Connect with us

Musik

Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji

Published

on

Rasanya semua penggemar Linkin Park pasti pernah mendengar Fort Minor, side-project dari Mike Shinoda. Band beraliran hip-hop ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki satu album berjudul The Rising Tied yang rilis pada 22 November 2005.

Antara tahun 2003 dan 2007, Linkin Park memang tidak mengeluarkan album sama sekali selain album kolaborasi bersama Jay-Z, Collision Course. Mungkin, salah satu alasannya karena Mike ingin memiliki band yang beraliran hip-hop.

Meskipun band, sebenarnya Fort Minor hanya memiliki Mike Shinoda sebagai personilnya, mirip dengan Panic! At the Disco yang kini hanya menyisakan Brandon Urie.

Oleh karena itu, Penulis sedikit merasa bingung kenapa Mike memutuskan untuk menggunakan namanya sendiri ketika bersolo karir selepas kematian Chester Bennington. Kenapa tidak menggunakan nama Fort Minor saja?

Terlepas dari apa alasannya, di tulisan kali ini Penulis ingin berbagi sedikit tentang Fort Minor!

The Rising Tied

Seperti yang sudah disinggung di atas, Fort Minor hanya memiliki satu album berjudul The Rising Tied. Sebelum album ini rilis, Mike Shinoda sempat merilis album “palsu” berjudul Fort Minor: We Major.

Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari pembajakan dan Linkin Park pun melakukan hal yang sama pada album Minutes to Midnight.

Album beraliran alternative hip hop/rap rock ini memiliki total 16 track:

  1. Introduction
  2. Remember the Name (featuring Styles of Beyond)
  3. Right Now (featuring Black Thought of The Roots and Styles of Beyond)
  4. Petrified
  5. Feel Like Home (featuring Styles of Beyond)
  6. Where’d You Go (featuring Holly Brook and Jonah Matranga)
  7. In Stereo
  8. Back Home (featuring Common and Styles of Beyond)
  9. Cigarettes
  10. Believe Me (featuring Eric Bobo and Styles of Beyond)
  11. Get Me Gone
  12. High Road (featuring John Legend)
  13. Kenji
  14. Red to Black (featuring Kenna, Jonah Matranga and Styles of Beyond)
  15. The Battle (featuring Celph Titled)
  16. Slip Out the Back (featuring Mr. Hahn)

Mungkin yang paling terkenal adalah Remember the Name, Where’d You Go, atau Believe Me. Mungkin orang juga pernah mendengar High Road yang menggandeng penyanyi terkenal, John Legend.

Selain lagu di atas, judul yang menurut Penulis enak untuk didengarkan adalah Right Now, Feel Like Home, dan Red to Black. Tapi bagi Penulis, lagu terenak dari album ini adalah Kenji.

Kenji

Bukti Penulis menyukai lagu ini adalah menjadikannya sebagai salah satu nama tokoh utama di novelnya, Leon dan Kenji. Penulis harus sampai membuat latar belakang karakter tersebut keturunan Jepang agar namanya bisa digunakan secara natural.

Lagu ini berdurasi hampir 4 menit. Berbeda dengan kebanyakan lagu di album The Rising Tied, lagu Kenji hanya dinanyikan oleh Mike seorang. Alasannya mudah, lagu ini penuh dengan pesan emosional dari dirinya dan keluarganya.

Penulis ingat pernah membaca majalah sewaktu SD (kalau tidak salah majalah XY Kids), Mike terinspirasi membuat lagu ini ketika mengunjungi museum yang bertema Perang Dunia II. Ia teringat keluarganya yang harus “diamankan” ketika PD II karena orang Jepang.

Padahal, menurut Mike, keluarganya tidak salah apa-apa. Mereka hanya orang Jepang yang tinggal di Ameriak Serikat dan tidak memiliki keterkaitan dengan penyerangan Pearl Harbour yang menjadi pemicu perang antara kedua negara.

Yang unik dari lagu ini adalah adanya rekaman suara dari ayah dan bibi dari Mike. Mereka menceritakan secara langsung bagaimana pengalaman mereka ketika PD II di mana mereka (dan semua orang Jepang) harus diasingkan di tempat bernama Manzanar.

Menurut Penulis, lagu ini memiliki keunikan dari sejarah yang dikemas. Rasanya jarang ada lagu yang berisikan cerita nyata dari kejadian sejarah, walaupun diambil dari sudut pandang si penulis lagu. Ketika mendengarkan lagu ini, entah mengapa emosi dari Mike seolah tersampaikan.

Untuk lirik lengkap lagu Kenji, Pembaca bisa melihatnya melalui AZLyrics.

Penutup

Fort Minor sempat hiatus lama sekali setelah tahun 2006. Nama ini baru kembali muncul pada tahun 2015, ketika Mike Shinoda merilis single baru berjudul Welcome. Setelah itu, Fort Minor pun kembali hiatus hingga sekarang.

Sewaktu Chester mengakhiri hidupnya sendiri, Penulis mengira Mike akan fokus dengan Fort Minor. Ternyata, ia memutuskan untuk bersolo karir di bawah namanya sendiri dan telah merilis albumnya sendiri. Ia juga kerap melakukan world tour dengan namanya sendiri.

Walaupun bisa dianggap band ini sudah tidak ada lagi, Penulis tetap sering mendengarkan lagu-lagunya, terutama Kenji.


Lawang, 1 Juni 2021, terinspirasi setelah mendengar lagu Kenji

Foto: Wegow

Musik

Feel My Rhythm: Red Velvet

Published

on

By

Blackpink (YG Entertainment) sudah, Twice (JYP Entertainemnt) sudah. Artinya, tinggal satu lagi girlband yang dianggap sebagai Big 3 dari gen 3 yang belum Penulis eksplorasi musiknya, yaitu Red Velvet dari SM Entertainment.

Penulis sendiri sebenarnya tidak asing dengan Red Velvet, mengingat dulu ada salah satu teman kantornya yang merupakan penggemar dari girlband beranggotakan Irene, Wendy, Seulgi, Joy, dan Yeri ini.

Salah satu komentar dari teman kantor Penulis yang paling nempel adalah video-video klip Red Velvet kerap identik dengan nuansa creepy, berbeda dengan Blackpink yang berkonsep girl crush atau Twice yang terkesan imut. Ternyata, hal tersebut (separuh) benar.

Lagu-Lagu Red Velvet yang Penulis Dengarkan

Dulu sekali, satu-satunya lagu Red Velvet yang Penulis ketahui adalah “Psycho.” Itu pun hanya mendengarkannya sambil lewat, tidak pernah mendengarkannya secara utuh. Baru setelah berkenalan dengan Twice-lah Penulis jadi mencoba untuk mendengarkannya.

Namun, justru karena lagu “Feel My Rhythm“-lah yang membuat Penulis memutuskan untuk mendalami Red Velvet. Penulis akan membahas lagu ini secara khusus di bawah karena menurut Penulis ini adalah lagu K-Pop terindah yang pernah didengarkan.

Lagu-lagu Red Velvet selanjutnya yang berhasil menarik perhatian Penulis adalah “Bad Boy” dan “Peek-a-Boo” karena memiliki keunikannya sendiri. Keduanya langsung masuk ke dalam daftar Liked Music Penulis di YouTube Music.

Setelah empat lagu tersebut, makin banyak lagu Red Velvet yang masuk ke dalam playlist Penulis, seperti “Queendom,” “Red Flavor,” “Ice Cream Cake,” “Happiness,” “Really Bad Boy,” hingga yang terbaru “Chill Kill.”

Salah satu alasan mengapa Penulis bisa masuk dengan musik Red Velvet adalah kualitas vokal member-nya yang menurut Penulis di atas Blackpink dan Twice, bahkan cukup jauh. Maklum, mereka anak SM yang terkenal dengan kualitas vokalnya.

Penulis pribadi sangat mengagumi kualitas vokal Wendy, terutama setelah melihat proses perekaman lagu “Feel My Rhythm” di mana ia banyak memberikan input. Selain itu, Seulgi dan Joy juga memiliki kualitas suara yang tak banyak dimiliki oleh girlband dari gen 4.

Bahkan, Irene dan Yeri yang lebih sering mengisi part rap secara kualitas vokal juga cukup oke, walau tentu tak sebagus tiga nama sebelumnya. Kualitas vokal anak SM memang tak kaleng-kaleng

Feel My Rhythm

Dari pertama kali muncul dari algoritma YouTube Music, Penulis langsung jatuh hati kepada lagu “Feel My Rhythm” dari detik pertama. Bagaimana tidak, dari intro saja mereka langsung menggunakan sample dari lagu klasik “Air on the G String” gubahan Johann Sebastian Bach.

Walaupun bukan pendengar intens, Penulis cukup menikmati musik-musik klasik terutama karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven. Penulis memiliki beberapa CD orisinal mereka dan kerap mendengarkannya saat sedang belajar.

Penulis juga pernah mendengarkan Bach mengingat waktu kecil pernah membaca komik biografinya. Apalagi, “Air on the G String” merupakan salah satu lagu klasik yang paling mainstream, sehingga Penulis cukup familiar dengan nadanya.

Oleh karena itu, begitu mendengar ada alunan lagu ini di lagu K-Pop, Penulis cukup tercengang karena itu adalah kali pertama Penulis mengetahui kalau lagu klasik bisa dimasukkan ke lagu K-Pop yang lebih modern.

Tidak hanya digunakan di intro, sample “Air on the G String” juga kembali terdengar di bagian reff. Meskipun ada yang berpendapat kalau hal tersebut membuat reff terdengar terlalu ramai, menurut Penulis sang produser mampu menempatkannya dengan harmoni yang pas.

Mungkin lagu ini tidak terlalu memamerkan nada tinggi dari Wendy maupun Seulgi seperti di lagu Happiness atau Red Flavor, tapi tetap terasa mewah dan elegan. Suara mereka terdengar selaras dengan konsep lagunya. Vokal Joy yang kerap menjadi bridging pun juga sangat pas.

Dalam sebuah video reaction yang dilakukan musisi klasik dan jazz, mayoritas dari mereka menganggap kalau lagu ini memang sebuah karya yang luar biasa. Lagu ini seolah berhasil menggabungkan dua musik dari dua era yang jauh berbeda (“Air on the G String rilis tahun 1871, satu setengah abad sebelum “Feel My Rhythm” rilis).

Penempatan “Air on the G String” dalam lagu dilakukan dengan cerdik, dengan beberapa perubahan untuk menyesuaikan dengan lagu “Feel My Rhythm” itu sendiri. Sample dari lagu tersebut bisa dibilang tersebar dari awal hingga akhir lagu.

Seni dalam lagu “Feel My Rhythm” tidak hanya berhenti di “Air on the G String” saja. Di video klipnya, ada banyak referensi ke lukisan-lukisan klasik, tapi yang paling menonjol adalah karya-karya Hieronymus Bosch yang terkenal karena lukisan-lukisannya yang “unik.”

Karena beberapa alasan tersebutlah Penulis menganggap kalau lagu “Feel My Rhythm” adalah lagu K-Pop terindah yang pernah Penulis dengarkan. Satu-satunya bagian yang kurang Penulis sukai hanyalah bagian akhirnya yang seolah “langsung berhenti.”

Dua Kepribadian Red Velvet

Dari video-video klip yang pernah Penulis tonton, Red Velvet memang seolah digambarkan memiliki dua kepribadian atau bisa disebut juga sebagai mood, yakni Halloween (creepy) dan Summer. Padahal, dua hal tersebut saling bertolak belakang.

Video klip yang termasuk ke kategori Halloween adalah “Psycho,” “Bad Boy,” “Peek-A-Boo,” “Really Bad Boy,” hingga “Chill Kill” memiliki kesan yang suram dan gelap. Mau tidak mau, kesan tersebut terbawa ketika mendengarkan lagunya saja.

Sedangkan lagu “Russian Roulette,” “Queendom,” “Red Flavor,” “Ice Cream Cake,” “Rookie,” “Dumb Dumb,” hingga “Happiness” memiliki kesan Summer yang lebih ceria dan bersemangat. Kesan creepy, kecuali di “Russian Roulette,” hampir tidak terasa sama sekali.

Lantas, bagaimana dengan lagu “Feel My Rhythm” yang Penulis sukai? Rasanya lagu tersebut bisa dimasukkan ke kedua kepribadian. Meskipun kesan Summer-nya cukup kuat, ada beberapa bagian yang lebih cocok untuk dimasukkan ke dalam kategori Halloween.

Saat artikel ini ditulis, Red Velvet telah mengumumkan akan merilis album terbarunya berjudul Love is COSMIC yang akan rilis pada tanggal 24 Juni 2024. Dilihat dari video trailernya, tampaknya konsep creepy masih dipertahankan oleh mereka di usia yang ke-10.


Lawang, 20 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari vokal Red Velvet yang luar biasa

Foto Featured Image: Sportskeeda

Sumber Artikel:

Continue Reading

Musik

Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi? (Bagian 2)

Published

on

By

Dalam bagian pertama, Penulis sudah membahas beberapa lagu K-Pop dari Gen 4 yang sudah Penulis dengarkan. Cukup banyak yang Penulis dengarkan dalam rentang waktu satu tahun, mulai dari NewJeans hingga ITZY.

Dari banyaknya lagu yang Penulis dengarkan dan nikmati, jujur saja Penulis tidak bisa membedakan suara mereka dan tidak ada yang bisa dikatakan menonjol. Penulis bisa menikmati lagu mereka hanya karena musiknya yang enak di telinga.

Pada tulisan bagian kedua ini, Penulis akan memberikan opininya terkait (seolah) hilangnya main vocal yang menonjol dari girlband yang menjadi bagian dari Gen 4. Apakah ini merupakan bentuk evolusi musik K-Pop?

Apakah Girlband Gen 4 (dan Seterusnya) Sudah Tidak Butuh Vokalis?

Pada dasarnya, sebuah girlband adalah sekumpulan perempuan yang menyanyi dan menari di atas panggung. Oleh karena itu, wajar jika sebuah girlband memiliki beberapa “tugas” yang berbeda seperti vocal, rap, visual, hingga dancer.

Karena “jualan” utamanya adalah lagu, maka wajar jika setiap girlband harus memiliki main vocal. Tidak harus semua bisa menyanyi, tapi setidaknya ada beberapa anggota yang memiliki kemampuan vokal di atas rata-rata.

Penulis ambil contoh Twice. Meskipun kerap dianggap hanya bertumpu pada Nayeon dan Jihyo dalam masalah vokal, setidaknya mereka memang memiliki anggota yang bisa bernyanyi dan kerap menjadi pengisi di reff.

Jika mau ditarik mundur lagi ke Gen 2, girlband seperti Girls’ Generation sangat menonjolkan vokalnya. Bayangkan, setengah dari anggotanya yang berjumlah sembilan tersebut bisa mengisi posisi main vocal karena memang suaranya tidak kaleng-kaleng.

Main Vocal Legendaris (Pinterest)

Ketika melakukan riset, sebenarnya masing-masing girlband memiliki main vocal-nya masing-masing. Di NewJeans ada Hanni, di LE SSERAFIM ada Yujin (yang wajahnya mirip sekali dengan Dewi Persik), di IVE ada Liz, di aespa ada Ningning, dan di IVE ada Lia.

Namun, coba bandingkan mereka dengan Taeyeon atau Jessica yang suaranya begitu legendaris. Kalau terlalu jauh, bandingkan dengan vokal yang dimiliki oleh Wendy atau Seulgi dari Red Velvet. Secara objektif, Penulis menilai kualitas vokal mereka kalah telak.

Akibatnya, distribusi pembagian lirik pun bisa dibilang menjadi cukup berimbang di antara anggota dan tidak ada jarak yang terlalu jauh. Hal ini beda dengan girlband yang memiliki vokal menonjol, di mana mereka akan cukup dominan dan sering kebagian versi reff.

Contoh, di Twice, bisa dipastikan kalau anggota yang mendapatkan porsi terbanyak adalah Nayeon dan Jihyo. Sementara itu, Momo dan Dahyun kerap menjadi anggota yang kebagian lirik paling sedikit, apalagi jika tidak ada bagian rap di lagu tersebut.

Jihyo Kerap Mendapatkan Porsi Besar dalam Sebuah Lagu (Allure)

Untuk menutupi kekurangan di bagian vokal ini, salah satu strateginya adalah dengan memasukkan posisi rapper. Contohnya adalah IVE yang memiliki dua rapper pada sosok Rei dan Gaeul, serta Ryujin di ITZY yang menjadi main rapper.

Strategi lainnya adalah tentu dengan membuat lagu yang tidak terlalu sulit untuk dinyanyikan dan tidak membutuhkan teknik vokal kelas tinggi. Oleh karena itu, tak salah jika lagu-lagu yang Penulis sebutkan bisa dikatakan easy listening, tak perlu usaha ekstra untuk bisa menikmatinya.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan, apakah memang kemampuan vokal di atas rata-rata sudah tidak dibutuhkan lagi oleh girlband saat ini? Seolah yang penting cukup punya suara yang tidak memalukan, visual yang menarik, personality yang memikat penggemar, dan mampu melakukan koreografi secara kompak.

