Chapter 84 Kediaman Trunajaya

Kami sudah membuat janji dengan Rachel tadi pagi dan ia menyanggupi untuk bertemu sepulang sekolah. Kami sepakat untuk ngobrol di area kantin. Oleh karena itu, aku dan Kenji sudah duduk di area makan yang langsung menghadap ke arah gerbang selatan, gerbang sekolah yang dekat dengan rumahku. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah Rachel dengan wajah yang cerah.

“Siang kakak-kakak, maaf ya jadi nunggu agak lama. Tadi masih ngobrol sebentar sama guru,” kata Rachel setelah mengambil posisi duduk di seberang kami.

“Enggak kok Chel, kita juga baru sampai. Lancar kan sekolah?” tanya Kenji basa-basi. Untuk perkara seperti ini, aku selalu menyerahkan ke Kenji karena aku tipe orang yang to the point. Aku pun mendengarkan dengar sabar mereka berdua saling bertukar kabar dan informasi, sebelum masuk ke poin utama.

“Jadi, apa nih yang bisa aku bantu?” tanya Rachel seusai sesi basa-basa berakhir.

“Yah, intinya kami berdua butuh bertemu dengan kakakmu, Zane Trunajaya,” jawab Kenji.

“Kakak berdua atau Kak Kenji aja? Soalnya dari tadi Kak Leon diem aja, kayak enggak minat buat ketemu aku.”

Aku jadi sedikit gelagapan mendengar serangan dari Rachel. Memang benar, dari tadi aku belum bersuara sama sekali. Dengan sedikit berdeham dan membetulkan posisi dudukku yang sebenarnya tidak salah, aku pun akhirnya berbicara.

“Maaf Rachel, tidak ada maksud seperti itu. Aku hanya bingung bagaimana cara bergabung ke dalam percakapan kalian.”

“Hahaha, bercanda kok kak. Santai aja, Kak Leon kan emang orangnya pendiem begitu. Jadi intinya kakak berdua mau ketemu sama kakak aku, kan?”

Kami berdua menganggukkan kepala.

“Karena masalah orangtua kandung Kak Leon?”

Kali ini hanya aku yang menganggukkan kepala.

“Kalau ada yang bisa aku bantu, pasti aku bantu kok kak, apalagi kalau masalahnya sepenting ini. Masalahnya, aku enggak pernah bawa handphone ke sekolah. Mungkin enggak kalau Kak Kenji dan Kak Leon mampir ke rumahku hari ini? Nanti kita telepon kakak di rumahku dan mungkin sekalian membuat janji untuk ketemuan. Gimana, keberatan?”

“Justru kami yang harusnya bertanya, apakah Rachel enggak keberatan kalau kami berdua ke rumahnya Rachel,” jawab Kenji tanpa menunggu persetujuanku.

“Enggak apa-apa kok, mama pasti akan menyambut kalian dengan tangan terbuka. Mau berangkat sekarang?”

Kami bertiga pun meluncur ke rumah Rachel yang katanya berjarak sekitar 10 kilometer. Biasanya Rachel naik ojek, tapi karena beramai-ramai ia memutuskan untuk mencegat taksi ketika kami sudah sampai di pinggir jalan raya. Aku ingat dari ceritanya kalau ia anak dari keluarga yang cukup berada, sehingga naik taksi adalah sesuatu yang biasa untuk dirinya. Berbeda denganku, dan mungkin Kenji, yang belum pernah merasakan naik taksi seumur hidup.

***

Dua puluh menit berselang, kami sudah tiba di depan gerbang rumah Rachel yang bergaya minimalis dengan tinggi sekitar 2.5 meter. Rumah yang ada di baliknya juga bergaya minimalis dua tingkat dan didominasi oleh warna putih. Ketika kami masuk ke pekarangannya, ia terlihat menyapa seseorang yang nampaknya merupakan supir pribadi merangkap petugas keamanan.

“Sebenarnya kakak merekrut supir untuk mengantarku sekolah. Tapi karena rasanya terlalu berlebihan, aku menolaknya dan memilih naik ojek pangkalan. Lagian, abang-abang ojek di sini ramah-ramah banget.”

Sama seperti bagian luarnya, interior rumah Rachel juga didominasi dengan warna putih. Tidak banyak perabot yang terlihat sehingga terasa lapang. Entah mengapa aku jadi merasa nyaman berada di sini.

“Kakakku suka menerapkan hidup ala-ala minimalis. Jadi sewaktu membangun rumah ini, dibuatlah konsep barang sesedikit mungkin untuk memberikan ruang lebih. Oh iya, kakak memberi nama rumah ini Kediaman Trunajaya. Kedengaran kuno, ya? Enggak cocok sama desainnya yang modern.”

“Bagus Rachel rumahmu, aku langsung kerasan di sini,” kata Kenji sambil mengamati pajangan dinding yang juga bergaya minimalis: tiga buah pigura berwarna hitam dipasang sejajar, tanpa ada gambar apapun di dalamnya.

“Hahaha, terima kasih. Aku panggilin mama dulu ya. Kakak berdua tunggu di sini.”

Kami pun duduk di kursi ruang tamu. Ada sedikit rasa takut mengotori kursi ini karena warnanya yang putih, sehingga aku dan Kenji membersihkan celana terlebih dahulu sebelum duduk di atasnya.

Lima menit kemudian, datanglah Rachel bersama mamanya yang terlihat anggun. Matanya terlihat tangguh, mungkin karena sudah beberapa tahun terakhir menjadi single parent. Aku ingat Rachel pernah bercerita kalau papanya telah tiada, namun aku tidak ingat kapan perisitiwa tersebut terjadi.

“Oh, ini kakak kelasnya Rachel, ya? Rachel sering cerita tentang kalian. Yang namanya Leon yang mana?”

Aku mengangkat tangan dengan sedikit keraguan. Aku bisa merasakan kedekatan antara mama dan anak ini. Hal tersebut membuatku berpikir kalau Rachel kerap bercerita ke mamanya, termasuk masalahnya denganku dan Rika beberapa waktu yang lalu. Hal ini membuatku merasa canggung luar biasa.

“Oh, kamu toh. Iya iya, ya udah kalian santai aja di sini. Rachel, mama tinggal ke atas dulu ya.”

Mama Rachel pun berlalu dengan anggunnya. Namun sesaat sebelum membalikkan badan, ia sempat melirik ke arahku dengan tatapan “kau sudah kutandai”. Semoga saja ini bukan pertanda buruk.

“Ini aku udah bawa handphoneku, untung baterainya masih ada. Siang begini biasanya kakak susah dihubungi, tapi dicoba aja kali ya.”

Rachel pun meletakkan handphonenya di telinga sebelah kanannya. Handphonenya berwarna emas dengan ornamen putih di bagian atas dan bawah. Terdapat sebuah kamera di sudut kiri atasnya. Ada sebuah gambar buah tergigit di bagian tengah atasnya. Perasaanku mengatakan kalau handphonenya tersebut sangat mahal, berbeda dengan handphone usangku di rumah.

“Belum diangkat, apa lagi rapat, ya? Aku coba sekali lagi, ya.”

Pada percobaan ketiga, telepon dari Rachel diangkat oleh kakaknya.

“Ah akhirnya, halo kakak tersayang… Lagi repot enggak?… Aku baik-baik aja kok, ini baru nyampai rumah… Iya mau tanya sesuatu sama kakak, ini Rachel punya kakak kelas. Katanya mau ketemu sama kakak… Bukan, bukan mau jadi pacarnya Rachel kok… Kalau enggak salah ada kasus yang mungkin bisa diselesaikan sama kakak…Iya Rachel pernah cerita kalau kakak aktivis HAM… Mau ngobrol langsung aja? Oke. Kak Leon Kak Kenji, ini kakak mau ngomong langsung sama kalian,” kata Rachel sembari menyerahkan handphonenya ke kami. Aku menerima barang tersebut dengan sedikit gemetar. Bukan karena takut akan berbicara dengan Zane Trunajaya, melainkan takut karena belum pernah memegang barang secanggih ini.

“Oh bentar, aku loudspeaker aja biar bisa denger semuanya,” kata Rachel lagi sambil menekan-nekan layarnya. Aku baru tahu ada teknologi layar sentuh seperti ini di sebuah handphone.

“Halo, dengan siapa saya berbicara?” terdengar suara Zane dari ujung sana.

“Selamat siang kak, perkenalkan saya Kenji dan teman saya satu lagi bernama Leon. Kami berdua yang mau minta tolong sama kakak.”

“Dan apakah itu?”

“Kakak tahu Wijaya Hardikusuma?”

Zane tidak langsung menjawab. Terdengar hening sesaat sebelum ia lanjut berbicara.

“Iya saya tahu, kenapa memangnya?”

Sama seperti mama Malik waktu itu, Kenji melihat ke arah luar rumah terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada yang menguntit kami. Kenji juga meminta tolong ke Rachel untuk menutup pintu depan. Setelah itu, barulah Kenji bercerita.

“Jadi, saya dan Leon adalah anak-anak dari aktivis yang pernah melawan Wijaya sekaligus rezim penguasa yang melindunginya. Mungkin kakak pernah mendengar tentang hal tersebut?”

Lagi-lagi hening sesaat, seolah Zane sedang mencerna baik-baik omongan Kenji. Terdengar suara pintu ditutup dari telepon. Zane melakukan hal yang sama dengan kami, meningkatkan kewaspadaan.

“Benarkah? Tentu saya tahu kasus tersebut dan beberapa kali berusaha untuk menyelidikinya. Hingga sekarang, semuanya buntu karena kurangnya saksi dan bukti. Terus terus bagaimana?”

“Apakah kakak tahu tentang organisasi Pembela Rakyat Tertindas?”

“Iya tahu.”

“Tahu mantan pemimpinnya yang bernama Awan.”

“Iya, saya sering mendengar namanya dan pernah membaca beberapa artikel tentangnya.”

“Nah, kami baru bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu dan mendengar cerita-ceritanya.”

Terdengar suara siulan yang merdu, seolah itu merupakan tanda kalau Zane mulai tertarik dengan percakapan ini.

“Bahkan kami tidak bisa menemukan di mana ia tinggal. Bagaimana bisa kalian menemukannya?”

Kenji pun menceritakan secara singkat tentang latar belakang kami hingga bisa bersentuhan dengan kasus di masa lampau. Zane, dan juga Rachel yang duduk di hadapan kami, mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“Luar biasa, sebuah kebetulan yang luar biasa. Mungkin saya bisa bertemu dengannya dan membahas masalah ini. Siapa tahu, masih ada kesempatan untuk membawa mereka ke pengadilan.”

“Omong-omong soal pengadilan, kami kemarin juga berhasil menemukan beberapa dokumen yang nampaknya merupakan bukti kejahatan yang pernah dilakukan oleh Wijaya dan kroninya. Kami tidak terlalu paham isinya, tapi nampaknya kakak akan paham.”

“Bravo! Nampaknya saya harus segera bertemu dengan kalian. Dua minggu lagi saya akan pulang ke Malang, bisakah kita bertemu? Ajaklah Awan juga, kita membutuhkan saksi hidup. Untuk masalah keamanan jangan khawatir, ada program perlindungan saksi. Kelompok sekuat Wijaya pun tak bisa bergerak dengan mudah.”

Setelah ucapan terima kasih yang terdengar tulus, Kenji menutup telepon dan menyerahkannya ke Rachel. Aku yang dari tadi hanya diam mendengarkan tertegun dengan kelancaran Kenji menjelaskan situasi ke Zane, yang katanya merupakan orang penting dan terkenal. Seandainya tadi aku yang berbicara, pasti tidak bisa seruntut Kenji.

“Wah, entah bagaimana kami harus berterima kasih ke kamu Rachel, kamu sudah membantu kami,” ujar Kenji dengan bersemangat.

“Hahaha, enggak usah dipikirin kak. Aku senang kok kalau bisa nolong.”

“Terima kasih Rachel,” aku memutuskan untuk ikut berterima kasih.

“Sama-sama kak,” balas Rachel sambil tersenyum manis.

Setelah itu, kami berdua memutuskan untuk berpamitan. Kami bertemu dengan mama Rachel dan sekali lagi aku merasa sedang ditandai olehnya. Kami berdua pulang naik angkot dan tidak membahas masalah ini sama sekali. Barulah ketika kami sampai di rumahku, Kenji mulai membahas rencana-rencana ke depan.

“Pertemuan tadi adalah sebuah kemajuan besar Leon! Tinggal beberapa langkah lagi kita akan masuk ke tahap baru dari kasus ini. Kamu bisa telepon Om Awan? Tanya apakah dia punya waktu kosong di hari pertemuan kita itu. Kita juga belum bercerita tentang penemuan bukti itu, kan? Lebih baik kita segera memberitahunya. Dua minggu lagi Leon, kurang dua minggu lagi!”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Kenji tiba-tiba terbatuk dengan cukup kencang. Aku segera menyuruhnya duduk di kursi dan meminta Gisel untuk mengambilkan air putih. Ketika batuknya mulai mereda, ia minta tolong diambilkan tisu dan membersihkan telapak tangan dan mulutnya.

“Kau masih batuk? Sudah kubilang untuk pergi ke dokter, Ken,” kataku setengah memarahi.

“Hahaha, kemarin udah sembuh loh padahal. Mungkin karena kecapekan kali, ya. Duh, aku jadi takut buat nularin ke kalian.”

“Ini kak airnya diminum dulu,” kata Gisel yang telah membawa segelas air putih. Kenji menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Setelah ini beristirahatlah, jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat dulu. Jangan lupa untuk pergi ke dokter, kalau perlu aku yang akan menemanimu,” aku menasihatinya seolah aku adalah seorang dokter yang sedang menangani pasiennya.

“Tidak perlu, Le. Aku punya dokter langganan dekat sini, kok. Nanti kalau waktunya ada aku akan ke sana. Omong-omong, minggu depan pengumuman SNMPTN, loh. Semoga kamu diterima, ya.”

Aku tidak begitu menghiraukan perkataan Kenji mengenai pengumuman itu. Bagiku, kesehatan Kenji yang makin lama makin memburuklah yang perlu aku perhatikan. Sayangnya, saat itu tidak ada hal konkrit yang aku lakukan untuk menolongnya. Sesuatu yang nantinya akan aku sesali seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.