<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kritik Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kritik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kritik/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 16:57:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Kritik Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kritik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 16:57:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang scrolling Instagram menggunakan akun whatheFAN, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah pos yang pro-pemerintah. Inti dari pos tersebut adalah menyebutkan bahwa upaya untuk menjegal pemerintah sekarang lagi-lagi gagal. Selain itu, pemilik pos juga mengatakan bahwa &#8220;rakyat sudah cerdas tidak bisa dibodohi&#8221;, sehingga gerakan &#8220;Jangan Rayakan Kemerdekaan&#8221; gagal. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/">Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika sedang <em>scrolling </em>Instagram menggunakan akun whatheFAN, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah pos yang pro-pemerintah. Inti dari pos tersebut adalah menyebutkan bahwa upaya untuk menjegal pemerintah sekarang lagi-lagi gagal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, pemilik pos juga mengatakan bahwa &#8220;rakyat sudah cerdas tidak bisa dibodohi&#8221;, sehingga gerakan &#8220;Jangan Rayakan Kemerdekaan&#8221; gagal. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat untuk melihat upacara bendera di Istana Merdeka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca pos tersebut, Penulis memang sudah merasa ada banyak hal yang ganjil. Namun, agar lebih objektif (karena Penulis selama ini cukup sering mengkritik pemerintah), Penulis mencoba melempar pos tersebut ke AI (Perplexity Pro).</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner.jpg 1280w " alt="Linkin Park dan Living Things" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Logical Fallacies di Pos Tersebut</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis mengunggah semua foto dari pos tersebut ke AI dan memintanya untuk membedah apakah ada <em>logical fallacies </em>atau kesalahan-kesalahan berpikir dalam pos tersebut. Jawabannya cukup mengejutkan karena ternyata lebih banyak dari yang Penulis kira!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembaca bisa membaca pos aslinya terlebih dahulu di <a href="https://www.instagram.com/p/Db9wpguCVo9/?wa_status_inline=true&amp;img_index=1"><strong>tautan berikut ini</strong></a>. Kalau sudah membaca semuanya dan meresapi semua isinya, berikut adalah tabel buatan AI yang mengulas ada kesalahan berpikir apa saja dari pos tersebut:</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th class="has-text-align-left" data-align="left">Logical fallacy</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Arti mudah</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Bentuknya dalam unggahan</th></tr></thead><tbody><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False cause</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menganggap A menyebabkan B tanpa bukti cukup</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ramainya pendaftar upacara dianggap membuktikan kritik terhadap pemerintah atau ajakan boikot kemerdekaan telah gagal</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Non sequitur</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kesimpulan tidak nyambung langsung dari premis</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">“Banyak yang ingin hadir upacara” lalu meloncat ke “rakyat mendukung pemerintah”</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False dichotomy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Membuat seolah hanya ada dua pilihan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Seolah pilihannya cuma: merayakan kemerdekaan = pro-pemerintah; tidak merayakan = anti-Indonesia</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Appeal to popularity</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Sesuatu dianggap benar karena banyak orang melakukannya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Antusiasme pendaftar dipakai sebagai bukti bahwa rakyat “sudah cerdas” atau suatu posisi politik pasti benar</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Hasty generalization</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyimpulkan hal besar dari sampel kecil atau terbatas</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pendaftar upacara dianggap mewakili seluruh rakyat Indonesia; pelaku penjarahan dianggap mencerminkan watak masyarakat secara umum</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Mind reading</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengklaim tahu motivasi orang tanpa bukti</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Semua orang yang mendaftar upacara diasumsikan murni mendukung pemerintah atau menolak kritik</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Contextomy / misleading context</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Angka atau kutipan dipakai di luar konteks asalnya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Angka jumlah kursi dan pendaftar berpotensi dicampur dari konteks atau tahun peringatan berbeda sehingga kesannya lebih dramatis</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False equivalence</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan dua hal yang berbeda secara penting</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan kehadiran di upacara dengan dukungan total kepada rezim; menyamakan penjarahan telur dengan korupsi terstruktur</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Reductive fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Persoalan rumit dipersempit menjadi satu ukuran sederhana</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kemerdekaan hanya dinilai dari boleh bekerja, berkumpul, nongkrong, atau mengkritik presiden</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Straw man</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyederhanakan posisi lawan agar mudah dipatahkan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kritik “Indonesia belum merdeka sepenuhnya” diperlakukan seolah artinya rakyat tidak bisa bergerak, makan, atau bersosialisasi</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Presentism</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menilai masalah panjang hanya dari momen saat ini</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pemberantasan korupsi seolah baru terjadi pada pemerintahan sekarang, tanpa melihat proses lintas pemerintahan dan lembaga</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Credit-claiming fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengklaim semua keberhasilan sebagai jasa satu pihak</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Berbagai kasus korupsi disebut “semua dibongkar presiden”, padahal investigasi melibatkan KPK, Kejaksaan, Polri, BPK, pengadilan, media, dan pelapor</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Post hoc reasoning</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena terjadi setelah seseorang berkuasa, dianggap pasti disebabkan olehnya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kasus yang mencuat saat pemerintah sekarang dianggap otomatis hasil pembongkaran langsung oleh presiden</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Overclaiming</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Klaim terlalu besar dan mutlak tanpa pembuktian setara</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kata seperti “semua dibongkar”, “gagal total”, atau “rakyat sudah cerdas” tidak disertai ukuran dan data yang memadai</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Appeal to novelty</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menganggap sesuatu lebih baik/benar karena baru terjadi sekarang</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena kasus dibongkar pada era baru, era itu langsung dianggap paling efektif tanpa perbandingan yang solid</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Moral equivalence</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan bobot moral dua kesalahan yang skala dan strukturnya berbeda</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pelanggaran warga saat kejadian kecelakaan diletakkan setara dengan korupsi sistemik yang menyalahgunakan jabatan dan merugikan publik</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Composition fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Sifat sebagian kecil dianggap sifat keseluruhan kelompok</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ada warga menjarah telur, lalu masyarakat luas dilabeli “sama rusaknya”</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Tu quoque terselubung</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengalihkan kritik dengan menunjuk kesalahan pihak pengkritik/masyarakat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena ada warga yang melanggar hukum, kritik terhadap pejabat atau mafia koruptor dibuat seolah tidak sah</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Cherry-picking</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Memilih fakta yang menguntungkan sambil mengabaikan data lain</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menonjolkan antrean tiket sebagai bukti nasionalisme/dukungan, sambil mengabaikan persoalan korupsi, ketimpangan, kebebasan sipil, atau biaya hidup</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Agar berimbang, Penulis juga meminta AI tersebut untuk membuat tabel yang berisi apa saja hal benar dari pos tersebut. Hasilnya ternyata jauh lebih pendek dan singkat. Pembaca bisa melihatnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th class="has-text-align-left" data-align="left">Klaim inti</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Penilaian</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Catatan penting</th></tr></thead><tbody><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Masyarakat memang antusias menghadiri upacara di Istana</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Untuk HUT ke-80 RI, pemerintah menyediakan 8.000 undangan dan mengalokasikan 80 persennya bagi masyarakat umum. Antusiasme pendaftar juga tinggi. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Merayakan kemerdekaan adalah hal positif</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Perayaan kemerdekaan dapat menjadi ekspresi kebangsaan, penghormatan terhadap perjuangan sejarah, serta ruang kebersamaan warga</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Indonesia bukan negara yang sepenuhnya menutup ruang kumpul dan berpendapat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Secara prinsip benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Indonesia telah jauh lebih bebas dibanding masa penjajahan atau masa otoriter tertentu</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Secara umum benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Warga memiliki ruang legal untuk bekerja, berkumpul, membentuk organisasi, mengkritik, dan mengikuti aktivitas publik. Namun kualitas praktik perlindungan haknya tetap perlu diawasi</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Korupsi memang telah berlangsung lama dan lintas periode pemerintahan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Korupsi bukan persoalan yang lahir pada satu presiden atau satu era saja; kasus, modus, serta aktornya berkembang selama puluhan tahun</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ada penindakan korupsi yang nyata pada 2025</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">KPK melaporkan 118 tersangka, 116 penyidikan, 115 penuntutan, 78 eksekusi, serta pemulihan aset Rp1,531 triliun pada 2025. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Penjarahan barang korban kecelakaan adalah tindakan yang keliru</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengambil barang yang bukan milik sendiri tetap salah secara hukum dan moral, walau konteks serta tingkat kesalahannya dapat berbeda-beda</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Perbaikan negara bukan hanya tugas pejabat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Masyarakat juga perlu berperan: tidak menyuap, tidak menjarah, tidak memalsukan data, tidak menyebarkan fitnah, serta turut mengawasi kekuasaan</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pos di atas hanyalah contoh bagaimana bentuk keresahan maupun kritikan dari masyarakat justru di<em>-framing </em>menjadi sesuatu yang di luar konteks. Entah itu gerakan Indonesia Gelap, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Gerakan Brave Pink</a>, Kabur Aja Dulu, semua dianggap sebagai propaganda semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bahwa ada semacam usaha untuk melakukan <em>framing </em>dan penggiringan opini menggunakan sebuah tulisan yang terkesan patriotik. Justru, inti dari kritikannya malah diabaikan dan yang dibalas justru hal-hal yang bukan substansinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, respons seperti ini baik dari kubu pemerintah maupun para pendukungnya benar-benar meresahkan Penulis, seolah semua yang mengkritik pemerintah adalah musuh negara yang harus dilawan. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan demokrasi kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Masyarakat Menjadi (Satu-Satunya) Oposisi Pemerintah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8834" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Presiden Prabowo Berpidato (<a href="https://portal.medan.go.id/berita/siaran-pers-bakom-ri-pidato-di-sidang-umum-pbb-presiden-prabowo-mengulang-sejarah-perjuangan-diplomasi-prof-sumitro__read5549.html">Pemerintah Kota Medan</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak era Presiden Joko Widodo, terutama periode keduanya, kita sudah bisa mulai merasakan bagaimana <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">seorang presiden seolah hampir tidak punya oposisi sama sekali</a> di pemerintahan. Mayoritas di kursi DPR merupakan partai pendukung presiden terpilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu pula dengan era <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo Subianto</a> yang sedang berlangsung saat ini. Bukan hanya partai yang menyokongnya saat Pemilu, lawan-lawannya pun banyak yang merapat karena ingin menjadi bagian pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat negara tidak memiliki oposisi di pemerintahan, lantas siapa yang melakukan kontrol? <strong>Tentu opsinya hanya tersisa masyarakat dan pers</strong>. Oleh karena itu, rasanya sangat wajar jika bermunculan kritik dari berbagai lapisan masyarakat melalui berbagai media.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, respons yang diberikan pemerintah (serta pendukungnya) ketika ada kritik membuat Penulis khawatir. Alih-alih menerima kritikan tersebut,<strong> pemerintah justru lebih sibuk membela diri, bahkan terkadang malah melakukan &#8220;serangan balik&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu, Presiden Prabowo kerap mengeluarkan kata-kata yang dianggap kurang etis untuk keluar dari mulut presiden, seperti <em><strong>ndasmu</strong></em> yang dianggap meremehkan kritikan yang ditujukan kepadanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika banyak orang-orang yang menyuarakan Kabur Aja Dulu, alih-alih menenangkan masyarakat dengan menyajikan data faktual, Presiden Prabowo justru mengatakan hal semacam ini:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saudara-saudara sekalian. Indonesia kaya, Indonesia akan bangkit, dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini! Yang ragu-ragu, silakan duduk di rumah saja. <strong>Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang</strong>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu yang menurut Penulis fatal adalah ketika beliau menyatakan, &#8220;<strong>Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.</strong>” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan tersebut seolah <em>framing </em>bahwa semua profesi yang ia sebutkan merupakan sisipan &#8220;antek-antek asing&#8221; yang tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang besar. Tentu ini sangat berbahaya untuk iklim demokrasi kita, ketika salah satu alat kontrol pemerintah dilabeli seperti itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya dari Presiden Prabowo, respons bawahannya pun terkadang menimbulkan kontroversi. Penulis akan mengambil contoh dari Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Teddy Indra Wijaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri Prabowo, Teddy merilis sebuah video yang memberi klarifikasi yang menjelaskan mengapa Presiden harus kerap melakukan perjalanan ke luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada yang salah, sampai ia <strong>mengeluarkan sindiran bahwa Dino hanya menjabat tiga bulan</strong>. Hal tersebut sudah merupakan sebuah <em>ad hominem</em> alias serangan pribadi yang melenceng dari konteks diskusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkadang juga, <strong>yang dibahas justru hal di luar substansi kritiknya</strong>. Ketika film <em>Pesta Babi </em>ramai dibicarakan misalnya, yang banyak dibahas oleh pihak pemerintah maupun pro-pemerintah justru siapa yang membiayai pembuatan film tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seharusnya, jika apa yang disampaikan dalam film tersebut salah atau kurang tepat, ya berikan data yang benar seperti apa. Yang ada, justru pada menyebut kalau George Soros orang yang mendanai film tersebut untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kan, lucu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, di atas hanya beberapa contoh kasus yang Penulis anggap respons yang kurang tepat. Tentu pemerintah pernah memberikan respons yang normatif dan tidak kontroversial. Penulis memang hanya berfokus pada pernyataan-pernyataan yang kurang elok keluar dari pihak pemerintah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin tidak ada pernyataan secara eksplisit kalau pengkritik pemerintah dianggap sebagai musuh negara. Namun, telah beberapa kali terjadi kalau pengkritik diposisikan seperti itu dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara-cara yang sudah Penulis sebutkan di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak bisa dipungkiri kalau memang ada penyusup &#8220;antek-antek aseng&#8221; yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka sendiri. Hanya saja, menggeneralisasi semua yang mengkritik pemerintah sebagai &#8220;antek aseng&#8221; juga tidak bijaksana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, kritik pemerintah yang kami utarakan ini menjadi bukti bahwa kami cinta dengan negara ini. Kami ingin negara ini menjadi bangsa yang besar dan kuat. Kami ingin masyarakat Indonesia hidup sejahtera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jika kami melihat ada hal yang kami anggap melenceng dari tujuan tersebut, kami bersuara sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jangan anggap hanya karena kami menyampaikan kritik, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">kami dianggap sebagai musuh negara</a>. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 26 Agustus 2026, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos Instagram yang penuh dengan <em>logical fallacies</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/">Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2025 04:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[oposisi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[tambang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8297</guid>

					<description><![CDATA[<p>Raja Ampat di Papua tengah menjadi sorotan. Pasalnya, ada isu yang menyebut kalau aktivitas pertambangan nikel di sana berpotensi merusak ekosistem alam yang ada di sana, baik di darat maupun laut. Tagar #saverajaampat pun viral di media sosial. Nah, salah satu kebiasaan di negara kita tercinta adalah sebuah isu akan diseriusi atau ditindaklanjuti ketika sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">Pemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Raja Ampat di Papua tengah menjadi sorotan. Pasalnya, ada isu yang menyebut kalau aktivitas pertambangan nikel di sana berpotensi merusak ekosistem alam yang ada di sana, baik di darat maupun laut. Tagar <strong>#saverajaampat </strong>pun viral di media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, salah satu kebiasaan di negara kita tercinta adalah sebuah isu akan diseriusi atau ditindaklanjuti ketika sudah menjadi viral. Bahkan, sampai muncul istilah <em>no viral no justice.</em> Itu juga terjadi di kasus Raja Ampat ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ramai, pihak pemerintah bergerak cepat untuk melakukan klarifikasi atau meluruskan isu ini. Melansir dari berbagai sumber, aktivitas pertambangan di seputar Raja Ampat telah dibekukan untuk sementara waktu. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1.jpg 1280w " alt="Tentang Leon, Kenji, dan Gisel" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis ingin membahas hal lain pada tulisan kali ini. Bukan fokus ke masalah Raja Ampat-nya, melainkan melihat bagaimana pemerintah memberikan respons saat ada kritik yang ditujukan kepada mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ucapan Bahlil yang Bikin Garuk-Garuk Kepala</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Orang &#8220;terdepan&#8221; yang sering muncul terkait kasus ini adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), <strong>Bahlil Lahadalia</strong>. Bahkan, beliau sampai langsung menuju Raja Ampat untuk meninjau langsung lokasi pertambangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa pernyataan beliau yang sudah muncul di publik, yang rasanya perlu kita soroti, tapi ini yang paling bikin garuk-garuk kepala:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ada pihak-pihak asing yang tidak senang atau kurang berkenan dengan proyek hilirisasi ini,&#8221; ungkap Bahlil sebagaimana dilansir dari <em>Antara</em>.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, secara tidak langsung Bahlil seolah menuduh masyarakat yang mendengungkan tagar #saverajaampat merupakan antek asing yang tidak suka Indonesia menjadi negara hebat dengan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memahami-apa-itu-hilirisasi-secara-sederhana-melalui-tropico-6/">proyek-proyek hilirisasi yang dicanangkan</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paling halus, Bahlil seolah menuduh kalau kita yang menentang aktivitas pertambangan di Raja Ampat mudah digiring oleh kekuatan-kekuatan asing untuk menghambat kemajuan bangsa melalui hilirisasi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasarnya, kita itu tidak tahu apa-apa, mau saja termakan propaganda asing tanpa bukti yang benar. Apalagi, Bahlil telah turun ke sana dan mendapatkan sambutan dan dukungan yang (katanya) masyarakat sana (walau ia juga sempat disoraki &#8216;penipu&#8217; di bandara).</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pemerintah Tidak Pernah Salah, yang Salah Rakyat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan Bahlil tersebut membuat Penulis merasa <em>dejavu</em> karena rasanya pola seperti ini bukan pertama kali terjadi di era pemerintahan Prabowo Subianto. Setiap ada yang &#8220;oposisi&#8221; terhadap pemerintah dan kebijakannya, tuduhan-tuduhan tak berdasar langsung disematkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak percaya? Coba baca pernyataan Presiden Prabowo berikut ini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Coba perhatikan secara obyektif dan jujur. Apakah demo-demo itu murni atau ada yang bayar? Harus obyektif, dong.&#8221;</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan tersebut muncul saat ramai-rama demo yang menentang pengesahan RUU TNI, yang dikhawatirkan akan membangkitkan dwifungsi ABRI yang telah dimatikan sejak masa reformasi. Ia seolah menuduh bahwa semua orang yang demo itu ditunggangi oleh pihak lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu masih dalam topik antek asing. Masih banyak sekali pernyataan dari pemerintah yang terkesan menyudutkan masyarakat. <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mau-sampai-kapan-kita-dibuat-pusing-oleh-negara/">Masih ingat bagaimana respons pejabat publik saat tagar #indonesia gelap dan #kaburajadulu muncul di internet?</a> Benar-benar bikin kita menarik napas panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapatkan kritik dari seorang profesor, bagaimana respons Presiden Prabowo? </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Sampai sekarang ada profesor-profesor yang pintar-pintar kok nggak setuju. Heran saya. Profesor pintar atau bodoh? Saya nggak tahu itu.”</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Ancaman Nyata untuk Demokrasi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam iklim demokrasi, tentu hal-hal semacam ini berbahaya karena bisa mematikan kebebasan berbicara masyarakat. Setiap yang berbeda dan tidak sejalan oleh pemerintah langsung dimatikan. Tidak ada ruang untuk oposisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, saat ini Presiden Prabowo praktis bisa dibilang tidak memiliki oposisi resmi di kursi, mengingat hampir semuanya mendukung beliau. Jika rakyat pun dilarang menjadi oposisi, lantas siapa yang bertugas mengawasi kinerja pemerintah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis jadi berpikir, <strong>apakah memang pemerintah saat ini selalu merasa dirinya benar, sehingga rakyat yang selalu disalahkan?</strong> Pemerintah kita menolak disebut otoriter, tapi mengapa lagaknya seperti berusaha membungkam setiap suara yang berbeda? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Idealnya, ketika ada kritik atau ketidaksetujuan dari masyarakat, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan harusnya bisa menanggapinya dengan bijak. Beri respons yang menghadirkan solusi, atau minimal bisa menenangkan publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa Penulis merasa komunikasi publik pemerintah sekarang ini terasa sangat kurang, bahkan kadang terasa terlalu angkuh. Apa karena mereka merasa punya posisi yang sangat kuat, sehingga bisa begitu percaya diri dengan pernyataan-pernyataan kontroversial? Entahlah.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Juni 2025, terinspirasi dari ramainya isu pertambangan Nikel di wilayah Raja Ampat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.antaranews.com/berita/4881665/bahlil-menduga-pihak-asing-terlibat-untuk-gagalkan-hilirisasi">Bahlil menduga pihak asing terlibat untuk gagalkan hilirisasi &#8211; Antara</a></li>



<li><a href="https://www.liputan6.com/news/read/6046229/5-pernyataan-menteri-esdm-bahlil-lahadalia-terkait-tambang-nikel-di-raja-ampat?page=5">5 Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Terkait Tambang Nikel di Raja Ampat &#8211; Liputan 6</a></li>



<li><a href="https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/4779319/tinjau-tambang-nikel-di-raja-ampat-teriakan-bahlil-penipu-menggema-di-bandara-sorong">Tinjau Tambang Nikel di Raja Ampat, Teriakan Bahlil Penipu Menggema di Bandara Sorong &#8211; RCTI Plus</a></li>



<li><a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgq3k5gxy21o">Di balik retorika &#8216;waspadai kekuatan asing&#8217; ala Presiden Prabowo Subianto – &#8216;Prabowo adu domba warga dengan warga&#8217; &#8211; BBC</a></li>



<li><a href="https://www.tempo.co/politik/prabowo-kritik-profesor-yang-nyinyir-proyek-makan-bergizi-gratis-1234686">Prabowo Kritik Profesor yang Nyinyir Proyek Makan Bergizi Gratis &#8211; Tempo</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">Pemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ya Udah Sana Pergi</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2022 16:36:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[hormat]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi penggemar Manchester United (MU), Senin minggu ini terasa sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, Cristiano Ronaldo baru saja menjalani sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu jurnalis ternama Inggris, Piers Morgan, dan isinya sama sekali tidak menyenangkan. Dalam wawancara tersebut, ada beberapa poin utama yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana ia mengganggap MU telah mengkhianatinya. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/">Ya Udah Sana Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bagi penggemar <a href="https://whathefan.com/olahraga/ini-mah-setting-an-uefa/">Manchester United</a> (MU), Senin minggu ini terasa sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, <strong>Cristiano Ronaldo</strong> baru saja menjalani sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu jurnalis ternama Inggris, <strong>Piers Morgan</strong>, dan isinya sama sekali tidak menyenangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam wawancara tersebut, ada beberapa poin utama yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana ia mengganggap MU telah mengkhianatinya. Secara khusus, ia menunjuk sang pelatih <strong>Erik ten Hag</strong> yang juga dianggapnya tidak menghormati dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya tidak menghormati dia karena dia tidak menghormati saya,&#8221; kata Ronaldo, &#8220;Beberapa orang, mereka tidak menginginkan saya di sini. Tidak hanya pelatih, tetapi dua atau tiga orang lainnya. Bukan hanya tahun ini, tapi tahun lalu juga.&#8221;</p>





<p class="wp-block-paragraph">Pada tulisan kali ini, Penulis akan mengungkapkan kekecewaannya kepada Ronaldo atas apa yang ia ungkapkan pada wawancara tersebut, dengan segala hormat atas kontribusinya untuk tim selama ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Gila Hormat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6178" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Erik ten Hag dan Ronaldo (<a href="https://news.sky.com/story/cristiano-ronaldo-says-he-feels-betrayed-by-manchester-united-and-has-no-respect-for-erik-ten-hag-12747115">Sky News</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi penggemar MU, jelas ucapan sang megabintang di atas sangat menyakitkan, apalagi jika mengingat bagaimana ia di awal musim menolak untuk ikut pramusim dan tampak ngotot untuk pindah tim karena ingin bermain <a href="https://whathefan.com/olahraga/liga-malam-jumat-rasa-liga-champion/">Liga Champion</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, ia juga sempat bertindak secara tidak profesional dengan meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir ketika MU berhadapan dengan Tottenham Hotspurs. Akibatnya, ia diberi hukuman selama satu minggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pihak klub, ten Hag, dan suporter pun merasa kalau masalah tersebut telah usai, karena pada pertandingan selanjutnya ketika berhadapan dengan West Han. Ia bahkan ditunjuk untuk menjadi kapten ketika melawan Aston Villa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya Ronaldo masih merasa sakit hati atas semua perlakuan yang ia terima dari klub akhir-akhir ini. Serangannya secara langsung ke ten Hag ketika statusnya masih aktif sebagai pemain klub jelas menjadi bukti nyatanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai seorang pelatih, ten Hag maupun pelatih lainnya pasti akan berusaha untuk <em>fair </em>dan tidak memiliki &#8220;anak emas&#8221; yang selalu diistimewakan. Semua harus mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa ada diskriminasi tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ronaldo pun jadi terlihat sebagai sosok yang gila hormat karena menganggap ten Hag dan beberapa orang lain tidak menghargainya. Penulis sendiri tidak bisa membayangkan hormat seperti apa yang ia harapkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah pelatih <a href="https://whathefan.com/olahraga/inilah-alasan-kenapa-maguire-sebaiknya-di-bangku-cadangan-saja/">harus memainkannya di setiap pertandingan</a> walaupun performanya kacau, baru bisa dianggap menghargainya? Jika iya, tampaknya Ronaldo akan kesulitan menemukan orang yang bisa menghargainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Paham Tim</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6179" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Garnacho dan Ronaldo (<a href="https://edition.cnn.com/2022/11/04/football/manchester-united-alejandro-garnacho-cristiano-ronaldo-spt-intl/index.html">CNN</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Serangan Ronaldo tidak berakhir sampai di sana. Ia menyebutkan bahwa <strong>kemajuan dari klub semenjak <a href="https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/">kepergian Sir Alex Ferguson</a> adalah nol</strong>. Selain itu, menurutnya banyak fasilitas di MU yang seharusnya ada justru tidak ada, seperti kolam renang, <em>jacuzzi</em>, dan <em>gym</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini memang ada benarnya, karena prestasi MU cenderung stagnan dan mengalami penurunan yang drastis. Untuk masalah fasilitas klub, Penulis belum pernah ke markas MU sehingga tidak bisa mengonfirmasinya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, seharusnya jika ia menyadari hal tersebut, jika ia memang peduli dengan klub, ia akan melakukan sesuatu untuk membantu klub, apapun perannya. Ketika performa di dalam lapangan buruk, mungkin ia masih bisa membantu di luar lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan segudang prestasi yang telah diraih, Ronaldo bisa menjadi mentor dan contoh yang baik untuk pemain-pemain muda MU seperti Alejandro Garnacho. Sayangnya, ia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan peran tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ronaldo masih bernafsu untuk menjadi pusat permainan, memecahkan berbagai rekor, dan memenangkan sesuatu. Jika ingin berpikiran buruk, ia memang terkesan hanya peduli kepada dirinya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Antikritik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6180" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Rooney dan Ronaldo (<a href="https://talksport.com/football/1243085/wayne-rooney-cristiano-ronaldo-interview-man-united-erik-ten-hag/">talkSPORT</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa lagi yang kena &#8220;semprot&#8221; Ronaldo? Ternyata <strong>Wayne Rooney</strong>, mantan rekannya di klub belasan tahun yang lalu. Kedua pemain memang pernah berseteru di masa mudanya, dan tampaknya hingga saat ini hal tersebut masih membekas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, Rooney sempat memberikan kritik kepada Ronaldo akan sikapnya yang tidak bisa diterima ketika MU melawan Tottenham dan menganggapnya sebagai &#8220;gangguan&#8221; yang tidak diinginkan klub.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain gila hormat, ternyata Ronaldo juga antikritik. Bahkan, ia membalas kritikan tersebut dengan merendahkan Rooney, sebuah sikap yang kekanak-kanakan dan tidak menghormati Rooney sebagai seorang pemain. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya tidak tahu mengapa dia mengkritik saya dengan sangat buruk, mungkin karena dia (telah) mengakhiri karirnya dan saya bermain di level tinggi. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku terlihat lebih baik darinya, itu benar,&#8221; ungkap Ronaldo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironi memang, ketika seorang yang berharap dihargai tidak menghargai orang lain. Mungkin Ronaldo butuh belajar interopeksi diri, menerima kenyataan, dan bisa menghargai orang lain lebih baik lagi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di media sosial, sedang ramai perang antara penggemar Ronaldo melawan <a href="https://whathefan.com/olahraga/jadi-pendukung-manchester-united-itu-harus-ekstra-sabar/">penggemar MU</a>. Penggemar MU menyerang kalau tim tidak bisa menghargai Ronaldo, sedangkan penggemar MU menyerang kalau Ronaldo sama sekali tidak profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya Penulis bersimpati kepadanya, bagaimana <a href="https://whathefan.com/olahraga/drama-ala-cristiano-ronaldo/">Ronaldo</a> di penghujung karirnya harus mengalami hal seperti ini. Sebagai seorang legenda hidup, Penulis berharap kalau ia mendapatkan perlakuan yang lebih baik lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Ronaldonya sendiri terlihat tidak bisa menerima kenyataan kalau <a href="https://whathefan.com/olahraga/mungkin-ronaldo-benar-benar-sudah-habis/">performanya memang sedang jelek</a>. Setiap melihat ia bermain, Penulis benar-benar melihat penurunan kualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan wawancara ini, tampaknya Ronaldo telah membulatkan tekad untuk pindah pada bulan Januari nanti. Penulis sendiri sudah tidak peduli, buat apa berharap ke pemain yang lebih mementingkan egonya sendiri. Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terima kasih Ronaldo, jasamu tidak akan kami lupakan. Namun, mungkin saat ini memang waktumu untuk pergi dari klub. Semoga sukses dengan klub barumu nanti, kalau memang masih ada yang mau menerimamu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 14 November 2022, terinspirasi setelah membaca tentang wawancara Cristiano Ronaldo bersama Piers Morgan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto: <a href="https://youtu.be/B4G3drehG4k">YouTube</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-11423813/Cristiano-Ronaldo-lashes-Erik-Ten-Hag-explosive-interview.html">Daily Mail</a></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/">Ya Udah Sana Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Negara Demokrasi?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/negara-demokrasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/negara-demokrasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2021 11:55:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[oligarki]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4272</guid>

					<description><![CDATA[<p>Serius tanya, benarkan negara kita benar-benar menganut bentuk pemerintahan demokrasi? Yakin bukan bentuk pemerintahan yang lain? Penulis bukan orang yang paham dengan dunia politik. Isme-isme yang ada di dunia pun tidak hafal. Membedakan sosialisme dan komunisme saja tidak bisa. Walaupun begitu sebagai orang awam, Penulis benar-benar bertanya, apakah benar Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-demokrasi/">Negara Demokrasi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Serius tanya, benarkan negara kita benar-benar menganut bentuk pemerintahan <strong>demokrasi</strong>? Yakin bukan bentuk pemerintahan yang lain?</p>
<p>Penulis bukan orang yang paham dengan dunia politik. Isme-isme yang ada di dunia pun tidak hafal. Membedakan sosialisme dan komunisme saja tidak bisa.</p>
<p>Walaupun begitu sebagai orang awam, Penulis benar-benar bertanya, apakah benar Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kalau dari sumber-sumber yang Penulis baca, demokrasi adalah bentuk pemerintahan <strong>di mana semua rakyatnya mendapatkan hak yang sama untuk menentukan hidupnya</strong>.</p>
<p>Pasti ada penjelasan yang lebih <em>njelimet </em>lagi, tapi orang awam seperti Penulis menganggap praktik demokrasi yang paling mudah dipahami adalah Pemilu.</p>
<p>Beda sama eranya Pak Harto yang penuh tekanan, sekarang semua rakyat yang memenuhi syarat<strong> bisa menentukan siapa wakil mereka di parlemen</strong>.</p>
<p>Mau profesor mau pengangguran, suaranya sama. Kita semua bisa memilih wakil yang dianggap terbaik, tapi nama-namanya disodorkan sama partai politik.</p>
<p>Masalahnya,<strong> apa benar mereka benar-benar mewakili rakyatnya</strong>? Apakah mereka lebih mementingkan kepentingan kelompok alias partainya?</p>
<p>Apa jangan-jangan mereka mendahulukan kepentingan orang-orang yang ada di balik layar, yang diam-diam mengendalikan negara ini seperti Willy Tybur mengendalikan Marley?</p>
<p>Konspirasi oh konspirasi!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Harapannya dengan sistem demokrasi, kita bisa dapat pemimpin yang terbaik kan? Yang pilihan rakyat, yang benar-benar memikirkan kebutuhan rakyatnya dibandingkan perutnya sendiri.</p>
<p>Sistem demokrasi seharunya membuat siapapun berkesempatan untuk berbakti kepada negaranya, menjadi pemimpin yang amanah dan dicintai rakyatnya.</p>
<p>Tapi kalau lihat televisi dan berita, kok kayaknya <strong>yang mimpin negara ini ya orang-orang yang itu-itu saja ya</strong>? Malah ada orang dari orde baru yang masih eksis hingga saat ini.</p>
<p>Kok kayaknya negara ini <strong>dikuasai sama kelompok yang itu-itu saja ya</strong>? Itu yang keliatan di layar kaca, yang di balik layar pasti ada lebih banyak.</p>
<p>Kalau negara ini dikuasai kelompok yang itu-itu saja, bukankah lebih cocok kalau negara ini disebut sebagai <strong>negara oligarki</strong>?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Buat yang belum tahu, gampangnya oligarki itu<strong> bentuk pemerintahan yang negaranya dikuasai oleh kelompok elit tertentu</strong>. Bisa dari pihak partai, militer, orang yang berduit, dan sebagainya.</p>
<p><em>Terdengar familiar, kan?</em></p>
<p>Sekarang  kalau bapak atau ibunya pejabat, bisa saja anaknya bakal jadi penerus mereka. Enggak percaya? Anak dan mantu presiden yang sekarang berhasil jadi walikota.</p>
<p>Itu yang sering disorot sama media, yang jarang disorot? Lebih banyak lagi! Kayaknya hampir di semua daerah mengalami problematika yang sama.</p>
<p>Mau memunculkan diri sendiri atau orang lain yang dianggap mampu memimpin, hampir<strong><a href="https://whathefan.com/politik/andai-partai-politik-dibiayai-oleh-negara/"> enggak mungkin kalau enggak punya duit</a> dan dukungan partai politik</strong>!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Demokrasi identik dengan<strong> kebebasan berpendapat</strong>. Apakah di sini seperti itu? Rasanya belum, buktinya banyak yang terjerat UU ITE kalau berseberangan!</p>
<p>Kalau kita <em>ngata-ngatain </em>presiden seperti rakyat Amerika Serikat mengolok-olok Trump, hampir bisa dipastikan kita akan berakhir di balik jeruji.</p>
<p>Jadi coba direnungkan lagi, <strong><em>apa benar negara kita negara demokrasi?</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Januari 2021, terinspirasi dari para &#8220;pemimpin&#8221; di televisi yang kayaknya itu-itu saja orangnya</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-demokrasi/">Negara Demokrasi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/negara-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banjir Jakarta Salah Siapa?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Feb 2020 10:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indonesia tengah dikepung banjir di berbagai daerah. Walaupun yang sering disorot hanya Jakarta, sebenarnya ada banyak titik lain yang juga tidak kalah parah. Kita, seperti biasa, berlomba-lomba mencari kambing hitam yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Kita seolah-olah memiliki pendapat yang pasti benar, sama seperti era Pilpres kemarin. Di sini, Penulis hanya akan menyoroti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">Banjir Jakarta Salah Siapa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia tengah dikepung banjir di berbagai daerah. Walaupun yang sering disorot hanya Jakarta, sebenarnya ada banyak titik lain yang juga tidak kalah parah.</p>
<p>Kita, seperti biasa, berlomba-lomba mencari kambing hitam yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Kita seolah-olah memiliki pendapat yang pasti benar, sama seperti era Pilpres kemarin.</p>
<p>Di sini, Penulis hanya akan menyoroti banjir Jakarta sebagai contoh. Selain karena paling sering diberitakan oleh media, kita juga terlihat sering ribut membahasnya.</p>
<h3>Banjir Jakarta Salah Siapa?</h3>
<p>Siapa yang paling sering disorot karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas &#8220;tenggelamnya&#8221; Jakarta? Siapa lagi kalau bukan gubernurnya.</p>
<p><div id="attachment_3569" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3569" class="size-large wp-image-3569" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3569" class="wp-caption-text">Gubernur dan Banjir (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.rmoljakarta.com/read/2020/02/26/61920/1/Sindir-Jokowi,-Anies-Harus-Jadi-Presiden-Dulu-Agar-Banjir-Jakarta-Tuntas" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjlr4uRx_bnAhWaV30KHTK2Cs0QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">RMOL Jakarta</span></a>)</p></div></p>
<p>Banyak pihak, termasuk lawan politik, menudingnya tidak becus dan tidak serius dalam mengatasi masalah banjir. Hitung saja sudah berapa kali Jakarta banjir dalam tahun 2020.</p>
<p>Mereka pun membandingkannya kinerja gubernur yang sekarang dengan gubernur sebelumnya. Disebutkan beberapa kebijakan lama yang terlihat tidak diteruskan pada kepemimpinan yang sekarang.</p>
<p>Kebijakan-kebijakan yang diambil gubernur untuk mengatasi banjir dianggap tidak solutif. Toa banjir yang anggarannya mencapai milyaran rupiah kerap ditertawakan karena manfaatnya dirasa kurang.</p>
<p>Apalagi, jajaran Pemkot Jakarta juga ngotot untuk tetap menyelenggarakan ajang Formula E yang dijadwalkan pada pertengahan tahun. Gubernur dan jajarannya dianggap tidak peka atas penderitaan korban banjir, apalagi dengan tingginya anggaran yang dikeluarkan.</p>
<p><div id="attachment_3570" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3570" class="size-large wp-image-3570" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3570" class="wp-caption-text">Proses Evakuasi (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://dompetdhuafa.org/id/berita/detail/Banjir-Jakarta-Datang-Lagi-Respon-Cepat-DMC-Terjunkan-Tim-Rescue" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjg0rPGxvbnAhUPeysKHQMvAYgQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Dompet Dhuafa</span></a>)</p></div></p>
<p>Tentu saja pendukung sang gubernur juga memiliki argumen pembelaan. Mereka mengatakan bahwa curah hujan tahun ini memang sangat tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga banjir menjadi tidak terhindarkan.</p>
<p>Mereka juga menilai gubernur dan Pemkot Jakarta telah berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir dampak banjir. Evakuasi dan penyaluran bantuan kepada korban juga terus dilakukan dengan bantuan berbagai pihak.</p>
<p>Ada yang melakukan serangan balik dengan menunjuk presiden. Rupanya masih banyak yang ingat, di tahun 2014 beliau pernah berkata bahwa penanganan banjir di Jakarta akan lebih mudah jika menjadi presiden.</p>
<p><div id="attachment_3571" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3571" class="size-large wp-image-3571" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3571" class="wp-caption-text">Dituduh Jadi Penyebab Banjir (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://voi.id/artikel/baca/3148/pemicu-penggerudukan-aeon-mall-jgc-dan-penindakan-kriminal-kasus-perusakannya" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj7yrLqx_bnAhXZfH0KHbr4D34QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Voi.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Yang netral mengatakan bahwa banjir terjadi karena ulah masyarakatnya sendiri. Sebagai daerah dataran rendah, banyak titik rawa di Jakarta yang berfungsi sebagai wadah penampungan air.</p>
<p>Masalahnya, titik-titik tersebut telah beralih fungsi yang kebanyakan menjadi bangunan properti. Bisa dibayangkan, air yang kehilangan wadah pun harus mencari tempat lain dan menyerang pemukiman warga.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan kebiasaan buruk masyarakat kita yang masih kurang sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan. Para pengembang properti pun kerap mengabaikan hal ini.</p>
<h3>Jadi, Salahnya Siapa?</h3>
<p>Mungkin Gubernur dan para stafnya memang kurang maksimalkan dalam mencegah dan menangani banjir. Jika seperti itu, silakan dikritik sesuai dengan kapabilitas kita. Nanti ketika Pilgub, jangan pilih beliau lagi.</p>
<p>Lawan politik gubernur juga melihat adanya kesempatan untuk menyerang. Bahkan ada anggota partai baru yang mengaitkan hal ini dengan tidak pantasnya sang gubernur untuk menjadi calon presiden di Pemilu 2024 mendatang.</p>
<p>Pemerintah pusat juga terlihat tidak bisa berbuat banyak. Mungkin karena masih dipusingkan dengan berbagai hal lain, termasuk realisasi <a href="https://whathefan.com/politik/analogi-perpindahan-ibu-kota/">pemindahan ibu kota</a>.</p>
<p>Ada juga yang bertindak anarki dengan melakukan perusakan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Alasannya, sebelum bangunan atau blok tersebut dibangun, daerah sekitarnya belum pernah banjir. Bentrokan yang diiringi teriakan rasis pun terjadi.</p>
<p>Bisa dilihat dari tulisan di atas, tidak akan ada habisnya jika kita mencari siapa yang salah dari masalah banjir yang melanda Jakarta dan beberapa daerah lainnya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menurut Penulis, daripada mencari siapa yang salah, lebih baik kita sama-sama mencari solusi dari permasalahan ini. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan masing-masing.</p>
<p>Mungkin ada yang merasa bisa mengatasi banjir sehingga berambisi untuk masuk ke dalam pemerintahan. Sekadar mengumpulkan donasi untuk korban bencana pun termasuk berbuat sesuatu.</p>
<p>Penulis sendiri tidak bisa berbuat banyak. Paling <em>banter </em>cuma bisa berdoa dan menjaga lingkungan sekitarnya, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik.</p>
<p>Yang jelas, banjir di Jakarta dan beberapa tempat lainnya adalah masalah kita bersama. Sudah seharusnya kita saling bergandeng tangan untuk mengatasi masalah ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi dari masifnya berita banjir Jakarta</p>
<p>Foto: <a href="https://voi.id/artikel/baca/3065/anies-dan-ironi-banjir-jakarta">Voi.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">Banjir Jakarta Salah Siapa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 15:28:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[elit politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=557</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &#38; Etika Media tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut. Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku <strong>Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media </strong>tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut.</p>
<p>Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus Dur dan pers. Bab ini menarik sekali karena beberapa poin.</p>
<p>Pertama, pers yang sangat aktif sekali dalam memberi kritik kepada presiden keempat Republik Indonesia tersebut. Jika kita menengok ke belakang, hal ini bisa dimaklumi.</p>
<p>Setelah mengalami pembatasan oleh orde baru, media diberi kebebasan ketika Habibie, yang menggantikan Soeharto sebagai presiden, dengan menggunakan UU Kebebasan Pers pada tahun 1999. Bisa membayangkan, bagaimana jika ada sesuatu yang lama di dalam sangkar tiba-tiba dibebaskan?</p>
<p>Begitulah, presiden-presiden di awal reformasi sangat gencar diserang oleh pers, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan ketika Orde Baru. Terutama Gus Dur yang seringkali dianggap kontroversial (seperti mengeluarkan dekrit untuk membubarkan DPR).</p>
<p>Gus Dur pun sering diterpa isu negatif, seperti Bulogate dan Bruneigate yang hingga kini tidak terbukti kebenarannya.</p>
<p>Ketika berganti presiden ke era Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, awak media masih berada di dalam semangat kebebasan pers, walaupun anginnya tak sekencang seperti ke arah Gus Dur. Perannya sebagai pilar keempat demokrasi bisa dibilang membaik jika dibandingkan ketika jaman Soeharto.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa sekarang media terkesan berbalik 180 derajat? Jika penulis melihat media-media baik online maupun televisi, mayoritas memberitakan berita yang baik-baik saja tentang pemerintah (semoga saja penulis salah).</p>
<p>Apakah memang pers sekarang sudah tidak kritis lagi? Apakah memang pers sekarang melindungi kepentingan pemerintah? Ataukah memang pemerintah tidak punya celah untuk dicela oleh pers?</p>
<p>Patutkah kita curiga terhadap pers akan seperti dulu lagi, hanya memberitakan kebaikan pemerintah dan menutup rapat-rapat kekurangannya? Patutkah kita curiga bahwa pers memprioritaskan kepentingan pemilik dibandingkan kebenaran? Patutkan kita curiga media dikuasai elit politik sehingga berita yang tayang adalah berita yang membuat mereka senang?</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/">http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beropini Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 08:27:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Masa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi. Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi.</p>
<p>Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan mereka. Siapa yang tidak mau menjadi corong, harus siap-siap dicabut izin penerbitannya oleh Kementerian Penerangan.</p>
<p>Semenjak reformasi, keran berpendapat mulai terbuka kembali. Media-media yang dulunya dibredel dipersilahkan untuk beroperasi kembali. Undang-undang mengenai kebebasan pers disahkan, kalau tidak salah di jaman presiden Habibie. Media pun bisa membuat berita tanpa harus menunggu petunjuk bapak presiden,</p>
<p>Kita, termasuk media, harus berterima kasih kepada mahasiswa dan para aktivis, yang dengan berbagai upaya, berhasil menggoyahkan kursi presiden Soeharto, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998 ketika beliau mengumumkan pengunduran dirinya.</p>
<p><strong>Media Sebagai Pengkritik Presiden</strong></p>
<p>Karena kebebasan pers dilakukan, maka banyak hal yang bisa dilakukan oleh media, termasuk mengkritik kebijakan presiden. Mungkin yang paling terasa adalah ketika lengsernya Gus Dur sebagai presiden. Media tidak akan segan mem-<em>blow up</em> berita-berita yang menyudutkan Gus Dur. Ini tidak akan mungkin terjadi ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya berkuasa.</p>
<p>Begitu pula presiden-presiden selanjutnya, tidak akan lepas dari pemberitaan negatif dari media. Sebagai pilar demokrasi keempat, memang sudah seharusnya media menjadi penyalur informasi antara pemerintah dengan rakyatnya, baik dan buruknya.</p>
<p>Oleh karena itu, akan menjadi pertanyaan besar apabila media hanya memberitakan kebaikan pemerintah saja, seolah mengulang dosa di masa Orde Baru, tanpa memberitakan kekurangan pemerintah yang sejatinya bisa dijadikan pondasi untuk menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Menjadi Viral Agar Di Dengar</strong></p>
<p>Sudah 20 tahun semenjak reformasi, tentu banyak hal yang berubah, termasuk media sebagai lahan untuk beropini. Di era teknologi seperti sekarang, mengeluarkan pendapat lebih sering dituangkan dalam media sosial ketimbang melalui media cetak. Menulis <em>tweet </em>tentu lebih cepat dan praktis jika dibandingkan mengirimkannya ke media cetak agar termuat di koran.</p>
<p>Menjadi viral di media sosial juga bisa sarana yang efektif untuk beropini agar di dengar oleh pemerintah. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa presiden BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi. Agar menjadi perhatian, baik pemerintah maupun rakyat, ia melakukan aksi yang tidak biasa.</p>
<p>Hal itu terbukti efektif. Beberapa <em>headline </em>memberitakan aksi tersebut dan menautkannya dengan berbagai topik yang terkait. Mungkin saja saya yang kurang membaca referensi, namun berita yang saya baca lebih banyak menyinggung sisi negatifnya, seperti ucapannya ketika di acara Mata Najwa tentang siapa yang memanfaatkan jalan tol, ataupun etikanya yang dianggap mencoreng muka Universitas Indonesia.</p>
<p>Hampir tidak saya temukan berita dengan <em>headline </em>seperti &#8220;kebangkitan mahasiswa dalam beropini&#8221; atau sebagainya. Saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa jaman sekarang kurang bersuara laiknya mahasiswa di penghujung 90an. Bukankah ini seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan peran mahasiswa sebagai <em>agent of change</em>?</p>
<p><strong>Kembali ke Masa Orba?</strong></p>
<p>Dengan adanya kebebasan berpendapat, sesuatu yang kita dapatkan setelah banyak darah tumpah demi menuntut rezim turun, tentu membuat ruang untuk diskusi terbuka lebar. Kita tidak perlu takut lagi diculik agar suara kita dibungkam.</p>
<p>Atau itukah yang sedang terjadi sekarang? Beberapa orang secara misterius terluka bahkan tewas di tangan orang-orang yang, bagi sebagian orang, hanya rekayasa kelompok tertentu. Mulai dari Novel Baswedan, ahli IT Hermansyah, hingga ustad yang dipukuli oleh &#8220;orang gila&#8221;.</p>
<p>Benarkah beropini di era sekarang lebih bebas dibandingkan dengan jaman Orde Baru? Atau secara terselubung, kebebasan kita mulai dibatasi kembali? Bahkan dalam penerbitan penelitian saja, berdasarkan kata Rocky Gerung, harus membutuhkan ijin dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut saya, ini seperti peran Kementerian Penerangan di jaman Orba yang lama dipegang oleh Harmoko.</p>
<p>Akankah kita kembali ke era Orde Baru? Ataukah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan?</p>
<p><strong>Menentukan Sikap Sebagai Seorang Rakyat</strong></p>
<p>Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, kita sebagai rakyat seharusnya bisa melihat kinerja pemerintah secara obyektif, seperti pada tulisan saya yang berjudul <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/"><em>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</em></a>. Beri apresiasi ketika meraih prestasi, kritik jika masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Hanya karena kita menjadi pendukung tokoh tersebut, bukan berarti kita harus menutup mata atas segala kesalahannya. Memberi kritik yang membangun merupakan bentuk dukungan yang sejati. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa kita, merupakan bentuk penyampaian opini yang <em>extraordinary</em> agar mereka di dengar.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan memberikan kritik, selama diutarakan secara santun dan beretika. Begitu pula yang dikritik, alangkah lebih baik jika kritik tersebut dijadikan bahan sebagai interopeksi diri dan membuka diri untuk perbaikan. Bukannya marah karena merasa dihina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Secara tidak sengaja, tulisan ini bersamaan dengan Hari Pers Nasional. Jadi, selamat Hari Pers Nasional!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2018, setelah mendesain ulang website kodingdong.com</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion">https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