Tidak Ada Main Vocal: Evolusi atau Kemunduran?

Sakura dari LE SSERAFIM Dianggap Memiliki Kemampuan Vokal yang Buruk (Teen Vogue)

Meskipun tidak memiliki main vocalist yang menonjol seperti era Girls’ Generation, setidaknya Penulis menikmati musik mereka. Apresiasi harus diberikan kepada produser musik dari masing-masing girlband yang mampu menciptakan lagu catchy yang menarik.

Sisi buruknya, banyak hujatan yang diarahkan kepada mereka. Contoh yang paling sering Penulis temukan adalah LE SSERAFIM, terutama kepada Sakura. Meskipun telah memiliki pengalaman 12 tahun di industri hiburan, kemampuan bernyanyinya benar-benar buruk.

Oleh karena itu, meskipun Penulis sempat menyinggung mengenai distribusi lirik yang lebih merata, ada beberapa kasus di mana ketimpangan terjadi. Contohnya ya Sakura ini, yang benar-benar “irit lirik” sehingga kerap dianggap “hanya modal tampang” untuk menjadi idola.

Mungkin, ini juga bagian dari evolusi musik K-Pop yang terkesan lebih mementingkan visual daripada audio. Jika visual menarik dengan suara biasa sudah bisa mendatangkan penggemar (dan otomatis, keuntungan), mengapa harus extra effort untuk mencari vokalis yang extraordinary?

Perpaduan Visual dan Vokal Seperti IU Sangat Jarang (Koreaboo)

Ironinya, ini akan terasa tidak adil untuk orang-orang yang memiliki kualitas vokal bagus, tetapi tidak didukung dengan visual yang menarik. Apalagi, standar kecantikan di Korea Selatan cukup tinggi, hingga mungkin operasi plastik pun tak akan bisa mendongkrak kariernya.

Walaupun vokal sudah bukan menjadi elemen utama, Penulis menilai bahwa para agensi memiliki strateginya tersendiri untuk menggaet penggemar. Selain dari visual, mereka pun berusaha untuk mendekatkan jarak antara idola dan penggemar.

Contohnya, hampir semua girlband saat ini memiliki kanal dan acara sendiri di YouTube, seperti Time to Twice yang sudah pernah Penulis bahas. Jenis kontennya pun beragam, mulai dari behind the scene, vlog, game, dan lain sebagainya.

Alhasil, penggemar yang menonton konten-konten tersebut pun merasa dekat dengan idolanya. Maka dari itu, para idola pun dituntut untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan agar penonton menjadi betah menonton mereka.

Pada akhirnya, ini adalah tentang strategi yang dilakukan oleh masing-masing agensi untuk mendulang penggemar sebanyak mungkin. Bisa jadi, Gen 4 adalah hasil dari banyak percobaan untuk menemukan formula yang paling pas untuk mendulang keuntungan terbesar.

Penutup

Tentu tidak semua girlband di Gen 4 tidak memiliki main vocal yang menonjol. Penilaian ini murni bersifat subjektif atas apa yang telah Penulis dengarkan. Apalagi, meskipun mengkritik bagian vokal, Penulis tetap menyukai dan menikmati musik mereka.

Berdasarkan wawancara terhadap teman Penulis yang merupakan pengamat K-Pop kelas tinggi, ia menyebutkan bahwa (G)-Idle dan NMIXX masih memiliki main vocal yang patut diacungi jempol. Mungkin Penulis akan mencoba mendengarkan mereka lain waktu.

Jadi, jawaban dari pertanyaan yang tertera di judul “Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi?” adalah iya, walau jawaban ini tidak berlaku untuk semuanya. Banyak girlband yang walaupun kemampuan vokalnya biasa saja, mereka bisa survive karena memiliki kelebihan di sektor lain.

Yang jelas, untuk saat ini Penulis akan tetap menikmati musik-musik K-Pop dari Gen 4, walau secara vokal menurut Penulis terbilang biasa saja. Lha mong saya suka, kok!


Lawang, 25 Maret 2024, terinspirasi setelah berdiskusi masalah bagaimana idol K-Pop di Gen 4 kurang memiliki vokal yang mumpuni

Continue Reading

Musik

Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi? (Bagian 1)

Published

on

By

Gara-gara algoritma YouTube Music yang sudah Penulis singgung sebelumnya, Penulis jadi menyelami dunia K-Pop sekali lagi. Karena baru “nyemplung” di tahun 2023, maka kebanyakan lagu yang direkomendasikan pun dari girlband Generasi 4 (Gen 4).

Dari beberapa yang direkomendasikan oleh YouTube, ada yang jadi rutin Penulis dengarkan, mulai dari NewJeans, LE SSERAFIM, IVE, aespa, hingga ITZY. Di antara yang Penulis sebutkan tersebut, secara musikalitas Penulis paling cocok dengan LE SSERAFIM dan IVE.

Namun, ketika mendengarkan mereka semua, Penulis jadi menyadari bahwa girlband saat ini tidak memiliki main vocalist yang suaranya menonjol. Didengarkan berkali-kali pun, Penulis kesulitan untuk membedakan suara masing-masing anggotanya.

Musik K-Pop Apa Saja yang Penulis Dengarkan

Sebelum “menilai” apakah girlband Gen 4 memang tidak memiliki main vocalist yang menonjol, Penulis ingin berbagi mengenai apa dan siapa saja yang Penulis dengarkan. Penilaian di bawah ini berdasarkan musik K-Pop yang sudah Penulis dengarkan.

NewJeans

Setelah Twice, girlband selanjutnya yang Penulis dengarkan adalah NewJeans, yang terdiri dari Hanni, Haerin, Minji, Danielle, dan Hyein. Hal ini dikarenakan teman Penulis yang merekomendasikannya, dan Penulis terkejut betapa mudanya para anggotanya.

Karena saat itu NewJeans cukup hype sebagai pendatang baru, Penulis langsung memasukkan beberapa lagu seperti “OMG”, “Hype Boy”, hingga “Ditto.” Penulis juga menyukai lagu baru mereka seperti “Super Shy” dan “GODS” yang menjadi favorit nomor satunya.

Namun, jangankan untuk membedakan vokalnya, membedakan anggotanya saja sampai sekarang Penulis belum bisa. Hanya Danielle, yang wajahnya cukup bule, yang langsung Penulis kenali. Jika empat member lainnya dijejerkan, Penulis akan kesulitan untuk menyebutkan namanya.

LE SSERAFIM

Pertama kali Penulis mengetahui LE SSERAFIM (yang merupakan anagram dari I’m fearless) adalah ketika melihat ada lagu berjudul “ANTIFRAGILE” di YouTube. Entah mengapa ada dorongan untuk mendengarkannya, dan ternyata memang sangat nempel di telinga karena reff-nya yang catchy dan gampang diingat.

LE SSERAFIM terdiri dari lima anggota, yakni Kim Chaewon, Sakura (keduanya mantan anggota IZONE yang telah bubar), Yunjin, Kazuha, dan Eunchae. Aslinya ada enam, tapi yang satu telah dikeluarkan karena skandal.

Ternyata, setelah mendengarkan lagu mereka yang lain, banyak yang cocok dengan telinga Penulis. Beberapa lagu yang menyusul masuk ke dalam playlist adalah “UNFORGIVEN,” “FEARLESS,” dan “Sour Grapes” yang menjadi salah satu favorit Penulis.

Tak hanya berhenti di situ, Penulis juga suka “Eve, Psyche & The Bluebeard’s Wife,” “Good Parts,” dan “Perfect Night” yang, sama seperti “GODS” dari NewJeans, menjadi soundtrack lagu official dari turnamen esports. Sayangnya, lagu baru mereka seperti “Easy” dan “Smarter” kurang cocok di telinga Penulis.

Jika dibandingkan dengan NewJeans yang musiknya terkesan flat, secara sederhana Penulis menganggap lagu-lagu LE SSERAFIM memiliki musik “kuat” yang bisa memuaskan basshead seperti Penulis, tapi juga bisa menghadirkan musik ballad seperti di lagu “Sour Grapes.”

IVE

Jika Penulis merasa cocok dengan LE SSERAFIM karena mampu menghadirkan beberapa lagu yang bass-nya terasa kuat, maka IVE bisa memberikan lebih banyak lagi. Bahkan, lagu “perkenalan” ke Penulis, “Kitsch,” mampu memuaskan Penulis.

Namun, Penulis justru mulai serius mendengarkan IVE lewat lagu selanjutnya, yakni “I AM.” Sejak itu, Penulis jadi makin mendengarkan lagu-lagu lama mereka seperti “Eleven,” “Love Dive,” dan “After Like.” Di lagu baru mereka yang berjudul “Baddie,” barulah IVE kembali menghadirkan lagu yang bass-nya nendang.

Menariknya, IVE juga bisa menghadirkan lagu-lagu bernuansa ballad seperti “Off the Record,” “Either Way,” dan “I Want.” Penulis jarang suka lagu-lagu ballad, tapi entah mengapa lagu-lagu dari IVE berhasil Penulis nikmati.

IVE terdiri dari enam anggota, yakni Gaeul, Yujin, Rei (Penulis merupakan subscriber dari kanal YouTube pribadinya), Wonyoung, Liz, dan Leeseo. Yujin dan Wonyoung, sama seperti Chaweon dan Sakura, merupakan mantan anggota IZONE.

Di antara girlband yang Penulis sebutkan di tulisan ini, IVE adalah penyumbang lagu terbanyak yang berhasil masuk ke dalam playlist. Memang jumlahnya kalah dari Twice dan Red Velvet (yang akan Penulis bahas secara terpisah), tapi itu menunjukkan kalau musik IVE cocok dengan selera Penulis.

aespa

Sebelum mendengar nama NewJeans, LE SSERAFIM, atau IVE, Penulis sudah pernah mendengarkan nama aespa, sebuah girlband dari SM Entertainment yang terdiri dari Karina, Winter, Giselle, dan Ningning.

Namun, Penulis baru memberi perhatian ke mereka sejak menonton video mereka mengikuti kuis bahasa Indonesia. Penulis merekomendasikan untuk menontonnya di YouTube, karena video tersebut sangat lucu sekaligus menggemaskan.

Sejujurnya, musik aespa kurang masuk ke telinga Penulis. Bahkan, Penulis sampai pernah minta rekomendasi lagu apa yang enak dari aespa ke teman kantor, dan ia pun merekomendasikan beberapa lagu.

Beberapa lagu aespa yang masuk ke dalam playlist adalah “Black Mamba,” “Girls,” “Next Level,” dan “Spicy.” Namun, jujur, lagu-lagu tersebut terkesan B saja bagi Penulis dan sangat mungkin terdepak dari playlist. Untungnya, beberapa lagu baru mereka seperti “Better Things” dan “Drama” cukup cocok untuk telinga Penulis.

ITZY

Jika Penulis tertarik mendengarkan aespa karena video mereka (berusaha) berbahasa Indonesia, maka Penulis tertarik mendengarkan ITZY karena kelancaran para anggotanya dalam berbahasa Inggris.

Biasanya, anggota yang bisa berbahasa Inggris adalah mereka yang memang besar di luar Korea Selatan. Di ITZY, yang tinggal lama di luar negeri adalah Lia, sehingga wajar bahasa Inggris-nya sangat lancar. Namun, anggota yang lain terutama Ryujin juga cukup fasih berbahasa Inggris.

Tiga anggota lainnya, Yeji, Chaeryeong, dan Yuna, bisa dikatakan masih oke jika dibandingkan dengan anggota girlband lain. Tengok saja Twice, kesembilan anggotanya bisa dibilang tidak ada yang benar-benar fluent dalam bahasa Inggris!

Sayangnya, sama seperti aespa, ketertarikan tersebut tidak berhasil dikonversi jadi menggemari musik mereka karena ketidakcocokan genre. Setelah mendengarkan beberapa lagunya (seperti “Cake” dan “Sneakers”), hanya lagu terbaru mereka “Born to Be” yang bisa Penulis benar-benar nikmati.

***

Itulah beberapa girlband dan musik mereka yang sering Penulis dengarkan. Alasan Penulis menjabarkan secara cukup rinci seperti di atas adalah sebagai “bukti” kalau Penulis benar-benar mengamati musik mereka.

Selain yang disebutkan di atas, sebenarnya masih ada beberapa girlband lain yang Penulis dengarkan. Hanya saja, jumlah lagu yang didengarkan tidak begitu banyak, sehingga kurang kuat untuk menjadi dasar penilaian.

Pada bagian kedua, Penulis akan menjelaskan mengenai hilangnya main vocal yang menonjol di Gen 4, tidak seperti era-era sebelumnya. Apakah ini bagian dari evolusi musik K-Pop untuk bisa terus bertahan melawan genre lain?

Baca bagian kedua di sini…


Lawang, 25 Maret 2024, terinspirasi setelah berdiskusi masalah bagaimana idol K-Pop di Gen 4 kurang memiliki vokal yang mumpuni

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan