<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perempuan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/perempuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/perempuan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:28:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Perempuan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/perempuan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Privilege Ala Kartini</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2021 13:25:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: hari Kartini. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia. Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: <strong>hari Kartini</strong>. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia.</p>



<p>Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. Menurut Penulis, Kartini bisa menjadi sedemikian ikonik berkat <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>privilege </em>yang ia miliki</a> sejak lahir. Kok bisa?</p>





<h2 class="wp-block-heading"><em>Privilege </em>Sejak Lahir</h2>



<p><em>Privilege </em>telah dimiliki oleh Kartini sejak lahir karena ia terlahir dari kalangan <em>priyayi </em>alias bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari <strong>Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat</strong>, yang setelah putrinya lahir diangkat mejnadi bupati Jepara.</p>



<p>Jejak darah biru bisa ditelusuri hingga <strong>Hamengkubuwana VI</strong>. Keluarga ibunya sendiri bukan keluarga bangsawan, sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan wanita bangsawan sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi seorang bupati.</p>



<p>Sebagai anak seorang bangsawan, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah di <strong>Europeesche Lagere School (ELS)</strong> walau hanya boleh sampai berusia 12 tahun. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan kebanyakan wanita pribumi saat itu.</p>



<p>Berhenti dari sekolah tidak membuat Kartini berhenti belajar. Secara otodidak ia belajar sendiri di rumah dan kerap menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia juga bisa mendapatkan buku-buku, koran, dan majalah Eropa (<em>another big privilege</em>).</p>



<p>Nah, dari sanalah Kartini mendapatkan pandangan betapa <strong>majunya cara berpikir wanita Eropa</strong> jika dibandingkan dengan wanita pribumi yang  kerapdipandang rendah. Muncullah keinginan Kartini untuk memajukan harkat wanita pribumi.</p>



<p>Wawasannya yang luas membuatnya mulai menulis dan dimuat dalam berbagai macam surat kabar seperti <em><strong>De Hollandsche Lelie</strong></em>. Kartini sering menulis seputar permasalahan emansipasi wanita, walau terkadang ia membahasi isu sosial lainnya.</p>



<p>Bahkan setelah menikah, ia tetap melakukan perjuangannya. Sang suami yang seorang bupati Rembang memberikan kebebasan dan mendukung Kartini yang ingin mendirikan sekolah wanita di dekat kantor bupati.</p>



<p>Sayangnya, Kartini tidak berumur panjang. Hanya beberapa hari setelah melahirkan anaknya yang pertama, ia harus menghembuskan napas terakhir ketika berusia relatif muda, 25 tahun.</p>



<p>Meskipun begitu, peninggalannya meninggalkan jejak yang luar biasa. Ide-ide yang tertuang di suratnya begitu revolusioner dan dianggap melampaui zamannya. </p>



<p>Surat-surat Kartini diterbitkan di Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul <em><strong>Habis Gelap Terbitlah Terang</strong></em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memanfaatkan <em>Privilege </em>dengan Benar</h2>



<p>Memang benar jika Kartini bisa berpikiran seperti ini karena memilki <em>privilege</em>. Hanya saja, Kartini bisa <strong>menggunakan <em>privilege </em>yang dimiliki dengan benar dan tepat</strong>. Ia <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">tidak memanfaatkan <em>privilege </em>untuk dirinya semata</a>, melainkan untuk kesejahteraan semua wanita pribumi di Indonesia.</p>



<p>Di era ketika Kartini hidup, ada berapa banyak wanita yang lahir dari keluarga bangsawan? Penulis tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi Penulis yakin jika jumlahnya cukup banyak. Apalagi, para bangsawan kerap memiliki istri lebih dari satu (Kartini sendiri merupakan istri ketiga).</p>



<p>Dari banyaknya wanita yang memiliki <em>privilege </em>tersebut, mengapa hanya Kartini yang terlihat berusaha memperjuangkan untuk mengangkat harkat martabat wanita pribumi? Mungkin ada, tapi tidak sebesar Kartini atau memang tidak terdokumentasi dalam sejarah.</p>



<p>Kartini sendiri bukan satu-satunya wanita hebat di masa perjuangan kemerdekaan. Ada nama seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Ada beberapa pihak yang protes, kenapa hanya Kartini saja yang diistimewakan.</p>



<p>Hanya saja, Kartini memang populer atas pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi wanita yang kerap diabaikan pada masa itu. <strong>Tidak banyak wanita dapat memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki seperti yang dilakukan oleh Kartini.</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 21 April 2021, terinspirasi karena hari ini hari Kartini</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://jatim.tribunnews.com/2020/04/21/kumpulan-44-quotes-hari-kartini-dalam-bahasa-inggris-dan-indonesia-untuk-peringati-emansipasi-wanita?page=3">Tribun Jatim &#8211; Tribunnews.com</a></p>



<p>Sumber Artikel: <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini">Kartini &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia</a>, <a href="https://voi.id/memori/5008/tidak-banyak-orang-yang-mampu-memanfaatkan-hak-istimewanya-sehebat-kartini">Tidak Banyak Orang yang Mampu Memanfaatkan Hak Istimewanya Sehebat Kartini (voi.id)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/">Privilege Ala Kartini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/privilege-ala-kartini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wanita 2D vs Wanita 3D</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/wanita-2d-vs-wanita-3d/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Nov 2019 05:25:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[bias]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[waifu]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3105</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bekerja di tempat yang sekarang membuat penulis banyak berkecimpung di dunia yang berbau anime dan Korea. Tak jarang muncul diskusi antar rekan kantor untuk mendiskusikan hal-hal seputar dua bidang tersebut. Untungnya penulis memiliki &#8220;pengalaman&#8221; di kedua hal tersebut, sehingga tidak menemukan kesulitan yang berarti saat mengerjakan artikel. Oleh karena itu, sekarang penulis tertarik untuk menulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/wanita-2d-vs-wanita-3d/">Wanita 2D vs Wanita 3D</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bekerja di tempat yang sekarang membuat penulis banyak berkecimpung di dunia yang berbau anime dan Korea. Tak jarang muncul diskusi antar rekan kantor untuk mendiskusikan hal-hal seputar dua bidang tersebut.</p>
<p>Untungnya penulis memiliki &#8220;pengalaman&#8221; di kedua hal tersebut, sehingga tidak menemukan kesulitan yang berarti saat mengerjakan artikel.</p>
<p>Oleh karena itu, sekarang penulis tertarik untuk menulis tentang wanita 2D versus wanita 3D atau lebih tepatnya, <em><strong>waifu vs bias</strong></em>.</p>
<h3><em>Waifu </em>vs<em> Bias</em></h3>
<p><div id="attachment_3108" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3108" class="size-large wp-image-3108" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3108" class="wp-caption-text">Lisa dan Hinata</p></div></p>
<p>Istilah <strong><em>waifu</em></strong> merujuk kepada karakter anime perempuan (kalau laki-laki disebut <em>husbando</em>) yang dijadikan sebagai pasangan fantasinya. Misalnya ada yang menjadikan Hinata Hyuuga dari Naruto sebagai <em>waifu</em>-nya.</p>
<p>Di sisi lain, <strong><em>bias</em></strong> menurut sepengetahuan penulis merupakan pilihan idola dari banyaknya member sebuah <em>girlband </em>ataupun <em>boyband</em> yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan.</p>
<p>Perannya pun macam-macam. Ada yang menjadikannya sebagai <em>oppa </em>atau <em>unnie </em>tersayang, ada juga yang menjadikannya sebagai pacar imajinasi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Berdasarkan hasil pengamatan penulis, kedua kubu antara penyuka anime dan K-Pop saling tidak menyukai, bahkan cenderung saling meremehkan. Padahal, penulis menemukan beberapa persamaan antara <em>waifu</em> dan <em>bias</em> ini.</p>
<h3>Persamaan <em>Waifu dan Bias</em></h3>
<p>Pertama, <strong>mereka sama-sama tidak mungkin dimiliki oleh kita</strong>. Yang <em>waifu </em>berada di dunia dua dimensi, yang satu ada di negeri seberang. Walaupun mereka datang ke Indonesia, tetap saja mereka tak akan menyadari eksistensi kita.</p>
<p>Kedua, <strong>mereka sama-sama berbentuk nyaris sempurna seolah tanpa celah</strong>. Baik <em>waifu </em>ataupun <em>bias</em>, pasti akan memiliki kecantikan di atas rata-rata atau sifat yang terlihat sempurna.</p>
<p>Ketiga, <strong>penggemarnya bisa ngamuk kalau sampai <em>waifu/bias</em>-nya dilecehkan</strong>. Mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk membela harga diri dari <em>waifu/bias</em>-nya.</p>
<p><em>Tapi kan bias manusia asli, beda sama waifu yang cuma kartun gambaran tangan!</em></p>
<p>Menurut penulis, sebenarnya itu hanya masalah selera saja. Ada yang lebih suka dengan manusia sungguhan, ada yang lebih terobsesi dengan karakter anime. Seharusnya, tidak boleh langsung dijustifikasi seperti itu.</p>
<h3>Kenapa Punya <em>Waifu/Bias</em>?</h3>
<p><div id="attachment_3110" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3110" class="size-large wp-image-3110" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-3-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-3-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-3-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-3-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-3.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3110" class="wp-caption-text">Terobsesi Secara Berlebihan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.pinterest.com/pin/111534528251061815/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi3ofaMy__lAhXGdCsKHSXSASUQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pinterest</span></a>)</p></div></p>
<p>Baik memilih untuk memiliki <em>waifu </em>ataupun <em>bias</em> sebenarnya tidak masalah. Penulis memandangnya seperti kita mengidolakan seseorang. Hanya saja jika sampai taraf yang menakutkan, tentu tidak baik untuk kehidupan kita.</p>
<p>Dari beberapa sumber yang penulis baca dan tonton, alasan yang paling kuat kenapa orang terobsesi secara berlebihan dengan <em>waifu/bias</em>-nya adalah karena memiliki permasalahan di kehidupan nyata.</p>
<p>Penulis pernah membuat artikel di tempat kerja mengenai apa yang membuat para <em>wibu </em>lebih memilih karakter dua dimensi. Ketika riset, penulis menemukan fakta bahwa mereka menganggap wanita asli sebagai makhluk yang mengerikan.</p>
<p>Mereka juga membandingkan kondisi fisik karakter anime yang dianggap sempurna jika dibandingkan dengan manusia sungguhan. Penemuan ini cukup mencengangkan bagi penulis.</p>
<p>Di sisi lain, orang-orang yang terobsesi dengan <em>bias-</em>nya secara berlebihan menganggap <em>oppa-</em>nya tidak akan pernah menyakiti perasaan mereka.</p>
<p>Mungkin mereka pernah disakiti oleh pasangannya di dunia nyata, sehingga merasa trauma dan melarikan diri ke idolanya. <em>Oppa-oppa </em>tersebut memang tidak akan menyakiti kita, <em>mong</em> tahu kita hidup di dunia ini aja enggak.</p>
<p>Orang yang terobsesi dengan karakter anime sering dianggap tidak normal. Menurut penulis, yang tidak normal adalah <strong>terobsesi berlebihan kepada apapun hingga memengaruhi perilakunya sehari-hari</strong>.</p>
<p>Terkadang ada yang bisa menikmati keduanya seperti penulis, tapi rasanya jumlahnya tidak terlalu banyak. Lebih banyak yang memilih salah satu. Lebih banyak lagi yang tidak memilih keduanya.</p>
<h3>Siapa <em>Waifu/Bias</em> Penulis?</h3>
<p><div id="attachment_3109" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3109" class="size-large wp-image-3109" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/wanita-2d-vs-wanita-3d-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3109" class="wp-caption-text">Dari Kiri: Kosaki Onodera, Mio Akiyama, Jessica Jung</p></div></p>
<p>Jika disuruh memilih, penulis akan memilih wanita sungguhan yang bisa hadir menemani hari-hari kita. Pasti akan ada momen saling menyakiti, namun itu pasti terjadi di dalam sebuah hubungan antar manusia.</p>
<p>Tapi jika disuruh menyebutkan siapa <em>waifu</em> atau <em>bias</em>-nya, penulis juga sudah menyiapkan jawabannya.</p>
<p>Untuk <em>waifu</em>, penulis suka dengan sifat yang kalem, dewasa, baik hati, ceria, sedikit pemalu, dan penuh dengan energi positif.  Sifat-sifat tersebut dimiliki oleh <strong>Kosaki Onodera</strong> dari anime Nisekoi dan <strong>Mio Akiyama</strong> dari anime K-On!</p>
<p>Bagaimana dengan <strong>Rikka Takanashi </strong>yang sering disebut di blog ini? Penulis suka dengan sifatnya yang polos, ceria, penuh energi dan fantasi, tapi merasa kurang <em>srek</em> dengan sifat kekanakan yang ia miliki.</p>
<p>Bagaimana dengan <em>bias</em>? Seperti pada tulisan sebelumnya, penulis akan memilih <strong><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jessica-oh-jessica/">Jessica Jung</a> </strong>mantan personil Girls&#8217; Generation yang tinggal menunggu waktu unuk bubar seutuhnya.</p>
<p>Memang sedikit kontradiktif, mengingat sifat-sifat Jessica (setidaknya yang terlihat dari berbagai videonya) cukup berbeda dengan kritera <em>waifu </em>penulis. Entah mengapa bisa seperti itu.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis tekankan sekali lagi, <strong>tidak ada yang salah jika ingin punya <em>waifu </em>ataupun <em>bias</em></strong>. Yang salah itu jika terlalu terobsesi dengan mereka secara berlebihan hingga mengganggu interaksi sosial kita di dunia nyata.</p>
<p>Kita punya hak untuk menyukai apapun, namun perlu diingat kalau kita tidak hidup sendirian di dunia ini dan tidak akan pernah bisa hidup sendirian.</p>
<p>Jangan sampai kita tenggelam ke dalam obsesi berlebihan terhadap <em>waifu/bias </em>yang ujung-ujungnya malah merugikan diri kita sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 23 November 2019, terinspirasi dari perdebatan mana yang lebih baik antara wanita 2D dan 3D</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwi4vuqQvPzlAhVLKo8KHZkKDw8QjB16BAgBEAM&amp;url=http%3A%2F%2Fru.fanpop.com%2Fclubs%2Fmio-akiyama%2Fimages%2F16562095%2Ftitle%2Fmio-akiyama-screencap&amp;psig=AOvVaw1s4KWD8bCbUHyvPotHZwwL&amp;ust=1574465752521775">Fanpop</a> &amp; <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiTjozSvPzlAhWCeisKHe6LA0UQjB16BAgBEAM&amp;url=http%3A%2F%2Fadmdub.ru%2F24846-snsd-jessica-jung-wallpaper.html&amp;psig=AOvVaw1d4Uf8HtspsBcdNSxlUn9i&amp;ust=1574465889774878">Wallpapers and backgrounds</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/wanita-2d-vs-wanita-3d/">Wanita 2D vs Wanita 3D</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbiasa dengan Standar Ganda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Nov 2019 14:58:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[standar ganda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3058</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah standar ganda. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek. Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan? Standar Ganda Dalam Politik Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah <strong>standar ganda</strong>. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan?</p>
<h3>Standar Ganda Dalam Politik</h3>
<p>Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap terjadi di ranah politik. Kita menjadi <a href="https://whathefan.com/politik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">condong untuk melihat siapanya, bukan apanya</a>. Subyeknya, bukan obyeknya.</p>
<p>Contohnya, politisi A yang baru membangun sebuah jembatan dianggap sebagai pencitraan semata. Di sisi lain ketika ada politisi B melakukan hal yang sama, ia dipuja-puja dan dianggap sebagai bapak pembangunan.</p>
<p>Sama seperti ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/politik/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a></em>, penulis melihat banyak dari kita hanya melihat yang ingin dilihat.</p>
<p>Ketika ada sesuatu yang tidak ingin dilihat, maka mereka akan pura-pura tidak melihat. Inilah yang semakin memperkuat bahwa standar ganda mengaburkan perspektif kita dalam menilai sesuatu secara obyektif</p>
<p>Tidak hanya di dunia politik, dalam kehidupan sehari-hari pun bisa seperti itu, terutama dalam konsep laki-laki dan perempuan. Pertanyaannya, kenapa bisa seperti itu?</p>
<h3>Terbiasa dengan Standar Ganda</h3>
<p>Penulis termasuk orang yang tidak begitu paham dengan konsep feminisme. Penulis tidak memahami kesetaraan seperti apa yang didambakan oleh para kaum feminis. Kesetaraan secara total? Kesetaraan dipandang dalam lingkup sosial?</p>
<p>Mungkin terdengar kolot dan kuno, tapi penulis selalu melihat laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berbeda dengan kualitas dan kelebihan masing-masing. Lantas, mengapa harus dibuat sama?</p>
<p>Nah, konsep laki-laki dan perempuan inilah yang sering dijadikan contoh sebagai standar ganda. Contoh paling sederhana adalah menangis. Perempuan dianggap biasa jika meneteskan air mata, tapi laki-laki akan diejek cengeng jika melakukannya.</p>
<p>Contoh lain adalah karakter kepemimpinan. Dari beberapa literatur yang penulis baca, laki-laki yang memiliki jiwa kepemimpinan dianggap sebagai orang yang hebat dan bisa menjadi teladan.</p>
<p>Sedihnya, kalau perempuan yang memilikinya sering dianggap sebagai sifat <em>bossy </em>dan agresif. Mungkin jenis kesetaraan seperti inilah yang dituntut oleh mereka.</p>
<p>Di Indonesia, hal-hal seperti contoh di atas sering terjadi. Mungkin, karena masyarakat kita masih banyak terpatok dengan norma-norma tradisional yang sudah lama melekat hingga mendarah daging.</p>
<p>Inilah yang menurut menjadi salah satu penyebab mengapa kita terlihat terbiasa dengan standar ganda, bahkan hingga melebar ke aspek-aspek lain dalam kehidupan.</p>
<h3>Bisakah Lepas dari Standar Ganda?</h3>
<p>Penulis meyakini bahwa masyarakat Barat pun belum tentu bisa lepas dari standar ganda secara utuh. Memandang sesuatu secara subyektif bagi penulis adalah hal yang sangat manusiawi.</p>
<p>Dua hal yang paling susah dilepaskan dari standar ganda menurut penulis adalah dua hal di atas, yakni di dunia politik dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Banyak masyarakat kita (mungkin termasuk penulis) yang memiliki <a href="https://whathefan.com/politik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme membabi buta</a> kepada suatu tokoh politik. Akibatnya, kita susah untuk bersikap obyektif atas apa yang mereka kerjakan.</p>
<p>Untuk masalah kesetaraan gender lebih pelik lagi. Kita besar di lingkungan dengan berbagai standar tentang laki-laki dan perempuan, sehingga makin susah untuk melepaskan standar ganda yang sudah terpatri.</p>
<p>Akan tetapi bagi penulis sendiri, adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan justru menjadi bukti nyata bahwa kita harus saling melengkapi. Mungkin ada stigma yang harus dihilangkan, tapi tidak semuanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya tak perlu contoh yang terlalu berat untuk menunjukkan kita hidup di lingkungan yang penuh dengan standar ganda. Banyak hal remeh yang bisa menjadi bukti nyata.</p>
<p>Laki-laki yang gemar menonton drama Korea dianggap cengeng. Perempuan yang suka mendengarkan musik rock dianggap aneh. Padahal, kita semua memiliki hak untuk bisa memilih apa yang kita sukai. Jadi, untuk apa kita menjustifikasi orang lain?</p>
<p>Tulisan ini bukan penulis gunakan untuk mendeklarasikan bahwa dirinya terlepas dari yang namanya standar ganda. Penulis pun masih sering melakukannya sampai sekarang.</p>
<p>Memang sulit untuk selalu obyektif, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir kesubyekan kita ketika memandang sesuatu. Mungkin sampai kapan pun, standar ganda akan tetap dan selalu terjadi di sekitar kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 November 2019, terinspirasi dengan banyaknya temuan terkait standar ganda di sekitar penulis</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@magda-ehlers-pexels">Magda Ehlers</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Muka Tipis vs Muka Tebal</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/muka-tipis-vs-muka-tebal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jun 2019 04:27:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[muka]]></category>
		<category><![CDATA[muka tebal]]></category>
		<category><![CDATA[muka tipis]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[wajah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2442</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menentukan definisi muka tipis vs muka tebal ini telah lama menjadi polemik di kantor penulis. Susahnya menjelaskan apa yang penulis maksud secara verbal membuat penulis memutuskan untuk menjabarkannya secara rinci pada tulisan ini. Meskipun begitu, penulis sempat kebingungan untuk menentukan kategori tulisan ini. Setelah ditimbang-timbang, penulis memutuskan untuk memasukkannya ke dalam kategori Karakter. Maksudnya, karakter [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/muka-tipis-vs-muka-tebal/">Muka Tipis vs Muka Tebal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menentukan definisi <strong>muka tipis</strong> vs <strong>muka tebal</strong> ini telah lama menjadi polemik di kantor penulis. Susahnya menjelaskan apa yang penulis maksud secara verbal membuat penulis memutuskan untuk menjabarkannya secara rinci pada tulisan ini.</p>
<p>Meskipun begitu, penulis sempat kebingungan untuk menentukan kategori tulisan ini. Setelah ditimbang-timbang, penulis memutuskan untuk memasukkannya ke dalam <a href="https://whathefan.com/category/karakter/">kategori Karakter</a>. Maksudnya, karakter wajah gitu.</p>
<p>Penulis akan banyak membicarakan fisik seseorang di sini, dan penulis sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan penghinaan.</p>
<h3>Asal Mula Istilah Ini</h3>
<p>Sebenarnya, lawan dari muka tipis adalah <strong>muka pekat</strong>, karena muka tebal sudah identik sebagai idiom untuk menggambarkan orang yang tidak punya malu. Akan tetapi, karena sudah terlanjur maka biarlah penulis menggunakan istilah ini.</p>
<p>Awalnya, penulis mengetahui istilah ini ketika menonton kanal YouTube <strong>Nihonggo Mantappu </strong>yang sedang merekam reaksi orang-orang Jepang terhadap beberapa <em>public figure </em>Indonesia.</p>
<p>Nah, sesekali mereka memberi reaksi dengan mengatakan &#8220;wajahnya pekat banget ya&#8221; dalam bahasa Jepang. Penulis merasa bahwa komentar mereka tersebut sebenarnya sering penulis gunakan juga secara tidak sadar.</p>
<p>Untuk yang penasaran dengan videonya, mungkin bisa tonton videonya secara langsung di bawah ini:</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/XG4QxRstGFw" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<h3>Muka Tipis vs Muka Tebal</h3>
<p>Penulis akan menjelaskan dulu tentang muka tipis. Karena penulis merupakan seorang laki-laki, maka penulis akan menggunakan wanita sebagai contohnya.</p>
<p>Dalam pemahaman penulis, wanita-wanita Asia timur seperti Jepang, Korea, hingga Cina pada umumnya bermuka tipis. Hal ini dicirikan dengan kecilnya ukuran mata, hidung, dan mulut. Di gambar <em>banner</em>, penulis mencontohkan Jessica Jung.</p>
<p><div id="attachment_2444" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2444" class="size-large wp-image-2444" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2444" class="wp-caption-text">Jessica Jung (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.vogue.com/article/jessica-jung-denim-rules-k-pop-star-blanc-and-eclare" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiag8zujO3iAhUaT48KHYOHCjcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Vogue</span></a>)</p></div></p>
<p>Sebaliknya, wanita bermuka tebal memiliki mata yang cukup besar dan bibir yang cukup tebal. Wanita-wanita India, Arab, hingga Amerika Latin adalah contoh mudahnya.</p>
<p>Jika dilihat secara saksama, &#8220;kepekatan wajahnya&#8221; akan terasa. Di sini, penulis mencontohkan <strong>Isabela Moner</strong>, pemeran karakter Dora.</p>
<p><div id="attachment_2445" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2445" class="size-large wp-image-2445" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2445" class="wp-caption-text">Isabela Moner (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://wap.mi.baca.co.id/21099471?origin=relative&amp;pageId=b9a3f487-7140-4c16-8461-1c7e0e3991de&amp;PageIndex=2" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjes4Tbje3iAhWIKY8KHcBWA2oQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">BACA</span></a>)</p></div></p>
<p>Nah, bagaimana dengan wanita-wanita di negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris Raya? Tidak seperti negara-negara Asia, orang-orang kulit putih tersebut sudah bercampur aduk sehingga ada yang masuk ke dalam muka tipis maupun tebal.</p>
<p><strong>Anna Hattheway </strong>dan <strong>Elizabeth Olsen</strong><strong> </strong>menurut penulis bermuka tebal, sedangkan <strong>Keira Knightley</strong> dan<strong> Gal Gadot</strong><strong> </strong>bermuka tipis. Harap diingat, ini semua hanya persepsi penulis sehingga jika pembaca tidak sependapat sangat dipersilahkan.</p>
<p>Bagaimana dengan wanita Indonesia? Sama saja, ada yang termasuk ke dalam muka tipis ada yang muka tebal. <strong>Melodi</strong> eks-JKT48 termasuk muka tipis, sedangkan <strong>Nabilla</strong> eks-JKT48 termasuk muka tebal.</p>
<p>Sebagai tambahan, <strong>Chelsea Islan</strong> menurut penulis bermuka tipis, bagaimana dengan pembaca sekalian?</p>
<p><div id="attachment_2446" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2446" class="size-large wp-image-2446" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2446" class="wp-caption-text">Chelsea Islan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.buset-online.com/chelsea-islan-selalu-menantang-diri/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjtw_7qj-3iAhUJqo8KHW0dBtAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">BUSET Indonesian Magazine in Australia</span></a>)</p></div></p>
<h3>Muka Hybrid</h3>
<p>Tentu penulis tidak bisa membaginya hanya secara bipolar seperti itu. Selalu ada jalan tengah, dan penulis memberikan istilah <strong>muka hybrid</strong>, kombinasi antara keduanya atau yang susah dikategorikan bertipe tipis atau tebal.</p>
<p>Contohnya adalah <strong>Emilia Clarke</strong>. Ia memiliki mata yang kecil sehingga ketika tersenyum -hal yang sangat sering ia lakukan- matanya terlihat seperti mata orang-orang Asia, tapi senyumnya sangat lebar (dan sangat menyenangkan untuk dilihat)</p>
<p><div id="attachment_2447" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2447" class="size-large wp-image-2447" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2447" class="wp-caption-text">Emilia Clarke (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://popcarpet.com/videos/p-emilia-clarke-officially-joins-star-wars-franchise" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi5svLnkO3iAhVTk3AKHbw2DZkQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pop Carpet</span></a>)</p></div></p>
<p>Artis Indonesia tentu juga banyak yang masuk ke dalam kategori ini. Salah satu penyanyi favorit penulis, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/"><strong>Isyana Sarasvati</strong></a>, adalah salah satu artis yang bagi penulis sangat susah untuk ditentukan masuk ke dalam kategori mana.</p>
<p><div id="attachment_2448" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2448" class="size-large wp-image-2448" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-5-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-5-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-5-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-5-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/muka-tipis-vs-muka-tebal-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2448" class="wp-caption-text">Isyana Sarasvati (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://beritagar.id/artikel/bincang/isyana-sarasvati-prinsip-hukum-10-ribu-jam-sang-introvert" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwim3s7hku3iAhUOi3AKHWlBAzYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div></p>
<p>Ada contoh lain wanita-wanita bertipe muka <em>hybrid</em>? Pasti banyak, penulis yakin itu.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Jika ditanya lebih suka yang mana, penulis akan menjawab wanita bermuka tipis. Meskipun begitu, jika ditakdirkan untuk berjodoh dengan wanita bermuka tebal, mengapa tidak?</p>
<p>Sedikit keluar dari topik, sebenarnya hal pertama yang penulis lihat dari seorang wanita adalah alisnya. Penulis menyukai wanita beralis (asli) tebal seperti yang dimiliki oleh Isyana.</p>
<p>Dengan tulisan ini, penulis berharap polemik dalam menentukan definisi <strong>muka tipis vs muka tebal</strong> bisa diakhiri. Walaupun, nampaknya hal ini akan masih menjadi perdebatan panjang ketika makan siang bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juni 2019, terinspirasi dari perdebatan yang terjadi antara teman-teman kantor</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/muka-tipis-vs-muka-tebal/">Muka Tipis vs Muka Tebal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2018 09:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Chizuru Hishiro]]></category>
		<category><![CDATA[datar]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Mashiro Shiine]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritsu Kawai]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika melihat perempuan yang jarang menunjukkan ekspresinya di hadapan umum, apa yang muncul pada benak kita? Kalau penulis akan merasa penasaran, apa kira-kira yang menyebabkan ia begitu datar. Biasanya, wanita-wanita seperti itu identik dengan beberapa karakteristik lainnya seperti pemurung, cenderung penyendiri, susah menjalin hubungan dengan orang lain. Hal tersebut tentu menimbulkan empati padahati penulis. Rasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/">Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika melihat perempuan yang jarang menunjukkan ekspresinya di hadapan umum, apa yang muncul pada benak kita? Kalau penulis akan merasa penasaran, apa kira-kira yang menyebabkan ia begitu datar.</p>
<p>Biasanya, wanita-wanita seperti itu identik dengan beberapa karakteristik lainnya seperti pemurung, cenderung penyendiri, susah menjalin hubungan dengan orang lain.</p>
<p>Hal tersebut tentu menimbulkan empati padahati penulis. Rasanya ingin membantu mereka untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi, walaupun mereka tidak pernah memintanya.</p>
<p>Penulis bukannya menyukai wanita yang kurang ekspresif. Jika disuruh memilih, penulis akan memilih wanita yang ceria dengan sedikit <a href="http://whathefan.com/animekomik/daya-tarik-wanita-pemalu/">sifat pemalu</a> untuk mengimbangi sifat penulis yang kerap kali terlalu serius.</p>
<p>Karena susah untuk mencari contoh wanita dalam dunia nyata, penulis akan mengambil contoh dari dunia yang tak nyata.</p>
<p><strong>Mashiro Shiina (Sakurasou no Pet na Kanojo)</strong></p>
<p><span style="font-size: 16px;">Yang pertama ada </span><strong style="font-size: 16px;">Mashiro Shiina</strong><span style="font-size: 16px;"> dari anime </span><strong style="font-size: 16px;">Sakurasou no Pet na Kanojo</strong><span style="font-size: 16px;"> yang menceritakan tentang kehidupan suatu asrama. Pada asrama tersebut, tinggal beberapa orang yang bisa dibilang unik, termasuk Shiina sendiri.</span></p>
<p><div id="attachment_1549" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1549" class="wp-image-1549 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1549" class="wp-caption-text">via hdqwalls.com</p></div></p>
<p>Ia adalah seorang seniman lukis yang sedang belajar untuk membuat manga, alasan mengapa ia pindah dari Inggris ke Jepang. Sayang, selain bakat melukisnya, ia bisa dibilang tidak bisa berbuat apa-apa termasuk mengurus dirinya sendiri.</p>
<p>Shiina lebih sering terlihat tanpa muncul sedikitpun ekpresi pada paras cantiknya tersebut. Ia dianggap eksentrik, mungkin karena jiwa seni yang mengalir pada tubuhnya.</p>
<p>Meskipun begitu, Shiina tetap mempedulikan teman-temannya yang sudah memberinya perhatian. Terkadang, memang hanya itu yang dibutuhkan oleh orang-orang yang kurang ekspresif.</p>
<p><strong>Chizuru Hishiro (ReLIFE)</strong></p>
<p>Selanjutnya adalah salah satu subyek <strong>ReLIFE</strong> yang harus menjalani tahun keduanya, <strong>Chizuru Hishiro</strong>. Pengulangan terjadi karena pada tahun pertamanya ia dianggap gagal karena ia tetap susah berinteraksi dengan orang lain.</p>
<p><div id="attachment_1550" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1550" class="size-large wp-image-1550" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1550" class="wp-caption-text">via coub.com</p></div></p>
<p>Untunglah pada tahun keduanya, ia bertemu dengan Kaizaki Arata yang sangat membantunya untuk menjalin hubungan dengan teman-teman lainnya.</p>
<p>Kaizaki mengajari Hishiro bagaimana cara tersenyum, bagaimana cara menolong teman, dan lain sebagainya. Kaizaki benar-benar membantunya agar berhasil pada masa <a href="http://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/">ReLIFE</a> yang keduanya.</p>
<p>Berawal dari sanalah, Hishiro yang kerap tidak berekspresi perlahan-lahan mulai bisa tersenyum secara natural. Bahkan, pada akhirnya ikatan yang ia buat dengan Kaizaki tidak bisa dihilangkan oleh pengaruh obat sekalipun.</p>
<p><strong>Ritsu Kawai (Bokura wa Minna Kawai-sou)</strong></p>
