Linkin Park dan Hybrid Theory

Dalam beberapa kesempatan, Penulis sering menyebutkan bahwa band favoritnya adalah Linkin Park dan tidak akan tergantikan. Meskipun kini lebih sering mendengarkan One Ok Rock, Linkin Park akan selalu memiliki tempat di hati.

Oleh karena itu mulai dari tulisan ini, Penulis akan memberikan semacam ulasan dan pendapat mengenai album-album yang dikeluarkan oleh Linkin Park, mulai dari Hybrid Theory hingga One More Light.

Sebagai tulisan pembuka, maka kali ini Penulis akan membahas mengenai album pertama mereka, Hybrid Theory.

Awal Pertemuan

Meskipun berstatus sebagai album pertama, lagu-lagu yang ada di album Hybrid Theory bukanlah lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan.

Kalau tidak salah, empat lagu pertama yang Penulis dengarkan adalah Somewhere I Belong, Faint (dua-duanya dari album Meteora), What I’ve Done (Minutes to Midnight), dan Numb-Encore yang merupakan hasil kolaborasi dengan rapper Jay-Z.

Penulis juga ingat sewaktu SMP meminjam CD dari teman yang menunjukkan konser Linkin Park bertajuk Live in Texas. Saat menontonnya waktu itu, masih banyak lagu Linkin Park yang tidak Penulis ketahui.

Penulis semakin mengenali lagu-lagu Linkin Park setelah mendapatkan lagu-lagunya yang lain dari kakak sepupu yang juga merupakan penggemar Linkin Park. Nah, dari sinilah Penulis mulai mendengarkan lagu-lagu dari album ini.

Lagu-Lagu Hybrid Theory

Dirilis pada tahun 2000, album ini memiliki 12 lagu di dalamnya. Beberapa lagu akan terdengar nyambung jika dimainkan secara berurutan. Sampai album A Hunting Party yang rilis tahun 2014, ciri khas ini dipertahankan.

Lagu pembuka dari album ini adalah Papercut yang juga menjadi lagu favorit Penulis dari album ini. Di sini, kemampuan rap Mike lebih menonjol ketimbang vokal Chester.

Penulis sangat suka lirik di bagian terakhir, yang bagi Penulis sangat puitis: The sun goes down; I feel the light betray me.

One Step Closer mungkin lebih terkenal dari lagu sebelumnya, di mana video klipnya juga terlihat lebih metal dibandingkan dengan single lain di album ini. Unsur screaming juga ada di lagu ini, sehingga cocok untuk dinyanyikan ketika sedang ada masalah.

Lagu With You menjadi menarik karena banyak sekali gesekan turntable dari Mr. Han. Penulis menyukai musik-musik yang memiliki unsur DJ ala 2000-an seperti ini. Ketika konser di Texas, Penulis bisa melihat aksi Mr. Han ketika mereka memainkan lagu ini.

Kalau lagu Crawling, pasti banyak yang pernah mendengar. Di sini, kekuatan vokal Chester benar-benar terdengar. Kabarnya, lagu ini terinspirasi dari pengalaman Chester yang kecanduan obat-obatan dan alkohol.

Selanjutnya ada lagu Points of Authority, Runawaydan By Myself yang termasuk ke dalam kategori biasa saja bagi Penulis. Tetap didengarkan, namun tidak ada kesan istimewa.

Di antara semua lagu yang ada di album ini, mungkin yang paling terkenal adalah In the End. Ketika mendengarkan lagu ini, orang-orang akan segera sadar kalau lagu inilah yang membuat Linkin Park dikenal sebagai Linkin Park.

Diawali dengan dentingan suara piano riff yang khas, kita akan melihat rap Mike lumayan mendominasi walaupun tidak sebanyak di lagu Papercut. Vokal Chester akan kita dengarkan di bagian reff.

Lalu ada lagu A Place for My Head yang bagi Penulis menjadi lagu paling keras di antara lagu-lagu lain di album ini. Chester berteriak cukup panjang di lagu ini.

Pada awalnya, Penulis tidak menyukai lagi Forgotten sama sekali. Setelah didengarkan secara saksama, ternyata lagu ini cukup enak dan unik. Lagu ini dilanjutkan Cure for the Itch yang memamerkan kemampuan Mr. Han sebagai seorang DJ.

Album ini ditutup dengan lagu Pushing Me Away yang enak didengar. Ketika konser di Texas, Linkin Park memainkan lagu ini dengan versi album Reanimation, namun itu cerita untuk lain kali.

Penutup

Satu fakta menarik, nama Hybrid Theory sendiri sebenarnya hampir menjadi nama band sebelum akhirnya menjadi Linkin Park. Pada akhirnya nama tersebut menjadi nama album pertama dari Linkin Park.

Sebagai album pertama, Hybrid Theory kerap menjadi patokan bagaimana musikalitas Linkin Park sebagai band. Ada yang menganggap album ini bergenre nu metal, rap metal, alternative metal, rap rock, hingga alternative rock.

Oleh karena itu, banyak fans yang mempertanyakan jati diri Linkin Park semenjak album A Thousand Suns rilis di tahun 2010. Padahal, mereka hanya ingin berevolusi. Penulis akan membahas ini lebih dalam di tulisan selanjutnya.

Yang jelas, album ini di tahun 2000-an menjadi semacam penanda kemunculan band Linkin Park yang dengan cepat mendapatkan popularitasnya dan loyalitas penggemar, termasuk dari Penulis.

Minggu depan, Penulis akan membahas album Meteora yang rilis pada tahun 2003. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 1 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: