<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pilihan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pilihan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pilihan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Dec 2021 14:19:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pilihan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pilihan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menghargai Prioritas Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 14:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5511</guid>

					<description><![CDATA[<p>pri.o.ri.tas n&#160;yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain: Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki. Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">pri.o.ri.tas</h2>



<ul class="wp-block-list"><li><em>n&nbsp;</em>yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:</li></ul>



<p>Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang <strong>apa yang kita prioritaskan</strong>. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.</p>



<p>Misal, kita memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">seharian rebahan</a> dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.</p>



<p>Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.</p>



<p>Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh <em>refreshing</em> dari penatnya pekerjaan.</p>





<p>Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: <strong>Kita ingin diprioritaskan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Ingin Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5514" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Tidak Diprioritaskan (<a href="https://www.pexels.com/@budgeron-bach">Budgeron Bach</a>)</figcaption></figure>



<p>Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.</p>



<p>Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.</p>



<p>Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a>. Harusnya,<strong> kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang</strong>, walau kepada orang terdekat sekalipun.</p>



<p>Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk <strong>menghargai prioritas orang lain</strong>. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p><em>We&#8217;re not the center of the universe</em>. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5515" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Wajib Diprioritaskan (<a href="https://unsplash.com/@under_afiq">afiq fatah</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang ada kasus-kasus di mana <strong>kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban</strong>. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.</p>



<p>Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah <em>game</em>. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.</p>



<p>Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.</p>



<p>Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita</strong>.</p></blockquote>



<p>Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@polina-zimmerman">Polina Zimmerman</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2020 01:19:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4126</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan September tahun 2020 menjadi bulan yang amat berat untuk Penulis. Setelah dua tahun bekerja di jalantikus.com, Penulis memutuskan untuk mengundurkan diri alias resign. Mungkin, ada beberapa yang akan menganggap Penulis nekat karena keluar dalam kondisi belum mendapatkan pekerjaan baru. Padahal, kondisi dunia sedang tidak stabil karena pandemi. Sebenarnya, Penulis sungguh menikmati lingkungan kerja di sana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan September tahun 2020 menjadi bulan yang amat berat untuk Penulis. Setelah dua tahun bekerja di<a href="https://jalantikus.com/"><em> jalantikus.com</em></a>, Penulis memutuskan untuk<strong> mengundurkan diri alias <em>resign</em></strong>.</p>
<p>Mungkin, ada beberapa yang akan menganggap Penulis nekat karena keluar dalam kondisi belum mendapatkan pekerjaan baru. Padahal, kondisi dunia sedang tidak stabil karena pandemi.</p>
<p>Sebenarnya, Penulis sungguh <strong>menikmati lingkungan kerja di sana dan menikmati <em>jobdesk</em>-nya</strong>. Lantas mengapa <em>resign?</em></p>
<p>Karena satu dua hal, Penulis tidak bisa menyebutkan alasan spesifiknya di sini. Secara klise, mungkin alasannya adalah &#8220;terdapat perbedaan visi antara saya dan perusahaan&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, Penulis sama sekali tidak menyesali keputusan ini dan yakin akan mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi. Semua yang terjadi pasti memiliki alasan untuk terjadi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rencana awal, Penulis akan tetap bertahan di Jakarta sambil mencari pekerjaan baru. Sayang, keputusan Pemda Jakarta untuk memberlakukan kembali PSBB membuat Penulis memutuskan untuk pulang ke Malang hingga waktu yang belum ditentukan.</p>
<p>Mohon dimaklumi, ketika PSBB pertama kali diberlakukan, tiga bulan Penulis tidak keluar dari kamar kosnya. Daripada tidak bisa keluar lagi untuk jangka waktu yang belum ditentukan, lebih baik Penulis pulang.</p>
<p>Setelah di Malang, Penulis justru memutuskan untuk tidak kembali dulu untuk sementara waktu. Toh, Penulis sudah mendapatkan tawaran pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis &#8220;resmi&#8221; meninggalkan Jakarta ketika pada akhir bulan Oktober memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya. Penulis telah mengambil semua barang di sana karena merasa sayang uang yang keluar untuk membayar biaya sewa bulannanya.</p>
<p>Meninggalkan kota tersebut terasa jauh lebih berat daripada keputusan untuk <em>resign </em>dari tempat kerja. Mengapa?</p>
<p>Karena sejak kecil Penulis memiliki impian untuk kerja (dan tinggal) di kota besar. Kalau bisa, kerja di gedung tinggi. Itu semua sudah tercapai selama dua tahun terakhir.</p>
<p><strong>Dan tiba-tiba Penulis harus kembali ke Malang, meninggalkan impiannya yang sedang berjalan.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis bukannya takut tidak akan mendapatkan pekerjaan pengganti. Bahkan sekarang, alhamdulillah Penulis sudah mendapatkan gantinya walaupun hanya berstatus sebagai <em>freelance</em>.</p>
<p>Penulis hanya merasa sentimentil karena kota itu sudah memberikan banyak hal ke Penulis. Kembali ke kota asal seolah membuat Penulis melakukan <em>restart </em>pada kehidupannya.</p>
<p>Selain itu, Penulis merasa bisa banyak belajar di sana. Saat pertama kali ke sana, sangat terasa sekali <em>culture shock</em>-nya. Kemampuan adaptasi Penulis benar-benar diuji.</p>
<p>Namun pada akhirnya, Penulis sangat menikmati momen tiap momen yang Penulis lewati di sana, walau sesekali (atau sering?) <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">merasa kesepian</a> karena harus jauh dari keluarga dan teman-teman dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebagai pelipur lara, Penulis banyak melakukan aktivitas seperti dekorasi kamar atau sering berkumpul dengan teman-teman di sini. Lumayan untuk melupakan kesedihan.</p>
<p>Lantas, sampai kapan Penulis akan tetap tinggal di Malang? Target pribadi, setidaknya sampai <strong>awal atau pertengahan tahun 2022</strong>. Semoga saja pandemi telah berakhir saat itu.</p>
<p>Sampai waktunya merantau lagi tiba, entah ke Jakarta lagi atau kota lainnya, Penulis akan <strong>membenahi dirinya</strong> dulu yang sempat berantakan selama beberapa bulan terakhir.</p>
<p>Istilah kerennya, <strong><em>recovery </em></strong>dan <strong><em>rediscovery </em></strong>diri. Menyembuhkan diri dan menemukan kembali dirinya. Mungkin Penulis akan mengulas ini lebih dalam di tulisan yang lain.</p>
<p>Penulis berusaha membuat <em>morning routine </em>untuk membuatnya lebih sehat dan produktif, belajar banyak hal baru, menambah <em>skill</em>, melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama orang-orang tersayang, dan lain sebagainya.</p>
<p>Tentu sambil mengerjakan tanggung jawabnya sebagai <em>freelance </em>sembari menanti ada kesempatan yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melalui tulisan ini, Penulis ingin mengucapkan <strong>terima kasih</strong> kepada tempat kerja beserta orang-orangnya karena telah memberikan banyak sekali pelajaran kepada Penulis, baik <em>skill </em>kerja maupun pengalaman kehidupan.</p>
<p>Dua tahun ini telah mengubah banyak sekali pandangan hidup Penulis. Jika diurai satu persatu, entah ada menjadi berapa <em>part </em>tulisan. Yang jelas, sangat banyak sehingga Penulis tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk merantau.</p>
<p>Untuk sekarang, biarlah Penulis meninggalkan Jakarta untuk sementara. Jika rezekinya memang di sana, Penulis akan kembali suatu saat nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 16 November 2020, terinspirasi dari keputusannya untuk meninggalkan Jakarta, kota yang sangat berarti untuk Penulis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">Meninggalkan Jakarta (untuk Sementara)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Makan Siang Gratis</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2020 11:17:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[idiom]]></category>
		<category><![CDATA[konsekuensi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3963</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang? Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu. Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar. Melepaskan Demi Mendapatkan Tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/">Tidak Ada Makan Siang Gratis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang?</em></p>
<p>Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu.</p>
<p>Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa <strong>semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar</strong>.</p>
<h3>Melepaskan Demi Mendapatkan</h3>
<p>Tidak semua orang bisa menikmati gaji besar dan bisa hidup bahagia dengannya. Beberapa dari kita memiliki pilihan yang amat terbatas, dan kerap kali pilihan tersebut menimbulkan dilema.</p>
<p>Sebuah idiom dalam Bahasa Inggris berbunyi:</p>
<blockquote><p><em>There ain&#8217;t no such thing as a free lunch</em></p></blockquote>
<p>Yang jika diterjemah secara bebas <em><strong>tidak ada makan siang gratis</strong>.</em> Idiom ini digunakan untuk menggambarkan bahwa di dunia tidak ada yang bisa didapatkan secara cuma-cuma.</p>
<p>Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak jarang <strong>kita harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkannya</strong>.</p>
<p>Misal kita ingin mendapatkan sebuah barang yang diinginkan, minimal kita akan melepaskan uang yang ada di dompet untuk mendapatkannya.</p>
<p><em>Kalau maling kan bisa dapat barang secara gratis? </em>Secara materiil iya, tapi secara tidak sadar mereka membuang moral mereka demi mendapatkan sesuatu secara haram.</p>
<p>Mungkin ada beberapa pengecualian, seperti udara dan sinar matahari yang bisa kita nikmati secara gratis tanpa melakukan usaha apapun. Selain itu, nampaknya tidak ada lagi sesuatu yang gratis di dunia ini.</p>
<h3>Semua Pilihan Memiliki Konsekuensi</h3>
<p>Idiom di atas juga bisa diterjemahkan menjadi <strong><em>semua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing</em></strong>.</p>
<p>Dengan mengabaikan faktor <em>privilege</em>, Penulis akan memberi contoh bagaimana seorang murid ingin pintar dan menjadi juara kelas.</p>
<p>Agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, konsekuensinya adalah ia harus mengeluarkan tenaga untuk belajar dan mengorbankan waktu bermainnya.</p>
<p>Mungkin ia juga akan susah mendapatkan teman karena terlalu banyak belajar, namun itu adalah pilihan yang telah ia ambil.</p>
<p>Penulis akan memberi contoh lain dari pengalamannya sendiri. Penulis memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">merantau ke Jakarta</a> untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Apa konsekuensinya? <strong>Kehilangan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya</strong>. Entah sudah berapa momen yang Penulis lewatkan karena terpisah oleh jarak.</p>
<p>Penulis benar-benar seperti membuka lembaran hidup baru ketika pertama kali menjejakkan kaki di ibukota. Bertemu dengan orang-orang baru, lingkungan yang berbeda, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apa timbal balik yang didapatkan? Mendapatkan banyak kenalan baru, segudang pengalaman yang tidak akan Penulis temukan di Malang, mengasah <em>hard skill </em>yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<p>Begitupun sebaliknya. Jika Penulis ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya, Penulis harus melepaskan karirnya di Jakarta dan kembali ke Malang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Makna utama dari idiom <em><strong>there ain&#8217;t no such thing as a free lunch</strong> </em>adalah bagaimana kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.</p>
<p>Penulis meyakini kalau sebenarnya masih ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma, namun Penulis kesulitan untuk menemukan contohnya.</p>
<p>Yang jelas, dengan mengetahui kenyataan ini, Penulis berharap bisa lebih menghargai semua pilihan yang dibuat dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah dikorbankan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Juni 2020, terinspirasi dari sebuah idiom Bahasa Inggris yang sangat terkenal</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@pixabay">Pixabay</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/">Tidak Ada Makan Siang Gratis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 23:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[sibuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3837</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Sorry ya, lagi sibuk jadi gak bisa bales chat!&#8221; Sering mendapatkan pesan semacam ini? Atau malah sering mengirimnya ke orang lain di kala sibuk? Penulis sendiri merasa dirinya pernah mengalami keduanya. Karena kesibukan yang kita jalani, banyak hal yang jadi tidak kita sempatkan. Memberi kabar ke orangtua atau hangout bersama teman adalah beberapa contoh mudahnya. Pertanyaannya, apakah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Sorry ya, lagi sibuk jadi gak bisa bales chat!&#8221;</em></p>
<p>Sering mendapatkan pesan semacam ini? Atau malah sering mengirimnya ke orang lain di kala sibuk? Penulis sendiri merasa dirinya pernah mengalami keduanya.</p>
<p>Karena kesibukan yang kita jalani, banyak hal yang jadi tidak kita sempatkan. Memberi kabar ke orangtua atau <em>hangout </em>bersama teman adalah beberapa contoh mudahnya.</p>
<p>Pertanyaannya, <em>apakah sibuk atau tidak sempat itu benar-benar ada?</em></p>
<h3>Hidup Ini Pilihan</h3>
<p>Kalau tidak salah, antara dari iklan operator atau rokok, Penulis mendengar istilah <strong>hidup ini pilihan </strong>untuk pertama kalinya. Setiap orang memiliki pilihan yang beragam, tergantung latar belakangnya masing-masing.</p>
<p>Nah, pilihan-pilihan ini memiliki keterkaitan yang erat dengan yang namanya prioritas. Manusia cenderung memilih mana yang lebih ia prioritaskan.</p>
<p>Contoh, ketika seorang perempuan menolak laki-laki dengan alasan &#8220;ingin fokus UN&#8221;, artinya ia memilih untuk memprioritaskan ujiannya dibandingkan merasakan pacaran (atau karena memang tidak ada rasa dengan yang menembak).</p>
<p>Contoh lain ketika ada acara buka puasa bersama, kita izin tidak ikut karena sakit. Artinya, kita lebih memprioritaskan kesehatan kita dibandingkan menikmati momen bersama yang sudah lama dinantikan. Dan ini belum tentu salah.</p>
<p><em>Tapi kan seringkali kita benar-benar tidak sempat untuk melakukan sesuatu, bukan karena tidak memprioritaskan!</em></p>
<p>Iya, memang benar. Terkadang pilihan yang tersedia membuat kita dilema dan berat untuk memilih. Akhirnya, harus ada yang dikorbankan demi itu.</p>
<p>Hanya saja, opini pribadi Penulis, <strong>mayoritas apa kita lakukan adalah berdasarkan prioritas yang dipilih</strong>, mau setipis apapun selisih skala prioritasnya.</p>
<p>Tentu saja tidak semuanya <em>saklek </em>seperti itu. Penulis yakin ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat pendapat Penulis tidak berlaku lagi.</p>
<p>Orangtua yang bekerja seringkali lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Akan tetapi, bukan berarti sang orangtua tidak memprioritaskan anaknya. Justru, banting tulang yang dilakukan tersebut demi keluarga tercinta.</p>
<p>Yang jelas, jangan sampai kita salah menentukan prioritas di dalam hidup.</p>
<h3>Salah Menentukan Prioritas</h3>
<p>Di dalam menentukan pilihan, terkadang  kita bisa salah memilih. Memilih HP A dibandingkan HP B, eh ternyata HP B jauh lebih bagus dan tidak mudah rusak. Muncullah rasa penyesalan.</p>
<p>Artinya, ada pula kemungkinan kalau kita <strong>bisa salah menentukan prioritas dalam hidup</strong>. Misal, kita lebih memilih untuk terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain game dibandingkan belajar.</p>
<p>Kecuali kita atlet eSport atau seorang <em>streamer </em>yang bisa menghasilkan uang dari bermain game, jelas pemilihan prioritas tersebut salah karena tidak menghasilkan apapun.</p>
<p>Contoh lain, kita lebih memprioritaskan pacar kita yang baru kenal beberapa bulan dibandingkan orangtua yang sudah mengasuh kita sejak kecil.</p>
<p>Salah menentukan prioritas bisa dialami siapa saja. Penulis sangat sering melakukannya, bahkan hingga kini. Yang penting, kita bisa belajar dari kesalahan tersebut sehingga bisa menentukan prioritas lebih baik lagi.</p>
<p>Kita sendiri yang paling tahu mana prioritas yang harus diutamakan. Setiap orang bisa memiliki standar yang berbeda-beda. Apa yang Penulis anggap salah di atas belum tentu salah juga di mata orang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika kita bilang sibuk, coba dipikir kembali, <em>apakah kita memang benar-benar sibuk atau karena tidak menjadikannya prioritas?</em></p>
<p>Hidup ini pilihan, termasuk memilih mana yang menjadi prioritas kita. Terkadang ada yang sulit untuk dipilih, terkadang ada yang begitu mudah.</p>
<p>Semoga saja kita semua bisa menentukan prioritas mana yang paling penting di dalam hidup kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Mei 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang terkadang salah membuat prioritas</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jon Tyson</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/choose?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbeda Berarti Unfollow</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 May 2019 22:02:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[boikot]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[unfollow]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2332</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena berbagai kesibukan, penulis cukup lama tidak menulis di blog ini. Ketika dicek, sarang laba-laba sudah ada di mana-mana. Maka ketika ada waktu luang ketika bulan puasa ini, penulis akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Kali ini penulis hendak berbagi sedikit cerita tentang salah satu side job penulis di tempat kerja, sebagai admin Instagram. Ada satu kejadian yang membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/">Berbeda Berarti Unfollow</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena berbagai kesibukan, penulis cukup lama tidak menulis di blog ini. Ketika dicek, sarang laba-laba sudah ada di mana-mana. Maka ketika ada waktu luang ketika bulan puasa ini, penulis akan memanfaatkannya semaksimal mungkin.</p>
<p>Kali ini penulis hendak berbagi sedikit cerita tentang salah satu <em>side job </em>penulis di tempat kerja, sebagai <a href="https://www.instagram.com/jalantikusid/?hl=id">admin Instagram</a>. Ada satu kejadian yang membuat penulis menjadi sedikit berpikir tentang sikap masyarakat terhadap perbedaan pendapat.</p>
<h3>Judul Artikel yang <em>Click Bait</em></h3>
<p><div id="attachment_2333" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2333" class="size-large wp-image-2333" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2333" class="wp-caption-text">Judul Berita (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@romankraft">Roman Kraft</a>)</p></div></p>
<p>Jadi ketika itu, penulis mengirim sebuah <em>feed</em> yang sedikit menyinggung salah satu paslon presiden.</p>
<p>Memang, judulnya agak sedikit ofensif, tapi jika dibaca isi artikelnya, maka orang akan paham bahwa artikel tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan salah satu paslon.</p>
<p>Permasalahannya, pendukung paslon ini langsung terpancing provokasi hanya karena judul tanpa berusaha memahami isi artikelnya terlebih dahulu.</p>
<p>Banyak komentar yang mengata-ngatai dengan istilah hewan, mungkin pembaca bisa menebak hewan apa yang dituliskan. Selain makian, mereka juga menulis bahwa mereka akan <em>unfollow </em>akun Instagram tersebut.</p>
<p>Membuat pembaca merasakan emosi, apapun bentuknya, adalah salah satu unsur yang membuat judul berita menjadi menarik. Istilahnya, <em>click bait</em>. Hal ini dianggap lumrah, selama isi artikel tidak melenceng jadi judul.</p>
<h3>Berbeda Berarti <em>Unfollow </em>dan Boikot</h3>
<p><div id="attachment_2334" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2334" class="size-large wp-image-2334" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-1024x682.jpg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-1024x682.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2334" class="wp-caption-text">Unfollow (<a href="https://unsplash.com/@neonbrand">NeONBRAND</a>)</p></div></p>
<p><em>Unfollow </em>dan gerakan memboikot suatu produk sudah kerap terjadi ketika masa-masa pemilu. Alasannya, karena mereka menganggap yang di-<em>unfollow </em>tersebut memihak lawan pasangan calon yang didukungnya.</p>
<p>Memang, ada yang melakukan hal tersebut karena alasan-alasan lain, tapi penulis meyakini bahwa alasan utamanya adalah perbedaan pilihan.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa kita belum bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan</a>. Seperti yang dituliskan oleh salah satu komik lokal, perbuatan ini bisa dianggap sebagai sebuah kenorakan.</p>
<p>Bayangkan, di antara ratusan gambar yang pernah penulis pos, banyak orang yang melakukan <em>unfollow</em> hanya karena satu pos. Ibaratnya, di antara banyaknya kebaikan, yang dilihat orang hanya satu keburukan.</p>
<p>Jika hanya sekadar <em>unfollow </em>akun media sosial, penulis yakin tidak terlalu besar dampaknya. Tapi jika sampai boikot produk? Penulis membayangkan ada berapa banyak pekerja yang terkena dampaknya.</p>
<p>Mungkin yang paling baru adalah gerakan boikot nasi padang hanya karena masyarakat sana mayoritas memilih salah satu pasangan calon.</p>
<p>Lah, salahnya di mana? Ketika penulis membaca beberapa komentarnya, ada yang berkata bahwa masyarakat sana tidak bisa berterima kasih atas kerja keras petahana.</p>
<p>Tentu hal ini menjadi lucu sekaligus <em>ngenes</em>. Sekali lagi, salah satu alasan hal ini bisa terjadi adalah karena <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme yang berlebihan</a>.</p>
<p>Yang salah tentu bukan gerakan boikotnya, melainkan tujuan dari boikot tersebut. Jika dilakukan sebagai bentuk protes, misalnya boikot produk Israel karena serangan teror yang dilakukan, tentu boleh-boleh saja.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Perbedaan adalah hal yang sangat normal. Kewajiban kita adalah untuk menghargai perbedaan tersebut. Jangan sampai kita bermusuhan hanya karena itu.</p>
<p>Jika ada media yang menyudutkan salah satu tokoh yang kita hormati, tak usahlah emosi. Anggap saja sebagai bahan evaluasi, siapa tahu berita tersebut ada benarnya.</p>
<p>Beda kalau media tersebut <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">menyebar hoaks</a>. Kalau sudah seperti itu, kita wajib menjauhinya karena media tersebut secara terang-terangan telah menyebarkan kebohongan yang tak berdasar.</p>
<p>Penulis masih berharap bahwa <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">kedewasaan berpolitik</a> yang kita miliki akan semakin menjadi lebih baik ke depannya. Dengan demikian, gerakan <em>unfollow</em> maupun boikot bisa berkurang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Mei 2019, terinspirasi setelah banyak orang yang melakukan <em>unfollow </em>pada akun Instagram JalanTikus.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/A-pckCHQMrM?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Toa Heftiba</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/woman-phone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/">Berbeda Berarti Unfollow</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidak Memilih Sebelum Hari-H</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/tidak-memilih-sebelum-hari-h/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2019 16:45:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[luber jurdil]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2254</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika penulis ditanya akan memilih siapa pada 17 April nanti, biasanya penulis akan menjawab secara diplomatis &#8220;saya masih belum menentukan, meskipun hingga saat ini sudah condong ke paslon nomor urut sekian&#8221;. Kenapa tidak mendeklarasikan dukungan secara terang-terangan seperti yang dilakukan oleh banyak orang? Apakah penulis termasuk orang yang tidak punya pendirian? Berusaha Obyektif Tentu bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tidak-memilih-sebelum-hari-h/">Tidak Memilih Sebelum Hari-H</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika penulis ditanya akan memilih siapa pada 17 April nanti, biasanya penulis akan menjawab secara diplomatis &#8220;saya masih belum menentukan, meskipun hingga saat ini sudah condong ke paslon nomor urut sekian&#8221;.</p>
<p>Kenapa tidak mendeklarasikan dukungan secara terang-terangan seperti yang dilakukan oleh banyak orang? Apakah penulis termasuk orang yang tidak punya pendirian?</p>
<h3>Berusaha Obyektif</h3>
<p>Tentu bukan seperti itu alasan yang mendasari penulis tidak memilih sebelum hari-H. Penulis bersikap seperti ini untuk menghindari sikap <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme yang berlebihan</a> terhadap salah satu pasangan calon.</p>
<p>Kalau kita sudah menentukan pilihan sejak awal bahkan sebelum nama capres-cawapres diumumkan, kita akan cenderung menutup mata terhadap kekurangan calon.</p>
<p>Selain itu, penulis juga ingin sekali bisa <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">menilai secara obyektif</a> tanpa melihat subyeknya sama sekali. Bentuk penilaiannya mau tidak mau harus berbeda karena pada pemilu kali ini pesertanya terdiri dari petahana dan penantang.</p>
<p>Ketika melihat petahana, yang penulis lihat adalah berbagai prestasi yang sudah dicapai, pelunasan janji, berbagai peristiwa yang terjadi selama menjabat kemarin, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dari penantang, karena belum pernah menjabat, yang penulis perhatikan adalah visi misi yang dimiliki, program-program yang ditawarkan, dan berbagai janji yang diberikan.</p>
<h3>Asas Luber Jurdil</h3>
<p>Selain alasan di atas, penulis juga teringat dengan pelajaran Kewarganegaraan sewaktu sekolah dulu, di mana salah satu asas dari Pemilihan Umum adalah <strong>Luber Jurdil</strong>.</p>
<p>Apa itu? Luberjudil merupakan akronim dari <strong>Langsung</strong>, <strong>Umum</strong>, <strong>Bebas</strong>, <strong>Rahasia</strong>, <strong>Jujur</strong>, dan <strong>Adil</strong>. Asas ini sudah ada sejak jaman orde baru, di mana Jurdil-nya sendiri baru ditambahkan setelah reformasi.</p>
<p><strong>Langsung</strong>, artinya, kita sendiri yang harus memilih tanpa boleh diwakilkan. <strong>Umum</strong>, artinya kegiatan pemilu ini bisa diikuti oleh semua warga negara Indonesia selama memenuhi persyaratan yang ada.</p>
<p><strong>Bebas</strong>, artinya kita bisa memilih tanpa ada tekanan dari pihak manapun. <strong>Jujur</strong>, artinya pelaksanaan pemilu harus sesuai dengan peraturan yang ada. <strong>Adil</strong>, artinya tidak boleh ada diskriminasi perlakukan terhadap peserta maupun pemilih.</p>
<p>Tunggu, rasanya ada yang kurang. Oh iya, <strong>Rahasia</strong>. Kata ini berarti <em>suara yang diberikan oleh pemilih hanya diketahui oleh pemilih itu sendiri</em>.</p>
<p>Atas dasar <em>rahasia </em>inilah penulis tidak pernah mengumbar pilihan penulis, meskipun memang belum menentukan pilihan (iya, memang sudah ada kecondongan, tapi belum 100% kok).</p>
<p>Apakah deklarasi secara terang-terangan berarti membuka rahasia? Belum tentu. Bisa saja pilihannya di balik bilik suara bisa berbeda dengan dukungan yang ia nyatakan.</p>
<h3>Bolehkah Menentukan Pilihan Sebelum Hari-H?</h3>
<p>Tentu saja boleh. Itu adalah hak berpendapat setiap warga negara. Yang ingin mendeklarasikan dukungan sedini mungkin, <em>monggo</em>. Yang ingin menunggu hingga hari-H, juga <em>monggo</em>.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak merasa lebih baik dengan sikap penulis ini. Penulis hanya ingin berbagi pola pikir penulis yang mungkin bisa bermanfaat untuk para pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 April 2019, terinspirasi setelah menonton salah satu video di Youtube</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@chne_">Tachina Lee</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tidak-memilih-sebelum-hari-h/">Tidak Memilih Sebelum Hari-H</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 17:26:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[dilema]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2221</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, Maudy Ayunda. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema. Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University. Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, <strong>Maudy Ayunda</strong>. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema.</p>
<p>Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University.</p>
<p>Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan di media sosial. Mereka membandingkan dilema remeh yang mereka hadapi dengan dilema yang dihadapi oleh Maudy.</p>
<h3>Menyederhanakan Pilihan</h3>
<p><div id="attachment_2232" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2232" class="size-large wp-image-2232" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg" alt="" width="800" height="496" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-300x186.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-768x476.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2232" class="wp-caption-text">Dilema Berkelas (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://sidomi.com/606904/maudy-ayunda-bersiap-kuliah-s2-di-amerika-serikat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwibssnR2InhAhUPb30KHQ4pCfcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Sidomi</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sendiri menikmati <em>jokes </em>tersebut, di mana beberapa dilema yang ada di media sosial tersebut ada yang pernah penulis alami sendiri. Akan tetapi, penulis menjadi terpikirkan sesuatu.</p>
<blockquote><p>Apakah dilema yang dialami Maudy Ayunda hanya akan berakhir sebagai bahan candaan semata?</p></blockquote>
<p>Penulis jadi merenung, kenapa tidak menjadikan kisah hebat Maudy untuk dijadikan motivasi hidup?</p>
<p>Bukan tentang bagaimana ia bisa diterima oleh salah satu kampus terbaik dunia, jelas itu terlalu muluk. Yang perlu kita renungkan adalah <strong>menentukan hal apa aja yang patut kita dilemakan</strong>.</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang sulit membuat keputusan. Penulis merasa terlalu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan sesuatu. Tentu ini membuat penulis sering terlihat ragu.</p>
<p>Bahkan, hal yang remeh temeh membutuhkan waktu untuk bisa menentukan pilihan. Tentu hal ini tidak baik, sehingga harus ada solusi untuk mengatasinya.</p>
<p><div id="attachment_2231" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2231" class="size-large wp-image-2231" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2231" class="wp-caption-text">Menyederhanakan Hal yang Patut Didilemakan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ramsayhealth.co.uk/about/latest-news/imagination-food" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjbrufq14nhAhVTWysKHeXZDy4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Ramsay Health Care</span></a>)</p></div></p>
<p>Dari beberapa buku yang telah penulis baca, salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pilihan. Misal, pilihan makan dan pakaian yang akan dikenakan.</p>
<p>Kalau perlu, tentukan ingin makan apa dan ingin menggunakan pakaian mana untuk satu minggu ke depan. Dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pertimbangan panjang, kita bisa melihat mana yang menjadi prioritas terpenting kita.</p>
<p>Mungkin para pembaca sekalian sudah pernah membaca atau mendengar alasan mengapa pakaian yang dikenakan <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs</a> selalu sama. Jawabannya sama, agar ia tak perlu pusing-pusing memilih pakaian mana yang harus ia kenakan.</p>
<p>Singkatnya, kita harus menyederhanakan hidup kita dari pilihan-pilihan yang kurang penting. Fokuskan diri terhadap hal-hal yang memang layak untuk diberi perhatian lebih.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apalah kita jika dibandingkan Maudy Ayunda. Tentu hampir terdengar mustahil jika ingin menyamai prestasinya, terutama karena kita telah kalah <em>start </em>yang di mana Maudy, penulis yakini, sudah berbuat banyak hal agar bisa di posisinya sekarang.</p>
<p>Yang bisa kita petik dari seorang Maudy Ayunda adalah prioritas masalah yang layak untuk didilemakan. Kalaupun tidak bisa berkuliah di kampus terbaik dunia, minimal buatlah dilema yang kita alami menjadi lebih berkelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi dari dilema yang dirasakan oleh Maudy Ayunda</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&amp;id=16100006" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiE-7bUuonhAhWaA3IKHQPdDdwQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wanita Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bill Gates dan Sumpah Pemuda</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2018 11:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Gates]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1555</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kenapa di saat hari peringatan sumpah pemuda penulis malah menulis tentang tokoh asing? Apa Indonesia tidak memiliki pemuda yang pantas untuk dijadikan judul? Kenapa harus Bill Gates? Sederhana sih alasannya, karena Bill Gates memiliki tanggal lahir yang sama meskipun beda tahun dengan peringatan sumpah pemuda. Pilihan Jalan Hidup Bill Gates William Henry “Bill” Gates III [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates dan Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa di saat hari peringatan sumpah pemuda penulis malah menulis tentang tokoh asing? Apa Indonesia tidak memiliki pemuda yang pantas untuk dijadikan judul? Kenapa harus Bill Gates?</p>
<p>Sederhana sih alasannya, karena Bill Gates memiliki tanggal lahir yang sama meskipun beda tahun dengan peringatan sumpah pemuda.</p>
<p><strong>Pilihan Jalan Hidup Bill Gates</strong></p>
<p><strong>William Henry “Bill” Gates III </strong>lahir di Seatle, Washington, Amerika Serikat, pada tanggal 28 Oktober 1955, tahun yang sama dengan <a href="http://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs</a>. Pada usia ke 20 ia telah mendirikan Microsoft bersama rekannya, almarhum Paul Allen.</p>
<p>Terkenal sebagai tokoh teknologi, mungkin banyak yang belum tahu bahwa awalnya orang tua Bill Gates menginginkan anaknya menjadi seorang pengacara. Tapi seperti yang kita ketahui, Gates memutuskan untuk tidak menuruti permintaan orangtuanya dan<strong> lebih memilih jalan hidupnya sendiri</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1557" style="width: 1018px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1557" class="size-full wp-image-1557" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M.jpg" alt="" width="1008" height="435" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M.jpg 1008w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-300x129.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-768x331.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-356x154.jpg 356w" sizes="(max-width: 1008px) 100vw, 1008px" /><p id="caption-attachment-1557" class="wp-caption-text">via weforum.org</p></div></p>
<p>Coba sekarang bayangkan seandainya <strong>Microsoft</strong> tidak pernah ada, apakah yang akan terjadi?</p>
<p><a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/andai-steve-jobs-masih-hidup/">Apple</a> akan memonopoli dunia? Ataukah ada perusahaan baru yang akan menggantikan posisi Microsoft? Apakah kita akan mengerjakan tugas menggunakan <em>Lotus</em>, perangkat <em>office</em> buatan IBM?</p>
<p>Banyak sekali yang dapat terjadi seandainya Bill Gates mengikuti keinginan orang tuanya. Coba kita berimajinasi seandainya Bill Gates menjadi seorang pengacara.</p>
<p>Bayangkan seorang Bill Gates berada di meja sidang, sedang membela seorang terdakwa. Bayangkan ia sedang mendebat pihak yang menuntut di hadapan hakim.</p>
<p>Mungkin dia tidak akan terkenal dan sesukses sekarang apabila hanya menjadi seorang pengacara, dibandingkan menjadi seorang bos Microsoft.</p>
<p><strong>Hidup adalah Pilihan, Pemuda Harus Bisa Memilih</strong></p>
<p>Kehidupan milik kita adalah sepenuhnya pilihan kita. Orangtua boleh memberikan masukan, namun keputusan tetap di tangan kita sebagai yang menjalani hidup.</p>
<p>Bill Gates memilih <em>dropout</em> dari <strong>Harvard</strong> untuk membuat perusahaan. Bukan berarti kita harus <em>dropout </em>juga sepertinya. Poinnya adalah bersungguh-sungguh dengan pilihan yang diambil, jalan manapun yang diambil.</p>
<p><div id="attachment_1558" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1558" class="wp-image-1558 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="1024" height="512" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook.jpg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1558" class="wp-caption-text">via collegeconsensus.com</p></div></p>
<p>Di hari sumpah pemuda ini, masih banyak pemuda yang galau dalam menentukan pilihannya. Jangankan pilihan hidup, <strong>memilih mana pasangan saja sudah membuat dirinya galau sepanjang hari</strong>.</p>
<p>Lebih parahnya jika bertemu dengan pemuda lain yang berbeda pilihan. Kita akan merasa paling benar dan kelompok lain pasti salah. Dengan mudahnya kita terpecah belah hanya karena berbeda pilihan.</p>
<p>Bagaimana bisa menjadi pemuda yang bisa mengubah bangsa ini, jika <strong>mudah terhalang oleh masalah sepele</strong>. Sadarlah bahwa kita adalah generasi penerus bangsa, yang akan menjalankan negara ini beberapa tahun mendatang.</p>
<p>Bagaimana bisa menjadi pemuda yang akan memimpin bangsa ini, jika <strong>perbedaan kecil saja sudah menyulut pertikaian</strong>. Sebagai sesama anak bangsa, sudah sepatutnya kita bahu-membahu membangun bangsa.</p>
<p><div id="attachment_1581" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1581" class="size-full wp-image-1581" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607.jpg" alt="" width="750" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1581" class="wp-caption-text">via nasional.kompas.com</p></div></p>
<p><strong>90 tahun yang lalu</strong>, di bawah ancaman penjajah, para pemuda mengucapkan sumpah yang mempersatukan mereka. Apakah kita mau mengecewakan mereka yang telah susah payah mempersatukan kita?</p>
<p>Latihlah mulai sekarang <a href="http://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">untuk bisa memilah</a>, mana masalah yang memang harus dipikirkan dan mana masalah yang harus diabaikan. Pemuda yang mengucapkan sumpah 90 tahun lalu tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang remeh temeh .</p>
<p>Latihlah mulai sekarang untuk bisa menghargai perbedaan yang ada. Janganlah jadi pemuda yang dengan mudahnya merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan pendapat.</p>
<p>Jadilah pemuda yang berani mengambil pilihan, jadilah pemuda yang berani mengambil resiko. Jadilah pemuda penggerak negara, jadilah pemuda yang tetap menghayati makna sumpah pemuda.</p>
<p>Selamat memperingati <strong>Sumpah Pemuda</strong>, dan selamat ulang tahun untuk <strong>Bill Gates</strong>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, pernah dimuat pada oyibanget.com dengan judul Sumpah Pemuda dan Bill Gates</p>
<p>Photo: <a href="http://cnbc.com">cnbc.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates dan Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keluar dari Zona Nyaman</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2018 08:10:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[berdikari]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[ke luar]]></category>
		<category><![CDATA[mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[zona nyaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1025</guid>

					<description><![CDATA[<p>Istilah ke luar zona nyaman mungkin memang sudah terdengar terlalu mainstream. Sudah banyak orang yang menyerukan untuk ke luar dari lingkungan yang dapat membuat kita terlena hingga menjadi lalai. Lantas mengapa penulis menulis tulisan ini? Karena penulis hendak ke luar dari zona nyaman penulis dengan merantau ke kota yang jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">Keluar dari Zona Nyaman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah ke luar zona nyaman mungkin memang sudah terdengar terlalu <em>mainstream</em>. Sudah banyak orang yang menyerukan untuk ke luar dari lingkungan yang dapat membuat kita terlena hingga menjadi lalai.</p>
<p>Lantas mengapa penulis menulis tulisan ini? Karena penulis hendak ke luar dari zona nyaman penulis dengan merantau ke kota yang jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan jauh dari lingkungan yang nyaman. Penulis hendak sedikit berbagi apa yang penulis rasakan terkait rencana ini.</p>
<p>Penulis sangat nyaman dengan tempat penulis tinggal sekarang. Tinggal bersama orangtua di lingkungan yang sangat kondusif membuat penulis sangat betah tinggal di sini. Apalagi sebagai mantan ketua Karang Taruna, penulis memiliki kedekatan emosional dengan anggota-anggotanya.</p>
<p>Kondisi yang ideal ini membuat penulis merasa susah berkembang. Penulis ingin merasakan lingkungan baru yang bisa membuat penulis menjadi lebih baik baik dari hari kemarin. Jakarta penulis pilih karena sudah mengetahui sedikit banyak seluk-beluknya dari beberapa perjalanan ke sana.</p>
<p>Penulis ingin lebih <strong>BERDIKARI</strong> alias <strong>berdiri di atas kaki sendiri</strong> alias belajar hidup mandiri jauh dari orang tua dan lingkungan yang nyaman. Apalagi, penulis tidak memiliki pengalaman merantau yang lama. Paling lama hanya sekitar 4 bulan di Pare, Kediri. Itu pun masih sering pulang pergi Kediri-Malang.</p>
<p><div id="attachment_1026" style="width: 884px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1026" class="size-full wp-image-1026" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-25_145940.jpg" alt="" width="874" height="208" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-25_145940.jpg 874w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-25_145940-300x71.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-25_145940-768x183.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-25_145940-356x85.jpg 356w" sizes="(max-width: 874px) 100vw, 874px" /><p id="caption-attachment-1026" class="wp-caption-text">(https://quotefancy.com/quote/831622/Ibn-Taymiyyah-Don-t-depend-too-much-on-anyone-in-this-world-because-even-your-own-shadow)</p></div></p>
<p>Selain itu, penulis juga ingin mengurangi ketergantungan terhadap orang lain, terutama orang tua. Sudah saatnya penulis membuka lembaran baru di mana penulis sendiri yang menggoreskan penanya di tiap lembar bukunya. Hal tersebut susah untuk dilakukan jika kita masih satu atap dengan orang tua.</p>
<p>Penulis akan memulai pengembaraannya bulan Agustus, karena kebetulan penulis termasuk <em>volunteer </em>Asian Games. Setelah even tersebut, penulis akan mencari kos sembari mencoba segala peluang yang tersedia di sana, baik kerja maupun kuliah.</p>
<p>Semoga pilihan penulis untuk ke luar dari zona nyaman memberikan manfaat kepada kita semua, terlebih untuk penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 Juni 2018, terinspirasi dengan keputusan yang sudah penulis buat</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/MDupks3qrVo">https://unsplash.com/photos/MDupks3qrVo</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">Keluar dari Zona Nyaman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
