<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Leon dan Kenji Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/leon-dan-kenji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/leon-dan-kenji/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Jan 2021 12:14:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Leon dan Kenji Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/leon-dan-kenji/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Epilog: Setelah Kematian Wijaya</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/epilog-setelah-kematian-wijaya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/epilog-setelah-kematian-wijaya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2021 12:14:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4248</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kantor polisi terasa lengang, hanya ada suara angin dari AC. Peran komputer telah digantikan oleh sebuah mesin kotak canggih yang mampu merekam apapun kesaksianku dengan baik, termasuk ekspresi terkecil wajahku. Sudah satu jam aku berada di entah ruangan apa ini, menanti ketidakpastian. Yang jelas, hanya ada satu kalimat yang menggantung di pikiranku: hidupku akan berakhir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/epilog-setelah-kematian-wijaya/">Epilog: Setelah Kematian Wijaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kantor polisi terasa lengang, hanya ada suara angin dari AC. Peran komputer telah digantikan oleh sebuah mesin kotak canggih yang mampu merekam apapun kesaksianku dengan baik, termasuk ekspresi terkecil wajahku. Sudah satu jam aku berada di entah ruangan apa ini, menanti ketidakpastian. Yang jelas, hanya ada satu kalimat yang menggantung di pikiranku: hidupku akan berakhir di penjara. Petugas kepolisian yang ada di hadapanku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.</p>
<p>“Dokter Leon, saya ulangi sekali lagi, Anda ke sini untuk menyerahkan diri?” tanya petugas tersebut.</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>“Dengan alasan pembunuhan berencana?”</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>“Korban adalah Wijaya Hardikusuma, mantan konglomerat yang sudah berusia lanjut?”</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>“Pembunuhan dilakukan dengan alasan balas dendam karena korban merupakan pelaku pembunuhan ibu dan beberapa kerabat Anda?”</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>“Dan metode pembunuhannya, eh, dengan ancaman?”</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>Petugas tersebut menggaruk-garuk lagi kepalanya. Nampaknya baru kali ini ia menemukan kasus sejanggal ini. Pembunuh yang menyerahkan diri karena merasa bersalah memang banyak, tapi pembunuh yang mengakui pembunuhannya hanya dengan bersenjatakan ancaman? Rasanya baru kali ini petugas itu mengalaminya.</p>
<p>“Berdasarkan hasil otopsi, korban meninggal karena komplikasi penyakit yang telah lama dideritanya. Tidak ditemukan adanya unsur kekerasan ataupun racun pada tubuhnya. Bahkan yang saya dengar dari salah satu perawat, Anda berusaha memberikan pertolongan pertama begitu korban mengalami tanda-tanda kejang, benar seperti itu?”</p>
<p>“Benar, saya memberikan pertolongan karena telah mengurungkan niat untuk membunuh. Tapi tetap saja, saya menyadari bahwa ancaman saya di awal lah yang memicu penyakitnya. Seandainya saya tidak memberikan ancaman, mungkin Wijaya masih hidup sekarang.”</p>
<p>Sekali lagi si petugas menggaruk kepalanya. Nampaknya ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara meladeniku. Pasal apa yang bisa menjeratku? Apakah sekadar ancaman sudah merupakan tindak pidana? Berapa lama masa hukuman yang akan menantiku?</p>
<p>“Sepengetahuan saya, tidak ada pasal yang bisa menjerat Anda untuk masuk sel. Niat selama hanya berada di kepala tidak akan membahayakan pihak lain. Mesin AI yang ada di depan Anda ini rasanya juga akan menyimpulkan hal yang sama.”</p>
<p>“Tapi tetap saja…” aku menggantungkan kalimatku karena bingung harus berkata apa lagi. Mungkin kedatanganku ke kantor polisi setelah proses otopsi Wijaya hanya merupakan tindakan spontanku yang masih terkejut atas apa yang baru saja terjadi.</p>
<p>“Jadi, bapak ingin tetap membawa kasus ini ke pengadilan?”</p>
<p>“Benar.”</p>
<p>“Ada pihak pengacara?”</p>
<p>“Ada.”</p>
<p>Jawaban tersebut buat keluar dari mulutku, melainkan dari laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Ketika menolehkan wajahku, aku melihat sosok Zane Trunajaya yang sudah semakin menua. Lihat saja, rambut dan jenggotnya sudah dipenuhi oleh uban. Padahal usianya tak terlalu jauh dariku.</p>
<p>“Selamat malam pak, saya Zane Trunajaya yang akan menjadi pengacara saudara Alexander Napoleon Caesar atas dugaan kasus pembunuhan berencana. Tapi sebelumnya, saya mohon izin dulu untuk bicara empat mata dengannya.”</p>
<p>“Ya ya ya, silakan,” kata petugas tersebut dengan pasrah. Nampaknya ia mulai mencurigai kalau kedatanganku ke kantor polisi hanya untuk sekadar mencari sensasi. Namaku cukup terkenal, aku melihat ada beberapa wartawan membuntuti mobil listrikku sewaktu perjalanan dari rumah sakit ke sini. Mungkin Zane mengetahui posisiku juga dari berita daring yang bisa diakses secara kilat, terlalu kilat bahkan.</p>
<p>“Leon, astaga, kerasukan apa dirimu?” tanya Zane sewaktu kami berdua menemukan tempat yang cukup sepi.</p>
<p>“Aku melakukan hal yang menurutku benar, Zane. Lagipula, dari mana kau tahu aku di sini? Aku tidak bercerita ke siapapun, termasuk keluarga.”</p>
<p>“Kamu enggak lihat wartawan di depan pada heboh? Dokter yang namanya terkenal hingga banyak orang yang menginginkannya menjadi Menteri Kesehatan, tiba-tiba ngebut ke kantor polisi setelah pertama kali gagal menyelamatkan pasiennya. Semua orang pasti akan klik judul berita yang dibuat oleh para wartawan itu. Dengan teknologi sekarang, mereka bisa membuatnya hanya dalam hitungan menit.”</p>
<p>Dugaanku terbukti benar, Zane tahu aku dari sini dari berita.</p>
<p>“Adikmu sampai menghubungiku, khawatir kakaknya tidak bisa ditelepon setelah baca berita kegagalan perdanamu. Astaga Leon, apa yang ada di pikiranmu? Kenapa bertindak gegabah seperti ini?”</p>
<p>Aku diam saja dicecar pertanyaan-pertanyaan tersebut dari Zane. Entah mengapa aku tak berani memandang kedua matanya.</p>
<p>“Pasienmu Wijaya, kan? Tidak ada pasien lain yang akan memicumu bertindak seperti ini selain dia.”</p>
<p>Meskipun sudah dipenuhi uban, kecerdasan Zane belum sama sekali hilang. Kecerdasannya mengingatkanku pada…</p>
<p>“Aku bisa bicara dengan petugas untuk meluruskan apa yang tengah terjadi. Tidak ada tindakanmu yang berbau pidana, kamu enggak akan bisa dipenjara hanya karena memiliki niat yang tidak jadi dilakukan. Kalau semua bisa dihukum hanya karena niat, penjara enggak akan muat nampungnya.”</p>
<p>“Ini beda Zane,” aku akhirnya buka suara, “Wijaya terkena serangan jantung setelah aku mengungkapkan siapa aku dan mengungkapkan keinginanku untuk balas dendam. Seandainya aku tidak berbuat seperti itu, mungkin dia masih hidup.”</p>
<p>“Para wartawan itu telah mewawancarai keluarga Wijaya. Katanya, itu bukan pertama kali Wijaya terkena serangan jantung. Entah sudah berapa <em>ring </em>yang ada di pembuluh darahnya. Sejak awal, mereka tidak berharap banyak, Wijaya memang sudah terlalu tua dan mungkin memang sudah ditakdirkan meninggal setelah bertemu dengan korbannya.”</p>
<p>Zane mengendurkan ekspresi wajahnya, memandangku dengan rasa simpati.</p>
<p>“Seandainya Wijaya masih hidup, kita akan memprosesnya lewat hukum atas kejahatan di masa lalunya. Orang yang selama ini kita cari akhirnya ketemu dalam kondisi tidak berdaya. Hanya saja, itu akan membuatnya makin menderita. Biarlah dia diadili di akhirat karena kita tidak bisa menjeratnya di dunia,” tambahnya lagi.</p>
<p>Kepalaku sudah mulai berpikir jernih. Benar yang dikatakan Zane, ini semua sudah ditakdirkan.</p>
<p>“Waktu aku memandangi Wijaya dengan penuh dendam, aku merasa tiba-tiba ada tepukan halus pada bahuku. Ketika aku menoleh, tidak ada siapa-siapa, tapi perasaan dendamku mendadak lenyap begitu saja. Kemudian, aku melihat Wijaya mulai kesulitan bernapas dan aku langsung memberikan pertolongan pertama.”</p>
<p>“Nah, sekarang otakmu yang cemerlang itu mulai bisa digunakan dengan normal, kan? Sudahlah, kamu hanya terguncang karena baru saja bertemu dengan orang yang selama ini membuatmu menderita. Kamu memang salah karena berniat membunuh orang, tapi niat tersebut tidak jadi kamu lakukan.”</p>
<p>“Iya Zane, terima kasih karena sudah datang kemari.”</p>
<p>“Tenang saja, lagipula sebentar lagi kamu akan jadi adik iparku. Tunggu di sini, aku akan bicara dengan petugas di dalam. Nanti kita makan malam bareng.”</p>
<p>Begitu Zane berjalan ke dalam kantor polisi, aku segera mengaktifkan ponselku yang dari tadi mati. Aku langsung menghubungi satu nomor yang pasti sudah mencemaskanku.</p>
<p>“Halo Gisel?”</p>
<p>“KAKAK DARI MANA? KAKAK ENGGAK TAHU DARI TADI GISEL TELEPON ENGGAK ADA NADA SAMBUNGNYA? KAKAK MASUK BERITA TAHU, DAN UNTUK PERTAMA KALINYA BUKAN BERITA BAGUS!!! MALAH UDAH ADA YANG BIKIN BERITA SKANDAL YANG ENGGAK BENER!!! KAKAK ITU KEBIASAAN KALAU ADA MASALAH SUKA HILANG TIBA-TIBA. KAKAK ITU…”</p>
<p>Mungkin sekitar lima menit Gisel memarahi dengan nada tinggi seperti itu. Aku hanya bisa diam mendengarkannya, menantinya capek sendiri.</p>
<p>“Sudah marahnya?” tanyaku pelan setelah ada jeda beberapa detik darinya.</p>
<p>“Belum, tapi Gisel capek, jadi berhenti dulu.”</p>
<p>“Kalau gitu gantian ya, Gisel yang dengerin kakak.”</p>
<p>Aku pun menceritakan apa adanya ke adik perempuan kesayanganku itu, menjelaskan situasi yang sebenarnya. Pada akhirnya, kemarahan Gisel pun bisa kuredam.</p>
<p>“Selama Gisel kuliah di luar, jangan bikin Gisel kepikiran dong kak. Nanti makin lama lulusnya Gisel, padahal udah kangen sama Indonesia. Makanya kakak cepet nikah biar ada yang ngurusin kakak, calon juga udah ada juga.”</p>
<p>“Duh, calon bu dosen ini jadi makin galak ya. Iya, maafkan kakak, tapi Gisel pasti tahu kenapa kakak bisa sampai seperti ini.”</p>
<p>“Iya Gisel paham, tapi kan bisa ngerem dikit, enggak <em>grusa-grusu </em>seperti ini. Terus Kak Zane di mana sekarang?”</p>
<p>“Masih di dalam, ngobrol sama petugas.”</p>
<p>“Ya udah kalau gitu, kakak jaga kesehatan, jangan telat makan. Kakak tugasnya ngobatin orang, jangan sampai diri sendiri enggak keurus.”</p>
<p>“Iya iya, Gisel juga ya, jaga kondisi di sana. Jepang habis gempa bumi yang lumayan besar, kan? Peringatan tsunami juga muncul.”</p>
<p>“Iya kak, tenang, kampusnya Gisel jauh dari pesisir kok. Ya udah, Gisel mau lanjut ngerjakan disertasi, papai kakak.”</p>
<p>Aku pun mematikan telepon dan segera melamun. Mungkin memang semuanya telah ditakdirkan seperti ini. Wijaya diberi hidup sampai bertemu denganku, anak dari korban yang telah ia habisi karena mengusik bisnisnya. Kalau saja aku tidak merasakan tepukan itu, mungkin aku akan melanjutkan niat membunuhku.</p>
<p>Sentuhan tangan siapa kah itu? Aku merasa itu sentuhan tangan dari Kenji, kawan lamaku yang telah lama tiada. Sama sepertiku, ia juga merupakan anak dari korban Wijaya. Beda denganku, ia tak pernah menyimpan dendam. Ia membantuku mengusut kasus Wijaya, tapi tak pernah terucap dari mulutnya kalau ia menginginkan kematian Wijaya sebagai bayarannya. Seandainya dia masih hidup, mungkin dia akan memintaku untuk memaafkan Wijaya karena alasan kemanusiaan.</p>
<p>Sudah berapa lama aku kehilangan Kenji? Lima belas tahun? Entahlah, aku tak bisa mengingatnya dengan pasti. Hanya dua tahun kami saling mengenal, tapi rasanya sudah kenal seumur hidup. Selama di SMA, ia lah yang menuntunku ke jalan yang lebih baik. Bahkan setelah kepergiannya, aku masih merasa kalau Kenji ada di sekitarku. Kasus Wijaya ini menjadi salah satu buktinya, walau sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan hal yang berbau mistis. Orang yang meninggal akan hidup di alam lain yang berbeda dimensi dengan kita.</p>
<p>Ataukah sebenarnya energinya masih ada di dunia ini, berusaha mencegahku untuk melakukan hal-hal bodoh seperti tadi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TAMAT</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/epilog-setelah-kematian-wijaya/">Epilog: Setelah Kematian Wijaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/epilog-setelah-kematian-wijaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 90 Menemukan Arah</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-90-menemukan-arah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-90-menemukan-arah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2020 00:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4214</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lima belas tahun berlalu begitu saja. Lebih dari setengahnya kuhabiskan untuk belajar mati-matian di universitas agar bisa segera lulus dan menjadi seorang dokter. Aku kerap mendapatkan sorotan berkat berbagai prestasi akademik yang pernah kuraih. Aku berhasil menjadi lulusan sarjana terbaik dengan waktu tercepat. Program profesi dokter dan ujian sertifikasi kulibas dalam waktu kurang dari satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-90-menemukan-arah/">Chapter 90 Menemukan Arah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Lima belas tahun berlalu begitu saja. Lebih dari setengahnya kuhabiskan untuk belajar mati-matian di universitas agar bisa segera lulus dan menjadi seorang dokter. Aku kerap mendapatkan sorotan berkat berbagai prestasi akademik yang pernah kuraih. Aku berhasil menjadi lulusan sarjana terbaik dengan waktu tercepat. Program profesi dokter dan ujian sertifikasi kulibas dalam waktu kurang dari satu setengah tahun. Magang juga kulalui dengan lancar hingga aku berhasil mendapatkan izin praktik. Aku tidak berhenti di situ. Aku mengambil program profesi spesialis paru-paru dan berhasil kuselesaikan dalam waktu empat tahun. Begitu semua kuselesaikan, aku kembali Malang dan menekuni profesi ini secara profesional.</p>
<p>Harga yang kubayar untuk bisa mendapatkan itu semua tidaklah murah. Aku sama sekali tidak pernah ikut kegiatan kampus yang bersifat non-akademik. Kepanitiaan apapun tidak pernah menarik minatku. Teman seperti masa-masa SMA? Hampir tidak ada. Sampai-sampai aku mendapatkan julukan robot karena rutinitasku yang selalu berulang-ulang. Aku mengetahui ini dari Rachel, yang kebetulan menjadi adik tingkatku karena ia mengambil jurusan yang sama di kampus yang sama. Aku tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Aku harus fokus dengan tujuanku.</p>
<p>Karena keseriusanku di masa-masa kuliah, karirku dengan cepat melambung. Namaku terkenal sebagai salah satu dokter paru-paru terbaik. Banyak rumah sakit besar dari luar daerah yang berusaha meyakinkan aku untuk pindah, namun aku memutuskan untuk bertahan di rumah sakit ini, rumah sakit yang menjadi saksi kepergian Jessica dan Kenji.</p>
<p>***</p>
<p>Aku mendengar kematian Kenji dari Rika, ketika aku sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan OSPEK yang bagiku cukup menjemukan. Diawali dengan isak tangis, Rika memberitahu kabar duka tersebut dengan suara terpatah-patah.</p>
<p>“Kenji Le… Kenji meninggal. Penyakit paru-parunya ditambah kompilasi penyakit lain membuatnya enggak ketolong.”</p>
<p>Handphoneku langsung tergelincir jatuh begitu saja ke lantai kamar asramaku. Aku yang sedang melakukan persiapan untuk acara kampus besok langsung terduduk di atas tempat tidur. Aku masih tidak percaya dengan kabar yang baru kudengar. Perlahan, air mataku tumpah tanpa bersuara. Aku menangis dalam sunyi. Aku tak menyangka, aku harus kehilangan sahabat terbaikku ketika aku harus jauh darinya. Ketakutan terbesarku benar-benar terjadi.</p>
<p>Entah berapa lama aku terjebak dalam perasaan sedih ini. Omongan-omongan kakak tingkat yang menyakitkan sama sekali tidak kudengarkan. Beberapa kali mendengar teguran hanya kudengarkan dengan tatapan kosong. Menyadari ada yang ganjil dari diriku, aku dipanggil oleh pihak kampus. Di hadapanku, terlihat seorang wanita berusia 30-an dengan rambut sebahu.</p>
<p>“Ah, kamu Leon, kan? Silakan masuk. Saya sudah nunggu kamu.”</p>
<p>Perasaan dipanggil ini sama seperti waktu aku pertama kali masuk ke SMA, di mana aku dipanggil oleh guru BP. Kesan awalnya pun sama, pribadi yang ramah namun menyimpan belati tajam di belakang punggungnya.</p>
<p>“Saya dapat beberapa laporan dari katingmu, katanya akhir-akhir ini kamu seperti kurang fokus mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada. Kamu ada masalah?”</p>
<p>Aku memutuskan untuk bercerita apa adanya, berharap hal tersebut bisa membantuku merasa lebih baik.</p>
<p>“Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar kalau sahabat yang sudah seperti saudara saya sendiri meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Saya minta maaf, karena itu saya sering tidak fokus.”</p>
<p>Mendengar kabar tersebut, wanita tersebut memberikan pandangan penuh simpati. Ketulusan terpancar dari kedua bola matanya.</p>
<p>“Kamu harusnya bilang agar mendapatkan izin untuk pulang. Rumah kamu di mana?”</p>
<p>“Malang.”</p>
<p>“Setidaknya ambil izin tiga sampai empat hari, saya sarankan naik pesawat supaya lebih cepat.”</p>
<p>“Tidak perlu bu.”</p>
<p>“Kamu enggak mau melayat sahabatmu itu? Mau gimanapun, kehilangan orang yang berharga itu menyakitkan, loh.”</p>
<p>Aku mengambil jeda sejenak sebelum merespon pertanyaan tersebut.</p>
<p>“Saya mau membuat sumpah untuk tidak kembali ke Malang sebelum berhasil menjadi dokter. Mau sepuluh tahun pun akan saya jalani. Saya harus segera lulus demi dia, demi mereka.”</p>
<p>Wanita tersebut nampaknya berusaha memahami posisiku. Ia terlihat sedang menuliskan semacam catatan di atas meja kerjanya.</p>
<p>“Ibu hargai jika keputusanmu seperti itu. Setidaknya, kamu bisa absen beberapa hari untuk menenangkan diri. Ibu akan kirim memo kepada katingmu yang jadi panitia. Tiga hari cukup?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala, meskipun tahu tiga hari tidak akan cukup untuk membuatku merasa lebih baik.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah mendapatkan telepon dari Rika, handphoneku kubiarkan mati selama berhari-hari. Aku sadar tindakan tersebut sangat egois karena pasti banyak yang mengkhawatirkan diriku. Orang pertama yang kuhubungi adalah ayah.</p>
<p>“Leon? Kamu kok baru bisa dihubungi sekarang? Semuanya kepikiran sama kamu, paman bahkan bilang kalau Sabtu besok ini mau ke Jakarta lihat kamu.”</p>
<p>“Gisel mana?” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Ayah pun memutuskan untuk tidak mendebatku dan segera memanggil Gisel.</p>
<p>“KAKAK! Kakak ke mana aja? Gisel kepikiran kakak terus gara-gara…” Gisel tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia mulai menangis. Aku pun semakin merasa bersalah karena sudah menyusahkan orang lain seperti ini.</p>
<p>“Maafkan kakak, Gisel. Kakak butuh waktu buat menenangkan diri.”</p>
<p>“Iya sih Gisel tahu, tapi tetap aja Gisel panik. Gisel takut kakak kenapa-napa.”</p>
<p>“Kakak enggak apa-apa Gisel, kakak minta maaf, ya. Kakak sudah bikin kamu kepikiran. Padahal Gisel lagi seneng-senengnya karena masuk SMP, kan?”</p>
<p>Rekomendasi langsung naik ke kelas enam yang diterima Gisel tahun kemarin membuatnya tahun ini bisa masuk ke SMP. Nilai ujiannya menjadi yang tertinggi, hampir sempurna. Di antara teman-teman SMP-nya, Gisel pasti menjadi yang paling muda.</p>
<p>“Gimana mau seneng kak kalau Kak Kenji…” sekali lagi Gisel tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Aku pun berusaha menenangkannya sebisa mungkin. Sama sekali tidak kuungkit masalah rencanaku untuk tidak pulang sebelum lulus. Hal tersebut bisa dibicarakan lain waktu.</p>
<p>Setelah Gisel, orang berikutnya yang kuhubungi adalah paman. Rencananya untuk ke Jakarta harus dibatalkan. Begitu telepon tersambung, aku segera dicecar oleh berbagai pertanyaan. Aku pun mengatakan kalau aku baik-baik saja walau sempat terguncang hebat. Setelah mendengarkan berbagai nasihat, aku mengakhiri telepon.</p>
<p>Orang terakhir yang kuhubungi adalah Rika. Aku yakin kalau diriku akan mendengar omelan yang lebih pedas dari dua telepon sebelumnya.</p>
<p>“Halo, Ri…”</p>
<p>Belum berakhir sempurna pertanyaanku, Rika sudah mengeluarkan kalimat-kalimat dengan cepatnya. Suaranya benar-benar mengandung emosi yang bercampur aduk. Aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menyelanya. Dengan sabar, aku menantinya selesai bicara.</p>
<p>“Kamu itu egois banget Leon, enggak mikirin orang-orang yang ada di sini,” akhirnya Rika selesai berbicara.</p>
<p>“Iya, maaf Rika. Aku memang salah.”</p>
<p>“Kamu enggak pulang?”</p>
<p>“Kayaknya enggak Rika. Aku…”</p>
<p>Kalimatku kubiarkan menggantung. Aku belum siap memberitahunya. Berbeda dengan paman dan Gisel yang bisa datang berkunjung ke Jakarta, Rika belum tentu punya kesempatan untuk itu.</p>
<p>“Aku tahu Le, kamu pasti sangat terpukul dengan kepergian Kenji. Tapi kamu harus tahu kalau kami semua juga ikut terpukul. Kenji itu figur penting di kelas kita, bahkan di sekolah kita. Kemarin waktu pemakamannya banyak yang datang.”</p>
<p>Mendengar cerita pemakaman Kenji, aku menjadi terdiam. Rika menyadari kesalahannya berusaha meminta maaf dengan sedikit panik.</p>
<p>“Iya, enggak apa-apa Rika, tapi maaf, aku benar-benar belum bisa pulang sekarang. Suatu saat, aku akan kasih tahu kamu alasannya.”</p>
<p>“Iya Leon, aku mengerti.”</p>
<p>Telepon berakhir. Aku kembali disibukkan oleh berbagai pikiran tentang Kenji dan mengingat-ingat berbagai momen yang pernah kami lalui bersama.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah aku mulai berkuliah di Jakarta, Zane dan timnya mulai berhasil membongkar banyak kejahatan yang dilakukan oleh Wijaya dan kroninya. Banyak orang yang berhasil ditangkap dengan berbagai tuduhan. Perusahaannya banyak yang dinyatakan bangkrut atau setidaknya diakuisisi oleh pihak lain. Sayang, Wijaya tetap tak tersentuh. Petunjuk seputar di mana ia berada benar-benar minim. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak mengetahui pasti keberadaannya. Awalnya aku sulit menerima kenyataan ini, tapi aku memutuskan untuk berusaha mengikhlaskannya. Siapa tahun ia telah mati, dan aku harap ia mati dengan mengenaskan.</p>
<p>Aku tetap tidak mengetahui keberadaan orangtua kandungku atau setidaknya makam mereka. Daftar orang-orang Peretas yang hilang juga tidak ada satupun yang berhasil ditemukan. Semuanya tetap menjadi misteri.</p>
<p>Walaupun begitu, aku selalu teringat kata-kata Kenji. Semua yang aku alami ini membuatku bisa menemukan arah yang selama ini kucari. Kematian Sica, lalu disusul kematian Kenji sendiri, membuatku termotivasi untuk menjadi dokter spesialis paru-paru. Setelah tahun-tahun penuh perjuangan dan pengorbanan, aku berhasil mencapainya. Aku bisa menolong orang lain dengan kemampuan yang kumiliki. Ketika melihat pasienku bisa kembali hidup normal, aku merasa bahagia. Aku merasa kehidupanku memiliki manfaat untuk orang lain.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke masa kini. Aku sedang bersiap untuk melayani seorang pasien yang sudah cukup tua. Kata asistenku, usia pasien ini sudah lebih dari 90 tahun. Kompilasi penyakit yang diderita cukup banyak, namun yang paling vital adalah paru-parunya. Oleh karena itu, keluarganya memutuskan untuk membawanya untuk diperiksa olehku. Aku memintanya untuk memasukkan pasien tersebut ke ruang praktikku. Pihak keluarga hanya boleh menunggu di luar karena aku akan melakukan pemeriksaan secara mendalam.</p>
<p>Sepuluh menit kemudian, aku berjalan ke ruang praktik. Aku sempat bertemu dengan pihak keluarganya, mungkin anak dan cucunya. Aku menyempatkan diri untuk sedikit berbasa-basi dengan mereka agar mengetahui riwayat penyakitnya. Mereka mengatakan kalau selama ini mereka tinggal di luar negeri. Sang pasien selama ini bisa menjaga pola hidup yang sehat sehingga bisa berusia panjang. Karena masalah ekonomi, mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan berusaha hidup dengan tenang.</p>
<p>Setelah itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan untuk segera memeriksan sang pasien. Di dalam, ia ditemani oleh asistenku. Aku pun menghampiri sang pasien dan berusaha beramah-tamah seperti biasanya. Namun, ketika memperhatikan wajahnya secara saksama, aku merasa mengenali wajah itu. Aku berusaha mengorek ingatanku dalam-dalam untuk mengetahui siapa yang ada di hadapanku ini.</p>
<p>Aku ingat siapa dia.</p>
<p>“Flo, bisa tinggalkan kami berdua?”</p>
<p>Asistenku yang bernama Florence itu mematuhi permintaanku tanpa banyak tanya. Setelah ia menutup pintu dengan pelan-pelan, aku segera menatap mata sang pasien.</p>
<p>“Wijaya Hardikusuma.”</p>
<p>Reaksi yang ia tunjukkan benar-benar sesuai dugaanku. Sangat terkejut. Aku tahu ia telah mengubah identitas dirinya agar tidak tersentuh hukum. Tapi aku ingat segala lekuk wajah Wijaya dari foto yang pernah ditunjukkan oleh Zane. Meskipun usianya di foto dengan yang sekarang terpaut cukup jauh, aku masih bisa mengenalinya berkat daya ingat otakku yang luar biasa.</p>
<p>“Si…siapa kamu?” tanya Wijaya dengan gemetar.</p>
<p>“<em>Well</em>, nama saya adalah Alexander Napoleon Caesar dan saya adalah dokter yang akan segera memerika Anda. Tapi apakah Anda merasa pernah mengenal saya?”</p>
<p>Ia menggelengkan kepala dengan lemah.</p>
<p>“Tentu saja Anda tidak kenal saya karena kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi saya tahu semua kejahatan yang pernah Anda lakukan di masa lalu. Ingat dengan kelompok Pembela Rakyat Tertindas yang sangat menentang proyek-proyek Anda?”</p>
<p>Tatapannya memancarkan ketakutan. Ia pasti tak menyangka akan bertemu dengan orang yang memiliki keterkaitan dengan kelompok tersebut.</p>
<p>“Saya adalah anak dari Ratih dan Bambang, ingat dengan nama itu? Mungkin tidak mengingat banyak sekali orang yang Anda hilangkan. Ingat Dewi? Dia juga anggota kelompok itu dan dengan baik hati mau mengadopsi saya sebagai anak setelah orangtua kandung saya dihilangkan oleh Anda. Tapi beberapa tahun kemudian ketika saya baru masuk SMP, saya menemukan ibu angkat saya gantung diri. Ketika SMA, saya mengetahui fakta kalau kematiannya ternyata rekayasa yang direncanakan oleh anak buahmu. Pasti Anda tahu Markus, bukan? Ia sudah mengakui semuanya, sebelum akhirnya ia meninggal di dalam penjara.”</p>
<p>Aku berjalan mendekati lemari buku yang ada di dekat meja kerjaku. Aku selalu menyimpan beberapa novel Agatha Christie sebagai hiburan ketika merasa penat. Aku mengambil satu secara acak dan kembali menghampiri Wijaya yang masih di dalam posisi berbaring.</p>
<p>“Ibu saya sangat menyukai novel-novel detektif seperti ini, bahkan ia menggunakannya sebagai petunjuk untuk membongkar kebusukanmu. Kesukaannya itu menurun kepada saya. Entah sudah berapa ratus judul yang sudah saya baca. Dari sana, saya mengetahui beberapa trik pembunuhan yang tidak akan ketahuan. Menurut Anda, bagaimana jika saya mempraktekkan beberapa di antaranya kepada Anda?”</p>
<p>“Tolong, tolong ampuni saya…” pinta Wijaya dengan suaranya yang lemah.</p>
<p>“Bertahun-tahun saya hidup menderita karena perbuatan Anda. Lantas, Tuhan membuat kita bisa bertemu dalam kondisi seperti ini, saat Anda tidak berdaya. Menurut Anda, saya akan melepaskan kesempatan terbaik untuk balas dendam begitu saja?”</p>
<p>Tubuh Wijaya makin bergetar tak karuan. Kata-kata ampun dan maaf terus keluar dari mulutnya. Untunglah ia terlalu lemah untuk berteriak sehingga keluarganya yang sedang menanti di luar tidak akan mendengar suaranya.</p>
<p>Apakah aku benar-benar serius ingin membunuhnya sekarang? Oh ya, aku sangat serius. Bahkan aku sudah mempertimbangkan beberapa cara untuk membuatnya mati di tanganku. Menutup kepalanya dengan bantal hingga ia tak bisa bernapas? Menyuntikkan cairan tak terdeteksi yang akan memperparah sakit di tubuhnya? Berbagai cara melintas di kepalaku sembari mataku menatapnya dengan penuh dendam. Sama sekali tidak ada belas kasihan yang muncul dari diriku. Siapa yang menyangka keputusanku untuk menjadi dokter spesialis paru-paru akan membuatku bertemu dengannya.</p>
<p>Aku terus memadanginya, memandanginya dengan tatapan penuh kebencian. Kenji, balas dendam kita akan tuntas hari ini. Orang yang selama ini membuat hidup kita menderita akhirnya akan mendapatkan pembalasan.</p>
<p>Aku masih terus memandanginya tanpa bersuara sedikitpun.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-90-menemukan-arah/">Chapter 90 Menemukan Arah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-90-menemukan-arah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 89 Keberangkatan</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-89-keberangkatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-89-keberangkatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2020 10:42:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4179</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku mendapati diriku sedang berada di ruang serba putih yang sama seperti waktu aku bertemu dengan ibu. Meskipun kepalaku terasa sedikit sakit, aku memutuskan untuk berdiri dan mulai mencari seseorang di ruangan ini. Semoga saja aku bertemu dengan ibu lagi. Sejak kunjunganku terakhir ke sini, ada banyak kejadian yang telah terjadi. Aku ingin menceritakan semuanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-89-keberangkatan/">Chapter 89 Keberangkatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mendapati diriku sedang berada di ruang serba putih yang sama seperti waktu aku bertemu dengan ibu. Meskipun kepalaku terasa sedikit sakit, aku memutuskan untuk berdiri dan mulai mencari seseorang di ruangan ini. Semoga saja aku bertemu dengan ibu lagi. Sejak kunjunganku terakhir ke sini, ada banyak kejadian yang telah terjadi. Aku ingin menceritakan semuanya agar merasa lega.</p>
<p>Tiga puluh menit aku berjalan tanpa arah, tak kutemukan seorang pun di sini. Aku pun menjadi khawatir, apakah aku berada di ruangan lain? Apakah aku tak akan bertemu dengan seorang pun di sini?</p>
<p>Di saat aku mulai merasa putus asa, aku melihat siluet seorang wanita dari kejauhan. Dari postur tubuhnya, dia jelas bukan ibuku. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Ketika jarak kami tinggal tiga meter, aku menyadari siapa pemiliki siluet tersebut.</p>
<p>“Sica.”</p>
<p>Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh ke arahku. Benar, ia adalah Sica. Lututku langsung lemas dan akupun jatuh bersimpuh di hadapannya. Ia terkejut melihatku dan segera berusaha menolongku untuk berdiri kembali.</p>
<p>“Leon? Enggak apa-apa? Sakit loh jatuh seperti itu.”</p>
<p>Mendengar suaranya, air mataku tumpah begitu saja. Sica dengan sabar menungguku selesai.</p>
<p>“Aku enggak nyangka Le kita bisa ketemu di sini. Aku sendiri kurang tahu ini di mana.”</p>
<p>Aku sama sekali tidak memberikan respon. Aku sibuk menguasai diri yang begitu terkejut bertemu dengan seorang wanita yang berpengaruh besar di dalam kehidupanku.</p>
<p>“Kita jalan dikit yuk, tadi di sana aku lihat ada kayak bangku taman gitu. Kita ngobrol di sana aja.”</p>
<p>Kami berdua pun berjalan beriringan dalam diam hingga sampai di bangku yang ia maksud. Kami duduk di atasnya dan saling menanti saat yang tepat untuk memulai percakapan.</p>
<p>“Udah satu tahun ya Le kita enggak ketemu? Ada cerita apa aja?”</p>
<p>Aku sudah mulai bisa menguasai diri. Aku pun memutuskan untuk menceritakan semua kejadian semenjak hari kematiannya, mulai dari kedatangan ayahku yang tiba-tiba, kedekatanku dengan Rika, hubungan antara ibuku dengan ibunya Kenji, fakta kalau selama ini aku tinggal bersama orangtua angkat, hingga kasus masa lalu yang sedang aku hadapi. Sica mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa berusaha menyela sedikitpun.</p>
<p>“Dan kini Kenji sedang terbaring di rumah sakit. Sama sepertimu, penyakit paru-paru. Belum diketahui kapan ia bisa keluar,” aku mengakhiri ceritaku.</p>
<p>“Aku turut sedih mendengarnya, Le. Kamu udah mengalami berbagai kejadian yang belum tentu bisa dihadapi oleh orang biasa. Kamu hebat Le bisa melalui ini semua.”</p>
<p>“Terima kasih Sica.”</p>
<p>Tidak ada lagi kalimat yang meluncur dari bibir kami berdua, seolah kami sedang menikmati sunyi yang ada di sekeliling kami. Aku tahu ini hanya mimpi, sama seperti sebelumnya. Tapi mimpi seperti ini selalu terasa sangat nyata.</p>
<p>“Aku yakin semua yang kamu alami itu punya hikmahnya masing-masing, Le. Aku yakin semua tidak terjadi secara percuma,” kata Sica pada akhirnya.</p>
<p>“Iya, terima kasih.”</p>
<p>“Kamu lanjut kuliah di mana?”</p>
<p>“UI, jurusan Kedokteran.”</p>
<p>“Wah, keren. Saingannya dari seluruh negeri loh itu.”</p>
<p>“Aku mengambil jurusan tersebut juga karena kau, Sica.”</p>
<p>“Iya, aku paham. Ingin membuktikan diri lebih hebat dari dokter sombong yang waktu itu merawatku, kan?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala.</p>
<p>“Kamu menemukan arah hidupmu setelah kematianku. Pertemuan dengan ayahmu membuatmu dekat dengan Rika. Rika jugalah yang banyak membantumu menguak misteri dari masa lalu orangtuamu. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut, Le.”</p>
<p>“Aku takut Sica.”</p>
<p>“Takut apa?”</p>
<p>“Aku takut kehilangan Kenji, seperti aku kehilanganmu.”</p>
<p>Sica terdiam mendengar kalimatku. Ia membuang pandangannya dan memain-mainkan kakinya.</p>
<p>“Umur enggak ada yang tahu, Le. Udah diatur sama Tuhan.”</p>
<p>Mendengar kalimat itu, aku menutup mukaku dengan kedua tangan. Aku kembali menangis, kali ini lebih keras. Sica berusaha menenangkan diriku dengan memegang pundakku.</p>
<p>“Takut kehilangan itu sangat manusiawi kok, Le. Apalagi hubunganmu dengan Kenji sudah seperti keluarga sendiri. Percaya semua akan baik-baik aja. Apapun yang terjadi, itu yang terbaik untukmu.”</p>
<p>Pegangan Sica tiba-tiba tak terasa. Ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihatnya mulai memudar seperti yang terjadi pada ibu waktu itu. Sica akan lenyap dari hadapanku dan aku akan kembali ke dunia nyata.</p>
<p>“Aku setuju kamu sama Rika, Le. Kalian berdua cocok satu sama lain karena bisa saling melengkapi,” kata Sica sebelum benar-benar menghilang. Setelah itu, semuanya gelap.</p>
<p>***</p>
<p>Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga tak terasa hari keberangkatanku ke Jakarta telah tiba. Selama itu pula, Kenji masih berada di rumah sakit tanpa tahu kapan bisa keluar. Kasus yang sedang diusut Zane mengalami perkembangan yang lambat. Hanya ada beberapa nama yang mulai diselidiki, sedangkan Wijaya benar-benar tak tersentuh. Aku mulai merasa kalau penyelidikan yang selama ini kulakukan menjadi percuma, meskipun aku jadi mengetahui banyak cerita tentang orangtuaku.</p>
<p>Aku menyetujui usul paman, Gisel akan kembali tinggal bersama ayah selama aku studi di Jakarta. Kemarin, ia datang membawa satu tas koper yang berisikan barang pribadinya.</p>
<p>“Besok kita semua akan antar kamu ke bandara ya, Le. Nanti di Jakarta ada teman paman yang bakal jemput kamu dan untuk sementara kamu tinggal di rumahnya. Enggak usah merasa sungkan, teman paman itu udah kayak saudara sendiri,” kata paman kemarin sore sewaktu kami berkumpul di ruang keluarga. Ayah juga ada di sana, wajahnya tak sesuram biasanya. Justru Gisel yang terus memasang wajah murung, membayangkan dirinya akan berpisah dengan kakak tersayangnya.</p>
<p>Aku sadar kalau aku butuh bicara dengan Gisel empat mata. Malamnya, aku datang ke kamarnya. Ia sedang meringkuk di atas tempat tidur, tapi aku tahu ia tidak bisa tidur. Aku pun duduk di dekatnya.</p>
<p>“Gisel, besok kakak berangkat ya. Gisel jaga diri sama ayah. Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat telepon kakak.”</p>
<p>Tidak ada tanggapan dari Gisel.</p>
<p>“Kakak tahu Gisel pasti sedih karena harus pisah sama kakak untuk waktu yang lama, tapi Gisel harus percaya kalau kakak pasti kembali untuk Gisel.”</p>
<p>Masih belum ada tanggapan.</p>
<p>“Gisel, kakak makin enggak tega buat ninggal kamu kalau kamu terus kayak gini. Kakak butuh Gisel melepas kakak dengan ikhlas. Kakak enggak bakal bisa fokus belajar kalau Gisel seperti ini.”</p>
<p>Akhirnya Gisel bangun dan menatap wajahku. Ternyata, dari tadi air mata mengalir di pipinya tanpa suara. Melihat itu, aku segera merangkul Gisel dan melepaskan segala bentuk emosi yang ada di dalam diriku. Gisel tetap tidak memberikan tanggapan apapun, tapi aku mengerti kalau ia pelan-pelan berusaha melepas kepergianku.</p>
<p>***</p>
<p>Keesokan paginya, aku mendapatkan kejutan. Semua teman kelasku, kecuali Kenji yang masih di rumah sakit, datang berkunjung. Ternyata mereka semua ingin memberikan semacam salam perpisahan. Aku pun meminta mereka untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, kami bercerita banyak sekali hal. Mereka berusaha membuat suasana tetap ceria meskipun di dalam hati ada perasaan sedih yang sedang disembunyikan. Hanya Rika yang dari tadi diam walau sesekali berusaha membuat senyum di bibirnya.</p>
<p>“Rika,” panggilku ketika yang lain sedang asyik bercanda. Kebetulan, ia duduk di sebelahku.</p>
<p>“Iya Le.”</p>
<p>“Jangan sedih ya, kita masih bisa sering kontakan kok. Kita pasti akan ketemu lagi.”</p>
<p>“Iya Le.”</p>
<p>Aku pun membelai lembut rambutnya. Tangis yang berusaha ia tahan dari tadi akhirnya tumpah. Teman-teman lain seperti Rena dan Sarah berusaha menenangkan Rika. Sama seperti Gisel, aku juga sangat berat meninggalkan Rika, wanita hebat yang selama ini telah sabar berada di sisiku melewati berbagai macam ujian yang kuhadapi.</p>
<p>***</p>
<p>Diantar oleh paman, aku menjenguk Kenji untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke bandara. Aku harus berpamitan dengan kawan terbaikku itu.</p>
<p>“Kenji, gimana kondisimu?” tanya paman yang baru kali ini menjenguknya.</p>
<p>“Makin hari makin baik kok paman, terima kasih,” jawab Kenji dengan ceria seperti biasa.</p>
<p>“Hari ini Leon berangkat ke Jakarta, jadi dia mau pamitan sama kamu.”</p>
<p>Setelah itu. paman meninggalkan kami berdua. Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya. Wajahnya terlihat sangat tegar, meskipun aku tahu ia juga merasa berat harus berpisah denganku untuk jangka waktu yang lama.</p>
<p>“Sudah waktunya ya, Le?”</p>
<p>“Iya Kenji.”</p>
<p>“Sukses terus ya, semoga kamu bisa menyelesaikan studi dengan cepat. Tahu sendiri kan kalau jurusan Kedokteran menjadi salah satu yang paling sulit untuk lulus? Tapi dengan kemampuanmu, aku yakin kamu bisa lulus cepat.”</p>
<p>“Iya Kenji, terima kasih.”</p>
<p>“Waktu berlalu begitu cepat ya. Kayaknya baru kemarin aku menyapamu di hari pertama MOS. Sekarang kita semua udah lulus dan akan berusaha menggapai impiannya masing-masing. Aku pengen cepet-cepet keluar dari rumah sakit, pengen segera mulai bikin tempat kursus! Hahaha.”</p>
<p>“Iya Kenji, semoga lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.”</p>
<p>Setelah itu, hening menghampiri kami. Aku sadar dari tadi, Kenji sedang mengenakan topeng untuk menyembunyikan perasaannya. Meskipun wajahnya terlihat ceria, ada campuran antara perasaan cemas dan takut di dalam hatinya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>“Kau harus melihatku berhasil menjadi dokter, Ken. Harus,” kataku pada akhirnya.</p>
<p>“Semoga Le, aku pun ingin melihat kamu di puncak kesuksesan. Wah, aku sudah bisa membayangkan kamu mengenakan pakaian dokter, pasti terlihat keren. Sungguh Le, aku ingin melihatnya.”</p>
<p>Lagi-lagi air mataku menetes begitu saja. Perpisahan dengan Kenji ini entah mengapa terasa begitu berat. Ada banyak sekali yang ingin kusampaikan kepadanya, dan mungkin ini kesempatan terakhirku sebelum aku pergi merantau.</p>
<p>“Aku ingin berterima kasih untuk semuanya, Ken. Entah berapa banyak jasamu di dalam kehidupanku. Kau sudah mengeluarkanku dari neraka itu dan menuntunku menjalani hidup yang lebih baik. Aku benar-benar berhutang banyak padamu, dan aku belum pernah sempat membayar hutang tersebut.”</p>
<p>“Ah, jangan dipikirkan Le. Yang namanya saudara memang seperti itu, bukan? Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan timbal balik dalam bentuk apapun Le, kamu pun sudah banyak membantuku. Kamu sudah membuatku merasa memiliki keluarga, kamu membuatku tahu lebih banyak tentang ibuku. Jadi, anggap aja kita impas, ya?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala. Lantas, paman kembali masuk ke dalam ruangan dan memberitahuku kalau sebentar lagi waktunya berangkat. Aku menarik napas panjang dan bangkit dari kursiku. Aku menggenggam tangan Kenji dengan kedua tanganku.</p>
<p>“Kenji, aku berangkat ke Jakarta. Semoga kau lekas sembuh dan bisa memulai impianmu membuka tempat kursus. Aku yakin, kau akan melihatku menjadi seorang dokter yang handal. Aku ingin kau percaya denganku.”</p>
<p>“Aku selalu percaya kamu kok, Leon,” kata Kenji sambil memberikan senyuman khasnya, senyum terakhir yang aku lihat dari dirinya.</p>
<p>***</p>
<p>Tiga minggu kemudian, di saat aku disibukkan dengan berbagai kegiatan OSPEK kampus, aku mendengar kabar kalau Kenji, sahabat sekaligus saudara terbaikku, pergi untuk selamanya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-89-keberangkatan/">Chapter 89 Keberangkatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-89-keberangkatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 88 Pengakuan Markus</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2020 00:52:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengumuman kelulusan muncul dua minggu setelah pertemuanku dengan Zane dan Awan, tepatnya pada akhir Mei. Selama itu pula Kenji masih harus dirawat di rumah sakit. Kata dokter, kondisinya masih belum stabil walaupun ia terlihat kuat ketika bertemu dengan teman-temannya. Aku pun jadi makin mengkhawatirkan kondisinya. “Untung ya Le sekolah kita lulus semua. Nilai kelas kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/">Chapter 88 Pengakuan Markus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pengumuman kelulusan muncul dua minggu setelah pertemuanku dengan Zane dan Awan, tepatnya pada akhir Mei. Selama itu pula Kenji masih harus dirawat di rumah sakit. Kata dokter, kondisinya masih belum stabil walaupun ia terlihat kuat ketika bertemu dengan teman-temannya. Aku pun jadi makin mengkhawatirkan kondisinya.</p>
<p>“Untung ya Le sekolah kita lulus semua. Nilai kelas kita pun tinggi-tinggi,” kata Rika di kelas setelah kami mendengar pengumuman kelulusan.</p>
<p>“Iya Rika.”</p>
<p>“Kenji harus kita beri tahu, nilainya sempurna, satu-satunya dari provinsi! Pasti ia senang dengar kabar ini.”</p>
<p>“Iya Rika.”</p>
<p>Menyadari aku menjawabnya dengan asal-asalan, Rika pun memegang pundakku dan berlalu. Ia paham kalau aku butuh waktu sendiri. Bukan karena nilaiku kalah sedikit dari nilai Kenji, melainkan karena merasa kehilangan. Seharusnya, momen seperti ini bisa dirayakan bersama-sama. Jika Kenji sedang dalam kondisi sehat, ia akan berdiri di depan kelas dan mengatakan kalimat-kalimat yang mengharukan.</p>
<p>Dari sudut kelas, aku bisa memperhatikan ekspresi bahagia teman-teman setelah mengetahui mereka telah lulus dari SMA dan sedikit tegang membayangkan bagaimana kehidupan perkuliahan nanti. Beberapa memang sudah mendapatkan kampusnya, namun masih ada teman-teman yang masih harus berjuang melalui jalur tes tulis nanti. Aku tidak bisa memberikan bantuan apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk mereka semua. Aku jadi merasa sedikit sentimentil. Mau bagaimanapun, mereka semua adalah teman-teman yang baik. Mereka mau menerimaku setelah semua kelakuanku di masa-masa MOS. Membayangkan kalau setelah ini harus berpisah dengan mereka membuatku merasa sedih.</p>
<p>“Leon kenapa? Kok matanya berkaca-kaca gitu?” tiba-tiba Gita datang dari arah samping dan memergokiku sedang bersedih. Aku mengusap air mata dan menjawab tidak apa-apa.</p>
<p>“Kamu sedih ya karena harus pisah dari kami? Kamu harus lanjut kuliah di Jakarta, jauh dari kami semua,” kata Gita lagi.</p>
<p>“Ketebak, ya.”</p>
<p>“Ya kita jadi teman sekelas udah dua tahun, wajar kan? Apalagi, kamu bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan ekspresi. Semua kamu tampilkan apa adanya.”</p>
<p>“Iya Gita, terima kasih.”</p>
<p>“Tenang Le, kami pasti akan nunggu kamu pulang dari Jakarta. Enggak mungkin kan kamu akan terus-terusan di sana? Pasti ada waktunya kamu balik, entah lebaran entah kapan. Di saat itu, kita semua akan berkumpul lagi seperti biasanya!”</p>
<p>Aku mengucapkan terima kasih ke Gita. Ia membalasnya dengan senyuman. Kami berdua tidak pernah benar-benar dekat, namun entah mengapa aku bisa merasa kalau kami bisa saling memahami. Kalimat-kalimat yang muncul dari Gita memberiku semangat lagi. Aku yakin, kami semua akan bertemu lagi di waktu yang akan datang. Kami sudah bagai keluarga tanpa ikatan darah. Mungkin aku memang tidak dekat dengan semuanya, tapi aku merasa telah menjadi bagian dari keluarga ini. Aku yakin suatu saat kami akan berkumpul bersama lagi. Di saat itu, Kenji telah sembuh total dari penyakitnya dan akan memeriahkan suasana seperti biasa.</p>
<p>***</p>
<p>Sepulang dari sekolah, mengabaikan kelas-kelas lain yang memulai tradisi corat-coret seragam yang tak berfaedah, aku mendapatkan telepon dari Zane.</p>
<p>“Halo Leon, kata Rachel hari ini pengumuman kelulusan, ya? Selamat ya buat kelulusannya.”</p>
<p>“Iya, terima kasih Zane.”</p>
<p>“Saya punya sesuatu sebagai hadiah kelulusanmu.”</p>
<p>“Oh iya? Apa itu?”</p>
<p>“Saya sudah tahu di mana Markus berada. Kamu senggang sekarang? Kalau iya, satu jam lagi saya meluncur ke rumahmu.”</p>
<p>Kabar tersebut membuat perasaanku yang tadinya sendu mendadak bergelora. Lebih tepatnya, terbakar emosi. Siapa yang menyangka kalau aku akan bertemu dengan pembunuh ibuku secepat ini. Aku harus mengendalikan diri agar emosi ini segera surut dan aku tidak berbuat hal yang bisa merugikan diriku sendiri.</p>
<p>“Kakak, kenapa wajahnya jadi tegang gitu? Kan kakak udah lulus,” tanya Gisel yang memecah lamunanku.</p>
<p>“Ah, maaf Gisel, kakak baru dapat telepon dari Zane. Kakak harus pergi satu jam lagi.”</p>
<p>“Yah, Gisel ditinggal lagi. Sebelum kakak pergi, kakak harus makan kue buatan Gisel, khusus buat merayakan kelulusan kakak.”</p>
<p>Gisel segera berlari ke arah dapur dan kembali dengan membawa sebuah kue mungil yang terlihat sangat manis. Aku pun terkejut melihat kejutan dari adikku yang paling manis ini.</p>
<p>“Sejak kapan Gisel bisa bikin kue kayak gini?” tanyaku keheranan.</p>
<p>“Hehehe, akhir-akhir ini Gisel emang sering latihan biar bisa kasih hadiah buat kakak. Cobain kak!”</p>
<p>Aku pun mengambil sepotong dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Kue buatan Gisel langsung luber di dalam, begitu empuk. Manis, tapi tidak terlalu manis. Pas untuk seleraku.</p>
<p>“Ini kue terenak yang pernah kakak makan. Makasi ya Gisel, sini kakak peluk.”</p>
<p>Gisel pun berlari ke arahku dan memelukku dengan sangat erat. Emosiku yang muncul tadi tiba-tiba padam begitu saja. Gisel memang orang yang paling bisa meredakan emosiku. Aku bersyukur memilikinya dalam hidupku.</p>
<p>***</p>
<p>Mobil Zane terdengar berhenti di depan rumahku. Aku yang sudah siap dari tadi menghampirnya dengan segera setelah berpamitan dengan Gisel. Ternyata, ia juga bersama Awan. Tanpa banyak basa-basi, kami pun segera pergi entah ke mana tujuannya. Aku duduk di bangku belakang, sedangkan Awan duduk di sebelah Zane yang mengemudi.</p>
<p>“Jadi Leon, ternyata si Markus ini tengah dipenjara karena kasus lain. Saya mendapatkan informasi ini kemarin malam. Oleh karena itu, saya langsung meneleponmu hari ini dan mengajak Awan juga. Siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi tambahan darinya dengan iming-iming masa hukumannya bisa diperingan,” jelas Zane di dalam perjalanan.</p>
<p>“Ada masalah Leon?” tanya Zane tiba-tiba. Ternyata ia memperhatikanku dari kaca spion. Nampaknya ketegangan wajahku berhasil ia tangkap. Aku segera berkata tidak ada apa-apa agar tidak membuatnya cemas dan membatalkan pertemuan ini. Zane memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah dan beralih dengan membicarakan berbagai topik dengan Awan. Awalnya aku berusaha menyimak percakapan mereka, sebelum akhirnya terbawa oleh lamunanku sendiri.</p>
<p>Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di depan penjara. Zane nampak kenal dengan petugas-petugas yang ada di sana. Aku dan Awan hanya membuntutinya di belakang, menuju sebuah ruangan yang sedikit pengap. Kami diminta untuk menunggu di sana. Lima menit kemudian, pintu terbuka dan terlihat seorang laki-laki berkepala botak di hadapan kami. Jadi inilah Markus, orang yang sudah memaksa ibuku bunuh diri.</p>
<p>“Wah wah, kukira siapa, ternyata kawan lamaku Awan,” kata Markus tanpa terlihat bersalah sama sekali.</p>
<p>“Santai sekali kamu Markus, padahal posisimu sedang mengenakan baju narapidana dan kedua lengan diborgol,” jawab Awan tak mau kalah.</p>
<p>“Wah, nampaknya dirimu sekarang dikawal ya? Makanya bisa sedikit congkak seperti ini. Aku enggak akan lupa sama wajah takutmu ketika tahu anakmu dibunuh.”</p>
<p>Awan berdiri, namun segera ditenangkan oleh Zane. Ia memutuskan untuk mengendalikan situasi.</p>
<p>“Markus, mungkin kamu pernah mendengar nama saya. Saya Zane Trunajaya dan di sini bertindak sebagai pengacara Awan. Semua kata-kata yang terucap dari mulutmu akan menentukan lamamu mendekam di penjara. Jadi, hati-hati dengan kalimatmu.”</p>
<p>Markus hanya menyeringai diberi peringatan seperti itu. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah pasrah dengan hidupnya dan tidak peduli lagi dengan apapun. Oleh petugas, ia digiring untuk duduk di hadapan kami. Wajahnya benar-benar memuakkan.</p>
<p>“Jadi ucapanku tadi juga termasuk dicatat ya, sial.”</p>
<p>“Kamu mengakui kalau kamu orang dibalik pembunuhan anakku?” tanya Awan dengan nada suara tinggi.</p>
<p>“Kamu kira aku bodoh ya? Jelas-jelas tuan pengacara ini bilang semua ucapanku akan dicatat, lantas kamu suruh aku mengakui sesuatu yang belum tentu benar?”</p>
<p>“Markus, kalau Anda berani mengakui semua kejahatan yang sudah diperbuat, saya yang menjamin kalau masa hukuman Anda tidak akan terlalu berat karena bisa diajak kerja sama.”</p>
<p>Markus hanya mendengus mendengar kalimat Zane.</p>
<p>“Terserah kalian lah, aku juga udah enggak punya apa-apa lagi sekarang. Si tua itu udah mau bangkrut, tinggal tunggu waktu.”</p>
<p>“Baiklah, saya mulai tanya jawabnya. Apakah Anda mengakui terlibat dalam kasus pembunuhan anak saudara Awan yang bernama Syarifudin?”</p>
<p>“Iya iya, aku yang menabraknya karena Awan tidak mau menyerahkan bukti jahanam itu.”</p>
<p>“Anda juga mengakui kalau terlibat rekayasa pembunuhan yang dialami oleh Ibu Dewi?”</p>
<p>“Wah, sampai ke situ juga ya? Iya, aku pelakunya.“</p>
<p>Mendengar pengakuan tersebut, darahku kembali mendidih. Aku mengepalkan tangan sebagai upaya untuk menahan emosi.</p>
<p>“Di sebelah saya ini adalah anak dari beliau. Ia punya beberapa pertanyaan untukmu.”</p>
<p>“Wah benarkah? Kalau tidak salah waktu itu cuma ada anak perempuan. Aku tidak tahu kalau Dewi punya anak laki-laki.”</p>
<p>“Diamlah brengsek dan dengarkan pertanyaanku.”</p>
<p>Semua terkaget mendengar kalimat yang meluncur dari bibirku. Markus yang dari tadi terlihat angkuh pun terkejut. Sorot matanya untuk pertama kali menunjukkan ketakutan.</p>
<p>“Bagaimana kau merekayasa kematian ibuku?”</p>
<p>“Aku memaksanya menggantung lehernya sendiri, kalau tidak anaknya yang kecil itu akan kubunuh. Ia menuruti permintaan tersebut dan kami pun pergi begitu saja. Kami membunuhnya sebagai peringatan kepada Awan.”</p>
<p>“Kau tidak sendirian waktu itu, ke mana rekanmu yang satu lagi?”</p>
<p>“Mati, dia sudah mati. Kalah judi, terlibat pertikaian hingga tertembak.”</p>
<p>“Dewi bukanlah ibu kandungku. Kau tahu orang kandungku, Bambang dan Ratih. Di mana mereka berada?”</p>
<p>“Tidak tahu, waktu mereka hilang aku belum membelot.”</p>
<p>“Di mana Wijaya sekarang?”</p>
<p>“Tidak tahu, kami selalu berkomunikasi melalui telepon. Sudah lama kami tidak bertemu secara langsung.”</p>
<p>“Kau tadi bilang si tua itu akan bangkrut, maksudnya Wijaya, kan?”</p>
<p>“Benar, tapi aku tahu itu karena si tua itu sudah tidak mampu membayar kami. Orang-orang yang ia bayar untuk mengawasi orang-orang seperti Awan juga sudah entah hilang ke mana.”</p>
<p>Aku menggertakkan gigi. Sudah tidak ada pertanyaan lagi yang ingin kutanyakan. Tapi aku benar-benar merasa kesal karena tidak banyak informasi baru yang berhasil kudapatkan darinya. Aku hanya bisa mengonfirmasi apa saja yang sudah ia lakukan.</p>
<p>“Satu lagi informasi buatmu nak. Wanita selingkuhan ayahmu itu juga orangnya Wijaya. Hal itu disengaja untuk merusak mental ibumu. Sayangnya, ibumu termasuk tangguh.”</p>
<p>Mendengar itu, aku langsung menerjang ke arahnya sebelum ditahan oleh Zane. Pernyataan itu benar-benar membuatku marah. Terlebih lagi ia bisa mengatakan itu dengan santainya.</p>
<p>“Leon tenang, ingat kataku tadi. Jangan sampai kita melukai saksi mata sekaligus tersangka. Tenang Leon, tenang,” kata Zane berusaha menahan diriku dengan tenaganya yang cukup besar. Aku berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan dan kembali duduk di kursiku.</p>
<p>“Baiklah Markus, ada hal lain yang bisa Anda sampaikan kepada kami? Di mana teman-temanmu yang lain? Siapa saja yang terlibat dengan kejahatan-kejahatan ini? Kalau informasimu benar, saya akan berusaha meringankan hukuman Anda.”</p>
<p>“Mau diringankan atau tidak terserah saja, aku sudah tidak peduli. Tangan ini sudah terlalu kotor, mau mati besok pun aku tidak peduli.”</p>
<p>“Markus, siapa lagi yang terlibat dalam kasus-kasus ini?”</p>
<p>Markus pun mulai menyebutkan nama-nama yang tidak aku kenal. Zane sesekali melontarkan pertanyaan untuk memperjelas sesuatu. Aku dan Awan hanya duduk diam memperhatikan kesaksian Markus. Jujur, aku sama sekali tidak merasa puas dengan pertemuan ini. Seandainya aku diberi kesempatan menyebutkan satu permintaan untuk dikabulkan, aku akan meminta agar dipertemukan dengan Wijaya. Aku ingin sekali bertemu dengannya dan membuat perhitungan. Sangat ingin, tak peduli berapapun harganya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/">Chapter 88 Pengakuan Markus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-88-pengakuan-markus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 86 Rumah Sakit Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-86-rumah-sakit-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-86-rumah-sakit-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 01:05:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 86]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4050</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rumah sakit terasa lengang. Wajar saja, jarum jam di dinding menunjuk ke angka 10. Tak banyak orang yang berobat selarut ini, kecuali dalam keadaan darurat seperti yang dialami oleh Kenji. Begitu aku menemukan ia terkapar dalam kondisi tidak sadar, aku segera membawanya ke dalam mobil Sarah. Kami semua segera pergi ke rumah sakit dan membawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-86-rumah-sakit-lagi/">Chapter 86 Rumah Sakit Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah sakit terasa lengang. Wajar saja, jarum jam di dinding menunjuk ke angka 10. Tak banyak orang yang berobat selarut ini, kecuali dalam keadaan darurat seperti yang dialami oleh Kenji. Begitu aku menemukan ia terkapar dalam kondisi tidak sadar, aku segera membawanya ke dalam mobil Sarah. Kami semua segera pergi ke rumah sakit dan membawa Kenji ke UGD. Sudah sekitar dua jam kami menanti hasil diagnosis dari dokter tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kawan kami itu.</p>
<p>Aku sempat mengira kalau Kenji dibunuh oleh orang suruhan Wijaya karena gerak-gerik kami mulai mencurigakan. Apalagi, aku melihat adanya bercak darah walau jumlahnya tidak banyak. Namun setelah memeriksa tubuh Kenji, aku tidak menemukan luka fisik sama sekali. Nadinya masih berdenyut, yang menandakan ia hanya pingsan.</p>
<p>“Sarah, Rika, kalian bisa pulang duluan. Biar aku yang menunggu Kenji,” kataku kepada mereka berdua, mengingat hari makin malam.</p>
<p>“Enggak apa-apa Le, kami temenin kamu. Kami juga mau tahu apa yang terjadi sama Kenji,” jawab Rika dengan tatapan sedih kepadaku. Aku memutuskan untuk tidak mendebat keputusan itu. Gisel sudah terlelap di pangkuanku. Mungkin ia terkejut melihat Kenji pingsan sehingga kehabisan tenaga. Aku membelai rambutnya dengan lembut, salah satu upaya yang kulakukan untuk membuat diriku merasa tenang.</p>
<p>Tak lama kemudian, keluar dokter dari ruang UGD. Dokter yang bertemu kami kali ini berbeda dengan dokter yang dulu merawat Sica. Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan seandainya bedebah itu yang memeriksa Kenji.</p>
<p>“Kalian teman-temannya, ya? Apa Kenji punya keluarga?”</p>
<p>Aku pun menjelaskan secara singkat kondisi Kenji yang tinggal sebatang kara. Dokter tersebut mendengarkan secara perhatian. Setelah aku selesai, ia menarik napas panjang seolah ada berita buruk yang harus ia sampaikan.</p>
<p>“Baiklah, jadi setelah saya melakukan pemeriksaan secara mendalam, saya menemukan fakta bahwa Kenji memiliki penyakit paru-paru basah.”</p>
<p>Kami semua, kecuali Gisel yang masih tertidur, tercekat mendengar kabar ini. Sama seperti Sica dulu, lagi-lagi penyakit paru-paru. Tubuhku bergetar dengan hebatnya tanpa diketahui sebabnya. Rika menyadari hal ini dan berusaha menenangkanku. Gisel sampai terbangun dari tidurnya.</p>
<p>“Bisa diceritakan bagaimana pola hidupnya? Mungkin kondisi rumahnya? Karena sepertinya belum lama ia mengidap penyakit ini, mungkin baru sekitar satu tahun.”</p>
<p>Setelah berhasil menenangkan diri, aku menjelaskan kalau Kenji tinggal di rumah kecil. Ia kerap tidur di lantai dengan alas seadanya. Mendengar hal ini, sang dokter sedikit terkejut.</p>
<p>“Jarak antara ia tidur dan kamar mandi berdekatan?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala. Ruangan di rumah Kenji memang sangat berdekatan karena mungilnya.</p>
<p>“Bisa jadi, pemicu dari penyakitnya adalah tingkat kelembapan yang tinggi ditambah kebiasaan tidur di lantai. Kemungkinan besar ia terkena infeksi bakteri. Di rumahnya tidak ada semacam dipan?”</p>
<p>Aku menggelengkan kepala. Sejak pertama aku mampir ke rumahnya, tidak pernah kutemukan perangkat tempat tidur yang lengkap.</p>
<p>“Baiklah, kemungkinan besar itulah yang memicu penyakitnya. Penyakit ini memang susah diidentifikasi jika tidak diperiksakan ke dokter. Apa dia menunjukkan gejala akhir-akhir ini?”</p>
<p>Aku menjelaskan kalau akhir-akhir ini Kenji sering terbatuk, baik batuk kering ataupun berdahak.</p>
<p>“Buat informasi kalian, paru-paru basah terjadi karena adanya timbunan cairan di jaringan paru. Penyakit ini sangat mudah menjangkiti orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Batuk yang kamu sebutkan tadi hanya salah satu gejalanya.”</p>
<p>“Gejala yang lain apa, dok?” tanyaku padanya.</p>
<p>“Nyeri dada, yang biasanya terasa ketika batuk. Napas terasa sesak dan terlihat mudah kelelahan. Terkadang disertai demam dan mual. Kenji harus mendapatkan perawatan lebih lanjut, kalian bisa mengurus proses administrasinya?”</p>
<p>Setelah perbincangan dengan dokter, kami pun segera mengurus administrasi. Sarah meminta agar Kenji dirawat di ruang VIP. Beberapa menit kemudian, Kenji telah dipindahkan ke ruangan. Ia masih belum sadarkan diri dan kami pun masih belum diperbolehkan untuk menjenguk. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku dan Gisel diantar Sarah sampai rumah.</p>
<p>“Sabar ya Le, Kenji pasti sembuh,” kata Rika ketika kami telah sampai di depan rumah.</p>
<p>“Harusnya aku sadar Rika, Kenji akhir-akhir ini sering terlihat sakit. Apa yang sudah aku perbuat? Tidak ada Rika, aku hanya diam. Ini semua salahku,” aku merutuki diri sendiri karena sadar betapa aku sudah begitu abai kepada Kenji.</p>
<p>“Jangan gitu kak, ini semua udah ditakdirkan. Kakak enggak boleh nyalahkan diri kayak gitu. Yang penting sekarang kita fokus sama kesembuhan Kak Kenji,” kata Gisel berusaha menenangkanku. Aku tidak menjawab apapun. Setelah menggumamkan terima kasih, aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun.</p>
<p>***</p>
<p>Kenji masih belum sadar ketika keesokan harinya aku datang lagi ke rumah sakit. Walaupun begitu, kata dokter kondisinya berangsur-angsur mulai membaik. Tidak bisa berbuat apa-apa, aku segera kembali ke rumah.</p>
<p>“Gimana kak? Kak Kenji udah sadar?” tanya Gisel sewaktu aku tiba di rumah. Aku hanya menggelengkan kepala dan berlalu ke kamar. Aku duduk di atas tempat tidur sambil menatap brankas yang telah berhasil kubuka. Seharusnya, minggu depan adalah hari pertemuan kami dengan Zane Trunajaya. Dengan kondisi seperti ini, aku meragukan kalau pertemuan itu akan terjadi.</p>
<p>Handphoneku berdering nyaring. Umur panjang, orang yang baru kubayangkan menelepon. Dengan sedikit berat hati, aku mengangkat telepon dari Zane.</p>
<p>“Iya, dengan Leon di sini.”</p>
<p>“Halo Leon? Enggak lagi sibuk, kan? Saya mau membicarakan mengenai pertemuan kita minggu depan. Saya mengusulkan pertemuan dilakukan di rumah saya biar aman, Awan nanti akan dijemput sama tim saya. Kalian berdua juga akan saya jemput. Hari Minggu jam 3 sore enggak masalah, kan?”</p>
<p>“Zane, maaf menyela, ada berita buruk.”</p>
<p>Aku pun menceritakan kondisi Kenji yang baru saja masuk ke rumah sakit. Zane terdengar terkejut dan mengutarakan keprihatiannnya. Ia sama sekali tidak tersinggung aku memanggil namanya secara langsung, meskipun jarak usia kami belasan tahun.</p>
<p>“Tapi maaf Leon, bukannya saya tidak punya empati, tapi saya yakin Kenji ingin kita meneruskan apa yang sudah dimulai. Kenji pasti tidak ingin menjadi penghalang. Kita sudah begitu dekat, apalagi saya juga sudah lama mengincar kelompoknya Wijaya. Tapi saya tidak akan memaksa. Tolong beritahu saya jika kamu berubah pikiran. Setidaknya, saya akan menjumpai Awan untuk membicarakan masalah ini,”</p>
<p>Setelah itu pembicaraan berakhir. Aku melemparkan handphoneku ke meja dan berbaring di atas tempat tidur. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.</p>
<p>***</p>
<p>Hari Senin, Kenji telah siuman walau kondisinya masih lemah. Aku juga telah diizinkan untuk menjenguknya. Sebenarnya aku ingin menjaga Kenji dan tinggal di kamarnya, namun oleh pihak rumah sakit dilarang mengingat bakteri yang ada di paru-paru Kenji bisa menular. Aku juga diwajibkan untuk mengenakan masker.</p>
<p>“Hai Le, maaf ya kamu jadi harus melihatku dengan kondisi seperti ini,” sapa Kenji ketika melihatku masuk ke ruangannya.</p>
<p>“Tak apa, fokuslah pada kesembuhanmu.”</p>
<p>“Iya Le, kamu ya yang bawa aku ke rumah sakit?”</p>
<p>“Aku dibantu Rika dan Sarah. Untunglah Sarah bawa mobil sehingga kami bisa membawamu ke rumah sakit.”</p>
<p>“Ah begitu, tolong sampaikan terima kasihku kepadanya.”</p>
<p>Kenji terbatuk-batuk lagi sehingga aku menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bicara dulu. Ia hanya tersenyum mendengar laranganku.</p>
<p>“Omong-omong, gimana hasil SNMPTN-mu? Lulus, kan?”</p>
<p>Aku mengiyakan pertanyaan tersebut dengan singkat. Ia juga menanyakan hasil teman-teman lain yang juga kujawab dengan singkat. Kenji menyadari kalau perasaanku sekarang bercampur aduk, antara sedih dan marah.</p>
<p>“Aku kenal sama kamu belum ada dua tahun, tapi aku tahu sekarang kamu pasti sedang gusar denganku. Ya, wajar kok Le, kamu suruh aku periksa ke dokter berkali-kali, namun aku tetap bandel dan menyepelekan penyakitnya.”</p>
<p>“Kau itu cerdas, harusnya kau pakai sedikit otakmu buat menyadari kemungkinan buruk yang akan terjadi.”</p>
<p>“Hahaha, iya memang Le. Hanya saja, akhir-akhir ini otakku rasanya tidak seencer biasanya. Mungkin karena pengaruh penyakit, ya? Dokter sudah memberitahuku apa penyakitku, aku pun terkejut mendengarnya. Omong-omong, pasti Sarah yang meminta aku dirawat di ruangan semewah ini.”</p>
<p>Aku hanya menanggapinya dengan diam. Kenji benar, saat ini perasaanku bercampur aduk antara sedih, kecewa, marah, merasa tak berdaya, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa aku, yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, tidak menyadari kondisi Kenji yang separah ini? Harusnya aku tidak menyuruhnya ke dokter, harusnya aku membawanya periksa ke dokter. Seandainya saja aku melakukan itu, Kenji mungkin tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit seperti ini.</p>
<p>“Minggu ini jadwal pertemuanmu dengan Zane, kan? Kamu bisa kan bertemu dengannya tanpaku?”</p>
<p>“Aku mempertimbangkan untuk membatalkan pertemuan tersebut.”</p>
<p>“Jangan Le, apa yang telah kita mulai harus segera diselesaikan. Aku mohon, temuilah Zane dan berikan bukti-bukti tersebut. Meskipun kita telah mengetahui sebagian besar cerita dari masa lalu orangtua kita, pasti ada beberapa hal yang belum kita ketahui. Menuntaskan perkara ini menjadi salah satu jalannya.”</p>
<p>“Entah ini perasaanku saja atau bukan, tapi aku merasa kau menjadi cerewet sekali Kenji.”</p>
<p>“Benarkah? Hahaha, mungkin karena aku merasa harus menyampaikan semuanya mumpung sempat. Tapi aku benar-benar mohon sama kamu, tolong temui Zane dan tuntaskan perkara ini. Aku percaya kamu bisa, Le.”</p>
<p>Aku tidak mengiyakan maupun menolaknya. Aku hanya menatapnya dalam diam. Jika diperhatikan secara detail, tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Pipinya yang biasanya terlihat berisi menjadi lebih tirus. Tangannya terikat dengan infus, di hidungnya tertancap semacam peralatan yang aku tidak paham fungsinya. Melihat Kenji dalam kondisi seperti ini membuatku kembali merutuki diriku sendiri.</p>
<p>“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Le. Ini semua salahku karena mengabaikan perintahmu untuk periksa ke dokter. Seandainya aku nurut, pasti aku enggak perlu masuk rumah sakit.”</p>
<p>“Terserah aku mau menyalahkan siapa,” nada suaraku masih terdengar ketus.</p>
<p>“Hahaha, baiklah. Aku cuma minta temuilah Zane. Jangan sampai semuanya batal karena aku. Kalau kamu sampai membatalkan pertemuan itu, maka aku akan menjadi merasa sangat bersalah.”</p>
<p>Aku hanya menghela napas panjang. Baiklah, demi Kenji aku akan tetap menemui Zane. Aku pun berpamitan kepadanya agar ia memiliki waktu lebih untuk beistirahat. Selama aku di sana, pasti ia akan terus berbicara. Semoga saja ia segera keluar dari rumah sakit dan dapat berkumpul dengan kami seperti biasa.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-86-rumah-sakit-lagi/">Chapter 86 Rumah Sakit Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-86-rumah-sakit-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 85 Pengumuman</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-85-pengumuman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-85-pengumuman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2020 03:45:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 85]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3999</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengumuman SNMPTN diumumkan melalui internet dan dilakukan serentak pada hari Jumat pukul 19:00. Aku sebagai orang yang termasuk gagap teknologi sempat kebingungan akan membuka pengumuman dari mana. Pierre mengusulkan aku untuk pergi ke warnet dekat sekolah. Bahkan, ia secara baik hati memberi semacam tutorial apa yang harus aku lakukan di sana dan situs apa saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-85-pengumuman/">Chapter 85 Pengumuman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pengumuman SNMPTN diumumkan melalui internet dan dilakukan serentak pada hari Jumat pukul 19:00. Aku sebagai orang yang termasuk gagap teknologi sempat kebingungan akan membuka pengumuman dari mana. Pierre mengusulkan aku untuk pergi ke warnet dekat sekolah. Bahkan, ia secara baik hati memberi semacam tutorial apa yang harus aku lakukan di sana dan situs apa saja yang harus kukunjungi. Ketika aku berusaha mencerna petunjuk-petunjuk dari Pierre, Rika datang menghampiri kami berdua.</p>
<p>“Ada apa ini? Kok kayaknya serius banget?”</p>
<p>“Aduh Rika, aku berasa lagi ngajarin komputer ke manusia purba. Leon ini pintarnya bukan main, tapi kalau masalah teknologi gapteknya enggak ada yang ngalahin!” ujar Pierre tanpa menyembunyikan kekesalannya.</p>
<p>“Hahaha, iya sih emang. Padahal nilai komputernya di rapot juga enggak buruk-buruk amat.”</p>
<p>Sesaat kemudian, Rika terlihat memiliki ide.</p>
<p>“Gimana kalau kamu ke rumahku, Le? Di rumahnya Sarah maksudku. Kalau enggak salah ada beberapa laptop di sana, rumahnya juga udah punya koneksi internet yang stabil. Kamu bisa ngajak Kenji kalau malu ke rumahnya cewek.”</p>
<p>“Wah, Leon bakal ngeharem ini!” kata Pierre asal bicara, meskipun aku tidak tahu apa arti harem.</p>
<p>“Ish Pierre, Leon cowok polos enggak ngerti begituan. Gimana, Le? Kalau mau, aku yang bilang ke Sarah.”</p>
<p>“Aku tanya ke Kenji dulu ya kalau gitu.”</p>
<p>Aku pun beranjak dari kursi dan menghampiri Kenji yang ada di bangkunya. Ketika sudah berada di belakangnya, aku mendadak jadi ragu untuk bertanya kepadanya. Kenji menjadi satu-satunya siswa di kelas ini yang tidak mengikuti SNMPTN. Setangguh apapun Kenji, pasti ia akan merasa terbebani hari ini. Yang bersangkutan nampaknya merasa ada seseorang di belakangnya hingga memutuskan untuk menoleh. Begitu melihatku, ia menunjukkan senyumnya yang khas.</p>
<p>“Eh Leon, tumben di situ. Kenapa?”</p>
<p>Aku tak kuasa menjawab pertanyaannya, sehingga memutuskan untuk menggeleng begitu saja dan kembali ke bangkuku. Rika kembali menghampiriku dan menanyakan kesediaanku pergi ke rumahnya.</p>
<p>“Maaf Rika, nampaknya aku ke warnet aja. Enggak enak sama Sarah.”</p>
<p>“Begitu ya? Memangnya Kenji enggak bisa nanti malam?”</p>
<p>Aku hanya menggelengkan kepala dan menundukkan kepala dalam-dalam. Entah mengapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang menyakitkan malam ini.</p>
<p>***</p>
<p>Pukul 18:00 selepas Maghrib, aku mendengar suara ketukan pintu. Aku yang tengah bersiap pergi ke warnet pun menghentikan aktivitas untuk mengetahui siapa yang datang ke sini. Saat kubuka, ternyata Rika yang datang bersama Sarah. Aku melihat sebuah mobil berawarna putih terparkir di depan.</p>
<p>“Malam Leon, karena kamu enggak bisa datang ke rumah, kami memutuskan untuk datang ke rumahmu,” kata Rika dengan nada ceria. Sarah yang ada di belakangnya hanya ikut memasang wajah pasrah.</p>
<p>“Baiklah, silakan masuk.”</p>
<p>Aku menyalakan lampu ruang tamu dan mempersilakan mereka berdua duduk. Rika memanggul tas ransel, sedangkan Sarah membawa tas jinjing. Kemungkinan besar mereka berdua membawa laptop di dalamnya. Lantas, aku teringat sesuatu.</p>
<p>“Di rumahku tidak ada koneksi internet.”</p>
<p>“Santai Leon, Sarah punya modem kok. Kita tetap bisa internetan.”</p>
<p>Aku mengangguk meskipun sebenarnya tidak terlalu paham. Aku masih belum mengerti motif Rika datang ke mari hingga membawa Sarah. Untuk menenangkan diri, aku meminta izin ke belakang dengan alasan membuatkan mereka berdua minum. Gisel yang dari tadi di kamar untuk belajar akhirnya keluar dan menyapa Rika dan Sarah.</p>
<p>Entah mengapa aku terlihat mengulur-ulur waktu di dapur. Sirup yang telah larut dari tadi terus aku aduk-aduk melawan arah jarum jam. Pikiranku melamun entah ke mana, aku sendiri tidak bisa menerka arahnya. Lamunanku terpecah karena tiba-tiba mendengar suara dor dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Rika.</p>
<p>“Ditungguin lama banget, ternyata lagi ngelamun.”</p>
<p>“Maaf Rika, ini udah selesai, akan kubawakan ke depan.”</p>
<p>“Leon kepikiran sama Kenji, kan?”</p>
<p>Pertanyaan Rika tepat sasaran. Sepertinya memang dari tadi aku memikirkan kawanku yang satu itu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuknya. Bahkan, apa yang ia rasakan sekarang pun tidak tahu. Apakah senang karena teman-temannya akan melanjutkan studi di universitas impiannya? Adakah perasaan sedih karena dirinya sendiri tidak bisa lanjut kuliah? Semua perasaan itu pasti bercampur aduk di dalam hatinya, dan aku sebagai orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri justru tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>“Tadi siang kamu enggak jadi ngajak Kenji karena merasa enggak enak, kan?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala perlahan.</p>
<p>“Kamu tahu enggak kenapa aku malam-malam ke sini sampai bawa Sarah? Karena aku tahu kamu pasti merasa bimbang saat ini. Kamu enggak tahu kan harus berbuat apa, sampai enggak peduli sama pengumumanmu sendiri?”</p>
<p>Sekali lagi aku menganggukkan kepala.</p>
<p>“Makanya aku membujuk Sarah buat lihat pengumuman di rumahmu, karena aku enggak mau kamu memikirkan masalah ini sendirian. Memang kamu yang paling dekat sama Kenji, tapi bukan berarti kami enggak peduli sama Kenji. Kami juga memikirkan perasaannya, walau mungkin usulku tadi siang kurang mencerminkan hal itu. Percaya Leon, Kenji pasti akan senang ketika tahu teman-temannya berhasil masuk ke universitas yang diinginkan, melebihi kesedihannya tidak bisa lanjut kuliah. Kenji selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, kamu tahu itu, kan?”</p>
<p>Rika mendekat ke arahku dan memegang pipiku dengan kedua tangannya. Tatapannya yang penuh dengan kasih sayang melihat lurus ke arah mataku.</p>
<p>“Setelah kita mengetahui hasil SNMPTN malam ini, kita ke rumah Kenji ya. Nanti aku sama Sarah juga bakal telepon teman-teman yang lain, sehingga kita bisa laporan ke Kenji siapa aja yang keterima. Kita di kelas ini enggak sekadar teman kelas, kita udah kayak keluarga. Dua tahun dijalani bersama dengan suka dukanya, Kenji pasti ingin ikut ambil bagian. Leon tenang ya, Kenji itu anak yang tangguh kok.”</p>
<p>Air mataku langsung menetes begitu saja seusai mendengarkan kalimat-kalimat yang dilontarkan Rika. Kepalaku hinggap di pundaknya dan suara tangis tak bisa kuredam. Rika berusaha menenangkanku dengan membelai punggungku dengan lembut. Aku tak tahu apa penyebab air mata ini tumpah. Kemungkinan besar, karena besarnya perasaan bersalahku yang menyadari kalau aku tidak benar-benar memahami Kenji seperti ia memahami diriku.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah tangisku reda, aku dan Rika kembali berjalan ke ruang tamu. Aku yakin Sarah dan Gisel tadi mendengarku menangis, namun mereka berdua sama-sama memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Aku melirik ke arah jarum jam, kurang lima belas menit lagi pengumuman bisa diketahui.</p>
<p>“Leon, kamu duluan ya, aku sama Sarah masih takut, hehehe.”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala dengan mantap. Bukan karena yakin, tapi aku merasa sudah siap menerima apapun hasilnya. Gisel juga berusaha menyemangatiku dengan gayanya sendiri. Aku pun mengambil posisi di depan laptop yang sudah Sarah siapkan, menanti detik demi detik.</p>
<p>“Kak, udah jam 7!”</p>
<p>Aku segera memasukkan informasi pribadi yang dibutuhkan secara pelan-pelan. Bisa dibilang, kecepatan mengetikku adalah yang paling lambat di antara teman-teman sekelas. Bahkan Kenji bisa mengetik dengan cepat, walau katanya karena dulu sering mengetik menggunakan mesin tik tua milik kakeknya.</p>
<p>Pengumuman itu muncul di hadapanku. Aku diterima di jurusan Kedokteran UI. Semua wanita yang ada di ruangan itu bersorak gembira, termasuk Sarah yang biasanya kurang ekspresif. Mereka memberiku selamat dengan sangat antusias, membuatku merasa tersipu malu.</p>
<p>“Wah gila gila gila, Leon bakal kuliah di Jakarta. Jadi anak ibu kota nih, ye?” kata Sarah yang memang lama tinggal di sana.</p>
<p>“Terima kasih Sarah.”</p>
<p>Aku menoleh ke arah Rika dan Gisel. Wajah mereka memang terlihat bahagia, namun tubuh mereka bergetar. Aku tahu alasannya, mereka membayangkan harus terpisah jauh denganku. Aku pun berusaha menenangkan mereka dengan mengacak-acak rambut mereka.</p>
<p>“Rika, Gisel, kalian enggak usah sedih. Setelah kuliah di sana, aku pasti balik ke sini dan tinggal di tengah-tengah kalian lagi.”</p>
<p>Mereka berdua mengangguk pelan dan menyeka air mata yang hampir tumpah, lantas kembali bersemangat.</p>
<p>“Selanjutnya siapa? Rika?”</p>
<p>Rika pun mulai membuka miliknya, tapi sayang sekali ia belum diterima melalui jalur ini. Aku merasa tidak enak dan hendak mengatakan sesuatu sebelum disela olehnya.</p>
<p>“Yah, sejak awal aku emang enggak berharap banyak sih. Nilai rapotku terlalu naik turun, enggak bagus-bagus amat pula. Jadi harus belajar lagi nih buat SBMPTN!”</p>
<p>Aku menepuk-nepuk pundaknya sebagai tanda penyemangat. Gisel pun mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi ala anak SD. Sarah pun belum lolos, tapi bisa dimaklumi karena ia sengaja mengincar jurusan yang <em>passing grade­-</em>nya sangat tinggi. Sejak awal, ia ada rencana untuk berkuliah di luar negeri sehingga SNMPTN ini hanya sekadar formalitas.</p>
<p>Setelah kami bertiga mengetahui hasil kami, Rika dan Sarah mulai menghubungi teman-teman yang lain. Satu persatu. Dari percakapan mereka, aku mengetahui yang lolos SNMPTN adalah Juna, Ve, Pierre, Nita, dan Rena. Sisanya sayang sekali belum rezekinya. Artinya, total ada enam anak kelas akselerasi yang berhasil masuk ke universitas melalui jalur ini.</p>
<p>“Lumayan lah, ada sekitar 50% anak kelas kita yang lolos. Lumayan besar loh, mong musuhnya dari seluruh Indonesia,” kata Rika dengan suara paling optimis yang bisa ia hasilkan.</p>
<p>“Kalau gitu, sekarang kita ke Kenji, ya? Takut keburu malam,” kata Sarah sambil mengambil kunci mobilnya. Kami berempat pun keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Sarah.</p>
<p>“Eh, kau tidak pakai supir?” tanyaku sewaktu melihat Sarah duduk di kursi pengemudi.</p>
<p>“Enggak lah, aku udah bisa nyetir mulai SD. Yah, walau belum punya SIM, sih. Jangan dimarahin, ya? Hahaha.”</p>
<p>Mobil pun melaju dengan kecepatan rendah, mengingat sebenarnya rumah Kenji bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari lima menit. Ketika mobil berhenti di depan rumah Kenji, aku merasa keheranan karena rumahnya gelap. Perasaanku jadi tidak enak dan langsung keluar dari mobil. Aku mengetuk pintu rumah Kenji dengan sedikit terburu-buru. Tidak ada jawaban. Ke mana kawanku yang satu ini?</p>
<p>“Kenji enggak ada, Le?” tanya Rika yang sudah menyusul di belakangku.</p>
<p>“Kenji selalu menyalakan lampu terasnya kalau matahari udah tenggelam. Aku udah ketuk pintunya juga enggak ada yang merespon.”</p>
<p>Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak terkunci. Sinar bulan menjadi satu-satunya sumber pencahayaan, namun itu cukup untuk membuatku melihat sesuatu yang mengerikan, mungkin lebih mengerikan dibandingkan ketika aku menemukan tubuh ibuku tergantung di seutas tali. Di sana, di dekat meja belajarnya, Kenji tergeletak di lantai dengan bercak darah berceceran di mana-mana.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-85-pengumuman/">Chapter 85 Pengumuman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-85-pengumuman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 84 Kediaman Trunajaya</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-84-kediaman-trunajaya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-84-kediaman-trunajaya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 12:02:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 84]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3959</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kami sudah membuat janji dengan Rachel tadi pagi dan ia menyanggupi untuk bertemu sepulang sekolah. Kami sepakat untuk ngobrol di area kantin. Oleh karena itu, aku dan Kenji sudah duduk di area makan yang langsung menghadap ke arah gerbang selatan, gerbang sekolah yang dekat dengan rumahku. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah Rachel dengan wajah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-84-kediaman-trunajaya/">Chapter 84 Kediaman Trunajaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kami sudah membuat janji dengan Rachel tadi pagi dan ia menyanggupi untuk bertemu sepulang sekolah. Kami sepakat untuk ngobrol di area kantin. Oleh karena itu, aku dan Kenji sudah duduk di area makan yang langsung menghadap ke arah gerbang selatan, gerbang sekolah yang dekat dengan rumahku. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah Rachel dengan wajah yang cerah.</p>
<p>“Siang kakak-kakak, maaf ya jadi nunggu agak lama. Tadi masih ngobrol sebentar sama guru,” kata Rachel setelah mengambil posisi duduk di seberang kami.</p>
<p>“Enggak kok Chel, kita juga baru sampai. Lancar kan sekolah?” tanya Kenji basa-basi. Untuk perkara seperti ini, aku selalu menyerahkan ke Kenji karena aku tipe orang yang <em>to the point</em>. Aku pun mendengarkan dengar sabar mereka berdua saling bertukar kabar dan informasi, sebelum masuk ke poin utama.</p>
<p>“Jadi, apa nih yang bisa aku bantu?” tanya Rachel seusai sesi basa-basa berakhir.</p>
<p>“Yah, intinya kami berdua butuh bertemu dengan kakakmu, Zane Trunajaya,” jawab Kenji.</p>
<p>“Kakak berdua atau Kak Kenji aja? Soalnya dari tadi Kak Leon diem aja, kayak enggak minat buat ketemu aku.”</p>
<p>Aku jadi sedikit gelagapan mendengar serangan dari Rachel. Memang benar, dari tadi aku belum bersuara sama sekali. Dengan sedikit berdeham dan membetulkan posisi dudukku yang sebenarnya tidak salah, aku pun akhirnya berbicara.</p>
<p>“Maaf Rachel, tidak ada maksud seperti itu. Aku hanya bingung bagaimana cara bergabung ke dalam percakapan kalian.”</p>
<p>“Hahaha, bercanda kok kak. Santai aja, Kak Leon kan emang orangnya pendiem begitu. Jadi intinya kakak berdua mau ketemu sama kakak aku, kan?”</p>
<p>Kami berdua menganggukkan kepala.</p>
<p>“Karena masalah orangtua kandung Kak Leon?”</p>
<p>Kali ini hanya aku yang menganggukkan kepala.</p>
<p>“Kalau ada yang bisa aku bantu, pasti aku bantu kok kak, apalagi kalau masalahnya sepenting ini. Masalahnya, aku enggak pernah bawa handphone ke sekolah. Mungkin enggak kalau Kak Kenji dan Kak Leon mampir ke rumahku hari ini? Nanti kita telepon kakak di rumahku dan mungkin sekalian membuat janji untuk ketemuan. Gimana, keberatan?”</p>
<p>“Justru kami yang harusnya bertanya, apakah Rachel enggak keberatan kalau kami berdua ke rumahnya Rachel,” jawab Kenji tanpa menunggu persetujuanku.</p>
<p>“Enggak apa-apa kok, mama pasti akan menyambut kalian dengan tangan terbuka. Mau berangkat sekarang?”</p>
<p>Kami bertiga pun meluncur ke rumah Rachel yang katanya berjarak sekitar 10 kilometer. Biasanya Rachel naik ojek, tapi karena beramai-ramai ia memutuskan untuk mencegat taksi ketika kami sudah sampai di pinggir jalan raya. Aku ingat dari ceritanya kalau ia anak dari keluarga yang cukup berada, sehingga naik taksi adalah sesuatu yang biasa untuk dirinya. Berbeda denganku, dan mungkin Kenji, yang belum pernah merasakan naik taksi seumur hidup.</p>
<p>***</p>
<p>Dua puluh menit berselang, kami sudah tiba di depan gerbang rumah Rachel yang bergaya minimalis dengan tinggi sekitar 2.5 meter. Rumah yang ada di baliknya juga bergaya minimalis dua tingkat dan didominasi oleh warna putih. Ketika kami masuk ke pekarangannya, ia terlihat menyapa seseorang yang nampaknya merupakan supir pribadi merangkap petugas keamanan.</p>
<p>“Sebenarnya kakak merekrut supir untuk mengantarku sekolah. Tapi karena rasanya terlalu berlebihan, aku menolaknya dan memilih naik ojek pangkalan. Lagian, abang-abang ojek di sini ramah-ramah banget.”</p>
<p>Sama seperti bagian luarnya, interior rumah Rachel juga didominasi dengan warna putih. Tidak banyak perabot yang terlihat sehingga terasa lapang. Entah mengapa aku jadi merasa nyaman berada di sini.</p>
<p>“Kakakku suka menerapkan hidup ala-ala minimalis. Jadi sewaktu membangun rumah ini, dibuatlah konsep barang sesedikit mungkin untuk memberikan ruang lebih. Oh iya, kakak memberi nama rumah ini Kediaman Trunajaya. Kedengaran kuno, ya? Enggak cocok sama desainnya yang modern.”</p>
<p>“Bagus Rachel rumahmu, aku langsung kerasan di sini,” kata Kenji sambil mengamati pajangan dinding yang juga bergaya minimalis: tiga buah pigura berwarna hitam dipasang sejajar, tanpa ada gambar apapun di dalamnya.</p>
<p>“Hahaha, terima kasih. Aku panggilin mama dulu ya. Kakak berdua tunggu di sini.”</p>
<p>Kami pun duduk di kursi ruang tamu. Ada sedikit rasa takut mengotori kursi ini karena warnanya yang putih, sehingga aku dan Kenji membersihkan celana terlebih dahulu sebelum duduk di atasnya.</p>
<p>Lima menit kemudian, datanglah Rachel bersama mamanya yang terlihat anggun. Matanya terlihat tangguh, mungkin karena sudah beberapa tahun terakhir menjadi <em>single parent</em>. Aku ingat Rachel pernah bercerita kalau papanya telah tiada, namun aku tidak ingat kapan perisitiwa tersebut terjadi.</p>
<p>“Oh, ini kakak kelasnya Rachel, ya? Rachel sering cerita tentang kalian. Yang namanya Leon yang mana?”</p>
<p>Aku mengangkat tangan dengan sedikit keraguan. Aku bisa merasakan kedekatan antara mama dan anak ini. Hal tersebut membuatku berpikir kalau Rachel kerap bercerita ke mamanya, termasuk masalahnya denganku dan Rika beberapa waktu yang lalu. Hal ini membuatku merasa canggung luar biasa.</p>
<p>“Oh, kamu toh. Iya iya, ya udah kalian santai aja di sini. Rachel, mama tinggal ke atas dulu ya.”</p>
<p>Mama Rachel pun berlalu dengan anggunnya. Namun sesaat sebelum membalikkan badan, ia sempat melirik ke arahku dengan tatapan “kau sudah kutandai”. Semoga saja ini bukan pertanda buruk.</p>
<p>“Ini aku udah bawa handphoneku, untung baterainya masih ada. Siang begini biasanya kakak susah dihubungi, tapi dicoba aja kali ya.”</p>
<p>Rachel pun meletakkan handphonenya di telinga sebelah kanannya. Handphonenya berwarna emas dengan ornamen putih di bagian atas dan bawah. Terdapat sebuah kamera di sudut kiri atasnya. Ada sebuah gambar buah tergigit di bagian tengah atasnya. Perasaanku mengatakan kalau handphonenya tersebut sangat mahal, berbeda dengan handphone usangku di rumah.</p>
<p>“Belum diangkat, apa lagi rapat, ya? Aku coba sekali lagi, ya.”</p>
<p>Pada percobaan ketiga, telepon dari Rachel diangkat oleh kakaknya.</p>
<p>“Ah akhirnya, halo kakak tersayang&#8230; Lagi repot enggak?&#8230; Aku baik-baik aja kok, ini baru nyampai rumah… Iya mau tanya sesuatu sama kakak, ini Rachel punya kakak kelas. Katanya mau ketemu sama kakak… Bukan, bukan mau jadi pacarnya Rachel kok… Kalau enggak salah ada kasus yang mungkin bisa diselesaikan sama kakak…Iya Rachel pernah cerita kalau kakak aktivis HAM… Mau ngobrol langsung aja? Oke. Kak Leon Kak Kenji, ini kakak mau ngomong langsung sama kalian,” kata Rachel sembari menyerahkan handphonenya ke kami. Aku menerima barang tersebut dengan sedikit gemetar. Bukan karena takut akan berbicara dengan Zane Trunajaya, melainkan takut karena belum pernah memegang barang secanggih ini.</p>
<p>“Oh bentar, aku <em>loudspeaker </em>aja biar bisa denger semuanya,” kata Rachel lagi sambil menekan-nekan layarnya. Aku baru tahu ada teknologi layar sentuh seperti ini di sebuah handphone.</p>
<p>“Halo, dengan siapa saya berbicara?” terdengar suara Zane dari ujung sana.</p>
<p>“Selamat siang kak, perkenalkan saya Kenji dan teman saya satu lagi bernama Leon. Kami berdua yang mau minta tolong sama kakak.”</p>
<p>“Dan apakah itu?”</p>
<p>“Kakak tahu Wijaya Hardikusuma?”</p>
<p>Zane tidak langsung menjawab. Terdengar hening sesaat sebelum ia lanjut berbicara.</p>
<p>“Iya saya tahu, kenapa memangnya?”</p>
<p>Sama seperti mama Malik waktu itu, Kenji melihat ke arah luar rumah terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada yang menguntit kami. Kenji juga meminta tolong ke Rachel untuk menutup pintu depan. Setelah itu, barulah Kenji bercerita.</p>
<p>“Jadi, saya dan Leon adalah anak-anak dari aktivis yang pernah melawan Wijaya sekaligus rezim penguasa yang melindunginya. Mungkin kakak pernah mendengar tentang hal tersebut?”</p>
<p>Lagi-lagi hening sesaat, seolah Zane sedang mencerna baik-baik omongan Kenji. Terdengar suara pintu ditutup dari telepon. Zane melakukan hal yang sama dengan kami, meningkatkan kewaspadaan.</p>
<p>“Benarkah? Tentu saya tahu kasus tersebut dan beberapa kali berusaha untuk menyelidikinya. Hingga sekarang, semuanya buntu karena kurangnya saksi dan bukti. Terus terus bagaimana?”</p>
<p>“Apakah kakak tahu tentang organisasi Pembela Rakyat Tertindas?”</p>
<p>“Iya tahu.”</p>
<p>“Tahu mantan pemimpinnya yang bernama Awan.”</p>
<p>“Iya, saya sering mendengar namanya dan pernah membaca beberapa artikel tentangnya.”</p>
<p>“Nah, kami baru bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu dan mendengar cerita-ceritanya.”</p>
<p>Terdengar suara siulan yang merdu, seolah itu merupakan tanda kalau Zane mulai tertarik dengan percakapan ini.</p>
<p>“Bahkan kami tidak bisa menemukan di mana ia tinggal. Bagaimana bisa kalian menemukannya?”</p>
<p>Kenji pun menceritakan secara singkat tentang latar belakang kami hingga bisa bersentuhan dengan kasus di masa lampau. Zane, dan juga Rachel yang duduk di hadapan kami, mendengarkannya dengan penuh perhatian.</p>
<p>“Luar biasa, sebuah kebetulan yang luar biasa. Mungkin saya bisa bertemu dengannya dan membahas masalah ini. Siapa tahu, masih ada kesempatan untuk membawa mereka ke pengadilan.”</p>
<p>“Omong-omong soal pengadilan, kami kemarin juga berhasil menemukan beberapa dokumen yang nampaknya merupakan bukti kejahatan yang pernah dilakukan oleh Wijaya dan kroninya. Kami tidak terlalu paham isinya, tapi nampaknya kakak akan paham.”</p>
<p>“Bravo! Nampaknya saya harus segera bertemu dengan kalian. Dua minggu lagi saya akan pulang ke Malang, bisakah kita bertemu? Ajaklah Awan juga, kita membutuhkan saksi hidup. Untuk masalah keamanan jangan khawatir, ada program perlindungan saksi. Kelompok sekuat Wijaya pun tak bisa bergerak dengan mudah.”</p>
<p>Setelah ucapan terima kasih yang terdengar tulus, Kenji menutup telepon dan menyerahkannya ke Rachel. Aku yang dari tadi hanya diam mendengarkan tertegun dengan kelancaran Kenji menjelaskan situasi ke Zane, yang katanya merupakan orang penting dan terkenal. Seandainya tadi aku yang berbicara, pasti tidak bisa seruntut Kenji.</p>
<p>“Wah, entah bagaimana kami harus berterima kasih ke kamu Rachel, kamu sudah membantu kami,” ujar Kenji dengan bersemangat.</p>
<p>“Hahaha, enggak usah dipikirin kak. Aku senang kok kalau bisa nolong.”</p>
<p>“Terima kasih Rachel,” aku memutuskan untuk ikut berterima kasih.</p>
<p>“Sama-sama kak,” balas Rachel sambil tersenyum manis.</p>
<p>Setelah itu, kami berdua memutuskan untuk berpamitan. Kami bertemu dengan mama Rachel dan sekali lagi aku merasa sedang ditandai olehnya. Kami berdua pulang naik angkot dan tidak membahas masalah ini sama sekali. Barulah ketika kami sampai di rumahku, Kenji mulai membahas rencana-rencana ke depan.</p>
<p>“Pertemuan tadi adalah sebuah kemajuan besar Leon! Tinggal beberapa langkah lagi kita akan masuk ke tahap baru dari kasus ini. Kamu bisa telepon Om Awan? Tanya apakah dia punya waktu kosong di hari pertemuan kita itu. Kita juga belum bercerita tentang penemuan bukti itu, kan? Lebih baik kita segera memberitahunya. Dua minggu lagi Leon, kurang dua minggu lagi!”</p>
<p>Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Kenji tiba-tiba terbatuk dengan cukup kencang. Aku segera menyuruhnya duduk di kursi dan meminta Gisel untuk mengambilkan air putih. Ketika batuknya mulai mereda, ia minta tolong diambilkan tisu dan membersihkan telapak tangan dan mulutnya.</p>
<p>“Kau masih batuk? Sudah kubilang untuk pergi ke dokter, Ken,” kataku setengah memarahi.</p>
<p>“Hahaha, kemarin udah sembuh loh padahal. Mungkin karena kecapekan kali, ya. Duh, aku jadi takut buat nularin ke kalian.”</p>
<p>“Ini kak airnya diminum dulu,” kata Gisel yang telah membawa segelas air putih. Kenji menerimanya dan mengucapkan terima kasih.</p>
<p>“Setelah ini beristirahatlah, jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat dulu. Jangan lupa untuk pergi ke dokter, kalau perlu aku yang akan menemanimu,” aku menasihatinya seolah aku adalah seorang dokter yang sedang menangani pasiennya.</p>
<p>“Tidak perlu, Le. Aku punya dokter langganan dekat sini, kok. Nanti kalau waktunya ada aku akan ke sana. Omong-omong, minggu depan pengumuman SNMPTN, loh. Semoga kamu diterima, ya.”</p>
<p>Aku tidak begitu menghiraukan perkataan Kenji mengenai pengumuman itu. Bagiku, kesehatan Kenji yang makin lama makin memburuklah yang perlu aku perhatikan. Sayangnya, saat itu tidak ada hal konkrit yang aku lakukan untuk menolongnya. Sesuatu yang nantinya akan aku sesali seumur hidup.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-84-kediaman-trunajaya/">Chapter 84 Kediaman Trunajaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-84-kediaman-trunajaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 83 Sepucuk Surat dan Bukti Kejahatan</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-83-sepucuk-surat-dan-bukti-kejahatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-83-sepucuk-surat-dan-bukti-kejahatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2020 00:50:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 83]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3931</guid>

					<description><![CDATA[<p>Begitu brankas itu terbuka, tubuhku secara refleks langsung mundur ke belakang hingga terduduk di atas kasur. Pintu brankas kubiarkan terbuka begitu saja, membuatku bisa melihat apa isi di dalamnya. Gisel yang mengamatiku di ambang pintu langsung menghampiriku dengan tatapan panik. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya memegangi lenganku dengan sedikit gemetar. “Akhirnya terbuka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-83-sepucuk-surat-dan-bukti-kejahatan/">Chapter 83 Sepucuk Surat dan Bukti Kejahatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu brankas itu terbuka, tubuhku secara refleks langsung mundur ke belakang hingga terduduk di atas kasur. Pintu brankas kubiarkan terbuka begitu saja, membuatku bisa melihat apa isi di dalamnya. Gisel yang mengamatiku di ambang pintu langsung menghampiriku dengan tatapan panik. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya memegangi lenganku dengan sedikit gemetar.</p>
<p>“Akhirnya terbuka Gisel,” kataku sambil menunjuk ke arah brankas.</p>
<p>“Iya kak, Gisel bisa lihat. Isinya apa, kak?”</p>
<p>Aku belum memeriksa isinya karena terkejut. Dari jauh, aku bisa melihat ada setumpuk kertas di dalam sana. Tidak terlalu tebal, mungkin hanya sekitar 5 cm. Nampaknya benar kalau ibuku menyimpan salinan bukti kejahatan yang dilakukan oleh Wijaya dan kroninya di sini. Setelah menarik napas panjang, aku menguatkan diri untuk melihat kertas apa saja yang ada di dalam sana.</p>
<p>Di tumpukan paling atas, aku melihat ada sebuah amplop putih yang berukuran sedang. Aku memutuskan untuk mengambil amplop tersebut dan melihat isinya terlebih dahulu. Ternyata isinya merupakan surat dengan tulisan ibu. Bersama Gisel yang sudah mengambil posisi di sebelahku, aku membaca surat tersebut secara perlahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Entah siapa yang akan menemukan surat ini, tapi kuharap yang menemukan adalah Leon dan Gisel. Entah kapan mereka akan menemukan surat ini, tapi aku yakin suatu saat mereka akan berhasil. Kalau bukan Leon atau Gisel yang berhasil membuka brankas ini, tolong beritahu mereka apa yang sudah terjadi.</em></p>
<p><em>Jika kalian berhasil menemukan surat ini, bisa jadi aku sudah meninggal. Untuk itu, kutitipkan salinan berkas yang berisi bukti kejahatan kelompok Wijaya. Sudah belasan tahun kami ditekan, sudah saatnya kami bangkit melawan dan meringkusnya. Bukti-bukti ini harusnya sudah cukup kuat untuk dibawa ke pengadilan, semoga saja hukum di Indonesia bisa memprosesnya dengan seadil mungkin.</em></p>
<p><em>Siapapun yang menemukan surat ini, temuilah Awan. Ia tinggal di depan rumahku, kalau belum pindah. Iya, ia masih hidup, pimpinan kami itu masih hidup. Aku meninggalkan petunjuk di novel-novel Agatha Christie favoritku, tapi rasanya akan terlalu sulit untuk dipecahkan.Jadi untuk berjaga-jaga, aku memberitahu kalau Awan masih hidup melalui surat ini. Ia satu-satunya harapan untuk menyeret leher Wijaya ke jeruji penjara.</em></p>
<p><em>Siapapun yang menemukan surat ini, tolong ceritakan semuanya ke Leon dan Gisel. Katakanlah kalau aku bukan ibu kandungnya Leon. Ibunya bernama Ratih, ayahnya bernama Bambang. Ia adalah anak dari sahabat-sahabat terbaikku yang harus hilang karena dianggap berbahaya oleh rezim dan Wijaya. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Ia bukan anak angkatku, ia benar-benar anakku. Kenyataan ini memang pahit, tapi pada akhirnya ia harus mengetahuinya.</em></p>
<p><em>Jika yang menemukan surat ini Leon dan Gisel, anak-anakku tercinta, percayalah kalau ibu sangat mencintai kalian dari lubuk hati yang terdalam. Kalian adalah segalanya untuk ibu, setelah semua kelakukan ayahmu yang membuat ibu sedih. Kalianlah sumber kekuatan ibu, satu-satunya alasan yang membuat ibu tetap meneruskan hidup. Walaupun maut memisahkan kita, ibu akan selalu mencintai kalian selamanya.</em></p>
<p><em>Anggaplah surat ini sebagai wasiat atau apapun. Aku benar-benar mohon, siapapun yang menemukan surat ini, tuntaskan perkara ini hingga ke akarnya. Keadilan harus benar-benar ditegakkan, tak peduli sudah berapa lama terlewat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Lawang, 23 Januari 2007</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Dewi Kartika Sari</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Air mataku sudah menggenang sejak tadi. Gisel pun telah terisak sejak tadi, tak kuat menahan emosi yang diakibatkan oleh sepucuk surat ini. Aku mendekap surat ini di depan dada secara erat, berjanji kalau aku akan menuntaskan apa yang diminta oleh ibu. Menyeret Wijaya ke ranah hukum untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.</p>
<p>***</p>
<p>Minggu, keesokan paginya, aku segera pergi ke rumah Kenji untuk memberitahu apa yang terjadi. Ia selalu bangun pagi, sehingga aku bisa langsung mendiskusikan penemuan ini kepadanya. Gisel kuajak serta, sedangkan brankas sudah kusimpan di tempat yang tersembunyi. Setelah mendengar cerita Awan, aku meningkatkan kewaspadaanku. Meskipun ia bilang anak buah Wijaya tidak akan memasang mata ke anak SMA, aku harus tetap melakukan semuanya secara berhati-hati. Siapa tahu, di dekat rumahku ada mata-mata yang senantiasa mengamati kami.</p>
<p>Kuketuk pintu rumah Kenji dengan tiga ketukan. Setelah mendengar kata “iya sebentar”, pintu terbuka. Matanya menunjukkan sedikit keterkejutan melihat kami berdua, namun tetap menyuruh kami masuk dengan sopan sambil meminta maaf karena rumahnya masih berantakan. Nampaknya Kenji sedang bersih-bersih rumah, sesuatu yang rutin ia lakukan tidak hanya di hari libur.</p>
<p>“Mau minum apa? Teh atau yang seger-seger? Biar aku bikinkan dulu,” tawar Kenji setelah kami duduk di kursi ruang tamunya.</p>
<p>“Enggak usah repot-repot kak, kayak sama siapa aja,” jawab Gisel.</p>
<p>“Justru karena yang datang kalian harus diperlakukan istimewa, hahaha. Bentar ya, aku bikinkan sirup aja, soalnya hari ini lumayan gerah.”</p>
<p>Kenji pun masuk ke dapurnya dengan gesit. Aku melihat-lihat sekitar sambil menunggu Kenji. Mataku melihat setumpuk buku yang keluar dari raknya. Penasaran, aku memutuskan untuk menghampiri tumpukan tersebut.</p>
<p>“Kenji, aku lihat bukumu ya,” kataku meminta izin kepada yang punya. Tentu saja Kenji mengiyakan tanpa perlu berpikir.</p>
<p>Gisel membuntutiku di belakang. Aku segera mengambil posisi duduk bersila dan mulai mengamati tumpukan buku tersebut. Ternyata, Kenji sedang banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan hukum dan HAM. Bisa jadi buku-buku ini merupakan peninggalan ibunya. Yang jelas, Kenji sama penasarannya denganku untuk mengusut tuntas kasus ini.</p>
<p>“Hehehe, sudah kuduga kamu tertarik dengan tumpukan buku itu,” kata Kenji tiba-tiba dari belakang. Ia membawa sebuah nampan yang membawa tiga gelas berwarna merah. Setelah meletakkan gelas tersebut di atas meja belajarnya, ia ikut duduk bersila bersama kami.</p>
<p>“Mungkin kamu menebak kalau buku-buku itu peninggalan ibuku, dan memang begitu adanya. Sepulang dari rumah Om Awan, aku merasa penasaran karena seingatku ada buku-buku yang berkaitan dengan hukum dan HAM. Jadi mulai kemarin aku mulai baca-baca, hehehe.”</p>
<p>“Kau menemukan sesuatu?”</p>
<p>“Belum ada yang penting sih, hanya pelengkap aja. Aku belum punya pengalaman di pengadilan, jadi enggak bisa berkomentar banyak.”</p>
<p>“Begitu, ya.”</p>
<p>“Tapi aku sudah membuat semacam jaring laba-laba gitu untuk memudahkan kita memahami kasus ini. Mau lihat?”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala. Kenji mengambil selembar kertas yang ada di atas mejanya dan menyerahkannya kepadaku. Benar saja, Kenji telah menulis semua yang sudah kami ketahui hingga sekarang. Ia menambahkan garis-garis informasi agar siapapun yang membaca ini bisa memahaminya dengan mudah. Aku yakin pasti ini akan banyak membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini.</p>
<p>“Bukannya keberatan, tapi aku penasaran kenapa kalian pagi-pagi sekali ke sini?”</p>
<p>“Brankasnya berhasil terbuka, Ken. Aku berhasil memecahkan kodenya.”</p>
<p>Kenji adalah orang paling tenang yang pernah aku temui. Mau sebesar apapun masalahnya atau seheboh apapun beritanya, ia selalu bisa tetap mengendalikan dirinya. Begitu pula dengan pagi ini. Memang wajahnya terlihat kaget, namun dengan cepat ia segera kembali memasang wajah ramahnya.</p>
<p>“Wah, luar biasa. Gimana caranya?”</p>
<p>“Fabel itu, hanya ada beberapa kata yang menggunakan huruf kapital. Ketika aku mencari novel Agatha Christie yang mengandung kata itu, ternyata semuanya memiliki unsur angka di dalamnya. Ketika aku coba, berhasil.”</p>
<p>“Bravo! Aku memang menyadari kejanggalan itu, tapi enggak pernah tahu apa maksudnya. Kamu jenius, Le!”</p>
<p>“Hanya kebetulan. Awan bilang ibu adalah maniak Poirot, kita juga mengetahui fakta Awan masih hidup dari buku-buku tersebut. Jadi aku pikir, mungkin kode sandinya juga berkaitan dengan buku-buku itu.”</p>
<p>“Lalu, apa isi dari brankasnya?”</p>
<p>“Ada sepucuk surat dari ibu beserta dokumen-dokumen. Aku tidak terlalu paham dengan isinya, tapi kemungkinan besar itulah bukti-bukti yang menunjukkan kejahatan Wijaya dan kroninya.”</p>
<p>“Berarti sudah saatnya kita melangkah ke tahap selanjuntya.”</p>
<p>“Rachel?”</p>
<p>“Benar Le, besok Senin kita ke kelasnya Rachel. Kita akan minta bantuan kakaknya yang terkenal itu.”</p>
<p>“Baiklah kalau begitu.”</p>
<p>“Rachel itu kakak cantik yang waktu itu pernah ke rumah, kan?” tanya Gisel yang dari tadi diam mendengarkan kami berdua berbicara.</p>
<p>“Benar Gisel, kamu masih inget, ya?”</p>
<p>“Inget, kan dia baik banget. Tapi sekarang kok udah enggak pernah ke rumah lagi, ya?”</p>
<p>Kenji tertawa ringan mendengar celetukan Gisel yang polos. Selain itu, mana mungkin aku membicarakan masalah remaja ke anak kecil yang belum lulus SD. Aku tak menyangka kalau Gisel akan memikirkan hal ini.</p>
<p>“Ya intinya dulu sempat ada masalah, tapi udah beres kok. Omong-omong Leon, kamu enggak ada masalah kan ketemu dengan Rachel?”</p>
<p>“Tentu saja tidak masalah. Apapun akan kulakukan untuk mengusut tuntas masalah ini.”</p>
<p>“Baiklah, semoga saja Zane Trunajaya mau membantu kita.”</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-83-sepucuk-surat-dan-bukti-kejahatan/">Chapter 83 Sepucuk Surat dan Bukti Kejahatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-83-sepucuk-surat-dan-bukti-kejahatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 82 Fabel Karangan Ibu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-82-fabel-karangan-ibu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-82-fabel-karangan-ibu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 10:07:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 82]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3884</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sesampainya kami berdua di rumahku, aku mendapatkan Gisel telah menantiku dengan tidak sabar. Aku memberinya pelukan hangat dan air mataku tiba-tiba tumpah begitu saja. Semua cerita yang aku dengarkan hari ini benar-benar memedihkan, dan memeluk Gisel menjadi obat penenang yang baik. Adikku dengan sabar mengelus punggungku dan mengatakan kalimat-kalimat penghibur. Setelah tangisku reda, aku mengajak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-82-fabel-karangan-ibu/">Chapter 82 Fabel Karangan Ibu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sesampainya kami berdua di rumahku, aku mendapatkan Gisel telah menantiku dengan tidak sabar. Aku memberinya pelukan hangat dan air mataku tiba-tiba tumpah begitu saja. Semua cerita yang aku dengarkan hari ini benar-benar memedihkan, dan memeluk Gisel menjadi obat penenang yang baik. Adikku dengan sabar mengelus punggungku dan mengatakan kalimat-kalimat penghibur. Setelah tangisku reda, aku mengajak adikku untuk duduk di ruang tengah untuk mengobrol.</p>
<p>Cerita ini memang cukup berat untuk anak seusia Gisel, namun aku yakin pengalaman hidupnya akan membuatnya menjadi pribadi yang tangguh. Aku menceritakan segalanya, mulai awal hingga akhir. Gisel mendengarkannya dengan antusias, sesekali sambil tersedu. Setelah selesai bercerita, Gisel kembali menghampirku dan memberikan pelukan sekali lagi.</p>
<p>“Hari ini sangat menguras emosi ya, Le?” tanya Kenji setelah Gisel pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.</p>
<p>“Begitulah, tapi mengapa dirimu terlihat begitu tenang? Padahal kau ada di posisi yang sama denganku.”</p>
<p>“Hahaha, nampak tenang di luar belum tentu yang di dalam begitu juga. Jujur saja perasaanku juga bergejolak luar biasa. Tapi berbeda denganmu, tidak ada fakta yang baru aku ketahui. Aku sudah sering mendengar cerita ibu dari ayah, dan cerita dari Awan tadi hanya mempertegas cerita tersebut.”</p>
<p>“Begitu ya.”</p>
<p>Kami berdua sama-sama terdiam. Aku menatap langit-langit rumah yang membosankan sambil melamun, hingga sesuatu melintas di kepalaku.</p>
<p>“Jujur Kenji, aku belum tahu banyak tentang keluargamu.”</p>
<p>“Benarkah? Kalau diingat-ingat lagi memang iya. Rasanya baru sekali dua kali aku bercerita tentang keluargaku.”</p>
<p>“Kalau tidak salah sekali waktu di rumahmu dan sekali di kelas ketika kau bercerita tentang kakekmu.”</p>
<p>“Benar Leon, ingatanmu memang bisa diandalkan.”</p>
<p>“Adakah cerita menarik yang boleh aku ketahui tentang keluargamu? Aku ingin tahu lebih dalam.”</p>
<p>“Hmmm, apa ya, kalau ditodong langsung gini bingung juga Le, hehehe.”</p>
<p>“Bagaimana kehidupan sebelum pindah ke sini? Kalau tidak salah kau pindah setelah lulus SMP, bukan?”</p>
<p>“Benar, Le. Aku pindah ke sini setelah lulus SMP. Dulu waktu masih di kota, kami tinggal di rumah yang cukup besar. Ada seorang, apa ya namanya, semacam asisten yang membantu kami untuk mengurus kakak.”</p>
<p>“Maaf memotong, boleh tahu apa pekerjaan ayahmu?”</p>
<p>“Ia adalah pemred dari sebuah koran nasional untuk cabang Malang. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku memilih untuk bekerja sebagai loper koran. Ya, intinya kami cukup makmur lah, hehehe.”</p>
<p>“Lantas kata Awan tadi, keluargamu mengalami masalah ekonomi?”</p>
<p>“Iya, oplah koran mulai menurun, kalah saing dengan media baru dan digital yang sedang naik daun. Karena merasa tidak mampu menyelamatkan perusahaan, ayahku memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah itu, ia mencoba berbagai usaha, namun tidak ada yang berhasil. Asisten yang kami pekerjakan pun akhirnya diberhentikan untuk menghemat pengeluaran. Fokus ayahku jadi terpecah antara mencari nafkah dan merawat kakak.”</p>
<p>“Setelah itu barulah kau pindah ke mari.”</p>
<p>“Iya, aku juga baru tahu kalau Om Awan lah yang memberikan rekomendasi. Ayah tidak pernah bercerita tentang masalah ini. Tadi kamu bertanya gimana kehidupan sekolahku? Enggak banyak berubah aja kok, Le. Rutinitasnya sama, hanya saja di sini aku bisa bertemu dengan kamu yang senasib, hahaha.”</p>
<p>“Bagaimana kau bisa sekuat ini, Ken? Kejadian meninggalnya ayah dan kakakmu hanya beberapa hari sebelum MOS pertama, kan?”</p>
<p>“Benar, Le. Jelas aku sangat merasa kehilangan keluargaku. Namun, terus bersedih pun tidak akan membawa perubahan apa-apa, sehingga aku memutuskan untuk tetap kuat dan optimis. Aku ingin menyebar kebahagiaan, bukan kesedihan.”</p>
<p>“Aku ingat di hari pertama bertemu denganmu, aku ingin meninju deretan gigimu yang rapi sempurna itu. Sungguh menyebalkan ada orang yang hidupnya begitu bahagia ketika hidupku sendiri berantakan.”</p>
<p>“Hahaha, kita jadi nostalgia ya, Le. Waktu itu, kamu terlihat sangat brutal dan menakutkan. Namun aku bisa melihat dari kedua matamu kalau kau juga kehilangan kasih sayang orang tua.”</p>
<p>“Benar, untunglah aku bertemu denganmu. Tidak berlebihan jika kukatakan kalau kau membawa perubahan besar dalam hidupku.”</p>
<p>“Hahaha, santai aja. Kita sebagai manusia kan memang harus saling tolong menolong. Ternyata pertemuan kita juga seolah telah ditakdirkan, kan? Orangtua kita saling mengenal, bahkan bergabung di organisasi yang sama.”</p>
<p>Aku mengiyakan perkataannya. Memang benar, pertemuan kami di kelas akselerasi itu seperti sudah ditakdirkan. Aku, yang selama ini hanya berfokus pada belajar, harus dihadapkan oleh kasus berat yang berkaitan dengan orangtuaku. Jika aku tidak pernah bertemu dengan Kenji, mungkin hidupku akan tetap suram seperti dahulu. Aku benar-benar bersyukur telah bertemu dengan bocah keturunan Jepang yang selalu terlihat ceria ini.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah makan malam dan Kenji pulang ke rumahnya, aku masuk ke kamar orangtuaku untuk beristirahat. Aku mengecek ponsel yang dari tadi aku matikan. Selain Gisel, ada satu orang lagi yang ingin kuberitahu.</p>
<p>“Halo Rika, lagi sibuk?”</p>
<p>Untunglah Rika sedang lenggang dan aku meminta izin untuk bercerita. Sama dengan Gisel, Rika pun mendengar ceritaku dengan penuh antusias. Aku berhenti sejenak ketika sampai di bagian kematian ibuku yang direkayasa.</p>
<p>“Benar dugaanmu Rika, kematian ibuku hanyalah rekayasa. Ada orang jahat yang membunuhnya karena ia dianggap sebagai ancaman.”</p>
<p>“Aku ikut sedih mendengar kabar itu Leon, kamu yang sabar, ya.”</p>
<p>“Aku sudah mendapatkan namanya, aku janji akan segera meringkusnya dan memberi pelajaran.”</p>
<p>“Jangan berbuat sesuatu berdasarkan dendam dan kebencian Leon. Hal itu hanya akan merusak dirimu sendiri.”</p>
<p>“Tapi Rika, orang ini yang membuat hidupku sengsara. Orang ini…”</p>
<p>“Iya Leon aku paham banget. Kamu tahu sendiri selama ini aku hidup dengan orang yang selalu menyiksaku. Aku tahu apa itu dendam, apa itu perasaan ingin membalas luka yang kita terima. Tapi percaya sama aku, enggak ada yang baik dengan perasaan seperti itu. Bawalah orang-orang itu ke ranah hukum atas dasar keadilan, bukan balas dendam.”</p>
<p>Aku diam sesaat mendengarkan kalimat dari Rika. Aku ingin menyangkalnya, namun tidak ada kalimat yang bisa kuucapkan untuk membalas perkataannya. Kalimat serupa pernah diucapkan oleh Kenji beberapa waktu lalu, jangan sampai aku menjadi seorang dokter karena merasa dendam atas kematian Sica. Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana.</p>
<p>“Percaya sama aku Leon, kamu pasti bisa mendapatkan keadilan yang kamu inginkan. Tapi aku harap, kamu enggak berbuat hal yang melebihi batas. Aku akan bantu sebisaku meskipun aku belum tahu harus ngapain.”</p>
<p>“Iya Rika, terima kasih.”</p>
<p>Setelah itu, aku melanjutkan ceritaku hingga tuntas. Sebelum telepon berakhir, sekali lagi Rika mengingatkanku betapa bahayanya sesuatu yang berlandaskan dendam. Aku tak memberikan respon apa-apa dan percakapan kami pun berakhir. Ketika meletakkan ponsel, mataku menangkap brankas rahasia yang aku letakkan di kamar ini. Sebelumnya, aku selalu menentang permintaan Kenji yang ingin membuka paksa brankas ini. Karena kondisinya seperti ini, mau tidak mau aku akan melakukan hal tersebut. Mungkin besok aku akan datang ke tukang las atau sejenisnya untuk membuka brankas ini.</p>
<p>Aku mengambil kembali surat yang kutemukan bersamaan dengan brankas ini. Sekali lagi, kubaca cerita fabel karangan ibu ini.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-3886" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/2020-05-23_170910.jpg" alt="" width="786" height="120" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/2020-05-23_170910.jpg 786w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/2020-05-23_170910-300x46.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/2020-05-23_170910-768x117.jpg 768w" sizes="(max-width: 786px) 100vw, 786px" /></p>
<p>Dari dulu ada yang mengganjal dari surat ini. Mengapa ibu tidak mengawali cerita dengan huruf kapital? Mengapa ada kata setelah tanda baca yang berhuruf kecil? Mengapa ada beberapa kata di tengah kalimat yang menggunakan huruf kapital? Bahkan Kenji pun tidak bisa menemukan jawabannya.</p>
<p>Aku teringat perkataan Awan tadi siang. Ibuku merupakan penggemar novel detektif. Ia gemar membuat sebuah kode misterius untuk dipecahkan. Aku menjadi yakin kalau surat ini adalah salah satunya, dan tugasku adalah memecahkan misteri ini.</p>
<p>Tunggu, bukankah petunjuk mengenai Awan yang masih hidup kutemukan dari novel-novel Agatha Christie milik ibu? Bagaimana jika isi surat ini juga ada hubungannya dengan novel-novel tersebut?</p>
<p>Kepalaku tiba-tiba mendapatkan pencerahan. Aku merasa seperti mendapatkan petunjuk bagaimana harus memecahkan surat ini. Kata-kata yang menggunakan huruf kapital bisa jadi merupakan salah satu judul novel Agatha Christie. Di sana, mungkin ada semacam angka yang bisa menjadi semacam petunjuk.</p>
<p>Baiklah, yang harus kulakukan sekarang adalah mencatat kata-kata yang menggunakan huruf kapital. Ada lima kata di sini: Babi, Besar, Menuju, Panggilan, Tragedi.</p>
<p>Setelah mencatat, aku segera menuju rak bukuku untuk memeriksa judulnya satu persatu. Pertama, aku menemukan buku yang berjudul <em>The Big Four</em>, ada kata besar di sana. Selanjutnya, aku menemukan <em>The Seven Dials Mystery</em> yang mengandung kata panggilan. Tak lama berselang aku menemukan kata tragedi pada buku <em>Three Act Tragedy. </em>Kata babi aku temukan pada buku <em>Five Little Pigs</em>. Tinggal satu kata, menuju, yang belum aku temukan. Setelah jejeran buku sudah hampir habis, aku menemukan buku <em>Toward Zero</em>. Setelah memastikan tidak ada buku lain yang berkaitan, aku membawa lima buku tersebut ke meja makan.</p>
<p>“Kakak lagi ngapain?” tanya Gisel tiba-tiba dari belakang dan berhasil mengejutkanku.</p>
<p>“Kakak tiba-tiba dapat ilham yang mungkin bisa jadi petunjuk untuk membuka brankas ibu.”</p>
<p>“Oh iya? Gisel ikutan lihat, ya.”</p>
<p>Gisel menarik salah satu kursi dan memperhatikan setiap pergerakanku. Baiklah, saatnya membedah kelima buku ini untuk menemukan petunjuk. Aku menjejerkannya di atas meja sesuai dengan urutan kata yang muncul pada surat. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuatku merasa ngeri sendiri. Semua novel ini memiliki unsur angka pada judulnya! Empat, tujuh, tiga, lima, kosong. Apakah itu kode brankas milik ibu? Segera aku masuk ke dalam kamar dan mencoba memasukkan angka-angka tersebut.</p>
<p>Empat…tujuh…tiga…lima…kosong…</p>
<p>Klik, terdengar suara kunci terbuka. Brankas milik ibu berhasil terbuka.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-82-fabel-karangan-ibu/">Chapter 82 Fabel Karangan Ibu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-82-fabel-karangan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 81 Pembela Rakyat Tertindas</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-81-pembela-rakyat-tertindas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 01:23:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 2)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 2]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 81]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awan mengajak aku dan Kenji untuk naik ke lantai dua. Kami diajak masuk ke sebuah ruangan yang berisi lemari buku dan meja kerja. Aku sempat melirik beberapa judul buku yang membahas seputar masalah HAM dan pelanggaran kemanusiaan. Saat masuk, Awan langsung berjongkok ke salah satu sudut ruang. Nampaknya ia sedang mengambil sesuatu dari laci bawah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-81-pembela-rakyat-tertindas/">Chapter 81 Pembela Rakyat Tertindas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awan mengajak aku dan Kenji untuk naik ke lantai dua. Kami diajak masuk ke sebuah ruangan yang berisi lemari buku dan meja kerja. Aku sempat melirik beberapa judul buku yang membahas seputar masalah HAM dan pelanggaran kemanusiaan. Saat masuk, Awan langsung berjongkok ke salah satu sudut ruang. Nampaknya ia sedang mengambil sesuatu dari laci bawah. Ketika ia membalikkan badan, terlihat setumpuk album foto di tangannya. Awan meletakkan album-album tersebut di atas meja dan kami pun mendekat ke arahnya.</p>
<p>“Album-album ini berisi foto om dan teman-teman sesama aktivis sewaktu kuliah dan selepas lulus. Kalian akan menemukan foto orangtua kalian di sini.”</p>
<p>Mendengar itu, aku pun menjadi sedikit antusias. Aku sudah melihat banyak foto mereka di album milikku sendiri, namun akan mendengar cerita langsung dari yang kenal dengan mereka jelas membuatku bersemangat.</p>
<p>Awan mulai membuka album pertama. Di sana, terlihat sekelompok mahasiswa lengkap dengan almamaternya sedang berpose ala tahun 80-an.</p>
<p>“Inilah formasi awal organisasi kami, namanya Pembela Rakyat Tertindas atau sering disingkat Peretas. Salah satu anggota kami yang maniak teknologi waktu itu memberikan usulan nama ini, dan kami setuju saja. Anggap saja kami adalah peretas kebusukan Orde Baru, begitu pikir kami.</p>
<p>“Organisasi ini didirikan kalau tidak salah ketika kami semester tiga. Kesadaran kami muncul ketika kerap melihat berbagai ketidakadilan yang terjadi di sekitar kami. Awalnya organisasi ini hanya berada di lingkup jurusan, lantas meluas hingga tingkat fakultas hingga universitas.</p>
<p>“Oleh karena itu Leon, kamu tidak akan menemukan Dewi di sini. Ia baru bergabung kemudian hari. Sangat jarang kami memiliki anggota dari Fakultas Teknik.”</p>
<p>Aku mendengarkan cerita Awan dengan saksama, namun mataku terpaku kepada foto dua orang yang ada di sudut kanan bawah album. Fotonya kecil, namun aku bisa mengenal mereka. Awan menyadari aku melihat ke arah mana, sehingga ia pun mulai bercerita.</p>
<p>“Bambang dan Ratih adalah salah satu pendiri utama dari organisasi ini. Mereka berdua sudah cocok satu sama lain sejak pertemuan pertama. Mereka sangat serius dalam berorganisasi dan tak kenal lelah. Wajar jika mereka berdua melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan.</p>
<p>“Seperti katamu, om memang menjadi salah satu motor di organisasi. Akan tetapi, ayahmu tidak kalah hebat. Pemikiran-pemikirannya visoner, keadilannya kuat, serta tidak gentar menghadapi bahaya apapun. Bahkan untuk melindungi om, ayahmu memutuskan agar namanya saja yang dicatut sebagai pemimpin organisasi, sehingga om bisa aman dan tetap menjalankan organisasi.”</p>
<p>Awan terlihat menyeka air matanya yang hampir tumpah. Mataku pun berkaca-kaca karena merasa tahu apa cerita Awan selanjutnya.</p>
<p>“Karena itulah, ayahmu menjadi salah satu orang pertama yang hilang. Ketika organisasi semakin besar setelah kelulusan, kami mulai diburu oleh orang-orang yang terganggu dengan kami. Om sangat menyesal waktu itu, karena ayahmu baru saja menikah dan ibumu sedang dalam kondisi hamil. Seharusnya, om saja yang hilang, bukan ayahmu.”</p>
<p>Air mataku menetes begitu saja mendengar cerita heroik tersebut. Siapa yang menyangka kalau ayah kandungku adalah seseorang yang rela berkorban seperti itu. Seandainya saja aku sempat bertemu dengannya, hidupku pasti akan berbeda. Jauh berbeda.</p>
<p>“Setelah kamu lahir, Ratih memutuskan untuk mulai mencari suaminya yang hilang. Bahkan, ia menitipkan kamu ke Dewi, sahabat terbaiknya, seolah sudah memiliki <em>feeling </em>kalau dirinya akan segera menyusul suaminya hilang. Keputusan tersebut sebenarnya tepat, mengingat Dewi salah satu anggota yang kurang menonjol sehingga peluang untuk diburu sangat kecil. Kami semakin rapuh karena Lulu, ibu dari Kenji, meninggal ketika melahirkan. Hal ini membuat suaminya kewalahan, apalagi kakak Kenji juga butuh penanganan khusus.”</p>
<p>Aku melirik ke arah Kenji. Di luar dugaan, ia terlihat sangat tabah mendengarkan fakta ini. Entah bagaimana bocah ini bisa mengendalikan emosinya sedemikian baik.</p>
<p>“Karena Satoshi bukan termasuk anggota, kami sempat kehilangan kontak dengannya. Beruntung om berhasil bertemu dengannya pada tahun 2010 silam. Kondisi ekonominya benar-benar buruk, sehingga om menyarankan untuk menjual rumahnya di kota dan pindah ke kontrakan dekat rumah om, rumah yang sekarang Kenji tempati itu. Sayangnya, ia harus meninggal karena kecelakaan mobil. Om turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya, Kenji.”</p>
<p>Kenji menganggukkan kepala dengan mantap, sama sekali tidak air mata yang mengambang. Betapa kuat sahabatku yang satu ini. Aku saja yang sering menyombongkan diri tidak punya perasaan sudah menangis dari tadi.</p>
<p>“Terima kasih om, saya baru tahu cerita ini sekarang. Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Kenji yang direspon dengan anggukan pelan dari Awan.</p>
<p>“Semenjak beberapa orang hilang, organisasi jadi berantakan. Kebanyakan dari kami melakukan pelarian ke berbagai daerah, termasuk om. Om bahkan lari hingga ke sebuah desa di Pontianak karena kebetulan punya saudara di sana. Dari jarak jauh, kami masih sering memberi kabar melalui alat komunikasi seadanya, entah pager ataupun surat. Kami juga berkali-kali berganti nama samaran dan mengubah penampilan agar tidak dicurigai. Barulah setelah reformasi terjadi, om berani pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga lagi.”</p>
<p>Awan kembali termenung melihat foto-foto yang ada di hadapannya. Aku bisa memahami betapa berat bebannya ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya harus menghilang, sedangkan ia masih bisa bertahan hidup hingga hari ini.</p>
<p>“Seandainya bisa, om akan menukar nyawa dengan nyawa teman-teman om yang hilang.”</p>
<p>“Kau tahu di mana makam kedua orangtuaku?” tanyaku setelah sekian lama aku terdiam.</p>
<p>“Tidak, mereka hilang tanpa jejak. Segala upaya yang dilakukan setelah reformasi tidak ada yang membuahkan hasil. Kami sudah mengadu ke KontraS, namun hasilnya nihil.”</p>
<p>“KontraS?” tanyaku tidak memahami istilah tersebut.</p>
<p>“Singkatan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Organisasi ini berfokus masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa. Enggak cuma itu, organisasi ini juga menangani berbagai bentuk kekerasan. Biasanya, kasus-kasus HAM akan diadukan melalui organisasi ini,” jawab Kenji secara gamblang.</p>
<p>“Kamu tahu banyak ya, nak,” Awan terlihat senang mendengar jawaban Kenji.</p>
<p>“Kebetulan saya kerja sebagai loper koran om, jadi tahu banyak istilah-istilah seperti itu,” sahut Kenji dengan ramah.</p>
<p>“Kalian tahu, kebanyakan orang-orang yang bergabung di Peretas merupakan orang-orang cerdas. Om enggak heran kalau kalian berdua termasuk siswa paling cerdas di sekolah.”</p>
<p>Aku dan Kenji hanya bereaksi singkat terhadap pujian tersebut dan melanjutkan aktivitas melihat foto-foto yang ada di hadapan kami.</p>
<p>“Sebenarnya, kasus apa saja yang om dan teman-teman hadapi?” tanya Kenji setelah melihat sebuah foto yang menggambarkan sebuah suasana rapat di sebuah ruangan sempit.</p>
<p>“Kami tinggal di daerah, bukan di kota besar. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri untuk menangani perkara-perkara yang ada di sekitar kami. Salah satunya dalah kasus penggusuran tanah secara paksa yang dilakukan oleh perusahaan milik Wijaya. Ia tidak mau mengganti biaya ganti rugi sesuai ketentuan, dan menggunakan koneksinya di pemerintahan untuk mengusir penduduk setempat secara paksa. Bisa dibayangkan bagaimana masyarakat sipil yang tak bersenjata harus berhadapan dengan mereka. Kami pun kerap melakukan unjuk rasa untuk menuntut keadilan, namun usaha kami kerap nihil.</p>
<p>“Kami tidak menyerah begitu saja. Apalagi, semakin banyak kasus serupa karena Wijaya ingin melebarkan sayap bisnisnya. Ada isu di mana Wijaya membayar buruhnya di bawah standar. Kelompok Peretas dan Wijaya pun semakin kerap berbenturan. Awalnya hanya dianggap serangga pengganggu, lama kelamaan kami dianggap sebuah ancaman yang bisa membahayakan bisnisnya. Koneksinya sangat kuat di pemerintahan, konon katanya karena ia kerap menyogok mereka dengan nominal yang mencengangkan. Beberapa di antara kami pun ada yang pernah diberi uang tutup mulut agar menghentikan aktivitas kami.”</p>
<p>“Apakah ada yang tergiur dengan rayuan tersebut?”</p>
<p>Awan tersenyum pahit. “Banyak, beberapa anggota kami berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jumlah yang ditawarkan kelewat cukup untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak sedikit yang memutuskan untuk membelot dari organisasi. Bahkan beberapa di antara mereka menjadi pengkhianat dan menjadi mata-mata kami. Banyaknya anggota yang hilang juga disebabkan oleh mereka yang membocorokan informasi.”</p>
<p>Aku terkejut mendengar fakta ini. Bagaimana mungkin kau mengkhianati teman seperjuanganmu sendiri hanya demi rupiah? Aku benar-benar geram mendengar hal ini.</p>
<p>“Kau tahu siapa pengkhianat itu?”</p>
<p>“Tahu, tapi entah di mana mereka sekarang. Bawahan Wijaya yang mengancam om adalah mantan rekan seperjuangan. Kemungkinan besar, ia juga yang membuat rekayasa bunuh diri Dewi.”</p>
<p>Mendengar fakta tersebut, emosiku kembali meluap-luap. Ibuku tewas karena dikhianati oleh temannya sendiri? Hal ini membuatku berjanji untuk menemukannya dan membuat perhitungan kepadanya. Apapun akan kulakukan untuk menemukannya.</p>
<p>“Siapa namanya?”</p>
<p>“Namanya Markus. Kalau tidak salah, di album ini harusnya ada.”</p>
<p>Awan mulai membalik-balik album fotonya. Setelah ketemu, ia menunjuk seorang laki-laki dengan wajah keras dan kumis tipis di atas bibirnya. Tidak ada sehelai rambut pun di atas kepalanya. Aku merekam betul wajahnya di kepalaku agar bisa langsung menghajarnya ketika bertemu nanti.</p>
<p>“Seingatku, Malik bercerita kalau orang yang masuk ke rumahku waktu itu berambut cepak. Artinya, mereka orang yang berbeda?”</p>
<p>“Malik?”</p>
<p>Aku pun bercerita tentang kejadian Malik yang mengintip ke dalam rumahku di hari kematian ibu. Awan mendengarkan cerita tersebut baik-baik sambil memegang dagunya.</p>
<p>“Iya, Markus tidak pernah sendirian. Ia kerap ditemani temannya, salah satunya pria berambut cepak itu. Kalau dia bukan mantan orang organisasi.”</p>
<p>“Siapa lagi mantan orang organisasi yang bekerja untuk Wijaya?” tanya Kenji.</p>
<p>“Dulu ada sekitar sepuluh orang, tapi nampaknya yang tersisa hanya Markus ini.”</p>
<p>Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut. Semua informasi yang kudapatkan hari ini berusaha aku satukan di dalam kepala. Aku sudah mendapatkan bayangan mengenai apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang harus kukejar di masa kini. Sekarang fokus kami adalah mencari orang yang bernama Markus ini. Si brengsek ini akan menjadi pembuka kami untuk bertemu dengan bosnya, Wijaya.</p>
<p>“Kurang lebih seperti itu yang bisa om ceritakan ke kalian. Ada pertanyaan lagi?”</p>
<p>“Rasanya untuk hari ini cukup om. Kalau ada yang kurang jelas, boleh kami menghubungi om?”</p>
<p>“Boleh saja, ini kartu nama om,” Awan mengambil selembar kartu nama dari kotak yang ada di atas mejanya, “kalian boleh telepon om kapan saja.”</p>
<p>“Kau sudah tidak takut lagi?” tanyaku setengah menyindir. Awan hanya tertawa ringan mendengar sindiranku.</p>
<p>“Entah mengapa melihat kalian semangat om kembali tumbuh. Selain itu, anak buah Wijaya tidak akan mencurigai anak SMA. Mereka tidak separno ketika sebelum reformasi. Om tebak, kalian akan mengusut kasus ini?”</p>
<p>“Benar om, kami memiliki seorang teman yang memiliki kakak orang HAM. Kemungkinan besar kami akan meminta bantuannya.”</p>
<p>“Oh iya? Siapa namanya?”</p>
<p>“Namanya Zane Trunajaya, om tahu?”</p>
<p>“Astaga, tentu saja tahu. Namanya sedang berkibar karena di usianya yang relatif muda ia begitu lantang bersuara. Kalau tidak salah, ia juga anggota KontraS atau setidaknya memiliki koneksi yang kuat. Aksi-aksinya nyata dalam membela keadilan orang-orang kecil. Bahkan tak sedikit yang menjagokan dia menjadi presiden selanjutnya walau yang bersangkutan sama sekali tidak tertarik. Kalian beruntung jika bisa bertemu dengannya.”</p>
<p>“Wah, semoga saja bisa om, kami masih berusaha membuat janji dengannya. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Kalau memungkinkan, kami ingin om menjadi saksi jika kami berhasil membawa kasus ini ke pengadilan.”</p>
<p>“Baiklah, om berjanji untuk kalian. Kalau yang muda saja punya semangat seperti ini, om yang sudah karatan ini seharusnya tidak boleh kalah semangat. Terima kasih karena sudah mengembalikan keberanian om yang sempat sirna.”</p>
<p>Setelah itu, kami berdua pun berpamitan pulang. Di dalam perjalanan, kami hanya diam satu sama lain. Hal ini wajar, mengingat infomasi-informasi yang kami dapatkan bersifat rahasia. Kami tidak boleh lengah sedikit pun meskipun kata Awan kami tidak akan dicurigai karena masih SMA. Awas saja, sebentar lagi semua keburukan mereka akan aku bongkar hingga tuntas. Aku tidak peduli berapapun harga yang harus kubayar. Bahkan, aku rela mati asal dendam ini berhasil terbalaskan.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-81-pembela-rakyat-tertindas/">Chapter 81 Pembela Rakyat Tertindas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
