Chapter 85 Pengumuman

Pengumuman SNMPTN diumumkan melalui internet dan dilakukan serentak pada hari Jumat pukul 19:00. Aku sebagai orang yang termasuk gagap teknologi sempat kebingungan akan membuka pengumuman dari mana. Pierre mengusulkan aku untuk pergi ke warnet dekat sekolah. Bahkan, ia secara baik hati memberi semacam tutorial apa yang harus aku lakukan di sana dan situs apa saja yang harus kukunjungi. Ketika aku berusaha mencerna petunjuk-petunjuk dari Pierre, Rika datang menghampiri kami berdua.

“Ada apa ini? Kok kayaknya serius banget?”

“Aduh Rika, aku berasa lagi ngajarin komputer ke manusia purba. Leon ini pintarnya bukan main, tapi kalau masalah teknologi gapteknya enggak ada yang ngalahin!” ujar Pierre tanpa menyembunyikan kekesalannya.

“Hahaha, iya sih emang. Padahal nilai komputernya di rapot juga enggak buruk-buruk amat.”

Sesaat kemudian, Rika terlihat memiliki ide.

“Gimana kalau kamu ke rumahku, Le? Di rumahnya Sarah maksudku. Kalau enggak salah ada beberapa laptop di sana, rumahnya juga udah punya koneksi internet yang stabil. Kamu bisa ngajak Kenji kalau malu ke rumahnya cewek.”

“Wah, Leon bakal ngeharem ini!” kata Pierre asal bicara, meskipun aku tidak tahu apa arti harem.

“Ish Pierre, Leon cowok polos enggak ngerti begituan. Gimana, Le? Kalau mau, aku yang bilang ke Sarah.”

“Aku tanya ke Kenji dulu ya kalau gitu.”

Aku pun beranjak dari kursi dan menghampiri Kenji yang ada di bangkunya. Ketika sudah berada di belakangnya, aku mendadak jadi ragu untuk bertanya kepadanya. Kenji menjadi satu-satunya siswa di kelas ini yang tidak mengikuti SNMPTN. Setangguh apapun Kenji, pasti ia akan merasa terbebani hari ini. Yang bersangkutan nampaknya merasa ada seseorang di belakangnya hingga memutuskan untuk menoleh. Begitu melihatku, ia menunjukkan senyumnya yang khas.

“Eh Leon, tumben di situ. Kenapa?”

Aku tak kuasa menjawab pertanyaannya, sehingga memutuskan untuk menggeleng begitu saja dan kembali ke bangkuku. Rika kembali menghampiriku dan menanyakan kesediaanku pergi ke rumahnya.

“Maaf Rika, nampaknya aku ke warnet aja. Enggak enak sama Sarah.”

“Begitu ya? Memangnya Kenji enggak bisa nanti malam?”

Aku hanya menggelengkan kepala dan menundukkan kepala dalam-dalam. Entah mengapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang menyakitkan malam ini.

***

Pukul 18:00 selepas Maghrib, aku mendengar suara ketukan pintu. Aku yang tengah bersiap pergi ke warnet pun menghentikan aktivitas untuk mengetahui siapa yang datang ke sini. Saat kubuka, ternyata Rika yang datang bersama Sarah. Aku melihat sebuah mobil berawarna putih terparkir di depan.

“Malam Leon, karena kamu enggak bisa datang ke rumah, kami memutuskan untuk datang ke rumahmu,” kata Rika dengan nada ceria. Sarah yang ada di belakangnya hanya ikut memasang wajah pasrah.

“Baiklah, silakan masuk.”

Aku menyalakan lampu ruang tamu dan mempersilakan mereka berdua duduk. Rika memanggul tas ransel, sedangkan Sarah membawa tas jinjing. Kemungkinan besar mereka berdua membawa laptop di dalamnya. Lantas, aku teringat sesuatu.

“Di rumahku tidak ada koneksi internet.”

“Santai Leon, Sarah punya modem kok. Kita tetap bisa internetan.”

Aku mengangguk meskipun sebenarnya tidak terlalu paham. Aku masih belum mengerti motif Rika datang ke mari hingga membawa Sarah. Untuk menenangkan diri, aku meminta izin ke belakang dengan alasan membuatkan mereka berdua minum. Gisel yang dari tadi di kamar untuk belajar akhirnya keluar dan menyapa Rika dan Sarah.

Entah mengapa aku terlihat mengulur-ulur waktu di dapur. Sirup yang telah larut dari tadi terus aku aduk-aduk melawan arah jarum jam. Pikiranku melamun entah ke mana, aku sendiri tidak bisa menerka arahnya. Lamunanku terpecah karena tiba-tiba mendengar suara dor dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Rika.

“Ditungguin lama banget, ternyata lagi ngelamun.”

“Maaf Rika, ini udah selesai, akan kubawakan ke depan.”

“Leon kepikiran sama Kenji, kan?”

Pertanyaan Rika tepat sasaran. Sepertinya memang dari tadi aku memikirkan kawanku yang satu itu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuknya. Bahkan, apa yang ia rasakan sekarang pun tidak tahu. Apakah senang karena teman-temannya akan melanjutkan studi di universitas impiannya? Adakah perasaan sedih karena dirinya sendiri tidak bisa lanjut kuliah? Semua perasaan itu pasti bercampur aduk di dalam hatinya, dan aku sebagai orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri justru tidak tahu harus berbuat apa.

“Tadi siang kamu enggak jadi ngajak Kenji karena merasa enggak enak, kan?”

Aku menganggukkan kepala perlahan.

“Kamu tahu enggak kenapa aku malam-malam ke sini sampai bawa Sarah? Karena aku tahu kamu pasti merasa bimbang saat ini. Kamu enggak tahu kan harus berbuat apa, sampai enggak peduli sama pengumumanmu sendiri?”

Sekali lagi aku menganggukkan kepala.

“Makanya aku membujuk Sarah buat lihat pengumuman di rumahmu, karena aku enggak mau kamu memikirkan masalah ini sendirian. Memang kamu yang paling dekat sama Kenji, tapi bukan berarti kami enggak peduli sama Kenji. Kami juga memikirkan perasaannya, walau mungkin usulku tadi siang kurang mencerminkan hal itu. Percaya Leon, Kenji pasti akan senang ketika tahu teman-temannya berhasil masuk ke universitas yang diinginkan, melebihi kesedihannya tidak bisa lanjut kuliah. Kenji selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, kamu tahu itu, kan?”

Rika mendekat ke arahku dan memegang pipiku dengan kedua tangannya. Tatapannya yang penuh dengan kasih sayang melihat lurus ke arah mataku.

“Setelah kita mengetahui hasil SNMPTN malam ini, kita ke rumah Kenji ya. Nanti aku sama Sarah juga bakal telepon teman-teman yang lain, sehingga kita bisa laporan ke Kenji siapa aja yang keterima. Kita di kelas ini enggak sekadar teman kelas, kita udah kayak keluarga. Dua tahun dijalani bersama dengan suka dukanya, Kenji pasti ingin ikut ambil bagian. Leon tenang ya, Kenji itu anak yang tangguh kok.”

Air mataku langsung menetes begitu saja seusai mendengarkan kalimat-kalimat yang dilontarkan Rika. Kepalaku hinggap di pundaknya dan suara tangis tak bisa kuredam. Rika berusaha menenangkanku dengan membelai punggungku dengan lembut. Aku tak tahu apa penyebab air mata ini tumpah. Kemungkinan besar, karena besarnya perasaan bersalahku yang menyadari kalau aku tidak benar-benar memahami Kenji seperti ia memahami diriku.

***

Setelah tangisku reda, aku dan Rika kembali berjalan ke ruang tamu. Aku yakin Sarah dan Gisel tadi mendengarku menangis, namun mereka berdua sama-sama memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Aku melirik ke arah jarum jam, kurang lima belas menit lagi pengumuman bisa diketahui.

“Leon, kamu duluan ya, aku sama Sarah masih takut, hehehe.”

Aku menganggukkan kepala dengan mantap. Bukan karena yakin, tapi aku merasa sudah siap menerima apapun hasilnya. Gisel juga berusaha menyemangatiku dengan gayanya sendiri. Aku pun mengambil posisi di depan laptop yang sudah Sarah siapkan, menanti detik demi detik.

“Kak, udah jam 7!”

Aku segera memasukkan informasi pribadi yang dibutuhkan secara pelan-pelan. Bisa dibilang, kecepatan mengetikku adalah yang paling lambat di antara teman-teman sekelas. Bahkan Kenji bisa mengetik dengan cepat, walau katanya karena dulu sering mengetik menggunakan mesin tik tua milik kakeknya.

Pengumuman itu muncul di hadapanku. Aku diterima di jurusan Kedokteran UI. Semua wanita yang ada di ruangan itu bersorak gembira, termasuk Sarah yang biasanya kurang ekspresif. Mereka memberiku selamat dengan sangat antusias, membuatku merasa tersipu malu.

“Wah gila gila gila, Leon bakal kuliah di Jakarta. Jadi anak ibu kota nih, ye?” kata Sarah yang memang lama tinggal di sana.

“Terima kasih Sarah.”

Aku menoleh ke arah Rika dan Gisel. Wajah mereka memang terlihat bahagia, namun tubuh mereka bergetar. Aku tahu alasannya, mereka membayangkan harus terpisah jauh denganku. Aku pun berusaha menenangkan mereka dengan mengacak-acak rambut mereka.

“Rika, Gisel, kalian enggak usah sedih. Setelah kuliah di sana, aku pasti balik ke sini dan tinggal di tengah-tengah kalian lagi.”

Mereka berdua mengangguk pelan dan menyeka air mata yang hampir tumpah, lantas kembali bersemangat.

“Selanjutnya siapa? Rika?”

Rika pun mulai membuka miliknya, tapi sayang sekali ia belum diterima melalui jalur ini. Aku merasa tidak enak dan hendak mengatakan sesuatu sebelum disela olehnya.

“Yah, sejak awal aku emang enggak berharap banyak sih. Nilai rapotku terlalu naik turun, enggak bagus-bagus amat pula. Jadi harus belajar lagi nih buat SBMPTN!”

Aku menepuk-nepuk pundaknya sebagai tanda penyemangat. Gisel pun mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi ala anak SD. Sarah pun belum lolos, tapi bisa dimaklumi karena ia sengaja mengincar jurusan yang passing grade­-nya sangat tinggi. Sejak awal, ia ada rencana untuk berkuliah di luar negeri sehingga SNMPTN ini hanya sekadar formalitas.

Setelah kami bertiga mengetahui hasil kami, Rika dan Sarah mulai menghubungi teman-teman yang lain. Satu persatu. Dari percakapan mereka, aku mengetahui yang lolos SNMPTN adalah Juna, Ve, Pierre, Nita, dan Rena. Sisanya sayang sekali belum rezekinya. Artinya, total ada enam anak kelas akselerasi yang berhasil masuk ke universitas melalui jalur ini.

“Lumayan lah, ada sekitar 50% anak kelas kita yang lolos. Lumayan besar loh, mong musuhnya dari seluruh Indonesia,” kata Rika dengan suara paling optimis yang bisa ia hasilkan.

“Kalau gitu, sekarang kita ke Kenji, ya? Takut keburu malam,” kata Sarah sambil mengambil kunci mobilnya. Kami berempat pun keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Sarah.

“Eh, kau tidak pakai supir?” tanyaku sewaktu melihat Sarah duduk di kursi pengemudi.

“Enggak lah, aku udah bisa nyetir mulai SD. Yah, walau belum punya SIM, sih. Jangan dimarahin, ya? Hahaha.”

Mobil pun melaju dengan kecepatan rendah, mengingat sebenarnya rumah Kenji bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari lima menit. Ketika mobil berhenti di depan rumah Kenji, aku merasa keheranan karena rumahnya gelap. Perasaanku jadi tidak enak dan langsung keluar dari mobil. Aku mengetuk pintu rumah Kenji dengan sedikit terburu-buru. Tidak ada jawaban. Ke mana kawanku yang satu ini?

“Kenji enggak ada, Le?” tanya Rika yang sudah menyusul di belakangku.

“Kenji selalu menyalakan lampu terasnya kalau matahari udah tenggelam. Aku udah ketuk pintunya juga enggak ada yang merespon.”

Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak terkunci. Sinar bulan menjadi satu-satunya sumber pencahayaan, namun itu cukup untuk membuatku melihat sesuatu yang mengerikan, mungkin lebih mengerikan dibandingkan ketika aku menemukan tubuh ibuku tergantung di seutas tali. Di sana, di dekat meja belajarnya, Kenji tergeletak di lantai dengan bercak darah berceceran di mana-mana.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.