<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sendiri Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sendiri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sendiri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sendiri Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sendiri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 01:21:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6125</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari Desi Anwar yang berjudul The Art of Solitude. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga. Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari <strong>Desi Anwar</strong> yang berjudul <em><strong>The Art of Solitude</strong></em>. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga.</p>



<p>Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul <em><strong>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</strong>.</em> Setelah ditimbang-timbang, Penulis pun memutuskan untuk membeli yang bahasa Indonesia saja.</p>



<p>Sama seperti buku-buku Desi Anwar yang lain seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, buku ini juga cukup tipis sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Bedanya, buku yang satu ini akan berisi pemikiran Desi selama masa pandemi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</em></li><li>Penulis: Desi Anwar</li><li>Penerbit: Penerbit Gramedia</li><li>Cetakan: Ketiga</li><li>Tanggal Terbit: September 2021</li><li>Tebal: 221 halaman</li><li>ISBN: 9786020648330</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam pendahuluannya, Desi telah menyebutkan kalau buku ini terinspirasi di masa-masa ketika kita harus menjalani <em>lockdown</em>, karantina mandiri, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">PPKM</a>, dan lain sebagainya. Interaksi antarmanusia benar-benar dibatasi karena adanya virus COVID-19.</p>



<p>Dengan begitu, banyak pemikirannya di buku ini yang mengambil sudut pandang ketika kita dipaksa sendirian oleh keadaan. Apa yang ada di pikiran kita di masa-masa ini? Apa yang bisa dipelajari dengan situasi yang ada?</p>



<p>Dari banyaknya tulisan yang ada di buku ini, kebanyakan akan berfokus pada bagaimana pandemi kemarin akan membuat kita memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Selama ini, mungkin saja kita sering mengabaikannya karena berbagai kesibukan kita.</p>



<p>Pandemi kemarin juga mengajak kita untuk lebih mengenal diri sendiri, entah itu dari melamun, merenung, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">menikmati kebosanan</a>, dan lain sebagainya. Jika mau lihat &#8220;<em>silver lining</em>&#8221; dari pandemi kemarin, mungkin itu adalah salah satunya.</p>



<p>Seperti buku-buku Desi lainnya, setiap bab di buku ini juga hanya terdiri dari 4-5 halaman saja. Ada sekitar 40 topik yang bisa dibaca. Sayangnya, karena Penulis sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, Penulis lupa mana yang jadi favoritnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</h2>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert </em>dan suka menyendiri, buku ini cukup <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Memang tidak semua topiknya seperti itu, tetapi buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca di kala senggang. </p>



<p>Penulis juga mengalami sendiri bagaimana masa pandemi kemarin membawa Penulis untuk mengenal dirinya sendiri. Karena tidak bisa ke mana-mana (walau pada dasarnya Penulis jarang keluar), Penulis jadi lebih sering merenung saat tidak ada aktivitas.</p>



<p>Topik yang dibawakan oleh Desi Anwar di buku ini juga cukup luas. Tidak hanya ajakan untuk memanfaatkan kesendirian di saat pandemi untuk lebih mengenal diri sendiri, ada juga topik yang serius seperti kematian dan masa depan manusia.</p>



<p>Beberapa topik juga terkesan bertele-tele dan terlalu diulur-ulur seolah itu dilakukan demi menambah jumlah halaman agar buku ini tidak terlalu tipis. Itu membuat buku ini terasa agak membosankan. Penulis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menamatkannya.</p>



