<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Band Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/band/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/band/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 May 2023 03:50:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Band Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/band/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Maskulinitas pada Musik Dewa</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 May 2023 13:11:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa 19]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[maskulin]]></category>
		<category><![CDATA[Noah]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6519</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak muda, Penulis cenderung menyukai musik dari band-band luar seperti Linkin Park, My Chemical Romance, Dragonforce, Good Charlotte, Simple Plan, dan lain-lain. Pada dasarnya, Penulis menyukai band yang bergenre rock. Untuk band Indonesia sendiri, tidak banyak yang Penulis sukai karena merasa tidak cocok dengan selera Penulis. Jika ada, mungkin hanya Peterpan atau yang sekarang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak muda, Penulis cenderung menyukai musik dari <em>band-band </em>luar seperti <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a>, <a href="https://whathefan.com/musik/asleep-or-dead-my-chemical-romance/">My Chemical Romance</a>, <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">Dragonforce</a>, Good Charlotte, Simple Plan, dan lain-lain. Pada dasarnya, Penulis menyukai <em>band </em>yang bergenre <em>rock.</em></p>



<p>Untuk <em>band </em>Indonesia sendiri, tidak banyak yang Penulis sukai karena merasa tidak cocok dengan selera Penulis. Jika ada, mungkin hanya <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> atau yang sekarang telah berubah menjadi Noah.</p>



<p>Nah, ketika berusaha mengingat-ingat<em> </em>apakah ada <em>band </em>Indonesia lain yang disukai, Penulis pun teringat akan salah satu <em>band </em>legendaris: <strong>Dewa 19</strong> atau <strong>Dewa</strong>. Bahkan, bersama Noah, musik-musik Dewa masih ada di <em>playlist </em>Penulis hingga sekarang.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Tidak Mendengarkan Lagu-Lagu Dewa?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Dewa - Pupus | Official Music Video" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/VQ-qjEV1m6M?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Harus diakui kalau Dewa memiliki banyak sekali lagu-lagu ikonik yang masih terdengar enak hingga sekarang. Meskipun sempat berganti vokalis dari Ari Lasso ke Once Mekel, <em>band </em>ini tetap bisa mempertahankan eksistensi mereka, bahkan setelah 30 tahun.</p>



<p>Kalau Penulis sendiri, dirinya lebih menyukai Dewa era Once karena nuansa <em>rock</em>-nya lebih terasa. Lagu-lagu Dewa favorit Penulis pun semuanya dari era Once, mulai dari &#8220;Pupus&#8221;, &#8220;Roman Picisan&#8221;, &#8220;Risalah Hati&#8221;, &#8220;Satu&#8221;, hingga &#8220;Pangeran Cinta&#8221;.</p>



<p>Tentu masih banyak lagu-lagu Dewa yang tidak kalah terkenal, seperti &#8220;Arjuna&#8221;, &#8220;Separuh Nafas&#8221;, &#8220;Kangen&#8221;, &#8220;Mistikus Cinta&#8221;, &#8220;Dewi&#8221;, &#8220;Aku Milikmu&#8221;, &#8220;Kirana&#8221;, &#8220;Kamulah Satu-satunya&#8221;, dan masih banyak lagi. Tak akan habis rasanya jika harus menyebutkan semua lagu top Dewa.</p>



<p>Tidak hanya karena musiknya saja yang membuat Dewa menjadi legenda, karena lirik yang dimiliki oleh Dewa pun terdengar mewah. Pemilihan kata-katanya sederhana, tapi kerap memiliki makna tersirat yang cukup dalam.</p>



<p>Dalam acara Mata Najwa, Najwa Shihab berkata ke Ahmad Dhani bahwa lirik-lirik yang dimiliki oleh Dewa sangat terasa maskulin. Contohnya adalah lirik &#8220;Mistikus Cinta&#8221;, yakni <em>&#8220;Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku&#8221;.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Maskulinitas Lirik ala Dewa </h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Dewa - Risalah Hati | Official Video" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/J6i53rCB0y8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah mendengar perkataan tersebut, Penulis jadi lebih mengamati lagu-lagu Dewa. Setelah diperhatikan secara saksama, ternyata memang benar kalau lirik-lirik Dewa terasa maskulin, bahkan untuk lagu-lagu yang bertemakan tentang patah hati.</p>



<p>Ketika ada lirik-lirik seperti &#8220;<em>kau hancurkan hatiku, bila kau tinggalkan aku</em>&#8221; pada &#8220;Separuh Nafas&#8221; dan &#8220;<em>kau buat remuk, seluruh hatiku</em>&#8221; pada &#8220;Pupus&#8221;, sama sekali tidak terkesan lemah. Justru, lirik-lirik ini seolah menggambarkan amarah dan perenungan.</p>



<p>Ada juga lagu-lagu dengan lirik berupa yang terkesan begitu percaya diri. Selain &#8220;Mistikus Cinta&#8221; di atas, ada juga lirik &#8220;<em>Semua ini, pasti akan musnah, tetapi tidak cintaku padamu</em>&#8221; pada &#8220;Pangeran Cinta&#8221; atau &#8220;<em>Akulah Arjuna, yang mencari cinta</em>&#8221; pada &#8220;Arjuna&#8221;.</p>



<p>Selain itu, ada juga lagu yang memiliki lirik dengan kesan <em>demanding</em> bahkan &#8220;mengancam&#8221;, seperti lagu &#8220;Cinta Gila&#8221; dengan lirik &#8220;<em>Aku kan berbuat apa saja, untuk mendapatkan kamu lagi</em>&#8220;.</p>



<p>Penulis pun membandingkan lirik-lirik Dewa dengan Noah, yang bagi Penulis lebih terasa melankolis. Noah memiliki banyak lagu-lagu bertema patah hati, tapi dibalut dengan lirik-lirik puitis yang membuatnya terasa lebih &#8220;tenang&#8221;.</p>



<p>Selain itu, lirik dari lagu-lagu Dewa juga terdengar lebih lugas dan jelas, dibandingkan dengan Noah yang penuh metafora. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa lagu-lagu Dewa lebih maskulin dan tidak terkesan cengeng.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika melihat sosok Ahmad Dhani yang menjadi motor dari <em>band </em>Dewa, rasanya wajar saja Dewa terasa maskulin. Sosoknya yang begitu percaya diri sekaligus jenius membuatnya bisa menciptakan lirik-lirik yang terasa gagah dan megah.</p>



<p>Bisa jadi, justru maskulinitas yang dimiliki oleh Dewa menjadi salah satu alasan mengapa Dewa bisa bertahan setelah 30 tahun. Tidak banyak <em>band </em>Indonesia yang mampu meraih <em>milestone</em> tersebut, apalagi setelah mengganti vokalis utamanya beberapa kali.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2023, terinspirasi setelah menyetujui pendapat Najwa Shihab tentang lirik-lirik lagu Dewa yang terdengar Maskulin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://wallpaperaccess.com/dewa-19">Wallpaper Access</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>K-On! ala Bocchi the Rock!</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Apr 2023 15:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Bocchi the Rock!]]></category>
		<category><![CDATA[K-On]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6339</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika baru mulai menonton anime, salah satu anime awal yang Penulis tonton adalah K-On! karena genre komedi yang diusungnya. Ternyata benar saja, anime tersebut lumayan mengocok perut Penulis berkat aksi-aksi &#8220;ajaib&#8221; para punggawanya. K-On! memiliki konsep tentang band SMA yang diisi oleh lima gadis. Keseharian mereka dalam bermusik ternyata bisa menjadi cukup menarik untuk diikuti. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/">K-On! ala Bocchi the Rock!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika baru mulai menonton anime, salah satu anime awal yang Penulis tonton adalah <em>K-On!</em> karena genre komedi yang diusungnya. Ternyata benar saja, anime tersebut lumayan mengocok perut Penulis berkat aksi-aksi &#8220;ajaib&#8221; para punggawanya.</p>



<p><em>K-On! </em>memiliki konsep tentang <em>band </em>SMA yang diisi oleh lima gadis. Keseharian mereka dalam bermusik ternyata bisa menjadi cukup menarik untuk diikuti. Untuk itu, ketika mengetahui ada anime yang memiliki konsep serupa, Penulis menjadi tertarik.</p>



<p>Anime tersebut adalah <em><strong>Bocchi the Rock! </strong></em>yang mendapatkan respons cukup positif dari para penontonnya. Bahkan di situs MyAnimeList, anime ini mampu mendapatkan rating yang sangat tinggi, 8,89. Apakah memang sebagus itu?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Ketika &#8220;Komi-san&#8221; Gabung Band</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Salah Satu Efek <em>Nyeleneh </em>dari<em> </em>Bocchi (<a href="https://dafunda.com/otaku/alasan-bocchi-the-rock-jadi-anime-komedi-terbaik/">Dafunda</a>)</figcaption></figure>



<p>Anime ini berpusat pada karakter <strong>Hitori Gotō</strong>, sosok <em>introvert </em>yang memiliki masalah kecemasan sosial. Ketidakmampuannya dalam bersosialisasi membuatnya bertekad untuk belajar main gitar, karena ia percaya hal tersebut mampu membantunya memiliki teman.</p>



<p>Hitori, atau disapa Bocchi di anime ini, memang berhasil menjadi pemain gitar yang handal, bahkan ia terkenal di internet dengan alias<strong> guitarhero</strong> dan memiliki banyak penggemar. Hanya saja, tujuan utamanya untuk bisa memiliki teman tetap gagal total.</p>



<p>Semua itu berubah ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan <strong>Nijika Ijichi</strong>, sosok periang yang juga pemimpin sebuah <em>band </em>bernama <strong>Kessoku Band</strong>. Ia sedang membutuhkan seorang gitaris karena gitaris sebelumnya kabur ketika akan tampil.</p>



<p>Bocchi yang susah berkomunikasi (walau tak separah <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Komi-san dari anime <em>Komi Can&#8217;t Communicate</em></a>) pun akhirnya &#8220;terseret&#8221; dan ikut pergi ke tempat konser bernama STARRY. Di sana, ia bertemu dengan personel <em>band </em>lainnya bernama <strong>Ryō Yamada</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dari Kiri: Nijika, Bocchi, Ikuyo, Ryo (<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/bocchi-the-rock-anime-outsell-stray-kids-nct-dream-japan-charts-3379406">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Kessoku Band pun tampil bertiga, di mana Nijika menjadi <em>drumer</em>, Ryō menjadi <em>bassis</em>, dan Bocchi menjadi gitaris. Meskipun debut mereka bisa dibilang tidak cukup baik, mereka masih mendapatkan kesempatan untuk terus bermain di STARRY.</p>



<p>Nah, omong-omong soal gitaris yang kabur, ternyata sosok tersebut adalah teman sekolah Bocchi bernama <strong>Ikuyo Kita</strong>. Ia ternyata mau bergabung dengan <em>band </em>tersebut karena menyukai Ryō (ya, anime ini ada unsur <em>yuri</em>), padahal tidak bisa bermain gitar.</p>



<p>Namun, setelah ada Bocchi, Ikuyo pun berusaha untuk bisa bermain gitar sekaligus menjadi vokalis utama. Semenjak itulah Kessoku Band menghabiskan waktu bersama sebagai sebuah <em>band</em>, lengkap dengan segala kelucuan yang ada.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Komedi dan Slice of Life-nya Masih Kalah dari K-On!</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Overated Menurut Penulis (<a href="https://gamerant.com/bocchi-the-rock-every-main-characters-age-height-birthday/">Game Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di awal, motivasi utama Penulis menonton <em>Bocchi the Rock! </em>adalah karena berharap anime ini mampu menghadirkan genre komedi dan <em>slice of life </em>yang sebagus <em>K-On!</em>. Apalagi, rating anime ini jauh di atas <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">K-On!</a></em>.</p>



<p>Sayangnya, ekspektasi Penulis harus terjun bebas karena bagi Penulis <em>K-On! </em>masih jauh lebih bagus. Komedi yang dimiliki kurang menggelitik, <em>slice of life </em>yang cukup membosankan, dan drama yang diselipkan pun kurang menghanyutkan.</p>



<p>Selain Bocchi, penokohannya pun terasa kurang kuat. Nijika digambarkan sebagai sosok pemimpin yang selalu positif, Ryō yang <em>cool </em>dan selalu punya masalah keuangan, dan Ikuyo yang <em>extrovert </em>dan selalu riang. Hanya saja, semua itu terasa dangkal saja.</p>



<p>Hal ini berbeda dengan <em>K-On! </em>yang penokohan para personelnya cukup kuat dan membekas di ingatan Penulis. Masing-masing memiliki kepribadian yang unik, tetapi saling melengkapi sebagai anggota <em>band</em>. Penulis kurang mendapatkan itu di <em>Bocchi the Rock!</em>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6401" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>K-On! </em>Masih Jauh Lebih Baik (<a href="https://www.wallpaperflare.com/search?wallpaper=anime+k+on+hirasawa+yui">Wallpaper Flare</a>)</figcaption></figure>



<p>Apalagi, ada unsur <em>yuri </em>di dalamnya juga membuat Penulis sedikit merasa <em>ilfeel</em>, walaupun sebenarnya hal tersebut tidak terlalu banyak. <em>K-On! </em>yang berlatar belakang di sekolah khusus putri pun tidak pernah secara eksplisit menunjukkan hal ini.</p>



<p>Bocchi yang menjadi sosok sentral memang berhasil menimbulkan simpati bagi penonton, bagaimana bagi kaum <em>introvert </em>harus berlelah-lelah ketika harus bersosialisasi dengan manusia lainnya. Ini menjadi nilai plus dari anime ini.</p>



<p>Namun, selain itu bagi Penulis tidak ada yang terlalu istimewa dari anime ini. Sama sekali tidak ada kesan yang tertinggal setelah selesai menonton semua episodenya. Bagi Penulis, <em>K-On! </em>ada jauh di atas anime ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 25 Januari 2023, terinspirasi setelah menonton anime <em>Bocchi the Rock!</em></p>



<p>Foto: <a href="https://sucodemanga.com.br/bocchi-the-rock-primeiro-gole/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Suco de Mangá</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/">K-On! ala Bocchi the Rock!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 14:58:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6205</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul Luxury Disease. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam. Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa rock-nya, sama seperti dua album sebelumnya (Ambition [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a></em>, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul <em><strong>Luxury Disease</strong></em>. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam.</p>



<p>Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa <em>rock</em>-nya, sama seperti dua album sebelumnya (<em>Ambition </em>dan <em>Eye of the Storm</em>) </p>



<p>Namun, setelah beberapa kali mendengarkannya, Penulis jadi berubah pikiran tentang album ini. Ternyata ada beberapa lagu, yang walaupun tidak <em>rock-rock </em>banget, lumayan cocok di telinga Penulis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tracklist dari Luxury Disease</h2>



<p>Sama seperti beberapa album sebelumnya, <em>Luxury Disease </em>memiliki dua versi, yakni versi Jepang dan Internasional. Penulis selalu lebih menyukai versi Jepangnya karena sang vokalis, Taka, memang terdengar lebih fasih dalam melafalkan lirik-liriknya.</p>



<p>Di album versi Jepang ini ada total lima belas lagu di dalamnya, yang daftarnya adalah sebagai berikut:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Save Yourself</li><li>Neon</li><li>Vandalize</li><li>When They Turn the Light On</li><li>Let Me Let You Go</li><li>So Far Gone</li><li>Prove</li><li>Mad World</li><li>Free Them (feat. Teddy Swims)</li><li>Renegades</li><li>Outta Sight</li><li>Your Tears are Mine</li><li>Wonder</li><li>Broken Heart of Gold</li><li>Gravity (feat. Satoshi Fujihara)</li></ol>



<p>Sebelum album ini rilis secara utuh, ada beberapa <em>single </em>yang dilepas terlebih dahulu. Pertama adalah <em><strong>Renegades </strong></em>yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-final/">Rurouni Kenshin: The Final</a></em>. Lagu ini  jelas terasa <em>rock-</em>nya, meskipun temponya tidak terlalu cepat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK: Renegades [OFFICIAL VIDEO]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4n5bpeh5NNg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single </em>berikutnya yang rilis adalah <em><strong>Heart of the Gold</strong></em> (jadi <em>soundtrack </em>film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-beginning/">Rurouni Kenshin: The Beginning</a></em>)<em> </em>yang bagi Penulis terlalu <em>mellow</em>, walaupun ada teman Penulis yang menganggapnya mirip dengan <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/"><em>Heartache </em>dari album <em>35xxxv</em></a>. </p>



<p>Lagu <em><strong>Wonder</strong> </em>dan <em><strong>Save Yourself</strong> </em>menjadi <em>single </em>ketiga dan keempat. Sayangnya, hingga lagu keempat ini masih belum ada lagu baru dari album ini yang berhasil membuat Penulis merasa benar-benar menyukainya.</p>



<p>Walaupun setelah itu masih ada dua <em>single </em>lagi (<em>Let Me Let You Go </em>dan <em>Vandalize</em>), Penulis memutuskan untuk menunggu albumnya keluar sekalian saja. Untungnya, setelah mendengarkan berkali-kali, ada beberapa lagu yang Penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lagu Rekomendasi dari Album Luxury Disease</h2>



<p>Lagu pertama yang langsung menarik perhatian telinga Penulis adalah <em><strong>Let Me Let You Go</strong></em> yang sejatinya menjadi <em>single </em>kelima dari album ini. Perlu mendengarkan beberapa kali hingga akhirnya Penulis memutuskan untuk menyukai lagu ini.</p>



<p>Meskipun bagian <em>reff</em>-nya seolah <em>cooldown </em>karena hanya diiringi musik akustik, lagu ini terdengar <em>catchy </em>dengan pemilihan lirik yang mantap. Lagu ini mungkin memang tidak terlalu <em>rock</em>. Namun, setidaknya hentakan musiknya masih terasa.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK - Let Me Let You Go [Live Documentary Video]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/uA832zpafis?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu lain yang Penulis rekomendasikan adalah <em><strong>So Far Gone</strong> </em>yang, sekali lagi, terdengar <em>mellow</em>. Namun, setidaknya lagu ini memamerkan tingginya nada yang bisa dicapai Taka di bagian <em>reff</em>.</p>



<p>Apalagi, teriakannya diiringi oleh suara akustik gitar yang bisa memberikan kesan pilu bagi yang menyanyikan. Penulis menangkap lagu ini memang berkisah tentang seseorang yang benar-benar kita cintai tidak akan pernah meninggalkan hati kita.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="So Far Gone" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/FGPu3sg_BUM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em><strong>Mad World</strong> </em>dan <em><strong>Outta Sight</strong> </em>adalah dua lagu lain yang Penulis rekomendasikan untuk didengarkan. Meskipun unsur <em>rock-</em>nya kurang, musiknya masih enak didengarkan dan rasanya cocok-cock saja bagi penikmat musik <em>rock </em>seperti Penulis.</p>



<p>Khusus lagu <em>Mad World</em>, Penulis sangat merekomendasikan untuk mendengarkan versi Jepangnya saja. Apa ya, rasanya lagu ini memang lebih cocok menggunakan bahasa tersebut karena versi bahasa Inggrisnya agak terasa aneh.</p>



<p>Untuk lagu-lagu lainnya, sayangnya tidak ada yang benar-benar cocok dengan selera Penulis. Masih menyenangkan untuk didengarkan, tapi tidak sampai masuk ke <em>playlist </em>Penulis. Cukup empat lagu (+<em>Renegades</em>) di atas yang masuk.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dengan tidak banyaknya <em>band rock </em>yang tersisa di dunia (setidaknya yang cocok dengan selera Penulis), Penulis akan terus menantikan karya-karya terbaru dari ONE OK ROCK sembari berharap mereka akan kembali ke akarnya, yaitu <em>rock</em>.</p>



<p>Apalagi, Taka juga pernah berucap bahwa genre <em>rock </em>mulai bisa kembali diterima di Amerika Serikat, pasar utama yang diincar oleh ONE OK ROCK. Jadi, rasanya tidak berlebihan jika album seperti <em>35xxxv </em>akan ada lagi di masa depan.</p>



<p>Untuk sekarang, rasanya Penulis sudah cukup merasa puas dengan album <em>Luxury Disease </em>yang <em>easy listening </em>ini. Untung saja album ini bisa mengubah pemikiran Penulis setelah didengarkan beberapa kali.</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link">Download Album Luxury Disease</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 Januari 2023, terinspirasi setelah mendengarkan ulang album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2022 16:22:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Castle of Glass]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Numb]]></category>
		<category><![CDATA[Papercut]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6253</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari band atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park. Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park.</p>



<p>Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, kurang lebih sudah 15 tahun Penulis mendengarkan lagu-lagu mereka dan jarang sekali merasa bosan.</p>



<p>Untuk itu, Penulis jadi ingin membuat daftar lagu terbaik Linkin Park versi Penulis. Awalnya Penulis ingin membuat daftar dari semua lagunya, tetapi pada akhirnya Penulis memutuskan untuk memilih 20 lagu saja.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Lagu Linkin Park Terbaik Versi Penulis</h2>



<p>Dalam menentukan lima besar dalam daftar ini adalah perkara yang mudah, daftarnya di setiap tahun rasanya tidak pernah berubah. Yang menjadi PR adalah lima belas lagu berikutnya, cukup sulit untuk memilih.</p>



<p>Untuk lagu yang di luar 20 besar, jangan ditanya. Penulis benar-benar kesulitan untuk memilih mana yang akan dimasukkan ke mana. Pada akhirnya, Penulis menyerah dalam membuat daftar versi panjangnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga tidak memasukkan lagu-lagu yang rilis di luar tujuh album utama, seperti <em>A Light That Never Comes</em>, lagu-lagu dari album <em>remix</em>, dan album kolaborasi seperti yang pernah mereka lakukan bersama Jay-Z. </p>



<p>Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut adalah daftar lagu Linkin Park terbaik versi Penulis:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>1. Numb (Meteora)</p>



<p>2. Papercut (Hybrid Theory)</p>



<p>3. Castle of Glass (Living Things)</p>



<p>4. Waiting for the End (A Thousand Suns)</p>



<p>5. Final Masquerade (The Hunting Party)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>6. Heavy (One More Light)</p>



<p>7. Rebellion (The Hunting Party)</p>



<p>8. Somewhere I Belong (Meteora)</p>



<p>9. Easier to Run (Meteora)</p>



<p>10. Leave Out All the Rest (Minutes to Midnight)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Lying From You [Live In Texas] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/5cNdDuNKrx0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>11. Lying from You (Meteora)</p>



<p>12. From the Inside (Meteora)</p>



<p>13. Breaking the Habit (Meteora)</p>



<p>14. Lies Greed Misery (Living Things)</p>



<p>15. Powerless (Living Things)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Linkin Park - Roads Untraveled (Live Hollywood Bowl 2017)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/yMcwZT0D7fw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>16. Roads Untraveled (Living Things)</p>



<p>17. In My Remains (Living Things)</p>



<p>18. Don&#8217;t Stay (Meteora)</p>



<p>19. Pushing Me Away (Hybrid Theory)</p>



<p>20. Shadow of the Day (Minutes to Midnight)</p>



<p>Bisa dilihat dari daftar di atas, lagu dari album <em>Meteora </em>cukup mendominasi dengan tujuh lagu. Bahkan, <em>Numb </em>yang jadi lagu nomor satu seumur hidup Penulis berasal dari album tersebut. Ini membuktikan kalau <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/"><em>Meteora </em>menjadi album favorit Penulis</a>.</p>



<p>Album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a> </em>juga menyumbangkan cukup banyak lagu dengan lima judul. Bisa dibilang, album ini adalah album favorit kedua Penulis setelah <em>Meteora </em>karena lagunya memang enak-enak.</p>



<p>Sebaliknya, hanya ada satu lagi dari album terbaru Linkin Park, <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>, yang diwakili oleh lagu <em>Heavy</em>. Ini tidak menandakan kalau Penulis paling tidak menyukai album ini, hanya saja menurut Penulis lagu-lagu di album ini medioker saja.</p>



<p>Jika diperhatikan, ada beberapa judul lagu populer seperti<em> In the End</em>, <em>What I&#8217;ve Done</em>, dan <em>Burn It Down</em>. Bagi Penulis, judul-judul tersebut memang kurang <em>nyantol </em>di telinga sehingga Penulis memilih lagu lain untuk masuk ke dalam daftar.</p>



<p>Dari 20 lagu di atas, hanya tujuh lagu yang <em>full </em>dinyanyikan oleh Chester Bennington. Sisanya, Mike Shinoda selalu memiliki bagian. Penulis memang lebih menyukai lagu yang memiliki unsur suara Mike dibandingkan yang tidak ada sama sekali.</p>



<p>Menariknya, Penulis hanya memasukkan empat lagu yang mengandung <em>screaming </em>dari Chester. Padahal, Linkin Park terkenal karena &#8220;kekerasannya&#8221;. Ternyata, Penulis baru menyadari kalau dirinya lebih suka lagu Linkin Park tanpa unsur <em>screaming</em>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Rasanya mau sampai kapanpun, Linkin Park akan selalu menjadi <em>band </em>favorit Penulis. Lagu-lagunya yang sudah Penulis putar ribuan kali jarang membuat bosan, bahkan menimbulkan pesan rindu ketika lama tidak mendengarkannya.</p>



<p>Salah satu impian Penulis adalah menonton konser Linkin Park, yang sayangnya, tidak akan pernah tercapai karena sang vokalis <a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Chester Bennington telah meninggal dunia</a>. Sebagai pelipur lara, Penulis akan terus mendengarkan lagu-lagu terbaik Linkin Park.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 21 Desember 2022, terinspirasi setelah akhir-akhir ini sering mendengarkan (kembali)  lagu-lagu Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://twitter.com/linkinpark/status/976146559996903424?t=Fv1pIAMa_DGXnss1HGuD0A&amp;s=19">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2022 13:54:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[DragonForce]]></category>
		<category><![CDATA[Guitar Hero]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar musik rock, mungkin tidak mengejutkan jika Penulis menyebutkan DragonForce adalah salah satu band favoritnya. Bukan penggemar keras yang menyukai semua lagunya, tetapi cukup tahu beberapa lagu dari album-albumnya. Jika dibandingkan dengan band favorit Penulis lainnya, bisa dibilang &#8220;pertemuan&#8221; Penulis dengan DragonForce adalah yang paling beda. Alasannya, Penulis mengetahui band ini melalui sebuah video [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai penggemar <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">musik <em>rock</em></a>, mungkin tidak mengejutkan jika Penulis menyebutkan <strong>DragonForce </strong>adalah salah satu <em>band </em>favoritnya. Bukan penggemar keras yang menyukai semua lagunya, tetapi cukup tahu beberapa lagu dari album-albumnya.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan <em>band </em>favorit Penulis lainnya, bisa dibilang &#8220;pertemuan&#8221; Penulis dengan DragonForce adalah yang paling beda. Alasannya, Penulis mengetahui <em>band </em>ini melalui sebuah<em> video game</em>!</p>



<p>Karena kebetulan Penulis tanpa sengaja mendengarkan lagu DragonForce lagi ketika bekerja, Penulis pun jadi berkeinginan untuk menulis tentang <em>band </em>yang terkenal karena selalu menyelipkan permainan gitar yang cepat hampir di setiap lagunya ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Awal Melalui Guitar Hero</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="DragonForce - Through the Fire and Flames (Official Video)" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/0jgrCKhxE1s?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebagai anak PlayStation (PS), salah satu <em>video game </em>yang Penulis gemari adalah <em><strong>Guitar Hero</strong></em>.  Itu pun tanpa sengaja karena ada teman sekolah yang menyarankan untuk memainkannya. Siapa sangka, Penulis jadi ketagihan bermain <em>game </em>bergenre ritme tersebut.</p>



<p>Oleh karena itu, ada banyak versi <em>Guitar Hero </em>yang Penulis mainkan. Salah satunya adalah <em><strong>Guitar Hero Xtreme Vol. 2</strong></em>. Ini merupakan versi <em>mod </em>dari <em>Guitar Hero 2</em>, sehingga beberapa judul lagu tidak sesuai dengan lagu yang ada di dalamnya.</p>



<p>Nah, <em>opening </em>dari <em>game </em>tersebut merupakan video klip dari DragonForce yang berjudul <em><strong>Through the Fire and the Flames</strong></em>. Di dalam <em>game</em>, lagu ini ada dengan judul <em>Freya</em>. Entah bagaimana dulu Penulis bisa menemukannya.</p>



<p>Melihat video klipnya, Penulis benar-benar kagum dengan duo gitarisnya,<strong> Herman Li</strong> dan <strong>Sam Totman</strong>, yang mampu bermain gitar dengan sangat cepat. Selain itu, sang vokalis <strong>ZP Theart</strong> memiliki suara tinggi yang unik.</p>



<p>Mungkin Pembaca bisa membayangkan seberapa tinggi kesulitan yang dimiliki oleh lagu ini jika dijadikan sebagai lagu untuk <em>Guitar Hero</em>. Sulit parah dan hampir tidak masuk akal. Persentase keberhasilan Penulis dalam memencet tombol hanya di kisaran 50% saja. </p>



<p>Jari yang rasanya keriting setelah memainkan lagu ini di dalam <em>game </em>ternyata justru membuat Penulis jatuh cinta dengan lagunya. Sebagai penggemar musik <em>rock</em>, rasanya lagu ini benar-benar berhasil membuat Penulis <em>mencak-mencak </em>dan menggelorakan jiwa <em>rock</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menemukan Lagu Favorit Lainnya&#8230; Lewat Guitar Hero Juga</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="amv one piece dragonforce fury of the &quot;king of pirates&quot;" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/TiKpLjCbImI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis adalah tipe orang yang jika sudah menemukan lagu sebuah <em>band </em>terdengar enak, Penulis akan berusaha untuk mencari lagu-lagu lain dari <em>band </em>tersebut. Itu juga yang terjadi pada Dragon Force.</p>



<p>Setelah coba mencari-cari di situs resmi DragonForce, Penulis menemukan 2 lagu lainnya, yaitu <em><strong>My Spirit Will Go On</strong> </em>yang rasanya seperti lagu Power Rangers dan <em><strong>Valley of the Damned </strong></em>yang lagunya terpotong karena <em>download-</em>nya kurang sempurna.</p>



<p>Kedua lagu tersebut oke, tapi tidak sampai jadi lagu favorit Penulis. Justru, lagu favorit dari DragonForce lainnya kembali Penulis temukan di <em>Guitar Hero </em>lagi. Kali ini, dari judul <em><strong>Guitar Hero Xtreme Vol. 4</strong> </em>yang <em>cheat</em>-nya hanya perlu menekan bundar berkali-kali.</p>



<p>Lagu tersebut adalah <em><strong>Fury of the Storm</strong></em>, yang sewaktu mencari video klipnya di YouTube malah dipakai sebagai AMV anime <em>One Piece</em>. Berbeda dengan lagu <em>Through the Fire and the Flames</em>, lagu ini masih cukup &#8220;manusiawi&#8221; untuk dimainkan di dalam <em>game</em>.</p>



<p>Ketika memainkan lagu ini, skor ratusan ribu dengan persentase keberhasilan menekan tombol di atas 90% berhasil Penulis dapatkan. <em>Fury of the Storm </em>menjadi lagu <em>Guitar Hero </em>favorit Penulis hingga saat ini dan sesekali masih memainkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjelajahi Album-Album Dragon Force</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="DragonForce - The Last Journey Home (Official Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/CM0JXnKVwPI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah tahu cara <em>download </em>lagu, Penulis lantas mulai mencari album-album DragonForce. Waktu itu, <em>band </em>ini sudah punya 4 album, yakni <em><strong>Valley of the Damned</strong></em> (2003), <em><strong>Sonic Firestorm</strong></em> (2004), <em><strong>Inhuman Rampage</strong></em> (2005), <em><strong>Ultra Beatdown</strong></em> (2008).</p>



<p>Pada album pertama, tidak ada lagu yang Penulis favoritkan. Di album kedua, setidaknya masih ada lagu <em><strong>My Spirit Will Go On </strong></em>dan <em><strong>Fury of the Storm </strong></em>yang sudah Penulis ketahui dulu sebelum mengenal albumnya.</p>



<p>Album ketiga sangat terkenal dengan lagu <em><strong>Through the Fire and the Flame</strong> </em>yang bisa dibilang melegenda. Selain itu, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Operation Ground and Pound</em> </strong>dan <strong><em>Trail of Broken Hearts</em></strong>.</p>



<p>Pada album keempatnya, lagu <em>Heroes of our Times </em>jadi <em>single </em>utama, tapi Penulis tidak terlalu menyukainya. Justru, Penulis sangat menyukai lagu <em><strong>The Last of Journey Home</strong>,</em> yang sayangnya, kualitas videonya benar-benar buruk dan kacau!</p>



<p>Ada beberapa kesamaan dari lagu-lagu yang dibuat oleh DragonForce. Selain menonjolkan permainan gitar yang cepat, semuanya memiliki durasi yang cukup panjang (rata-rata) di atas 6 menit. Bahkan, beberapa lagu bisa berdurasi lebih dari 8 menit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Mengikuti DragonForce</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6010" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>DragonForce dengan Vokalis Baru (<a href="https://www.textbookleague.org/dragonforce-personil-saat-ini-serta-berkembangnya-karir/">Text Book League</a>)</figcaption></figure>



<p>Saat Penulis sedang suka-sukanya mengikuti DragonForce, tiba-tiba sang vokalis <strong>ZP Theart memutuskan keluar dari <em>band</em></strong> dengan alasan &#8220;perbedaan pendapat musik yang tidak dapat diatasi&#8221;.</p>



<p>DragonForce pun langsung mencari vokalis pengganti dan menemukan sosok <strong>Marc Hudson</strong>. Sayangnya, bagi Penulis suara Theart sudah terlalu melekat dengan DragonForce, sehingga Penulis sama sekali tidak bisa menikmat DragonForce lagi dengan vokalis barunya.</p>



<p>Dengan begitu, <em>Ultra Beatdown </em>menjadi album DragonForce terakhir yang Penulis dengarkan. Penulis pernah mencoba memberi &#8220;kesempatan&#8221; dengan mendengarkan suara dari vokalis baru, tetapi Penulis tidak pernah bisa mendengarkannya hingga selesai.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa kalau DragonForce, terutama Herman Li dan Sam Totman, akan meninggalkan legasi bagi industri musik berkat permainan mereka yang ikonik. Mereka telah menjadi legenda hidup yang akan terus diingat oleh pecinta musik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika pertama kali mengenal DragonForce, Penulis mengira kalau <em>band </em>ini adalah <em>band </em>jadul karena rambut personelnya yang gondrong-gondrong. Ternyata, <em>band </em>ini dibentuk pada tahun 1999, dan lagu <em>Through the Fire and the Flame </em>rilis pada tahun 2006.</p>



<p>Meskipun sudah tidak mengikuti lagu-lagu terbaru mereka lagi, Penulis masih setia mendengarkan lagu-lagu lama mereka yang telah disebutkan di atas. Kadang Penulis mencari video <em>cover </em>lagu-lagu mereka, seperti yang dilakukan oleh Cole Rolland dengan sangat keren.</p>



<p>Yang jelas, <em>band </em>bergenre metal ini akan selalu memiliki tempat khusus di telinga Penulis. Mungkin sesekali merasa bosan karena durasi lagunya yang panjang-panjang, tapi Penulis akan tetap memasukkan DragonForce ke dalam <em>playlist </em>Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Oktober 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagi lagu-lagu dari Dragon Force</p>



<p>Foto: <a href="https://www.loudersound.com/news/dragonforce-say-songs-are-faster-heavier-than-ever">Louder Sound</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2022 05:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5935</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya ONE OK ROCK merilis album terbarunya yang diberi judul Luxury Disease pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, Zeitakubyō. Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari ONE OK ROCK, di mana sebelumnya band ini hanya memiliki jarak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya <strong>ONE OK ROCK</strong> merilis album terbarunya yang diberi judul <em><strong>Luxury Disease</strong></em> pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, <em>Zeitakubyō</em>.</p>



<p>Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">ONE OK ROCK</a>, di mana sebelumnya <em>band </em>ini hanya memiliki jarak dua tahun antaralbumnya. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat album ini dibuat di masa-masa pandemi yang mencekam.</p>



<p>Dari awal, Penulis sudah cukup skeptis dengan album baru mereka mengingat album <em>Eye of the Storm </em>yang terlalu pop. Meskipun <em>single </em>pertamanya yang berjudul <em>Renegades </em>cukup <em>rock</em>, sisa lagu di album ini bisa dibilang masih kurang <em>rock</em>.</p>





<p>Lantas, Penulis membaca sebuah artikel wawancara eksklusif ONE OK ROCK dengan Billboard. Dari sana, Penulis pun menjad paham mengapa <em>band </em>yang menggunakan embel-embel <em>rock </em>di namanya ini telah bertransformasi ke arah pop.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Musisi Mengikuti Kemauan Pasar</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5937" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption> Taka dari ONE OK ROCK (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.jame-world.com%2Fen%2Farticle%2F140820-one-ok-rock-at-the-warfield-san-francisco.html&amp;psig=AOvVaw0kCp8rRv64tZrnVyvQj0Cw&amp;ust=1664080885691000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CA0QjhxqFwoTCMielMTOrPoCFQAAAAAdAAAAABAm">JaME World</a>)</figcaption></figure>



<p>ONE OK ROCK jelas sudah sangat terkenal di Jepang, di mana Taka mengaku tiket konser mereka selalu terjual habis. Mungkin karena itulah mereka ingin melebarkan sayap mereka ke pasar Amerika yang menjadi banyak kiblat musisi dunia.</p>



<p>Pada satu kesempatan, Taka selaku vokalis dari ONE OK ROCK pernah berkata kalau <strong>musik <em>rock </em>telah mati di Amerika</strong>. Itulah yang menjadi alasan utama mengapa di album sebelumnya <em>band </em>ini hampir menghilangkan unsur <em>rock </em>sama sekali.</p>



<p>Agar bisa diterima oleh pendengar Amerika, tentu <em>band </em>ini harus menciptakan lagu yang bisa masuk dan dinikmati oleh pendengar Amerika. Untuk itu, Taka dkk. pun melakukan banyak riset untuk mengetahui apa yang disukai oleh pendengar Amerika.</p>



<p>Hasilnya pun bisa terdengar di album <em>Ambition </em>(2017) dan <em>Eye of the Storm</em> (2019). Selain karena memiliki dua versi internasional, lagu-lagu yang dimiliki lebih <em>easy listening </em>dibandingkan album-album lainnya seperti <em>35XXXV </em>(2015) yang sangat keras.</p>



<p>Saat menyiapkan album terbarunya ini, mereka merasa kalau tren saat ini telah berubah dan genre <em>rock</em>, <em>pop-punk</em>, hingga <em>emo </em>mulai bangkit lagi. Selain itu, mungkin mereka sudah cukup percaya diri dengan tingkat popularitas mereka di pasar Amerika.</p>



<p>Oleh karena itu, mereka pun kembali memasukkan unsur <em>rock </em>di albumnya yang sejatinya merupakan jati diri mereka sendiri. Ketika mendengarkan album <em>Luxury Disease</em>, memang beberapa lagu menyisipkan unsur <em>rock </em>dan suara tinggi khas Taka.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis unsur <em>rock-</em>nya masih kurang, sehingga Penulis merasa kalau eksistensi genre ini patut dipertanyakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Musik Rock Benar-Benar Sudah Mati?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5938" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa yang Suka Musik Rock? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/rock-concert">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika mengamati teman-teman dan keluarga di sekitar Penulis, harus diakui bahwa orang yang menyukai genre <em>rock </em>sangat sedikit, bisa dihitung dengan hitungan jari. Mungkin karena tidak semua suka musik yang keras.</p>



<p>Genre yang merajai para pendengar saat ini, setidaknya menurut pengamatan Penulis, adalah lagu yang memiliki unsur EDM,  K-pop, <em>hip-hop</em>, dan pop. Entah ada berapa banyak penyanyi, grup musik, atau DJ yang berada di pasar ini.</p>



<p>Akibatnya, <strong>musik <em>rock </em>pun seolah terdesak ke pinggir</strong> dan hanya didengarkan oleh beberapa penggemar yang setia. Ini berbeda dengan era 70-an, di mana musik <em>rock </em>bisa bertahan meskipun genre disko juga sedang <em>hype </em>waktu itu.</p>



<p>Tidak percaya? Coba cek daftar tangga lagu di Billboard Top 100. Cari apakah ada <em>rock band </em>di sana. Fenomena ini telah berlangsung lama, kurang lebih sejak masuk ke tahun 2010-an atau masuk ke era musik modern.</p>



<p>Sebagai perbandingan, di tahun 2005 ada 8 <em>rock band</em> yang masuk ke daftar, di tahun 1995 ada 11 <em>rock band</em>,  dan di tahun 1985 ada 19 <em>rock band</em> (belum termasuk musisi solo). Dari sini, bisa dilihat adanya penurunan yang sangat signifikan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5939" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa Gun &#8216;N Roses di Era Modern? (<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/guns-n-roses-singapore-concert-november-2022-tickets-3272617">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang menyebabkan hal ini? Satu jawaban yang jelas adalah begitulah mekanisme industri musik bekerja. Untuk bisa menghasilkan uang, tentu harus <strong>memproduksi lagu yang akan disukai oleh mayoritas pasar</strong>, bukan minoritas yang jumlahnya tidak seberapa.</p>



<p>Sama seperti industri televisi dan film, akan lebih banyak orang yang memproduksi apa yang diinginkan oleh pasar, bukan sebuah karya <em>masterpiece </em>yang susah dimengerti dan hanya disukai oleh segelintir orang.</p>



<p>Jadi, apakah musik <em>rock </em>benar-benar sudah mati? Mungkin belum, tapi bisa jadi akan makin meredup jika pasarnya benar-benar menghilang. Akan ada segelintir musisi yang akan tetap berkarya di jalur <em>rock</em>, tapi jumlahnya tidak akan banyak.</p>



<p>Selain itu, tidak ada yang salah dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/">selera musik masyarakat</a>. Setiap individu berhak untuk memilih musik mana yang akan mereka sukai, sehingga Penulis pun tidak menyalahkan siapapun atas meredupnya musik <em>rock </em>di era modern.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Strategi yang dilakukan oleh ONE OKE ROCK sebenarnya cukup lumrah dilakukan, di mana musisi harus mengikuti arah pasar demi memperluas pendengar atau sekadar mempertahan eksistensi mereka di industri musik yang terkenal cukup keras.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">Evolusi musik menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan</a>, seperti yang pernah terjadi pada <em>band </em>besar seperti <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park</a> dan 30 Second to Mars. Jika bersikukuh dengan idealisme yang dimiliki, maka siap-siap saja untuk tersingkir dari kompetisi.</p>



<p>Namun, dampak yang dihasilkan dari evolusi ini adalah terpinggirkannya genre musik yang sudah tidak sesuai dengan pasar. Penulis sendiri merasa cukup kesulitan untuk menemukan pengganti dari <em>band-band rock </em>favoritnya.</p>



<p>Bisa jadi sebenarnya Penulis saja yang kurang banyak mencoba mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>lain dan terlalu nyaman dengan lagu-lagu lama yang sudah didengar ribuan kali. Apakah mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencari <em>band </em>baru? Bring Me The Horizon mungkin?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 September 2022, terinspirasi setelah mendengarkan album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>



<p>Foto: <a href="https://pingpoint.co.id/berita/resmi-ditunda-penonton-konser-one-ok-rock-bisa-ajukan-refund/">PingPoint</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.billboard.com/music/music-news/one-ok-rock-taka-interview-luxury-disease-1235142505/">ONE OK ROCK’s Taka Talks New Album ‘Luxury Disease’ &amp; Kicking Off Their Second Chapter &#8211; Billboard</a></li><li><a href="https://spinditty.com/genres/How-One-Guitarist-Can-Save-Rock-Music">Why Rock Music Is Dead and What You Can Do About It &#8211; Spinditty</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2021 05:33:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[hip-hop]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mike Shinoda]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya semua penggemar Linkin Park pasti pernah mendengar Fort Minor, side-project dari Mike Shinoda. Band beraliran hip-hop ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki satu album berjudul The Rising Tied yang rilis pada 22 November 2005. Antara tahun 2003 dan 2007, Linkin Park memang tidak mengeluarkan album sama sekali selain album kolaborasi bersama Jay-Z, Collision [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/">Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Rasanya semua penggemar Linkin Park pasti pernah mendengar <strong>Fort Minor</strong>, <em>side-project </em>dari Mike Shinoda. Band beraliran hip-hop ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki satu album berjudul <em>The Rising Tied </em>yang rilis pada 22 November 2005.</p>



<p>Antara tahun 2003 dan 2007, Linkin Park memang tidak mengeluarkan album sama sekali selain album kolaborasi bersama Jay-Z, <em><em>Collision Course</em></em>. Mungkin, salah satu alasannya karena Mike ingin memiliki band yang beraliran hip-hop.</p>



<p>Meskipun band, sebenarnya Fort Minor hanya memiliki Mike Shinoda sebagai personilnya, mirip dengan <a href="https://whathefan.com/intermeso/one-band-one-man-panic-disco/">Panic! At the Disco</a> yang kini hanya menyisakan Brandon Urie. </p>



<p>Oleh karena itu, Penulis sedikit merasa bingung kenapa Mike memutuskan untuk menggunakan namanya sendiri ketika bersolo karir selepas kematian Chester Bennington. Kenapa tidak menggunakan nama Fort Minor saja?</p>



<p>Terlepas dari apa alasannya, di tulisan kali ini Penulis ingin berbagi sedikit tentang Fort Minor!</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>The Rising Tied</em></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Where&#039;d You Go - Fort Minor (feat. Holly Brook &amp; Jonah Matranga) (Official Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/zQdglLeGQXM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Seperti yang sudah disinggung di atas, Fort Minor hanya memiliki satu album berjudul <em><strong>The Rising Tied</strong></em>. Sebelum album ini rilis, Mike Shinoda sempat merilis album &#8220;palsu&#8221; berjudul <em>Fort Minor: We Major</em>. </p>



<p>Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari pembajakan dan Linkin Park pun melakukan hal yang sama pada album <em><a href="https://whathefan.com/intermeso/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a>.</em> </p>



<p>Album beraliran <em>alternative hip hop</em>/<em>rap rock</em> ini memiliki total 16 <em>track</em>:</p>



<ol class="wp-block-list"><li><em>Introduction</em></li><li><em>Remember the Name</em> (featuring Styles of Beyond)</li><li><em>Right Now </em>(featuring Black Thought of The Roots and Styles of Beyond)</li><li><em>Petrified</em></li><li><em>Feel Like Home </em>(featuring Styles of Beyond)</li><li><em>Where&#8217;d You Go</em> (featuring Holly Brook and Jonah Matranga)</li><li><em>In Stereo </em></li><li><em>Back Home</em> (featuring Common and Styles of Beyond) </li><li><em>Cigarettes</em></li><li><em>Believe Me</em> (featuring Eric Bobo and Styles of Beyond) </li><li><em>Get Me Gone</em></li><li><em>High Road</em> (featuring John Legend) </li><li><em>Kenji </em></li><li><em>Red to Black</em> (featuring Kenna, Jonah Matranga and Styles of Beyond) </li><li><em>The Battle</em> (featuring Celph Titled)</li><li><em>Slip Out the Back</em> (featuring Mr. Hahn)</li></ol>



<p>Mungkin yang paling terkenal adalah <em>Remember the Name, Where&#8217;d You Go, </em>atau <em>Believe Me</em>. Mungkin orang juga pernah mendengar <em>High Road </em>yang menggandeng penyanyi terkenal, John Legend.</p>



<p>Selain lagu di atas, judul yang menurut Penulis enak untuk didengarkan adalah <em>Right Now</em>, <em>Feel Like Home</em>, dan <em>Red to Black</em>. Tapi bagi Penulis, lagu terenak dari album ini adalah <em>Kenji</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Kenji</em></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Kenji - Fort Minor" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/pUBKcOZjX6g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Bukti Penulis menyukai lagu ini adalah menjadikannya sebagai salah satu nama tokoh utama di novelnya, <em><a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">Leon dan Kenji</a></em>. Penulis harus sampai membuat latar belakang karakter tersebut keturunan Jepang agar namanya bisa digunakan secara natural.</p>



<p>Lagu ini berdurasi hampir 4 menit. Berbeda dengan kebanyakan lagu di album <em>The Rising Tied</em>, lagu <em>Kenji </em>hanya dinanyikan oleh Mike seorang. Alasannya mudah, lagu ini penuh dengan pesan emosional dari dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis ingat pernah membaca majalah sewaktu SD (kalau tidak salah majalah XY Kids), Mike terinspirasi membuat lagu ini ketika mengunjungi museum yang bertema Perang Dunia II. Ia teringat keluarganya yang harus &#8220;diamankan&#8221; ketika PD II karena orang Jepang.</p>



<p>Padahal, menurut Mike, keluarganya tidak salah apa-apa. Mereka hanya orang Jepang yang tinggal di Ameriak Serikat dan tidak memiliki keterkaitan dengan penyerangan Pearl Harbour yang menjadi pemicu perang antara kedua negara.</p>



<p>Yang unik dari lagu ini adalah adanya rekaman suara dari ayah dan bibi dari Mike. Mereka menceritakan secara langsung bagaimana pengalaman mereka ketika PD II di mana mereka (dan semua orang Jepang) harus diasingkan di tempat bernama Manzanar.</p>



<p>Menurut Penulis, lagu ini memiliki keunikan dari sejarah yang dikemas. Rasanya jarang ada lagu yang berisikan cerita nyata dari kejadian sejarah, walaupun diambil dari sudut pandang si penulis lagu. Ketika mendengarkan lagu ini, entah mengapa emosi dari Mike seolah tersampaikan.</p>



<p>Untuk lirik lengkap lagu <em>Kenji</em>, Pembaca bisa melihatnya melalui <a href="https://www.azlyrics.com/lyrics/fortminor/kenji.html">AZLyrics</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Fort Minor sempat hiatus lama sekali setelah tahun 2006. Nama ini baru kembali muncul pada tahun 2015, ketika Mike Shinoda merilis <em>single </em>baru berjudul <em>Welcome</em>. Setelah itu, Fort Minor pun kembali hiatus hingga sekarang.</p>



<p>Sewaktu <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester mengakhiri hidupnya sendiri</a>, Penulis mengira Mike akan fokus dengan Fort Minor. Ternyata, ia memutuskan untuk bersolo karir di bawah namanya sendiri dan telah merilis albumnya sendiri. Ia juga kerap melakukan <em>world tour</em> dengan namanya sendiri.</p>



<p>Walaupun bisa dianggap band ini sudah tidak ada lagi, Penulis tetap sering mendengarkan lagu-lagunya, terutama <em>Kenji</em>. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2021, terinspirasi setelah mendengar lagu <em>Kenji</em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.wegow.com/en-se/artists/fort-minor">Wegow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/">Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2021 09:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[lirik]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Noah]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puitis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4245</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ditanya mengenai band atau penyanyi Indonesia favorit Penulis, Penulis tanpa ragu akan menjawab Peterpan atau yang sekarang telah bertransformasi menjadi Noah. Pada dasarnya, mulai SMP Penulis lebih menyukai musik luar negeri seperti Linkin Park, Avenged Sevenfold, hingga Good Charlotte. Bukannya tidak nasionalis, tapi memang masalah selera saja. Hanya saja, Penulis merasa cocok dengan&#160;style&#160;musik Peterpan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ditanya mengenai band atau penyanyi Indonesia favorit Penulis, Penulis tanpa ragu akan menjawab <strong>Peterpan</strong> atau yang sekarang telah bertransformasi menjadi <strong>Noah</strong>.</p>



<p>Pada dasarnya, mulai SMP Penulis lebih menyukai musik luar negeri seperti <a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Linkin Park</a>, Avenged Sevenfold, hingga Good Charlotte. Bukannya tidak nasionalis, tapi memang masalah selera saja.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa cocok dengan&nbsp;<em>style&nbsp;</em>musik Peterpan yang puitis. Rasanya, band yang satu ini membawa warna yang berbeda untuk belantika musik Indonesia.</p>



<p>Penulis sempat berhenti total mendengarkan lagu-lagu Peterpan ketika sang vokalis, Ariel, tersandung kasus pornografi. Koleksi kasetnya langsung Penulis jual ke teman satu bangku.</p>



<p>Hanya saja beberapa tahun terakhir ini, Penulis memutuskan untuk mendengarkan mereka lagi karena merasa terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi, Noah memiliki banyak lagu yang enak didengarkan.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Peterpan dan Album-Albumnya</h1>



<p>Sepengetahuan Penulis, Peterpan memiliki empat album plus satu album kompilasi. Keempat album tersebut adalah <em><strong>Taman Langit</strong></em> (2003), <strong><em>Bintang di Surga</em></strong> (2004), <strong><em>Alexandria</em></strong> (2005), dan <strong><em>Hari yang Cerah&#8230;</em></strong> (2007).</p>



<p>Yang menjadi favorit Penulis adalah album&nbsp;<em>Alexandria</em>. Album ini hanya memiliki lima lagu baru, di mana lima lagu lainnya merupakan hasil aransemen ulang. Hanya saja, Penulis menyukai semua lagu yang ada di album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Ku Katakan Dengan Indah (Official Audio)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/G6YWDl0-IXU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis paling menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Ku Katakan dengan Indah</strong>&nbsp;</em>yang liriknya sangat mengena di hati. Lirik ini yang paling Penulis sukai:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Kau beri rasa yang berbeda, mungkin ku salah<br>Mengartikannya, yang kurasa cinta</p></blockquote>



<p>Penulis juga menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Di Belakangmu</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Langit Tak Mendengar</em></strong>. Secara kualitas musik, Penulis sangat puas dengan album yang merupakan&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>film berjudul sama ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Bintang Di Surga (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Yi-C9okDw3A?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di urutan kedua, Penulis menyukai album&nbsp;<em>Bintang di Surga&nbsp;</em>yang legendaris. Sama seperti sebelumnya, Penulis menyukai semua lagu yang ada di dalam album ini.</p>



<p>Selain lagu&nbsp;<em>Ku Katakan dengan Indah&nbsp;</em>versi asli, Penulis juga menyukai lagu&nbsp;<em><strong>Di Atas Normal</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Bintang di Surga</em></strong>. Apalagi, video klip <em>Bintang di Surga&nbsp;</em>dibuat macam film Hollywood.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peterpan - Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/fuEdMCclYn0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya di album <em>Hari yang Cerah&#8230;,&nbsp;</em>Penulis menyukai lagi&nbsp;<em><strong>Hari yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Kota Mati</em></strong>. Album ini terdengar lebih modern dibandingkan album sebelumnya.</p>



<p>Penulis kurang menyukai album pertama mereka,&nbsp;<em>Taman Langit</em>, meskipun banyak lagu&nbsp;<em>hits&nbsp;</em>Peterpan berasal dari album ini. Sekali lagi, semua hanya masalah selera.</p>



<p>Album kompilasi mereka berjudul&nbsp;<em><strong>Sebuah Nama Sebuah Cerita</strong>&nbsp;</em>yang dirilis pada tahun 2008. Ada beberapa lagu baru juga di album ini dan Penulis sangat menikmati lagu&nbsp;<strong><em>Dilema Besar.</em></strong></p>



<h1 class="wp-block-heading">Noah dan Album-Albumnya</h1>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Jika Engkau (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/8Rxj-Drr0dA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Pada tahun 2012, setelah Ariel menyelesaikan masa hukumannya, Peterpan resmi berubah nama menjadi Noah. Album pertama mereka adalah&nbsp;<strong><em>Seperti Seharusnya </em></strong>dengan <em>single </em>pertama <strong><em>Separuh Aku</em></strong>.</p>



<p>Pada album ini, Penulis lebih menyukai lagu <em><strong>Jika Engkau (Berartinya Dirimu)</strong>&nbsp;</em>dan&nbsp;<strong><em>Tak Lagi Sama</em></strong>. Kedua lagu ini sama-sama mengandung kegetiran dan ketakutan untuk ditinggalkan oleh sang kekasih.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Menunggumu (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/A_OJzo1LUMI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Noah juga melakukan aransemen ulang beberapa lagu Peterpan di album <strong><em>Second Chance</em></strong> yang rilis pada tahun 2014. Di salah satu&nbsp;<em>podcast</em>, Ariel mengatakan hal itu dilakukan agar lagu-lagu lama mereka memiliki versi yang terdengar Noah.</p>



<p>Di album ini, Penulis sangat sangat sangat menyukai aransemen ulang lagu&nbsp;<strong><em>Menunggumu&nbsp;</em></strong>yang dulu Peterpan nyanyikan bersama almarhum Chrisye. Di iTunes Penulis, lagu ini sudah Penulis putar lebih dari 400 kali, hampir tiga kali lipat dari lagu-lagu lainnya.</p>



<p>Pada tahun 2016, Noah merilis album&nbsp;<em>Sings Legends&nbsp;</em>di mana mereka melakukan aransemen ulang terhadap lagu-lagu milik legendaris, seperti lagu&nbsp;<strong><em>Andaikan Kau Datang</em></strong>-nya Koes Plus dan&nbsp;<em><strong>Sajadah Panjang</strong>&#8211;</em>nya Bimbo.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Kupeluk Hatimu (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jFGkeMPq8Lo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album utuh kedua Noah rilis pada tahun 2019 dengan judul <em><strong>Keterkaitan Keterikatan</strong></em>. Jumlah lagu di album ini tergolong sedikit jika dibandingkan dengan album-album sebelumnya, hanya ada delapan lagu.</p>



<p>Penulis paling suka dengan lagu&nbsp;<strong><em>Kupeluk Hatimu </em></strong>yang sendu dan<strong>&nbsp;<em>Jalani Mimpi </em></strong>yang sangat optimistik dan membuat semangat untuk menjalani hari.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="NOAH - Kala Cinta Menggoda (Official Music Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Xyrpb1w5kkw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika pandemi kemarin, mereka juga melakukan aransemen ulang terhadap lagu&nbsp;<em><strong>Kala Cinta Menggoda</strong>&nbsp;</em>yang dipopulerkan oleh almarhum Chrisye. Penulis lebih menyukai versi baru ini dibandingkan versi aslinya yang bernada ceria.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Puisi di Dalam Lirik</h1>



<p>Formasi awal Peterpan terdiri dari enam orang, yakni <strong>Ariel</strong>, <strong>Lukman</strong>, <strong>Uki</strong>, <strong>Reza</strong>, <strong>Andika</strong>, dan <strong>Indra</strong>. Dua nama terakhir hengkang dan membentuk band sendiri dengan nama <strong>The Titans</strong>.</p>



<p>Ketika berubah menjadi Noah, personilnya bertambah satu: <strong>David</strong> sebagai pemain piano. Kini, Noah tinggal bertiga setelah Reza dan Uki memutuskan untuk pensiun dari dunia musik.</p>



<p>Dari awal mendengarkan lagu Peterpan, Penulis langsung jatuh cinta dengan lirik-liriknya yang puitis. Mereka kerap menggunakan metafora yang terkadang sebenarnya tidak bisa Penulis pahami.</p>



<p>Hal ini bisa kita lihat pada album pertama mereka. Metafora yang digunakan kadang membuat bingung lagunya bercerita tentang apa. Tapi semakin ke sini, metafora yang berlebihan mulai dikurangi dan tiap lagu memiliki pesannya masing-masing.</p>



<p>Ketika Peterpan berubah menjadi Noah, Penulis merasa lirik-liriknya sudah tidak terlalu puitis. Masih indah, tapi kata-katanya menjadi lebih mudah dipahami. Yang jelas, Penulis masih mendengarkan lagu-lagunya hingga kini, terutama ketika hati sedang gundah gulana.</p>



<p>Lawang, 9 Desember 2020, terinspirasi setelah menyadari kalau rubrik Musik &amp; Film sudah lama tidak diisi</p>



<p>Foto: <a href="https://urbanradiobandung.com/news/kala-cinta-menggoda-versi-noah-kemarin-rilis/">Urban Radio Bandung</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan One More Light</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 00:29:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Chester Bennington]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One More Light]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3823</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&#160;One More Light. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya. Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&nbsp;<em>One More Light</em>. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya.</p>



<p>Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok gini?&#8221;.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Album Pop Linkin Park?</h1>



<p>Pikiran tersebut muncul sejak Penulis mendengar <em>single&nbsp;</em>pertamanya yang berjudul&nbsp;<em>Heavy</em>. Selain karena genrenya yang cenderung pop, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng penyanyi perempuan sebagai teman duet, <strong>Kiiara</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3826"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3826" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester dan Kiiara (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.justjared.com%2F2017%2F02%2F17%2Flinkin-park-kiiara-premiere-heavy-stream-download-lyrics-listen-now%2F&amp;psig=AOvVaw2VC73YOCVLFRr7rv9ReLBV&amp;ust=1589156923165000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" aria-label="Visit Just Jared"><span class="pM4Snf">Just Jared</span></a>)</figcaption></figure>



<p>Bukannya tidak enak. Penulis bisa menikmati lagunya, apalagi makna liriknya yang cukup dalam. Hanya saja, rasanya ini bukan seperti lagu-lagu Linkin Park seperti biasanya, apalagi setelah tiga tahun lalu mereka merilis album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-the-hunting-party/"><em>The Hunting Party</em></a>.</p>



<p>Setelah albumnya yang berisi sepuluh lagu rilis, Penulis mendengarkan baik-baik lagu demi lagunya. Album ini benar-benar berbeda, sama sekali tidak terasa nuansa&nbsp;<em>rock</em>-nya! Bahkan Chester sama sekali tidak mengeluarkan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>andalannya.</p>



<p>Awalnya Penulis menganggap hal tersebut terjadi karena usianya yang sudah mulai menua, sehingga tidak disarankan untuk berteriak. Tetapi ketika menonton video konsernya, ia tetap melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>seperti biasa.</p>



<p>Artinya, sekali lagi Linkin Park berusaha melakukan eksperimen ekstrem seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, Penulis pribadi merasa eksperimen kali ini sudah terlalu jauh. Mereka meninggalkan genre <em>alternative/rap/electric rock </em>dan memilih untuk membuat album pop.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggunakan salah satu judul lagu sebagai judul album&nbsp;dan tidak ada kesinambungan antar lagunya seperti biasanya.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu&nbsp;<em>One More Light</em></h1>



<p>Album dibuka dengan lagu <em><strong>Nobody Can Save Me</strong>. </em>Bisa dibilang, peletakkan lagu ini di awal album menjadi penanda seperti apa album ini akan terdengar. Enak sih, cuma sedikit membosankan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Good Goodbye [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Pusha T and Stormzy)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/phVQZrb2AdA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya adalah satu-satunya lagu di mana Mike Shinoda melakukan&nbsp;<em>rap, <strong>Good Goodbye</strong></em>. Pada lagu ini, Linkin Park menggandeng&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>Pusha T dan Stormzy. Mike hanya mengisi&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di bagian pertama lagu.</p>



<p>Bisa dibilang, <strong><em>Talking to Myself</em></strong> menjadi lagu terkeras di album ini. Tidak ada teriakan, namun vokal Chester terasa kuat. Perilisan video klipnya bersamaan dengan ditemukannya Chester bunuh diri, di mana isinya merupakan berbagai aktivitas Linkin Park.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Talking To Myself [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/lvs68OKOquM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>Battle Symphony</em></strong> yang kalau tidak salah menjadi&nbsp;<em>single&nbsp;</em>kedua lagu ini. Penulis ingat ketika konser untuk memperingati kematian Chester, Mr. Han melakukan kesalahan hingga ditegur oleh Mike.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Invisible</strong>&nbsp;</em>secara penuh dinyanyikan oleh Mike, mirip dengan lagu&nbsp;<em>In Between&nbsp;</em>di album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/"><em>Minutes to Midnight</em></a>. Hanya saja, lagu ini lebih cocok untuk berada di album Fort Minor atau Mike Shinoda sendiri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama dari album ini,&nbsp;<strong><em>Heavy</em></strong>, menjadi trek keenam. Dibandingkan lagu lainnya, lagu ini masih bisa Penulis nikmati karena dentuman drum yang ada di bagian 1/4 lagu terakhir.</p>



<p><em><strong>Sorry for Now</strong>&nbsp;</em>mungkin terdengar aneh karena Mike menjadi vokalis utama, sedangkan Chester hanya mengisi bagian&nbsp;<em>bridge </em>dan <em>backing voval-</em>nya.&nbsp;<strong><em>Halfway Right </em></strong>juga terdengar seperti lagu-lagu pop Linkin Park lainnya, bahkan dianggap sedikit cengeng.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="One More Light [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Tm8LGxTLtQk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Judul utama album ini diambil dari lagu kesembilan,&nbsp;<strong><em>One More Light</em></strong>. Lagunya sangat terasa sendu dan menyedihkan. Pada akhirnya, lagu ini sering dihubungkan dengan kepergian Chester yang tragis. Album ditutup dengan lagu akustik berjudul <em><strong>Sharp Edges</strong>.</em></p>



<p>Pembaca bisa lihat, Penulis tidak bisa banyak berkomentar mengenai lagu-lagu yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan kalau Penulis tidak bisa terlalu memahami album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Tidak ada teriakan, tidak ada suara gitar yang berat,&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>yang sangat sedikit, tak ada lagi gesekan <em>turntables</em>. Banyak hal yang awalnya membuat Penulis merasa tidak terlalu suka dengan album ini.</p>



<p>Penulis tidak sendirian. Banyak fans yang merasakan hal yang sama. Bahkan, banyak kritikus musik yang habis-habisan memberi respon negatif ke album ini hingga membuat Chester marah.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau ternyata album ini menjadi album terakhir dari Linkin Park. Sang vokalis, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester Bennington</a>, memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menggantung lehernya, menyisakan duka mendalam bagi para penggemarnya termasuk Penulis.</p>



<p>Penulis tidak akan lagi membaca berita Linkin Park akan mengeluarkan album baru. Kalaupun pada akhirnya band merekrut vokalis baru, Penulis tidak bisa menerimanya sebagai Linkin Park.</p>



<p>Meskipun begitu, sampai kapanpun Linkin Park akan tetap menjadi band nomor satu di hati Penulis. Sampai kapanpun.</p>



<p><em>Seri artikel album Linkin Park, selesai.</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/More-Light-Vinyl-Linkin-Park/dp/B06WD3G4ZY">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan The Hunting Party</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2020 13:39:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[The Hunting Party]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&#160;Living Things&#160;rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian. Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&#160;The Hunting Party.&#160;Jujur, Penulis sangat menyukai&#160;art cover&#160;dari album ini. Rasanya sangat artistik. Selain itu, isi lagu di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&nbsp;<em>Living Things&nbsp;</em>rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian.</p>



<p>Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&nbsp;<em><strong>The Hunting Party</strong>.&nbsp;</em>Jujur, Penulis sangat menyukai&nbsp;<em>art cover&nbsp;</em>dari album ini. Rasanya sangat artistik.</p>



<p>Selain itu, isi lagu di album ini juga berbeda dari album-album sebelumnya. Singkatnya, album ini terdengar sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Rock Murni</h1>



<p>Satu poin yang membuat album ini sangat berbeda dibandingkan dengan dua album sebelumnya adalah minimnya sentuhan elektronik pada lagu-lagunya. Benar-benar terdengar seperti lagu <em>rock&nbsp;</em>murni.</p>



<p>Penulis sampai berpikir apa peran sang DJ, Mr. Han, di album ini. Lagu-lagunya benar-benar menonjolkan instrumen musik&nbsp;<em>rock </em>yang sangat berat, keras, dan kental<em>.</em></p>



<p>Banyak yang menganggap Linkin Park sedang melawan arus, mengingat band lain mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Semua eksperimen yang telah dilakukan ditinggalkan demi instrumen musik&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>tradisional.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng musisi lain di dalam albumnya. Mereka adalah <strong>Page Hamilton</strong> (Helmet), <strong>Daron Malakian</strong> (System of a Down), <strong>Tom Morello</strong> (Race Against the Machine), dan <strong>Rakim</strong>.</p>



<p>Itulah beberapa alasan yang membuat Penulis merasa kalau album yang satu ini sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>The Hunting Party</em></h1>



<p>Album ini berisikan 12 lagu, di mana 2 lagu hanya berperan sebagai&nbsp;<em>interlude</em>. Lagu pembuka dari lagu ini adalah&nbsp;<em><strong>Keys to the Kingdom</strong>. </em>Penulis setuju lagu ini dijadikan sebagai&nbsp;<em>track&nbsp;</em>nomor satu karena mampu merepresntasikan kerusuhan album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Keys To The Kingdom - Linkin Park (The Hunting Party)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ZPlUjhroNd4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Diawali dengan suara teriakan Chester, kita akan mendengar&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike yang diiringi dengan dentuman musik yang makin menjelang akhir makin keras. Penulis cukup menyukai lagu ini.</p>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>All for Nothing</em></strong>, di mana Linkin Park menggandeng Page Hamilton yang merupakan gitaris dan vokalis band Helmet.</p>



<p>Dengan aliran&nbsp;<em>hip-hop&nbsp;</em>di bagian awal, lagu ini terdengar seperti lagu&nbsp;<em>punk</em>. Permainan gitar Brad Delson benar-benar sangat menonjol di sini, tentu dengan bantuan dari Page.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Guilty All The Same (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Rakim)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/cEaEdLQbAFM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama yang rilis dari album ini adalah&nbsp;<strong><em>Guilty All the Same</em></strong>. Untuk pertama kalinya, Linkin Park menggandeng seorang&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>lain untuk mengisi pos yang biasanya diisi oleh Mike.&nbsp;<em>Rapper </em>yang dipilih adalah Rakim.</p>



<p>Intro lagu ini cukup panjang, lebih dari satu menit. Durasi lagunya sendiri hampir menyentuh angka enam. Didominasi oleh suara gitar dan drum yang agresif, mendengarkan lagu ini seolah memancing kita untuk berbuat kerusuhan.</p>



<p>Setelah itu, ada lagu&nbsp;<em><strong>The Summoning</strong>&nbsp;</em>yang berperan sebagai&nbsp;<em>interlude&nbsp;</em>dari lagu&nbsp;<em><strong>War</strong>.&nbsp;</em>Lagu ini mirip dengan lagu&nbsp;<em>Victimized&nbsp;</em>dari album sebelumnya. Durasinya pendek, namun vokal Chester sangat kuat. Bedanya, lagu ini tidak memiliki bagian&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Wasteland</strong>&nbsp;</em>yang awalnya tidak Penulis sukai karena terdengar berantakan. Setelah didengar ulang dan menonton video konsernya, Penulis jadi menyukai lagu ini. Lagu ini menjadi lagu ketiga di mana Mike melakukan&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Until It&#039;s Gone [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/oM-XJD4J36U?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Outro</em> dari <em>Wasteland</em> juga menjadi pembuka untuk lagu selanjutnya, <strong><em>Until It&#8217;s Gone</em></strong>. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang masih memiliki efek elektronik yang tidak terlalu menonjol. Walaupun begitu, Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<p>Sama seperti sebelumnya,&nbsp;<em>outro&nbsp;</em>dari lagu ini juga terhubung dengan lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>Rebellion</em></strong>. Nah, kalau lagu ini sangat Penulis sukai. Selain karena permainan gitar yang ditunjukkan oleh Daron Malkian, Penulis juga menyukai liriknya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Rebellion (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Daron Malakian)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/OCy5461BtTg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu ini menggunakan&nbsp;<em>riff </em>gitar yang cepat dan hentakan drum yang dinamis, membuat kita akan bersemangat ketika mendengarkannya. Mike menyanyi di lagu ini walaupun bukan bagian&nbsp;<em>rap</em>. Ada juga bagian Chester melakukan&nbsp;<em>screaming</em>.</p>



<p><em><strong>Mark the Graves</strong>&nbsp;</em>yang menjadi lagu selanjutnya benar-benar tidak Penulis sukai. Sangat terdengar berantakan seolah yang menyanyikan bukan Linkin Park. Penulis tidak ragu untuk memberikan lagu ini bintang dua di iTunes.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu instrumen berjudul&nbsp;<em><strong>Drawbar</strong>,&nbsp;</em>di mana Tom Morello dari Race Against the Machine ikut mengambil bagian. Berbeda dengan lagu&nbsp;<em>Cure for the Itch&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Session</em>, tidak terdengar suara elektronik di lagu ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Final Masquerade [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/i8q8fFs3kTM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di antara semua lagu,&nbsp;<em><strong>Final Masquerade</strong>&nbsp;</em>adalah lagu favorit Penulis di album ini. Lagu ini dideskripsikan sebagai genre&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>alternatif atau&nbsp;<em>hard rock</em>. Nuansanya mirip dengan lagu&nbsp;<em>What I&#8217;ve Done</em>.</p>



<p>Tempo lagunya tidak terlalu cepat, namun sangat enak didengarkan. Chester tidak perlu melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>untuk menunjukkan kemampuan vokalnya yang luar biasa.</p>



<p>Album ditutup dengan lagu&nbsp;<em><strong>A Line in the Sand</strong>&nbsp;</em>yang juga tidak Penulis sukai sama sekali. Alasannya sama dengan lagu&nbsp;<em>Mark the Graves</em>, begitupun dengan ratingnya di iTunes Penulis.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Bagi penggemar lagu-lagu&nbsp;<em>rock,&nbsp;</em>album ini akan disukai setelah sebelumnya Linkin Park gemar melakukan eksperimen. Nyaris tidak ada sentuhan elektronik sekali, sehingga bagi beberapa fans album ini terdengar aneh.</p>



<p>Penulis pun sejujurnya kurang menyukai album ini, walaupun menyukai beberapa lagu di dalamnya seperti&nbsp;<em>Wasteland</em>,&nbsp;<em>Rebellion,&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Final Masquerade.</em></p>



<p>Bagi Penulis, yang namanya Linkin Park harus mampu menggabungkan musik&nbsp;<em>rock, electronic, </em>hingga&nbsp;<em>hip-hop</em>. Lagu yang memiliki video klip juga hanya dua, <em>Until It&#8217;s Gone </em>dan <em>Final Masquerade. </em>Tapi yang namanya fans, Penulis tetap mendengarkan album ini.</p>



<p>Setelah mendengarkan album ini, Penulis berharap di album selanjutnya Linkin Park akan kembali seperti dulu lagi. Harapan tersebut tidak terkabul, karena Linkin Park semakin berubah drastis!</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em><strong>One More Light</strong>. Stay Tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Hunting-Party-Linkin-Park/dp/B00K03VZ1K">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
