luar biasa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bagaimana dengan ekspektasi-ekspektasi lain seperti ingin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">kuliah di jurusan yang telah didambakan</a>? Pendekatannya berbeda, karena pasti kita akan menanamkan harapan yang besar di sana.</p>
<p>Untuk menghadapi ekspektasi seperti itu, yang bisa kita lakukan (selain tidak berharap berlebihan) adalah meyakini <strong>ada sebuah hikmah di balik semua peristiwa</strong>. Bahasa Inggrisnya, <em>every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>Yang perlu dicatat adalah setiap ekspektasi harus diiringi dengan usaha (dan doa) yang seimbang. Kalau mau kuliah di kampus favorit, ya berarti harus belajar dengan giat.</p>
<p>Jika kenyatannya harus tersingkir karena kalah dengan orang-orang yang punya <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">privilege</a>, </em>ya pasti kecewa. Tapi kita harus yakin kalau kejadian tersebut adalah yang terbaik untuk kita.</p>
<p>Berekspektasi untuk mendapatkan pasangan pengusaha? Ya ngaca dulu dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saling-memantaskan-diri/">pantaskan dirimu</a> terlebih dahulu. Berekspektasi jadi kaya raya? Ya <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">jangan kebanyakan <em>mager</em></a>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tulisan ini jadi juga karena Penulis baru saja dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Bahkan, hal ini telah berulang berkali-kali. Penulis saja yang terlalu tolol untuk mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Penulis juga masih mencari-cari cara bagaimana kita bisa menekan ekspektasi diri karena harapan itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia.</p>
<p>Tidak ada yang salah dari ekspektasi. Yang salah adalah jika kita <strong>berekspektasi terlalu banyak</strong>. Semakin banyak kita berkekspektasi, semakin besar peluang kita untuk merasa kecewa jika yang diekspektasikan tidak benar-benar terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2020, terinspirasi setelah dikecewakan oleh ekspektasi sendiri</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@mili_vigerova?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Milada Vigerova</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/cry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Segala-Galanya Ambyar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2020 00:26:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[ambyar]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Manson]]></category>
		<category><![CDATA[Segala-galanya Ambyar]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata ambyar mulai populer berkat almarhum Didi Kempot yang menggunakan istilah Sobat Ambyar untuk menyebut basis penggemarnya. Bahkan, kata ambyar telah resmi masuk ke dalam KBBI. Menurut Penulis, kepopuleran kata ambyar dimanfaatkan dengan baik oleh Penerbit Grasindo ketika menerjemahkan buku karya Mark Manson yang berjudul Everything is Fucked menjadi Segala-galanya Ambyar. Penulis, yang mulai mengurangi membaca buku self-improvement, pada akhirnya pun memutuskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/">Setelah Membaca Segala-Galanya Ambyar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kata <em><strong>ambyar</strong> </em>mulai populer berkat almarhum Didi Kempot yang menggunakan istilah <em>Sobat Ambyar </em>untuk menyebut basis penggemarnya. Bahkan, kata ambyar telah resmi masuk ke dalam KBBI.</p>
<p>Menurut Penulis, kepopuleran kata ambyar dimanfaatkan dengan baik oleh Penerbit Grasindo ketika menerjemahkan buku karya Mark Manson yang berjudul <strong><em>Everything is Fucked </em></strong>menjadi <strong><em>Segala-galanya Ambyar</em></strong>.</p>
<p>Penulis, yang mulai mengurangi membaca buku <em>self-improvement</em>, pada akhirnya pun memutuskan untuk membelinya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Selain karena menggunakan kata ambyar pada judul, salah satu alasan Penulis membeli buku ini adalah faktor Mark Mansonnya sendiri. Untuk yang belum tahu, ia adalah Penulis buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> </em>yang terkenal.</p>
<p>Buku ini memiliki subjudul <em>sebuah buku tentang harapan</em>. Artinya, buku ini akan mengupas secara dalam mengenai harapan dan apa artinya harapan pada kehidupan sekarang.</p>
<p>Ada dua bagian utama dari buku ini, yakni <strong>Harapan</strong> dan <strong>Segala-galanya Ambyar</strong>. Masing-masing bagian memiliki beberapa bab yang lebih mendetail.</p>
<p>Salah satu teknik yang biasa dimiliki oleh buku <em>self-improvement </em>adalah menggunakan cerita. Manson di awal buku sudah menyuguhkan kisah luar biasa dari seorang bernama <strong>Witold Pilecki</strong>.</p>
<p>Apa isitimewanya? Ia adalah saah satu anggota tentara rahasia Polandia yang sengaja masuk ke Auschwitz (kamp konsentrasi Nazi) untuk melakukan penyelidikan!</p>
<p>Keberanian yang dimiliki oleh Pilecki, menurut Manson, disebabkan adanya harapan untuk melihat negaranya, Polandia, menjadi negara yang merdekan dan berdaulat secara utuh.</p>
<p>Di bab-bab selanjutnya akan ditemukan contoh kisah-kisah lain yang memiliki relasi dengan harapan. Hanya saja karena buku ini termasuk baru, Penulis tidak akan bercerita terlalu mendetail mengenai isinya.</p>
<p>Tapi jujur, karena bagi Penulis bukunya cukup berat, Penulis tidak bisa begitu mengingat apa isinya.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Segala-galanya Ambyar</em></h3>
<p>Dibandingkan dengan buku sebelumnya, buku ini terasa sangat filosofis sehingga Penulis merasa kesulitan untuk mencernanya. Mulai dari Plato sampai Tom Waits ia sebutkan di sini.</p>
<p>Gaya penulisannya yang kesannya <em>terserah gue </em>juga tetap dipertahankan di sini. Gaya humornya, caranya menyampaikan argumentasi, bagaimana ia cenderung skeptis, mirip dengan buku sebelumnya.</p>
<p>Bahkan ada sedikit kontroversi mengenai bab yang membahas bagaimana menciptakan agama akan mewujudkan harapan-harapan kita. Jujur, Penulis sedikit merasa risih ketika membaca bagian ini.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini tetap menarik untuk menambah sudut pandang kita dalam melihat harapan. Tapi secara umum, Penulis kurang bisa menikmati buku ini dan tidak bisa merekomendasikannya.</p>
<p>Yah, setidaknya Penulis jadi mengetahui kisah Pilecki, Nietzsche, dan yang lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Juli 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Segala-galanya Ambyar </em>karya Mark Manson</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/">Setelah Membaca Segala-Galanya Ambyar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-segala-galanya-ambyar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuhan Tidak Punya Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Sep 2019 14:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[bergantung]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2753</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; kata A pada story WhatsApp-nya. &#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; kata B pada linimasa Twitter-nya. &#8220;Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; kata C pada feed Instagram-nya. &#8220;Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; </em>kata A pada <em>story </em>WhatsApp-nya.</p>
<p><em>&#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; </em>kata B pada linimasa Twitter-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; </em>kata C pada <em>feed </em>Instagram-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan tersebut!&#8221; </em>kata D pada kolom komentar di Webtoon.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pernah mengeluh atau berdoa kepada Tuhan melalui media sosial? Penulis merasa tidak pernah melakukan hal ini karena menyadari sesuatu: <strong>Tuhan tidak punya media sosial!</strong></p>
<p>Keluh kesah ataupun harapan kita yang ditujukan kepada Tuhan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung tanpa harus melalui perantara digital.</p>
<p>Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu Maha Pendengar. Apapun yang sedang kita rasakan atau pikirkan, Tuhan bisa mengetahuinya dengan mudah. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan.</p>
<h3>Maksud Terselubung?</h3>
<p>Jika doanya seperti &#8220;<em>teman-teman, minta doanya agar bencana di daerah kami segera mereda&#8221;, </em>penulis masih bisa memaklumi karena mungkin akan ada banyak orang yang membaca pesan tersebut dan langsung mengirimkan doa.</p>
<p>Ada juga akun yang memang mengkhususkan diri untuk mengunggah doa-doa yang sebaiknya dibaca pada saat-saat tertentu. Kalau seperti itu, penulis sangat menyetujuinya.</p>
<p>Yang penulis permasalahkan di sini adalah doa-doa yang ditujukan untuk kepentingan pribadi. Penulis berasumsi bahwa doa online tersebut memiliki maksud terselubung. Contohnya, <strong>memberi tahu orang lain tentang keadaan dirinya</strong>. Bahasa lainnya, <em>ngode</em>.</p>
<p>Buktinya ketika berusaha memosisikan diri sebagai orang yang membuat status seperti itu, penulis malah jadi menyimpan harapan agar doa dan keluhan itu ditanggapi oleh orang lain. Penulis tidak bisa menemukan alasan lain.</p>
<p>Jika bukan itu tujuannya, lantas mengapa dipublikasikan ke media sosial yang secara otomatis akan dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang lain? Sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a> mungkin? Rasanya tidak.</p>
<h3>Berharap Kepada Manusia</h3>
<p>Seandainya asumsi di atas benar, itu menunjukkan bahwa kita masih banyak berharap kepada manusia. Padahal, seharusnya kita hanya boleh menggantungkan harapan kepada Tuhan semata.</p>
<p>Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri di dunia yang makin hari makin keras ini.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita bisa menggantungkan diri kepada manusia secara total dan melupakan peran Tuhan di sini. Perlu diingat, segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat izin-Nya.</p>
<p>Penulis menulis artikel ini bukan karena merasa telah bisa menggantungkan diri kepada Tuhan sepenuhnya. Justru, penulis merasa bahwa dirinya <strong><em>masih sering menggantungkan harapan kepada manusia</em></strong>.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah perasaan kesepian yang sering penulis derita. Seharusnya, penulis tidak perlu merasa kesepian karena Tuhan selalu bersama kita. Akan tetapi, praktik selalu lebih sulit daripada teorinya.</p>
<p>Bahkan, penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">memiliki ketergantungan kepada manusia agar tidak merasa sepi</a>. Jadi, tulisan ini penulis susun sebenarnya lebih bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri.</p>
<p>Mungkin penulis memang tidak membuat status berdoa di media sosial, namun penulis nyatanya juga masih berharap kepada manusia dengan cara-cara yang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin, dulu penulis pun masih pernah melakukannya ketika masih labil (memang sekarang enggak?). Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, kita pun makin menyadari hal ini.</p>
<p>Jika sedang kesal atau bersusah hati, utarakanlah kepada Tuhan secara langsung. Tidak perlu menuliskannya di media sosial karena Tuhan tidak butuh perantara untuk bisa mendengar kita.</p>
<p>Menuliskan isi hati di media sosial justru menunjukkan bahwa kita masih sering menggantungkan diri kepada orang lain, bukan kepada Tuhan.</p>
<p>Sekali lagi, penulis sendiri masih melakukan hal yang sama. Semoga dengan tulisan ini, kita semua bisa saling memperbaiki diri dan belajar untuk hanya berharap kepada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 September 2019, terinspirasi dari banyaknya doa yang bertebaran di media sosial</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@khouser01">Keegan Houser</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Tahun Whathefan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2019 16:42:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang]]></category>
		<category><![CDATA[rubrik]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1956</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alhamdulillah, hari ini blog penulis, Whathefan, berulangtahun untuk yang pertama kali. Selama satu tahun itu, tentu blog ini telah mengalami banyak perubahan dan penyesuaian. Pada mulanya, penulis hanya memberi target membuat lima artikel selama satu minggu. Akan tetapi, mulai bulan September penulis memutuskan untuk menambahnya menjadi enam. Alasannya sederhana, supaya feed di Instagram menjadi lebih rapi dan teratur. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/">Satu Tahun Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, hari ini blog penulis, <strong>Whathefan</strong>, berulangtahun untuk yang pertama kali. Selama satu tahun itu, tentu blog ini telah mengalami banyak perubahan dan penyesuaian.</p>
<p>Pada mulanya, penulis hanya memberi target membuat lima artikel selama satu minggu. Akan tetapi, mulai bulan September penulis memutuskan untuk menambahnya menjadi enam. Alasannya sederhana, supaya <em>feed </em>di Instagram menjadi lebih rapi dan teratur.</p>
<h3>Ruang dan Rubrik Whathefan</h3>
<p>Meskipun terkadang harus berutang tulisan hingga berhari-hari, penulis berhasil memenuhi kuota tulisan sesuai dengan yang ditargetkan. Total, terdapat <strong>303 artikel </strong>yang terbagi menjadi beberapa rubrik, yang penulis bagi beberapa ruang.</p>
<p>Ruang pertama adalah <strong>ruang sastra </strong>yang berisikan karya-karya penulis seperti novel, cerpen, dan sajak. Penulis telah menerbitkan tiga novel di blog ini, yakni:</p>
<ul>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji Buku 1</a> </strong>(tamat, 41 chapter + 6 extra chapter)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/"><strong>Distopia Bagi Kia</strong></a> (<em>on going</em>, 12 bagian), dan</li>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji Buku 2</a> </strong>(<em>on going</em>, 5 chapter).</li>
</ul>
<p>Selain itu, penulis juga sudah membuat 8 <a href="http://whathefan.com/category/cerita/"><strong>cerpen</strong></a> dan 27 <a href="http://whathefan.com/category/sajak/"><strong>sajak</strong></a> yang seringkali terinspirasi dari pengalaman-pengalaman pribadi penulis maupun dari hasil pengamatan terhadap berbagai hal.</p>
<p>Ruang selanjutnya adalah <strong>ruang opini </strong>yang berisikan tentang pemikiran dan pendapat penulis dalam menyikapi sebuah permasalahan. Penulis membaginya menjadi tiga rubrik, yakni:</p>
<ul>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/category/karakter/">Karakter</a>, </strong>membahas tentang perilaku manusia, terdiri dari 19 tulisan</li>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/category/renungan/">Renungan</a>, </strong>berisi pemikiran-pemikiran penulis tentang berbagai hal yang patut untuk direnungkan, terdiri dari 24 tulisan, dan</li>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/category/sosialpolitik/">Sosial Politik</a>, </strong>berisikan opini tentang berbagai fenomena sosial politik yang terjadi di sekitar penulis, terdiri dari 20 tulisan.</li>
</ul>
<p>Ruang yang ketiga adalah <strong>Ruang Inspirasi</strong>, di mana ruangan ini penulis harapkan bisa memberikan inspirasi-inspirasi kepada pembacanya, termasuk penulis sendiri. Ruang ini hanya terdiri dari 2 rubrik, yakni:</p>
<ul>
<li><a href="http://whathefan.com/category/tips-motivasi/"><strong>Tips &amp; Motivasi</strong></a>, berisi tentang tips-tips dan motivasi untuk pembaca, terdiri dari  19 tulisan, dan</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/tokohsejarah/"><strong>Tokoh &amp; Sejarah</strong></a>, berisikan tulisan tentang tokoh-tokoh dan sejarah dunia yang menginspirasi, terdiri dari 24 bagian.</li>
</ul>
<p>Selanjutnya adalah ruang yang paling santai di antara ruang lain. Penulis memberinya nama <strong>Ruang Pinggir</strong>, ruang yang kita gunakan untuk melakukan hobi kita. Ruang yang satu ini memiliki 3 rubrik</p>
<ul>
<li><a href="http://whathefan.com/category/animekomik/"><strong>Anime &amp; Komik</strong></a>, terdiri dari 18 tulisan</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/buku/"><strong>Buku</strong></a>, terdiri dari 22 tulisan, dan</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/musikfilm/"><strong>Musik &amp; Film</strong>,</a> terdiri dari 20 tulisan</li>
</ul>
<p>Selain ruang-ruang di atas, terdapat pula kolom <strong>Fanandi </strong>yang berisikan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penulis. Kolom ini terdiri dari:</p>
<ul>
<li><strong><a href="http://whathefan.com/cv-online/">CV Online</a>,</strong> berisikan riwayat hidup singkat penulis</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/karang-taruna/"><strong>Karang Taruna</strong></a>, berisi tentang aktivitas-aktivitas Karang Taruna di tempat penulis tinggal, terdiri dari 17 tulisan, dan</li>
<li><a href="http://whathefan.com/category/pengalaman/"><strong>Pengalaman</strong></a>, tempat penulis berbagi cerita yang penulis alami sendiri berisi 21 tulisan.</li>
</ul>
<p>Penulis sempat berpikiran untuk mengubah lagi susunan rubrik di atas, tapi untuk sementara penulis merasa cukup dengan komposisi yang ada. Bisa dibilang, ini adalah susunan yang paling ideal bagi <strong>Whathefan</strong> selama berjalan setahun.</p>
<h3>Pos Paling Populer</h3>
<p>Selama satu tahun ini, tentu ada tulisan-tulisan yang paling baca dibaca. Di sini, penulis akan memberikan<strong> 10 tulisan</strong> yang memiliki <em>views </em>tertinggi selama satu tahun ini.</p>
<ol>
<li><a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV</a> (Tahap Pertama) (Pengalaman, <strong>4.957</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/cerita/wanita-bermata-sayu/">Wanita Bermata Sayu</a> (Cerita, <strong>2.079</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV</a> (Tahap Kedua dan Ketiga) (Pengalaman, <strong>1.278</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> (Tips &amp; Motivasi, <strong>1.045</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/karakter/bijak-menggunakan-caps-lock/">Bijak Menggunakan Caps Lock</a> (Karakter, <strong>899</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">Menjelajah Dunia Paralel</a> (Buku, <strong>573</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/">Dikelilingi Wanita Ala Anime</a> (Anime &amp; Komik, <strong>570 </strong>views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/">Detail Pada Karya Don Rosa</a> (Anime &amp; Komik, <strong>523 </strong>views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/di-balik-logo-asian-games-2018/">Di Balik Logo Asian Games 2018</a> (Tokoh &amp; Sejarah, <strong>471</strong> views)</li>
<li><a href="http://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-naik-kereta-bandara-soekarno-hatta/">Pengalaman Naik Kereta Bandara Soekarno-Hatta</a> (Pengalaman, <strong>441</strong> views)</li>
</ol>
<p>Penulis sendiri tidak mengerti mengapa tulisan-tulisan tersebut memiliki <em>views </em>yang tinggi jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya. Yang jelas, penulis senang melihat angka-angkat tersebut.</p>
<h3>Harapan di Ulang Tahun yang Pertama</h3>
<p>Penulis berharap, dengan satu tahunnya <strong>Whathefan</strong> ini, penulis bisa memberikan tulisan-tulisan yang lebih bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Tentu, penulis juga berharap bisa mendapatkan manfaat tersebut.</p>
<p>Semoga di tahun 2019 ini, penulis bisa tetap konsisten menulis dan tidak lagi menunda-nunda aktivitas menulis blog ini hingga akhirnya menumpuk. Semoga di tahun ini penulis bisa menyebarkan kebaikan sebanyak mungkin.</p>
<p>Jika bolah jujur, dengan membuat tulisan-tulisan di blog ini, penulis merasa bertanggungjawab akan apa yang ditulis. Jadi, jika penulis sedang memberikan tips untuk menjadi lebih baik, sebenarnya penulis sedang memotivasi diri sendiri untuk menjadi lebih baik.</p>
<p>Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca blog ini. Adanya pembaca-pembaca membuat penulis merasa termotivasi untuk terus menghasilkan tulisan-tulisan yang (mudah-mudahan) berkualitas.</p>
<p>Sekian, dan sampai jumpa di ulang tahun yang kedua!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 2 Januari 2019, terinspirasi karena hari ini Whathefan berulangtahun!</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/">Satu Tahun Whathefan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/satu-tahun-whathefan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2019 16:11:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2019 yang telah tiba menyambut kita dengan segudang optimisme baru. Banyak di antara kita memanfaatkan momen awal tahun untuk membuat resolusi tentang apa yang hendak dicapai sepanjang tahun. Di dalam KBBI sendiri, resolusi memiliki makna: putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2019 yang telah tiba menyambut kita dengan segudang optimisme baru. Banyak di antara kita memanfaatkan momen awal tahun untuk membuat resolusi tentang apa yang hendak dicapai sepanjang tahun.</p>
<p>Di dalam <strong>KBBI</strong> sendiri, resolusi memiliki makna:</p>
<blockquote><p>putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal</p></blockquote>
<p>Sedikit berbeda dengan pengertian yang selama ini kita ketahui bukan? Hal ini bisa terjadi karena kata <strong>resolusi</strong> telah mengalami perluasan makna menjadi semacam <strong>harapan yang benar-benar ingin dicapai oleh seseorang</strong>.</p>
<p>Penulis sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang suka membuat resolusi setiap tahun. Akan tetapi, penulis akan mencoba untuk membuat resolusi kali ini karena merasa tahun ini (dan tahun kemarin) akan (dan telah) menjadi tahun yang spesial untuk penulis.</p>
<p>Setidaknya, penulis ingin melakukan beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu</li>
<li>Tidak berutang tulisan Whathefan lagi</li>
<li>Setiap malam tidak boleh menunda mencatat agenda harian dan transaksi keuangan</li>
<li>Bisa membaca buku minimal setengah jam satu hari</li>
<li>Mengurangi aktivitas kurang bermanfaat seperti <em>scrolling </em>media sosial terlalu lama</li>
<li>Dan lain sebagainya</li>
</ul>
<p>Nah, sewaktu mencoba untuk membuat resolusi tahunan ini, penulis jadi berpikir: <strong>mengapa tidak setiap hari saja membuat resolusi?</strong></p>
<p>Jadi setiap hari, penulis akan berusaha untuk memperbaiki diri dengan resolusi harian tersebut. Selain itu, resolusi setiap hari sesuai dengan sabda Nabi yang menyuruh kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>Di dalam bayangan penulis, resolusi harian seperti ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, kita bisa langsung mengganti target apabila dirasa sudah tercapai dan kita membutuhkan target baru untuk dikejar.</p>
<p>Selanjutnya adalah mengukur kemampuan diri sendiri setiap hari. Kita akan tahu resolusi mana yang paling berat untuk dijalankan, sehingga kita bisa mencoba untuk melakukan eksplorasi agar resolusi tersebut bisa kita capai. Selain itu, resolusi setiap hari akan membuat kita sering melakukan interopeksi diri.</p>
<p>Apakah akan berhasil? Entahlah, penulis juga tidak tahu akan bertahan lama penulis bisa mempertahankan semangat ini. Yang jelas, penulis akan berusaha agar resolusi tahun baru ini bisa membuat penulis bersemangat dalam menyongsong hari sepanjang 2019 ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Januari 2019, terinspirasi setelah mencoba untuk menulis resolusi tahun baru</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/PAykYb-8Er8?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Ian Schneider</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/new-year?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tersedak Kecewa</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=110</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pagi ini di meja makan Tersedia buah harapan di atas piring emas Aku tergiur dibuatnya Kuraih ia, kugigit dalam-dalam Kukunyah tak sempurna Kutelan dengan terburu-buru Hingga tersedak Terbatuk Tak bisa bernafas Kupukuli dadaku Kupegang tenggorokanku Lama sekali, hingga akhirnya buah itu keluar dari tubuhku Aku tersedak, tersedak kekecewaan dalam sebuah harapan Akhirnya aku sadar Aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">Tersedak Kecewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Pagi ini di meja makan</div>
<div>Tersedia buah harapan di atas piring emas</div>
<div>Aku tergiur dibuatnya</div>
<div>Kuraih ia, kugigit dalam-dalam</div>
<div>Kukunyah tak sempurna</div>
<div>Kutelan dengan terburu-buru</div>
<div>Hingga tersedak</div>
<div>Terbatuk</div>
<div>Tak bisa bernafas</div>
<div>Kupukuli dadaku</div>
<div>Kupegang tenggorokanku</div>
<div>Lama sekali, hingga akhirnya buah itu keluar dari tubuhku</div>
<div>Aku tersedak, tersedak kekecewaan dalam sebuah harapan</div>
<div>Akhirnya aku sadar</div>
<div>Aku harus perlahan memakan buah harapan ini</div>
<div>Dikunyah hingga ia lebur sempurna bersama saliva</div>
<div>Ditelan masuk ke tubuh tanpa menyiksa diri</div>
<div>Itulah hikayat dari harapan</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/fkt2S6iI3Z8">https://unsplash.com/photos/fkt2S6iI3Z8</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">Tersedak Kecewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