<p>Namun, <em>overall</em>, buku ini masih oke untuk dibaca, terutama untuk orang-orang yang ingin lebih mengenal diri sendiri. Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, cobalah cari waktu untuk diri sendiri agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 November 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepaskan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:19:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[melepaskan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika mendengar kata melepaskan, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan. Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan perpisahan, baik terpisah secara fisik mampan batin. Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit. *** Orangtua kerap melepas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p style="text-align: left;">Jika mendengar kata <strong>melepaskan</strong>, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan.</p>
<p style="text-align: left;">Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan <strong>perpisahan</strong>, baik terpisah secara fisik mampan batin.</p>
<p style="text-align: left;">Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Orangtua kerap melepas anaknya ke tanah rantau, baik untuk studi ataupun mencari kesempatan lainnya. Di sini, orangtua harus belajar melepaskan anaknya dan mulai membiasakan diri untuk hidup jauh dari anaknya.</p>
<p style="text-align: left;">Awalnya, pasti orangtua akan merasa berat. Ada saja hal yang akan membuat mereka khawatir, mulai dari keteraturan makan, kesehatan, hingga faktor ekonomi.</p>
<p style="text-align: left;">Namun seiring berjalannya waktu, mereka akan menjadi tenang. Sang anak ternyata mampu hidup mandiri di kota orang.</p>
<p style="text-align: left;">Di dalam perjalanan tersebut, orangtua belajar melepaskan anaknya. Awalnya memang sangat berat, namun pada akhirnya mereka bisa mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Melepaskan menjadi sesuatu yang <strong>berat karena cinta</strong>. Mau bagaimanapun, disuruh berpisah dengan orang yang kita cintai itu berat.</p>



<p style="text-align: left;">Jika kita sudah menyayangi seseorang atau kelompok, kita pasti ingin bersama mereka terus. Kita ingin sebanyak-banyaknya membuat momen yang akan menjadi kenangan indah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Hanya saja, terkadang takdir membuat kita harus berpisah dengan beragam alasan.</em></p>
<p style="text-align: left;">Misal ketika kita harus terpaksa berpisah dengan kekasih yang sangat disayangi. Ketika kita berada di titik tersebut, pasti melepaskan akan menjadi sesuatu yang sangat berat.</p>
<p style="text-align: left;">Kita akan terus <strong>merasa ketakutan bagaimana hidup ini jadinya</strong>. Tak pernah terbayangkan bagaimana dunia tanpa kehadiran dirinya.</p>
<p style="text-align: left;">Kenangan-kenangan yang pernah dibuat justru semakin menambah luka di hati. Kita ingin lebih banyak lagi membuat kenangan seperti itu.</p>
<p style="text-align: left;">Beragam cara dilakukan agar kita berhasil <em>move on</em>. Memblokir kontak, tidak kepo dengan aktivitasnya di media sosial, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya? Ada yang berhasil, ada yang <em>gamon </em>alias gagal <em>move on</em>. Mau pakai cara apapun, sosoknya masih selalu terbayang-bayang di pikiran.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Di sinilah kita butuh belajar melepaskan.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>People come and go</em>. <strong>Orang akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita</strong>. Ada yang pergi karena kematian, ada yang tiba-tiba menghilang, ada yang karena konflik, macam-macam.</p>
<p>Semua yang ada di dunia ini sifatnya <strong>fana dan sementara</strong>. Tidak ada yang benar-benar abadi. Di sini lah pentingnya untuk belajar melepaskan, bahkan melepaskan orang yang sangat disayang sekalipun.</p>
<p>Dari pengalaman pribadi, Penulis merasa salah satu penghalang terbesar untuk melepaskan adalah <strong>perasaan sayang yang berlebihan</strong>. Perasaan tersebut justru menjadi benalu yang membelenggu diri sendiri.</p>
