<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>viral Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/viral/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/viral/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 May 2023 16:03:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>viral Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/viral/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hype Konser Coldplay di Indonesia: Beneran Nge-fans atau Sekadar FOMO?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 May 2023 11:23:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Coldplay]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[hype]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu terakhir, nama Coldplay kerap muncul di mana-mana, entah di dunia nyata maupun maya. Alasannya, band asal Inggris tersebut akan segera menggelar konser perdananya di Indonesia, dengan tajuk &#8220;Music of the Spheres World Tour&#8220;. Harga tiket yang bervariasi antara 800 ribu hingga 11 juta rupiah pun dalam sekejap ludes terjual, baik oleh penonton [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/">Hype Konser Coldplay di Indonesia: Beneran Nge-fans atau Sekadar FOMO?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, nama <strong>Coldplay</strong> kerap muncul di mana-mana, entah di dunia nyata maupun maya. Alasannya, <em>band </em>asal Inggris tersebut akan segera menggelar konser perdananya di Indonesia, dengan tajuk &#8220;<strong>Music of the Spheres World Tour</strong>&#8220;.</p>



<p>Harga tiket yang bervariasi antara 800 ribu hingga 11 juta rupiah pun dalam sekejap ludes terjual, baik oleh penonton konsernya maupun para calo <em>online </em>yang menggunakan <em>bot </em>agar mendapatkan tiket tersebut, lalu dijual kembali dengan harga yang lebih mahal.</p>



<p>Tingginya antusiasme masyarakat Indonesia terkait kedatangan Coldplay ke Indonesia pun menimbulkan pertanyaan di benak Penulis: <strong>Apakah mereka semua benar-benar <em>fans </em>Coldplay sejak lama, atau sekadar ikutan <em>hype </em>karena FOMO?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Pendengar Coldplay Sejak Lama</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Coldplay - Paradise (Official Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/1G4isv_Fylg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Kebetulan, Penulis adalah pendengar Coldplay waktu zaman kuliah. Penulis mendengarkan beberapa albumnya, mulai <em><strong>X&amp;Y </strong></em>(2005),<em><strong> Viva la Vida or Death and All His Friends</strong></em> (2008), dan album Coldplay favorit Penulis, <em><strong>Mylo Xyloto </strong></em>(2011).</p>



<p>Penulis masih mengikuti Coldplay pada album<strong> Ghost Stories </strong>(2014) dan <em><strong>A Head Full of Dream</strong></em> (2015). Namun, setelah itu Penulis berhenti mengikuti <em>band </em>ini karena merasa musiknya kurang cocok dengan seleranya. Enak, tapi kurang pas di telinga.</p>



<p>Di antara album-album yang Penulis dengarkan, tentu ada beberapa lagu yang Penulis sukai. &#8220;<strong>Paradise</strong>&#8221; dari album <em>Mylo Xyloto</em> jelas menjadi nomor 1. Bahkan, lagu instrumen pembukanya saja sudah Penulis sukai, yang berjudul sama dengan albumnya.</p>



<p>Lagu-lagu lain yang Penulis suka dari album ini adalah &#8220;<strong>Hurts Like Heaven</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Charlie Brown</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Every Teardrop Falls is a Waterfall</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Up In Flames</strong>&#8220;, hingga &#8220;<strong>Don&#8217;t Let</strong> <strong>It Break Your Heart</strong>&#8221; </p>



<p>Banyak yang menyebut kalau album <em>Viva La Vida </em>merupakan salah satu album terbaik Coldplay, dan Penulis akui kalau banyak lagu enak dari album tersebut. &#8220;<strong>Cemeteries in London</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Lost</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Love in Japan</strong>&#8220;, dan &#8220;<strong>Viva La Vida</strong>&#8221; adalah favorit Penulis.</p>



<p>Di album <em>X&amp;Y</em>, ada lagu &#8220;<strong>Fix You</strong>&#8221; yang hampir diketahui oleh semua orang.  Di album <em>Ghost Stories</em>, lagu &#8220;<strong>Always In My Head</strong>&#8220;, &#8220;<strong>Magic</strong>&#8220;, dan tentu saja &#8220;<strong>A Sky Full of Star</strong>s&#8221; wajib didengarkan. Bahkan, ketiga lagu ini sempat bertahan lama di <em>playlist </em>Penulis.</p>



<p>Album terakhir yang Penulis dengarkan, <em>A Head Full of Dream</em>, menjadi album yang paling jarang Penulis dengarkan. Tiga lagu yang masih oke untuk didengarkan adalah &#8220;<strong>Hymn for the Weekend&#8221;</strong>, &#8220;<strong>Adventure of Lifetime</strong>&#8220;, dan &#8220;<strong>Up&amp;Up</strong>&#8220;.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Masyarakat Kita Terkenal Latah, tapi&#8230;</h2>



<p>Berdasarkan daftar album dan lagu yang Penulis ceritakan di atas, Penulis jadi merasa sedikit besar kepala karena lumayan tahu tentang Coldplay. Penulis pun penasaran, apakah semua orang yang ikut <em>hype </em>dan ingin nonton konser Coldplay juga setahu itu?</p>



<p>Penulis pun coba melakukan tes ombak dengan bertanya kepada teman-temannya yang kerap membahas tentang konser Coldplay belakangan ini. Pertanyaannya sederhana, sebutkan 10 lagu Coldplay. Ternyata, mereka hanya bisa menyebutkan sekitar 7-8 lagu saja.</p>



<p>Tentu sampel yang Penulis ambil tidak bisa menjadi representasi masyarakat Indonesia. Hanya saja, kita ini kan terkenal latah. <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">Apa yang sedang viral</a>, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">apa yang sedang <em>hype</em></a>, semua langsung ikutan seolah enggak mau ketinggalan.</p>



<p>Istilah <strong>FOMO</strong> atau <em><strong>Fear Out Missing Out</strong></em> pun bisa menggambarkan mengenai kondisi sosial ini. Karena takut dianggap ketinggalan, enggak <em>update</em>, jadi terpaksa mengikuti apa yang sedang sering menjadi bahan obrolan di tongkrongan.</p>



<p>Oleh karena itulah, Penulis jadi <em>su&#8217;udzon </em>kalau banyak yang sebenarnya hanya FOMO saja. Namun, jikalau itu benar, lantas kenapa? Emang konser Coldplay hanya eksklusif untuk para penggemarnya? </p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalau Bukan Fans, Emang Gak Boleh Ikutan Nonton?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Coldplay - A Sky Full Of Stars (Live at River Plate)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Fpn1imb9qZg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Untuk kasus konser Coldplay, sebenarnya ya enggak masalah kalau memang sekadar ikut-ikutan dan baru mendengarkan belakangan ini. Apalagi, konsernya baru diadakan pada tanggal 15 November 2023 mendatang, jadi ada banyak waktu untuk menghafal lagu-lagunya.</p>



<p>Tingginya antusiasme baik dari penggemar maupun non-penggemar menjadi bukti kalau lagu-lagu Coldplay bisa diterima oleh banyak orang, bahkan mungkin mampu mengubah hidup mereka. Sebesar itu dampak yang bisa dihasilkan oleh musik.</p>



<p>Apalagi, ini adalah momen bersejarah karena ini adalah kali pertama Coldplay manggung di Indonesia. Belum tentu di masa depan Coldplay akan mampir lagi ke Gelora Bung Karno sebagai salah satu destinasi <em>world tour</em>-nya.</p>



<p>Selain itu, meskipun awalnya cuma ikut-ikutan dan FOMO, toh bisa jadi setelah nonton konsernya malah jadi <em>fans </em>beneran. Setelah lihat betapa kerennya Coldplay, malah jadi ingin mendalami semua lagu Coldplay,</p>



<p>Yang namanya konser itu dibuka untuk publik, siapa pun boleh datang selama punya tiketnya. Setahu Penulis, pihak penyelenggara tidak menuliskan persyaratan boleh menonton konser adalah harus hafal setidaknya 10 lagu Coldplay.</p>



<p>Jadi, Penulis sebenarnya sama sekali tidak ada masalah siapa pun yang mau nonton Coldplay, entah <em>fans </em>sejati maupun <em>fans </em>karbit karena FOMO. Ini kesempatan langka, langsung saja gas nonton konsernya dan rasakan<em> </em>sensasi nonton konser salah satu <em>band</em> terkeren di dunia!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Mei 2023, terinspirasi setelah melihat begitu <em>hype-</em>nya masyarakat Indonesia menjelang konser Coldplay</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D1CVVTLOR9iQ&amp;psig=AOvVaw2YDXuxhwlHKdeY83Qmp_-6&amp;ust=1684754292256000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CBMQjhxqFwoTCLi78fqkhv8CFQAAAAAdAAAAABAS">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/">Hype Konser Coldplay di Indonesia: Beneran Nge-fans atau Sekadar FOMO?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/hype-konser-coldplay-di-indonesia-beneran-nge-fans-atau-sekadar-fomo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Mar 2023 15:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[lato lato]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama lato lato, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali. Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok</p></blockquote>



<p>Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama <strong>lato lato</strong>, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali.</p>



<p>Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua bola tersebut saling beradu dan menghasilkan suara &#8220;tok tok&#8221;. Semakin mahir memainkannya, semakin cepat punya kedua bola tersebut saling beradu.</p>



<p>Setelah ditelusuri, ternyata viralnya permainan lato lato ini berasal dari TikTok, walau Penulis sendiri kurang tahu past siapa atau peristiwa apa yang menjadi inisiatornya. Yang jelas, secara cepat bak ekspansi gerai Mixue, banyak orang terutama anak kecil yang ikut memainkannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Pro dan Kontra Lato Lato</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6381" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lato Lato (<a href="https://katasumbar.com/viral-di-sumbar-benarkah-kata-lato-lato-berarti-aku-yahudi-cek-faktanya-disini/">Kata Sumbar</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari yang Penulis perhatikan, ada dua kubu dalam menyikapi viralnya lato lato yang dimainkan oleh anak-anak. Seperti kebanyakan kasus, ada pihak yang pro dan ada pula pihak yang kontra.</p>



<p>Pihak yang pro mengatakan mereka senang melihat anak-anak kecil yang bermain lato lato karena itu membuat mereka menjauh sesaat dari gawai. Melihat mereka bermain permainan tradisional juga menimbulkan perasaan nostalgia kepada generasi yang lebih tua.</p>



<p>Seperti yang kita tahu, penggunaan gawai di kalangan anak-anak cukup memprihatinkan dengan durasi yang cukup lama. Adanya permainan tradisional yang mau mereka mainkan bisa menjadi jeda yang cukup solutif.</p>



<p>Di pihak yang kontra, mereka merasa terganggu karena suara yang dihasilkan oleh lato lato cukup berisik. Suara &#8220;tok tok&#8221; seolah terdengar dari pagi, siang, sore, bahkan malam. Tentu ini sangat menganggu orang-orang yang sedang istirahat ataupun butuh ketenangan.</p>



<p>Bahkan, ada yang <em>su&#8217;udzon </em>dengan mengatakan kalau anak-anak itu main di luar karena orang tua mereka sendiri merasa terganggu. Entah ini benar atau salah, yang jelas suara keras yang dihasilkan oleh lato lato memang cukup mengganggu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengaruh Besar TikTok yang Cukup Mengkhawatirkan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="575" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg" alt="" class="wp-image-6382" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sering Disebut Ngemis Online (<a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-6513481/viral-tren-mandi-lumpur-di-tiktok-dokter-kulit-sebut-efeknya-bisa-begini">Detik Health</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pribadi tidak merasa terlalu terganggu dengan suara lato-lato yang bahkan masih terdengar setelah beberapa bulan lalu mulai viral. Penulis justru resah sumber dari viralnya permainan tradisional ini: <strong>TikTok</strong>.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">berhenti menggunakan TikTok</a> karena beberapa alasan, sehingga sering <em>out-of-date</em> alias ketinggalan apa yang sedang viral. Kalau sudah heboh seperti lato lato, baru akhirnya Penulis <em>ngeh </em>dan mencari tahu lebih dalam.</p>



<p>Kasus lato lato yang baru saja terjadi seolah menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh TikTok dalam memviralkan sesuatu. Mungkin hanya diawali oleh satu orang, ribuan atau bahkan mungkin jutaan orang akan mengikutinya, kadang hanya karena ikut-ikutan.</p>



<p>Lato lato mungkin hampir tidak memiliki efek yang negatif, selain menghasilkan polusi suara. Namun, bagaimana dengan hal viral lain seperti berlomba-lomba mengemis dengan cara yang menyiksa diri?</p>



<p>Seperti yang kita tahu, selain lato lato, yang sedang ramai berkat TikTok adalah adanya oknum-oknum yang rela melakukan hal konyol/berbahaya demi mendapatkan beberapa rupiah dari penonton. Contohnya adalah aksi mandi lumpur yang sempat ramai.</p>



<p>Tidak hanya itu, bahkan beberapa oknum juga memanfaatkan orang tua yang sudah lansia untuk meningkatkan pendapatan mereka dari TikTok. Bagi Penulis, perbuatan-perbuatan seperti ini sudah kelewat bebas dan sudah seharusnya dihentikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tapi, Itu Kan Mereka Berusaha untuk Mendapatkan Pendapatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6383" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Apakah Perbuatan Ini Dapat Dibenarkan? (<a href="https://www.detik.com/bali/nusra/d-6524270/7-lansia-live-tiktok-mandi-lumpur-warga-lain-antre">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin ada yang kontra dengan pendapat ini karena seolah mematikan rezeki orang. Toh, apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain, dan yang memberi pun merasa terhibur. Mereka tidak keberatan berbagi rezeki atas &#8220;usaha&#8221; yang mereka lakukan.</p>



<p>Itu ada benarnya, tetapi bukannya mendapatkan pendapatan dengan cara yang kurang baik juga sebaiknya tidak dilakukan. Sama seperti Pesulap Merah yang membongkar praktik dukun, itu akan mematikan penghasilan si dukun yang memang didapat dengan cara buruk.</p>



<p>Kalau sekadar melakukan hal konyol yang bisa mengundang tawa penonton, Penulis tidak akan mempermasalahkannya. Namun, contoh-contoh berbahaya seperti mandi lumpur menurut Penulis sudah seharusnya tidak diteruskan.</p>



<p>Mengingat pengaruh TikTok yang luar biasa, bukan tidak mungkin orang-orang yang awalnya cuma menonton jadi ikut-ikutan karena melihat peluang besar untuk mendapatkan uang dengan cepat.</p>



<p>TikTok sudah seharusnya menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan bakat kita agar bisa dilihat oleh publik. Sayangnya, tampaknya hal tersebut tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pasar, yang justru lebih senang dengan hal-hal kurang berfaedah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada dasarnya, TikTok hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan dengan berbagai tujuan. Untuk hiburan, jualan, cari inspirasi, &#8220;jual diri&#8221;, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">jadi viral</a>, hampir semuanya bisa dilakukan di TikTok yang penggunanya sudah miliaran di seluruh dunia.</p>



<p>Dengan besarnya pengaruh yang dimiliki, tidak salah jika negara barat seperti Amerika Serikat seperti &#8220;ketakutan&#8221; dan kerap menggunakan alasan keamanan privasi untuk berusaha memblokir aplikasi ini, walau sampai sekarang belum terealisasi.</p>



<p>Untuk sekarang, mungkin pengaruhnya baru sekadar bermain lato lato atau mandi lumpur. Namun, siapa bisa menjamin kalau di masa yang akan datang, yang menjadi viral adalah sesuatu yang sebenarnya berbahaya namun tidak pernah kita sadari?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 Maret 2023, terinspirasi dari viralnya lato lato gara-gara TikTok</p>



<p>Foto: <a href="https://hot.detik.com/tv-news/d-6478649/lato-lato-viral-mainan-ini-senjata-mematikan-di-anime-jojos-bizarre-adventure">DetikHot</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2021 22:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah TikTok. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai &#8220;aplikasi goblok&#8221; ini rasanya hampir terpasang di semua gawai generasi milenial. Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah <strong>TikTok</strong>. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai &#8220;aplikasi goblok&#8221; ini rasanya hampir terpasang di semua gawai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">generasi milenial</a>.</p>



<p>Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini.</p>



<p>Hanya saja, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk berhenti main TikTok dan menghapusnya dari ponsel. Apa alasannya?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Algoritma Candu</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4903" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dibuat Sebagai Candu (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://prototypr.io/news/how-the-tiktok-algorithm-works/">Prototypr</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pernah membuat artikel berjudul <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> </em>yang terinspirasi dari film dokumenter berjudul <em>The Social Dilemma</em>. Pada film tersebut, kita akan melihat pengakuan orang-orang yang pernah terlibat dengan pembuatan media sosial.</p>



<p>Salah satu hal yang mengerikan adalah bagaimana semua <em>platform </em>tersebut berlomba-lomba untuk membuat kita betah menggunakannya selama berjam-jam. Istilahnya adalah <strong>algoritma candu</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan <em>timeline </em>Instagram dan Twitter yang hanya menampilkan akun yang kita <em>follow</em>, TikTok akan terus menunjukkan video-video yang sesuai dengan preferensi kita tanpa perlu mem-<em>follow </em>akun yang membuat video tersebut. </p>



<p>Apalagi, fitur <em>unlimited scroll</em>-nya benar-benar membuat kita tidak merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Dengan algoritma candu yang dimiliki, TikTok menjadi aplikasi yang cocok untuk menghabiskan waktu.</p>



<p>Penulis juga salah satunya. Meskipun sudah menggunakan aplikasi yang membatasi waktu penggunaan, tetap saja terkadang Penulis melanggar dan memainkan aplikasi TikTok melebih jatah waktu harian. </p>



<p>Dulu Penulis membela diri dengan berkata kepada diri sendiri kalau ada banyak manfaat dari TikTok. Bahkan, Penulis mencatat beberapa ilmu yang tanpa sengaja Penulis temukan di buku catatannya.</p>



<p>Akan tetapi, sekarang Penulis sadar kalau itu semua hanya alibi semata untuk bisa bermain TikTok lebih lama. Semakin lama kita menggunakan TikTok, semakin mereka mendapatkan keuntungan dari &#8220;menjual&#8221; preferensi kita ke klien mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Banyak Manfaatnya <em>sih, </em>tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4904" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Banyak Baik atau Buruknya? (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.thejakartapost.com/life/2020/02/20/banned-and-adored-tiktok-in-a-nutshell.html">The Jakarta Post</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengakui ada banyak ilmu yang bisa didapatkan di TikTok. Banyak <em>content creator </em>yang lihai membuat konten edukasi dengan format yang menyenangkan atau konten motivasi yang sangat menginspirasi.</p>



<p>Pertanyaannya, <strong>apakah kita membutuhkan semua informasi tersebut?</strong></p>



<p>Dari pengalaman Penulis sendiri yang mencatat berbagai ilmu di TikTok, mayoritas apa yang sudah dicatat tidak pernah dibutuhkan sampai sekarang. Semua inspirasi dan motivasi yang lewat pun sekarang sudah terlupa begitu saja.</p>



<p>Jika kita membutuhkan bantuan dalam mengerjakan sesuatu, bukankah ada Google? Misal ada orang yang <em>sharing </em>tentang <em>Digital Marketing</em>, bukankah banyak situs yang menjelaskan tentang hal tersebut bahkan secara lebih terperinci?</p>



<p>Misal ada orang yang <em>sharing </em>tentang penggunaan bahasa Inggris yang benar, bukankah Google juga sudah menyediakan banyak jawaban dari berbagai sumber? Seberapa banyak informasi yang kita lihat selintas di TikTok bertahan di pikiran kita?</p>



<p>TikTok memang memiliki banyak manfaat, terutama kalau kita suka menonton video-video yang memiliki <em>value</em> sehingga kita terus diberikan rekomendasi video serupa.</p>



<p>Pertanyaannya, <strong>lebih banyak mana video yang seperti itu dibandingkan video yang kurang bermanfaat?</strong></p>



<p>Entah itu video yang pamer kemolekan tubuhnya, pertunjukkan kecantikan/ketampanan paras wajah, pamer kekayaan ala sultan, drama tidak penting, dan lain sebagainya. Ada saja &#8220;racun&#8221; yang muncul di linimasa dan bisa memengaruhi pola pikir kita.</p>



<p>Belum lagi kemungkinan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tersebarnya berita hoax</a> yang bisa menimbulkan ketakutan. Penulis ingat ketika ada informasi kalau Jawa akan terkena tsunami. Padahal, berita aslinya hanya menyebutkan potensinya, bukan akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">TikTok dan Cepatnya Hal Menjadi Viral</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4905" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/04/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kenapa Harus Viral? (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://teknodila.com/sosmed/408/filter-ig-chika-yang-viral-dengan-goyangan-asik-di-tiktok.html">TEKNO DILA</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis paling sering mengkhawatirkan besarnya pengaruh aplikasi ini ke penggunanya, terutama generasi milenial. Coba dihitung sudah berapa kali <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"><strong>apa yang viral di TikTok</strong></a> menjadi begitu populer bahkan sampai diundang ke berbagai stasiun televisi.</p>



<p>Masalahnya, seringkali hal yang viral adalah hal yang tidak jelas dan kurang berfaedah. Kita juga seolah ikut arus begitu saja tanpa berpikir kenapa hal remeh seperti itu bisa menjadi sedemikian populer.</p>



<p>Hal ini benar-benar menjadi perhatian bagi Penulis. Kenapa jarang sekali ada orang yang kritis terhadap sesuatu yang viral? Kenapa seolah yang viral itu otomatis dianggap wajar dan seolah yang ketinggalan dianggap ketinggalan zaman?</p>



<p>Dulu, Penulis sempat merasa <em><strong>FOMO (Fear Out Missing Out)</strong> </em>jika tidak menggunakan TikTok. Takut tidak paham jika diajak bicara sama seseorang tentang apa yang <em>trending </em>saat ini.</p>



<p>Sekarang, Penulis tidak memusingkan hal tersebut sama sekali. Mau tidak paham sekalipun Penulis bisa bodo amat. Biarlah yang viral menjadi viral tanpa perlu Penulis ikut memviralkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Awalnya, Penulis mencoba untuk tidak membuka aplikasi TikTok selama beberapa hari. Ternyata, Penulis bisa berhenti total selama 2 bulan dan tidak merasa kehilangan apa-apa. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.</p>



<p>Penulis tidak mengajak orang-orang untuk berhenti menggunakan aplikasi TikTok. Mungkin Pembaca bisa lebih bijak dalam menggunakan TikTok dibandingkan Penulis. Apalagi, TikTok bisa menjadi media hiburan yang berkualitas dengan kehadiran <em>content creator </em>yang kreatif.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa TikTok lebih banyak buruknya dibandingkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Aplikasi ini terasa sebagai aplikasi kontra-produktif yang membuat Penulis membuang-buang waktunya.</p>



<p>Tidak hanya TikTok, Penulis hampir mengurangi semua aktivitasnya di media sosial. Penulis menghapus Twitter di ponselnya dan menggunakan Instagram hanya untuk membaca komik dari <em>author </em>favoritnya.</p>



<p>Harapannya, Penulis menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat seperti menulis artikel blog ataupun baca buku. </p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 19 April 2021, terinspirasi setelah menghapus aplikasi TikTok</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.thejakartapost.com/news/2020/08/28/tiktok-booms-in-southeast-asia-as-it-picks-path-through-political-minefields.html">The Jakarta Post</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Kenapa Saya Berhenti Main TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minta Gaji 8 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jul 2019 16:23:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[8 juta]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah story di Instagram mengenai mahasiswa fresh graduate yang mengeluh karena hanya ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal. Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus. Akunnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah <em>story</em> di Instagram mengenai mahasiswa <em>fresh graduate </em>yang mengeluh karena <em>hanya </em>ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal.</p>
<p>Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus.</p>
<p>Akunnya sendiri sampai saat ini belum diketahui milik siapa. Potongan <em>story </em>tersebut hanya diunggah oleh seseorang dengan menyensor namanya. Mungkin, yang bersangkutan ingin melindungi pemilik akun dari serangan netizen.</p>
<p>Bahkan, teman penulis di kantor sampai berteori bahwa sebenarnya tidak ada pemilik akun Instagram tersebut. Postingan tersebut dibuat sendiri oleh yang menyebarkan agar viral. Mungkinkah? Entahlah, bisa jadi.</p>
<h3>Reaksi Para Netizen</h3>
<p>Netizen pun cepat bereaksi atas kejadian ini. Ada yang marah, ada yang emosi, ada yang langsung membandingkan dengan gaji pertamanya, ada yang buat <em>thread</em>, macam-macam.</p>
<p>Reaksi seperti ini sudah penulis duga sebelumnya, sama seperti kasus <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Bibit Unggul</a> yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Bedanya, waktu itu yang bersangkutan diketahui identitasnya.</p>
<p>Melihat kesombongan seseorang tentu membuat kita jengah dan jengkel. Pertanyaannya, apakah kita tidak pernah melakukan kesalahan yang sama?</p>
<p>Seperti yang pernah penulis tuliskan pada tulisan <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a>, kita cenderung merasa &#8220;suci&#8221; ketika melihat orang lain berbuat buruk.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh orang tersebut memang terkesan angkuh, sombong, congkak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak berarti kita boleh <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> darinya. Mungkin saja kita juga pernah sombong, hanya saja tidak sampai viral.</p>
<h3>Gaji Pertama</h3>
<p>Jika ingin berbaik sangka, mungkin yang bersangkutan merasa dirinya memiliki kemampuan mumpuni yang bisa diberikan kepada perusahaan. Tawaran gaji 8 juta dianggap merendahkan dirinya sehingga terbitlah <em>story </em>tersebut.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>berkata bahwa kata-kata di <em>story </em>tersebut menunjukkan yang bersangkutan tidak bisa bersyukur. Lantas, beberapa <em>netizen </em>memberitahu nominal gaji pertama mereka sembari mensyukurinya.</p>
<p>Ketika mendapatkan kerja kantoran pertama, nominal yang ditawarkan penulis jauh di bawah angka 8 juta. Penulis sadar diri sebagai orang yang tidak terlalu berpengalaman.</p>
<p>Penulis selalu ingat petuah dari ayah, yang mengatakan jangan bekerja demi uang. Uang memang penting, tapi bukan menjadi tujuan. Uang hanyalah sarana dalam <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">meraih tujuan yang sebenarnya</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu menuliskan permintaan gaji, penulis menuliskano nominal yang tidak seberapa. Setidaknya, di atas Upah Minimum Kerja (UMR). Ternyata, penulis malah ditawari sedikit lebih tinggi, ya alhamdulillah.</p>
<p>Petuah lain yang diberikan ayah penulis adalah bekerja dengan niat <em>lillahi ta&#8217;ala</em>, berikan yang terbaik, berikan nilai tambah, nanti jumlah gaji akan mengikuti. Penulis berusaha betul melaksanakan nasihat tersebut, sehingga insyaallah jarang memusingkan masalah gaji.</p>
<p>Tapi kalau diberi kenaikan gaji, ya diterima dan mengucap syukur <em>alhamdulillah</em>.</p>
<h3>Gaya Hidup yang Melebihi Gaji</h3>
<p>Salah satu komentar yang menarik perhatian penulis adalah mengenai gaya hidup. Ada <em>netizen </em>yang berkomentar gaya hidup orang yang membuat <em>story </em>tersebut cukup <em>hedon</em>, sehingga gaji 8 juta tidak akan bisa memenuhi kehidupannya.</p>
<p>Bahkan <strong>Sujiwo Tedjo</strong> menuliskan cuitan tentang <em>gaji sebesar apapun enggak akan pernah cukup karena akan melahirkan kebutuhan</em> <em>baru</em>. Salah satunya ya gaya hidup ini.</p>
<p>Penulis merasakan betul tentang gaya hidup ini. Jika kita tidak bisa mengendalikan hasrat kita dan loyal menghamburkan uang, gaji berapa pun tak akan cukup. Percuma gaji naik jika gaya hidup juga ikut naik.</p>
<p>Godaan di ibukota terbilang cukup besar. Mau beli apa saja bisa tersedia dengan mudah. Malas keluar, bisa beli lewat daring. Sebagai Apalagi, gedung kantor penulis jadi satu dengan mal.</p>
<p>Penulis tidak merasa telah pandai mengendalikan gaya hidup. Justru dengan tulisan ini, penulis berharap ke depannya bisa lebih bijak dalam mengelola gaji yang diterima setiap bulan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap ada kejadian yang viral, penulis berusaha memahaminya hanya dari satu sudut pandang. Penulis berusaha untuk melihatnya dari banyak sisi dengan harapan bisa menemukan pelajaran yang bisa dipetik.</p>
<p>Begitu pula dari kasus gaji 8 juta ini. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, sehingga sayang jika hanya dijadikan sebagai wadah untuk mengeluarkan kata-kata hujatan yang belum tentu bermanfaat.</p>
<p>Semoga saja dengan kejadian ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Juli 2019, terinspirasi dengan ramainya kasus gaji 8 juta</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexandermils">Alexander Mils</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Viral?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Aug 2018 14:47:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[challenge]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[konyol]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[unfaedah]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ya biar terkenal mas. Ya biar ikut apa yang lagi tren mas. Ya ikut-ikutan aja mas. Ya biar enggak dibilang ketinggalan jaman mas. Ya biar keren mas. Ya biar gaul mas. Ya biar nyambung kalau diajak ngobrol sama temen mas. Mari tarik nafas sejenak, membuang segala keruwetan yang ada di dalam benak kita. Isu ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">Untuk Apa Viral?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ya biar terkenal mas. Ya biar ikut apa yang lagi tren mas. Ya ikut-ikutan aja mas. Ya biar enggak dibilang ketinggalan jaman mas. Ya biar keren mas. Ya biar gaul mas. Ya biar nyambung kalau diajak ngobrol sama temen mas.</p>
<p>Mari tarik nafas sejenak, membuang segala keruwetan yang ada di dalam benak kita. Isu ini seringkali diangkat oleh beberapa orang yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan karakter terutama terhadap generasi muda.</p>
<p>Menjadi viral tidaklah salah sama sekali. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menjadi viral. Yang salah bukan <strong>tujuan</strong> untuk menjadi viralnya, melainkan <strong>bagaimana</strong> kita menjadi viral. Prosesnya, bukan hasilnya.</p>
<p><strong>Challenge Unfaedah</strong></p>
<p>Coba kita perhatikan di sekitar kita dan media sosial. Salah satu yang sering menjadi viral adalah dengan mengikuti tantangan atau <em>challenge</em> yang sedang viral. Dengan kata lain, kita (berusaha) menjadi viral dengan mengikuti apa yang menjadi viral.</p>
<p>Apa salahnya dengan mengikuti berbagai <em>challenge </em>yang tengah populer? Menurut penulis, bukan salah, melainkan kurang bermanfaat alias unfaedah. Ada yang menyiram diri dengan air es/air panas, ada yang menari-nari, dan lain sebagainya. Tak jarang aksi viral ini memakan korban, termasuk nyawa.</p>
<p><div id="attachment_1111" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1111" class="size-large wp-image-1111" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hot-water-challenge.jpg 1832w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1111" class="wp-caption-text">Korban Viral (https://www.health.com/condition/skin-conditions/hot-water-challenge)</p></div></p>
<p>Andai saja gerakan seperti #satuminggusatubukuchallenge bisa seviral itu, tentu lebih banyak membawa kebaikan terlebih kepada yang menjalankan. Bayangkan #bersedekahchallenge bisa menjadi tren, tentu banyak orang yang merasakan manfaatnya.</p>
<p>Seandainya saja hal-hal yang memiliki manfaat bisa seviral hal-hal yang unfaedah, tentu menjadi viral akan banyak memberikan kebaikan bagi kita semua</p>
<p><strong>Bertindak Konyol</strong></p>
<p>Apakah ada anak yang berprestasi menjadi viral? Ada, tapi <em>hype</em>-nya cuma sebentar. Mereka kalah dengan anak-anak yang melakukan hal-hal konyol dan lucu bagi beberapa orang.</p>
<p>Deddy Corbuzier, ketika diundang Boy William ke channel YouTubenya, mengatakan bahwa acara Hitam Putih miliknya tidak akan mengundang anak-anak seperti itu. Deddy sadar bahwa mereka tidak pantas untuk diviralkan.</p>
<p>Sebagai bukti anak berprestasi kalah dengan anak yang bertindak konyol, coba adakan survei kecil-kecilan, siapa yang diketahui orang, terutama generasi muda, lebih banyak, Joey Alexander atau Nurrani. Pembaca mungkin sudah bisa menduga jawabannya.</p>
<p><div id="attachment_1109" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1109" class="size-large wp-image-1109" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/ef5ead6c24bf79ac3417b3c7a10b4c08594e2bcc_2880x1620.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1109" class="wp-caption-text">Anak Berpresentasi (https://www.ted.com/talks/joey_alexander_an_11_year_old_prodigy_performs_old_school_jazz?language=id)</p></div></p>
<p>Mungkin sudah sifat alamiah manusia tidak terlalu menggemari <em>good news</em>. Bahkan di kalangan jurnalistik sudah terkenal istilah <em>bad news is a good news,</em> walaupun beberapa kalangan menganggap idiom tersebut sudah tidak berlaku lagi.</p>
<p>Apakah benar? Yang bisa menjawab hanyalah kita yang menentukan kabar atau berita mana yang menjadi viral, karena media pun harus mengikuti pasar.</p>
<p><strong>Apa yang Bisa Kita Lakukan</strong></p>
<p>Sekali lagi, tidak ada yang salah jika kita ingin viral. Yang salah adalah bagaimana kita menjadi viral. Semisal pembaca ingin viral berkat prestasinya, tentu hal tersebut akan penulis dukung 100%.</p>
<p>Jika kita tidak ingin menjadi viral namun prihatin dengan kondisi yang ada sekarang, terdapat beberapa hal kecil yang dapat kita lakukan, dimulai dari lingkungan kita.</p>
<p>Pertama, tidak ikut-ikutan <em>challenge </em>yang unfaedah. Biarlah mereka yang ingin terkenal dengan cepat melakukannya. Toh, selama ini yang viral-viral juga cepat hilang. Apa yang mudah didapatkan bisanya mudah terlepas.</p>
<p>Kedua, saling mengingatkan. Jika ada teman yang berlebihan demi menjadi viral, ingatkanlah bahwa banyak hal yang lebih berguna daripada menjadi terkenal dengan melakukan hal-hal konyol. Jika ia tidak menghiraukan teguran kita, ya sudah, yang penting kita sudah berusaha.</p>
<p>Ketiga, berusaha menyebarkan kebaikan sekecil apapun bentuknya. Penulis dengan blog ini berusaha melakukan itu. Meskipun <em>view</em>-nya hanya sekitar 100 per hari, penulis tetap bersemangat untuk menyebarkan kebaikan dengan pikiran-pikiran penulis.</p>
<p><div id="attachment_1112" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1112" class="size-large wp-image-1112" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit-1024x700.jpg" alt="" width="1024" height="700" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit-1024x700.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit-356x243.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo-1528588641076-3fe42e01df36-edit.jpg 1031w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1112" class="wp-caption-text">Sebar Kebaikan (https://unsplash.com/photos/JYiADe-xsDw)</p></div></p>
<p>Salah satu anggota Karang Taruna Gen X SWI bernama Ekky memiliki ide seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Bagaimana jika kita bikin konten-konten yang positif, terus kita sebarkan kebaikan tersebut lewat media sosial? Tidak perlu lewat media sosialnya Karang Taruna, tapi melalu masing-masing media sosial milik anggota.&#8221;</em></p>
<p>Semangat menggunakan media sosial sebagai wadah untuk menyebarkan kebaikan patut diapresiasi dan didukung. Semoga saja makin banyak generasi muda yang memiliki pola pikir seperti ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 5 Agustus 2018, terinspirasi dari kiriman Nia dan ajakan Ekky di grup Kelompok Bermain</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/Eb40vRVVifQ">https://unsplash.com/photos/Eb40vRVVifQ</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">Untuk Apa Viral?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
