<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>membaca Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/membaca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/membaca/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Jun 2024 11:44:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>membaca Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/membaca/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 16:48:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.</p>



<p>Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.</p>



<p>Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup <em>tricky</em>, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">menjadi <em>privilige</em></a> untuk Penulis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7523" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-minan1398-694740.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/pile-of-assorted-novel-books-694740/">Min An</a></figcaption></figure>



<p>Tips pertama dan yang paling <em>basic </em>adalah <strong>memilih buku sesuai dengan topik yang digemari</strong>. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.</p>



<p>Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan <em>mood</em>-nya saat itu. </p>



<p>Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7528" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-4963708.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-woman-sitting-outdoors-and-reading-book-4963708/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk<strong> memilih buku yang ringan-ringan dulu saja</strong>, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.</p>



<p>Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Tere Liye</a> atau <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Andrea Hirata</a>. Jangan langsung baca novelnya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Leila S. Chudori</a>, nanti <em>shock </em>karena ceritanya yang berat dan <em>dark</em>.</p>



<p>Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku <em>Perang Eropa</em>-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7524" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-enzoelgalgo-2663851.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-holding-a-book-2663851/">Enzo Muñoz</a></figcaption></figure>



<p>Tips ketiga, <strong>mulai dari sedikit dulu saja</strong>. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.</p>



<p>Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.</p>



<p>Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7529" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-karolina-grabowska-7320383.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-woman-with-bangs-reading-a-book-while-her-hand-is-on-her-head-7320383/">Karolina Kaboompics</a></figcaption></figure>



<p>Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, <strong>jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku</strong>. </p>



<p>Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.</p>



<p>Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #5: Pinjam, Jangan Beli</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7525" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ivo-rainha-527110-1290141.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/assorted-books-on-shelf-1290141/">Ivo Rainha</a></figcaption></figure>



<p>Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah <strong>jangan membeli buku</strong>. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, &#8220;Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.&#8221; Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.</p>



<p>Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca. </p>



<p>Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam <em>deadline </em>kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya <em>deadline</em>, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7527" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-cottonbro-4866043.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-yellow-long-sleeve-shirt-lying-on-couch-4866043/">cottonbro studio</a></figcaption></figure>



<p>Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah <strong>membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin</strong>. Kalau membacanya <em>pewe</em>, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!</p>



<p>Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.</p>



<p>Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. <em>Playlist </em>lagu-lagu klasik atau <em>lo-fi </em>sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips #7: Jauhkan Smartphone</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7526" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/pexels-ozgur-844734.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-amazon-kindle-ebook-844734/">özgür</a></figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari <em>smartphone</em>-nya. </p>



<p>Oleh karena itu, tips terakhir, <strong>jauhkan <em>smartphone </em>ketika ingin membaca</strong>. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya <em>smartphone</em>-nya ditinggal saja di kamar. </p>



<p>Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari <em>smartphone </em>ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa <em>smartphone</em>. </p>



<p>Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di <em>smartphone</em>. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di <em>smartphone</em>, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.</p>



<p>Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.</p>



<p>Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> </em>kemarin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/books-in-black-wooden-book-shelf-159711/">Pixabay</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2018 10:12:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1506</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis tak pernah mengingkari bahwa dirinya adalah seorang kutu buku yang betah membaca selama berjam-jam, terutama jika bertemu dengan buku yang cocok. Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca buku-buku ilmu pengetahuan seperti seri Aku Ingin Tahu dan komik biografi tokoh-tokoh terkenal. Penulis juga suka membaca buku-buku tentang luar angkasa dan bumi, termasuk atlas dan menghafal ibukota negara. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis tak pernah mengingkari bahwa dirinya adalah seorang kutu buku yang betah membaca selama berjam-jam, terutama jika bertemu dengan buku yang cocok.</p>
<p>Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca buku-buku ilmu pengetahuan seperti seri <strong>Aku Ingin Tahu</strong> dan komik biografi tokoh-tokoh terkenal. Penulis juga suka membaca buku-buku tentang <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">luar angkasa</a> dan bumi, termasuk atlas dan menghafal ibukota negara.</p>
<p>Karena merasa mendapatkan banyak manfaat, penulis pun mendorong orang-orang di sekitar penulis untuk rajin membaca. Tak apa mulai dari yang ringan-ringan, asalkan mulai membiasakan diri untuk membaca.</p>
<p>Untuk lebih menyemangati para pembaca untuk membiasakan budaya membaca, penulis akan memberikan setidaknya lima manfaat yang didapat dengan membaca. Semua manfaat ini sudah penulis alami sendiri.</p>
<ol>
<li><strong>Memperluas Cakrawala Pengetahuan Kita</strong></li>
</ol>
<p>Apakah semua buku bisa menambah wawasan kita sebagai pembaca? Penulis rasa hampir semua genre buku memberikan manfaat dengan cara yang berbeda-beda.</p>
<p>Ambil contoh novel. Setidaknya, kita bisa mempelajari bagaimana penulisan cerita, pembuatan karakter tokoh dan menyusun alur cerita dari novel yang kita baca.</p>
<p><div id="attachment_1508" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1508" class="size-large wp-image-1508" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-1024x694.jpeg" alt="" width="1024" height="694" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-1024x694.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-300x203.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-768x521.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-356x241.jpeg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1508" class="wp-caption-text">via wearefuturegov.com</p></div></p>
<p>Penulis banyak mempelajari gaya penulisan penulis lain sebelum menulis novel karangan sendiri (<a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> dan <a href="http://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>). Inspirasi juga bisa datang dari novel-novel tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan buku non-fiksi? Jangan ditanya. Buku pengembangan diri, motivasi, hingga sejarah selalu memiliki poin-poin yang akan menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Dengan luasnya wawasan, kita pun menjadi punya topik pembicaraan untuk didiskusikan dengan orang lain.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Pemanfaatan Waktu yang Lebih Baik</strong></li>
</ol>
<p>Daripada <em>scroll </em>media sosial (medsos) terus menerus padahal sudah merasa bosan, mengapa tidak mengalokasikannya untuk membaca buku?</p>
<p><div id="attachment_1512" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1512" class="wp-image-1512 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1512" class="wp-caption-text">via martinamcgowan.com</p></div></p>
<p>Sesekali memang perlu melihat apa yang sedang ramai dibicarakan, dan medsos menyedikan informasi tersebut. Akan tetapi, coba dibandingkan, lebih banyak mana yang kita lihat ketika sedang berselancar di dunia nyata? Informasi penting atau receh?</p>
<p>Membaca buku penulis anggap sebagai aktivitas produktif dengan alasan-alasan yang penulis bahas di sini. Kecuali kita memiliki aktivitas lain yang tak kalah produktif, penulis sangat menyarankan untuk banyak-banyak membaca di kala senggang.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Meningkatkan Kemampuan Menulis</strong></li>
</ol>
<p>Mayoritas penulis buku kemungkinan besar juga memiliki hobi membaca. Karya orang lain yang ia baca mendorongnya untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p>Contoh kecilnya, ketika anggota <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Gen X SWI</a> membaca novel buatan penulis, mereka berkata jadi ingin ikut menulis cerita. Ya, walaupun nampaknya hal tersebut hanya menjadi wacana semata.</p>
<p><div id="attachment_1511" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1511" class="size-large wp-image-1511" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-1024x692.jpg" alt="" width="1024" height="692" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-1024x692.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-300x203.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-768x519.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-356x241.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis.jpg 1750w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1511" class="wp-caption-text">via thesaleslion.com</p></div></p>
<p>Kalau ingin melihat contoh dalam skala yang lebih besar, tengoklah para pendiri bangsa ini. Mulai Soekarno, Bung Hatta, hingga Tan Malaka merupakan kutu buku yang bisa menghasilkan banyak buku.</p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, membaca dapat merangsang otak kita untuk mempelajari bagaimana cara menulis yang baik dan dapat memikat pembaca.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Mengembangkan Daya Imajinasi</strong></li>
</ol>
<p>Apa perbedaan terbesar antara menonton film dan membaca buku? Orang yang menonton film akan menyaksikan imajinasi sang sutradara, sedangkan orang yang membaca buku akan menafsirkan apa yang ia baca sesuai dengan imajinasinya.</p>
<p><div id="attachment_1509" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1509" class="wp-image-1509 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1509" class="wp-caption-text">via trustmeilie.files.wordpress.com</p></div></p>
<p>Terbiasa berimajinasi tentu mengasah kemampuan kita melakukan hal yang sama. Lantas apa gunanya memiliki daya imajinasi yang luas?</p>
<p>Ia akan membuat kita menjadi insan yang kreatif. Menurut studi, imajinasi juga bisa meningkatkan kemampuan memori otak.</p>
<ol start="5">
<li><strong>Termotivasi</strong></li>
</ol>
<p>Ini yang paling sering penulis alami. Terkadang baru membaca judulnya saja sudah membuat penulis merasa bersemangat untuk segera melakukan hal-hal yang baik.</p>
<p><div id="attachment_1510" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1510" class="size-large wp-image-1510" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-1024x681.jpg" alt="" width="1024" height="681" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-1024x681.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-768x511.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1510" class="wp-caption-text">via rockmyrun.files.wordpress.com</p></div></p>
<p>Motivasi dalam diri itu seperti baterai pada <em>smartphone</em>, ia harus dicas agar kembali terisi penuh. Salah satu caranya adalah dengan membaca buku, terutama buku yang memberi banyak hal-hal bermanfaat seperti buku-buku pengembangan diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 20 Oktober 2018, terinspirasi setelah melihat manfaat dari membaca</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/k2Kcwkandwg?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Christin Hume</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/books?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