<p>Wanita terakhir yang sering terlihat memasang wajah datar adalah <strong>Ritsu Kawai </strong>dari anime <strong>Bokura wa Minna Kawai-sou</strong>. Hampir mirip seperti Sakurasou, anime ini menceritakan tentang kehidupan sebuah kos-kosan.</p>
<p><div id="attachment_1551" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1551" class="size-large wp-image-1551" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1551" class="wp-caption-text">via alpha.wallhaven.cc</p></div></p>
<p>Kawai adalah seorang <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">kutu buku</a> yang tidak memiliki teman. Ia lebih memilih untuk berkutat dengan kalimat demi kalimat dari buku yang tengah ia baca. Bahkan ia membaca sepanjang perjalanannya ke sekolah.</p>
<p>Sampai suatu ketika, terdapat seorang laki-laki bernama Kazunari Usa yang menaruh hati padanya dan tanpa sengaja berada satu kos dengannya.</p>
<p>Walaupun sering diacuhkan, Usa tidak lelah berjuang untuk mendapatkan perhatian dari Kawai. Sama seperti pada kasus di anime ReLIFE, Usa membantu Kawai agar bisa lebih berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Lama-kelamaan, wajahnya mulai sering mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya, termasuk tersipu malu ketika terjadi sesuatu antara dirinya dan Usa.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Tentu tidak semua wanita yang tidak berekspresi seperti itu. Ada juga wanita yang sengaja tidak menunjukkannya untuk menyembunyikan isi hatinya atau memang sudah pembawaannya.</p>
<p>Yang jelas, seorang laki-laki sejati harus bisa menerbitkan senyum untuk semua perempuan, termasuk yang jarang berekspresi sekalipun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, terinspirasi setelah menamatkan anime Bokura wa Minna Kawai-sou</p>
<p>Foto: <a href="http://wall.alphacoders.com">wall.alphacoders.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/">Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Jadi Pengemis Cinta</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2018 13:53:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bedah lagu]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[Jhonny Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1020</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku bukan pengemis cinta  Yang slalu harus mengalah  Bila diputuskan cinta  Dari sang kekasih  Jika pembaca membaca tulisan tersebut sembari bernyanyi, maka selamat, Anda sama tuanya dengan saya. Lagu dangdut legendaris dari Jhonny Iskandar yang melengking di bagian cintanya tersebut memang sangat familier di telinga kita. Kita dapat merasakan bahwa pada lagu ini, sang penyanyi menolak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/">Jangan Jadi Pengemis Cinta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><span id="line_1" class="lirik_line">Aku bukan pengemis cinta </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_2" class="lirik_line">Yang slalu harus mengalah </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_3" class="lirik_line">Bila diputuskan cinta </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_4" class="lirik_line">Dari sang kekasih </span></em></p>
<p>Jika pembaca membaca tulisan tersebut sembari bernyanyi, maka selamat, Anda sama tuanya dengan saya. Lagu dangdut legendaris dari Jhonny Iskandar yang melengking di bagian <em>cinta</em>nya tersebut memang sangat familier di telinga kita.</p>
<p><div id="attachment_1023" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1023" class="size-large wp-image-1023" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/photo_2018-07-20_20-10-03.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1023" class="wp-caption-text">Bukan Pengemis Cinta (youtube.com)</p></div></p>
<p>Kita dapat merasakan bahwa pada lagu ini, sang penyanyi menolak untuk meminta-minta cinta kepada sang kekasih. Teori &#8220;wanita selalu benar&#8221; tidak berlaku di sini, ia tidak ingin mengalah terus menerus kepada sang kekasih, sebuah sikap yang patut untuk ditiru.</p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_5" class="lirik_line hover">Wanita bukan engkau saja </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_6" class="lirik_line hover">Yang ada dalam dunia </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_7" class="lirik_line hover">Cantik bukanlah utama </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_8" class="lirik_line hover">Menghiasi jiwa</span></em></p>
<p>Wanita ada banyak di dunia, buat apa sedih hanya karena ditinggal satu orang. Bahkan perbandingan antara pria dan wanita adalah 1:4. Mengapa dirimu galau hanya karena satu perempuan?</p>
<p>Selain itu, paras yang menawan jangan dijadikan sebagai patokan utama dalam mencari pasangan. Kecantikan bisa luntur dimakan usia. Carilah pasangan yang cantik di dalam, tapi kalau bisa ya cantik dalam dan luar :).</p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_19" class="lirik_line">Patah hati bukan sifatnya lelaki </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_20" class="lirik_line">Apalagi sampai nekat bunuh diri </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_21" class="lirik_line">Putus cinta itu soal yang biasa </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span id="line_22" class="lirik_line hover">Aku tak putus asa</span></em></p>
<p>Bolehlah kita bersedih satu dua hari, namun berlarut dalam kesedihan juga bukan sifat lelaki sejati. Apalagi jika sampai menimbulkan pikiran untuk bunuh diri, wah mentalnya perlu dicek ke psikolog.</p>
<p>Putus cinta adalah hal yang biasa, jangan sampai membuatmu putus asa mengarungi hidup. Sisa nyawamu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu. Optimislah seperti lagu Jhonny Iskandar ini!</p>
<p><div id="attachment_1021" style="width: 610px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1021" class="size-full wp-image-1021" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup.jpg" alt="" width="600" height="428" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup.jpg 600w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup-300x214.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/sad-man-breakup-356x255.jpg 356w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><p id="caption-attachment-1021" class="wp-caption-text">Semangat Bro! (https://www.meetmindful.com/mindful-men-why-sex-wont-heal-a-broken-heart/#)</p></div></p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Dia berbeda, dia cinta sejati saya</em></strong></p>
<p>Dari pengajian Habib Muhammad Anies Shihab, penulis mendapatkan satu rumusan, bahwa tidak ada cinta sejadi sebelum melalui jenjang pernikahan. Hanya pasangan yang bersedia mendamping kita lah yang layak untuk kita jadikan cinta sejati.</p>
<p>Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kita. Apa yang kita rasa baik untuk kita belum tentu baik karena kekurangan kita sebagai manusia.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Dia istimewa, saya rela menangis berlutut di hadapannya demi mendapatkan cintanya</em></strong></p>
<p>Cinta kok diminta. Cinta itu datang karena rasa, tidak boleh dipaksa. Selain itu, di mana harga diri sehingga kita menangis hanya untuk berharap cinta kita berbalas. Apalagi untuk kaum lelaki, pantang menangis karena cinta.</p>
<p>Coba pikir ulang, seandainya pun karena tangisan tersebut ia mau menerimamu, apa kita yakin bahwa ia menerima karena cinta? Bagaimana jika cinta tersebut hanya berdasarkan rasa kasihan karena tidak tega melihat kita menangis? Bukankah itu lebih sakit?</p>
<p><strong><em>Tapi, tapi&#8230;</em></strong></p>
<p>Sssst! Cukup. Jika terus dibantah, tidak ada satu huruf pun di tulisan ini yang bisa mengetuk hatimu. Tenangkan diri, renungkanlah baik-baik. Semoga tulisan ini bisa membawa kebaikan untuk kita semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nb: Ini merupakan pertama kali penulis membedah sebuah lagu untuk whathefan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 Juli 2018, terinspirasi ketika pagi hari mendengarkan lagu <em>Bukan Pengemis Cinta</em> yang dinyanyikan oleh Jhonny Iskandar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://english.stackexchange.com/questions/310345/words-or-phrases-to-describe-how-street-beggars-typically-look">https://english.stackexchange.com/questions/310345/words-or-phrases-to-describe-how-street-beggars-typically-look</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/">Jangan Jadi Pengemis Cinta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-pengemis-cinta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan yang Membaca Buku di Peron Stasiun</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-yang-membaca-buku-di-peron-stasiun/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-yang-membaca-buku-di-peron-stasiun/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2018 15:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kereta]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[peron]]></category>
		<category><![CDATA[stasiun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Peluh membasahi diriku pagi ini. Maklum saja, aku baru saja jalan kaki sekitar 10 kilometer di acara Car Free Day yang diadakan sepanjang jalan Sudirman hingga M. Thamrin ini. Oleh karena itu, setelah puas mengeluarkan keringat, aku mengeringkan diri dulu sebelum pulang. Sekitar 45 menit aku beristirahat, duduk di lantai seperti peserta CFD lainnya yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-yang-membaca-buku-di-peron-stasiun/">Perempuan yang Membaca Buku di Peron Stasiun</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Peluh membasahi diriku pagi ini. Maklum saja, aku baru saja jalan kaki sekitar 10 kilometer di acara <em>Car Free Day </em>yang diadakan sepanjang jalan Sudirman hingga M. Thamrin ini. Oleh karena itu, setelah puas mengeluarkan keringat, aku mengeringkan diri dulu sebelum pulang.</p>
<p>Sekitar 45 menit aku beristirahat, duduk di lantai seperti peserta CFD lainnya yang kelelahan, aku berdiri untuk ikut mengantri membeli tiket di <em>vending machine</em>. Selain ingin istirahat, aku menunggu jumlah orang yang mengantri berkurang dulu. Aku tidak sedang terburu-buru, buat apa berdesak-desakan. Lebih baik bersabar sedikit agar mendapatkan kereta yang lenggang.</p>
<p>Setelah mendapatkan tiket, aku membeli minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokanku. Air mineral yang aku bawa dari rumah telah tandas sejak tadi. Aku yang tak pernah berjalan sejauh itu jelas butuh banyak mineral untuk menghindarkan diriku dari dehidrasi.</p>
<p>Aku naik KRL dari stasiun Sudirman, karena stasiun inilah yang terdekat dari lokasi CFD. Stasiun ini sejajar dengan jalan Sudirman, sehingga untuk bisa sampai ke peron perlu menggunakan eskalator. Saat menuruni eskalator inilah, aku melihat seorang perempuan yang sedang membaca buku di peron stasiun.</p>
<p>Entah karena naluri, aku pun berdiri di dekatnya. Bagi seorang kutu buku seperti diriku, bisa menemukan orang lain membaca di ruang publik sudah senang, apalagi jika orang tersebut seorang perempuan cantik. Aku mencuri pandang ke arahnya, mengamati lebih seksama.</p>
<p>Aku tidak pernah melihat kover buku yang ia baca, bahkan tampaknya buku tersebut ia beri sampul sendiri. Kuamati lagi ia dari belakang, karena aku tak berani berdiri di sampingnya persis. Ia berkacamata, aku suka perempuan berkacamata, dan berambut panjang. Wajahnya ia tutupi dengan masker. Ia mengenakan baju berwarna merah, sama dengan warna rambutnya.</p>
<p>Dalam hati aku sangat ingin menyapanya. Entah mana yang lebih menarik, buku yang ia baca atau pemiliknya. Selama ini aku selalu menganggap buku dan perempuan sama menariknya, hingga kawanku meledekku agar aku menikah saja dengan buku. Walaupun aku pecinta buku, tentu aku masih waras untuk tidak menikahi benda mati.</p>
<p>Kami sama-sama berada di peron 2, menunggu KRL yang melaju ke utara hingga pemberhentian akhir di stasiun Angke. Rumahku terletak di dekat stasiun Grogol, sehingga aku butuh transit di stasiun Duri. Aku penasaran, kemana kah perempuan ini hendak pergi? Atau, sebenarnya ia hendak pulang ke rumahnya? Semoga saja pemberhentian kami sama.</p>
<p>Kereta yang kami tunggu pun tiba. Sayang, kereta tersebut sangat penuh seolah tak ada lagi sisa ruang untuk kami masuk. Aku menunggu respon perempuan tersebut, dan ia hanya diam di tempatnya sembari meletakkan pembatas bukunya. Ia memutuskan untuk menunggu kereta selanjutnya. Aku pun memutuskan hal yang sama, toh aku sedang tidak terburu-buru.</p>
<p>Setelah kereta tersebut berlalu, aku berusaha untuk mencari aktivitas yang berguna. Bbiasanya aku selalu membawa buku untuk kubaca ketika menunggu. Sayangnya pagi tadi aku memutuskan untuk tidak membawa buku karena niatku ke CFD adalah untuk berolahraga. Selain itu, bukankah KRL sepi ketika hari libur? Tidak, aku salah besar.</p>
<p>Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengambil handphoneku dan membaca novel yang aku tulis sendiri di blogku. Setidaknya, jika perempuan tersebut menoleh ke arahku, ia tahu aku pun sedang membaca, walaupun dalam format digital. Mungkin aku terlalu banyak berharap, karena sejak tadi perempuan tersebut seolah tidak menyadari ada laki-laki yang memperhatikan dirinya sejak tadi.</p>
<p>Kereta kedua akhirnya tiba juga, dan sesuai dengan dugaanku, lebih lenggang dibandingkan kereta pertama tadi. Kami berdua pun masuk ke gerbong di depan kami melalui pintu yang berbeda. Berjarak satu deret kursi antara diriku dengannya. Lagi-lagi posisinya membelakangiku. Mungkin instingnya yang mengatakan bahwa ada mata liar yang sedang mengawasinya, walaupun sama sekali tidak ada keliaran pada pandanganku.</p>
<p>Ketika sampai di stasiun Tanah Abang, penumpang yang masuk bertambah cukup banyak, membuatku susah untuk bergerak. Di antara lautan manusia tersebut, ada sekelompok remaja, kira-kira masih SMA, masuk dengan tawa cekikikan. Mereka terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki. Karena mereka tidak mendapatkan pegangan untuk berdiri, aku bergeser sedikit agar mereka dapat memegang peganganku.</p>
<p>Melihat komposisi penumpang ini, aku langung menduga, bahwa laki-laki yang hanya seorang itu pasti pacar dari salah satu perempuan-perempuan ini. Benar saja, sesaat setelah kereta berjalan, mereka mulai menunjukkan gelagat-gelagat pemuda yang dimabuk asmara. Semakin lama, gerakan mereka semakin mesra, hingga pada akhirnya mereka berpelukan di antara penumpang lainnya.</p>
<p>Ingin rasanya aku mengambil kantong plastik di tasku untuk muntah. Aku merasa mual karena melihat aksi mereka. Jika di tempat umum saja sudah begitu intim, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan di tempat sepi. Menjijikkan.</p>
<p>Aku memutuskan untuk berpaling dari pasangan yang tak tahu diri itu. Perempuan berambut panjang dan berkacamata itu masih berdiri sempurna seperti pertama kali masuk ke dalam kereta. Ia tak melanjutkan buku yang sedang ia baca, mungkin karena sesaknya isi kereta.</p>
<p>Pada akhirnya, kereta sampai di stasiun Duri peron 2. Untunglah, aku tak harus dekat-dekat dengan pasangan yang tak punya malu ini lama-lama. Dengan sengaja aku maju sambil memberikan tatapan sinis kepada mereka, yang nampaknya tidak mereka sadari karena terlalu asyik berpelukan. Aku begitu geram melihat mereka hingga lupa menegecek apakah perempuan tersebut ikut turun di sini.</p>
<p>Ketika menjejakkan kaki di stasiun, nampaklah ia juga keluar dari kereta. Aku memutuskan untuk melangkah duluan untuk berpindah ke peron 4, peron dengan tujuan hingga Tangerang. Ia kutinggal di belakang karena takut ia menyadari bahwa dari tadi ada seorang laki-laki yang mengaguminya. Terjadi dilema di dalam diriku, apakah aku akan memberanikan diri untuk bicara dengannya atau berdiam diri saja agar menyesal nanti.</p>
<p>Di peron 4, aku menunggu datangnya kereta. Perempuan itu menyusul dan berdiri tepat di sampingku. Ternyata, kami memang satu tujuan, walaupun aku belum tahu di mana stasiun tujuannya. Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian, aku memulai percakapan, tak peduli apapun hasilnya.</p>
<p>“Maaf mbak, saya mau buat pengakuan, dari tadi saya memperhatikan mbak, karena sangat jarang seorang perempuan membaca buku di saat menantikan sesuatu. Saya sangat mengagumi mbak karena itu.”</p>
<p>Ia mengenakan masker, tapi entah bagaimana, aku tahu perempuan yang membaca buku di peron stasiun tersebut sedang tersenyum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 14 Mei 2018, terinspirasi dari kejadian nyata (kecuali endingnya karena penulis pada akhirnya sama sekali tidak berusaha untuk mengajaknya berbicara)</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-yang-membaca-buku-di-peron-stasiun/">Perempuan yang Membaca Buku di Peron Stasiun</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-yang-membaca-buku-di-peron-stasiun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikelilingi Wanita Ala Anime</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jan 2018 16:46:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Amagi Brilliant Park]]></category>
		<category><![CDATA[Anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Baka to Test to Shoukanju]]></category>
		<category><![CDATA[Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sakurasou no Pet na Kanojo]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=306</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu hal yang sering membuat saya kesal ketika melihat anime adalah ketika tokoh utamanya (laki-laki) disenangi oleh banyak wanita. Hal ini, menurut saya, adalah sesuatu yang susah terjadi di kehidupan nyata, apalagi jika bermodal tampang yang standar. Baka to Test to Shoukanju dan Sakurasou no Pet na Kanojo menjadi contoh yang bagus dalam hal ini. Kedua karakter [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/">Dikelilingi Wanita Ala Anime</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang sering membuat saya kesal ketika melihat anime adalah ketika tokoh utamanya (laki-laki) disenangi oleh banyak wanita. Hal ini, menurut saya, adalah sesuatu yang susah terjadi di kehidupan nyata, apalagi jika bermodal tampang yang standar.</p>
<p><em>Baka to Test</em> <em>to Shoukanju </em>dan <em>Sakurasou no Pet na Kanojo </em>menjadi contoh yang bagus dalam hal ini. Kedua karakter utama pada anime ini (Akihisa Yoshii pada <em>Baka to</em> Test;<em> </em>Sorata Kanda pada <em>Sakurasou</em>) sama-sama disukai oleh dua wanita (Mizuki Himaji dan Minami Shimada pada <em>Baka to Test</em>; Mashiro Shiina dan Nanami Aoyama pada <em>Sakurasou</em>).</p>
<p><div id="attachment_309" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-309" class="wp-image-309 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/d5b3957082ba2338798d678ba1c6b269d15bc107_hq-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/d5b3957082ba2338798d678ba1c6b269d15bc107_hq.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/d5b3957082ba2338798d678ba1c6b269d15bc107_hq-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/d5b3957082ba2338798d678ba1c6b269d15bc107_hq-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/d5b3957082ba2338798d678ba1c6b269d15bc107_hq-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-309" class="wp-caption-text">Baka to Test (https://aminoapps.com/c/anime/page/item/baka-and-test/JJtM_Il3VgpkLW6eGrNjPX5zPWdg4N)</p></div></p>
<p>Pola lain adalah ketika tokoh utama dikelilingi oleh banyak wanita bukan dalam konteks percintaan. <em>Amagi Brilliant Park </em>dan <em>Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o </em>menunjukkan hal tersebut, di mana banyaknya karakter pendukung wanita yang berada disekitar karakter laki-lakinya. Anime-anime seperti ini biasa dikategorikan sebagai anime harem, yang bisa membuat iri penontonnya.</p>
<p>Bahaya dari pola seperti ini menurut kacamata saya adalah membuat penontonnya terobsesi untuk dikelilingi wanita di kehidupan nyata. Mereka mungkin hanya bisa berfantasi bagaimana seandainya itu benar-benar terjadi karena memang sangat susah untuk merealisasikannya.</p>
<p>Lah, saya kan juga penonton anime, jomblo pula. Berarti saya juga berpikiran seperti itu?</p>
<p>Tidak, karena saya sudah dikeliling oleh banyak wanita. Tapi anak kecil, sama seperti Handa pada anime <em>Barakamon</em> yang dikelilingi Naru dan kawan-kawannya.</p>
<p><div id="attachment_308" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-308" class="size-large wp-image-308" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Barakamon-1.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-308" class="wp-caption-text">Barakamon (http://fuwafuwazone.blogspot.co.id/2015/01/review-anime-barakamon.html)</p></div></p>
<p>Sering menjadi panitia 17an membuat saya cukup dekat dengan anak-anak kecil di kampung saya. Baik laki-laki maupun perempuan akrab dengan saya, namun yang sering menempel pada saya adalah yang perempuan. Entah mengapa, tapi mungkin inilah penyebab saya sering disebut pedofil, padahal saya memang suka dengan anak-anak (bukan secara seksual).</p>
<p>Oleh karena itulah saya tidak pernah terobsesi untuk dikelilingi oleh banyak wanita hanya karena menonton anime. Justru saya merasa sebal karena anime-anime tersebut seolah-olah menjual mimpi. Bisa jadi, si pembuat anime tersebut hanya melampiaskan ketidaklakuannya di dunia nyata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 31 Januari 2018, setelah membantu tetangga yang baru saja berpulang ke Rahmatullah</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://wall.alphacoders.com/big.php?i=713508">https://wall.alphacoders.com/big.php?i=713508</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/">Dikelilingi Wanita Ala Anime</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/dikelilingi-wanita-ala-anime/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