<p>Seperti yang sudah sering Penulis sebutkan di dalam blog ini, apapun yang berlebihan tidak pernah baik. Perasaan sayang menjadi salah satunya.</p>
<p>Dalam kasus ini, cara belajar melepaskan adalah <strong>mengurangi kadar sayang</strong> tersebut. Bukan berarti kita menjadi jahat. Sayangilah orang lain dalam kadar yang secukupnya. Memang sulit karena tidak ada takaran sayang yang pasti, tapi harus dilakukan.</p>
<p>Kita juga harus tahu kalau orang memiliki kehidupannya masing-masing. Bisa jadi, diri kita sudah tidak masuk di dalam rencana hidupnya. Bisa jadi, kita yang terlalu tinggi menilai diri sendiri.</p>
<p>Perlu dicatat, kita <strong>tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain</strong>. Yang bisa kita kendalikan adalah perasaan diri sendiri. Maka dari itu, kita harus fokus untuk mengendalikan perasaan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Salah satu upaya yang bisa membantu kita untuk melepaskan adalah <strong>membuka diri ke orang baru</strong>. Orang <em>introvert </em>macam Penulis jelas akan kesulitan melakukannya.</p>
<p>Akan tetapi, hal ini penting untuk dilakukan. Melepaskan kerap menimbulkan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">perasaan takut kesepian</a> yang cukup parah. Dengan bertemu orang-orang baru dan berusaha berbaur dengan mereka, kita (seharusnya) tidak akan merasa kesepian.</p>
<p>Penulis merasa dirinya termasuk sulit untuk membuka diri. Di sisi lain, Penulis kerap merasa kesepian karena sendirian di tanah rantau.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis harus belajar secara bertahap agar lebih bisa membuka dirinya dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru. </p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melepaskan, apalagi dengan ikhlas, memang berat. Terkadang membutuhkan waktu yang singkat untuk bisa menerimanya, tapi rasanya lebih sering berdurasi panjang.</p>
<p>Perasaan sayang yang berlebihan tidak baik karena kita jadi sulit untuk melepaskan. Agar bisa belajar melepaskan, kita harus bisa mengendalikan perasaan diri sendiri.</p>
<p>Sulit, tapi bisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Juni 2020, terinspirasi dari perenungan selama berhari-hari</p>
<p>Foto: <a href="https://blog.bridgebetween.com/6-small-changes-to-becoming-your-best-self/balloon-release-let-it-go/">Bridge Between</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Kewarasan</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2020 23:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[waras]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisakah kita menjaga kewarasan? Di saat masa-masa sulit seperti ini Di saat kita tak bisa hidup dengan normal Di saat semuanya kacau balau Di saat pelan-pelan membusuk Di saat tekanan datang dari segala arah Bisakah kita menjaga kewarasan? Di saat kita terpisah jauh dari orang-orang tercinta Di saat merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/">Menjaga Kewarasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat masa-masa sulit seperti ini<br />
Di saat kita tak bisa hidup dengan normal<br />
Di saat semuanya kacau balau<br />
Di saat pelan-pelan membusuk<br />
Di saat tekanan datang dari segala arah</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat kita terpisah jauh dari orang-orang tercinta<br />
Di saat merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat apapun<br />
Di saat harus terkungkung seorang diri jauh dari mana pun<br />
Di saat hidup sendirian menjadi penderitaan paling menyiksa<br />
Di saat tak ada lagi yang peduli dengan keberadaan kita</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat ketidakpastian mengintai di mana-mana<br />
Di saat kepastian menjadi barang langka<br />
Di saat kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam waktu dekat<br />
Di saat semuanya serba kabur<br />
Di saat semuanya tertutup oleh pekatnya kabut</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat langkah begitu terbatas<br />
Di saat bergerak menjadi sebuah ketakutan<br />
Di saat kita mencurigai semua orang<br />
Di saat tak ada siapapun yang bisa dipercaya<br />
Di saat angka kematian hanya sekadar statistik</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat depresi datang mengintai<br />
Di saat kecemasan terus menghantui<br />
Di saat frustasi terus hinggap di pikiran<br />
Di saat tidur tak lagi bisa lelap<br />
Di saat bangun menjadi hal yang menakutkan</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat tertawa menjadi sesuatu yang sulit<br />
Di saat tangis tak lagi bisa mengalir<br />
Di saat jantung berdebar tak kauran<br />
Di saat teriak tak bisa didengar<br />
Di saat telinga menutup dirinya rapat-rapat</p>
<p>Bisakah kita menjaga kewarasan?<br />
Di saat sepi menjadi satu-satunya pendamping<br />
Di saat bayangan paling setia pun pergi<br />
Di saat ketakutan mulai menguasai diri<br />
Di saat semua batas menjadi kabur<br />
Di saat kita tak lagi mengenal diri sendiri</p>
<p>Bisakah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 Mei 2020, terinspirasi dari musibah yang sedang menghampiri kita semua</p>
<p>Foto: <a href="https://www.greenscene.co.id/2019/05/02/the-killing-joke-cikal-bakal-kegilaan-joker-dalam-semesta-dc/">Greenscene</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/menjaga-kewarasan/">Menjaga Kewarasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 19:42:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[autophobia]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Dependency Disorder]]></category>
		<category><![CDATA[fobia]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.</p>
<p>Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis tetap kesulitan tidur.</p>
<p>Lantas, berawal dari sebuah balasan <em>chat</em> di WhatsApp yang menimbulkan kecemasan, penulis menemukan yang namanya <em><strong>Emotional Dependency Disorder </strong></em>(EDD) atau lebih mudah disebut sebagai <strong><em>autophobia</em></strong>. Rasa takut akan sendirian.</p>
<p>Memang butuh dikonfirmasi ke psikiater, akan tetapi penulis merasa inilah yang menyebabkan penulis susah tidur, sering gelisah, hingga kadang terkena serangan panik ringan.</p>
<h3>Apa Itu <em>Autophobia</em>?</h3>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung di atas, <em>autophobia </em>adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa ketakutan ketika sendirian. Akibatnya, akan timbul rasa cemas yang berlebihan, seringkali irasional.</p>
<p>Selain itu, akan muncul juga perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya mungkin terlalu dilebih-lebihkan.</p>
<p>Ketika membaca beberapa sumber, penulis merasa ciri-ciri yang dipaparkan benar-benar sesuai sehingga mengejutkan penulis. Penulis tak menyangka bahwa ada kondisi mental yang benar-benar menggambarkan apa yang penulis rasakan selama ini.</p>
<h3>Ciri-Ciri <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2599" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2599" class="size-large wp-image-2599" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2599" class="wp-caption-text">Autophobia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medicalnewstoday.com/articles/319816.php" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjF1vXc7NXjAhVTXnwKHdpZDgsQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medical News Today</span></a>)</p></div></p>
<p>Umumnya, orang yang menderita (jika ini memang termasuk gangguan kondisi mental) <em>autophobia </em>akan merasa nyaman jika sedang berada bersama orang lain.</p>
<p>Mungkin ini yang menjelaskan mengapa ketika di rumah, penulis bisa tidur dengan nyaman. Itu pula mengapa ketika adik datang berkunjung ke Jakarta, penulis merasa lebih tenang.</p>
<p>Penderita <em>autophobia </em>cenderung <strong>memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</strong>. Mereka memiliki obsesi untuk memelihara &#8220;kesempurnaan&#8221; dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Penulis merasa memiliki tendensi untuk <strong>memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain</strong>. Kenyataan pahitnya, itu jugalah yang <em>penulis harapkan dari orang lain</em>.</p>
<p>Ciri lainnya adalah <strong>tidak bisa tegas</strong>, cenderung<strong> egois</strong>, <strong>mudah cemas</strong>, <strong>susah beradaptasi </strong>dengan lingkungan baru, dan <strong>suasana hatinya sering berubah-ubah</strong>.</p>
<p>Bahkan, penderita sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakan tidak sebading dengan bahaya yang menyertai kesendirian.</p>
<p>Astaga, penulis benar-benar merasa <em>shock </em>sewaktu membaca ciri-ciri ini. Entah bagaimana ini bisa sangat akurat.</p>
<p>Akibat yang ditimbulkan dari <em>autophobia </em>adalah <strong>ketergantungan dengan orang lain</strong>. Penderita akan sering merasa tidak yakin untuk membuat keputusan atau melakukan sebuah aktivitas. Penulis sering mengalami hal tersebut.</p>
<p>Contoh yang paling terbaru adalah ketika penulis hendak membeli kacamata baru. Sebelum membeli, penulis menelepon orang rumah untuk membantu penulis mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang amat sepele.</p>
<h3>Penyebab <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2598" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2598" class="size-large wp-image-2598" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2598" class="wp-caption-text">Faktor Orangtua (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.handinhandparenting.org/2016/07/why-i-get-so-angry-with-my-kids/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj4jYGo69XjAhVg8HMBHaKcDz8QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Hand in Hand Parenting</span></a>)</p></div></p>
<p>Ketika membaca penyebab munculnya ketakutan ini, penulis merasa berat untuk menuliskannya di sini.</p>
<p>Menurut sumber, penyebab <em>autophobia </em>adalah <strong>orangtua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anaknya ketika kecil dan cenderung mendikte apapun yang harus dilakukan</strong>.</p>
<p>Selain itu, ketika sang anak berusaha mengambil keputusan, sering kali orangtua tidak menyetujuinya dan memberikan keputusan yang mereka anggap lebih baik untuk sang anak.</p>
<p>Orangtua penulis, yang amat sangat penulis sayangi, memang mendidik seperti itu. Penulis tentu tidak akan menyalahkan mereka karena yakin maksud mereka baik. Apalagi, penulis adalah anak pertama, sehingga wajar jika mendapatkan didikan yang paling ketat.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak menyimpan dendam untuk masalah ini. Bahkan, penulis sudah pernah secara terbuka menyampaikan bagaimana perasaan penulis sewaktu kecil yang cenderung dikekang, dan mereka pun memahaminya.</p>
<p>Hanya saja, akibatnya penulis susah mendapatkan teman ketika masa-masa sekolah. Ketika menemukannya, penulis justru seperti bergantung kepada mereka agar tidak merasa kesepian.</p>
<h3>Mengapa Baru Sekarang?</h3>
<p><div id="attachment_2600" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2600" class="wp-image-2600 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2600" class="wp-caption-text">Karang Taruna</p></div></p>
<p>Lantas, mengapa baru akhir-akhir ini saja penulis mengalami ketakutan akan sendirian? Penulis merasa tahu akan jawabannya.</p>
<p>Akibat kekangan orang tua, bisa dibilang penulis tidak memiliki teman yang benar-benar dekat sewaktu sekolah. Ada yang dekat karena satu kompleks perumahan, dua orang, dan kami masih menjalin hubungan dengan baik hingga sekarang bagai saudara.</p>
<p>Jadi, bisa dibilang semasa sekolah <strong>penulis terbiasa sendirian</strong>. Ada teman, ada gebetan, tapi lebih sering sendiri dan merasa ingin sendirian. Ego penulis waktu itu benar-benar tinggi, sehingga penulis merasa gemas dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Lantas, sewaktu kuliah, penulis mulai berusaha untuk menjalin hubungan dengan lebih baik lagi agar bisa memiliki teman-teman dekat lebih banyak.</p>
<p>Selain karena tinggal bersama nenek sehingga lebih bebas, penulis merasa bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik. Penulis pun memiliki teman-teman dekat, yang penulis juluki 11 Pria Tampan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis baru merasakan &#8220;pertemanan&#8221; yang lebih intens adalah ketika <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">membentuk Karang Taruna</a> bersama dua orang yang sudah penulis sebutkan sebelumnya. Di sana, penulis bertemu dan berkenalan dengan semua remaja yang ada di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Banyak yang <em>nyiyir </em>dengan menganggap penulis main bersama anak-anak kecil. Tak apa, mereka memang tidak memahami latar belakang dan masa lalu penulis.</p>
<p>Yang jelas, berkumpul dengan mereka, entah ketika sedang ada program kerja atau sekadar bermain, membuat penulis merasa bahagia dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">merasa dibutuhkan</a>.</p>
<p>Penulis seolah menemukan kepingan yang hilang dari masa kecil penulis. Hal itu membuat penulis amat menyayangi mereka dan seolah rela berbuat apa saja demi mereka (termasuk menunda skripsi dan bekerja).</p>
<p>Akan tetapi, justru karena inilah <em>autophobia </em>penulis dimulai. Ini baru sekadar asumsi, belum terbukti secara medis. Semoga saja salah.</p>
<p>Karena kedekatan yang terjalin akibat pertemuan yang hampir setiap hari, penulis menjadi <strong>takut dilupakan oleh mereka</strong> ketika merantau ke Jakarta. Penulis merasa tergantung dengan mereka agar tidak merasa sendirian.</p>
<p>Mungkin ada pembaca yang ingin tertawa atau menganggapnya <em>lebay</em>, tapi itulah yang penulis rasakan.</p>
<p>Untuk mencegah hal tersebut terjadi, penulis berusaha memberikan perhatian ke mereka meskipun dari jauh. Menanyakan tentang rencana masa depan, komentar di <em>story</em>, dan lain-lain. Mungkin saja, ada yang merasa risih dengan yang penulis lakukan.</p>
<p>Sayang, ketakutan untuk dilupakan (yang pada akhirnya akan membuat penulis merasa sendiri) tidak bisa terobati dengan hal tersebut. Yang ada, ketakutan tersebut semakin membesar hingga mengganggu kesehatan penulis, fisik maupun mental.</p>
<h3>Penanganan <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2601" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2601" class="size-large wp-image-2601" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2601" class="wp-caption-text">Butuh Pendengar (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://web.liramedika.com/news/waktu-yang-tepat-mengunjungi-psikiater/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjt49GC7dXjAhU0huYKHQaZCEgQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">RS Lira Medika</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika terus berlanjut, <em>autophobia </em>bisa berubah menjadi <strong>depresi</strong>. Apalagi jika penulis makin sering  ketakutan, panik, hingga merasa sedih.</p>
<p>Penulis tidak ingin itu terjadi, sehingga berusaha mencari solusi. Mencari pendengar yang bisa memahami diri penulis adalah salah satunya. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas juga bisa menjadi obat.</p>
<p>Selain itu, penulis harus membiasakan diri untuk nyaman ketika sendirian. Penulis juga harus belajar membuat keputusan dengan cepat tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, terutama untuk masalah-masalah sepele.</p>
<p>Yang berat adalah bersikap realistis terhadap kebutuhan orang lain. Penulis harus memahami bahwa mereka, yang penulis beri perhatian, bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka baik-baik saja sebelum bertemu dengan penulis dan punya orang lain yang memberikan dukungan.</p>
<p>Penulis juga harus memahami bahwa setiap orang tidak bisa diberi perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Mereka juga butuh waktu sendiri untuk mengembangkan diri. Yang penulis lakukan selama ini ternyata justru bisa menghambat mereka.</p>
<p><em>Berat, ini sungguh berat&#8230;</em></p>
<p>Penulis juga harus meningkatkan waktu menyendiri. Penulis tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel untuk sekadar mengecek grup. Kasarnya, harus berusaha <em>move on. </em>Mungkin, meningkatkan sikap cuek juga bisa membantu.</p>
<p>Tentu bukan berarti penulis harus menghancurkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik. Tidak. Yang penulis lakukan adalah mengurangi intensitasnya, sehingga tidak berlebihan.</p>
<p>Selain itu, penulis juga harus berusaha lebih jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis akan berusaha menyampaikan apa yang penulis inginkan dan butuhkan dari orang lain secara terbuka dan apa adanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Di dalam hati kecil penulis, ada harapan bahwa semua yang penulis tuliskan di atas salah, penulis tidak mengidap <em>autophobia </em>atau <em>Emotional Dependency Disorder. </em>Sayang, ciri-ciri yang penulis temukan di berbagai sumber benar-benar penulis alami semua.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa bernapas lega karena menemukan salah satu permasalahan yang menyebabkan penulis kerap susah tidur dan gelisah tanpa sebab. Yang harus penulis lakukan adalah berusaha menghilangkan fobia tersebut secara bertahap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Juli 2019, terinspirasi setelah tiba-tiba terkena serangan panik ringan akibat merasa takut akan dilupakan orang lain.</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/mengenal-autophobia">Beauty Journal</a>, <a href="https://doktersehat.com/fobia-takut-sendirian-dependency-disorder/">Dokter Sehat</a>, <a href="https://www.merdeka.com/sehat/kamu-takut-sendirian-bisa-jadi-kamu-idap-gangguan-mental-ini.html">Merdeka</a>, <a href="https://id.m.wikihow.com/Mengatasi-Autophobia-(Fobia-Kesendirian-atau-Kesepian)">Wikihow</a>, <a href="https://www.medcom.id/rona/kesehatan/4ba28Zak-mengapa-seseorang-takut-sendirian">Medcom</a></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@thirdworldhippy">mwangi gatheca</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 14:58:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[ketua]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1080</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis masih belajar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, setidaknya bagi diri penulis sendiri. Dulu, ketika masih menjabat sebagai ketua Karang Taruna, terdapat satu kesalahan di antara kesalahan-kesalahan lainnya yang menurut penulis paling fatal, dan itu menjadi pembelajaran yang baik untuk penulis. Apa itu? Memikul beban sendirian. Karena sifat perfeksionis yang dimiliki, penulis seringkali merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis masih belajar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, setidaknya bagi diri penulis sendiri. Dulu, ketika masih menjabat sebagai ketua Karang Taruna, terdapat satu kesalahan di antara kesalahan-kesalahan lainnya yang menurut penulis paling fatal, dan itu menjadi pembelajaran yang baik untuk penulis. Apa itu?</p>
<p>Memikul beban sendirian.</p>
<p>Karena sifat perfeksionis yang dimiliki, penulis seringkali merasa tidak puas dengan kinerja anggota penulis. Selain itu, karena kurang telaten, penulis kerap mengerjakan tugas-tugas organisasi sendirian.</p>
<p>Jelas ini tidak sehat bagi organisasi. Oke, tugas organisasi memang selesai, tapi bagaimana dengan pengembangan anggota? Jika yang berpikir dan mengerjakan hanya ketua, lantas bagaimana anggotanya bisa belajar?</p>
<p>Ya, itu merupakan salah satu hal yang penulis sesali selama menjadi ketua Karang Taruna, dan penulis berusaha agar hal tersebut tidak terulang di kepengurusan selanjutnya. Caranya, ya mewanti-wanti agar jangan sampai ketua yang baru mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Akibat menanggung beban sendirian, penulis beberapa kali merasa kebingungan sendiri, merasa stres sendiri. Selain itu, teman-teman seangkatan penulis banyak yang sudah merintis karir di luar lingkungan, sehingga penulis merasa tidak ada tempat untuk melakukan <em>sharing</em>. Padahal, hal tersebut juga bisa dilakukan dengan angkatan yang lebih muda.</p>
<p>Memang, ada anggota yang pasif, ada yang aktif. Penulis rasa semua organisasi seperti itu. Yang seharusnya penulis lakukan adalah membagi apa yang penulis pikirkan tentang organisasi, terlepas apakah mereka memberikan respon atau tidak. Setidaknya, mereka akan memahami apa yang terjadi di organisasi.</p>
<p>Kesuksesan seorang pemimpin tidak hanya dilihat ketika mereka menjabat, tetapi apakah organisasi yang mereka pimpin bisa menjadi lebih baik ketika berganti kepemimpinan.</p>
<p>Semoga saja kesalahan yang penulis buat bisa diatasi oleh ketua yang baru. Tentu, dengan pendampingan dari penulis sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang pernah dibuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinspirasi ketika melihat kepanitian 17an yang baru</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
