TGB: Tersembunyi dari Media

TGB alias Tuan Guru Bajang hanyalah julukannya, karena di usianya yang muda sudah menjadi ulama besar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bajang sendiri memiliki arti muda, walaupun menurut beliau sekarang usianya sudah tidak lagi muda.

Nama asli beliau adalah Muhammad Zainul Majdi, atau jika dilengkapi dengan gelar menjadi Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A.

Beliau adalah gubernur NTB selama dua periode, mulai 2008 hingga 2018. Sebelum menjadi gubernur, TGB adalah anggota komisi X DPR RI periode 2004-2009 dari Partai Bulan Bintang. Ia diusung partai Demokrat ketika maju sebagai calon gubernur pada usia 36 tahun.

Pendidikan TGB

Gelar TGB sendiri bukan gelar sembarangan. Gelar tersebut menunjukkan bahwa ia adalah keturunan dari pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi Islam terbesar di NTB.

Dibesarkan dari lingkungan yang religius menjadikan TGB sosok yang santun. Beliau telah menjadi penghafal Al-Quran sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi dengan jurusan tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran di Al-Azhar Kairo, Mesir, hingga ke jenjang S3.

TGB dab Ustadz Abdul Somad (http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/01/14/ustadz-abdul-somad-berjumpa-tgb-netizen-dukung-untuk-maju-pilpres-2018)

Dari beberapa wawancara yang penulis lihat di internet, sangat kentara bahwa TGB adalah sosok yang cerdas. Pemilihan katanya menunjukkan kepandaiannya. Tidak perlu selembar kertas contekan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat.

Sebagai tambahan, TGB merupakan kakak tingkat ustad Abdul Somad di Kairo.

Apa Prestasi TGB?

Banyak sekali penghargaan yang telah diraih TGB ketika menjabat sebagai gubernur. Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat di Wikipedia.

Salah satu prestasi yang penulis ingat dari TGB adalah keberhasilannya menjadikan NTB sebagai Halal Tourism Destination.

 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 9.9%, meninggalkan jauh pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berkisar sekitar 5% dari 7% yang ditargetkan.

Dalam hal lapangan kerja, NTB berada di posisi 6 dari seluruh provinsi di Indonesia karena berhasil menekan angka pengangguran hingga 3.32%.

Membandingkan TGB dan Jokowi

Dengan sederet prestasi tersebut, layakkah TGB maju sebagai calon presiden maupun wakil presiden? Coba kita bandingkan dengan presiden yang sedang berkuasa sekarang.

Nama Jokowi melambung ketika dianggap berhasil memimpin kota Solo ketika menjabat sebagai walikota, yang dimulai pada tahun 2005. Bahkan di pilkada pada tahun 2010, perolehan suaranya mencapai 90% lebih.

Karena dianggap sukses, Jokowi diusung oleh partainya untuk mengikuti pemilihan gubernur di Jakarta dengan Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakilnya. Jabatan sebagai walikota pun ia lepas untuk melakukan kampanye di ibukota dan pada akhirnya berhasil memenangkan pilkada.

Jokowi Ketika Menjabat sebagai Walikota Solo (https://gozzip.id/img/78477/)

Belum genap dua tahun, Jokowi meninggalkan amanah sebagai gubernur Jakarta untuk maju sebagai calon presiden melawan Prabowo Subianto. Padahal, pada beberapa wawancara beliau mengatakan ingin fokus membenahi Jakarta, karena di Jakarta saja sudah pusing (sampai diulangi tiga kali oleh Jokowi).

Selama menjadi gubernur, Jokowi mengeluarkan berbagai macam kebijakan, seperti Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Selain itu banyak proyek infrastruktur yang dibangun, sama seperti kebijakannya ketika menjabat sebagai presiden sekarang.

Penulis belum menemukan data yang faktual seperti berapa pertumbuhan ekonomi di kota solo atau Jakarta. Mungkin ada yang bisa membantu memberi tahu data tersebut?

Tersembunyi dari Media?

Setelah melakukan perbandingan tersebut, muncul pertanyaan di benak penulis. Mengapa TGB, gubernur yang telah terbukti sukses membangun NTB, sepi dari pemberitaan?

Jika menengok ke belakang, berita-berita yang mengangkat nama Jokowi adalah kebijakan-kebijakan populis, seperti mobil Esemka. Penulis merasa media lebih banyak memberitakan bagaimana sosok Jokowi (sederhana, merakyat, hobi nge-vlog) daripada prestasi Jokowi, sejak dari Solo.

Apakah karena TGB berada jauh di Indonesia timur, sehingga tidak terlalu terekspos? Penulis rasa tidak, dengan adanya teknologi internet yang sudah memotong batas-batas teritori.

Tersembunyi dari Media? (http://aceh.tribunnews.com/2018/03/12/baret-tgb-aceh-dideklarasi-ini-keputusannya)

Mungkinkah karena TGB berpotensi untuk mengalahkan Jokowi di pilpres mendatang? Mungkin sudah banyak yang mengetahui fakta bahwa beberapa media sangat dekat dengan presiden (berapa ketua umum partai pendukung Jokowi merupakan bos media?).

Mungkinkah TGB dianggap belum berpengalaman untuk maju menjadi seorang presiden? Penulis rasa 10 tahun menjabat sebagai gubernur (dan berhasil) lebih berpengalaman daripada gubernur yang hanya menjabat selama satu tahun lebih beberapa bulan.

Elektabilitas TGB rendah, hanya nol sekian persen. Siapa yang membuat elektabilitas tersebut? Bagaimana bisa tinggi jika media minim menyampaikan sosok beliau di televisi? Lagipula, elektabilitas bukan harga mati untuk menjadi seorang presiden.

Jika dilihat dari YouTube maupun Instagram, banyak komentar yang mengharapkan TGB menjadi capres maupun cawapres. Testimoni dari warga NTB pun hampir semuanya positif, meskipun tidak bisa dipastikan yang memberi komentar benar-benar berasal dari NTB.

Selain itu, kedekatan TGB dengan banyak ulama bisa menjadi tambahan modal untuk menjadikan TGB untuk maju sebagai calon presiden.

Oleh karena itu, penulis masih belum menemukan alasan mengapa perlakuan media terhadap TGB berbeda dengan Jokowi.

Pasangan Ideal: Gatot-TGB?

Banyak yang mengharapkan munculnya pasangan Gatot Nurmantyo – Tuan Guru Bajang sebagai capres cawapres pada tahun 2019 mendatang. Masalahnya, siapa yang akan mengusung mereka?

Gatot merupakan jendral purnawirawan sehingga tidak memiliki partai politik. Sedangkan TGB merupakan kader demokrat, namun sikap partai Demokrat pun masih belum terlihat. Bahkan, sepertinya Demokrat lebih cenderung memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres/cawapres dari partai.

Gatot Nurmantyo (https://www.intelijen.co.id/presidential-threshold-20-jenderal-gatot-tuan-guru-bajang-masih-tetap-pasangan-potensial/)

Bagaimana dengan partai oposisi? Ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subianto, belum mendeklarasikan dirinya sebagai capres, meskipun kader-kader partai Gerindra mendukungnya. Partai-partai oposisi lainnya seperti PKS juga masih dalam posisi menunggu.

Peta politik pada pemilihan presiden tahun depan masih samar. Namun penulis percaya, rakyat Indonesia berharap mendapatkan pemimpin yang terbaik. TGB layak untuk menjadi salah satu pilihan masyarakat.

 

 

Lawang, 3 April 2018, terinspirasi dari minimnya pemberitaan tentang Tuan Guru Bajang

Sumber Foto: https://kicknews.today/2017/05/03/ditanya-mau-maju-di-pilpres-2019-ini-jawaban-tuan-guru-bajang/

Bahan Tulisan mengambil dari:

https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zainul_Majdi

https://www.merdeka.com/politik/mengenal-sosok-tuan-guru-bajang-dan-prestasinya-memimpin-ntb.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo#Wali_Kota_Surakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.