Chapter 86 Rumah Sakit Lagi

Rumah sakit terasa lengang. Wajar saja, jarum jam di dinding menunjuk ke angka 10. Tak banyak orang yang berobat selarut ini, kecuali dalam keadaan darurat seperti yang dialami oleh Kenji. Begitu aku menemukan ia terkapar dalam kondisi tidak sadar, aku segera membawanya ke dalam mobil Sarah. Kami semua segera pergi ke rumah sakit dan membawa Kenji ke UGD. Sudah sekitar dua jam kami menanti hasil diagnosis dari dokter tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kawan kami itu.

Aku sempat mengira kalau Kenji dibunuh oleh orang suruhan Wijaya karena gerak-gerik kami mulai mencurigakan. Apalagi, aku melihat adanya bercak darah walau jumlahnya tidak banyak. Namun setelah memeriksa tubuh Kenji, aku tidak menemukan luka fisik sama sekali. Nadinya masih berdenyut, yang menandakan ia hanya pingsan.

“Sarah, Rika, kalian bisa pulang duluan. Biar aku yang menunggu Kenji,” kataku kepada mereka berdua, mengingat hari makin malam.

“Enggak apa-apa Le, kami temenin kamu. Kami juga mau tahu apa yang terjadi sama Kenji,” jawab Rika dengan tatapan sedih kepadaku. Aku memutuskan untuk tidak mendebat keputusan itu. Gisel sudah terlelap di pangkuanku. Mungkin ia terkejut melihat Kenji pingsan sehingga kehabisan tenaga. Aku membelai rambutnya dengan lembut, salah satu upaya yang kulakukan untuk membuat diriku merasa tenang.

Tak lama kemudian, keluar dokter dari ruang UGD. Dokter yang bertemu kami kali ini berbeda dengan dokter yang dulu merawat Sica. Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan seandainya bedebah itu yang memeriksa Kenji.

“Kalian teman-temannya, ya? Apa Kenji punya keluarga?”

Aku pun menjelaskan secara singkat kondisi Kenji yang tinggal sebatang kara. Dokter tersebut mendengarkan secara perhatian. Setelah aku selesai, ia menarik napas panjang seolah ada berita buruk yang harus ia sampaikan.

“Baiklah, jadi setelah saya melakukan pemeriksaan secara mendalam, saya menemukan fakta bahwa Kenji memiliki penyakit paru-paru basah.”

Kami semua, kecuali Gisel yang masih tertidur, tercekat mendengar kabar ini. Sama seperti Sica dulu, lagi-lagi penyakit paru-paru. Tubuhku bergetar dengan hebatnya tanpa diketahui sebabnya. Rika menyadari hal ini dan berusaha menenangkanku. Gisel sampai terbangun dari tidurnya.

“Bisa diceritakan bagaimana pola hidupnya? Mungkin kondisi rumahnya? Karena sepertinya belum lama ia mengidap penyakit ini, mungkin baru sekitar satu tahun.”

Setelah berhasil menenangkan diri, aku menjelaskan kalau Kenji tinggal di rumah kecil. Ia kerap tidur di lantai dengan alas seadanya. Mendengar hal ini, sang dokter sedikit terkejut.

“Jarak antara ia tidur dan kamar mandi berdekatan?”

Aku menganggukkan kepala. Ruangan di rumah Kenji memang sangat berdekatan karena mungilnya.

“Bisa jadi, pemicu dari penyakitnya adalah tingkat kelembapan yang tinggi ditambah kebiasaan tidur di lantai. Kemungkinan besar ia terkena infeksi bakteri. Di rumahnya tidak ada semacam dipan?”

Aku menggelengkan kepala. Sejak pertama aku mampir ke rumahnya, tidak pernah kutemukan perangkat tempat tidur yang lengkap.

“Baiklah, kemungkinan besar itulah yang memicu penyakitnya. Penyakit ini memang susah diidentifikasi jika tidak diperiksakan ke dokter. Apa dia menunjukkan gejala akhir-akhir ini?”

Aku menjelaskan kalau akhir-akhir ini Kenji sering terbatuk, baik batuk kering ataupun berdahak.

“Buat informasi kalian, paru-paru basah terjadi karena adanya timbunan cairan di jaringan paru. Penyakit ini sangat mudah menjangkiti orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Batuk yang kamu sebutkan tadi hanya salah satu gejalanya.”

“Gejala yang lain apa, dok?” tanyaku padanya.

“Nyeri dada, yang biasanya terasa ketika batuk. Napas terasa sesak dan terlihat mudah kelelahan. Terkadang disertai demam dan mual. Kenji harus mendapatkan perawatan lebih lanjut, kalian bisa mengurus proses administrasinya?”

Setelah perbincangan dengan dokter, kami pun segera mengurus administrasi. Sarah meminta agar Kenji dirawat di ruang VIP. Beberapa menit kemudian, Kenji telah dipindahkan ke ruangan. Ia masih belum sadarkan diri dan kami pun masih belum diperbolehkan untuk menjenguk. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku dan Gisel diantar Sarah sampai rumah.

“Sabar ya Le, Kenji pasti sembuh,” kata Rika ketika kami telah sampai di depan rumah.

“Harusnya aku sadar Rika, Kenji akhir-akhir ini sering terlihat sakit. Apa yang sudah aku perbuat? Tidak ada Rika, aku hanya diam. Ini semua salahku,” aku merutuki diri sendiri karena sadar betapa aku sudah begitu abai kepada Kenji.

“Jangan gitu kak, ini semua udah ditakdirkan. Kakak enggak boleh nyalahkan diri kayak gitu. Yang penting sekarang kita fokus sama kesembuhan Kak Kenji,” kata Gisel berusaha menenangkanku. Aku tidak menjawab apapun. Setelah menggumamkan terima kasih, aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun.

***

Kenji masih belum sadar ketika keesokan harinya aku datang lagi ke rumah sakit. Walaupun begitu, kata dokter kondisinya berangsur-angsur mulai membaik. Tidak bisa berbuat apa-apa, aku segera kembali ke rumah.

“Gimana kak? Kak Kenji udah sadar?” tanya Gisel sewaktu aku tiba di rumah. Aku hanya menggelengkan kepala dan berlalu ke kamar. Aku duduk di atas tempat tidur sambil menatap brankas yang telah berhasil kubuka. Seharusnya, minggu depan adalah hari pertemuan kami dengan Zane Trunajaya. Dengan kondisi seperti ini, aku meragukan kalau pertemuan itu akan terjadi.

Handphoneku berdering nyaring. Umur panjang, orang yang baru kubayangkan menelepon. Dengan sedikit berat hati, aku mengangkat telepon dari Zane.

“Iya, dengan Leon di sini.”

“Halo Leon? Enggak lagi sibuk, kan? Saya mau membicarakan mengenai pertemuan kita minggu depan. Saya mengusulkan pertemuan dilakukan di rumah saya biar aman, Awan nanti akan dijemput sama tim saya. Kalian berdua juga akan saya jemput. Hari Minggu jam 3 sore enggak masalah, kan?”

“Zane, maaf menyela, ada berita buruk.”

Aku pun menceritakan kondisi Kenji yang baru saja masuk ke rumah sakit. Zane terdengar terkejut dan mengutarakan keprihatiannnya. Ia sama sekali tidak tersinggung aku memanggil namanya secara langsung, meskipun jarak usia kami belasan tahun.

“Tapi maaf Leon, bukannya saya tidak punya empati, tapi saya yakin Kenji ingin kita meneruskan apa yang sudah dimulai. Kenji pasti tidak ingin menjadi penghalang. Kita sudah begitu dekat, apalagi saya juga sudah lama mengincar kelompoknya Wijaya. Tapi saya tidak akan memaksa. Tolong beritahu saya jika kamu berubah pikiran. Setidaknya, saya akan menjumpai Awan untuk membicarakan masalah ini,”

Setelah itu pembicaraan berakhir. Aku melemparkan handphoneku ke meja dan berbaring di atas tempat tidur. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

***

Hari Senin, Kenji telah siuman walau kondisinya masih lemah. Aku juga telah diizinkan untuk menjenguknya. Sebenarnya aku ingin menjaga Kenji dan tinggal di kamarnya, namun oleh pihak rumah sakit dilarang mengingat bakteri yang ada di paru-paru Kenji bisa menular. Aku juga diwajibkan untuk mengenakan masker.

“Hai Le, maaf ya kamu jadi harus melihatku dengan kondisi seperti ini,” sapa Kenji ketika melihatku masuk ke ruangannya.

“Tak apa, fokuslah pada kesembuhanmu.”

“Iya Le, kamu ya yang bawa aku ke rumah sakit?”

“Aku dibantu Rika dan Sarah. Untunglah Sarah bawa mobil sehingga kami bisa membawamu ke rumah sakit.”

“Ah begitu, tolong sampaikan terima kasihku kepadanya.”

Kenji terbatuk-batuk lagi sehingga aku menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bicara dulu. Ia hanya tersenyum mendengar laranganku.

“Omong-omong, gimana hasil SNMPTN-mu? Lulus, kan?”

Aku mengiyakan pertanyaan tersebut dengan singkat. Ia juga menanyakan hasil teman-teman lain yang juga kujawab dengan singkat. Kenji menyadari kalau perasaanku sekarang bercampur aduk, antara sedih dan marah.

“Aku kenal sama kamu belum ada dua tahun, tapi aku tahu sekarang kamu pasti sedang gusar denganku. Ya, wajar kok Le, kamu suruh aku periksa ke dokter berkali-kali, namun aku tetap bandel dan menyepelekan penyakitnya.”

“Kau itu cerdas, harusnya kau pakai sedikit otakmu buat menyadari kemungkinan buruk yang akan terjadi.”

“Hahaha, iya memang Le. Hanya saja, akhir-akhir ini otakku rasanya tidak seencer biasanya. Mungkin karena pengaruh penyakit, ya? Dokter sudah memberitahuku apa penyakitku, aku pun terkejut mendengarnya. Omong-omong, pasti Sarah yang meminta aku dirawat di ruangan semewah ini.”

Aku hanya menanggapinya dengan diam. Kenji benar, saat ini perasaanku bercampur aduk antara sedih, kecewa, marah, merasa tak berdaya, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa aku, yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, tidak menyadari kondisi Kenji yang separah ini? Harusnya aku tidak menyuruhnya ke dokter, harusnya aku membawanya periksa ke dokter. Seandainya saja aku melakukan itu, Kenji mungkin tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit seperti ini.

“Minggu ini jadwal pertemuanmu dengan Zane, kan? Kamu bisa kan bertemu dengannya tanpaku?”

“Aku mempertimbangkan untuk membatalkan pertemuan tersebut.”

“Jangan Le, apa yang telah kita mulai harus segera diselesaikan. Aku mohon, temuilah Zane dan berikan bukti-bukti tersebut. Meskipun kita telah mengetahui sebagian besar cerita dari masa lalu orangtua kita, pasti ada beberapa hal yang belum kita ketahui. Menuntaskan perkara ini menjadi salah satu jalannya.”

“Entah ini perasaanku saja atau bukan, tapi aku merasa kau menjadi cerewet sekali Kenji.”

“Benarkah? Hahaha, mungkin karena aku merasa harus menyampaikan semuanya mumpung sempat. Tapi aku benar-benar mohon sama kamu, tolong temui Zane dan tuntaskan perkara ini. Aku percaya kamu bisa, Le.”

Aku tidak mengiyakan maupun menolaknya. Aku hanya menatapnya dalam diam. Jika diperhatikan secara detail, tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Pipinya yang biasanya terlihat berisi menjadi lebih tirus. Tangannya terikat dengan infus, di hidungnya tertancap semacam peralatan yang aku tidak paham fungsinya. Melihat Kenji dalam kondisi seperti ini membuatku kembali merutuki diriku sendiri.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Le. Ini semua salahku karena mengabaikan perintahmu untuk periksa ke dokter. Seandainya aku nurut, pasti aku enggak perlu masuk rumah sakit.”

“Terserah aku mau menyalahkan siapa,” nada suaraku masih terdengar ketus.

“Hahaha, baiklah. Aku cuma minta temuilah Zane. Jangan sampai semuanya batal karena aku. Kalau kamu sampai membatalkan pertemuan itu, maka aku akan menjadi merasa sangat bersalah.”

Aku hanya menghela napas panjang. Baiklah, demi Kenji aku akan tetap menemui Zane. Aku pun berpamitan kepadanya agar ia memiliki waktu lebih untuk beistirahat. Selama aku di sana, pasti ia akan terus berbicara. Semoga saja ia segera keluar dari rumah sakit dan dapat berkumpul dengan kami seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.