<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>media Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/media/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/media/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Jun 2021 05:16:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>media Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/media/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Monopoli Kebenaran</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2021 05:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media massa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monopoli]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[partai politik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5028</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di setiap rezim yang berkuasa, pasti selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan, era Suharto yang otoriter pun kita masih bisa menikmati pembangunan yang cukup melejit. Ada cukup banyak variasi &#8220;kejahatan&#8221; yang bisa dilakukan oleh rezim. Penangkapan musuh politik, korupsi berjamaah, dinasti politik, oligarki kekuasaan, pemberendelan media massa, dan masih banyak lagi lainnya. Di era [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di setiap rezim yang berkuasa, pasti selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan, era Suharto yang otoriter pun kita masih bisa menikmati pembangunan yang cukup melejit.</p>



<p>Ada cukup banyak variasi &#8220;kejahatan&#8221; yang bisa dilakukan oleh rezim. Penangkapan musuh politik, korupsi berjamaah, dinasti politik, oligarki kekuasaan, pemberendelan media massa, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, ada satu bentuk &#8220;kejahatan&#8221; lain yang menurut Penulis cukup berbahaya: <strong>Monopoli Kebenaran</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran Era Orde Baru</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5032" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menteri Penerangan Era Orde Baru (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://amp.tirto.id/m/harmoko-B">Tirto.ID</a>)</figcaption></figure>



<p>Jika berkaca pada masa Orde Baru, pemerintah bisa dibilang berusaha melakukan tipe kejahatan ini. Media massa yang menyerang pemerintah akan segera dibereskan oleh Menteri Penerangan. Entah sudah berapa media yang mereka tutup selama berkuasa.</p>



<p>Tidak hanya itu, acara televisi pun juga dikuasai. Penulis masih ingat samar-samar, dulu semua acara berita dimonopoli oleh acara milik TVRI, <em>Dunia Dalam Berita</em>. Acara tersebut juga muncul di televisi swasta, seolah mereka tidak boleh punya acara berita sendiri.</p>



<p>Monopoli kebenaran dilakukan sebagai upaya untuk mencitrakan diri menjadi sebaik mungkin sekaligus sebagai pelanggeng kekuasaan. Masyarakat yang tidak memiliki banyak opsi mau tidak mau harus menelan informasi yang disodorkan oleh pemerintah.</p>



<p>Banyak masyarakat, terutama mahasiswa dan aktivis, tidak mau dibodohi. Mereka lantas bersuara, berupaya untuk menyuarakan kebenaran yang sebenarnya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri. </p>



<p>Entah berapa banyak orang yang tewas, ditahan, atau hilang tanpa jejak di era Suharto. Novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Laut Bercerita</a> </em>bisa memberikan ilustrasi bagaimana hilangnya korban memberikan luka traumatis kepada keluarga.</p>



<p>Reformasi mengubah banyak hal. Media-media yang diberendel kembali diberi izin. Media massa mulai berani bersuara lantang, bahkan dengan berita yang menyerang ke arah presiden secara langsung.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar monopoli kebenaran telah berhenti?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran di Era Sekarang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5031" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Pemilik Media, Ketua Parpol (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/12/519/1589319/hary-tanoe-orientasi-perindo-murni-sejahterakan-masyarakat">Okezone News</a>)</figcaption></figure>



<p>Media massa memang bisa bebas bersuara hingga sekarang. Hampir tidak pernah terdengar pemberendelan media hanya karena memberikan kritik kepada pemerintah.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa beberapa media massa mulai kehilangan ideologinya sebagai penyampai kabar. Beberapa media massa hanya menjadi <strong>alat bagi sang pemilik</strong> untuk memenuhi kepentingannya.</p>



<p>Bisa dihitung, ada berapa pemimpin partai politik (parpol) yang juga menjadi pemilik media? Atau berapa pemimpin media massa yang menjalin hubungan khusus dengan pihak yang berkuasa? </p>



<p>Jika media sudah dikuasai oleh segelintir orang (baca: oligarki), Penulis sedikit pesimis bahwa berita yang disampaikan bisa bersifat netral dan tidak berpihak. Secara logika, mereka pasti akan melindungi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Gampangnya begini. Seandainya ada anggota mereka yang tersandung kasus korupsi, pasti pemberitaannya sedikit atau tidak ada sama sekali. Tapi kalau anggota partai lain, apalagi yang oposisi, pasti akan diberitakan berhari-hari.</p>



<p>Ada sebuah <em>quote </em>menarik yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Whoever controls the media, controls the mind.</p><cite>Jim Morrison</cite></blockquote>



<p>Siapapun yang menguasai media, mereka bisa menguasai banyak orang. Berita, apapun bentuknya, masih menjadi sumber utama masyarakat untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. </p>



<p>Tidak semua orang memiliki sifat kritis terhadap berita, sehingga masih ada yang menelannya mentah-mentah. Akibatnya, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> pun terus terjadi. Kehadiran media sosial memperparah fenomena ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran di Media Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5030" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berusaha Dimonopoli Pihak Tertentu (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.dailysabah.com/business/tech/turkey-to-require-social-media-giants-to-appoint-local-representatives">Daily Sabah</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah isu media massa yang dikuasai oleh pemerintah atau kelompok tertentu, media sosial (medsos) seolah muncul menjadi oase bagi mereka yang ingin mendapatkan berita atau informasi dari sisi lain.</p>



<p>Mereka yang sudah tidak percaya dengan media massa akan beralih ke media sosial yang &#8220;katanya&#8221; lebih terpercaya. Entah itu dari pos Facebook, <em>tweet </em>di Twitter, <em>forward message </em>di WhatsApp, rasanya semua itu lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan berita dari media <em>mainstream</em>.</p>



<p>Ini juga tidak benar. Ini juga bentuk dari monopoli kebenaran dari pihak lain.</p>



<p>Pemerintah atau orang-orang berkepentingan memang berusaha untuk mengendalikan berita yang terbit di media massa. Mereka juga berusaha mengendalikan opini di media sosial dengan berbagai cara, entah melalui <em>buzzer</em>, UU ITE, dan cara-cara lainnya.</p>



<p>Hanya saja, apa yang berseberangan dengan mereka juga belum tentu benar. Segala sesuatu di media sosial perlu dipertanyakan validitasnya. Dari masa sumbernya? Apakah bisa dipertanggungjawabkan? Apakah sudah dicek kebenarannya?</p>



<p>Media sosial telah berevolusi menjadi alat propaganda yang bersifat provokatif. Manusia pada dasarnya adalah tipe orang yang mudah dimanfaatkan emosinya. Jika ada pos atau berita yang membuat mereka terlibat atau terasa dekat secara emosional, orang akan jadi mudah percaya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Monopoli kebenaran sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, entah ia pihak yang sedang berkuasa atau oposisi yang hendak menjatuhkannya. Memang yang berkuasa terlihat lebih mudah melakukannya, tapi bukan berarti yang berseberangan tidak melakukannya juga.</p>



<p>Kita sebagai masyarakat di era modern dituntut untuk lebih bisa kritis dan bijak dalam menyikapi suatu informasi yang menghampiri kita, dari mana pun sumbernya. Mau kita pihak yang pro atau kontra dengan pemerintah, biasakan untuk melakukan <em>check and recheck</em>.</p>



<p>Jika kita bisa bersikap demikian, kita pun menjadi tidak mudah untuk diprovokasi dan dipolarisasi. Kita bisa memilah mana berita yang benar, meskipun ada pihak-pihak yang berusaha untuk memonopoli kebenaran.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 12 Juni 2021, terinspirasi dengan banyaknya pihak yang berusaha melakukan monopoli kebenaran</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://wallpapercave.com/alec-monopoly-art-desktop-wallpapers">Wallpaper Cave</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teralihkan Isu Bombastis</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 09:37:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bombastis]]></category>
		<category><![CDATA[isu]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Empire]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3328</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah. Mungkin yang paling populer adalah Sunda Empire yang sampai dibahas di acara sebesar Indonesia Lawyers Club. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya. Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah.</p>
<p>Mungkin yang paling populer adalah <em>Sunda Empire</em> yang sampai dibahas di acara sebesar <em>Indonesia Lawyers Club</em>. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya.</p>
<p>Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat <em>halu </em>karena banyak fakta dan sejarah <em>ngawur </em>yang akan membuat sebagian besar orang heran atau menertawakannya.</p>
<p>Pertanyaannya, perlukah hal-hal semacam ini diberi <em>spotlight </em>berlebih?</p>
<h3>Isu-Isu Besar yang Tenggelam</h3>
<p><div id="attachment_3330" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3330" class="size-large wp-image-3330" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3330" class="wp-caption-text">Isu Besar yang Tenggelam (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01326196/hampir-dilupakan-kasus-korupsi-di-jiwasraya-kembali-mencuat-usai-dpr-tuntut-pengusutan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjJqe3t4JznAhVXeysKHV04Bw0QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pikiran-Rakyat.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis ingat, di awal tahun 2020 ini banyak sekali kejadian yang membuat kita mengelus dada. Selain <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">banyaknya bencana</a>, ada banyak kasus-kasus hukum yang sedang disorot.</p>
<p>Ada kasus Jiwasraya, <em>Omnibus Law</em>, klaim China atas Natuna, kasus yang menjerat petinggi partai pemerintah, KPK yang terlihat lemah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya sejak kerajaan-kerajaan ini naik ke permukaan, berita-berita tersebut seolah tenggelam begitu saja. Media memberitakannya dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Ada dua kemungkinan kenapa hal ini bisa terjadi. Pertama, media mengikuti kemauan pasar yang lebih tertarik dengan isu-isu bombastis yang sebenarnya tak terlalu penting.</p>
<p>Kedua, ada &#8220;konspirasi&#8221; yang disengaja agar isu-isu besar tertutup oleh munculnya kerajaan-kerajaan ini. Perhatian masyarakat yang mudah teralihkan pun mengikutinya dengan patuh.</p>
<p>Entah yang mana yang benar di antara kedua kemungkinan tersebut. Bisa saja Penulis yang salah.</p>
<h3>Memilih untuk Tidak Peduli</h3>
<p><div id="attachment_3331" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3331" class="size-large wp-image-3331" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3331" class="wp-caption-text">Perlukah Ditonton? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D0ezJ1b5Pf-E&amp;psig=AOvVaw3CywDSwmTztwHqFPU9jj6u&amp;ust=1579973147370428" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">YouTube</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika muncul hal-hal yang berbau bombastis namun kurang penting, Penulis biasanya memilih untuk mengabaikannya. Hingga hari ini, Penulis juga kurang tertarik untuk menonton video sang petinggi <em>Sunda Empire</em> yang sedang menjadi <em>trending</em>.</p>
<p>(<em>Penulis sudah mencoba menontonnya sebelum menulis artikel ini, namun Penulis memutuskan untuk tidak melanjutkan karena banyaknya fakta aneh di awal video</em>)</p>
<p>Apa enggak takut ketinggalan berita? Tanpa menonton ataupun membaca berita seputar hal tersebut, Penulis sudah mendengarkannya dari orang-orang terdekat. Inti beritanya sudah dapat, sehingga rasanya tidak perlu didalami.</p>
<p>Mungkin ada yang menontonnya sebagai bentuk hiburan, karena setahu Penulis banyak yang tertawa ketika sang petinggi menuturkan fakta-fakta yang mencengangkan. Penulis tidak bisa terlalu terhibur dengan hal-hal seperti itu.</p>
<p>Selain itu, apa yang bisa kita lakukan ketika mendengarkan ada orang yang mengaku sebagai raja atau lain sebagainya? Paling hanya sebatas mengingatkan orang-orang terdekat agar tidak sampai terpengaruh.</p>
<p>Kita tidak punya hak untuk membubarkan kerajaan tersebut. Pemerintah dan aparat yang bisa melakukannya, seandainya memang ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh mereka.</p>
<p>Masih ada banyak sekali topik yang lebih layak dijadikan sebagai perhatian. Bahkan, banyak di antaranya yang telah berlangsung sejak lama namun tak mendekati penyelesaian sedikit pun.</p>
<p>Kecuali, jika pendirian kerajaan ini sampai menganggu stabilitas negara bahkan sampai melakukan serangan secara fisik. Jika hal tersebut sampai terjadi, barulah kita harus menaruh perhatian.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memilih untuk tidak peduli terhadap berita bombastis yang kurang penting berusaha Penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis ingin hidup sederhana tanpa perlu terbebani dengan hal-hal remeh.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis juga tak pernah tertarik dengan berita artis A yang membuat kontroversi agar namanya naik atau pertengaaran B dan C yang sama-sama ingin <em>pansos</em>. Hal-hal tersebut tidak akan memengaruhi kehidupan Penulis.</p>
<p>Begitupun dengan kasus munculnya kerajaan-kerajaan ini. Meskipun diberitakan secara masif, pasti ada saatnya mereka akan dilupakan seperti kebanyakan berita heboh yang terjadi sebelumnya.</p>
<p>Jika pun ingin mengambil hikmahnya, mungkin kita bisa melihatnya seperti Sujiwo Tejo. Ia melihat kemunculan kerajaan ini sebagai bentuk protes atas demokrasi kita yang sering terlihat konyol. Mungkin ada hikmah lain walaupun Penulis tidak bisa menemukannya.</p>
<p>Jangan sampai perhatian kita teralihkan oleh hal-hal bombastis seperti ini sehingga melupakan isu-isu besar yang jauh lebih penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Januari 2020, terinspirasi dari munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiOqoHi4JznAhXCZCsKHfrmC5YQjB16BAgBEAM&amp;url=http%3A%2F%2Fbisnisbandung.com%2F2020%2F01%2F22%2Fmenyoal-sunda-empire-kekaisaran-matahari%2F&amp;psig=AOvVaw3lGmqbnd2_igX77hgvBnyn&amp;ust=1579973144939312">Bisnis Bandung</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perang Diksi Tanpa Makna</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2018 13:12:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[diksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perang diksi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali. Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali.</p>
<p>Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang ini.</p>
<p>Jarang sekali penulis menemukan sebuah perang konsep yang berusaha untuk menawarkan program-program yang ditawarkan apabila mereka terpilih. Jika pun ada, masyarakat yang terlihat di media sosial juga terlihat enggan menggubris.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang dilihat media sebagai pasar, sehingga yang mereka <em>expose </em>adalah hal-hal berbau bombastis yang digemari mayoritas masyarakat.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang membuat kedua kubu memilih untuk berperang diksi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka melakukan serangan apabila kubu lawan membuat pernyataan yang mempunyai celah untuk dicela.</p>
<p>Artinya, jika ditarik secara garis besar, kitalah yang berperan untuk menentukan mana yang akan disorot. Kita, sebagai rakyat, yang memiliki kuasa untuk mengubah hal ini.</p>
<p><div id="attachment_1683" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1683" class="wp-image-1683 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg" alt="" width="1024" height="770" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-300x226.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-768x578.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-339x255.jpg 339w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1683" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Caranya? Ya jangan gubris berita-berita minim konten yang tidak mendidik masyarakat untuk berpolitik secara sehat. Sebaliknya, kita sebarkan berita-berita tentang program-program yang ditawarkan oleh mereka, sehingga fokus mereka pun (mungkin) akan berubah,</p>
<p>Bukankah itu hal yang susah? Benar, bahkan hampir bisa dibilang mustahil. Mental masyarakat kita (atau bahkan masyarakat dunia?) sudah terpatri untuk menikmati <em>bad news</em> dibandingkan <em>good news</em>.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita harus berdiam diri saja menyaksikan ini semua terjadi. Minimal, dimulai dari diri kita sendiri dan pengaruhi lingkungan sekitar kita. Ajak mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita media.</p>
<p>Anggap saja mereka yang masih berbuat hal-hal seperti itu sebagai bayangan di dinding. Ada gerakannya, tapi kita tidak bisa mendengar apa yang diucapkan karena mereka hanyalah sebuah bayangan.</p>
<p>Bayangan tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi suara. Tentu kita tidak ingin membuang waktu untuk berusaha mendengar bayangan bukan? Hal yang sama juga berlaku di dunia nyata, jangan buang waktu kita yang berharga untuk mendengar kalimat kosong.</p>
<p>Jika para elit politik benar-benar peduli terhadap rakyatnya, sudah seharusnya perang diksi tanpa makna ini diakhiri. Sudah saatnya masyarakat mendapatkan edukasi politik yang lebih mendidik daripada serangan kata-kata yang tak bermanfaat.</p>
<p>Sudah seharusnya kedua kubu menjabarkan program kerja mereka lima tahun ke depan apabila nanti terpilih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 November 2018, terinspirasi dari pengamatan politik melalui Twitter akhir-akhir ini</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/E0rsKheWqmk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jonathan Sharp</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/debate?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Kedua dan Ketiga)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2018 17:14:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[NET TV]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=887</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari berselang, keluarlah pengumuman lolos tidaknya penulis untuk menuju tahap berikutnya. Alhamdulillah, penulis lolos ke tahap berikutnya! Dari 50.000 peserta, kalau tidak salah hanya sekitar 1.200 yang lolos ke tahap ini. Kalau tidak salah, ada 5 teman penulis yang sama-sama berasal dari Universitas Brawijaya yang ikut melamar di NET TV. Dari kelima orang tersebut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/">Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Kedua dan Ketiga)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari berselang, keluarlah pengumuman lolos tidaknya penulis untuk menuju tahap berikutnya. Alhamdulillah, penulis lolos ke tahap berikutnya! Dari 50.000 peserta, kalau tidak salah hanya sekitar 1.200 yang lolos ke tahap ini.</p>
<p>Kalau tidak salah, ada 5 teman penulis yang sama-sama berasal dari Universitas Brawijaya yang ikut melamar di NET TV. Dari kelima orang tersebut, hanya satu teman penulis yang ikut lolos juga.</p>
<p>Lokasi tes berada di Graha Jalapuspita, sebuah gedung yang berada di jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Tidak seperti tes tahap pertama, tidak ada kesan khusus pada tes kali ini karena jumlah pesertanya yang sudah berkurang drastis. Selain itu, lokasinya yang berada di pusat ibukota membuat tidak banyak kisah yang terjadi.</p>
<p><div id="attachment_892" style="width: 826px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-892" class="size-full wp-image-892" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6282-Copy.jpg" alt="" width="816" height="612" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6282-Copy.jpg 816w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6282-Copy-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6282-Copy-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6282-Copy-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 816px) 100vw, 816px" /><p id="caption-attachment-892" class="wp-caption-text">Graha Jalapuspita</p></div></p>
<p>Pada tahap kedua ini, terdapat empat jenis tes yang harus kami kerjakan. Berbagai macam jenis tes yang menguji kemampuan kita ketika nantinya terjun di dunia kerja harus dikerjakan dengan baik. Salah satu tes yang kami kerjakan adalah tes kreativitas, tes di mana kita diberi perintah untuk membuat sebuah gambar dari sebuah garis.</p>
<p>Penulis kala itu menggambarkan rak buku lengkap beserta ruangannya. Penulis menggambar begitu detail, membayangkan kamar idaman penulis yang dilengkapi ruang baca yang nyaman.</p>
<p><div id="attachment_894" style="width: 622px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-894" class="size-full wp-image-894" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6284-Copy.jpg" alt="" width="612" height="816" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6284-Copy.jpg 612w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6284-Copy-225x300.jpg 225w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6284-Copy-191x255.jpg 191w" sizes="(max-width: 612px) 100vw, 612px" /><p id="caption-attachment-894" class="wp-caption-text">Tes Kreativitas</p></div></p>
<p>Seusai tes, kami diberitahu lokasi tes selanjutnya apabila kami lolos di tahap kedua ini, yakni di The Bellagio Boutique Mall. Bersama teman yang duduk di sebelah penulis, kami penasaran ingin mengetahui lokasi tes selanjutnya.</p>
<p>The Bellagio Boutique Mall berlokasi di jalan Mega Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Lokasinya berseberangan dengan kantor Net TV, The East. Kami menyempatkan sholat Jum&#8217;at di mall tersebut, di <em>hall</em> yang sama di mana tes tahap selanjutnya akan dilaksanakan.</p>
<p><strong>Tahap Ketiga &#8211; Wawancara</strong></p>
<p>Alhamdulillah penulis berhasil melewati tahap kedua, menjadi 800 orang yang terpilih untuk mengikuti tahap ketiga, yakni wawancara. Teman penulis satunya sayang sekali belum lolos ke tahap berikutnya.</p>
<p>Karena sudah mengetahui lokasi, penulis tidak mengalami hambatan apapun ketika menuju lokasi tes. Sebelum memasuki mall, penulis menatap lama gedung The East yang berada di seberang sana. Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti &#8220;Bisakah aku bekerja di sana? Akankah impianku dapat tercapai? Apakah ini jalan hidupku?&#8221;.</p>
<p><div id="attachment_891" style="width: 622px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-891" class="size-full wp-image-891" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6286-Copy.jpg" alt="" width="612" height="816" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6286-Copy.jpg 612w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6286-Copy-225x300.jpg 225w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/IMG_6286-Copy-191x255.jpg 191w" sizes="(max-width: 612px) 100vw, 612px" /><p id="caption-attachment-891" class="wp-caption-text">The East</p></div></p>
<p>Tak salah penulis menyimpan asa yang tinggi untuk bekerja di Net TV. Berhasil bertahan hingga tahap wawancara pun sudah menjadi prestasi bagi penulis. Menyisihkan puluhan ribu orang tentu bukan hal yang mudah, namun jangan sampai fakta tersebut membuat penulis besar kepala.</p>
<p>Setelah antri dan menantikan nomer urut penulis dipanggil, akhirnya melangkahlah penulis untuk menuju tahap terakhir sebelum diterima menjadi karyawan NET TV. Penulis berusaha menampilkan performa terbaik yang dapat penulis berikan.</p>
<p>Untunglah, yang mewawancarai penulis seorang pria. Andai yang mewawancarai secantik Gista Putri, tentu akan membuat penulis gugup tak karuan.</p>
<p><div id="attachment_895" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-895" class="size-large wp-image-895" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-895" class="wp-caption-text">Contoh Suasana Wawancara (youtube.com)</p></div></p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kurang lebih sama dengan wawancara-wawancara pada umumnya. Tentu kita akan ditanya seputar jabatan yang kita inginkan, seperti apa tugas tim kreatif, karena penulis melamar di bagian kreatif. Orang NET TV tersebut juga bertanya siapa tokoh idola penulis dan alasannya. Penulis menjawab Steve Jobs dan pak Habibie.</p>
<p>Seusai sesi tanya jawab, penulis menyerahkan beberapa tulisan penulis yang pernah dipublikasikan di oyibanget.com. Kebetulan, penulis pernah menulis dua artikel tentang program NET TV. Semoga saja tulisan tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menerima penulis.</p>
<p><strong>Pengumuman</strong></p>
<p>Setelah melakukan wawancara, penulis balik ke Malang karena harus mengurus perpanjangan SIM. Tiap detik penulis merasa was-was menanti pengumuman lolos tidaknya penulis. Apalagi, pengumuman diundur beberapa hari dari jadwal yang telah ditentukan.</p>
<p>Penulis memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri, termasuk bertanya kepada seorang kawan tentang bagaimana wajib militer berlangsung. Sebagai informasi, NET TV mewajibkan karyawan baru untuk mengikuti wajib militer bersama marinir. Penulis hanya mengkhawatirkan satu hal, makan. Maklum, penulis termasuk tipe orang yang sangat rewel terhadap makanan.</p>
<p>Penulis tak pernah lelah terus menerus mengecek e-mail dan <em>official account </em>Instagram NET TV ketika hari pengumuman tiba. Hingga pada akhirnya, salah seorang memberikan komentar di Instagram, memberitahu bahwa pengumuman telah keluar.</p>
<p>Tiga jam penulis terus me-<em>refresh </em>e-mail, menantikan adanya pesan masuk dari pihak NET TV.</p>
<p>Nihil, penulis belum berhasil bergabung dengan NET TV.</p>
<p><strong>Pasca Pengumuman</strong></p>
<p>Sekitar satu minggu penulis berada dalam kondisi <em>down</em> cenderung frustasi. Impian yang telah digantung setinggi langit sirna begitu saja. Pada akhirnya, penulis memutuskan untuk berbuat sesuatu. Sebagai awal, penulis menawarkan diri untuk membantu ayah di kantornya, entah sebagai apa. Kebetulan, kantor ayah penulis baru saja menjalin kerjasama dengan konsultan properti, dan mereka membutuhkan tambahan orang.</p>
<p>Siapa yang menyangka, di sanalah penulis menemukan jalan hidup yang baru, menemukan ke mana harusnya kaki penulis melangkah. Bukan bekerja sebagai karyawan di kantor ayah penulis, melainkan sesuatu yang lebih besar, lebih besar dari sekedar menjadi karyawan NET TV.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebonagung, 14 Juni 2018, terinspirasi setelah melihat tingginya animo pembaca terhadap tulisan Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Pertama)</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/">Pengalaman Melamar Kerja di Net TV (Tahap Kedua dan Ketiga)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-kedua-dan-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2018 01:42:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[melamar]]></category>
		<category><![CDATA[NET TV]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=657</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak lama setelah diwisuda pada bulan Maret 2017, penulis berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes di NET TV, salah satu stasiun televisi swasta yang pada waktu itu penulis anggap berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Bekerja di media menjadi salah satu keinginan penulis selain menjadi seorang dosen. Tes Tahap Pertama Lokasi tempat tes sebenarnya bukan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak lama setelah diwisuda pada bulan Maret 2017, penulis berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes di NET TV, salah satu stasiun televisi swasta yang pada waktu itu penulis anggap berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Bekerja di media menjadi salah satu keinginan penulis selain menjadi seorang dosen.</p>
<p><strong>Tes Tahap Pertama</strong></p>
<p>Lokasi tempat tes sebenarnya bukan di Jakarta, melainkan di Sentul, Bogor. Penulis hanya semalam menginap di rumah tante sebelum meluncur ke selatan menggunakan KRL. Dijemput oleh adik yang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), penulis menuju tempat menginap di Rumah Verde yang berlokasi tidak jauh dari terminal Baranangsiang.</p>
<p>Penulis hanya bertemu dengan adik sekitar satu jam, karena ia memiliki tugas yang harus diselesaikan. Malam itu penulis manfaatkan untuk baca-baca tentang pengetahuan umum, karena dari beberapa tulisan yang telah dibaca di internet, terdapat soal seputar hal tersebut. Selain itu, penulis juga menenangkan diri dengan membaca Donal Bebek yang penulis beli di toko buku bekas dekat Rumah Verde.</p>
<p>Keesokan harinya, dengan menggunakan Go-Jek (atau Grab?) penulis menuju tempat tes di Sentul International Convention Center (SICC). Waktu datang ke sana, wow, begitu banyak manusia yang memiliki keinginan sama dengan penulis untuk bekerja di NET TV. Dari berita penulis mengetahui bahwa jumlah peserta tes yang datang kali ini lebih dari 50.000 orang.</p>
<p><div id="attachment_660" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-660" class="size-large wp-image-660" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6035.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-660" class="wp-caption-text">Antri Masuk</p></div></p>
<p>Setelah antri masuk berjam-jam, akhirnya penulis masuk ke tempat tes, tempat yang sama dengan penyelenggaraan Indonesia Choice Awards sebagai perayaan ulang tahun NET TV. Karena belum pernah menonton sepakbola di stadion, mungkin baru kali ini penulis melihat begitu banyak orang berkumpul pada satu tempat.</p>
<p>Sebelum tes, ada banyak sesi semacam seminar yang diisi oleh banyak tokoh, seperti Triawan Munaf (kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf) dan Wisnutama (CEO NET TV). Selain itu, datang pula para <em>cast </em>dari serial komedi The East. Lumayan, bisa melihat banyak artis cantik seperti Gista Putri dan Laura Theux meskipun dari jauh.</p>
<p><div id="attachment_659" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-659" class="size-large wp-image-659" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/IMG_6047.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-659" class="wp-caption-text">Melihat Langsung Artis Cantik</p></div></p>
<p>Pada tahap pertama ini, ada dua tes yang penulis jalani. Yang pertama adalah psikotest untuk mengetahui kepribadian kita. Karena tentang diri kita sendiri, maka tidak ada kesulitan untuk mengerjakannya. Yang kedua adalah Pauli Test atau yang sering disebut sebagai tes koran karena lembarnya yang lebar. Berhubung suka menghitung, penulis dapat menghabiskan dua halaman penuh tes pauli ini hingga meminta kertas tambahan.</p>
<p><strong>Drama Sepulang Tes</strong></p>
<p>Setelah menjalani tes, peserta pun dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di sinilah penulis menghadapi masalah. Pertama, penulis hanya membawa sedikit uang tunai. Mencari ATM pun susahnya bukan main. Sebagai tambahan, penulis belum makan sama sekali mulai dari tiba di lokasi. Yang kedua, tidak ada sinyal di lokasi. Mungkin karena banyaknya manusia yang berada di sana, mengganggu jalur sinyal.</p>
<p>Karena bingung mencari cara pulang (balik ke Jakarta, bukan ke Rumah Verde), penulis jalan begitu saja mengikuti arus dengan harapan menemukan inspirasi di jalan. Banyak sebenarnya tukang ojek yang menawarkan jasanya, namun mereka mematok harga yang ugal-ugalan. Mencari kesempatan di dalam kesempitan.</p>
<p>Mengikuti <em>feeling</em>, penulis tidak ingin menggunakan jasa ojek tersebut. Penulis terus jalan saja tanpa mengetahui mau ke mana kaki ini melangkah.</p>
<p>Hingga, pada akhirnya, terdapat dua orang, satu laki-laki dan satu wanita, yang berteriak &#8220;YANG KE JAKARTA YANG KE JAKARTA!&#8221;</p>
<p>Tanpa berpikir dua kali, penulis pun langsung menyaut &#8220;SAYA!!!&#8221;</p>
<p>Akhirnya, dengan menggunakan Go-Car (atau Grab?), kami menuju stasiun Bogor untuk naik KRL menuju Jakarta. Untunglah, masih ada KRL yang berangkat. Penulis tinggal menunggu pengumuman tes.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Bersambung&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 April 2018, setelah mencuci dua mobil di pagi hari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TGB: Tersembunyi dari Media</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/tgb-tersembunyi-dari-media/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/tgb-tersembunyi-dari-media/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2018 04:53:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gatot Nurmantyo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[NTB]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[TGB]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tuan Guru Bajang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=579</guid>

					<description><![CDATA[<p>TGB alias Tuan Guru Bajang hanyalah julukannya, karena di usianya yang muda sudah menjadi ulama besar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bajang sendiri memiliki arti muda, walaupun menurut beliau sekarang usianya sudah tidak lagi muda. Nama asli beliau adalah Muhammad Zainul Majdi, atau jika dilengkapi dengan gelar menjadi Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. Beliau adalah gubernur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/tgb-tersembunyi-dari-media/">TGB: Tersembunyi dari Media</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>TGB alias Tuan Guru Bajang hanyalah julukannya, karena di usianya yang muda sudah menjadi ulama besar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bajang sendiri memiliki arti muda, walaupun menurut beliau sekarang usianya sudah tidak lagi muda.</p>
<p>Nama asli beliau adalah <strong>Muhammad Zainul Majdi</strong>, atau jika dilengkapi dengan gelar menjadi Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A.</p>
<p>Beliau adalah gubernur NTB selama dua periode, mulai 2008 hingga 2018. Sebelum menjadi gubernur, TGB adalah anggota komisi X DPR RI periode 2004-2009 dari Partai Bulan Bintang. Ia diusung partai Demokrat ketika maju sebagai calon gubernur pada usia 36 tahun.</p>
<p><strong>Pendidikan TGB</strong></p>
<p>Gelar TGB sendiri bukan gelar sembarangan. Gelar tersebut menunjukkan bahwa ia adalah keturunan dari pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi Islam terbesar di NTB.</p>
<p>Dibesarkan dari lingkungan yang religius menjadikan TGB sosok yang santun. Beliau telah menjadi penghafal Al-Quran sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi dengan jurusan tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran di Al-Azhar Kairo, Mesir, hingga ke jenjang S3.</p>
<p><div id="attachment_580" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-580" class="size-full wp-image-580" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/ustadz-abdul-somad-dan-tgb-gubernur-ntb-tgh-muhammad-zainul-majdi_20180114_153304.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/ustadz-abdul-somad-dan-tgb-gubernur-ntb-tgh-muhammad-zainul-majdi_20180114_153304.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/ustadz-abdul-somad-dan-tgb-gubernur-ntb-tgh-muhammad-zainul-majdi_20180114_153304-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/ustadz-abdul-somad-dan-tgb-gubernur-ntb-tgh-muhammad-zainul-majdi_20180114_153304-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-580" class="wp-caption-text">TGB dab Ustadz Abdul Somad (http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/01/14/ustadz-abdul-somad-berjumpa-tgb-netizen-dukung-untuk-maju-pilpres-2018)</p></div></p>
<p>Dari beberapa wawancara yang penulis lihat di internet, sangat kentara bahwa TGB adalah sosok yang cerdas. Pemilihan katanya menunjukkan kepandaiannya. Tidak perlu selembar kertas contekan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat.</p>
<p>Sebagai tambahan, TGB merupakan kakak tingkat ustad Abdul Somad di Kairo.</p>
<p><strong>Apa Prestasi TGB?</strong></p>
<p>Banyak sekali penghargaan yang telah diraih TGB ketika menjabat sebagai gubernur. Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat di Wikipedia.</p>
<p>Salah satu prestasi yang penulis ingat dari TGB adalah keberhasilannya menjadikan NTB sebagai Halal Tourism Destination.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 9.9%, meninggalkan jauh pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berkisar sekitar 5% dari 7% yang ditargetkan.</p>
<p>Dalam hal lapangan kerja, NTB berada di posisi 6 dari seluruh provinsi di Indonesia karena berhasil menekan angka pengangguran hingga 3.32%.</p>
<p><b>Membandingkan TGB dan Jokowi</b></p>
<p>Dengan sederet prestasi tersebut, layakkah TGB maju sebagai calon presiden maupun wakil presiden? Coba kita bandingkan dengan presiden yang sedang berkuasa sekarang.</p>
<p>Nama Jokowi melambung ketika dianggap berhasil memimpin kota Solo ketika menjabat sebagai walikota, yang dimulai pada tahun 2005. Bahkan di pilkada pada tahun 2010, perolehan suaranya mencapai 90% lebih.</p>
<p>Karena dianggap sukses, Jokowi diusung oleh partainya untuk mengikuti pemilihan gubernur di Jakarta dengan Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakilnya. Jabatan sebagai walikota pun ia lepas untuk melakukan kampanye di ibukota dan pada akhirnya berhasil memenangkan pilkada.</p>
<p><div id="attachment_581" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-581" class="size-full wp-image-581" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/5b09ebeb98a2cfc88b63a76aef1c195e.jpg" alt="" width="640" height="506" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/5b09ebeb98a2cfc88b63a76aef1c195e.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/5b09ebeb98a2cfc88b63a76aef1c195e-300x237.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/5b09ebeb98a2cfc88b63a76aef1c195e-323x255.jpg 323w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-581" class="wp-caption-text">Jokowi Ketika Menjabat sebagai Walikota Solo (https://gozzip.id/img/78477/)</p></div></p>
<p>Belum genap dua tahun, Jokowi meninggalkan amanah sebagai gubernur Jakarta untuk maju sebagai calon presiden melawan Prabowo Subianto. Padahal, pada beberapa wawancara beliau mengatakan ingin fokus membenahi Jakarta, karena di Jakarta saja sudah pusing (sampai diulangi tiga kali oleh Jokowi).</p>
<p>Selama menjadi gubernur, Jokowi mengeluarkan berbagai macam kebijakan, seperti Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Selain itu banyak proyek infrastruktur yang dibangun, sama seperti kebijakannya ketika menjabat sebagai presiden sekarang.</p>
<p>Penulis belum menemukan data yang faktual seperti berapa pertumbuhan ekonomi di kota solo atau Jakarta. Mungkin ada yang bisa membantu memberi tahu data tersebut?</p>
<p><strong>Tersembunyi dari Media?</strong></p>
<p>Setelah melakukan perbandingan tersebut, muncul pertanyaan di benak penulis. Mengapa TGB, gubernur yang telah terbukti sukses membangun NTB, sepi dari pemberitaan?</p>
<p>Jika menengok ke belakang, berita-berita yang mengangkat nama Jokowi adalah kebijakan-kebijakan populis, seperti mobil Esemka. Penulis merasa media lebih banyak memberitakan bagaimana sosok Jokowi (sederhana, merakyat, hobi nge-vlog) daripada prestasi Jokowi, sejak dari Solo.</p>
<p>Apakah karena TGB berada jauh di Indonesia timur, sehingga tidak terlalu terekspos? Penulis rasa tidak, dengan adanya teknologi internet yang sudah memotong batas-batas teritori.</p>
<p><div id="attachment_583" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-583" class="size-full wp-image-583" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tuan-guru-bajang_20180222_150941.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tuan-guru-bajang_20180222_150941.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tuan-guru-bajang_20180222_150941-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tuan-guru-bajang_20180222_150941-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-583" class="wp-caption-text">Tersembunyi dari Media? (http://aceh.tribunnews.com/2018/03/12/baret-tgb-aceh-dideklarasi-ini-keputusannya)</p></div></p>
<p>Mungkinkah karena TGB berpotensi untuk mengalahkan Jokowi di pilpres mendatang? Mungkin sudah banyak yang mengetahui fakta bahwa beberapa media sangat dekat dengan presiden (berapa ketua umum partai pendukung Jokowi merupakan bos media?).</p>
<p>Mungkinkah TGB dianggap belum berpengalaman untuk maju menjadi seorang presiden? Penulis rasa 10 tahun menjabat sebagai gubernur (dan berhasil) lebih berpengalaman daripada gubernur yang hanya menjabat selama satu tahun lebih beberapa bulan.</p>
<p>Elektabilitas TGB rendah, hanya nol sekian persen. Siapa yang membuat elektabilitas tersebut? Bagaimana bisa tinggi jika media minim menyampaikan sosok beliau di televisi? Lagipula, elektabilitas bukan harga mati untuk menjadi seorang presiden.</p>
<p>Jika dilihat dari YouTube maupun Instagram, banyak komentar yang mengharapkan TGB menjadi capres maupun cawapres. Testimoni dari warga NTB pun hampir semuanya positif, meskipun tidak bisa dipastikan yang memberi komentar benar-benar berasal dari NTB.</p>
<p>Selain itu, kedekatan TGB dengan banyak ulama bisa menjadi tambahan modal untuk menjadikan TGB untuk maju sebagai calon presiden.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis masih belum menemukan alasan mengapa perlakuan media terhadap TGB berbeda dengan Jokowi.</p>
<p><strong>Pasangan Ideal: Gatot-TGB?</strong></p>
<p>Banyak yang mengharapkan munculnya pasangan Gatot Nurmantyo &#8211; Tuan Guru Bajang sebagai capres cawapres pada tahun 2019 mendatang. Masalahnya, siapa yang akan mengusung mereka?</p>
<p>Gatot merupakan jendral purnawirawan sehingga tidak memiliki partai politik. Sedangkan TGB merupakan kader demokrat, namun sikap partai Demokrat pun masih belum terlihat. Bahkan, sepertinya Demokrat lebih cenderung memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres/cawapres dari partai.</p>
<p><div id="attachment_584" style="width: 605px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-584" class="size-full wp-image-584" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Gatot-Nurmantyo-berpeci-nu-595x279.jpg" alt="" width="595" height="279" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Gatot-Nurmantyo-berpeci-nu-595x279.jpg 595w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Gatot-Nurmantyo-berpeci-nu-595x279-300x141.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Gatot-Nurmantyo-berpeci-nu-595x279-356x167.jpg 356w" sizes="(max-width: 595px) 100vw, 595px" /><p id="caption-attachment-584" class="wp-caption-text">Gatot Nurmantyo (https://www.intelijen.co.id/presidential-threshold-20-jenderal-gatot-tuan-guru-bajang-masih-tetap-pasangan-potensial/)</p></div></p>
<p>Bagaimana dengan partai oposisi? Ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subianto, belum mendeklarasikan dirinya sebagai capres, meskipun kader-kader partai Gerindra mendukungnya. Partai-partai oposisi lainnya seperti PKS juga masih dalam posisi menunggu.</p>
<p>Peta politik pada pemilihan presiden tahun depan masih samar. Namun penulis percaya, rakyat Indonesia berharap mendapatkan pemimpin yang terbaik. TGB layak untuk menjadi salah satu pilihan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 April 2018, terinspirasi dari minimnya pemberitaan tentang Tuan Guru Bajang</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://kicknews.today/2017/05/03/ditanya-mau-maju-di-pilpres-2019-ini-jawaban-tuan-guru-bajang/">https://kicknews.today/2017/05/03/ditanya-mau-maju-di-pilpres-2019-ini-jawaban-tuan-guru-bajang/</a></p>
<p>Bahan Tulisan mengambil dari:</p>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zainul_Majdi">https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zainul_Majdi</a></p>
<p><a href="https://www.merdeka.com/politik/mengenal-sosok-tuan-guru-bajang-dan-prestasinya-memimpin-ntb.html">https://www.merdeka.com/politik/mengenal-sosok-tuan-guru-bajang-dan-prestasinya-memimpin-ntb.html</a></p>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo">https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo#Wali_Kota_Surakarta</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/tgb-tersembunyi-dari-media/">TGB: Tersembunyi dari Media</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/tgb-tersembunyi-dari-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 15:28:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[elit politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=557</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &#38; Etika Media tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut. Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku <strong>Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media </strong>tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut.</p>
<p>Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus Dur dan pers. Bab ini menarik sekali karena beberapa poin.</p>
<p>Pertama, pers yang sangat aktif sekali dalam memberi kritik kepada presiden keempat Republik Indonesia tersebut. Jika kita menengok ke belakang, hal ini bisa dimaklumi.</p>
<p>Setelah mengalami pembatasan oleh orde baru, media diberi kebebasan ketika Habibie, yang menggantikan Soeharto sebagai presiden, dengan menggunakan UU Kebebasan Pers pada tahun 1999. Bisa membayangkan, bagaimana jika ada sesuatu yang lama di dalam sangkar tiba-tiba dibebaskan?</p>
<p>Begitulah, presiden-presiden di awal reformasi sangat gencar diserang oleh pers, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan ketika Orde Baru. Terutama Gus Dur yang seringkali dianggap kontroversial (seperti mengeluarkan dekrit untuk membubarkan DPR).</p>
<p>Gus Dur pun sering diterpa isu negatif, seperti Bulogate dan Bruneigate yang hingga kini tidak terbukti kebenarannya.</p>
<p>Ketika berganti presiden ke era Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, awak media masih berada di dalam semangat kebebasan pers, walaupun anginnya tak sekencang seperti ke arah Gus Dur. Perannya sebagai pilar keempat demokrasi bisa dibilang membaik jika dibandingkan ketika jaman Soeharto.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa sekarang media terkesan berbalik 180 derajat? Jika penulis melihat media-media baik online maupun televisi, mayoritas memberitakan berita yang baik-baik saja tentang pemerintah (semoga saja penulis salah).</p>
<p>Apakah memang pers sekarang sudah tidak kritis lagi? Apakah memang pers sekarang melindungi kepentingan pemerintah? Ataukah memang pemerintah tidak punya celah untuk dicela oleh pers?</p>
<p>Patutkah kita curiga terhadap pers akan seperti dulu lagi, hanya memberitakan kebaikan pemerintah dan menutup rapat-rapat kekurangannya? Patutkah kita curiga bahwa pers memprioritaskan kepentingan pemilik dibandingkan kebenaran? Patutkan kita curiga media dikuasai elit politik sehingga berita yang tayang adalah berita yang membuat mereka senang?</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/">http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mempengaruhi Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2018 16:52:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut. Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut.</p>
<p>Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain game adalah laki-laki. Kita ambil contoh lain, musik misalnya. Anak-anak Karang Taruna di kampung saya rata-rata mendengarkan lagu yang sama di <em>playlist </em>mereka, lagu-lagu kekinian yang bergenre <em>Electronic Dance Music </em>(EDM). Hanya ada satu dua anak yang berani keluar jalur alias anti <em>mainstream</em>.</p>
<p>Lalu, memang kenapa kalau generasi milenial ikut apa yang sedang menjadi <em>trend</em>?</p>
<p>Logikanya begini, generasi ini menjadi mudah terpengaruh untuk mengikuti arus. Karena hanya mengikuti arus, mereka akan menjadi kurang kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada. Jika tidak memiliki sifat kritis, maka mereka akan sangat mudah dipengaruhi, sehingga menggiring mereka untuk mempercayai suatu opini akan menjadi hal yang mudah.</p>
<p>Media apa yang paling berpotensi untuk menjadi penggiring opini ini? Jelas, segala bentuk hiburan mulai dari media sosial hingga film. Alasannya sederhana, karena manusia sekarang, tidak hanya generasi milenial, membutuhkan berbagai macam bentuk <em>entertain</em> untuk menghadapi penatnya hidup. Hanya saja, karena generasi milenial adalah generasi yang masih berada di usia yang masih rentan, mereka menjadi sasaran empuk propaganda.</p>
<p>Ambil saja contoh superhero-superhero Amerika. Mereka selalu digambarkan sebagai penyelamat dunia dari berbagai kejahatan yang dilakukan oleh musuh. Kenyataannya? Sudah berapa nyawa manusia tak berdosa yang direnggut oleh tentara-tentara Amerika di kawasan Timur Tengah. Sangat kontradiktif bukan?</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menetralisir kondisi ini, sikap kritis harus ditanamkan sejak dini. Sikap kritis ini dibutuhkan untuk menyaring segala macam informasi yang hadir di hadapan kita. Salah satu caranya adalah ikut organisasi sejak dini. Bisa OSIS di lingkungan sekolah, atau Karang Taruna di lingkungan rumah. Dengan demikian, opini kita tidak akan mudah digiring oleh propaganda-propaganda yang dilakukan pemilik kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Januari 2018, setelah minum STMJ bersama ayah dan adik</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html">https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
