Chapter 83 Sepucuk Surat dan Bukti Kejahatan

Begitu brankas itu terbuka, tubuhku secara refleks langsung mundur ke belakang hingga terduduk di atas kasur. Pintu brankas kubiarkan terbuka begitu saja, membuatku bisa melihat apa isi di dalamnya. Gisel yang mengamatiku di ambang pintu langsung menghampiriku dengan tatapan panik. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya memegangi lenganku dengan sedikit gemetar.

“Akhirnya terbuka Gisel,” kataku sambil menunjuk ke arah brankas.

“Iya kak, Gisel bisa lihat. Isinya apa, kak?”

Aku belum memeriksa isinya karena terkejut. Dari jauh, aku bisa melihat ada setumpuk kertas di dalam sana. Tidak terlalu tebal, mungkin hanya sekitar 5 cm. Nampaknya benar kalau ibuku menyimpan salinan bukti kejahatan yang dilakukan oleh Wijaya dan kroninya di sini. Setelah menarik napas panjang, aku menguatkan diri untuk melihat kertas apa saja yang ada di dalam sana.

Di tumpukan paling atas, aku melihat ada sebuah amplop putih yang berukuran sedang. Aku memutuskan untuk mengambil amplop tersebut dan melihat isinya terlebih dahulu. Ternyata isinya merupakan surat dengan tulisan ibu. Bersama Gisel yang sudah mengambil posisi di sebelahku, aku membaca surat tersebut secara perlahan.

 

Entah siapa yang akan menemukan surat ini, tapi kuharap yang menemukan adalah Leon dan Gisel. Entah kapan mereka akan menemukan surat ini, tapi aku yakin suatu saat mereka akan berhasil. Kalau bukan Leon atau Gisel yang berhasil membuka brankas ini, tolong beritahu mereka apa yang sudah terjadi.

Jika kalian berhasil menemukan surat ini, bisa jadi aku sudah meninggal. Untuk itu, kutitipkan salinan berkas yang berisi bukti kejahatan kelompok Wijaya. Sudah belasan tahun kami ditekan, sudah saatnya kami bangkit melawan dan meringkusnya. Bukti-bukti ini harusnya sudah cukup kuat untuk dibawa ke pengadilan, semoga saja hukum di Indonesia bisa memprosesnya dengan seadil mungkin.

Siapapun yang menemukan surat ini, temuilah Awan. Ia tinggal di depan rumahku, kalau belum pindah. Iya, ia masih hidup, pimpinan kami itu masih hidup. Aku meninggalkan petunjuk di novel-novel Agatha Christie favoritku, tapi rasanya akan terlalu sulit untuk dipecahkan.Jadi untuk berjaga-jaga, aku memberitahu kalau Awan masih hidup melalui surat ini. Ia satu-satunya harapan untuk menyeret leher Wijaya ke jeruji penjara.

Siapapun yang menemukan surat ini, tolong ceritakan semuanya ke Leon dan Gisel. Katakanlah kalau aku bukan ibu kandungnya Leon. Ibunya bernama Ratih, ayahnya bernama Bambang. Ia adalah anak dari sahabat-sahabat terbaikku yang harus hilang karena dianggap berbahaya oleh rezim dan Wijaya. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Ia bukan anak angkatku, ia benar-benar anakku. Kenyataan ini memang pahit, tapi pada akhirnya ia harus mengetahuinya.

Jika yang menemukan surat ini Leon dan Gisel, anak-anakku tercinta, percayalah kalau ibu sangat mencintai kalian dari lubuk hati yang terdalam. Kalian adalah segalanya untuk ibu, setelah semua kelakukan ayahmu yang membuat ibu sedih. Kalianlah sumber kekuatan ibu, satu-satunya alasan yang membuat ibu tetap meneruskan hidup. Walaupun maut memisahkan kita, ibu akan selalu mencintai kalian selamanya.

Anggaplah surat ini sebagai wasiat atau apapun. Aku benar-benar mohon, siapapun yang menemukan surat ini, tuntaskan perkara ini hingga ke akarnya. Keadilan harus benar-benar ditegakkan, tak peduli sudah berapa lama terlewat.

 

Lawang, 23 Januari 2007

Dewi Kartika Sari

 

Air mataku sudah menggenang sejak tadi. Gisel pun telah terisak sejak tadi, tak kuat menahan emosi yang diakibatkan oleh sepucuk surat ini. Aku mendekap surat ini di depan dada secara erat, berjanji kalau aku akan menuntaskan apa yang diminta oleh ibu. Menyeret Wijaya ke ranah hukum untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

***

Minggu, keesokan paginya, aku segera pergi ke rumah Kenji untuk memberitahu apa yang terjadi. Ia selalu bangun pagi, sehingga aku bisa langsung mendiskusikan penemuan ini kepadanya. Gisel kuajak serta, sedangkan brankas sudah kusimpan di tempat yang tersembunyi. Setelah mendengar cerita Awan, aku meningkatkan kewaspadaanku. Meskipun ia bilang anak buah Wijaya tidak akan memasang mata ke anak SMA, aku harus tetap melakukan semuanya secara berhati-hati. Siapa tahu, di dekat rumahku ada mata-mata yang senantiasa mengamati kami.

Kuketuk pintu rumah Kenji dengan tiga ketukan. Setelah mendengar kata “iya sebentar”, pintu terbuka. Matanya menunjukkan sedikit keterkejutan melihat kami berdua, namun tetap menyuruh kami masuk dengan sopan sambil meminta maaf karena rumahnya masih berantakan. Nampaknya Kenji sedang bersih-bersih rumah, sesuatu yang rutin ia lakukan tidak hanya di hari libur.

“Mau minum apa? Teh atau yang seger-seger? Biar aku bikinkan dulu,” tawar Kenji setelah kami duduk di kursi ruang tamunya.

“Enggak usah repot-repot kak, kayak sama siapa aja,” jawab Gisel.

“Justru karena yang datang kalian harus diperlakukan istimewa, hahaha. Bentar ya, aku bikinkan sirup aja, soalnya hari ini lumayan gerah.”

Kenji pun masuk ke dapurnya dengan gesit. Aku melihat-lihat sekitar sambil menunggu Kenji. Mataku melihat setumpuk buku yang keluar dari raknya. Penasaran, aku memutuskan untuk menghampiri tumpukan tersebut.

“Kenji, aku lihat bukumu ya,” kataku meminta izin kepada yang punya. Tentu saja Kenji mengiyakan tanpa perlu berpikir.

Gisel membuntutiku di belakang. Aku segera mengambil posisi duduk bersila dan mulai mengamati tumpukan buku tersebut. Ternyata, Kenji sedang banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan hukum dan HAM. Bisa jadi buku-buku ini merupakan peninggalan ibunya. Yang jelas, Kenji sama penasarannya denganku untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Hehehe, sudah kuduga kamu tertarik dengan tumpukan buku itu,” kata Kenji tiba-tiba dari belakang. Ia membawa sebuah nampan yang membawa tiga gelas berwarna merah. Setelah meletakkan gelas tersebut di atas meja belajarnya, ia ikut duduk bersila bersama kami.

“Mungkin kamu menebak kalau buku-buku itu peninggalan ibuku, dan memang begitu adanya. Sepulang dari rumah Om Awan, aku merasa penasaran karena seingatku ada buku-buku yang berkaitan dengan hukum dan HAM. Jadi mulai kemarin aku mulai baca-baca, hehehe.”

“Kau menemukan sesuatu?”

“Belum ada yang penting sih, hanya pelengkap aja. Aku belum punya pengalaman di pengadilan, jadi enggak bisa berkomentar banyak.”

“Begitu, ya.”

“Tapi aku sudah membuat semacam jaring laba-laba gitu untuk memudahkan kita memahami kasus ini. Mau lihat?”

Aku menganggukkan kepala. Kenji mengambil selembar kertas yang ada di atas mejanya dan menyerahkannya kepadaku. Benar saja, Kenji telah menulis semua yang sudah kami ketahui hingga sekarang. Ia menambahkan garis-garis informasi agar siapapun yang membaca ini bisa memahaminya dengan mudah. Aku yakin pasti ini akan banyak membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini.

“Bukannya keberatan, tapi aku penasaran kenapa kalian pagi-pagi sekali ke sini?”

“Brankasnya berhasil terbuka, Ken. Aku berhasil memecahkan kodenya.”

Kenji adalah orang paling tenang yang pernah aku temui. Mau sebesar apapun masalahnya atau seheboh apapun beritanya, ia selalu bisa tetap mengendalikan dirinya. Begitu pula dengan pagi ini. Memang wajahnya terlihat kaget, namun dengan cepat ia segera kembali memasang wajah ramahnya.

“Wah, luar biasa. Gimana caranya?”

“Fabel itu, hanya ada beberapa kata yang menggunakan huruf kapital. Ketika aku mencari novel Agatha Christie yang mengandung kata itu, ternyata semuanya memiliki unsur angka di dalamnya. Ketika aku coba, berhasil.”

“Bravo! Aku memang menyadari kejanggalan itu, tapi enggak pernah tahu apa maksudnya. Kamu jenius, Le!”

“Hanya kebetulan. Awan bilang ibu adalah maniak Poirot, kita juga mengetahui fakta Awan masih hidup dari buku-buku tersebut. Jadi aku pikir, mungkin kode sandinya juga berkaitan dengan buku-buku itu.”

“Lalu, apa isi dari brankasnya?”

“Ada sepucuk surat dari ibu beserta dokumen-dokumen. Aku tidak terlalu paham dengan isinya, tapi kemungkinan besar itulah bukti-bukti yang menunjukkan kejahatan Wijaya dan kroninya.”

“Berarti sudah saatnya kita melangkah ke tahap selanjuntya.”

“Rachel?”

“Benar Le, besok Senin kita ke kelasnya Rachel. Kita akan minta bantuan kakaknya yang terkenal itu.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Rachel itu kakak cantik yang waktu itu pernah ke rumah, kan?” tanya Gisel yang dari tadi diam mendengarkan kami berdua berbicara.

“Benar Gisel, kamu masih inget, ya?”

“Inget, kan dia baik banget. Tapi sekarang kok udah enggak pernah ke rumah lagi, ya?”

Kenji tertawa ringan mendengar celetukan Gisel yang polos. Selain itu, mana mungkin aku membicarakan masalah remaja ke anak kecil yang belum lulus SD. Aku tak menyangka kalau Gisel akan memikirkan hal ini.

“Ya intinya dulu sempat ada masalah, tapi udah beres kok. Omong-omong Leon, kamu enggak ada masalah kan ketemu dengan Rachel?”

“Tentu saja tidak masalah. Apapun akan kulakukan untuk mengusut tuntas masalah ini.”

“Baiklah, semoga saja Zane Trunajaya mau membantu kita.”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.