Connect with us

Olahraga

Merindukan Sentuhan Sir Alex

Published

on

Beberapa tahun terakhir ini, menjadi seorang penggemar Manchester United (MU) terasa sangat berat. Semenjak kepergian Sir Alex, rasanya tidak ada pelatih yang mampu menggantikan sentuhan midasnya.

Akibatnya, banyak fans (termasuk penulis) berusaha mengobati luka tersebut dengan mengingat kembali prestasi-prestasi yang pernah diraih di masa lalu, terutama ketika Sir Alex masih menukangi Setan Merah.

Kenapa Suka dengan Manchester United?

Penulis menyukai sepakbola sejak Piala Dunia 2002. Kalau tidak salah, pertandingan pertama yang penulis tonton adalah Brazil melawan Kosta Rika yang berakhir dengan skor 5-2.

Gara-gara itu, penulis mulai mencari klub sepakbola yang akan disukai. Untungnya, adalah tabloid Bola dan Soccer sebagai referensi. Apalagi, terkadang ayah membawakan majalah Bolavaganza bekas.

Penulis pun melihat masing-masing liga dan memilih klub yang sedang bertengger di posisi pertama. Ketika melihat klasemen Liga Inggris, Manchester United sedang menjadi pemuncak klasemen. Karena itulah penulis menjadikan klub tersebut sebagai klub favorit.

Cara yang sama penulis gunakan untuk menjadi pendukung Real Madrid (Spanyol) dan Inter Milan (Italia), walau yang disebut pertama sudah tidak terlalu didukung karena kejadian pengusiran Iker Casillas secara kurang ajar.

Mengamati sepak terjang MU selama belasan tahun tentu membuat penulis jadi ikut memperhatikan sang pelatih, Sir Alex Ferguson.

Awal Kelam Sir Alex

Awal Bergabung (Bleach Reporter)

Sir Alexander Chapman “Alex” Ferguson menukangi Manchester United sejak tahun 1986. Debut pertandingannya tidak mulus karena harus mengalami kekalahan 0-2 dari klub Oxford United.

Salah satu tudingan kekalahan tersebut adalah kondisi klub yang sedang tidak sehat. Banyak pemain andalannya mengalami masalah kebugaran karena kegemarannya menenggak minuman keras.

Sir Alex pun langsung menerapkan disiplin ketat yang akan ia pertahankan di tahun-tahun berikutnya. Walaupun begitu, ia tak mampu mengangkat klubnya dan hanya berhasil finish di posisi 11 pada tahun tersebut.

Sempat menjadi runner-up di bawah Liverpool pada musim berikutnya, MU kembali harus berada di peringkat 11 pada musim 1988-1989.

Bahkan di musim 1989-1990, klub ini terancam degradasi hingga muncul tuntutan untuk memecat sang pelatih. Untungnya pada musim tersebut, MU berhasil mendapatkan trofi Piala FA, trofi pertama yang berhasil didapatkan oleh Sir Alex.

Sir Alex pun menyadari bahwa ia harus membeli pemain yang tepat. Beberapa legenda pun direkrut seperti Mark Hughes, Paul Ince, hingga Peter Schmeichel. Perlahan tapi pasti, Sir Alex sedang membawa MU menuju era keemasannya.

Era Premier League dan Class of ’92

Class of ’92 (Irish Times)

Mulai musim 1992-1993, format liga Inggris berubah menjadi Premier League. Manchester United dan Sir Alex berhasil menjadi pemenang di edisi perdana setelah musim-musim buruk yang sudah mereka lalui.

Musim inilah Manchester United mulai menunjukkan dominasinya di Liga Inggris. Trofi perdana di bawah asuhan Sir Alex adalah trofi Liga Inggris kedelapan yang berhasil didapatkan. Ketika Sir Alex pensiun, jumlahnya sudah berubah menjadi 20!

Salah satu penyebab kebangkitan MU adalah munculnya Class of ’92 yang diisi oleh pemain akademi berbakat seperti Paul ScholesGary NevilleNicky Butt, dan David Beckham setelah sebelumnya Ryan Giggs melakukan debut terlebih dahulu.

Mereka inilah yang menjadi tulang punggung klub bersama dengan pemain-pemain senior seperti Eric Cantona, Roy Keane, hingga Bryan Robson. Pada saat yang sama, mereka juga mulai melepas pemain-pemain senior lainnya seperti Mark Hughes dan Paul Ince.

Kedalaman klub di tahun 90-an juga cukup menjanjikan, di mana Sir Alex merekrut beberapa pemain seperti Ole Gunnar Solskjaer, Teddy Sheringham, Jaap Stam, hingga Dwight Yorke.

Puncak keberhasilan MU adalah ketika berhasil meraih treble winners pada musim 1998-1999, setelah kemenangan dramatis melawan Bayern Munich di mana mereka mencetak dua gol saat injury time.

Treble winners inilah yang membuat Alex Ferguson mendapatkan gelar Sir sekaligus menjadi penanda MU akan menjadi salah satu kekuatan sepakbola terbesar yang pernah ada.

Dominasi Premier League dan Pensiunnya Sir Alex

Salah Satu Skuad Terbaik (Pinterest)

Karena baru mengenal sepakbola sejak tahun 2002, baru pada periode 2000-an lah penulis benar-benar mengetahui pemain-pemain Manchester United.

Setelah mendapatkan treble, MU mendatangkan sejumlah pemain seperti Ruud van Nisterlooy dan Fabien Barthez. Sempat mengalami musim buruk karena kepergian Jaap Stam, Sir Alex mendapatkan Rio Ferdinand dari Leeds United.

Sir Alex juga sempat dikabarkan akan pensiun karena klub mengalami penurunan prestasi. Untungnya, niat tersebut dibatalkan dan Sir Alex masih menjadi pelatih MU hingga musim 2012/2013.

Banyak kontroversi yang terjadi pada tahun 2000-an. Yang paling heboh tentu tendangan sepatu Sir Alex yang mengenai pelipis Beckham. Insiden ini yang ditenggarai sebagai penyebab kepergian sang legenda ke Real Madrid.

Untuk menggantikan peran Beckham, Sir Alex merekrut pemain muda yang bermain untuk Sporting Lisbon, Christiano Ronaldo. Sir Alex juga mendatangkan pemain muda berbakat dari Everton, Wayne Rooney.

Bisa dibilang, tahun 2003 hingga 2006 merupakan musim yang sulit bagi MU karena gagal mendapatkan gelar Premier League. Salah satu alasannya adalah tahun-tahun tersebut merupakan tahun-tahun transisi dari generasi emas ke generasi baru.

Sir Alex berusaha mencari pemain-pemain pengganti yang tepat. Oleh karena itu, ia mendatangkan Edwin van der Saar, Patrick Evra, Park Ji SungNemanja Vidic, hingga Michael Carrick.

Setelah itu, MU berhasil memenangkan beberapa trofi Premier League lagi dan trofi Liga Champion yang kedua. Pada musim 2012/2013, Sir Alex mengumumkan keputusan pensiunnya.

Manchester United Pasca Sir Alex

David Moyes (Premier League)

Pengganti pertama Sir Alex adalah David Moyes yang mendapat julukan The Choosen One karena Sir Alex sendiri yang memberikan rekomendasi.

Sayang, ia gagal menunjukkan penampilan yang impresif sehingga diganti pada tengah musim dan digantikan oleh Ryan Giggs untuk sementara waktu.

Selanjutnya MU merekrut Louis van Gaal dan Ryan Giggs menjadi asisten pelatih. Sekali lagi, van Gaal gagal menunjukkan MU seperti zaman Sir Alex sehingga posisinya digantikan oleh Jose Mourinho.

Nama besar Mourinho tidak cukup membawa MU meraih masa kejayaannya kembali sehingga ia pada akhirnya juga diberhentikan di tengah musim dan digantikan oleh Ole Gunnar Solkjaer hingga sekarang.

Setelah Sir Alex pensiun, MU hanya berhasil meraih 2 Piala Community Shield (David Moyes dan Jose Mourinho), 1 Piala FA (Louis van Gaal), 1 Piala Europe League (Jose Mourinho), dan 1 League Cup (Jose Mourinho). Belum ada trofi Premier League lagi hingga sekarang.

Penutup

Jika ditanya pemain favorit, mungkin penulis akan menyebutkan nama David Beckham, Ruud van Nisterlooy, Park Ji Sung, hingga Edwin van der Saar.

Pemain-pemain tersebut menjadi bukti kejeniusan Sir Alex dalam menemukan pemain yang tepat untuk klubnya, sesuatu yang rasanya sukar dilakukan sekarang.

MU juga kerap menjadi bahan bully akibat performanya yang jeblok sehingga dianggap sebagai klub dagelan. Menjadi fans MU merupakan sesuatu yang berat di masa-masa sulit ini.

Salah satu penyebab utama dari kejatuhan ini adalah belum adanya pengganti Sir Alex yang tepat. Tidak ada lagi Fergie Time ataupun teriakan yang begitu keras hingga seperti hair dryer.

Entah sampai kapan MU akan seperti ini. Penulis, sebagai penggemar MU, berharap akan datang pelatih yang setidaknya mampu mendekati sentuhan ajaib Sir Alex dalam membawa timnya menuju kejayaan.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2019, terinpsirasi dari performa MU yang makin lama makin mengecewakan.

Foto: Bleacher Report

Olahraga

Ketika Kondisi Pemain Tak Jadi Pertimbangan dalam Bisnis Sepak Bola

Published

on

By

Ada yang menarik dari dunia sepak bola. Carlo Ancelotti, pelatih Real Madrid yang baru membawa klubnya juara Liga Champions untuk ke-15 kalinya, mengungkapkan bahwa timnya tidak akan berpartisipasi pada Piala Dunia Antarklub.

“FIFA bisa melupakan hal itu. Para pesepak bola dan klub tidak akan berpartisipasi dalam turnamen itu. Satu pertandingan di Madrid bernilai €20 juta dan FIFA ingin memberikan angka itu untuk seluruh turnamen: negatif. Seperti kami, beberapa klub akan menolak undangan tersebut.”

Namun, tak lama kemudian pihak Real Madrid mengklarfikasi ucapan tersebut dan menyatakan bahwa mereka akan tetap menjadi peserta turnamen tersebut. Ancelotti sendiri akhirnya juga membuat klarifikasi, dengan mengatakan bahwa pernyataannya “tidak ditafsirkan seperti yang saya maksudkan.”

Terlepas dari kehebohan yang diakibatkan oleh Ancelotti, Penulis memang ingin menyorot tentang bisnis sepak bola yang semakin berorientasi kepada uang dibandingkan kondisi pemain. Hal ini bisa terlihat dari format-format baru turnamen populer sepak bola.

Format Baru Turnamen-Turnamen Sepak Bola

Liga Champion akan Memiliki Format Baru (UEFA)

Selama ini, kita sudah familiar dengan format Liga Champion yang mempertandingkan 32 tim dari seluruh penjuru Eropa yang dibagi menjadi ke dalam 8 grup. Juara dan runner-up dari masing-masing grup akan lolos ke babak Playoff, dari 16 besar hingga final. Sesederhana itu.

Piala Dunia Antarklub juga sederhana, di mana perwakilan masing-masing zona akan mengirimkan satu perwakilannya. Turnamen ini memang kerap dipandang sebelah mata, mengingat kebanyakan juaranya berasal dari perwakilan Eropa.

Nah, mulai musim depan, format dari turnamen-turnamen ini akan dirombak habis-habisan. Kita mulai dari Liga Champion, yang jumlah pesertanya akan bertambah dari 32 menjadi 36 tim. Selain itu, semua tim akan dijadikan satu grup besar, tidak lagi dibagi menjadi 8 grup.

Lalu, masing-masing klub akan berhadapan dengan 8 lawan yang berbeda, di mana 4 pertandingan dilakukan secara Home dan 4 pertandingan secara Away. Pemilihan tim akan dilakukan secara acak melalui sistem pot.

Peringkat 1-8 akan otomatis lolos ke babak 16 besar, sedangkan peringkat 9-24 akan menjalani Playoff dengan sistem dua leg untuk menentukan 8 tim sisanya. Selain itu, tidak akan ada lagi tim dari Liga Champion yang akan turun ke Europe League.

Dengan format ini, maka jumlah pertandingan di Liga Champion akan meningkat pesat dari 125 pertandingan satu musim menjadi 189 pertandingan. Menurut hitungan Penulis, satu tim bisa melakoni hingga 19 laga dalam satu musim.

Piala Dunia Antarklub pun berubah total dengan menggunakan format lama Liga Champion. Artinya, dalam satu piala dunia akan ada 32 tim yang akan bertanding. Eropa kebagian jatah paling banyak dengan 12 tim, disusul Amerika Selatan (6), Amerika Utara dan Tengah (5), Asia (4), Afrika (4), dan Oseania (1).

Jangan lupa, Piala Dunia edisi 2026 pun akan mengalami perubahan format dengan diikuti oleh 48 negara. Seluruh peserta akan dibagi ke dalam 12 grup berisi 4 tim. Juara, runner-up, serta 8 tim peringkat 3 terbaik akan lolos ke babak 32 besar hingga ke babak final.

Potensi Cedera Pemain yang Makin Besar

Pemain Jadi Makin Rawan Cedera (Bloomberg)

Mungkin bagi penonton sepak bola seperti Penulis, lebih banyak pertandingan sepak bola akan menyenangkan. Namun, Penulis jadi kepikiran mengenai nasib para pemain yang seorang dikuras habis-habisan tenaganya demi bisnis bernama sepak bola ini.

Dengan format yang sekarang saja, fenomena badai cedera seolah sudah menjadi hal yang lumrah. Lihat saja Manchester United yang mendapatkan lebih dari 60 kasus cedera musim ini. Real Madrid pun sempat kehilangan semua bek tengahnya.

Tentu dengan semakin banyaknya pertandingan yang harus dijalani pemain setiap musimnya, potensi cedera pun menjadi semakin tinggi karena tenaga pemain menjadi terlalu diforsir. Mau main rotasi pun susah jika banyak pemain yang tidak tersedia.

Sekali lagi, Manchester United menjadi contoh yang bagus di sini. Hampir di setiap pertandingan, mau di Liga Inggris, Liga Champion, atau FA Cup, komposisi pemain yang diturunkan Ten Hag mirip-mirip karena memang tidak ada pemain lain yang bisa diturunkan.

Apakah pihak klub jadi harus menganggarkan dana lebih agar memiliki roster pemain yang tebal di klubnya? Rasanya sulit, mengingat harga pemain makin ke sini inflasinya makin gila-gilaan. Dompet klub bisa jebol jika harus menambah jumlah pemain agar pelatih bisa melakukan rotasi dengan lancar.

Mungkin pihak UEFA atau FIFA bisa berkelit dengan mengatakan ini-itu, tapi para penggemar bola rasanya tahu kalau alasan utama dari perubahan-perubahan format ini ujung-ujungnya ya perkara duit.

Logika sederhana yang paling gampang terlihat, dengan lebih banyaknya pertandingan yang tersaji, maka nilai sponsor yang masuk otomatis akan menjadi lebih besar karena produk mereka akan lebih sering muncul.

Penulis tidak tahu bagaimana para pemain menanggapi bertambahnya jumlah pertandingan yang harus mereka lakoni dalam semusim. Mungkin mereka happy-happy saja, apalagi kalau yang makan gaji buta seperti Neymar di Al-Hilal.

Namun, bagi para penggemar sepak bola, kekhawatiran tentang lebih mudahnya pemain cedera menjadi concern utama. Penulis sendiri sudah merasakan bagaimana badai cedera menghantam tim favoritnya hingga performanya menjadi amburadul.

Semoga saja kekhawatiran tersebut tidak benar-benar terjadi. Mengingat musim depan adalah pertama kalinya format baru turnamen akan diterapkan, kita akan melihat apakah format tersebut akan membuat pemain jadi lebih mudah cedera atau tidak.


Lawang, 10 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat kompetisi sepak bola yang semakin banyak sehingga berpotensi membuat pemain sering mengalami cedera

Foto Featured Image: University of Huddersfield

Sumber Artikel:

Continue Reading

Olahraga

Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus

Published

on

By

Musim sepak bola 2023/2024 “resmi” berakhir dengan pertandingan final Liga Champion yang mempertemukan antara Real Madrid melawan Borussia Dortmund. Madrid kembali mengukuhkan dirinya sebagai raja Eropa dengan menang 2-0 dan memperoleh gelar ke-15.

Penulis sendiri awalnya berharap kalau Dortmund yang juara karena merasa bosan Madrid terus yang juara. Namun, beberapa hari sebelum pertandingan, mereka justru menjalin kontrak dengan Rheinmetall, perusahaan manufaktur senjata Jerman.

Kontroversinya bukan hanya karena klub dengan jersey kuning-hitam tersebut menjalin kerja sama dengan pabrik senjata, melainkan karena Rheinmetall diketahui sebagai salah satu penyuplai senjata untuk Israel.

Sebenarnya Real Madrid sendiri juga disponsori oleh HP, merek teknologi asal Amerika Serikat yang juga menyuplai berbagai teknologi untuk kebutuhan Israel. Jadi, sebenarnya sama saja dengan Dortmund, sehingga Penulis tidak memberikan dukungan untuk kedua tim.

Pada tulisan kali ini, Penulis lebih ingin menyorot dua pemain legend yang memutuskan untuk meninggalkan klubnya masing-masing. Toni Kroos dari Madrid memutuskan untuk gantung sepatu, sedangkan Marco Reus dari Dortmund akan pindah di akhir musim.

Kok Bisa ya Real Madrid Jago Banget di Eropa?

Jago Banget (Euronews)

Pertandingan final semalam sebenarnya bisa dibilang cukup membosankan karena Real Madrid cenderung bermain awal sepanjang 70 menit awal pertandingan. Bahkan, Penulis sampai sempat tertidur karena saking bosannya.

Di babak pertama, Dortmund sebenarnya sempat membuat beberapa peluang berbahaya ke gawang Madrid. Sayangnya, finishing dari pemain-pemainnya tidak tenang dan beberapa kali apes karena menyentuh tiang gawang.

Mungkin pemain Dortmund cukup nervous karena sudah lama tidak bertanding di final Liga Champion. Terakhir kali mereka bermain di final adalah di musim 2012/2013, ketika mereka berhadapan dengan Bayern Munich.

Kalau para pemain Madrid sendiri, jangan diragukan lagi mental juara Eropa-nya. Tidak hanya berhasil menjadi juara sebanyak 15 kali, Madrid juga berhasil mendominasi Liga Champion dengan menjadi juara 6 kali dari 11 tahun terakhir.

Selain itu, sejak format Liga Champion berubah pada musim 1992/1993, Madrid juga selalu menang jika lolos ke babak final, dengan total sembilan kali kemenangan. Sepanjang sejarahnya, Madrid hanya kalah tiga kali kalah dari 18 partisipasinya di final.

Tentu fakta ini membuat banyak penggemar sepak bola bertanya, “Kok, bisa, ya, Real Madrid jago banget di Eropa?” Mungkin haters Madrid akan menyebut kalau raihan tersebut bisa diperoleh karena Madrid kerap dibantu wasit, hingga dijuluki sebagai Vardrid.

Namun, menurut Penulis memang harus diakui kalau Madrid adalah salah satu tim sepak bola terbaik di dunia. Kedalaman skuadnya musim ini saja sangat luar biasa, hingga sang pelatih tidak perlu pusing jika pemainnya ada yang cedera.

Carlo Ancelotti, pelatih yang kerap disebut miskin taktik, berhasil membuktikan kalau dirinya adalah pelatih tersukses di Eropa dengan raihan lima trofi Liga Champion. Dua ketika ia melatih AC Milan, tiga ketika ia melatih Real Madrid.

Selain itu, Toni Kroos, Dani Carvajal, Luka Modric, dan Nacho menjadi pemain pertama yang berhasil meraih enam trofi Liga Champion, mengalahkan Cristiano Ronaldo (5) dan Lionel Messi (4).

Raihan Kroos sedikit lebih istimewa dibandingkan rekan-rekan lainnya, mengingat ia meraih milestone tersebut bersama dua klub yang berbeda (Bayern Munich di musim 2012/2013). Tentu trofi ini menjadi kado manis untuk Kroos, di mana pertandingan final ini akan menjadi pertandingan terakhirnya untuk Madrid.

Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus

Legenda Madrid (beIN SPORTS)

Bagi Penulis, Toni Kroos adalah salah satu gelandang sepak bola terbaik sepanjang sejarah. Posisinya sebagai pemain tengah membuatnya kerap membuat umpan-umpan indah yang kadang terasa tak masuk akal.

Usianya sendiri baru menginjak 34 tahun, sehingga keputusannya untuk gantung sepatu beberapa waktu lalu cukup mengejutkan Penulis. Tampaknya, sama seperti Phillip Lahm dari Bayern Munich, Kross ingin pensiun ketika sedang berada di puncak kariernya.

Kroos sendiri pindah ke Madrid dari Bayern Munich pada tahun 2014. Sepanjang kariernya di klub tersebut, ia telah mencatatkan 28 gol dan 98 assist di semua turnamen. Semua gelar yang bisa ia raih bersama klub telah berhasil ia raih.

Euro 2024 akan menjadi panggung terakhirnya di dunia sepak bola. Mengingat trofinya sudah hampir lengkap dan menyisakan Euro, tampaknya Kroos menargetkan juara di turnamen Eropa tersebut untuk menambah kado perpisahannya dengan sepakh bola.

Di sisi lain, kekalahan ini menjadi kado yang pahit untuk Marcus Reus, yang usianya lebih tua satu tahun dari Kroos. Di musim terakhirnya bersama Dortmund, ia gagal mempersembahkan satu trofi pun untuk klub yang sudah dibelanya sejak 2012 tersebut.

Padahal, Reus dikenal sangat loyal kepada Dortmund. Ketika kawan-kawannya satu per satu meninggalkan tim seperti Mario Gotze hingga Robert Lewandowski (yang bahkan pindah ke klub rival), Reus tetap setia bertahan.

Berbeda dengan Kroos, Reus juga tidak dipanggil oleh timnas, sehingga musim ini semakin terasa pahit untuknya. Memang cukup disayang pemain seberbakat Reus harus lebih sering berkutat dengan cedera di kariernya.

Hingga saat ini, belum diketahui akan pindah ke mana Reus musim depan. Melansir dari The Atletics, ia dirumorkan akan pindah ke MLS dan bergabung dengan St. Louis City. Ada beberapa klub dan liga lain yang disebut, tapi kita hanya bisa menunggu sampai ada pengumuman resmi.

Yang jelas, Kroos dan Reus telah mendapatkan “kado perpisahannya” masing-masing, walaupun berbeda rasa. Kedua pemain Jerman ini adalah legenda hidup sepak bola, yang telah memberikan performa terbaik mereka selama bertahun-tahun.

Selamat pensiun Kroos, dan selamat menjalani petualangan baru untuk Reus!


Lawang, 2 Juni 2024, terinspirasi setelah Real Madrid berhasil menjadi juara Liga Champion 2023/2024

Foto Featured Image: X

Sumber Artikel:

Continue Reading

Olahraga

Akhirnya Charles Lelcrec Berhasil Pecahkan Kutukan Monaco

Published

on

By

Formula 1 (F1) musim ini terasa lebih seru dibandingkan musim kemarin yang di mana Red Bull terlalu mendominasi. Setelah kemenangan perdana Lando Norris di GP Miami, kemarin (26/5) Charles Lelcrec berhasil menang di GP Monaco untuk pertama kalinya.

Dua kemenangan tersebut menjadi momentum yang menarik di F1 musim ini. Setelah sebutan “Lando NoWins” akhirnya gugur, kini “Lelcrec Curse” di GP Monaco pun akhirnya hilang. Tentu menarik untuk dinanti akan ada momentum apa lagi di balapan-balapan selanjutnya.

Namun, di balik kemenangan mengharukan yang berhasil diraih oleh Lelcrec, ada balapan yang begitu membosankan dan penurunan performa Red Bull yang diakibatkan oleh berbagai konflik internalnya. Penulis akan membahasnya pada tulisan kali ini.

Kemenangan Perdana Lelcrec di Balapan Monaco yang Membosankan

Balapan GP Monaco beberapa tahun terakhir selalu meninggalkan kesan membosankan. Pasalnya, lebar sirkuit yang sempit sudah tak sebanding dengan mobil F1 yang makin besar. Alhasil, overtake pun menjadi sulit dilakukan oleh para pembalap.

Hal tersebut juga kembali terbukti di edisi tahun ini, kecuali di lap pertama saja yang memiliki banyak insiden. Sergio Perez harus mengalami insiden hebat dengan dua pembalap Haas, sehingga balapan harus dihentikan cukup lama karena banyaknya serpihan di sirkuit.

Tidak hanya itu, masih ada dua insiden yang terjadi di lap pertama, yakni Carloz Sainz Jr. yang mengalami lock up dan tabrakan sesama pembalap Alpine yang menyebabkan Esteban Ocon juga harus rehat lebih awal di balapan ini.

Ketika balapan kembali dimulai sekitar pukul 20:44 WIB, praktis penonton disuguhi balapan yang monoton karena hampir semua pembalap menggunakan pit gratis ketika Red Flag di awal balapan, sehingga tidak ada lagi tim yang pit di sisa lap.

Bahkan, ada yang beranggapan bahwa balapan GP Monaco kemarin hanyalah formation lap sebanyak 78 lap saja, karena susunan pembalap dari awal tidak banyak yang berubah hingga finis. Apalah arti balap F1 tanpa adanya aksi overtake yang mendebarkan?

Untungnya, pembalap asli Monaco Charles Lelcrec berhasil menjadi juara setelah sejak tahun 2017 kerap mengalami ketidakberuntungan di sirkuit ini. Bahkan, ia dianggap kena kutukan karena kerap tidak finis atau mengalami kesalahan strategi ketika balapan di sirkuit ini.

Padahal, sebelumnya Lelcrec telah dua kali berhasil meraih pole position, di mana peluang untuk menang jika start dari grid depan sangatlah besar. Baru di musim inilah ia berhasil mengonversi pole position tersebut menjadi kemenangan.

Kemenangan Lelcrec menjadi lebih istimewa jika mendengar cerita masa lalunya, di mana ia terpaksa berbohong kepada ayahnya yang telah mendekati ajal kalau ia telah berhasil mendapatkan kursi di F1 di tahun 2017.

White lie tersebut ia lakukan untuk menyenangkan ayahnya, yang sebenarnya tidak salah karena di tahun 2018 ia akhirnya berhasil debut bersama Alfa Romeo (sekarang Kick sauber). Akan tetapi, butuh 6 tahun untuk akhirnya bisa juara di rumah sendiri.

Red Bull yang Sedang Tidak Baik-baik Saja

Representasi Kondisi Red Bull Saat Ini? (F1 Oversteer)

Kemenangan Lelcrec di GP Monaco juga turut “dibantu” dengan berbagai masalah yang menimpa Red Bull sebagai pemimpin klasemen konstruktor sementara. Mulai dari free practice, mobil Red Bull terlihat berbeda dari biasanya.

Di babak kualifikasi, Perez bahkan harus tereliminasi sejak Q1 dan start dari posisi belakang. Ini yang membuatnya harus berkutat dengan dua pembalap Haas dan ujungnya membuat ia mengalami kecelakaan dan harus mengakhiri balapan lebih cepat.

Max Verstappen sendiri seolah terkunci di belakang George Russel dari Mercedes. Padahal, Russel menggunakan ban medium lebih dari 70 lap, ketika Verstappen sempat melakukan pit agar memiliki ban yang lebih fresh. Namun, tetap saja ia tak mampu menyalip Russel.

Meskipun di GP Imola Verstappen dan Red Bull berhasil menang, tak bisa dipungkiri kalau tim yang dibuat oleh Dietrich Mateschitsz ini sedang ada banyak masalah. Tidak hanya masalah teknis, masalah internal tim pun sedang banyak dibicarakan.

Pertama, ada skandal pelecehan seksual yang menimpa Christian Horner sebagai Team Principal dan CEO. Lalu, Adrian Newey sebagai Chief Technical Officer (CTO) juga akan angkat kaki dari tim setelah bertahun-tahun berkontribusi besar untuk pengembangan mobil tim.

Penasehat Red Bull, Helmut Marko, juga disebut akan angkat kaki dari tim. Rumor pun makin berkembang luas dengan Verstappen disebut juga akan ikut pergi dan kemungkinan besar akan bergabung dengan Mercedes untuk menggantikan Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari.

Berbagai permasalahan non-teknis ini jelas memengaruhi performa tim secara keseluruhan. Bagi penggemar F1, ini mungkin bisa justru menjadi kabar baik karena kita bisa menonton F1 yang lebih seru dan tidak didominasi oleh satu tim saja.

Dalam klasemen konstruktor sementara, kita bisa melihat kalau selisih poin antara Red Bull dan Ferrari hanya berjarak 23 poin. Jadi, meskipun kemungkinan besar Verstappen akan juara lagi, setidaknya persaingan konstruktor akan lebih sengit.

Hingga GP Monaco, sudah ada tiga pembalap selain Verstappen yang telah berhasil menjadi juara. Semoga saja di balapan-balapan selanjutnya, akan ada juara-juara baru yang membuat F1 musim ini menjadi lebih seru.


Lawang, 27 Mei 2024, teinspirasi setelah kemenangan Charles Lelcrec di GP Monaco

Foto Featured Image: Formula 1

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan