Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 2)

Chapter 81 Pembela Rakyat Tertindas

Published

on

Awan mengajak aku dan Kenji untuk naik ke lantai dua. Kami diajak masuk ke sebuah ruangan yang berisi lemari buku dan meja kerja. Aku sempat melirik beberapa judul buku yang membahas seputar masalah HAM dan pelanggaran kemanusiaan. Saat masuk, Awan langsung berjongkok ke salah satu sudut ruang. Nampaknya ia sedang mengambil sesuatu dari laci bawah. Ketika ia membalikkan badan, terlihat setumpuk album foto di tangannya. Awan meletakkan album-album tersebut di atas meja dan kami pun mendekat ke arahnya.

“Album-album ini berisi foto om dan teman-teman sesama aktivis sewaktu kuliah dan selepas lulus. Kalian akan menemukan foto orangtua kalian di sini.”

Mendengar itu, aku pun menjadi sedikit antusias. Aku sudah melihat banyak foto mereka di album milikku sendiri, namun akan mendengar cerita langsung dari yang kenal dengan mereka jelas membuatku bersemangat.

Awan mulai membuka album pertama. Di sana, terlihat sekelompok mahasiswa lengkap dengan almamaternya sedang berpose ala tahun 80-an.

“Inilah formasi awal organisasi kami, namanya Pembela Rakyat Tertindas atau sering disingkat Peretas. Salah satu anggota kami yang maniak teknologi waktu itu memberikan usulan nama ini, dan kami setuju saja. Anggap saja kami adalah peretas kebusukan Orde Baru, begitu pikir kami.

“Organisasi ini didirikan kalau tidak salah ketika kami semester tiga. Kesadaran kami muncul ketika kerap melihat berbagai ketidakadilan yang terjadi di sekitar kami. Awalnya organisasi ini hanya berada di lingkup jurusan, lantas meluas hingga tingkat fakultas hingga universitas.

“Oleh karena itu Leon, kamu tidak akan menemukan Dewi di sini. Ia baru bergabung kemudian hari. Sangat jarang kami memiliki anggota dari Fakultas Teknik.”

Aku mendengarkan cerita Awan dengan saksama, namun mataku terpaku kepada foto dua orang yang ada di sudut kanan bawah album. Fotonya kecil, namun aku bisa mengenal mereka. Awan menyadari aku melihat ke arah mana, sehingga ia pun mulai bercerita.

“Bambang dan Ratih adalah salah satu pendiri utama dari organisasi ini. Mereka berdua sudah cocok satu sama lain sejak pertemuan pertama. Mereka sangat serius dalam berorganisasi dan tak kenal lelah. Wajar jika mereka berdua melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan.

“Seperti katamu, om memang menjadi salah satu motor di organisasi. Akan tetapi, ayahmu tidak kalah hebat. Pemikiran-pemikirannya visoner, keadilannya kuat, serta tidak gentar menghadapi bahaya apapun. Bahkan untuk melindungi om, ayahmu memutuskan agar namanya saja yang dicatut sebagai pemimpin organisasi, sehingga om bisa aman dan tetap menjalankan organisasi.”

Awan terlihat menyeka air matanya yang hampir tumpah. Mataku pun berkaca-kaca karena merasa tahu apa cerita Awan selanjutnya.

“Karena itulah, ayahmu menjadi salah satu orang pertama yang hilang. Ketika organisasi semakin besar setelah kelulusan, kami mulai diburu oleh orang-orang yang terganggu dengan kami. Om sangat menyesal waktu itu, karena ayahmu baru saja menikah dan ibumu sedang dalam kondisi hamil. Seharusnya, om saja yang hilang, bukan ayahmu.”

Air mataku menetes begitu saja mendengar cerita heroik tersebut. Siapa yang menyangka kalau ayah kandungku adalah seseorang yang rela berkorban seperti itu. Seandainya saja aku sempat bertemu dengannya, hidupku pasti akan berbeda. Jauh berbeda.

“Setelah kamu lahir, Ratih memutuskan untuk mulai mencari suaminya yang hilang. Bahkan, ia menitipkan kamu ke Dewi, sahabat terbaiknya, seolah sudah memiliki feeling kalau dirinya akan segera menyusul suaminya hilang. Keputusan tersebut sebenarnya tepat, mengingat Dewi salah satu anggota yang kurang menonjol sehingga peluang untuk diburu sangat kecil. Kami semakin rapuh karena Lulu, ibu dari Kenji, meninggal ketika melahirkan. Hal ini membuat suaminya kewalahan, apalagi kakak Kenji juga butuh penanganan khusus.”

Aku melirik ke arah Kenji. Di luar dugaan, ia terlihat sangat tabah mendengarkan fakta ini. Entah bagaimana bocah ini bisa mengendalikan emosinya sedemikian baik.

“Karena Satoshi bukan termasuk anggota, kami sempat kehilangan kontak dengannya. Beruntung om berhasil bertemu dengannya pada tahun 2010 silam. Kondisi ekonominya benar-benar buruk, sehingga om menyarankan untuk menjual rumahnya di kota dan pindah ke kontrakan dekat rumah om, rumah yang sekarang Kenji tempati itu. Sayangnya, ia harus meninggal karena kecelakaan mobil. Om turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya, Kenji.”

Kenji menganggukkan kepala dengan mantap, sama sekali tidak air mata yang mengambang. Betapa kuat sahabatku yang satu ini. Aku saja yang sering menyombongkan diri tidak punya perasaan sudah menangis dari tadi.

“Terima kasih om, saya baru tahu cerita ini sekarang. Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Kenji yang direspon dengan anggukan pelan dari Awan.

“Semenjak beberapa orang hilang, organisasi jadi berantakan. Kebanyakan dari kami melakukan pelarian ke berbagai daerah, termasuk om. Om bahkan lari hingga ke sebuah desa di Pontianak karena kebetulan punya saudara di sana. Dari jarak jauh, kami masih sering memberi kabar melalui alat komunikasi seadanya, entah pager ataupun surat. Kami juga berkali-kali berganti nama samaran dan mengubah penampilan agar tidak dicurigai. Barulah setelah reformasi terjadi, om berani pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga lagi.”

Awan kembali termenung melihat foto-foto yang ada di hadapannya. Aku bisa memahami betapa berat bebannya ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya harus menghilang, sedangkan ia masih bisa bertahan hidup hingga hari ini.

“Seandainya bisa, om akan menukar nyawa dengan nyawa teman-teman om yang hilang.”

“Kau tahu di mana makam kedua orangtuaku?” tanyaku setelah sekian lama aku terdiam.

“Tidak, mereka hilang tanpa jejak. Segala upaya yang dilakukan setelah reformasi tidak ada yang membuahkan hasil. Kami sudah mengadu ke KontraS, namun hasilnya nihil.”

“KontraS?” tanyaku tidak memahami istilah tersebut.

“Singkatan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Organisasi ini berfokus masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa. Enggak cuma itu, organisasi ini juga menangani berbagai bentuk kekerasan. Biasanya, kasus-kasus HAM akan diadukan melalui organisasi ini,” jawab Kenji secara gamblang.

“Kamu tahu banyak ya, nak,” Awan terlihat senang mendengar jawaban Kenji.

“Kebetulan saya kerja sebagai loper koran om, jadi tahu banyak istilah-istilah seperti itu,” sahut Kenji dengan ramah.

“Kalian tahu, kebanyakan orang-orang yang bergabung di Peretas merupakan orang-orang cerdas. Om enggak heran kalau kalian berdua termasuk siswa paling cerdas di sekolah.”

Aku dan Kenji hanya bereaksi singkat terhadap pujian tersebut dan melanjutkan aktivitas melihat foto-foto yang ada di hadapan kami.

“Sebenarnya, kasus apa saja yang om dan teman-teman hadapi?” tanya Kenji setelah melihat sebuah foto yang menggambarkan sebuah suasana rapat di sebuah ruangan sempit.

“Kami tinggal di daerah, bukan di kota besar. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri untuk menangani perkara-perkara yang ada di sekitar kami. Salah satunya dalah kasus penggusuran tanah secara paksa yang dilakukan oleh perusahaan milik Wijaya. Ia tidak mau mengganti biaya ganti rugi sesuai ketentuan, dan menggunakan koneksinya di pemerintahan untuk mengusir penduduk setempat secara paksa. Bisa dibayangkan bagaimana masyarakat sipil yang tak bersenjata harus berhadapan dengan mereka. Kami pun kerap melakukan unjuk rasa untuk menuntut keadilan, namun usaha kami kerap nihil.

“Kami tidak menyerah begitu saja. Apalagi, semakin banyak kasus serupa karena Wijaya ingin melebarkan sayap bisnisnya. Ada isu di mana Wijaya membayar buruhnya di bawah standar. Kelompok Peretas dan Wijaya pun semakin kerap berbenturan. Awalnya hanya dianggap serangga pengganggu, lama kelamaan kami dianggap sebuah ancaman yang bisa membahayakan bisnisnya. Koneksinya sangat kuat di pemerintahan, konon katanya karena ia kerap menyogok mereka dengan nominal yang mencengangkan. Beberapa di antara kami pun ada yang pernah diberi uang tutup mulut agar menghentikan aktivitas kami.”

“Apakah ada yang tergiur dengan rayuan tersebut?”

Awan tersenyum pahit. “Banyak, beberapa anggota kami berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jumlah yang ditawarkan kelewat cukup untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak sedikit yang memutuskan untuk membelot dari organisasi. Bahkan beberapa di antara mereka menjadi pengkhianat dan menjadi mata-mata kami. Banyaknya anggota yang hilang juga disebabkan oleh mereka yang membocorokan informasi.”

Aku terkejut mendengar fakta ini. Bagaimana mungkin kau mengkhianati teman seperjuanganmu sendiri hanya demi rupiah? Aku benar-benar geram mendengar hal ini.

“Kau tahu siapa pengkhianat itu?”

“Tahu, tapi entah di mana mereka sekarang. Bawahan Wijaya yang mengancam om adalah mantan rekan seperjuangan. Kemungkinan besar, ia juga yang membuat rekayasa bunuh diri Dewi.”

Mendengar fakta tersebut, emosiku kembali meluap-luap. Ibuku tewas karena dikhianati oleh temannya sendiri? Hal ini membuatku berjanji untuk menemukannya dan membuat perhitungan kepadanya. Apapun akan kulakukan untuk menemukannya.

“Siapa namanya?”

“Namanya Markus. Kalau tidak salah, di album ini harusnya ada.”

Awan mulai membalik-balik album fotonya. Setelah ketemu, ia menunjuk seorang laki-laki dengan wajah keras dan kumis tipis di atas bibirnya. Tidak ada sehelai rambut pun di atas kepalanya. Aku merekam betul wajahnya di kepalaku agar bisa langsung menghajarnya ketika bertemu nanti.

“Seingatku, Malik bercerita kalau orang yang masuk ke rumahku waktu itu berambut cepak. Artinya, mereka orang yang berbeda?”

“Malik?”

Aku pun bercerita tentang kejadian Malik yang mengintip ke dalam rumahku di hari kematian ibu. Awan mendengarkan cerita tersebut baik-baik sambil memegang dagunya.

“Iya, Markus tidak pernah sendirian. Ia kerap ditemani temannya, salah satunya pria berambut cepak itu. Kalau dia bukan mantan orang organisasi.”

“Siapa lagi mantan orang organisasi yang bekerja untuk Wijaya?” tanya Kenji.

“Dulu ada sekitar sepuluh orang, tapi nampaknya yang tersisa hanya Markus ini.”

Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut. Semua informasi yang kudapatkan hari ini berusaha aku satukan di dalam kepala. Aku sudah mendapatkan bayangan mengenai apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang harus kukejar di masa kini. Sekarang fokus kami adalah mencari orang yang bernama Markus ini. Si brengsek ini akan menjadi pembuka kami untuk bertemu dengan bosnya, Wijaya.

“Kurang lebih seperti itu yang bisa om ceritakan ke kalian. Ada pertanyaan lagi?”

“Rasanya untuk hari ini cukup om. Kalau ada yang kurang jelas, boleh kami menghubungi om?”

“Boleh saja, ini kartu nama om,” Awan mengambil selembar kartu nama dari kotak yang ada di atas mejanya, “kalian boleh telepon om kapan saja.”

“Kau sudah tidak takut lagi?” tanyaku setengah menyindir. Awan hanya tertawa ringan mendengar sindiranku.

“Entah mengapa melihat kalian semangat om kembali tumbuh. Selain itu, anak buah Wijaya tidak akan mencurigai anak SMA. Mereka tidak separno ketika sebelum reformasi. Om tebak, kalian akan mengusut kasus ini?”

“Benar om, kami memiliki seorang teman yang memiliki kakak orang HAM. Kemungkinan besar kami akan meminta bantuannya.”

“Oh iya? Siapa namanya?”

“Namanya Zane Trunajaya, om tahu?”

“Astaga, tentu saja tahu. Namanya sedang berkibar karena di usianya yang relatif muda ia begitu lantang bersuara. Kalau tidak salah, ia juga anggota KontraS atau setidaknya memiliki koneksi yang kuat. Aksi-aksinya nyata dalam membela keadilan orang-orang kecil. Bahkan tak sedikit yang menjagokan dia menjadi presiden selanjutnya walau yang bersangkutan sama sekali tidak tertarik. Kalian beruntung jika bisa bertemu dengannya.”

“Wah, semoga saja bisa om, kami masih berusaha membuat janji dengannya. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Kalau memungkinkan, kami ingin om menjadi saksi jika kami berhasil membawa kasus ini ke pengadilan.”

“Baiklah, om berjanji untuk kalian. Kalau yang muda saja punya semangat seperti ini, om yang sudah karatan ini seharusnya tidak boleh kalah semangat. Terima kasih karena sudah mengembalikan keberanian om yang sempat sirna.”

Setelah itu, kami berdua pun berpamitan pulang. Di dalam perjalanan, kami hanya diam satu sama lain. Hal ini wajar, mengingat infomasi-informasi yang kami dapatkan bersifat rahasia. Kami tidak boleh lengah sedikit pun meskipun kata Awan kami tidak akan dicurigai karena masih SMA. Awas saja, sebentar lagi semua keburukan mereka akan aku bongkar hingga tuntas. Aku tidak peduli berapapun harga yang harus kubayar. Bahkan, aku rela mati asal dendam ini berhasil terbalaskan.

Leon dan Kenji (Buku 2)

Epilog: Setelah Kematian Wijaya

Published

on

By

Kantor polisi terasa lengang, hanya ada suara angin dari AC. Peran komputer telah digantikan oleh sebuah mesin kotak canggih yang mampu merekam apapun kesaksianku dengan baik, termasuk ekspresi terkecil wajahku. Sudah satu jam aku berada di entah ruangan apa ini, menanti ketidakpastian. Yang jelas, hanya ada satu kalimat yang menggantung di pikiranku: hidupku akan berakhir di penjara. Petugas kepolisian yang ada di hadapanku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.

“Dokter Leon, saya ulangi sekali lagi, Anda ke sini untuk menyerahkan diri?” tanya petugas tersebut.

“Benar.”

“Dengan alasan pembunuhan berencana?”

“Benar.”

“Korban adalah Wijaya Hardikusuma, mantan konglomerat yang sudah berusia lanjut?”

“Benar.”

“Pembunuhan dilakukan dengan alasan balas dendam karena korban merupakan pelaku pembunuhan ibu dan beberapa kerabat Anda?”

“Benar.”

“Dan metode pembunuhannya, eh, dengan ancaman?”

“Benar.”

Petugas tersebut menggaruk-garuk lagi kepalanya. Nampaknya baru kali ini ia menemukan kasus sejanggal ini. Pembunuh yang menyerahkan diri karena merasa bersalah memang banyak, tapi pembunuh yang mengakui pembunuhannya hanya dengan bersenjatakan ancaman? Rasanya baru kali ini petugas itu mengalaminya.

“Berdasarkan hasil otopsi, korban meninggal karena komplikasi penyakit yang telah lama dideritanya. Tidak ditemukan adanya unsur kekerasan ataupun racun pada tubuhnya. Bahkan yang saya dengar dari salah satu perawat, Anda berusaha memberikan pertolongan pertama begitu korban mengalami tanda-tanda kejang, benar seperti itu?”

“Benar, saya memberikan pertolongan karena telah mengurungkan niat untuk membunuh. Tapi tetap saja, saya menyadari bahwa ancaman saya di awal lah yang memicu penyakitnya. Seandainya saya tidak memberikan ancaman, mungkin Wijaya masih hidup sekarang.”

Sekali lagi si petugas menggaruk kepalanya. Nampaknya ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara meladeniku. Pasal apa yang bisa menjeratku? Apakah sekadar ancaman sudah merupakan tindak pidana? Berapa lama masa hukuman yang akan menantiku?

“Sepengetahuan saya, tidak ada pasal yang bisa menjerat Anda untuk masuk sel. Niat selama hanya berada di kepala tidak akan membahayakan pihak lain. Mesin AI yang ada di depan Anda ini rasanya juga akan menyimpulkan hal yang sama.”

“Tapi tetap saja…” aku menggantungkan kalimatku karena bingung harus berkata apa lagi. Mungkin kedatanganku ke kantor polisi setelah proses otopsi Wijaya hanya merupakan tindakan spontanku yang masih terkejut atas apa yang baru saja terjadi.

“Jadi, bapak ingin tetap membawa kasus ini ke pengadilan?”

“Benar.”

“Ada pihak pengacara?”

“Ada.”

Jawaban tersebut buat keluar dari mulutku, melainkan dari laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Ketika menolehkan wajahku, aku melihat sosok Zane Trunajaya yang sudah semakin menua. Lihat saja, rambut dan jenggotnya sudah dipenuhi oleh uban. Padahal usianya tak terlalu jauh dariku.

“Selamat malam pak, saya Zane Trunajaya yang akan menjadi pengacara saudara Alexander Napoleon Caesar atas dugaan kasus pembunuhan berencana. Tapi sebelumnya, saya mohon izin dulu untuk bicara empat mata dengannya.”

“Ya ya ya, silakan,” kata petugas tersebut dengan pasrah. Nampaknya ia mulai mencurigai kalau kedatanganku ke kantor polisi hanya untuk sekadar mencari sensasi. Namaku cukup terkenal, aku melihat ada beberapa wartawan membuntuti mobil listrikku sewaktu perjalanan dari rumah sakit ke sini. Mungkin Zane mengetahui posisiku juga dari berita daring yang bisa diakses secara kilat, terlalu kilat bahkan.

“Leon, astaga, kerasukan apa dirimu?” tanya Zane sewaktu kami berdua menemukan tempat yang cukup sepi.

“Aku melakukan hal yang menurutku benar, Zane. Lagipula, dari mana kau tahu aku di sini? Aku tidak bercerita ke siapapun, termasuk keluarga.”

“Kamu enggak lihat wartawan di depan pada heboh? Dokter yang namanya terkenal hingga banyak orang yang menginginkannya menjadi Menteri Kesehatan, tiba-tiba ngebut ke kantor polisi setelah pertama kali gagal menyelamatkan pasiennya. Semua orang pasti akan klik judul berita yang dibuat oleh para wartawan itu. Dengan teknologi sekarang, mereka bisa membuatnya hanya dalam hitungan menit.”

Dugaanku terbukti benar, Zane tahu aku dari sini dari berita.

“Adikmu sampai menghubungiku, khawatir kakaknya tidak bisa ditelepon setelah baca berita kegagalan perdanamu. Astaga Leon, apa yang ada di pikiranmu? Kenapa bertindak gegabah seperti ini?”

Aku diam saja dicecar pertanyaan-pertanyaan tersebut dari Zane. Entah mengapa aku tak berani memandang kedua matanya.

“Pasienmu Wijaya, kan? Tidak ada pasien lain yang akan memicumu bertindak seperti ini selain dia.”

Meskipun sudah dipenuhi uban, kecerdasan Zane belum sama sekali hilang. Kecerdasannya mengingatkanku pada…

“Aku bisa bicara dengan petugas untuk meluruskan apa yang tengah terjadi. Tidak ada tindakanmu yang berbau pidana, kamu enggak akan bisa dipenjara hanya karena memiliki niat yang tidak jadi dilakukan. Kalau semua bisa dihukum hanya karena niat, penjara enggak akan muat nampungnya.”

“Ini beda Zane,” aku akhirnya buka suara, “Wijaya terkena serangan jantung setelah aku mengungkapkan siapa aku dan mengungkapkan keinginanku untuk balas dendam. Seandainya aku tidak berbuat seperti itu, mungkin dia masih hidup.”

“Para wartawan itu telah mewawancarai keluarga Wijaya. Katanya, itu bukan pertama kali Wijaya terkena serangan jantung. Entah sudah berapa ring yang ada di pembuluh darahnya. Sejak awal, mereka tidak berharap banyak, Wijaya memang sudah terlalu tua dan mungkin memang sudah ditakdirkan meninggal setelah bertemu dengan korbannya.”

Zane mengendurkan ekspresi wajahnya, memandangku dengan rasa simpati.

“Seandainya Wijaya masih hidup, kita akan memprosesnya lewat hukum atas kejahatan di masa lalunya. Orang yang selama ini kita cari akhirnya ketemu dalam kondisi tidak berdaya. Hanya saja, itu akan membuatnya makin menderita. Biarlah dia diadili di akhirat karena kita tidak bisa menjeratnya di dunia,” tambahnya lagi.

Kepalaku sudah mulai berpikir jernih. Benar yang dikatakan Zane, ini semua sudah ditakdirkan.

“Waktu aku memandangi Wijaya dengan penuh dendam, aku merasa tiba-tiba ada tepukan halus pada bahuku. Ketika aku menoleh, tidak ada siapa-siapa, tapi perasaan dendamku mendadak lenyap begitu saja. Kemudian, aku melihat Wijaya mulai kesulitan bernapas dan aku langsung memberikan pertolongan pertama.”

“Nah, sekarang otakmu yang cemerlang itu mulai bisa digunakan dengan normal, kan? Sudahlah, kamu hanya terguncang karena baru saja bertemu dengan orang yang selama ini membuatmu menderita. Kamu memang salah karena berniat membunuh orang, tapi niat tersebut tidak jadi kamu lakukan.”

“Iya Zane, terima kasih karena sudah datang kemari.”

“Tenang saja, lagipula sebentar lagi kamu akan jadi adik iparku. Tunggu di sini, aku akan bicara dengan petugas di dalam. Nanti kita makan malam bareng.”

Begitu Zane berjalan ke dalam kantor polisi, aku segera mengaktifkan ponselku yang dari tadi mati. Aku langsung menghubungi satu nomor yang pasti sudah mencemaskanku.

“Halo Gisel?”

“KAKAK DARI MANA? KAKAK ENGGAK TAHU DARI TADI GISEL TELEPON ENGGAK ADA NADA SAMBUNGNYA? KAKAK MASUK BERITA TAHU, DAN UNTUK PERTAMA KALINYA BUKAN BERITA BAGUS!!! MALAH UDAH ADA YANG BIKIN BERITA SKANDAL YANG ENGGAK BENER!!! KAKAK ITU KEBIASAAN KALAU ADA MASALAH SUKA HILANG TIBA-TIBA. KAKAK ITU…”

Mungkin sekitar lima menit Gisel memarahi dengan nada tinggi seperti itu. Aku hanya bisa diam mendengarkannya, menantinya capek sendiri.

“Sudah marahnya?” tanyaku pelan setelah ada jeda beberapa detik darinya.

“Belum, tapi Gisel capek, jadi berhenti dulu.”

“Kalau gitu gantian ya, Gisel yang dengerin kakak.”

Aku pun menceritakan apa adanya ke adik perempuan kesayanganku itu, menjelaskan situasi yang sebenarnya. Pada akhirnya, kemarahan Gisel pun bisa kuredam.

“Selama Gisel kuliah di luar, jangan bikin Gisel kepikiran dong kak. Nanti makin lama lulusnya Gisel, padahal udah kangen sama Indonesia. Makanya kakak cepet nikah biar ada yang ngurusin kakak, calon juga udah ada juga.”

“Duh, calon bu dosen ini jadi makin galak ya. Iya, maafkan kakak, tapi Gisel pasti tahu kenapa kakak bisa sampai seperti ini.”

“Iya Gisel paham, tapi kan bisa ngerem dikit, enggak grusa-grusu seperti ini. Terus Kak Zane di mana sekarang?”

“Masih di dalam, ngobrol sama petugas.”

“Ya udah kalau gitu, kakak jaga kesehatan, jangan telat makan. Kakak tugasnya ngobatin orang, jangan sampai diri sendiri enggak keurus.”

“Iya iya, Gisel juga ya, jaga kondisi di sana. Jepang habis gempa bumi yang lumayan besar, kan? Peringatan tsunami juga muncul.”

“Iya kak, tenang, kampusnya Gisel jauh dari pesisir kok. Ya udah, Gisel mau lanjut ngerjakan disertasi, papai kakak.”

Aku pun mematikan telepon dan segera melamun. Mungkin memang semuanya telah ditakdirkan seperti ini. Wijaya diberi hidup sampai bertemu denganku, anak dari korban yang telah ia habisi karena mengusik bisnisnya. Kalau saja aku tidak merasakan tepukan itu, mungkin aku akan melanjutkan niat membunuhku.

Sentuhan tangan siapa kah itu? Aku merasa itu sentuhan tangan dari Kenji, kawan lamaku yang telah lama tiada. Sama sepertiku, ia juga merupakan anak dari korban Wijaya. Beda denganku, ia tak pernah menyimpan dendam. Ia membantuku mengusut kasus Wijaya, tapi tak pernah terucap dari mulutnya kalau ia menginginkan kematian Wijaya sebagai bayarannya. Seandainya dia masih hidup, mungkin dia akan memintaku untuk memaafkan Wijaya karena alasan kemanusiaan.

Sudah berapa lama aku kehilangan Kenji? Lima belas tahun? Entahlah, aku tak bisa mengingatnya dengan pasti. Hanya dua tahun kami saling mengenal, tapi rasanya sudah kenal seumur hidup. Selama di SMA, ia lah yang menuntunku ke jalan yang lebih baik. Bahkan setelah kepergiannya, aku masih merasa kalau Kenji ada di sekitarku. Kasus Wijaya ini menjadi salah satu buktinya, walau sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan hal yang berbau mistis. Orang yang meninggal akan hidup di alam lain yang berbeda dimensi dengan kita.

Ataukah sebenarnya energinya masih ada di dunia ini, berusaha mencegahku untuk melakukan hal-hal bodoh seperti tadi?

 

 

 

TAMAT

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 2)

Chapter 90 Menemukan Arah

Published

on

By

Lima belas tahun berlalu begitu saja. Lebih dari setengahnya kuhabiskan untuk belajar mati-matian di universitas agar bisa segera lulus dan menjadi seorang dokter. Aku kerap mendapatkan sorotan berkat berbagai prestasi akademik yang pernah kuraih. Aku berhasil menjadi lulusan sarjana terbaik dengan waktu tercepat. Program profesi dokter dan ujian sertifikasi kulibas dalam waktu kurang dari satu setengah tahun. Magang juga kulalui dengan lancar hingga aku berhasil mendapatkan izin praktik. Aku tidak berhenti di situ. Aku mengambil program profesi spesialis paru-paru dan berhasil kuselesaikan dalam waktu empat tahun. Begitu semua kuselesaikan, aku kembali Malang dan menekuni profesi ini secara profesional.

Harga yang kubayar untuk bisa mendapatkan itu semua tidaklah murah. Aku sama sekali tidak pernah ikut kegiatan kampus yang bersifat non-akademik. Kepanitiaan apapun tidak pernah menarik minatku. Teman seperti masa-masa SMA? Hampir tidak ada. Sampai-sampai aku mendapatkan julukan robot karena rutinitasku yang selalu berulang-ulang. Aku mengetahui ini dari Rachel, yang kebetulan menjadi adik tingkatku karena ia mengambil jurusan yang sama di kampus yang sama. Aku tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Aku harus fokus dengan tujuanku.

Karena keseriusanku di masa-masa kuliah, karirku dengan cepat melambung. Namaku terkenal sebagai salah satu dokter paru-paru terbaik. Banyak rumah sakit besar dari luar daerah yang berusaha meyakinkan aku untuk pindah, namun aku memutuskan untuk bertahan di rumah sakit ini, rumah sakit yang menjadi saksi kepergian Jessica dan Kenji.

***

Aku mendengar kematian Kenji dari Rika, ketika aku sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan OSPEK yang bagiku cukup menjemukan. Diawali dengan isak tangis, Rika memberitahu kabar duka tersebut dengan suara terpatah-patah.

“Kenji Le… Kenji meninggal. Penyakit paru-parunya ditambah kompilasi penyakit lain membuatnya enggak ketolong.”

Handphoneku langsung tergelincir jatuh begitu saja ke lantai kamar asramaku. Aku yang sedang melakukan persiapan untuk acara kampus besok langsung terduduk di atas tempat tidur. Aku masih tidak percaya dengan kabar yang baru kudengar. Perlahan, air mataku tumpah tanpa bersuara. Aku menangis dalam sunyi. Aku tak menyangka, aku harus kehilangan sahabat terbaikku ketika aku harus jauh darinya. Ketakutan terbesarku benar-benar terjadi.

Entah berapa lama aku terjebak dalam perasaan sedih ini. Omongan-omongan kakak tingkat yang menyakitkan sama sekali tidak kudengarkan. Beberapa kali mendengar teguran hanya kudengarkan dengan tatapan kosong. Menyadari ada yang ganjil dari diriku, aku dipanggil oleh pihak kampus. Di hadapanku, terlihat seorang wanita berusia 30-an dengan rambut sebahu.

“Ah, kamu Leon, kan? Silakan masuk. Saya sudah nunggu kamu.”

Perasaan dipanggil ini sama seperti waktu aku pertama kali masuk ke SMA, di mana aku dipanggil oleh guru BP. Kesan awalnya pun sama, pribadi yang ramah namun menyimpan belati tajam di belakang punggungnya.

“Saya dapat beberapa laporan dari katingmu, katanya akhir-akhir ini kamu seperti kurang fokus mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada. Kamu ada masalah?”

Aku memutuskan untuk bercerita apa adanya, berharap hal tersebut bisa membantuku merasa lebih baik.

“Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar kalau sahabat yang sudah seperti saudara saya sendiri meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Saya minta maaf, karena itu saya sering tidak fokus.”

Mendengar kabar tersebut, wanita tersebut memberikan pandangan penuh simpati. Ketulusan terpancar dari kedua bola matanya.

“Kamu harusnya bilang agar mendapatkan izin untuk pulang. Rumah kamu di mana?”

“Malang.”

“Setidaknya ambil izin tiga sampai empat hari, saya sarankan naik pesawat supaya lebih cepat.”

“Tidak perlu bu.”

“Kamu enggak mau melayat sahabatmu itu? Mau gimanapun, kehilangan orang yang berharga itu menyakitkan, loh.”

Aku mengambil jeda sejenak sebelum merespon pertanyaan tersebut.

“Saya mau membuat sumpah untuk tidak kembali ke Malang sebelum berhasil menjadi dokter. Mau sepuluh tahun pun akan saya jalani. Saya harus segera lulus demi dia, demi mereka.”

Wanita tersebut nampaknya berusaha memahami posisiku. Ia terlihat sedang menuliskan semacam catatan di atas meja kerjanya.

“Ibu hargai jika keputusanmu seperti itu. Setidaknya, kamu bisa absen beberapa hari untuk menenangkan diri. Ibu akan kirim memo kepada katingmu yang jadi panitia. Tiga hari cukup?”

Aku menganggukkan kepala, meskipun tahu tiga hari tidak akan cukup untuk membuatku merasa lebih baik.

***

Setelah mendapatkan telepon dari Rika, handphoneku kubiarkan mati selama berhari-hari. Aku sadar tindakan tersebut sangat egois karena pasti banyak yang mengkhawatirkan diriku. Orang pertama yang kuhubungi adalah ayah.

“Leon? Kamu kok baru bisa dihubungi sekarang? Semuanya kepikiran sama kamu, paman bahkan bilang kalau Sabtu besok ini mau ke Jakarta lihat kamu.”

“Gisel mana?” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Ayah pun memutuskan untuk tidak mendebatku dan segera memanggil Gisel.

“KAKAK! Kakak ke mana aja? Gisel kepikiran kakak terus gara-gara…” Gisel tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia mulai menangis. Aku pun semakin merasa bersalah karena sudah menyusahkan orang lain seperti ini.

“Maafkan kakak, Gisel. Kakak butuh waktu buat menenangkan diri.”

“Iya sih Gisel tahu, tapi tetap aja Gisel panik. Gisel takut kakak kenapa-napa.”

“Kakak enggak apa-apa Gisel, kakak minta maaf, ya. Kakak sudah bikin kamu kepikiran. Padahal Gisel lagi seneng-senengnya karena masuk SMP, kan?”

Rekomendasi langsung naik ke kelas enam yang diterima Gisel tahun kemarin membuatnya tahun ini bisa masuk ke SMP. Nilai ujiannya menjadi yang tertinggi, hampir sempurna. Di antara teman-teman SMP-nya, Gisel pasti menjadi yang paling muda.

“Gimana mau seneng kak kalau Kak Kenji…” sekali lagi Gisel tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Aku pun berusaha menenangkannya sebisa mungkin. Sama sekali tidak kuungkit masalah rencanaku untuk tidak pulang sebelum lulus. Hal tersebut bisa dibicarakan lain waktu.

Setelah Gisel, orang berikutnya yang kuhubungi adalah paman. Rencananya untuk ke Jakarta harus dibatalkan. Begitu telepon tersambung, aku segera dicecar oleh berbagai pertanyaan. Aku pun mengatakan kalau aku baik-baik saja walau sempat terguncang hebat. Setelah mendengarkan berbagai nasihat, aku mengakhiri telepon.

Orang terakhir yang kuhubungi adalah Rika. Aku yakin kalau diriku akan mendengar omelan yang lebih pedas dari dua telepon sebelumnya.

“Halo, Ri…”

Belum berakhir sempurna pertanyaanku, Rika sudah mengeluarkan kalimat-kalimat dengan cepatnya. Suaranya benar-benar mengandung emosi yang bercampur aduk. Aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menyelanya. Dengan sabar, aku menantinya selesai bicara.

“Kamu itu egois banget Leon, enggak mikirin orang-orang yang ada di sini,” akhirnya Rika selesai berbicara.

“Iya, maaf Rika. Aku memang salah.”

“Kamu enggak pulang?”

“Kayaknya enggak Rika. Aku…”

Kalimatku kubiarkan menggantung. Aku belum siap memberitahunya. Berbeda dengan paman dan Gisel yang bisa datang berkunjung ke Jakarta, Rika belum tentu punya kesempatan untuk itu.

“Aku tahu Le, kamu pasti sangat terpukul dengan kepergian Kenji. Tapi kamu harus tahu kalau kami semua juga ikut terpukul. Kenji itu figur penting di kelas kita, bahkan di sekolah kita. Kemarin waktu pemakamannya banyak yang datang.”

Mendengar cerita pemakaman Kenji, aku menjadi terdiam. Rika menyadari kesalahannya berusaha meminta maaf dengan sedikit panik.

“Iya, enggak apa-apa Rika, tapi maaf, aku benar-benar belum bisa pulang sekarang. Suatu saat, aku akan kasih tahu kamu alasannya.”

“Iya Leon, aku mengerti.”

Telepon berakhir. Aku kembali disibukkan oleh berbagai pikiran tentang Kenji dan mengingat-ingat berbagai momen yang pernah kami lalui bersama.

***

Setelah aku mulai berkuliah di Jakarta, Zane dan timnya mulai berhasil membongkar banyak kejahatan yang dilakukan oleh Wijaya dan kroninya. Banyak orang yang berhasil ditangkap dengan berbagai tuduhan. Perusahaannya banyak yang dinyatakan bangkrut atau setidaknya diakuisisi oleh pihak lain. Sayang, Wijaya tetap tak tersentuh. Petunjuk seputar di mana ia berada benar-benar minim. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak mengetahui pasti keberadaannya. Awalnya aku sulit menerima kenyataan ini, tapi aku memutuskan untuk berusaha mengikhlaskannya. Siapa tahun ia telah mati, dan aku harap ia mati dengan mengenaskan.

Aku tetap tidak mengetahui keberadaan orangtua kandungku atau setidaknya makam mereka. Daftar orang-orang Peretas yang hilang juga tidak ada satupun yang berhasil ditemukan. Semuanya tetap menjadi misteri.

Walaupun begitu, aku selalu teringat kata-kata Kenji. Semua yang aku alami ini membuatku bisa menemukan arah yang selama ini kucari. Kematian Sica, lalu disusul kematian Kenji sendiri, membuatku termotivasi untuk menjadi dokter spesialis paru-paru. Setelah tahun-tahun penuh perjuangan dan pengorbanan, aku berhasil mencapainya. Aku bisa menolong orang lain dengan kemampuan yang kumiliki. Ketika melihat pasienku bisa kembali hidup normal, aku merasa bahagia. Aku merasa kehidupanku memiliki manfaat untuk orang lain.

***

Kembali ke masa kini. Aku sedang bersiap untuk melayani seorang pasien yang sudah cukup tua. Kata asistenku, usia pasien ini sudah lebih dari 90 tahun. Kompilasi penyakit yang diderita cukup banyak, namun yang paling vital adalah paru-parunya. Oleh karena itu, keluarganya memutuskan untuk membawanya untuk diperiksa olehku. Aku memintanya untuk memasukkan pasien tersebut ke ruang praktikku. Pihak keluarga hanya boleh menunggu di luar karena aku akan melakukan pemeriksaan secara mendalam.

Sepuluh menit kemudian, aku berjalan ke ruang praktik. Aku sempat bertemu dengan pihak keluarganya, mungkin anak dan cucunya. Aku menyempatkan diri untuk sedikit berbasa-basi dengan mereka agar mengetahui riwayat penyakitnya. Mereka mengatakan kalau selama ini mereka tinggal di luar negeri. Sang pasien selama ini bisa menjaga pola hidup yang sehat sehingga bisa berusia panjang. Karena masalah ekonomi, mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan berusaha hidup dengan tenang.

Setelah itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan untuk segera memeriksan sang pasien. Di dalam, ia ditemani oleh asistenku. Aku pun menghampiri sang pasien dan berusaha beramah-tamah seperti biasanya. Namun, ketika memperhatikan wajahnya secara saksama, aku merasa mengenali wajah itu. Aku berusaha mengorek ingatanku dalam-dalam untuk mengetahui siapa yang ada di hadapanku ini.

Aku ingat siapa dia.

“Flo, bisa tinggalkan kami berdua?”

Asistenku yang bernama Florence itu mematuhi permintaanku tanpa banyak tanya. Setelah ia menutup pintu dengan pelan-pelan, aku segera menatap mata sang pasien.

“Wijaya Hardikusuma.”

Reaksi yang ia tunjukkan benar-benar sesuai dugaanku. Sangat terkejut. Aku tahu ia telah mengubah identitas dirinya agar tidak tersentuh hukum. Tapi aku ingat segala lekuk wajah Wijaya dari foto yang pernah ditunjukkan oleh Zane. Meskipun usianya di foto dengan yang sekarang terpaut cukup jauh, aku masih bisa mengenalinya berkat daya ingat otakku yang luar biasa.

“Si…siapa kamu?” tanya Wijaya dengan gemetar.

Well, nama saya adalah Alexander Napoleon Caesar dan saya adalah dokter yang akan segera memerika Anda. Tapi apakah Anda merasa pernah mengenal saya?”

Ia menggelengkan kepala dengan lemah.

“Tentu saja Anda tidak kenal saya karena kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi saya tahu semua kejahatan yang pernah Anda lakukan di masa lalu. Ingat dengan kelompok Pembela Rakyat Tertindas yang sangat menentang proyek-proyek Anda?”

Tatapannya memancarkan ketakutan. Ia pasti tak menyangka akan bertemu dengan orang yang memiliki keterkaitan dengan kelompok tersebut.

“Saya adalah anak dari Ratih dan Bambang, ingat dengan nama itu? Mungkin tidak mengingat banyak sekali orang yang Anda hilangkan. Ingat Dewi? Dia juga anggota kelompok itu dan dengan baik hati mau mengadopsi saya sebagai anak setelah orangtua kandung saya dihilangkan oleh Anda. Tapi beberapa tahun kemudian ketika saya baru masuk SMP, saya menemukan ibu angkat saya gantung diri. Ketika SMA, saya mengetahui fakta kalau kematiannya ternyata rekayasa yang direncanakan oleh anak buahmu. Pasti Anda tahu Markus, bukan? Ia sudah mengakui semuanya, sebelum akhirnya ia meninggal di dalam penjara.”

Aku berjalan mendekati lemari buku yang ada di dekat meja kerjaku. Aku selalu menyimpan beberapa novel Agatha Christie sebagai hiburan ketika merasa penat. Aku mengambil satu secara acak dan kembali menghampiri Wijaya yang masih di dalam posisi berbaring.

“Ibu saya sangat menyukai novel-novel detektif seperti ini, bahkan ia menggunakannya sebagai petunjuk untuk membongkar kebusukanmu. Kesukaannya itu menurun kepada saya. Entah sudah berapa ratus judul yang sudah saya baca. Dari sana, saya mengetahui beberapa trik pembunuhan yang tidak akan ketahuan. Menurut Anda, bagaimana jika saya mempraktekkan beberapa di antaranya kepada Anda?”

“Tolong, tolong ampuni saya…” pinta Wijaya dengan suaranya yang lemah.

“Bertahun-tahun saya hidup menderita karena perbuatan Anda. Lantas, Tuhan membuat kita bisa bertemu dalam kondisi seperti ini, saat Anda tidak berdaya. Menurut Anda, saya akan melepaskan kesempatan terbaik untuk balas dendam begitu saja?”

Tubuh Wijaya makin bergetar tak karuan. Kata-kata ampun dan maaf terus keluar dari mulutnya. Untunglah ia terlalu lemah untuk berteriak sehingga keluarganya yang sedang menanti di luar tidak akan mendengar suaranya.

Apakah aku benar-benar serius ingin membunuhnya sekarang? Oh ya, aku sangat serius. Bahkan aku sudah mempertimbangkan beberapa cara untuk membuatnya mati di tanganku. Menutup kepalanya dengan bantal hingga ia tak bisa bernapas? Menyuntikkan cairan tak terdeteksi yang akan memperparah sakit di tubuhnya? Berbagai cara melintas di kepalaku sembari mataku menatapnya dengan penuh dendam. Sama sekali tidak ada belas kasihan yang muncul dari diriku. Siapa yang menyangka keputusanku untuk menjadi dokter spesialis paru-paru akan membuatku bertemu dengannya.

Aku terus memadanginya, memandanginya dengan tatapan penuh kebencian. Kenji, balas dendam kita akan tuntas hari ini. Orang yang selama ini membuat hidup kita menderita akhirnya akan mendapatkan pembalasan.

Aku masih terus memandanginya tanpa bersuara sedikitpun.

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 2)

Chapter 89 Keberangkatan

Published

on

By

Aku mendapati diriku sedang berada di ruang serba putih yang sama seperti waktu aku bertemu dengan ibu. Meskipun kepalaku terasa sedikit sakit, aku memutuskan untuk berdiri dan mulai mencari seseorang di ruangan ini. Semoga saja aku bertemu dengan ibu lagi. Sejak kunjunganku terakhir ke sini, ada banyak kejadian yang telah terjadi. Aku ingin menceritakan semuanya agar merasa lega.

Tiga puluh menit aku berjalan tanpa arah, tak kutemukan seorang pun di sini. Aku pun menjadi khawatir, apakah aku berada di ruangan lain? Apakah aku tak akan bertemu dengan seorang pun di sini?

Di saat aku mulai merasa putus asa, aku melihat siluet seorang wanita dari kejauhan. Dari postur tubuhnya, dia jelas bukan ibuku. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Ketika jarak kami tinggal tiga meter, aku menyadari siapa pemiliki siluet tersebut.

“Sica.”

Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh ke arahku. Benar, ia adalah Sica. Lututku langsung lemas dan akupun jatuh bersimpuh di hadapannya. Ia terkejut melihatku dan segera berusaha menolongku untuk berdiri kembali.

“Leon? Enggak apa-apa? Sakit loh jatuh seperti itu.”

Mendengar suaranya, air mataku tumpah begitu saja. Sica dengan sabar menungguku selesai.

“Aku enggak nyangka Le kita bisa ketemu di sini. Aku sendiri kurang tahu ini di mana.”

Aku sama sekali tidak memberikan respon. Aku sibuk menguasai diri yang begitu terkejut bertemu dengan seorang wanita yang berpengaruh besar di dalam kehidupanku.

“Kita jalan dikit yuk, tadi di sana aku lihat ada kayak bangku taman gitu. Kita ngobrol di sana aja.”

Kami berdua pun berjalan beriringan dalam diam hingga sampai di bangku yang ia maksud. Kami duduk di atasnya dan saling menanti saat yang tepat untuk memulai percakapan.

“Udah satu tahun ya Le kita enggak ketemu? Ada cerita apa aja?”

Aku sudah mulai bisa menguasai diri. Aku pun memutuskan untuk menceritakan semua kejadian semenjak hari kematiannya, mulai dari kedatangan ayahku yang tiba-tiba, kedekatanku dengan Rika, hubungan antara ibuku dengan ibunya Kenji, fakta kalau selama ini aku tinggal bersama orangtua angkat, hingga kasus masa lalu yang sedang aku hadapi. Sica mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa berusaha menyela sedikitpun.

“Dan kini Kenji sedang terbaring di rumah sakit. Sama sepertimu, penyakit paru-paru. Belum diketahui kapan ia bisa keluar,” aku mengakhiri ceritaku.

“Aku turut sedih mendengarnya, Le. Kamu udah mengalami berbagai kejadian yang belum tentu bisa dihadapi oleh orang biasa. Kamu hebat Le bisa melalui ini semua.”

“Terima kasih Sica.”

Tidak ada lagi kalimat yang meluncur dari bibir kami berdua, seolah kami sedang menikmati sunyi yang ada di sekeliling kami. Aku tahu ini hanya mimpi, sama seperti sebelumnya. Tapi mimpi seperti ini selalu terasa sangat nyata.

“Aku yakin semua yang kamu alami itu punya hikmahnya masing-masing, Le. Aku yakin semua tidak terjadi secara percuma,” kata Sica pada akhirnya.

“Iya, terima kasih.”

“Kamu lanjut kuliah di mana?”

“UI, jurusan Kedokteran.”

“Wah, keren. Saingannya dari seluruh negeri loh itu.”

“Aku mengambil jurusan tersebut juga karena kau, Sica.”

“Iya, aku paham. Ingin membuktikan diri lebih hebat dari dokter sombong yang waktu itu merawatku, kan?”

Aku menganggukkan kepala.

“Kamu menemukan arah hidupmu setelah kematianku. Pertemuan dengan ayahmu membuatmu dekat dengan Rika. Rika jugalah yang banyak membantumu menguak misteri dari masa lalu orangtuamu. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut, Le.”

“Aku takut Sica.”

“Takut apa?”

“Aku takut kehilangan Kenji, seperti aku kehilanganmu.”

Sica terdiam mendengar kalimatku. Ia membuang pandangannya dan memain-mainkan kakinya.

“Umur enggak ada yang tahu, Le. Udah diatur sama Tuhan.”

Mendengar kalimat itu, aku menutup mukaku dengan kedua tangan. Aku kembali menangis, kali ini lebih keras. Sica berusaha menenangkan diriku dengan memegang pundakku.

“Takut kehilangan itu sangat manusiawi kok, Le. Apalagi hubunganmu dengan Kenji sudah seperti keluarga sendiri. Percaya semua akan baik-baik aja. Apapun yang terjadi, itu yang terbaik untukmu.”

Pegangan Sica tiba-tiba tak terasa. Ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihatnya mulai memudar seperti yang terjadi pada ibu waktu itu. Sica akan lenyap dari hadapanku dan aku akan kembali ke dunia nyata.

“Aku setuju kamu sama Rika, Le. Kalian berdua cocok satu sama lain karena bisa saling melengkapi,” kata Sica sebelum benar-benar menghilang. Setelah itu, semuanya gelap.

***

Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga tak terasa hari keberangkatanku ke Jakarta telah tiba. Selama itu pula, Kenji masih berada di rumah sakit tanpa tahu kapan bisa keluar. Kasus yang sedang diusut Zane mengalami perkembangan yang lambat. Hanya ada beberapa nama yang mulai diselidiki, sedangkan Wijaya benar-benar tak tersentuh. Aku mulai merasa kalau penyelidikan yang selama ini kulakukan menjadi percuma, meskipun aku jadi mengetahui banyak cerita tentang orangtuaku.

Aku menyetujui usul paman, Gisel akan kembali tinggal bersama ayah selama aku studi di Jakarta. Kemarin, ia datang membawa satu tas koper yang berisikan barang pribadinya.

“Besok kita semua akan antar kamu ke bandara ya, Le. Nanti di Jakarta ada teman paman yang bakal jemput kamu dan untuk sementara kamu tinggal di rumahnya. Enggak usah merasa sungkan, teman paman itu udah kayak saudara sendiri,” kata paman kemarin sore sewaktu kami berkumpul di ruang keluarga. Ayah juga ada di sana, wajahnya tak sesuram biasanya. Justru Gisel yang terus memasang wajah murung, membayangkan dirinya akan berpisah dengan kakak tersayangnya.

Aku sadar kalau aku butuh bicara dengan Gisel empat mata. Malamnya, aku datang ke kamarnya. Ia sedang meringkuk di atas tempat tidur, tapi aku tahu ia tidak bisa tidur. Aku pun duduk di dekatnya.

“Gisel, besok kakak berangkat ya. Gisel jaga diri sama ayah. Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat telepon kakak.”

Tidak ada tanggapan dari Gisel.

“Kakak tahu Gisel pasti sedih karena harus pisah sama kakak untuk waktu yang lama, tapi Gisel harus percaya kalau kakak pasti kembali untuk Gisel.”

Masih belum ada tanggapan.

“Gisel, kakak makin enggak tega buat ninggal kamu kalau kamu terus kayak gini. Kakak butuh Gisel melepas kakak dengan ikhlas. Kakak enggak bakal bisa fokus belajar kalau Gisel seperti ini.”

Akhirnya Gisel bangun dan menatap wajahku. Ternyata, dari tadi air mata mengalir di pipinya tanpa suara. Melihat itu, aku segera merangkul Gisel dan melepaskan segala bentuk emosi yang ada di dalam diriku. Gisel tetap tidak memberikan tanggapan apapun, tapi aku mengerti kalau ia pelan-pelan berusaha melepas kepergianku.

***

Keesokan paginya, aku mendapatkan kejutan. Semua teman kelasku, kecuali Kenji yang masih di rumah sakit, datang berkunjung. Ternyata mereka semua ingin memberikan semacam salam perpisahan. Aku pun meminta mereka untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, kami bercerita banyak sekali hal. Mereka berusaha membuat suasana tetap ceria meskipun di dalam hati ada perasaan sedih yang sedang disembunyikan. Hanya Rika yang dari tadi diam walau sesekali berusaha membuat senyum di bibirnya.

“Rika,” panggilku ketika yang lain sedang asyik bercanda. Kebetulan, ia duduk di sebelahku.

“Iya Le.”

“Jangan sedih ya, kita masih bisa sering kontakan kok. Kita pasti akan ketemu lagi.”

“Iya Le.”

Aku pun membelai lembut rambutnya. Tangis yang berusaha ia tahan dari tadi akhirnya tumpah. Teman-teman lain seperti Rena dan Sarah berusaha menenangkan Rika. Sama seperti Gisel, aku juga sangat berat meninggalkan Rika, wanita hebat yang selama ini telah sabar berada di sisiku melewati berbagai macam ujian yang kuhadapi.

***

Diantar oleh paman, aku menjenguk Kenji untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke bandara. Aku harus berpamitan dengan kawan terbaikku itu.

“Kenji, gimana kondisimu?” tanya paman yang baru kali ini menjenguknya.

“Makin hari makin baik kok paman, terima kasih,” jawab Kenji dengan ceria seperti biasa.

“Hari ini Leon berangkat ke Jakarta, jadi dia mau pamitan sama kamu.”

Setelah itu. paman meninggalkan kami berdua. Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya. Wajahnya terlihat sangat tegar, meskipun aku tahu ia juga merasa berat harus berpisah denganku untuk jangka waktu yang lama.

“Sudah waktunya ya, Le?”

“Iya Kenji.”

“Sukses terus ya, semoga kamu bisa menyelesaikan studi dengan cepat. Tahu sendiri kan kalau jurusan Kedokteran menjadi salah satu yang paling sulit untuk lulus? Tapi dengan kemampuanmu, aku yakin kamu bisa lulus cepat.”

“Iya Kenji, terima kasih.”

“Waktu berlalu begitu cepat ya. Kayaknya baru kemarin aku menyapamu di hari pertama MOS. Sekarang kita semua udah lulus dan akan berusaha menggapai impiannya masing-masing. Aku pengen cepet-cepet keluar dari rumah sakit, pengen segera mulai bikin tempat kursus! Hahaha.”

“Iya Kenji, semoga lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.”

Setelah itu, hening menghampiri kami. Aku sadar dari tadi, Kenji sedang mengenakan topeng untuk menyembunyikan perasaannya. Meskipun wajahnya terlihat ceria, ada campuran antara perasaan cemas dan takut di dalam hatinya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau harus melihatku berhasil menjadi dokter, Ken. Harus,” kataku pada akhirnya.

“Semoga Le, aku pun ingin melihat kamu di puncak kesuksesan. Wah, aku sudah bisa membayangkan kamu mengenakan pakaian dokter, pasti terlihat keren. Sungguh Le, aku ingin melihatnya.”

Lagi-lagi air mataku menetes begitu saja. Perpisahan dengan Kenji ini entah mengapa terasa begitu berat. Ada banyak sekali yang ingin kusampaikan kepadanya, dan mungkin ini kesempatan terakhirku sebelum aku pergi merantau.

“Aku ingin berterima kasih untuk semuanya, Ken. Entah berapa banyak jasamu di dalam kehidupanku. Kau sudah mengeluarkanku dari neraka itu dan menuntunku menjalani hidup yang lebih baik. Aku benar-benar berhutang banyak padamu, dan aku belum pernah sempat membayar hutang tersebut.”

“Ah, jangan dipikirkan Le. Yang namanya saudara memang seperti itu, bukan? Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan timbal balik dalam bentuk apapun Le, kamu pun sudah banyak membantuku. Kamu sudah membuatku merasa memiliki keluarga, kamu membuatku tahu lebih banyak tentang ibuku. Jadi, anggap aja kita impas, ya?”

Aku menganggukkan kepala. Lantas, paman kembali masuk ke dalam ruangan dan memberitahuku kalau sebentar lagi waktunya berangkat. Aku menarik napas panjang dan bangkit dari kursiku. Aku menggenggam tangan Kenji dengan kedua tanganku.

“Kenji, aku berangkat ke Jakarta. Semoga kau lekas sembuh dan bisa memulai impianmu membuka tempat kursus. Aku yakin, kau akan melihatku menjadi seorang dokter yang handal. Aku ingin kau percaya denganku.”

“Aku selalu percaya kamu kok, Leon,” kata Kenji sambil memberikan senyuman khasnya, senyum terakhir yang aku lihat dari dirinya.

***

Tiga minggu kemudian, di saat aku disibukkan dengan berbagai kegiatan OSPEK kampus, aku mendengar kabar kalau Kenji, sahabat sekaligus saudara terbaikku, pergi untuk selamanya.

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan