Tokoh & Sejarah
Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain
Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.
Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!
Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes
Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.
Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.
Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:
- Manusia berlagak seperti anjing pemburu
- Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
- Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya
Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.
“Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.
Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.
Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes
“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!
Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.
Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.
Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”
Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.
Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.
Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.
Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.
***
Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!
Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.
Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.
Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes
You must be logged in to post a comment Login