Chapter 82 Fabel Karangan Ibu

Sesampainya kami berdua di rumahku, aku mendapatkan Gisel telah menantiku dengan tidak sabar. Aku memberinya pelukan hangat dan air mataku tiba-tiba tumpah begitu saja. Semua cerita yang aku dengarkan hari ini benar-benar memedihkan, dan memeluk Gisel menjadi obat penenang yang baik. Adikku dengan sabar mengelus punggungku dan mengatakan kalimat-kalimat penghibur. Setelah tangisku reda, aku mengajak adikku untuk duduk di ruang tengah untuk mengobrol.

Cerita ini memang cukup berat untuk anak seusia Gisel, namun aku yakin pengalaman hidupnya akan membuatnya menjadi pribadi yang tangguh. Aku menceritakan segalanya, mulai awal hingga akhir. Gisel mendengarkannya dengan antusias, sesekali sambil tersedu. Setelah selesai bercerita, Gisel kembali menghampirku dan memberikan pelukan sekali lagi.

“Hari ini sangat menguras emosi ya, Le?” tanya Kenji setelah Gisel pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Begitulah, tapi mengapa dirimu terlihat begitu tenang? Padahal kau ada di posisi yang sama denganku.”

“Hahaha, nampak tenang di luar belum tentu yang di dalam begitu juga. Jujur saja perasaanku juga bergejolak luar biasa. Tapi berbeda denganmu, tidak ada fakta yang baru aku ketahui. Aku sudah sering mendengar cerita ibu dari ayah, dan cerita dari Awan tadi hanya mempertegas cerita tersebut.”

“Begitu ya.”

Kami berdua sama-sama terdiam. Aku menatap langit-langit rumah yang membosankan sambil melamun, hingga sesuatu melintas di kepalaku.

“Jujur Kenji, aku belum tahu banyak tentang keluargamu.”

“Benarkah? Kalau diingat-ingat lagi memang iya. Rasanya baru sekali dua kali aku bercerita tentang keluargaku.”

“Kalau tidak salah sekali waktu di rumahmu dan sekali di kelas ketika kau bercerita tentang kakekmu.”

“Benar Leon, ingatanmu memang bisa diandalkan.”

“Adakah cerita menarik yang boleh aku ketahui tentang keluargamu? Aku ingin tahu lebih dalam.”

“Hmmm, apa ya, kalau ditodong langsung gini bingung juga Le, hehehe.”

“Bagaimana kehidupan sebelum pindah ke sini? Kalau tidak salah kau pindah setelah lulus SMP, bukan?”

“Benar, Le. Aku pindah ke sini setelah lulus SMP. Dulu waktu masih di kota, kami tinggal di rumah yang cukup besar. Ada seorang, apa ya namanya, semacam asisten yang membantu kami untuk mengurus kakak.”

“Maaf memotong, boleh tahu apa pekerjaan ayahmu?”

“Ia adalah pemred dari sebuah koran nasional untuk cabang Malang. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku memilih untuk bekerja sebagai loper koran. Ya, intinya kami cukup makmur lah, hehehe.”

“Lantas kata Awan tadi, keluargamu mengalami masalah ekonomi?”

“Iya, oplah koran mulai menurun, kalah saing dengan media baru dan digital yang sedang naik daun. Karena merasa tidak mampu menyelamatkan perusahaan, ayahku memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah itu, ia mencoba berbagai usaha, namun tidak ada yang berhasil. Asisten yang kami pekerjakan pun akhirnya diberhentikan untuk menghemat pengeluaran. Fokus ayahku jadi terpecah antara mencari nafkah dan merawat kakak.”

“Setelah itu barulah kau pindah ke mari.”

“Iya, aku juga baru tahu kalau Om Awan lah yang memberikan rekomendasi. Ayah tidak pernah bercerita tentang masalah ini. Tadi kamu bertanya gimana kehidupan sekolahku? Enggak banyak berubah aja kok, Le. Rutinitasnya sama, hanya saja di sini aku bisa bertemu dengan kamu yang senasib, hahaha.”

“Bagaimana kau bisa sekuat ini, Ken? Kejadian meninggalnya ayah dan kakakmu hanya beberapa hari sebelum MOS pertama, kan?”

“Benar, Le. Jelas aku sangat merasa kehilangan keluargaku. Namun, terus bersedih pun tidak akan membawa perubahan apa-apa, sehingga aku memutuskan untuk tetap kuat dan optimis. Aku ingin menyebar kebahagiaan, bukan kesedihan.”

“Aku ingat di hari pertama bertemu denganmu, aku ingin meninju deretan gigimu yang rapi sempurna itu. Sungguh menyebalkan ada orang yang hidupnya begitu bahagia ketika hidupku sendiri berantakan.”

“Hahaha, kita jadi nostalgia ya, Le. Waktu itu, kamu terlihat sangat brutal dan menakutkan. Namun aku bisa melihat dari kedua matamu kalau kau juga kehilangan kasih sayang orang tua.”

“Benar, untunglah aku bertemu denganmu. Tidak berlebihan jika kukatakan kalau kau membawa perubahan besar dalam hidupku.”

“Hahaha, santai aja. Kita sebagai manusia kan memang harus saling tolong menolong. Ternyata pertemuan kita juga seolah telah ditakdirkan, kan? Orangtua kita saling mengenal, bahkan bergabung di organisasi yang sama.”

Aku mengiyakan perkataannya. Memang benar, pertemuan kami di kelas akselerasi itu seperti sudah ditakdirkan. Aku, yang selama ini hanya berfokus pada belajar, harus dihadapkan oleh kasus berat yang berkaitan dengan orangtuaku. Jika aku tidak pernah bertemu dengan Kenji, mungkin hidupku akan tetap suram seperti dahulu. Aku benar-benar bersyukur telah bertemu dengan bocah keturunan Jepang yang selalu terlihat ceria ini.

***

Setelah makan malam dan Kenji pulang ke rumahnya, aku masuk ke kamar orangtuaku untuk beristirahat. Aku mengecek ponsel yang dari tadi aku matikan. Selain Gisel, ada satu orang lagi yang ingin kuberitahu.

“Halo Rika, lagi sibuk?”

Untunglah Rika sedang lenggang dan aku meminta izin untuk bercerita. Sama dengan Gisel, Rika pun mendengar ceritaku dengan penuh antusias. Aku berhenti sejenak ketika sampai di bagian kematian ibuku yang direkayasa.

“Benar dugaanmu Rika, kematian ibuku hanyalah rekayasa. Ada orang jahat yang membunuhnya karena ia dianggap sebagai ancaman.”

“Aku ikut sedih mendengar kabar itu Leon, kamu yang sabar, ya.”

“Aku sudah mendapatkan namanya, aku janji akan segera meringkusnya dan memberi pelajaran.”

“Jangan berbuat sesuatu berdasarkan dendam dan kebencian Leon. Hal itu hanya akan merusak dirimu sendiri.”

“Tapi Rika, orang ini yang membuat hidupku sengsara. Orang ini…”

“Iya Leon aku paham banget. Kamu tahu sendiri selama ini aku hidup dengan orang yang selalu menyiksaku. Aku tahu apa itu dendam, apa itu perasaan ingin membalas luka yang kita terima. Tapi percaya sama aku, enggak ada yang baik dengan perasaan seperti itu. Bawalah orang-orang itu ke ranah hukum atas dasar keadilan, bukan balas dendam.”

Aku diam sesaat mendengarkan kalimat dari Rika. Aku ingin menyangkalnya, namun tidak ada kalimat yang bisa kuucapkan untuk membalas perkataannya. Kalimat serupa pernah diucapkan oleh Kenji beberapa waktu lalu, jangan sampai aku menjadi seorang dokter karena merasa dendam atas kematian Sica. Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana.

“Percaya sama aku Leon, kamu pasti bisa mendapatkan keadilan yang kamu inginkan. Tapi aku harap, kamu enggak berbuat hal yang melebihi batas. Aku akan bantu sebisaku meskipun aku belum tahu harus ngapain.”

“Iya Rika, terima kasih.”

Setelah itu, aku melanjutkan ceritaku hingga tuntas. Sebelum telepon berakhir, sekali lagi Rika mengingatkanku betapa bahayanya sesuatu yang berlandaskan dendam. Aku tak memberikan respon apa-apa dan percakapan kami pun berakhir. Ketika meletakkan ponsel, mataku menangkap brankas rahasia yang aku letakkan di kamar ini. Sebelumnya, aku selalu menentang permintaan Kenji yang ingin membuka paksa brankas ini. Karena kondisinya seperti ini, mau tidak mau aku akan melakukan hal tersebut. Mungkin besok aku akan datang ke tukang las atau sejenisnya untuk membuka brankas ini.

Aku mengambil kembali surat yang kutemukan bersamaan dengan brankas ini. Sekali lagi, kubaca cerita fabel karangan ibu ini.

Dari dulu ada yang mengganjal dari surat ini. Mengapa ibu tidak mengawali cerita dengan huruf kapital? Mengapa ada kata setelah tanda baca yang berhuruf kecil? Mengapa ada beberapa kata di tengah kalimat yang menggunakan huruf kapital? Bahkan Kenji pun tidak bisa menemukan jawabannya.

Aku teringat perkataan Awan tadi siang. Ibuku merupakan penggemar novel detektif. Ia gemar membuat sebuah kode misterius untuk dipecahkan. Aku menjadi yakin kalau surat ini adalah salah satunya, dan tugasku adalah memecahkan misteri ini.

Tunggu, bukankah petunjuk mengenai Awan yang masih hidup kutemukan dari novel-novel Agatha Christie milik ibu? Bagaimana jika isi surat ini juga ada hubungannya dengan novel-novel tersebut?

Kepalaku tiba-tiba mendapatkan pencerahan. Aku merasa seperti mendapatkan petunjuk bagaimana harus memecahkan surat ini. Kata-kata yang menggunakan huruf kapital bisa jadi merupakan salah satu judul novel Agatha Christie. Di sana, mungkin ada semacam angka yang bisa menjadi semacam petunjuk.

Baiklah, yang harus kulakukan sekarang adalah mencatat kata-kata yang menggunakan huruf kapital. Ada lima kata di sini: Babi, Besar, Menuju, Panggilan, Tragedi.

Setelah mencatat, aku segera menuju rak bukuku untuk memeriksa judulnya satu persatu. Pertama, aku menemukan buku yang berjudul The Big Four, ada kata besar di sana. Selanjutnya, aku menemukan The Seven Dials Mystery yang mengandung kata panggilan. Tak lama berselang aku menemukan kata tragedi pada buku Three Act Tragedy. Kata babi aku temukan pada buku Five Little Pigs. Tinggal satu kata, menuju, yang belum aku temukan. Setelah jejeran buku sudah hampir habis, aku menemukan buku Toward Zero. Setelah memastikan tidak ada buku lain yang berkaitan, aku membawa lima buku tersebut ke meja makan.

“Kakak lagi ngapain?” tanya Gisel tiba-tiba dari belakang dan berhasil mengejutkanku.

“Kakak tiba-tiba dapat ilham yang mungkin bisa jadi petunjuk untuk membuka brankas ibu.”

“Oh iya? Gisel ikutan lihat, ya.”

Gisel menarik salah satu kursi dan memperhatikan setiap pergerakanku. Baiklah, saatnya membedah kelima buku ini untuk menemukan petunjuk. Aku menjejerkannya di atas meja sesuai dengan urutan kata yang muncul pada surat. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuatku merasa ngeri sendiri. Semua novel ini memiliki unsur angka pada judulnya! Empat, tujuh, tiga, lima, kosong. Apakah itu kode brankas milik ibu? Segera aku masuk ke dalam kamar dan mencoba memasukkan angka-angka tersebut.

Empat…tujuh…tiga…lima…kosong…

Klik, terdengar suara kunci terbuka. Brankas milik ibu berhasil terbuka.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.