Connect with us

Pengembangan Diri

Tidak Ada Makan Siang Gratis

Published

on

Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang?

Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu.

Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Melepaskan Demi Mendapatkan

Tidak semua orang bisa menikmati gaji besar dan bisa hidup bahagia dengannya. Beberapa dari kita memiliki pilihan yang amat terbatas, dan kerap kali pilihan tersebut menimbulkan dilema.

Sebuah idiom dalam Bahasa Inggris berbunyi:

There ain’t no such thing as a free lunch

Yang jika diterjemah secara bebas tidak ada makan siang gratis. Idiom ini digunakan untuk menggambarkan bahwa di dunia tidak ada yang bisa didapatkan secara cuma-cuma.

Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak jarang kita harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkannya.

Misal kita ingin mendapatkan sebuah barang yang diinginkan, minimal kita akan melepaskan uang yang ada di dompet untuk mendapatkannya.

Kalau maling kan bisa dapat barang secara gratis? Secara materiil iya, tapi secara tidak sadar mereka membuang moral mereka demi mendapatkan sesuatu secara haram.

Mungkin ada beberapa pengecualian, seperti udara dan sinar matahari yang bisa kita nikmati secara gratis tanpa melakukan usaha apapun. Selain itu, nampaknya tidak ada lagi sesuatu yang gratis di dunia ini.

Semua Pilihan Memiliki Konsekuensi

Idiom di atas juga bisa diterjemahkan menjadi semua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.

Dengan mengabaikan faktor privilege, Penulis akan memberi contoh bagaimana seorang murid ingin pintar dan menjadi juara kelas.

Agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, konsekuensinya adalah ia harus mengeluarkan tenaga untuk belajar dan mengorbankan waktu bermainnya.

Mungkin ia juga akan susah mendapatkan teman karena terlalu banyak belajar, namun itu adalah pilihan yang telah ia ambil.

Penulis akan memberi contoh lain dari pengalamannya sendiri. Penulis memilih untuk merantau ke Jakarta untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.

Apa konsekuensinya? Kehilangan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Entah sudah berapa momen yang Penulis lewatkan karena terpisah oleh jarak.

Penulis benar-benar seperti membuka lembaran hidup baru ketika pertama kali menjejakkan kaki di ibukota. Bertemu dengan orang-orang baru, lingkungan yang berbeda, dan lain sebagainya.

Apa timbal balik yang didapatkan? Mendapatkan banyak kenalan baru, segudang pengalaman yang tidak akan Penulis temukan di Malang, mengasah hard skill yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.

Begitupun sebaliknya. Jika Penulis ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya, Penulis harus melepaskan karirnya di Jakarta dan kembali ke Malang.

Penutup

Makna utama dari idiom there ain’t no such thing as a free lunch adalah bagaimana kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.

Penulis meyakini kalau sebenarnya masih ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma, namun Penulis kesulitan untuk menemukan contohnya.

Yang jelas, dengan mengetahui kenyataan ini, Penulis berharap bisa lebih menghargai semua pilihan yang dibuat dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah dikorbankan.

 

 

Kebayoran Lama, 28 Juni 2020, terinspirasi dari sebuah idiom Bahasa Inggris yang sangat terkenal

Foto: Pixabay

Pengembangan Diri

Bagaimana Caranya agar Semangat Membaca Buku?

Published

on

By

Entah saja kapan Penulis membuat persona dirinya sebagai seorang pembaca buku. Mungkin sejak kuliah, ketika dirinya mulai membeli buku-buku sendiri. Ketika sekolah, Penulis memang sudah membaca buku, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.

Hingga hari ini, persona kutu buku masih melekat pada diri Penulis. Selain karena sering membuat artikel ulasan buku yang sudah selesai dibaca, Penulis memang sering terlihat bersemangat jika topik obrolan bersama teman-teman sudah membahas tentang buku.

Salah satu pertanyaan yang sering diberikan kepada Penulis adalah bagaimana caranya agar suka membaca? Tentu ini pertanyaan yang cukup tricky, karena kebiasaan membaca Penulis sudah dari kecil. Pengaruh ayah yang juga suka membaca bisa menjadi privilige untuk Penulis.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada beberapa cara yang berhasil setidaknya pada diri Penulis. Meskipun suka membaca, ada kalanya Penulis merasa sangat malas untuk membuka buku. Entah ada berapa buku yang akhirnya menumpuk dan tidak pernah dibaca.

Tips #1: Pilih Topik Buku yang Digemari

Photo by Min An

Tips pertama dan yang paling basic adalah memilih buku sesuai dengan topik yang digemari. Kalau sukanya fiksi, ya jangan memaksakan diri untuk membaca buku ekonomi. Yang ada malah merasa mual karena tidak paham sama sekali apa isinya.

Penulis sendiri biasanya punya stok untuk beberapa genre yang diminati, karena kebetulan dirinya punya banyak topik bacaan yang digemari. Jadi, Penulis bisa memilih genre bacaannya sesuai dengan mood-nya saat itu.

Saat ini saja, ada sekitar 12 buku yang Penulis baca bersamaan dari berbagai genre, mulai dari fiksi, sejarah, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Penulis tinggal memilih mana yang mau dibaca hari ini, benar-benar tergantung mood-nya.

Tips #2: Pilih Buku yang Ringan-Ringan Dulu Saja

Photo by Karolina Kaboompics

Selain topik, pemilihan bobot buku juga bisa menentukan semangat kita dalam membaca. Kalau belum terbiasa membaca, tips kedua, usahakan untuk memilih buku yang ringan-ringan dulu saja, baik dari segi ketebalan halaman maupun bahasa yang dimiliki.

Kalau mau memulai baca novel, bisa coba baca novel-novel ringan seperti karya Tere Liye atau Andrea Hirata. Jangan langsung baca novelnya Leila S. Chudori, nanti shock karena ceritanya yang berat dan dark.

Kalau misal mau membaca buku non-fiksi seperti sejarah, bisa mulai baca buku yang kecil atau tipis dulu. Misal mau baca tentang Perang Dunia II, ya jangan langsung baca buku Perang Eropa-nya P. K. Ojong yang tebal-tebal dan ada sampai tiga jilid.

Tips #3: Mulai dari Sedikit Dulu Saja

Photo by Enzo Muñoz

Tips ketiga, mulai dari sedikit dulu saja. Satu hari satu halaman pun tidak masalah, asal konsisten setiap hari. Nanti setelah semakin terbiasa, jumlah halaman atau durasi membaca dalam sehari bisa bertambah secara bertahap.

Agar bisa lebih konsisten, ada baiknya kalau kita memiliki time block untuk menentukan kapan kita membaca. Bisa setelah bangun, istirahat makan siang, atau menjelang tidur. Pilih waktu terbaik dari rutinitas harian kita.

Kebiasaan mikro seperti ini dibahas dalam buku Atomic Habits karya James Clear. Tidak apa-apa sedikit, yang penting rutin. Agar bisa dirutinkan, letakkan buku yang ingin dibaca di tempat yang mudah terlihat, jangan ditaruh di rak buku atau tempat tak terlihat lainnya.

Tips #4: Jangan Paksakan Diri untuk Menghabiskan Buku

Photo by Karolina Kaboompics

Terkadang, ada saja buku yang memang seolah ditakdirkan untuk tidak ditamatkan, dan hal itu sama sekali tidak masalah. Tips keempat, jangan pernah memaksakan diri untuk menghabiskan buku.

Mungkin setelah membaca seperempat atau setengah buku, ternyata isinya kurang cocok dengan kita. Tidak menamatkan buku yang sudah dimulai bukanlah sebuah dosa. Daripada dipaksa menyelesaikan tapi isinya tidak masuk, ya untuk apa.

Penulis mungkin punya puluhan buku yang bernasib seperti itu, ditutup sebelum halaman terakhir selesai dibaca. Mungkin suatu saat akan coba dibaca lagi, tapi tidak sekarang. Apalagi, masih ada banyak buku lain yang lebih menarik untuk ditamatkan.

Tips #5: Pinjam, Jangan Beli

Photo by Ivo Rainha

Tips keempat yang bisa digunakan untuk berhemat adalah jangan membeli buku. Lho, kok gitu? Karena dengan perasaan memiliki buku tersebut, kita jadi cenderung berpikir, “Halah, dibaca nanti saja kalau sudah senggang.” Akhirnya, malah tidak tersentuh sama sekali.

Kalau belum terbiasa membaca, Penulis menyarankan lebih baik meminjam saja, entah ke teman ataupun perpustakaan. Penulis sendiri sering meminjamkan buku-bukunya ke siapapun yang ingin membaca.

Dengan meminjam, kita jadi memiliki semacam deadline kapan buku tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan adanya deadline, kita pun jadi lebih termotivasi untuk segera memulai membaca dan menghabiskannya (opsional)

Tips #6: Baca dengan Suasana Nyaman

Photo by cottonbro studio

Tips kelima yang sering Penulis lakukan kepada dirinya sendiri adalah membuat suasana membaca menjadi senyaman mungkin. Kalau membacanya pewe, maka kita pun akan betah melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, asal jangan malah ketiduran!

Kalau Penulis, seringnya membaca di atas kasur dengan lampu baca dan aroma terapi yang menyala. Alternatif tempat lain untuk membaca adalah duduk di teras, mengingat di teras rumah Penulis ada banyak tanaman sehingga suasananya menjadi sejuk.

Selain itu, mendengarkan lagu ketika membaca juga bisa menambah kenyamanan dalam membaca. Playlist lagu-lagu klasik atau lo-fi sangat cocok sebagai teman membaca. Sebaiknya jangan mendengarkan lagu yang memiliki lirik, khawatirnya jadi susah fokus.

Tips #7: Jauhkan Smartphone

Photo by özgür

Seperti yang sudah pada tulisan sebelumnya, Penulis memanfaatkan buku untuk menjauhkan dirinya dari media sosial. Percayalah, salah satu faktor yang membuat Penulis malas membaca buku adalah karena adanya distraksi dari smartphone-nya.

Oleh karena itu, tips terakhir, jauhkan smartphone ketika ingin membaca. Ketika membaca di kamar, Penulis biasanya menyalakan mode senyapnya dan meletakkannya di meja kerja. Kalau membaca di teras, ya smartphone-nya ditinggal saja di kamar.

Buku bisa menjadi subtitusi yang menarik dari smartphone ketika kita butuh mengisi waktu luang. Bahkan, belakangan Penulis lebih sering membawa buku ke kamar mandi ketika ada panggilan alam dibandingkan membawa smartphone.

Lantas, bagaimana jika kita membaca buku lewat aplikasi di smartphone. Nah, kebetulan Penulis merupakan pembaca konvensional yang tidak suka membaca buku digital. Kalau lebih suka membaca di smartphone, ya yang kuat saja menahan godaan untuk membuka apliaksi lain.

Penutup

Kurang lebih seperti itulah tips agar semangat membaca yang telah Penulis terapkan sendiri dalam kehidupannya. Mungkin tidak semua tips cocok untuk Pembaca sekalian, tidak apa- Pilih saja tips yang cocok dengan gaya hidup Pembaca.

Yang jelas, membaca buku hingga saat ini tetap menjadi media favorit Penulis entah untuk hiburan maupun mendapatkan ilmu, meskipun sekarang ada banyak konten di media sosial maupun YouTube yang bisa menghadirkan hal tersebut.

Semoga tips di atas bisa menjadi penyemangat kita untuk bisa lebih banyak membaca buku, ya!


Lawang, 25 Juni 2024, terinspirasi setelah menulis artikel Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial kemarin

Foto Featured Image: Pixabay

Continue Reading

Produktivitas

Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial

Published

on

By

Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.

Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik.

Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah “menjebak” Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.

Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang

Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by Andrea Piacquadio)

Dalam tulisan Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti.

Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma.

Adanya unsur “kejutan” membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada mindset untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.

Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan scrolling-scrolling di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.

Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap.

Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan “dedikasi” kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.

Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.

Konten panjang memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.

Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.

Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa.

Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis

Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by Monstera Production)

Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan detox untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.

Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan.

Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah limit, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus limit yang sudah dibuat.

Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau Penulis pribadi memilih media buku, “kawan lama” yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.

Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk membaca buku yang benar-benar menarik minatnya, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah Keajaiban Toko Kelontong Namiya.

Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, Penulis suka sejarah, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah Sejarah Prancis dan Memahami Jepang.

Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik Dragon Ball Super dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.

Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung mood-nya.

Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan algoritma mereka.

Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat.

Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial How I Met Your Mother. Bahkan, final season-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial.

Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.

Penutup

Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.

Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.

Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh “lari” dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.


Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi

Foto Featured Image: Monstera Production

Continue Reading

Pengembangan Diri

Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri

Published

on

By

Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen “lawas” seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai cryptocurrency.

Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Penulis sendiri telah mencoba beberapa instrumen investasi.

Di sisi lain, banyak yang salah kaprah tentang investasi dan meniatkannya hanya sebagai cara untuk kaya dengan instan. Banyak orang-orang yang hanya FOMO dan ikut-ikutan tanpa benar-benar memahami instrumen yang mereka investasikan.

Pengalaman Investasi Penulis

Tren Saham META Lima Tahun Terakhir

Penulis ingin berbagi sedikit tentang investasi yang pernah dicoba, meskipun tidak banyak. Cerita ini bukan rekomendasi ataupun anjuran, hanya berbagi pengalaman saja mana yang berhasil cuan mana yang boncos.

Investasi pertama yang pernah Penulis coba adalah emas digital menggunakan platform Tokopedia. Emas adalah instrumen yang relatif aman, sehingga Penulis berhasil cuan setelah “menyimpannya” cukup lama.

Setelah itu, Penulis berusaha merambah ke investasi lain karena merasa pergerakan emas cukup lambat. Ada dua instrumen yang Penulis pilih, yakni reksadana dan saham. Untuk reksadana Penulis memilih Bibit, sedangkan saham memilih Ajaib.

Untuk yang belum tahu, secara sederhana beda dari saham dan reksadana adalah jika di saham kita memilih sendiri saham apa yang dibeli dan kapan membelinya, maka di reksadana kita akan menyerahkan dana kita ke manajer investasi untuk dikelola.

Di Bibit, ada tiga jenis reksadana, yakni Reksadana Pasar Uang, Obligasi, dan Saham. Untuk alokasinya, Penulis saat ini membaginya 38% di Pasar Uang, 47% di Obligasi, dan 15% di Saham. Selain Saham yang boncos, dua jenis lainnya berhasil mendatangkan cuan.

Untuk saham di Ajaib, Penulis memiliki empat jenis saham yang semuanya BUMN, yakni ANTM (Aneka Tambang), PTBA (Bukit Asam), TLKM (Telkom Indonesia), dan WIKA (Wijaya Karya). Keempat-empatnya minus hingga ke tahap yang bikin sakit mata.

Selain saham Indonesia, Penulis juga mencoba investasi saham perusahaan luar menggunakan platform GoTrade. Ada lima perusahaan yang Penulis miliki sahamnya, yakni Apple, Advanced Micro Devices (AMD), Google, Manchester United (MU), dan Meta (Facebook).

Hanya AMD dan MU yang minus karena Penulis membelinya tidak di waktu yang tepat, sedangkan tiga lainnya berhasil mendatangkan cuan. Bahkan, kenaikannya bisa sampai ratusan kali lipat karena Penulis membelinya ketika banyak saham teknologi turun di masa pandemi.

Penulis tidak pernah mencoba cryptocurrency karena beberapa hal alasan, seperti merasa konsep crypto yang wujud barangnya tidak jelas, kenaikan dan penurunan harganya yang tergantung demand, hingga status halal-haramnya yang masih simpang-siur.

Selain itu, Penulis juga pernah mendengar dari temannya yang mencoba Deposito (konsep menabung di bank di mana nasabah tidak boleh mengambil uangnya untuk jangka waktu tertentu), di mana akhirnya ia harus penalti karena harus mengambil uangnya sebelum waktunya.

Investasi Bukan Sarana untuk Kaya Instan

Kasus Anjloknya Nilai LUNA (CoolWallet)

Penulis mulai berinvestasi ketika mulai bekerja, tepatnya ketika masa pandemi. Saat itu, tren investasi memang mulai naik dengan narasi “persiapan masa tua” dan “membiarkan uang yang bekerja untuk kita.” Bisa dibilang, mungkin waktu itu Penulis juga FOMO.

Uang yang Penulis investasikan pun uang dingin alias tabungan, bukan uang panas. Jumlah yang Penulis investasikan pun tidak banyak karena niatnya memang bukan untuk cepat kaya, melainkan lebih untuk menabung. Kalau nabung di bank, kan, uangnya tidak bertambah.

Nah, ketika Penulis mengamati tren investasi sekarang terutama di generasi muda, kebanyakan niatnya memang ingin kaya dengan cepat dan instan. Hal ini terbukti dari banyaknya jargon bernada seperti “McLaren lu warna apa, bos?” yang menunjukkan materialisme.

Teman Penulis ada yang mengikuti kelas investasi seharga 17 juta dari seorang influencer terkenal. Ia mengatakan kalau isi kelas tersebut memang daging dan bermanfaat untuk orang tepat. Saat Penulis tanya berapa persen orang yang tepat tersebut, ia menjawab hanya 5%.

Inilah yang Penulis khawatirkan: investasi karena FOMO dan ingin kaya secara instan. Akibatnya, bisa jadi uang yang diinvestasikan tersebut merupakan uang hasil hutang ataupun memanfaatkan pinjaman online, dengan harapan uang yang diputar akan berkembang biak secara cepat.

Mungkin Pembaca masih ingat kasus pembunuhan yang dilakukan masalah UI akibat terlilit hutang hingga 80 juta yang ia gunakan untuk berinvestasi di cryptocurrency. Contoh lain adalah ketika banyak orang kehilangan uang begitu saja ketika nilai LUNA anjlok.

Sampai sekarang, Penulis masih meyakini tidak ada cara instan yang benar untuk menjadi kaya. Kalau kita bukan anak konglomerat, butuh proses yang panjang dan terjal untuk bisa menjadi kaya. Jangan berharap bisa kaya instan dari investasi.

Investasi Itu Butuh Income

“McLaren lu warna apa, bos?” (Road & Track)

Satu hal lain yang membuat Penulis merasa miris adalah ada beberapa generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah merasa ingin fokus ke investasi hingga merasa pendidikan itu tidak penting sama sekali. Bahkan, tak sedikit yang sampai memutuskan untuk berhenti sekolah/kuliah.

Bukan hanya karena masalah pendidikan itu penting, tapi Penulis merasa miris betapa salahnya mindset mereka dengan menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama hidup dan seolah-olah hal lainnya (termasuk pendidikan) menjadi tidak penting.

Selain itu, banyak yang lupa kalau investasi itu butuh dana untuk diinvestasikan. Penulis tadi sudah menyinggung betapa bahayanya jika kita menggunakan uang panas untuk diinvestasikan, apalagi ke instrumen yang risikonya tinggi seperti crypto.

Kecuali kalau kita anak konglomerat yang diam saja dapat uang, mungkin masih bisa. Akan tetapi, tentu hal tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Mayoritas ya harus berjuang dan bekerja dulu untuk bisa mendapatkan dana yang bisa diinvestasikan. Tidak mungkin, kan, mengandalkan uang saku dari orang tua terus?

Oleh karena itu, kita butuh bekerja. Untuk bisa bekerja, kita butuh skill yang bisa didapatkan dari mana saja, tidak hanya dari jalur pendidikan. Nah, inilah yang sering diabaikan oleh generasi muda, di mana mereka terlalu fokus investasi hingga lupa mengembangkan diri.

Mereka ingin kaya dengan cepat sampai lupa kalau punya skill untuk meningkatkan value diri itu sangat penting. Mereka ingin kaya secara instan, tapi tidak ada pemasukan dana yang stabil untuk bisa diinvestasikan.

Skill tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah atau universitas, ada banyak sarana untuk bisa meningkatkan skill, entah dari YouTube, mengikuti kelas online, ikut orang untuk menyerap ilmunya, dan lain sebagainya. Apalagi, sekarang serba mudah dan bisa diakses setiap saat.

Kalau menurut Penulis, cara paling ideal untuk berinvestasi adalah kita fokus mengembangkan dulu diri kita agar memiliki skill dan value yang tinggi. Setelah itu, kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak dan sebagian dari gaji tersebut bisa kita investasikan.

Semua orang ingin menjadi kaya, tapi jangan sampai itu yang menjadi tujuan hidup, melainkan apa yang ingin dilakukan ketika berhasil menjadi kaya. Misal, ingin kaya karena banyak ingin bersedekah dan bermanfaat untuk sekitarnya, bukan untuk pamer McLaren.

Penutup

Sebagai disclaimer, Penulis tidak melarang siapapun untuk melakukan investasi. Silakan saja, toh uang yang dipakai bukan uang Penulis. Di sini, Penulis hanya ingin saling mengingatkan kalau jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan diri sendiri.

Penulis sendiri sebenarnya belum rutin melakukan investasi setiap bulan karena uangnya kepakai untuk keperluan lain (seperti membeli board game, ehem). Berinvestasi dalam hidup Penulis hanya sebagai compliment saja, bukan menjadi aktivitas utama.

Berinvestasi itu penting, dan Penulis bersyukur di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk melakukan investasi. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan aset terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.


Lawang, 18 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena di mana banyak orang FOMO investasi sampai lupa mengembangkan skill diri

Foto Featured Image: Prosper Wealth Management

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan